Salam
Ustad Mudzakir ini adalah salah seorang ustad di ponpesnya Abu Bakar Ba'Asyir
Ustadz Mudzakkir: Saya tidak bisa mengkafirkan Syi'ah
Samir Musa - Ahad, 6 Ramadhan 1434 H / 14 Juli 2013 13:00
SOLO (Arrahmah.com) – Pro kontra, issue dan problematika yang selama
ini melekat pada diri
pimpinan Ponpes Al Islam Gumuk Solo Jawa Tengah, ustadz Mudzakkir
terkait tuduhan bahwa dirinya merupakan bagian dari Syi’ah, akhirnya
terkuak.
Paling tidak, satu benang kusut dari sekian keruwetan
yang ada sudah terurai, saat ustadz Mudzakkir mengisi kajian Jum’at
malam bertema ” KEUNGGULAN SUNNI TERHADAP SYI’AH” di masjid Istiqlal
Sumber Solo, pada Jum’at (12/7/2013).
Dalam kesempatan tersebut,
di akhir-akhir acara, tepatnya pada waktu sesi tanya jawab dan sekitar
sepuluh menit sebelum acara akan selesai, ustadz Mudzakkir menyatakan
dirinya adalah seorang muslim, dan bukan Syi’ah.
Namun, sebelum
ustadz Mudzakkir mengungkapkan kalimat tersebut, terlebih dahulu
diwarnai dengan suara lantang dari para jama’ah yang menginginkan agar
ustadz Mudzakkir mengatakan secara jelas dan tegas bahwa dirinya bukan
Syi’ah dan Syi’ah itu Kafir.
Hal ini seperti yang di minta Ketua
Dewan Syari’ah Kota Surakarta (DSKS), Ustadz Dr Mu’inudinillah Basri
yang juga hadir dalam kajian pada malam itu, yang merupakan salah satu
dari ribuan jama’ah yang memadati kompleks masjid Istiqlal.
(foto: voa-islam)
Ustadz Mu’in menjelaskan, hal ini diminta karena banyaknya orang yang menuduh
ustadz Mudzakkir Syi’ah, namun tidak mau untuk tabayyun. Bahkan banyak
diantara yang menuduh tersebut, 100 % sudah yakin bahwa ustadz
Mudzakkir itu Syi’ah.
Disisi lain, ustadz Mudzakkir sebagai pihak yang
tertuduh mengatakan tidak mau untuk memberikan klarifikasi. Maka, dalam
kondisi seperti itu, ustadz Mu’in mengaku bingung. Apalagi DSKS juga
dikait-kaitkan dalam permasalahan tersebut.
“Saya akan menjadi
saksi, ketika beliau mengatakan; Saya ahlu sunnah dan saya bukan
Syi’ah. Semua bertanggungjawab dan akan menjadi saksi, setelah itu
tidak ada
omongan lagi,” pinta ustadz Mu’in.
Secara syari’ah, kata ustadz
Mu’in, Rasulullah Saw sebetulnya sudah memberikan contoh yang harus
dilakukan kedua belah pihak terkait situasi seperti itu. Dimana, saat
istri tercinta beliau, yakni ‘Aisyah ra dituduh telah berzina dengan
salah seorang sahabat.
Awalnya, Rasulullah hampir percaya dengan
fitnah yang dihembuskan oleh orang munafiq dan Yahudi. Tapi, ‘Aisyah
sebagai pihak tertuduh mengatakan dirinya bukan pezina. Dan setelah
turun ayat yang mengungkap kebenaran tersebut, akhirnya Rasulullah juga
mengatakan istrinya tidak selingkuh.
“Kalau Rasulullah demikian,
mudah-mudahan insya Allah ustadz Mudzakkir berqudwah; Saya bukan Syi’ah
seperti yang kita tuduhkan. Ini syari’ah, terima kasih ustadz, agar
supaya masyarakat ini tidak bingung dengan ustadz Mudzakkir,
mudah-mudahan setelah ini kita sudah bisa tenang yaa,” lanjutnya.
