Jalaluddin Rakhmat: Serahkan Soal Sempalan ke Mekanisme Free Market of Ideas!

45 views
Skip to first unread message

Ahsa

unread,
Jul 3, 2013, 5:04:10 AM7/3/13
to majelis_misykat, shalawat, kisunda, kalam_salman-milis
Orang yang mencari kebenaran dan tidak menemukannya, kata Imam Ali,
lebih baik daripada yang mencari kebatilan dan menemukannya. Artinya,
usaha serius mereka itu harus kita hargai. Jadi bukan harus kita
kriminalisasikan. Nanti sejarahlah yang akan menentukan. Marilah itu
semua kita serahkan kepada mekanisme free market of ideas atau pasar
bebas ide.

Kelompok-kelompok sempalan tidak harus dikriminalisasi. Biarkan
sejarah yang membuktikan apakah mereka benar dan akan tetap eksis atau
menjadi buih lalu pergi. Mekanisme pasar bebas ide juga perlu
diberlakukan dalam menyikapi kelompok ini. Demikian pendapat
Jalaluddin Rakhmat dalam perbincangannya dengan Kajian Islam Utan Kayu
(KIUK), Kamis (8/11) lalu, di Kantor Berita Radio 68H Jakarta.

Kang Jalal, tahun 1992, Martin van Bruinessen menulis tentang
kelompok-kelompok sempalan di Indonesia. Waktu itu, Syiah termasuk
salah satu kelompok sempalan yang dibahas. Mengapa kelompok-kelompok
sempalan selalu muncul dan aspek apa yang membuat mereka selalu dapat
pengikut?

JR: Saya pikir, saya pertama-tama kita harus mendefinisikan kembali
apa itu kelompok sempalan. Sangat aneh kalau kita memasukkan gerakan
Al-Qiyadah Al-Islamiyah sama dengan Syiah dalam kategori kelompok
sempalan. Saya kira, hatta katak pun akan tertawa mendengar itu.
Karena itu, harus ada klasifikasi dan kategorisasi. Jadi sebelum kodok
tertawa, kita definisikan dulu apa yang dimaksud dengan aliran
sempalan.

Dalam istilah sosiologi, juga psikologi sosial, ada aliran-aliran yang
menyimpang dari mainstream masyarakat. Mereka biasanya tumbuh dengan
karakteristik psikologis tertentu. Para sosiolog menyebutnya cult atau
kultus. Nah, kultus atau aliran sempalan ini bisa berada pada bidang
agama dan bisa juga pada bidang komersial seperti multi level
marketing. Juga pada bidang politik, seperti Naziisme. Naziisme
awalnya gerakan sempalan sebelum berkembang menjadi partai politik
berkuasa.

Tapi biasanya, yang sering diperbincangkan adalah kultus di bidang
agama. Dan sesuatu dikatakan cult dengan definisi-definisi lebih
ketat. Jadi, tidak hanya dengan patokan menyimpang dari mainstream.
Karena kalau begitu, nantinya Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah cult
dari sudut pandang Syiah di Iran. Lebih lanjut, baik Sunni maupun
Syiah juga sempalan di Amerika. Sebab, keduanya hanya sekelompok kecil
dari masyarakat Amerika.
Karena itu, salahlah mendefinisikan kelompok sempalan hanya dengan
patokan menyimpang dari mainstream atau agama yang dianut arus utama.
Itu salah, karena nantinya semua aliran akan menjadi sempalan dalam
struktur sosiologis tertentu. Karena itu, ada beberapa tambahan kenapa
suatu aliran disebut sempalan. Biasanya, mereka juga ditandai dengan
hadirnya seorang pemimpin kharismatis yang menuntut kepatuhan mutlak
para anggotanya. Kelompok sempalan itu selalu punya pemimpin
kharismatis yang punya aura sakral.

Kadang dianggap punya ilmu kanuragan juga, ya….

JR: Ya punya ilmu kanuragan. Dia biasanya dianggap punya ilmu
tersembunyi yang tidak diketahui orang-orang umum. Karena dianggap
kharismatik, dia juga biasanya otoriter. Itulah ciri utama dari sebuah
aliran sempalan.

Bagaimana dengan kedudukan bai’at ?

JR: Bai’at berfungsi secara psikologis agar orang atau para pengikut
mematuhi titah sang pemimpin. Caranya, dia (sang pemimpin) menjatuhkan
dulu harga diri para pengikut. Kalau bisa malah dihilangkan sama
sekali identitasnya. Karena itu, pada kelompok-kelompok ini, kita
sering menemukan semacam upacara penghilangan identitas. Dulu,
kelompok DI/TII—maaf untuk menyebut ini—masuk dalam kelompok sempalan
juga. Dan biasanya, orang yang masuk ke situ segera berganti nama.
Kapan ganti nama? Setelah membuat komitmen. Jadi, ada komitmen
kepatuhan total terhadap pemimpin. Itulah yang disebut bai’at. Secara
psikologis, bai’at adalah kesediaan untuk memberikan total commitment.
Malah total surrender (pengorbanan yang total) kepada otoritas sang
pemimpin yang punya ilmu tersendiri itu tadi.

Selain adanya pemimpin kharismatik, apa ciri lainnya, Kang?

JR: Saya jadi ingat Martin Cambell, penulis When Religion Become Evil,
tatkala agama berubah menjadi jahat. Agama menjadi jahat, satu, kalau
ada pemimpin yang secara mutlak harus dipatuhi. Kedua, tentu ada cara
untuk mengikat kepatuhan mutlak itu, yakni dengan berbagai
ritus-ritus, misalkan bai’at atau janji suci. Kalau perlu dengan
mengorbankan darah. Jadi ada ritus pengorbanannya.

Untuk mengetes kesetiaan dan kepatuhan mutlak para pengikut, mereka
biasanya dituntut untuk berkorban. Bentuk pengorbanannya bisa
macam-macam. Pokoknya asal itu kata pemimpin, mereka harus menunjukkan
kepatuhan. Bisa berkorban dengan dirinya, bisa juga mengorbankan
harta. Pada umumnya, dalam gerakan-gerakan sempalan, yang kedua itulah
yang lebih sering terjadi, yaitu pengorbanan materi.

Kesan saya: para pengikut kelompok sempalan tampaknya ingin melarikan
diri dari suatu otoritas keagamaan yang mapan, tapi justru terjebak ke
dalam otoritas lain. Bagaimana menjelaskan itu, Kang?

JR: Dulu pernah ada hipotesis bahwa orang-orang yang masuk gerakan
sempalan itu karena mengalami gangguan kejiwaan. Di Amerika, ada
ribuan bentuk cult. Tapi ternyata 96% orang-orang yang ikut adalah
orang-orang yang secara kepribadian quite-healthy. Jadi mereka
sehat-sehat saja. Malah mereka pintar-pintar dan punya posisi sosial
yang bagus.

Jadi apa yang salah?

JR: Buat mereka, itu adalah satu keajaiban. Masak orang
pintar-terdidik percaya pada yang begituan?! Pasti itu rada gila.
Ternyata tidak. Bahkan, banyak yang pintar-pintar, lho! Tapi, memang
ada ciri umum dari orang-orang yang itu. Yaitu: mereka adalah
orang-orang yang religiously-inclined. Artinya mereka memang sudah
cenderung religius, tapi mengalami kebingungan dalam menentukan agama
yang akan dianut.

Kalau begitu, orang yang cenderung sekular rada susah terjebak
kelompok sempalan, ya?

JR: Ya. Dalam berbagai penelitian tentang kelompok sekte-sekte yang
sekuler, apalagi yang liberal kayak anda, mereka terbukti rada sulit
untuk ikut aliran sempalan. Apalagi harus patuh pada seorang pemimpin
kharismatik. Itu sudah pasti susah. Jadi, biasanya yang ikut adalah
orang-orang yang sudah cenderung sangat beragama. Jadi, sasarannya
adalah orang-orang saleh, orang-orang taat, tapi tak memperoleh
jawaban yang memuaskan terhadap persoalan kehidupan yang dia hadapi
dari agama yang dianutnya.

Dan memang, walau mereka tidak mengalami gangguan kejiwaan, tapi
selalu ada beberapa jenis situasi kepribadian atau kondisi psikologis
yang menyebabkan mereka rentan terhadap pengaruh aliran-aliran
sempalan itu. Misalnya perasaan loneliness, atau merasa kesepian. Ada
sebuah penelitian menarik dari seorang mahasiswa tentang sasaran
kelompok sempalan. Mereka kebanyakan merekrut kalangan mahasiswi.

Khususnya yang sedang jablai atau kesepian, ya?

