Hasan Mustapa: Sosok Ulama Sunda

78 views
Skip to first unread message

Ahsa

unread,
Jul 9, 2013, 3:03:24 AM7/9/13
to kisunda, shalawat, majelis_misykat
HASAN Mustapa lahir di Cikajang Garut, Jawa Barat, pada 3 Juni 1852
M/14 Sya’ban 1268 H dan wafat di Bandung, 13 Januari 1930 M/12
Sya’ban 1348 H. Ia dikenal sebagai ulama dan pujangga Muslim Sunda.
Ayahnya, Mas Sastramanggala, setelah naik haji berganti nama menjadi
Haji Usman, yang juga seorang camat perkebunan. Sedangkan ibunya
bernama Nyi Mas Salpah (Emeh) adalah putri Mas Kartapraja, Camat
Kontrakan teh Cikajang, dan masih keturunan Dalem Sunan Pagerjaya dari
Suci, Garut.

Mengenai asal usul keluarganya, Hasan Mustapa sendiri menerangkan
bahwa ia keturunan ke-14 dari Kean Santang (Kang Jeng Dalem Pagerjaya,
nu sumare di karaton, Godog anu pinunjung), dari Jalur Sembah Lebe
(Lebe Warta) sampai ‘eyang pribadi’ Mas Kartapraja Sukapura. Jalur
inilah yang menjadikan Hasan Mustapa disebut kaum priayi. Sementara
darah seninya mengalir dari jalur Manonjaya (Tasikmalaya) dan darah
kesantriannya dari Mas Ngabehi Kalipah (Suci, dekat Godog, Garut),
seorang Camat Cikajang, yang juga kakek Hasan Mustapa. Sementara
bapaknya adalah keturunan Bungbulang (Cikajang) yang pernah belajar di
Pesantren Manonjaya.

Waktu kecil Hasan belajar agama pada ayahnya, belajar Al-Quran dan
ilmu qira`ah dari Kiai Hasan Basri, ulama Kiarakoneng, Garut. Usia
delapan tahun, Hasan dibawa ayahnya menunaikan ibadah haji. Di tanah
suci ini ia belajar bahasa Arab dan ilmu Al-Quran selama satu tahun.

Sepulang dari Mekkah, Hasan nyantri ke beberapa kiyai ternama di
Sumedang dan Garut. Pelajaran ilmu syaraf dan nahwu (tata bahasa Arab)
diperolehnya dari Rd.Haji Yahya, pensiunan penghulu Garut, dan berguru
ke Abdul Hasan, kiai dari Sawahdadap Tanjungsari, Sumedang. Kemudian
balik lagi ke Garut untuk belajar kepada Kiai Muhammad di Cibunut, dan
Kiai Muhammad Irja.

Setelah merasa cukup belajar, Hasan menikah hingga dikaruniai satu
anak. Hasan dan keluarga pergi ke Mekkah untuk memperdalam ilmu-ilmu
Islam selama delapan tahun. Di Mekkah ia berkenalan dengan Christiaan
Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda yang sedang meneliti
masyarakat Islam di Mekkah. Untuk memuluskan penelitiannya, Snouck
Hurgrojne masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.

Menurut P.Sj.Van Koningsveld, Snouck masuk Islam oleh Qadi Jeddah
dengan dua orang saksi setelah Snouck pindah tinggal bersama Aboebakar
Djajadiningrat. Lihat P.Sj.Van Koningsveld, Snouck Hurgronje dan
Islam (Jakarta: Girimukti Pasaka, 1989). Hal.95-107. Van Koningsveld
menerangkan, Snouck masuk Islam hanya untuk melancarkan tugasnya
sebagai informan/spionase Belanda.

Di tanah suci Mekkah nama Hasan Mustapa dikenal sebagai ulama
terkemuka dari Jawa; setingkat dengan Haji Ahmad Banten putra Syaikh
Nawawi al-Jawi (Nawawi al-Bantani). Selain belajar kepada

Selain belajar kepada Syaikh Muhamad, Syaikh Abdulhamid Dagastani atau
Sarawani, Syaikh Ali Rahbani, Syaikh Umar Syami, Syaikh Mustafa
al-Afifi, Sayid Abubakar as-Satha, Syaikh Hasballah, dan ulama
lainnya, Hasan Mustapa juga mengajar sejumlah murid di Masjidil Haram.
Selama di Mekkah, ia sempat menulis buku dalam bahasa Arab yang
berjudul “Fath al-Mu’in” yang diterbitkan di Mesir.

Pada 1882, Hasan pulang ke negerinya karena dipanggil oleh
R.H.Muhammad Musa, penghulu Garut, untuk meredakan ketegangan akibat
perbedaan paham di antara para ulama Garut. Karena berhasil meredakan
ketegangan, Hasan diserahi tugas memberikan pelajaran agama di Masjid
Agung Garut dan mendirikan pesantren di Sindangbarang, Garut.

Mengetahui temannya pulang ke Garut, Dr.Christian Snouck
Hurgronje—yang sedang menjabat sebagai penasihat pemerintah Hindia
Belanda untuk masalah Bumiputra dan Arab—meminta Hasan Mustapa untuk
mendampinginya dalam perjalanan keliling Jawa dan Madura sambil
menyelidiki kehidupan umat Islam dan folklore serta diminta
membantunya selama tujuh tahun.

