Daniel memberikan gambaran yang cukup jelas tentang apa itu Software /
Solution Architect, peranya dalam SDLC hingga skill apa yang
diperlukan oleh seorang Architect. Satu quote yang menarik adalah
“Role Software Architect itu dibuat agar orang-orang technical
karirnya tidak langsung mentok”. Architect dalam SDLC berperan sebagai
partner dari Project Manager untuk memberikan keputusan teknis dalam
sebuah tim development. Architect juga harus mempunyai skill teknis
yang sangat luas mulai dari platform pengembangan aplikasi,
developement environtment, deployment environtment hingga harus
mengerti tentang berbagai macam regulasi.
Architect juga harus mempunyai life skill berupa komunikasi dan
negosiasi agar rekomendasinya yang diajukan ke management bisa
diterima, serta harus bisa memperoleh kepercayaan dari anggota
development team bahwa framework yang digunakan memudahkan development
dan menaikkan produktifitas. Menjadi agen perubahan itu sarat dengan
subjektifitas, tidak cukup bahwa perubahan yang dicanangkan adalah
sesuatu yang baik, subject yang membawa perubahan juga harus baik.
#6 http://ifnubima.org/indo-java-podcast-6-ngobrol-bareng-dengan-daniel-baktiar-tentang-software-architect/
– Role Software Architect
– Daniel’s Framework Stack : Struts2-Spring-Hibernate
– Daniel’s Development Tools and Metodology : Subversion-Maven2
– Daniel’s Deployment environtment : Database-Virtualization
– Being Agent of change
– Belajar java dari mana?
Happy Podcasting
regards
2010/10/22 dendy way <dend...@gmail.com>:
2010/10/22 Rudi Cahyo Budiyono <rudibu...@gmail.com>ada, cek aja di
http://code.google.com/p/indo-java-podcast/downloads/list
2010/10/22 dendy way <dend...@gmail.com>:
> Btw..indo java podcast yang sebelumnya adakan mas ifnu?kalo ada saia minta
> dunk...
>
>
Setelah denger podcastnya, somewhat saya masih punya pendapat konservatif bahwa kurikulum di universitas harusnya tetap jauh lebih banyak hal konseptual ketimbang praktikal.
Setelah denger podcastnya, somewhat saya masih punya pendapat konservatif bahwa kurikulum di universitas harusnya tetap jauh lebih banyak hal konseptual ketimbang praktikal.
Pada 22 Oktober 2010 08.32, Petra Barus <petra...@gmail.com> menulis:
Setelah denger podcastnya, somewhat saya masih punya pendapat konservatif bahwa kurikulum di universitas harusnya tetap jauh lebih banyak hal konseptual ketimbang praktikal.
tergantung kebutuhan tra :Dkalo setelah keluar trus masuk S2 trus bikin risetmungkin emang konseptualnya sangat pentingtp yang bis keluar s1 trus nyari kerja, mungkin praktikalnya yg lebih penting :D
--
Ayok bikin Java Meetup lagi yuk :D <--- intinya sih ini
--
Petra Novandi Barus, ST
Magister Program of Computer Science
School of Electrical Engineering and Informatics
Institut Teknologi Bandung
http://petrabarus.net
Ayok bikin Java Meetup lagi yuk :D <--- intinya sih ini
2010/10/22 Petra Barus <petra...@gmail.com>
Ayok bikin Java Meetup lagi yuk :D <--- intinya sih ini
Adain skali2 di jakarta dunk..
kalo orang yang blom bisa apa2 di java(baru helloworld doank) boleh ikutan gak?
bandung ongkos kagak nahan..hehe
Still, IMHO, pekerja dengan kemampuan konseptual yg sangat bagus tetap jadi investasi yang menguntungkan bagi para pencari pekerja (yah, kecuali kalo attittudenya bener-bener gak bagus yah :D)
Karena menurut gw (meski rada gak beralasan) orang yg terlalu banyak praktikal nantinya bakal stuck di sebuah level produktivitas. Tapi orang yg konseptualnya bagus punya infinite possibilities.
Salah satu dosen di kampus saya berpendapat bahwa lulusan universitas itu bukan siap kerja, tapi siap dilatih. Beberapa temen saya yg freshgrad di perusahaan software yg besar begitu masuk tetep dilatih kok, gimana cara kerja di perusahaan tersebut, gimana model pengembangannya, dll..
Cuman ya karena di negara kita (dan banyak negara lain) memang banyak perusahaan-perusahaan IT yang kecil yang sedang berkembang menjadi besar (plus perusahaan-perusahaan IT besar yang makin tambah besar), maka demand mereka terhadap tenaga kerja bener-bener urgent. Akan lebih menguntungkan buat mereka untuk merekrut tenaga kerja yang sudah siap pakai ketimbang siap latih. Yang penting product mereka deliver on time.
Gw akui pendapat gw emang kelewat idealis ketimbang realistis. :D
Tapi gw cukup setuju kok kalo diperbanyak semacam workshop2 atau training2 di luar jam kuliah sebagai bentuk ekstrakurikuler :)
Ayok bikin Java Meetup lagi yuk :D <--- intinya sih ini
Saya sangat setuju jika S1 tetep harus lebih banyak hal conseptual
ketimbang praktikal.Kalau S1 terus mau mau kerja, ya itu salah yang
kuliah... Wong S1 lulusan S1 emang lebih ditujukan buat jadi ilmuan, ya
kalo mau hal yang lebih praktisi ya mending ngambil D3 ato D4.
--
Salam
Ahmad 'Ata' Tanwir
Web Company: http://javan.co.id
Web Blog: http://ata.web.id
Saya sangat setuju jika S1 tetep harus lebih banyak hal conseptual ketimbang praktikal.Kalau S1 terus mau mau kerja, ya itu salah yang kuliah... Wong S1 lulusan S1 emang lebih ditujukan buat jadi ilmuan, ya kalo mau hal yang lebih praktisi ya mending ngambil D3 ato D4.