JR: Ya, para jablai itu yang kemudian bergabung. Jadi, kalau kita
kesepian, kita akan mudah dibujuk, quite-persuadable. Yang kedua,
orang yang mengalami depresi. Jadi, mereka yang mengalami perasaan
sedih berkepanjangan, misalnya karena kehilangan orang yang dicintai.
Ketiga, orang-orang yang cenderung melihat masa depan yang tidak
pasti. Mereka misalnya melihat negara semakin lama semakin buruk.

Karena itu, mereka ingin mencari pemecahan sangat instan; harus ada
tangan-tangan gaib. Dan, kelompok-kelompok ini biasanya mendatangkan
tangan-tangan gaib itu. Dan yang terakhir, seperti yang sudah saya
sebutkan di awal, orang-orang yang mengalami kebingungan dalam
menentukan keagamaan yang akan dia anut. Tiba-tiba saja datang
kelompok sempalan memberi jawaban untuk kebingungan itu. Jawaban ini
biasanya instan.
Ada juga yang mengaitkan munculnya kelompok-kelompok sempalan sebagai
akibat liberalisasi pemikiran. Tanggapan Anda?

JR: Berdasarkan hasil penelitian yang sudah ada, orang-orang liberal,
orang sekuler, atau orang-orang yang benar-benar tidak beriman,
biasanya rada sulit masuk aliran-aliran atau sekte-sekte sempalan.
Tapi, mungkin ada orang-orang yang misalnya ikut aliran liberal, lalu
coba berpikir bebas, akhirnya kebingungan. Dan setelah kebingungan,
akhirnya lari ke spiritualitas juga. Dan dia mulai menuding akalnya
sebagai sebab kebingungan. Dia tinggalkan akal sama sekali. Para
filosof menyebut itu annui. Jadi, ada kejenuhan dalam berpikir.

Martin van Bruinessen menyebut bahwa kelompok-kelompok sempalan itu
biasanya mampu menggantikan fungsi keluarga bagi anggotanya.
Hubungannya antar mereka sangat intim dan solidaritas kelompok sangat
kuat. Akhirnya, orang lupa keluarga asal. Bahkan memvonis keluarga
asal bid’ah, kafir, atau musyrik. Bagaimana menjelaskan ini?

JR: Konon, ada kiat-kiat untuk mengenal apakah seseorang sudah ikut
aliran sempalan atau tidak. Salah satunya adalah tatkala seseorang
tidak mau lagi ikut serta dalam kegiatan-kegiatan keluarga. Jadi, ada
sikap yang ekstrem membenci keluarga dan mau lari dari keluarga.
Mereka menganggap keluarganya sebagai antitesis dari keyakinannya.
Jadi, kalau sudah masuk sekte-sekte Islam, keluarganya dianggap masih
jahiliyah dan Islamnya belum sempurna. Sementara mereka sudah bai’at.
Jadi menganggap diri sudah masuk Islam yang paripurna. Karena itu,
mereka tidak mau lagi ikut kegiatan-kegiatan keluarga.

Pemimpin al-Qiyadah, Ahmad Mushaddeq, menyatakan diri sebagai mesiah
yang ditunggu-tunggu. Dia al-Masih al-Mau`ûd. Kita tahu, doktrin
mesianisme itu juga bercokol kuat dalam khazanah keagamaan Islam, baik
Sunni apalagi Syiah. Seakan-akan ada peluang doktrinal bagi seseorang
untuk mengaku dialah sang mesiah itu. Kita mungkin tidak sepakat;
mengapa harus dia?! Bagaimana menjelaskan ini?

JR: Konsep mesianisme itu ada dalam semua agama—please note itu
ya!—bukan hanya di Islam. Di dalam Hindu, ada kepercayaan bahwa suatu
saat nanti Krisna yang menitis pada Kalkhi akan menyelamatkan dunia
dari kehancuran. Orang-orang Kristen percaya bahwa suatu saat nanti
Yesus akan datang lagi. Karena itu ada aliran Advent. The
Second-Advent, sebetulnya. Namanya saja Advent, artinya kedatangan
kembali Yesus pada akhir zaman. Bahkan di dalam agama-agama yang kita
sebut lokal pun, atau agama suku, ada kepercayaan akan datangnya Ratu
Adil.

Walhasil, apakah namanya Imam Mahdi, Mesiah, al-Masih, atau Ratu Adil,
itu adalah ajaran dari semua agama. Kalau kata Wilhelm C. Smith,
doktrin itu berasal dari agama-agama purba. Sebagai orang beragama,
saya percaya itulah salah satu ajaran universal dari seluruh agama.
Nah, kelompok-kelompok ini memanfaatkan kepercayaan akan datangnya
juru selamat itu dengan menisbahkannya pada para pemimpin mereka.
Mengapa itu perlu?