Atas usulan Dr.Christian Snouck Hurgronje, pada 25 Agustus 1893
pemerintah Belanda mengangkat Hasan Mustapa sebagai kepala penghulu di
Aceh selama dua tahun (1893-1895). Setelah itu kembali ke Bandung dan
menjadi penghulu selama duapuluh tiga tahun. Pada 1918, Hasan Mustapa
meminta pensiun karena ingin dakwah dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam
pada masyarakat. Di akhir masa hidupnya, ulama Sunda ini dikenal
sebagai pengamal tarekat Syatariyah.

Hasan Mustapa dalam menulis dan mengajarkan agama Islam kepada
masyarakat menggunakan lambang (simbol) adat-istiadat dan kebudayaan
Sunda. Dalam karya-karyanya, Hasan membahas masalah-masalah
ketuhanan—seperti hubungan antara hamba (kawula) dengan Allah
(Gusti)—dan renungan-renungannya itu ditulis dalam bahasa Sunda dan
Jawa berbentuk prosa dan puisi. Metafora yang digunakannya adalah
rebung dengan bambu (iwung-awi) dan pohon aren dengan caruluk (bahan
aren). Karena karyanya bernuansa sufi ini Hasan Mustapa dituduh
berpaham wihdatul wujud. Namun tuduhan tersebut dibantahnya sendiri
dengan menulis buku Injazu'l-Wa'd fi ithfa-ar-Ra'd.

Hasan Mustapa juga beberapa karya seperti “Bab Adat-adat Urang
Priangan jeung Sunda Lianna ti Eta”, “Kasful Sarair Fihakikati Aceh wa
Fidir”, “Leutik Jadi Patélaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan”,
“Pakumpulan Atawa Susuratanana Antara Juragan Haji Hasan Mustafa
Sareng Kyai Kurdi”, “Buku Pengapungan”, “Syekh Nurjaman”, “Buku Pusaka
Kanaga Wara”, “Pamalatén”, “Wawarisan”, “Kasauran Panungtungan”,
“Petikan Qur’an Katut Abad Padikana”, “Galaran Sasaka di
Kaislaman”—dan buku yang disimpan oleh M. Wangsaatmadja
(sekretarisnya) berjudul—“Aji Wiwitan”.

Budayawan Ajip Rosidi mencatat bahwa karya Hasan Mustapa dalam bentuk
prosa berjumlah 23 judul dan kategori puisi (tembang) berjumlah 66
judul. Karya-karya tersebut sebagian besar disimpan di Universitas
Leiden, Belanda.

Atas jasanya dalam sastra dan kebudayaan Sunda, Hasan Mustapa pada
1977 memperoleh hadiah seni dari presiden Republik Indonesia dan
piagam panghargaan dari Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa
Barat tahun 1965 secara anumerta.

--
www.kompasiana.com/albanduni14
http://kangahsa.blogdetik.com/

Ahsa

unread,
Jul 12, 2013, 2:14:54 AM7/12/13
to kisunda, majelis_misykat
---------- Forwarded message ----------
From: budhi roso <>
Date: Thu, 11 Jul 2013 13:19:35 +0700
Subject: Re: [shalawat] Hasan Mustapa: Sosok Ulama Sunda
To: shal...@googlegroups.com

Alhamdulillah, saya sangat setuju kaum muda sunda mengenal leluhurnya
dengan jelas dan mempertahankan budaya sunda terus di pake dalam
kesehariannya. jangan sampai orang sunda tidak kenal budaya leluhurnya
hingga anak mudanya hanya ikut-ikutan budaya luar yang sudah barang tentu
tidak akan sesuai denga alam dan hawa sunda. siapa lagi yang akan
melestarikan budaya sunda kalau bukan orang sunda itu sendiri.Tidak
semata-mata Allah menciptakan budaya sunda untuk orang sunda pastilah sudah
sesuai dengan orang sunda itu sendiri, jadi lestariakan budaya sunda ini
dengan serius agar kita termasuk orang yang bersukur.
Nilai-nilai Islam di tataran sunda cukup tinggi hanya saja kita kaum muda
kurang mengenal dan menggali akan hasilkaraya leluhur, seperti di daerah
panjalu ciamais ada makam konon menurut teman-teman yang sudah kesana
adalah seorang Syi. dilihat dari peninggalan dari kerajaan kecil disana.
Pangeran Borosngora yang ada di makam tersebut dan peninggalannya berupa
duplikat pedang zulfikar dan konon sang Pangeran dulu nya berguru kepada
Imam Ali as di Madinah. tapi yang mengherankan masyarakat di sana( Panjalu)
banyaknya pengikut Suni.jadi ada yang terputus adat istiadat di Panjalu.ini
kemungkinan juga dikarenakan kurangnya kaum muda memeluhara adat
istiadatnya sendiri.Wallahualam bii shawwab.


2013/7/9 Ahsa <alban...@gmail.com>
> --
> Allah Ta'ala berfirman (QS Al-Ahzab ayat 56): “Sesungguhnya Allah dan
> malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
> bershalawatlah kamu untuk Nabi..."
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "shalawat" dari Grup
> Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke shalawat+berhenti berlan...@googlegroups.com .
> Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/shalawat.
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>

--
Allah Ta'ala berfirman (QS Al-Ahzab ayat 56): “Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi..."
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "shalawat" dari
Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
kirim email ke shalawat+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/shalawat.
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.





--
http://albanduni.wordpress.com/
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages