Salam. Sampurasun, wilujeng boboran shiam (hapunten bilih telat). Ieu
aya teks khutbah Kang Jalal anu diaos dina Idul Fitri, kemis 8 agustus
2013. Mugia aya manfaatna.
Ubahlah Duniamu Menjadi Akhiratmu
الحمد لله الذي يؤمن الخائفين وينجي الصالحين ويرفع المستضعفين ويضع
المستكبرين، ويهلك ملوكاً ويستخلف آخرين. أشهد أن لا إله إلا الله وحده
لا شريك له المالك ألحق المبين. وأشهد أن محمد عبده ورسوله أرسله الله
تعالي رحمةً للعالمين. والصلاة والسلام علي ابي القاسم محمد و علي آله
الطيبين الطاهرين. الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله
أكبر ولله الحمد
Hadirin dan Hadirin, Aidin dan Aidat, Faizin dan Faizat:
Pada hari ini bahtera kehidupan mengantarkan kita kembali pada Idul
Fitri. Di sini... sekarang...kita berlabuh di halaman anugrah dan
kasih sayang Tuhan. Di sini ...kita gemakan takbir –membesarkan Yang
Mahabesar- setelah sebulan penuh kita mengecilkan diri kita di hadapan
kebesaranNya. Di sini ...hari ini ... kita bersama-sama merebahkan
diri kita, meratakan dahi kita di atas tanah, menggumamkan sanjungan
kita kepadaNya: Subhana Rabbiyal A’la wa bihamdih, Mahasuci Tuhanku
yang Maha Tinggi. Kita berharap Yang Mahakasih berkenan menerima
kepasrahan kita kepadaNya, sehingga ia bukakan pintu ampunanNya kepada
kita. Tuhanku, jika sekiranya dalam puasa kami dan salat malam kami
ada kekurangan dan kesalahan, janganlah Engkau siksa kami, tetapi
terimalah kami dengan penerimaanMu dan ampunanMu.
Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahil Hamd
Para Aidin dan Aidat, Faizin dan Faizat, hadirin dan hadirat
Kita datang dari Yang Mahasuci dan sedang dalam perjalanan kembali
kepada Yang Mahasuci. Dia hanya menerima kita dalam pangkuan
kasihNya, bila kita sudah membersihkan diri kita sebersih-bersihnya.
Maka seluruh bulan Ramadhan adalah bulan pembersihan, bulan pensucian,
bulan purifikasi, bulan detoksifikasi. Kita mensucikan diri dengan
berpuasa, melakukan salat malam, membaca Al-Quran, berzikir,
beristighfar, beribadat yang wajib dan yang sunat. Pagi ini marilah
kita renungkan, apakah proses pensucian Ramadhan ini berhasil.
Alangkah ruginya kita jika semua proses pensucian itu gagal total,
tidak berguna sama sekali. Betapa malangnya kita, jika kita membangun
dengan ibadat itu istana pasir, yang hilang begitu saja ditiup angin
lalu.
Pada suatu kali Nabi Musa as melewati seorang lelaki yang sedang
bertaubat dengan merintih menangis. Ketika Musa as kembali, orang itu
masih juga merintih. Musa berkata: Tuhanku, ini hambaMu merintih
karena takut kepadaMu. Allah swt berfirman:
يا موسي! لو نزل دماغه مع دموع عينيه، لم اغفر له وهو يحب الدنيا
“Hai Musa, sekiranya otak orang ini keluar dan bercampur dengan
airmatanya, aku tidak akan mengampuninya Karena ia mencintai dunia,
hubbud dunya.” (Sayyid Hasan al-Syirazi, Kalimat Allah Hiy al-‘Ulya,
h. 198, hadis 235).
Sekiranya orang itu melengkungkan punggungnya, mengalirkan darah
bersama airmatanya, Tuhan tidak akan mengampuni dosanya, bila dalam
hatinya masih ada kecintaan kepada dunia.
Pada waktu Rasulullah saw Mi’raj, di ufuk yang agung, di Arasy nan
Tinggi, Allah azza wa jalla berfirman kepada kekasihNya:
" في حديث المعراج ":... لو صلى العبد صلاة أهل السماء والأرض، ويصوم
صيام أهل السماء والأرض، ويطوي من الطعام مثل الملائكة، ولبس لباس
العاري، ثم أرى في قلبه من حب الدنيا ذرة أو سعتها أو رئاستها أو حليها
أو زينتها لا يجاورني في داري، ولا نزعن من قلبه محبتي
Sekiranya seorang hamba salat dengan salatnya para penghuni langit dan
bumi, berpuasa dengan puasanya para penghuni langit dan bumi, dan
menahan diri tidak makan seperti para malaikat, memakai pakaian yang
compang-camping, tetapi kemudian aku lihat dalam hatinya sebesar
zarrah, sejemput debu, kecintaan kepada dunia, atau pada keluasannya,
atau pada kekuasaannya, atau pada kemegahannya atau pada keindahannya,
ia tidak akan bisa mendampingiku di RumahKu, dan Aku akan cabut dari
hatinya kecintaan kepadaKu (Bihar al-Anwar 77:30; 73:60; Mizan
al-Hikmah, 2:896).
Pagi ini marilah kita melihat jauh ke dalam lubuk hati kita. Adakah
cinta dunia di situ? Apa tanda-tanda cinta dunia? Salah satu di antara
ciri orang yang mencintai dunia ialah saudara mengukur kemuliaan
orang dari harta yang dimilikinya, dari uang yang dibelanjakannya.
Apakah saudara terkagum-kagum, terpesona, melihat kekayaan orang,
menyaksikan kemewahan orang dan ingin agar saudara pun memiliki hal
yang sama? Jika saudara menjawab ya, saudara telah menghancurkan
semua ibadat saudara di bulan suci. Ruh saudara yang putih bersih di
bulan Ramadhan sekarang disiram lumpur cinta dunia. Seperti virus,
cinta dunia menyebar ke seluruh kalbu, menggerogoti seluruh kebaikan,
dan menjadi sumber segala kejahatan. “Kamu tidak akan menemui Allah
dengan amal yang lebih membahayakanmu seperti cinta dunia”,
إنك لن تلقى الله سبحانه بعمل أضر عليك من حب الدنيا
kata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as (Ghurar al-Hikam, 4870,
5263, 3518, 3818; Mizan al-Hikmah, ibid).
Al-Quran berkisah tentang Qarun dan orang-orang yang mengaguminya:
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦۖ قَالَ ٱلَّذِينَ
يُرِيدُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا يَـٰلَيۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَآ أُوتِىَ
قَـٰرُونُ إِنَّهُ ۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ۬ ( ٧٩ )
“Maka ia pun keluar ke tengah-tengah kaumnya dengan segala
kemewahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki dunia: Alangkah
baiknya jika kita punya seperti apa yang dimiliki Qarun. Sungguh,
Qarun itu orang yang sangat beruntung.” (Al-Qashshash 79).
Jika saudara menghabiskan malam-malam Ramadhan dalam rintihan, tapi
saudara terpesona menyaksikan atau menonton gelimang kemewahan, gaya
hidup yang glamour, seperti kawan-kawan Qarun, saudara adalah pecinta
dunia yang dijauhkan Tuhan dari ampunanNya. Jika saudara menahan
lapar dan dahaga, kemudian mengkhatam Al-Quran, serta melakukan salat
malam dengan setia, tapi saudara meningkatkan harga diri saudara
dengan mempertontonkan kemewahan, saudara adalah Qarun yang berbuat
kerusakan di bumi. Ibadat-ibadat yang saudara lakukan hanyalah
menjauhkan diri saudara dari hadirat Tuhan.
Pagi ini, marilah kita merenung, menukik jauh ke dalam hati kita. Kita
tidak beribadat seperti ibadatnya penghuni langit dan bumi, kita tidak
saum seperti saumnya penghuni langit dan bumi, dan pada saat yang sama
kita memuja orang-orang kaya, kita membanting tulang, jor-joran,
mati-matian supaya kita dapat hidup sedikit seperti mereka, kita
memuliakan harga diri kita dengan memiliki barang-barang mewah dan
mempertontonkan apa yang kita miliki, mungkinkah masih tersisa ibadat
dan amal saleh kita di bulan Ramadhan? Lihat ke dalam hatimu, lihat
bagaimana kecintaan kamu untuk memiliki dunia, kesenangan kamu untuk
mengumpulkan harta, ambisi kamu untuk memperoleh kekuasaan, kebiasaan
kamu untuk mengejar-ngejar kesenangan jasmaniah telah menggelapkan
hatimu? Pagi ini, marilah kita merenung, apakah masih ada peluang
bagi kita untuk mengetuk pintu Tuhan Yang Mahakasih? Masih adakah
harapan untuk memperoleh ampunan Tuhan?
Marilah kita bergabung dengan Ibn Abi Ya’fur, murid dari orang suci
yang hidup 732 tahun yang lalu, sahabat dari imam yang lewat dirinya
mengalir Islam Muhammadi, Imam Ja ’far al-Shadiq as. “Kami mencintai
dunia, “ kata Ibn Abi Ya’fur, mungkin dengan linangan air mata. Ia
mewakili kita semua. Imam bertanya, “Apa yang kaulakukan dengan
duniamu?” Ia menjawab, mudah-mudahan jawabannya mewakili kita, “Aku
menikah, aku berhaji, aku memberikan nafkah kepada keluargaku, aku
membantu saudara-saudaraku, aku bersedekah.” Mari kita dengarkan
jawaban Imam,
ليس هذا من الدنيا، هذا من الآخرة
“Ini bukan bagian dari dunia. Ini bagian dari akhirat” (Bihar al-Anwar, 73:106)
Karena itu kepada Qarun, Nabi Musa as berkata, “Ahsin kamaa ahsanallah
ilaik.” Berbuat baiklah seperti Allah telah berbuat baik kepadamu.
Saudara boleh menghimpun harta sebanyak-banyaknya, tapi gunakanlah
harta itu bukan untuk kemegahan diri, bukan untuk dipertontonkan
kepada orang banyak, bukan untuk meningkatkan status sosial, bukan
untuk kesombongan. Gunakan harta saudara untuk berbuat baik,
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada saudara. Gunakan harta
saudara untuk bekal mudik ke pangkuan kasih sayang Allah al-Rahman
al-Rahim.
وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَٮٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ
نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن ڪَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ
إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِى ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا
يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ
“Dengan harta yang telah Allah berikan kepadamu, carilah kebahagiaan
abadi di kampung akhirat. Jangan lupakan bagian kamu di dunia. Berbuat
baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu. Janganlah berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak
suka pada orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qaşāş 77).
Ubah dunia kamu menjadi akhiratmu. Gantikan kecintaan dunia dengan
kecintaan akhirat. Cari dunia sebanyak-banyaknya, kemudian bagikan
dunia ini untuk mensejahterakan orang-orang di sekitar kamu;
mengenyangkan yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang,
menghibur orang yang kesusahan, mengobati orang yang sakit,
membayarkan utang orang yang berutang, mengangkat derajat orang yang
dihinakan, “melepaskan orang dari beban kehidupan yang menghimpitnya
dan membebaskan orang dari belenggu-belenggu yang memasung
kebebasannya” (Al-A’raf 157). Insya Allah, dengan melakukan itu
semua, Allah swt menerima semua amalmu, membukakan bagimu pintu
ampunanNya dan mencurahkan ke atasmu limpahan kasihNya! Karena kamu
sudah mengubah duniamu menjadi akhiratmu!
بارك الله لي و لكم في القران الكريم ونفعني وإياكم بتلاوته وذكر الحكيم
فتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم المالك البار الرؤوف الرحيم
Khotbah Kedua:
Baca doa dari Shahifah al-Sajjadiyah: Munajat 15, Munajat al-Zahidin
Tuhanku
Kautempatkan kami dalam kampung
yang telah menggali kuburan tipuannya untuk kami
yang telah mengikat tangan-tangan nasib dalam belenggu kicuhannya
KepadaMu kami berlindung
dari reka-perdaya jebakannya
KepadaMu kami bernaung
dari tipuan pesona perhiasannya
Sungguh dunia ini membinasakan
pencarinya mencelakakan
penduduknya dipenuhi cela dan disesaki bencana
Tuhanku
Zuhudkan kami dari dunia
Selamatkan kami daripadanya
dengan taufik dan penjagaanMu
Tanggalkan dari kami
selimut penentangan terhadapMu
Peliharalah urusan kami
dengan kebaikan pencukupanMu
Berikan bekal kepada kami
dari keluasan rahmatMu
Indahkan hubungan kami
dengan limpahan karuniaMu
Tanamkan pada hati kami
pohon kecintaanMu
Sempurnakan bagi kami
sinar makrifatMu
Berikan pada kami
rasa manisnya ampunanMu
dan lezatnya maghfirahMu
Tenteramkan hati kami
pada saat perjumpaan denganMu
dengan memandangmu
Keluarkan kecintaan dunia dari hati kami
seperti telah engkau lakukan
pada orang-orang saleh pilihanMu
pada orang-orang baik kekasihMu
Dengan rahmatMu
Wahai Yang Paling Pengasih dari Segala yang Mengasihi
Ya Arhamar Rahimin.
Jalaluddin Rakhmat
Idul Fithri 1434
Hesthi Raharja PL 85
Hal Jazaul Ihsan illal ihsan
using things love people
--
http://www.kompasiana.com/albanduni14