Tak hanya jama’ah putra, ada pula jama’ah putri yang menginginkan
kesaksian tersebut. Dia merasa prihatin dengan kondisi itu. Dirinya
mengatakan,
jika ustadz Mudzakkir tidak segera menyelesaikan masalah tersebut, akan
berakibat perpecahan bagi umat Islam.
Selain itu, dia juga
mengharap ustadz Mudzakkir untuk menyelamatkan umat agar terhindar dari
perpecahan. Jangan sampai situasi seperti itu, memberikan angin segar
dan membuat orang Kafir senang dan bertepuk tangan.
Mendengar
sejumlah permintaan dari para jama’ah, ustadz Mudzakkir lalu berkata:
“Kita semuanya ini, bapak-bapak ibu-ibu saudara-saudara sekalian,
berada di kekuasaan Allah Ta’ala, ndak bisa, saya ini ndak bisa
menolong
orang, yang bisa menolong itu Allah Ta’ala. Kita semuanya ini sama,
kita ini orang dho’if, orang-orang lemah,”
Namun, mendengar jawaban
dari ustadz Mudzakkir seperti itu, para jama’ah intrupsi dan bersuara
lagi bahwa bukan seperti itu jawaban yang di inginkan.
Disamping
itu, para jama’ah juga merasa kecewa dengan sejumlah jawaban ustadz
Mudzakkir, mulai dari penanya pertama hingga ke-empat, yang terkesan
muter-muter dan tidak jelas arahnya. Para jamaah hanya meminta
kesaksian ustadz Mudzakkir, apakah dirinya ahlu sunnah atau Syi’ah.
Kemudian dijawab lagi oleh ustadz Mudzakkir : “Kalau saudara-saudara menganggap
(jawaban -red) saya mubeng-mubeng (muter-muter -red) ya sudah saya
tidak usah jawab, cukup,” katanya.
“(kemudian sambil meletakkan mic
yang dia pegang, ustadz Mudzakkir lalu berkata –red) Apapun yang
saudara katakan, omongan saya sudah jelas, tidak ada sesuatu yang
diragukan,
yaa, saya muslim,” tandasnya.
“Allah mengatakan huwa
sammaul-muslimin min qobli wa fie hadza (Dia –Allah- telah menamai kamu
sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan -begitu pula- dalam -Al
Qur’an- ini. QS. Al Hajj 22 : 78 -red), saya muslim,” tambahnya.
“Di Madinah kebetulan saya juga waktu sholat menjama’ dhuhur dengan ashar,
berkali-kali ketahuan disitu didatangi askar, dipegang tangan saya;
“Dari mana? Dari Indonesia. (Askar bertanya lagi -red) Malaysia? Bukan,
Indonesia. (Askar bertanya lagi -red) Ente Syi’i? Saya jawab muslim,
bukan Syi’i,” tegasnya.
Ustadz Mudzakkir melanjutkan, meskipun
dirinya menyatakan bukan Syi’ah, tapi jika diminta atau dipaksa untuk
mengkafirkan Syi’ah, dirinya tidak bisa.
“Tetapi kalau saya
disuruh mengkafirkan saudara saya dikalangan Syi’ah, Tidak. Apalagi
disuruh memusuhi ahlu sunnah, Tidak. Semua muslim,” tandasnya.
“Tidak percaya kepada saya silahkan, itu padune taqqiyah, silahkan. Pokoknya
saya sudah katakan, setiap tuduhan, siapapun juga, kita ketemu di
mahsyar (di akhirat -red). Di dunia tidak akan saya tuntut, insya
Allah,” imbuhnya.
“(kemudian ada jama’ah yang berseru; beri
penjelasan ustadz. Lalu dijawab ustadz Mudzakkir -red) Di mahsyar, di
mahsyar saja ketemu kita,” pungkasnya.
(
voa-islam.com/arrahmah.com)
--
http://www.kompasiana.com/albanduni14