Renungan bagi Pemakan Babi!

14 views
Skip to first unread message

Riko Napitupulu

unread,
Apr 6, 2010, 6:21:56 AM4/6/10
to keong...@googlegroups.com, ayu...@yahoo.com
 
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Mungkin sudah “nasib” babi menjadi tokoh eh hewan kontroversial. Sangat dijunjung tinggi dalam peradatan Batak (juga Papua) namun selalu menjadi bahan cemooh dan olok-olok serta hinaan. Babi tanpa dan babi dengan tanda seru (!) adalah dua hal yang berbeda sekali. Yang pertama menunjuk kepada hewan berkuku genap pemakan segala-gala-galanya (omnivora) termasuk, santabi, bekas makanan manusia. Yang kedua adalah jenis makian anak manusia yang tidak bisa mengontrol kemarahannya. Orang Batak (kristen) sendiri walau pun sangat doyan memakan daging babi, namun dalam percakapan mempunyai sebutan yang lebih santun menyebut hewan yang buntutnya berpilin ini: pinahan lobu. Bahkan setelah dimasak namanya pun tetap dihaluskan : na marmiokmiok (yang berminyak). Kasian deh si babi. :-)
Sebenarnya babi pada dasarnya hewan baik-baik. Berbeda dengan saudaranya “celeng” (aili) yang masih hidup liar di hutan, babi sudah lama dimuliakan oleh manusia dan dijadikan hewan piaraan (kecuali bagi mereka yang beragama Islam atau Yahudi yang mengharamkan memakan daging hewan tersebut). Di Tanah Batak, khususnya di belahan Utara, dahulu bahkan babi dibebaskan berkeliaran seenaknya di kampung dan tidak dikandangkan seperti sekarang. Namun supaya babi tidak merusak tanaman padi di sawah maka babi terutama pada masa musim tanam hingga panen harus diberi kalung (halung-halung) dari kayu sehingga tidak bisa menerobos pagar sawah atau kebun. Cerita Ibu saya: babi yang tidak berkalung dan kedapatan di sawah boleh dibunuh oleh pemilik sawah tanpa seijin pemilik babi. Dari sinilah muncul istilah: tardapot songon babi di eme (tertangkap basah sedang berzinah). Namun jika babi sudah berkalung dan bisa masuk sawah dia tidak boleh lagi dibunuh. Itu bukan kesalahannya eh kesalahan si pemilik babi lagi, melainkan kesalahan si pemilik sawah mengapa tidak memagar tanahnya rapat-rapat.
Sebenarnya babi bukan hewan pemalas (seperti sebagian manusia) walaupun kadang dia suka tidur-tiduran di kolong rumah atau bahkan bermain lumpur. Ada pameo: parnasib ni babi na manogot-nogot (keberuntungan babi yang keluar pagi sekali!) Maaf, saya tidak berminat menjelaskan makna hurufiah peribahasa ini. :-)Pokoknya babi rajin bangun pagi. Sejak pagi hingga petang babi tidak pernah jemu mencari makan di sekitar kampung. Apa saja yang ketemu dimakannya. Mulai dari dedaunan, buah sentul yang jatuh, buah aren (yang gatal), akar-akar kayu apalagi rebung bambu, cacing dan bahkan ular. (Jangan heran di kampung-kampung di Toba kita jarang ketemu ular karena habis dilahap sang babi). Namun dua kali sehari babi akan datang ke rumah meminta makanan dari pemiliknya. Dan baiknya si babi dia tidak pernah memilih-milih menu. Apa pun yang dihidangkan si pemilik (dedak campur ampas makanan, nasi basi, daun genjer atau daun ubi jalar atau daun talas) dihabiskannya. Namun berbeda dengan anjing jika sedang lapar babi akan sangat berisik atau ribut meminta makan. Mungkin itulah salah satu mengapa orang yang kurang sopan dianggap mirip atau suman, santabi, dengan babi..
Hampir semua orang di kampung Batak sana memelihara babi. Mungkin karena sangat gampang memeliharanya. Satu lagi: karena memelihara babi sangat menuntungkan atau menambah penghasilan. Babi memang benar-benar celengan hidup. Dipelihara untuk kelak dijual menambah biaya hidup. Ya, banyak sebenarnya orang Batak yang sekarang sukses uang sekolahnya dulu diperoleh dari penjualan babi piaraan orangtuanya. (Melantur, saya jadi ingat, guru besar saya dahulu di STT Prof Boehlke menulis surat dari Amerika: “klep jantung saya baru saja dioperasi dan diganti dengan klep jantung babi. Seekor babi harus dikorbankan untuk menolong saya. Sekarang saya mesti lebih hormat kepada babi”).
Konon, babi bisa melahirkan sampai dua belas anak (kebetulan atau tidak jumlah, santabi, puting susu babi adalah dua belas, jadi pas). Cerita Ibu saya, dulu Ompung kami selalu segera menjual anak-anak babi yang lucu dan gemuk itu dan tidak menunggunya besar dulu. Alasannya simpel sekali. Kejam? Supaya induk si babi segera melahirkan kembali. Sebab selama dia masih menyusui maka si induk babi akan tetap kurus. Sebab itu sapih saja secepatnya. Maksudnya: jual saja anak-anaknya penambah uang belanja.
Bagaimana dengan babi jantan? Maaf kepada para laki-laki, dahulu dalam nilai si babi jantan (dalu) lebih rendah dibanding si betina. (Jaman dahulu belum dikenal istilah babi pejantan, sebab semua babi bebas berkeliaran di kampung kawin-mawin dimana, kapan dan dengan siapa saja menurut keinginannya). Namun supaya babi jantan itu bernilai tinggi maka dia harus dikasim. Bahasa Bataknya: dipangkias. Oh seramnya. Ya ampun, kata saya dalam hati sambil menggigil. :-)Cara mengkasimnya juga sangat “primitif”. Babi diikat di tangga rumah lantas, santabi, testis babi dipotong tanpa basa-basi cukup diberi antiseptik tradisional tembakau. agar tidak infeksi. Dan katanya babi yang sudah dikasim cepat sekali gemuk dan tentu saja harga jualnya menjadi tinggi. (Saya penasaran ingin tahu: apakah di jaman moderen ini mengkasim hewan diperbolehkan undang-undang).
Babi sama seperti domba dan kerbau mengenal pemiliknya. Jika petang hari dipanggil “hurjeeeee…. hurjeeeee…..” maka si babi akan segera datang dari balik semak-semak mendapatkan si pemiliknya. Saya sendiri tidak tahu darimana asal kata “hurje” atau panggilan khas kepada babi itu. Namun yang jelas jika orang lain yang meneriakkan hurjeee itu babi yang bukan miliknya tak akan mendekat. Namun ada yang aneh memang dalam diri babi. Jika ekornya kita tarik, maka si babi akan maju ke depan. Namun jika kita pantatnya kita dorong ke depan, anehnya malah si babi mundur ke belakang. Dasar ba… :-)
Ah, hatangku nama i. Unang pola pamasuk hamu tu roha. Itu cuma karangan saya, janganlah disimpan dalam hati.
Hidup Batak! Hidup Indonesia !
Daniel T.A. Harahap
(seorang pendeta yang sebelum kena serang penyakit asam urat termasuk kaum pemangsa babi )
Catatan:
santabi = permisi, mohon ijin, suatu sebutan khas batak sebelum mengucapkan suatu kata yang dianggap kurang sopan.




Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages