Dalammitologi Jawa, Kanjeng Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa Kaping Telu yang mengisi alam kehidupan sebagai dewi padi dan dewi alam yang lain. Sedangkan Nyi Roro Kidul mulanya merupakan putri Kerajaan Sunda yang diusir ayahnya karena ulah ibu tirinnya.
Nyi Roro Kidul juga dikenal dengan berbagai nama yang mencerminkan berbagai kisah berbeda dari asal-usulnya, legenda, mitologi, dan kisah turun-temurun. Ia lazim dipanggil dengan nama Ratu Laut Selatan dan Gusti Kanjeng Ratu Kidul.[2] Menurut adat-istiadat Jawa, penggunaan gelar seperti Nyai, Kanjeng, dan Gusti untuk menyebutnya sangat penting demi kesopanan.
Terkadang orang juga menyebut namanya sebagai Nyai Loro Kidul. Bahasa Jawa loro merupakan sebuah homograf untuk "dua - 2" dan "sakit, menderita". Sementara bahasa Jawa rara (atau roro) memiliki arti "gadis". Seorang ortografer Belanda memperkirakan terjadinya perubahan dari bahasa Jawa kuno roro menjadi bahasa Jawa baru loro, sehingga terjadi perubahan arti dari "gadis cantik" menjadi "orang sakit".[3]
Masyarakat Sunda mengenal legenda mengenai penguasa spiritual kawasan Laut Selatan yang berwujud perempuan cantik yang disebut Nyi Rara Kidul. Legenda yang berasal dari Kerajaan Sunda Pajajaran dari abad ke-15 berumur lebih tua daripada legenda Kerajaan Mataram Islam dari abad ke-18. Meskipun demikian, penelitian atropologi dan kultur masyarakat Jawa dan Sunda mengarahkan bahwa legenda Ratu Laut Selatan Jawa kemungkinan berasal dari kepercayaan animistik prasejarah yang jauh lebih tua lagi, dewi pra-Hindu-Buddha dari samudra selatan. Ombak Samudra Hindia yang ganas di pantai selatan Jawa, badai serta terkadang tsunami, kemungkinan telah membangkitkan rasa hormat serta takut terhadap kekuatan alam, yang kemudian dianggap sebagai alam spiritual para dewata serta lelembut yang menghuni lautan selatan yang dipimpin oleh ratu mereka, sesosok dewi, yang kemudian diidentifikasikan sebagai Ratu Kidul.
Salah satu cerita rakyat Sunda menceritakan Dewi Kadita, putri cantik dari kerajaan Sunda Pajajaran, yang melarikan diri ke lautan selatan setelah diguna-guna. Guna-guna tersebut dikeluarkan oleh seorang dukun atas perintah saingannya di istana (ibu tiri) , dan membuat putri tersebut menderita penyakit kulit yang menjijikkan. Ia mendapat bisikan gaib dari ibunya untuk melompat ke lautan yang berombak ganas dan kemudian ia menjadi sembuh serta kembali cantik. Para lelembut kemudian mengangkatnya menjadi Ratu Lelembut Laut Selatan yang legendaris.[4]
Versi yang serupa adalah Kandita, putri tunggal Raja Munding Wangi dari Galuh Pakuan. Karena kecantikannya, ia dijuluki Dewi Srngng ("Dewi Matahari"). Meskipun mempunyai seorang putri yang cantik, Raja Munding Wangi bersedih karena ia tak memiliki seorang putra yang dapat menggantikannya sebagai raja. Raja kemudian menikah dengan Dewi Mutiara dan mendapatkan putra dari pernikahan tersebut.
Dewi Mutiara ingin putranya dapat menjadi raja tanpa ada rintangan di kemudian hari, sehingga ia berusaha menyingkirkan Kandita. Dewi Mutiara menghadap Raja dan memintanya untuk menyuruh Kandita pergi dari istana. Raja berkata bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putrinya. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara tersenyum dan berkata manis sampai Raja tidak marah lagi kepadanya.
Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang tukang tenung. Dia menyuruh sang dukun untuk meneluh Kandita. Pada malam harinya, tubuh Kandita gatal-gatal dipenuhi kudis, berbau busuk dan penuh bisul. Ia menangis tak tahu harus berbuat apa. Raja mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan Kandita serta sadar bahwa penyakit tersebut tidak wajar, pasti berasal dari guna-guna. Dewi Mutiara memaksa Sang Raja untuk mengusir putrinya karena dianggap akan mendatangkan kesialan bagi seluruh kerajaan. Karena Sang Raja tidak menginginkan putrinya menjadi gunjingan di seluruh kerajaan, ia terpaksa menyetujui usulan Dewi Mutiara untuk mengasingkan putrinya dari kerajaan.
Kandita pergi berkelana sendirian tanpa tujuan dan hampir tidak dapat menangis lagi. Ia tidak dendam kepada ibu tirinya, melainkan meminta agar Sanghyang Kersa mendampinginya dalam menanggung penderitaan. Hampir tujuh hari dan tujuh malam, akhirnya ia tiba di Samudra Selatan. Air samudra itu bersih dan jernih, tidak seperti samudra lain yang berwarna biru atau hijau. Tiba-tiba ia mendengar suara gaib yang menyuruhnya terjun ke dalam Laut Selatan. Ia melompat dan berenang, air Samudera Selatan melenyapkan bisulnya tanpa meninggalkan bekas, malah membuatnya semakin cantik. Ia memiliki kuasa atas Samudera Selatan dan menjadi seorang dewi yang disebut Nyi Roro Kidul yang hidup abadi. Kawasan Pantai Palabuhanratu secara khusus dikaitkan dengan legenda ini.
Dalam salah satu cerita rakyat Sunda, Banyu Bening ("Air Jernih") menjadi ratu dari kerajaan Joyo Kulon. Ia menderita lepra kemudian berkelana menuju selatan. Ia ditelan ombak yang besar dan menghilang ke dalam samudra.[5]
Nyai Loro Kidul (juga dieja Nyi Roro Kidul) adalah makhluk perempuan roh atau dewi legenda Indonesia, yang dikenali sebagai Ratu Laut Jawa Selatan (Lautan Hindi atau Samudra Kidul selatan Pulau Jawa) dalam mitos Jawa dan Sunda.
Semangat Nyai Roro Kidul mempunyai nama-nama yang berbeza, yang mencerminkan pelbagai cerita asal beliau dalam banyak saga, legenda, mitos dan cerita tradisional rakyat. Nama lain termasuk Ratu Laut Selatan ("Ratu Laut Selatan," yang bermaksud Lautan Hindi) dan Gusti Kanjeng Ratu Kidul.[1] Rumah Diraja Keraton Surakarta memujanya sebagai Kanjeng Ratu Ayu Kencono Sari. [2] Ramai orang Jawa percaya ia adalah penting untuk menggunakan pelbagai gelaran sopan apabila merujuk kepadanya, seperti Nyai, Kanjeng, dan Gusti. Orang yang menyeru padanya turut menyerunya sebagai Eyang (nenek). Dalam bentuk duyung dia disebut sebagai Nyai Blorong.[3]
Nyai Loro Kidul sering digambarkan sebagai ikan duyung dengan ekor dan juga bahagian bawah badan berbentuk ular atau ikan. Makhluk mitos ini didakwa mengambil jiwa mana-mana yang dia ingini.[5] Menurut kepercayaan tempatan yang popular di sekitar perkampungan pantai di Selatan Jawa, Ratu ini sering mengambil nyawa nelayan atau pengunjung yang mandi di pantai, dan dia biasanya lebih gemarkan lelaki muda kacak.
Kadang-kadang Nyai Loro Kidul boleh diperkatakan sebagai "naga", atau ular mitos. Idea ini mungkin telah diperolehi daripada beberapa mitos mengenai seorang puteri Pajajaran yang menghidap penyakit kusta. Penyakit kulit yang disebut dalam kebanyakan mitos mengenai Nyai Loro Kidul berkemungkinan merujuk kepada penyalinan kulit ular.[6]
Peranan Nyai Loro Kidul sebagai Ratu Semangat Jawa menjadi motif popular dalam cerita rakyat Jawa dan mitologi istana tradisional, serta terikat dalam dengan keayuan puteri Sunda dan Jawa. Satu lagi aspek mitologi beliau adalah keupayaannya untuk berubah bentuk beberapa kali sehari.[7] Sultan Hamengkubuwono IX Yogyakarta menggambarkan pengalamannya dalam pertemuan rohani dengan semangat Ratu dalam memoire beliau; ratu itu mampu berubah bentuk dan rupa, sebagai seorang wanita muda yang cantik biasanya semasa bulan purnama, dan muncul sebagai seorang perempuan tua pada masa yang lain.[8]
Dalam jumlah yang besar cerita rakyat mengenai beliau - Nyai Loro Kidul mengawal ombak ganas daripada Lautan Hindi dari tempat kediamannya beliau di tengah-tengah lautan. Kadang-kadang dia dirujuk sebagai satu daripada permaisuri rohani atau isteri-isteri Susuhunan Solo atau Surakarta dan Sultan dari Yogyakarta. Kedudukan harafiah beliau dianggap sepadan dengan Gunung Merapi - Kraton - paksi Laut Selatan dalam Kesultanan Solo dan Kesultanan Yogyakarta.
Satu lagi bentuk yang meluas cerita rakyat mengenai beliau adalah warna aqua hijau, gadhung m'lathi di Jawa, disukai dan merujuk kepadanya, dan adalah dilarang untuk memakainya sepanjang persisiran pantai selatan Jawa.[9] Dia sering digambarkan mengenakan pakaian atau selendang (ikat pinggang sutera) dalam warna ini.
Walaupun legendanya itu kebanyakannya dikaitkan dengan Kesultanan Mataram Jawa abad ke-16, manuskrip yang lebih tua mengesan asal legenda beliau ke era kerajaan Sunda dari Pajajaran, lagenda puteri malang Kadita. Walau bagaimanapun, kajian antropologi Jawa dan Sunda dan kajian kebudayaan menunjukkan bahawa mitos Ratu Laut Selatan Jawa mungkin berasal kepercayaan animistik prasejarah dari lebih tua, dewi perempuan pra-Hindu-Buddha laut selatan. Gelombang sengit Lautan Hindi di kawasan pantai Jawa selatan, ribut dan kadang-kadang tsunami, mungkin telah menimbulkan kekaguman penduduk tempatan dan perasaan takut pada kuasa semula jadi, dan mengaitkannya dengan alam roh dewa-dewi dan roh-roh jahat yang mendiami lautan selatan diperintah oleh ratu mereka, dewi perempuan, kemudian dikenal pasti sebagai "Ratu Kidul".
Legenda Jawa abad ke-16 menghubungkan Ratu Laut Selatan sebagai pelindung dan isteri rohani pada Kesultanan raja-raja Mataram. putera Panembahan Senopati (1586-1601 M), pengasas Kesultanan Mataram, dan cucunya Sultan Agung (1613-1645 AD) yang menamakan Kanjeng Ratu Kidul sebagai pengantin perempuan mereka, merutut dakwaan dalam Babad Tanah Jawi.[10]
Menurut legenda Jawa bertarikh dari abad ke-16 CE, putera Panembahan Senopati itu, bercita-cita untuk menubuhkan kerajaan baru Kesultanan Mataram menetang penguasaan pemerintahan Pajang. Dia melakukan perbuatan zuhud melalui bertafakur di pantai Parang Kusumo, selatan rumahnya di bandar Kota Gede. Tafakur beliau menyebabkan fenomena ghaib yang berkuasa membimbangkan dalam kerajaan rohani Laut Selatan. Ratu Nyai Roro Kidul telah ke pantai untuk melihat siapa yang telah menyebabkan gejala ini dalam kerajaan beliau. Melihat putera kacak, permaisuri Nyai Roro Kidul serta-merta jatuh cinta dan meminta raja untuk menghentikan tafakur beliau. Sebagai balasan ratu dewa, yang memerintah alam rohani laut selatan, bersetuju untuk membantu Panembahan Senopati dalam usaha politiknya untuk menubuhkan sebuah kerajaan baru. Dalam usaha untuk menjadi pelindung rohani kerajaan ini, Ratu Nyai Roro Kidul diminta untuk diikat dengan raja melalui perkahwinan, sebagai isteri rohani Panembahan Senopati dan penggantinya, siri raja-raja Mataram.
3a8082e126