JR: Secara psikologis itu perlu untuk memberikan jawaban terhadap
masalah sosial yang mereka hadapi. Misalnya Indonesia ini makin lama
makin terpuruk; kehidupan rakyat makin menderita, dan orang-orang
mengalami frustasi demi frustasi. Ganti presiden kok malah tidak makin
makmur, tapi malah terpuruk. Dalam situasi seperti itu, orang
cenderung mencari jawaban. Jawaban yang paling hebat ialah: sebentar
lagi akan datang juru selamat. Dalam kepercayaan orang Jawa, akan
muncul Satria Piningit. Artinya, sosok yang selama ini tersembunyi
akan muncul untuk menyelamatkan kita.

Mula-mula, mngkin aliran-aliran sempalan itu mengaku bahwa Satria
Piningit atau Imam Mahdi-nya masih ditunggu, dan mereka hanyalah para
tentaranya yang menunggu. Lama-kelamaan, pemimpinnya sendirilah yang
mengaku bahwa dialah Satria Piningit itu.
Solusi yang ditawarkan para pengaku mesiah itu kan banyak semunya
juga. Padahal, para pengikutnya membutuhkan solusi-solusi kongkret
terhadap himpitan hidup yang mereka alami. Apa biasanya substitusi
dari solusi kongkret yang dijanjikan para pemimpinnya, Kang?

JR: Ya... harapan. Dalam psikologi mutakhir malah ada disiplin khusus
tentang psychology of hope. Di situ dikatakan, harapan membuat kita
tetap tegar, betapapun besar derita yang kita hadapi. Hanya karena ada
harapan nun jauh di sana, kita akan bangkit kembali. Harapan adalah
sumber energi yang luar biasa. Dan setiap aliran sempalan biasanya
menjanjikan apa yang oleh psikolog Jerman disebut paradisterhcucum,
sebuah surga di masa depan. Bukan di hari akhirat, tapi di dunia ini.
Dan itu terjadi pada seluruh kelompok kultus. Menariknya, seluruh
aliran sempalan selalu meramalkan kiamat, katastrofi atau bencana
alam.

Nabi Muhammad pun menyebutkan bahwa kiamat sudah sedekat dua jari kita...

JR: Ya, peringatan tentang iqtarâbatus sa`ah. Artinya, seluruh ajaran
agama pada mulanya juga mengancam orang dengan kiamat yang paling
dekat. Yang membedakan agama-agama besar dibandingkan aliran-aliran
sempalan adalah: pada aliran sempalan, tokohnyalah yang mengklaim akan
segera menyelamatkan kita dari kiamat itu. Jadi, kalau nabi
menyebutkan kiamat sudah dekat, dia sendiri tidak merasa bahwa dialah
yang akan menghindarkan terjadinya kiamat itu.

Dulu di Bandung pernah berkumpul kelompok umat Kristiani dari aliran
tertentu di sebuah gereja. Mereka berkata bahwa sebentar lagi akan
terjadi bencana yang akan menghancurkan negeri ini. Tapi si
pemimpinnya merasa bahwa dia datang untuk menyelamatkan kita dari
bencana. Jadi kiamatnya itu kiamat yang sangat dekat sekali, tidak
seperti disebutkan al-Quran: iqtarabatus sa’ah. Ini kiamatnya just in
moment. Misal lain saya ambilkan dari—dengan penuh permohonan maaf
kepada saudara saya—Ibu Lia Aminuddin.

Dulu, dia pernah memberitahu kepada saya bahwa akan terjadi banjir
besar di Jakarta pada hari Sabtu. Jadi sudah ditentukan waktunya: hari
Sabtu. Semua kita diminta untuk bersama beliau naik ke puncak. Karena
kesibukan, saya lupa akan terjadi bencana itu. Ternyata, pada hari itu
banjir tak kunjung datang. Tapi apa kata Ibu Lia dan para pengikutnya?
Tuhan menghindarkan Jakarta dari banjir berkat doa-doa kami.

Tampaknya, selalu ada mekanisme seperti itu: meralat prediksi yang
nyata-nyata salah...
Betul, meralat suatu prediksi yang salah. Dan ajaibnya, justru dengan
itu mereka malah semakin setia. Misalnya David Coresh meramalkan
sebentar lagi akan datang alien yang akan menyelamatkan kita dari
bencana. Eh ternyata aliennya tidak datang juga. Tapi mereka meyakini
bahwa ini bla-bla-bla.... Pokoknya, dalam istilah gaulnya, ada
ngelesnya lah.

Mungkin revisi, ya, hehe…

JR: Ya, ada revisi. Jadi kabar itu diberikan makna baru lagi.
Sehingga, betapapun salahnya prediksi-prediksi itu, mereka tetap
menganggapnya sebagai kebenaran dan wibawa pemimpinnya tidak berkurang
karena prediksi yang keliru.

Kalau berkaca pada sejarah, kita tahu bahwa tak jarang suatu aliran
yang mulanya dianggap sempalan, dalam waktu tertentu justru jadi
mainstream. Bagaimana menurut Kang Jalal?

JR: Ya, kelompok sempalan bisa berubah menjadi social movement, sebuah
gerakan sosial. Nantinya, kalau gerakan itu diterima masyarakat, dia
akan menjadi agama mainstream. Secara sosiologis, kita memang bisa
berkata begitu. Tapi di balik persamaan-persamaan antara munculnya
gerakan sempalan dengan gerakan para nabi, misalnya, ada banyak
perbedaan mendasar. Di awal saya sudah sebutkan beberapa karakteristik
psikologis orang-orang yang masuk gerakan sempalan. Itu sama sekali
tidak bisa diterapkan pada gerakan Islam pada masa-masa awal,
misalnya, atau gerakan-gerakan agama besar lainnya.
Kenapa tidak?! Bukankah fungsi Nabi juga untuk membawa umatnya dari
gelap menuju terang?!

JR: Tidak ada itu di waktu zaman Rasulullah. Tidak ada anggapan bahwa
Rasulullah akan membawa terang atau menjadi juru selamat bagi umatnya.
Karena itu, kesamaannya cuma satu: mereka adalah gerakan yang diikuti
oleh sekelompok kecil orang dengan pemimpin yang sangat berwibawa,
yaitu Rasulullah SAW. Tapi itu juga masih pertanyaan besar. Di luar
itu ada banyak perbedaan-perbedaan utama. Kita tidak boleh—karena ada
satu kesamaan khusus—terus menggeneralisasi.

Lalu apa sikap terbaik dalam menyikapi suatu kelompok sempalan, Kang?

JR: Saya selalu ditanya tentang ini. Pertama-tama, keyakinan saya
tentu tidak sama dengan mereka dan saya tidak mengikuti keyakinan
mereka. Tapi saya akan tetap menghormati keyakinan mereka. Saya tidak
akan mengkriminalisasi mereka. Saya juga tak akan menganggap mereka
melakukan penistaan terhadap agama. Saya akan melihat mereka sebagai
orang-orang yang haus secara spiritual. Kalau tiba-tiba mereka
dibelokkan di tengah jalan, itu not our business. Tapi mereka sudah
ada kesungguhan untuk mencari (kebenaran).

Saya teringat Imam Ali yang menyebut orang-orang Khawarij sebagai
orang-orang yang sebetulnya sedang mencari kebenaran. Orang yang
mencari kebenaran dan tidak menemukannya, kata Imam Ali, lebih baik
daripada yang mencari kebatilan dan menemukannya. Artinya, usaha
serius mereka itu harus kita hargai. Jadi bukan harus kita
kriminalisasikan. Nanti sejarahlah yang akan menentukan. Marilah itu
semua kita serahkan kepada mekanisme free market of ideas atau pasar
bebas ide.
Tapi iklim persaingan usahanya sebetulnya sudah tidak fair. Mereka
sudah dipotong di tengah jalan, bahkan dikriminalisasi...

Itulah bentuk campur tangan di dalam mekanisme pasar bebas. Tapi kalau
kita yakin bahwa keyakinan kita benar, kita tak usah takut pada
kelompok-kelompok seperti itu. Menurut saya, budaya Orde Baru yang
dulu mensaktikan Pancasila sudah merasuki kita. Karena Pancasila
sakti, maka semua yang bertentangan dengan Pancasila dilarang.
Mestinya, kalau Pancasilanya betul-betul sakti, biarkan musuh-musuhnya
menentang dan barulah kita tahu kalau Pancasila itu benar-benar sakti
saat penantangnya terkalahkan. Bukan dengan paksaan.

http://klikagama.blogspot.com/2008/01/jalaluddin-rakhmat.html



--
www.kompasiana.com/albanduni14
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages