Mengapa Mesti Takut dengan Syiah?

13 views
Skip to first unread message

Ahsa

unread,
Jun 29, 2013, 5:26:21 AM6/29/13
to majelis_misykat, kisunda, shalawat, LAB-milis
Suatu hari saya menghadiri pengajian Al-Munawwarah di Jalan Kampus
Bandung. Guru saya: Al-Ustadz Jalaluddin Rakhmat adalah yang biasa
menjadi narasumbernya. Kalau sedang berhalangan, biasanya diganti oleh
putranya, Ustadz Miftah, yang juga guru saya.

Di majelis Al-Munawwarah, tidak ada aturan keanggotaan bagi jamaah.
Siapa pun boleh datang dan menyimak ceramahnya. Tidak ada daftar
kehadiran yang harus diisi jamaah. Duduk pun bebas. Boleh di sudut
masjid, belakang, depan atau menyandar di depan gerbang masjid sambil
selonjoran kaki. Tidak ada aturan yang mengikat. Sekali datang,
kemudian tidak datang lagi juga diperbolehkan.

Meski memang tidak ada aturan, jangan coba-coba datang hanya dengan
pakaian renang atau membuka aurat. Saya yakin, semua masjid atau
pengajian (bahkan umat Islam) tidak memerbolehkan seorang muslim atau
muslimah mempertontonkan bagian anggota tubuhnya di tengah masyarakat.
Apalagi di masjid pasti dianggap melanggar.

Dalam suatu ceramahnya, Ustadz Jalal berkisah tentang seorang kiai
dari Cirebon, yang bermaksud mensekolahkan anaknya di SMA Plus
Muthahhari. Kiai itu bertemu dengan Ustadz Jalal dan menyampaikan
maksud kedatangannya. Kiai itu bercerita bahwa ia mengetahui sekolah
Muthahhari dari media cetak yang melaporkan sekolah yang berada di
bawah asuhan Ustadz Jalal adalah sekolah yang direkomendasikan Pak
Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional, dan banyak memiliki
keunggulan dalam bidang karakter (akhlaq).

Diterimalah putra kiai dari Cirebon itu di Muthahhari. Kurang dari
satu semester, sang kiai melayangkan surat yang berisi penarikan
putranya dari Muthahhari. Alasannya: sang kiai baru mengetahui kalau
Ustadz Jalal itu seorang Syiah dan tidak ingin putranya menjadi Syiah.
Putra kiai itu keluar dari Muthahhari kemudian disekolahkan di
Yogyakarta.
Sekira setahun lebih (atau dua tahun) sekolah di Yogyakarta, sang kiai
menghubungi Ustadz Jalal. Kiai itu bercerita bahwa putranya yang
sekolah di Yogyakarta, setiap kali pulang ke Cirebon selalu membuatnya
resah dengan pertanyaan-pertanyaan agama yang sulit dijawabnya. Kalau
pulang ke rumah selalu mengajak diskusi tentang Sunni-Syiah, bahkan
mengalahkan argumennya. Kiai itu bilang kepada Ustadz Jalal, “Kalau
tahu bahwa anak saya bakal masuk Syiah tidak akan dikirimkan ke
Yogyakarta.”

Tentu saja kisah itu membuat jamaah pengajian tertawa. Dari kisah itu
Ustadz Jalal berkata, “Ke mana pun kamu pergi pasti bertemu dengan
Syiah. Ibarat kematian, meski kita menghindari tetap saja bakal
dijemput malaikat maut.”

Kisah tersebut saya kira memang kenyataan. Meski dihalang-halangi
orang untuk mengenal mazhab Syiah atau dituduh sesat, tetap saja
sampai sekarang memiliki peminatnya. Kini, terdapat sekira 5 juta umat
Islam Indonesia yang mengikuti mazhab Syiah. Dari tahun ke tahun pasti
akan bertambah seiring perkembangan zaman dan informasi yang mudah
diakses. Apalagi kini sudah ada organisasi resmi yang disahkan
pemerintah sehingga memiliki ruang yang lebih leluasa dalam dakwah dan
membangun peradaban Islam Indonesia.

Tidak dipungkiri memang ada yang coba menghalanginya. Tetap saja
kandas. Dukungan terhadap mazhab Syiah semakin terlihat. Bukan hanya
tokoh Islam Indonesia dan pemerintah, bahkan dari ulama-ulama dunia
mengakui dalam Risalah Amman, Deklarasi Makkah, Deklarasi Bogor,
Deklarasi Persatuan Islam Dunia, dan lainnya.

Jadi, kenapa mesti dihindari Syiah? Mazhab Islam apa pun (yang
disepakati ulama-ulama dunia), biarlah tumbuh dan berkembang serta
memberikan kontribusi untuk Indonesia. Bukankah secara kultur dan
tradisi mazhab Syiah sudah memiliki tempat dalam khazanah lokal?
Mengapa mesti takut dengan Syiah?

--
www.kompasiana.com/albanduni14
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages