Studi Kritis Sejarah

12 views
Skip to first unread message

Ahsa

unread,
Jul 3, 2013, 5:12:33 AM7/3/13
to majelis_misykat, kisunda, shalawat
Kita harus mengakui bahwa sejarah ditulis bergantung pada penulisnya.
Meski sudah dikenal ahli dan piawai, tetap harus dikaji ulang untuk
menentukan benar tidaknya sebuah kisah sejarah yang ditulis tersebut.
Sudah banyak bacaan sejarah yang lepas dari studi kritis historis yang
beredar di negeri kita. Tugas cendekiawan, sejarahwan, dan orang-orang
Islam yang tercerahkan untuk mengabarkan sejarah Nabi Muhammad saw
dengan benar kepada umat Islam Indonesia, khususnya generasi muda
Indonesia.

Untuk melacak kebenaran sumber atau melakukan kajian kritik historis
memang agak susah. Apalagi jarak dari masa hidup Rasulullah saw sampai
sekarang sudah jauh. Karena itu, wajar sejarah Nabi Muhammad saw yang
sampai kepada umat Islam sekarang sudah tidak shahih karena ditulis
sesuai dengan kepentingan penguasa.

Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah,
banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak
bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta
mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi
Muhammad saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan
memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad
saw.

Dalam upaya menguji riwayat-riwayat atau hadits sebagai sumber
penulisan (historiografi) sejarah Nabi Muhammad saw,
Prof.Dr.KH.Jalaluddin Rakhmat telah memulainya dengan menulis buku
Al-Mushthafa: Manusia Pilihan yang Disucikan (Bandung: Simbiosa,
2008).

Jalaluddin Rakhmat dalam melakukan kajian sejarah Muhammad saw
menggunakan tiga tahapan. Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran
bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah
dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka
bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak. Ketiga, mengujinya dengan
kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi atau
materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.

Dengan menggunakan metode studi kritis inilah kaum Muslim seharusnya
semakin bersikap kritis terhadap buku-buku sejarah Islam, khususnya
Sirah Nabawiyah. Sikap kritis ini diperlukan untuk memisahkan fakta
dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan
kepada Rasulullah saw. Setelah benar-benar bebas dari penodaan
sejarah, baru kaum Muslim dapat mengambil teladannya.


--
www.kompasiana.com/albanduni14
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages