Dewi Sri Rejeki
Permata Tower III lt 7
Cons Coll & Recovery
021.7455858 ex 07578
----- Forwarded by Dewi Sri Rejeki/JKT/BankPermata/ID on 04/17/2008 03:21
PM -----
"Zufron Afif A"
<Afif.Zufron@pzcu To: <dre...@permatabank.co.id>
ssons.com> cc:
Subject: FW: Alhamdulillah, anak ke-21 telah lahir dengan selamat
04/17/2008 03:07
PM
From: Yulie [mailto:yulie...@kudus.puragroup.com]
Sent: 17 April 2008 14:50
To: Undisclosed-Recipient:;
Subject: Alhamdulillah, anak ke-21 telah lahir dengan selamat
Rabu, 09 Apr 2008,
Bangga, Anak Ke-21 Tetap Lahir Normal
Sehari Ibu Perkasa Itu Masak 5 Kg Beras
DENPASAR - Hingga kemarin kondisi Halimah, wanita "perkasa" yang
melahirkan anak ke-21 di Rumah Sakit (RS) Sanglah, Denpasar, Bali,
dinyatakan sehat. Bahkan, ibu berusia 44 tahun itu sudah bisa berjalan
dan menggendong sang anak, Maimunah, bayi berumur tiga hari yang lahir
lewat persalinan normal pada Sabtu (5/4) lalu.
"Alhamdulillah normal lagi. Beratnya 2,5 kilogram," kata Halimah
tentang kelahiran anak ke-21 itu saat dijenguk Radar Bali (Grup Jawa
Pos) di sal Bakung Timur RS Sanglah.
Kenyataan bahwa bayi perempuan itu lahir normal dan lewat persalinan
yang juga normal sangat membanggakan hati Halimah. Sebab, sejak
kelahiran pertama, semua anaknya lahir normal lewat persalinan yang
juga normal.
Hanya, ketika ditanya apakah masih siap melahirkan anak urutan
berikutnya (ke-22), wanita yang tinggal di Gatsu Barat, Karang Sari,
Denpasar Barat, itu tak menjawab dengan tegas. Sebab, dia mengaku
takut saat ditawari dokter ikut KB, apalagi operasi streril. Tapi, mau
melahirkan lagi juga tidak ingin. "Sudah capek," katanya.
Namun, sebagai istri yang memiliki suami dan tak mau ikut KB, Halimah
sadar bahwa dia masih berisiko hamil lagi. Dengan kelahiran si bungsu
berjenis kelamin wanita itu, komposisi sementara ke-21 anaknya adalah
10 pria berbanding 11 perempuan.
Godaan untuk melahirkan bayi ke-22 itu memang cukup besar. Sebab, ada
calon "donatur" yang siap membiayai anak-anaknya hingga besar jika
wanita itu bisa menggenapi anaknya menjadi 22. Namun, dokter yang
menanganinya menganjurkan dia steril. Sebab, dengan kemampuan
melahirkan tiap satu setengah tahun seperti selama ini, wanita
bertubuh subur itu dikhawatirkan bisa beranak 30. "Saya cuma takut
kalau disuruh steril," katanya enteng.
Halimah sebenarnya sudah pernah ditulis koran ini pada Desember 2004,
saat "baru" mau melahirkan anak ke-19. Kini, anak ke-19 itu berumur
tiga tahun lebih dan sudah punya dua adik.
Pasangan Halimah dan Mas'ud tinggal di rumah berpagar seng sederhana
di Gang Karang Sari. Rumah itu tergolong kecil jika "disesaki" 20
anaknya. Namun, pasangan yang bekerja sebagai tukang celup kain
terkesan bisa menikmati.
Meski hidup serba kekurangan, pasangan itu tak pernah mengeluh. Mereka
menganggap anak banyak adalah kekayaan. Pasutri ini juga tak merelakan
anaknya diadopsi orang. "Sudah banyak yang datang kepada kami untuk
mengadopsi. Tapi, saya dan istri pasrah saja. Biarkan kami menjalani
(hidup) ini apa adanya," kata Mas'ud kepada Radar Bali.
Menghidupi 20 anak (sebelum kelahiran Maimunah) bukanlah perkara
mudah. Dalam sehari Mas'ud dan istri harus menyiapkan 5 kilogram
beras. "Paling berat beli susu. Saya beli dua kotak susu ukuran 300
gram hanya bisa bertahan dua hari," kata Halimah.
Dengan hidup gaya gali lubang tutup lubang, Halimah yang sedang hamil
pun harus ikut memeras keringat untuk bisa memberi makan anaknya
secara rutin. "Kalau beras nggak cukup, kita juga pernah bikin bubur
saja biar rata kebagian," kenangnya.
Namun, ada hikmah yang membuat pasangan ini tetap bersyukur:
keluarganya selalu mendapat limpahan rezeki, termasuk kesehatan. "Kita
bersyukur anak kita nggak aneh-aneh. Semua nurut. Termasuk saya,
ibunya (Halimah), dan anak-anak nggak pernah sakit serius," jelas
Mas'ud yang kini berusia 55 tahun itu.
Menurut Halimah, dari 21 kelahiran anaknya, pengalaman terpahit yang
dialami adalah saat melahirkan anak ke-12 di Jakarta yang diberi nama
Romlah. Saat itu, dia merasakan antara hidup dan mati. "Saya sempat
jadi tontonan. Dan, semua orang panik saat saya melahirkan Romlah di
becak," katanya.
Mengapa lahir di becak? Saat itu, dalam kondisi hamil tua, dia mencari
suaminya yang diisukan serong dengan wanita lain di ibu kota. "Saya
cari ke semua pelosok Jakarta sampai kesasar ke mana-mana. Ternyata
itu tidak benar," tutur Halimah yang sejak itu memutuskan tak mau
pisah dengan suami dan tinggal di Bali.
Kelahiran yang istimewa juga terjadi pada anaknya yang ke-20. Sebab,
pada hari yang sama, anaknya yang kelima, Ni'mah, juga melahirkan.
"Saya malu, anak saya lahir bareng dengan cucu saya," katanya.
Meski dia dan suami pontang-panting mencari rezeki untuk menghidupi 21
mulut, Halimah menganggap mereka semua sebagai berkah. "Saat ini
mungkin repot. Tapi, mudah-mudahan kelak mereka bisa hidup layak dan
bisa mengangkat dan meringankan beban orang tua," katanya.
Mas'ud mengakui, ada orang asing yang menjanjikan mengurus tuntas masa
depan anaknya bila istrinya bisa melahirkan bayi ke-22. "Biaya
persalinan hingga kuliah saat besar nanti ditanggung. Tapi, kami nggak
tahu, ini yang ke-21 saja sudah berat," imbuhnya.
Menurut Mas'ud, akhir-akhir ini dia juga sering dihubungi para artis
ibu kota. "Mbak Dorce (Dorce Gamalama, Red) sudah pesan dan menelepon
minta saya ke Jakarta. Tapi, saya nggak mau kalau cuma menginap
sehari, capek bolak-balik dari sini Jakarta kalau hanya sehari,"
katanya.(pra/jpnn/el)
===
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=335180
===
Kamis, 10 Apr 2008
Ketika "Keluarga Kelinci" Mas'ud-Halimah Ditraktir Belanja di Supermarket
"Seumur hidup baru kali ini saya masuk supermarket. Saya sungguh
berterima kasih," ujar Halimah, wanita "perkasa" yang melahirkan 21
anak ketika ditraktir Radar Bali (Jawa Pos Group) makan dan
borong-borong sembako di supermarket Tiara Gatsu, Jalan Gatsu Barat,
kemarin pagi. Bagaimana reaksi keluarga ini ketika masuk pasar serba
ada itu?
GUSTI ARDITA-DIDIK PRAPTONO, Denpasar
---
PAGI pukul 08.00 kemarin keluarga besar pasangan Mas'ud dan Halimah
sudah mandi dan berpakaian rapi. Mas'ud, lelaki yang telah memberi
Halimah 21 anak itu bahkan sudah meletakkan alat cetak batiknya. Dua
anaknya yang remaja juga sudah ringkas-ringkas.
Pagi itu Mas'ud memang "dipaksa" libur karena akan diajak belanja ke
supermarket. Tiga anaknya yang masih balita begitu nurut ketika
disuruh berpakaian. Hanya Halimah yang masih tampak lusuh. Dia masih
pakai kain karena ragu bisa ikut. Maklum, bayinya yang baru berumur
tiga hari (sekarang empat hari), sedang tertidur pulas. Namun setelah
ditunggu setengah jam, Halimah akhirnya menyatakan ikut dan mengajak
serta bayinya yang masih merah itu.
Dua buah mobil siap mengangkut keluarga besar, yang menurut Mas'ud
mereka mirip "keluarga kelinci", menuju supermarket yang sebenarnya
tidak jauh dari rumahnya. Yang diajak berangkat kemarin hanya enam
anak dari tujuh anak yang berada di Denpasar, Bali. Satu anak lelaki
ditinggal di rumah untuk menjaga kain batik yang mereka jemur di
pinggir jalan. "Saya mimpi apa semalam. Saya kok merasa sangat
tersanjung hari ini. Keluarga saya merepotkan Bapak-bapak saja," ujar
Mas'ud kepada rombongan Radar Bali yang menjemputnya, sesaat sebelum
berangkat.
Dalam perjalanan ke supermarket, si kecil Sabrina (anak ke-19) terus
bertanya kepada bapaknya. "Mau diajak kemana kita Pa?" Tanya si kecil.
Ayahnya menjawab mau pergi beli mainan dan susu. Sontak si kecil
kegirangan. Pertanyaan yang sama juga dilontarkan Sabrina ketika
sampai di supermarket. Bagitu masuk areal parkir bawah tanah, si kecil
kembali tanya "apakah beli mainannya di tempat gelap seperti ini?"
Keluarga kelinci ini baru tampak sumringah ketika masuk ke restoran
siap saji lantai pertama supermarket tersebut. Dari wajahnya,
putra-putri Mas'ud dan Halimah tampak sangat bahagia. Mereka pun
kemudian duduk berderet di bangku panjang sambil matanya terus menatap
ke sekeliling yang dipenuhi makanan. Ketika ditanya mau makan apa?
Halimah langsung memotong. "Ini halal nggak," tandasnya. Halimah
sendiri tak mau makan karena mengaku sudah sarapan. Hal itu ternyata
diikuti yang lainnya, termasuk Mas'ud. Mereka hanya minta kue dan
minuman.
Belum habis kue dan minuman mereka masing-masing, tiga anak Halimah
yang balita; Zubaidah (anak ke-18); Sabrina (ke-19) dan Rika (ke-20),
berlarian di sela-sela meja. Mereka sangat kegirangan. Ketiganya pun
kemudian diajak naik kuda-kudaan listrik yang bisa ditunggangi
mengitari areal restoran tersebut. Ketiganya terus menebar tawa. Para
pengunjung dan pelayan restoran juga dibuat terbengong-bengong begitu
mengetahui yang sedang memenuhi restoran itu adalah keluarga dengan
rekor anak 21 tersebut.
Yang menarik, Mas'ud dan Halimah tak tampak risih ketika ditonton oleh
pengunjung supermarket tersebut. "Saya dan istri sudah terbiasa. Anak
saya yang besar sempat mengaku malu terus punya adik. Namun setelah
saya kasih pengertian, mereka akhirnya memaklumi," jelas Mas'ud.
Baginya, anak adalah titipan Tuhan yang harus disyukuri. Dan dia pun
mengaku belum punya rencana stop "memproduksi" anak. "Kalau Tuhan
kembali kasih, saya syukuri lagi," tandas lelaki 55 tahun asal
Pekalongan tersebut.
Selesai makan kue dan minum teh, keluarga ini kemudian diajak
borong-borong sembako. Saat jalan menuju areal pasar swalayan yang
berada di sebelah restoran, keluarga ini kembali jadi tontonan. Namun
Halimah justru terharu. Dari matanya keluar buliran air. Halimah
mengaku tak tahu harus bilang apa ketika melihat begitu banyak barang
kebutuhan sehari-hari. Anak lelakinya langsung mengambil troli dan dia
dorong menyusuri lorong rak barang. Saat itulah si kecil Sabrina dan
kedua adiknya kembali bergembira. Empat pak susu 300 gram mereka
ambil. "Ini susu adik, untuk saya nanti saja ngambil," ujarnya girang.
Satu troli dalam sekejap penuh berisi susu, mie instan, sabun, minyak
bayi, popok, odol, dan minyak rambut.
Sebuah troli lagi diambil oleh Mustajabatun (anak ke-7) yang sudah
remaja. Dia kemudian mengambil krupuk mentah, sabun mandi, gula pasir,
kopi dan beras. Troli ini pun penuh sesak hingga barang di atas nyaris
jatuh. Troli ketiga diambil sang bapak, Mas'ud. Troli terakhir ini dia
penuhi dengan minyak goreng, rokok dan sandal karet untuk 21 anaknya.
Tak lupa, dia juga membelikan ketiga anak balintanya mainan. Ketiga
troli itu kemudian mereka dorong menuju kasir. Saat inilah keluarga
tersebut kembali jadi pusat perhatian. Saking banyaknya belanjaan hari
itu, atrean di kasir menjadi panjang.
Barang belanjaan mereka dibungkus dalam lima kardus besar. Keluarga
kelinci ini kemudian kembali diantar ke rumahnya di sebuah komplek
perumahan elite, namun rumah Mas'ud hanya berdinding gedek dan beratap
seng yang di sana-sini sudah bocor. "Saya kontrak tanah disini, per
tahun Rp 800 ribu. Walau tetangga semuanya orang gede (mampu) namun
mereka semua baik pada saya. Yang punya warung di sebelah bahkan
sering saya utangi berbulan-bulan," jelas Mas'ud ketika tiba kembali
di rumahnya. Sementara ketujuh anaknya langsung berebut membuka kardus
untuk mengambil barang. ***
PZ Cussons Plc - Incorporated and registered in England and Wales under
company number 19457
Registered Office: PZ Cussons House, Bird Hall Lane, Stockport, Cheshire,
SK3 0XN
The contents of this message and any attachments to it are confidential and
may be legally privileged. If you have received this message in error you
should delete it from your system immediately and advise the sender. To any
recipient of this message within PZ Cussons, unless otherwise stated you
should consider this message and attachments as PZ CUSSONS CONFIDENTIAL"
The contents of this e-mail and attachments are confidential and subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are strictly prohibited and may be unlawful to use, copy, store, distribute, disclose or communicate any part of it to others and you are obliged to return it immediately to sender or notify us and delete the e-mail and any attachments from your system. PT BANK PERMATA TBK and subsidiaries do not accept liability for loss or damage resulting from computer viruses. The integrity of e-mail across the internet cannot be guaranteed and PT BANK PERMATA TBK will not accept liability for any claims arising as a result of the use of this medium for transmissions by or to PT BANK PERMATA TBK