This City Is a Battlefield (Indonesian: Perang Kota) is an upcoming Indonesian war drama film written and directed by Mouly Surya.[1] The film is adaptation of Jalan Tak Ada Ujung by Mochtar Lubis and is set in 1946, a year after Indonesia's independence from Dutch and Japanese occupation.[2]
Set in Jakarta in 1946, Isa, a 35-year-old former fighter and a violinist, is now an elementary school teacher. His service during the war for independence leaves him with a reputation as a seasoned soldier. His trauma, however, leaves him with impotence.[1]
The film marks Mouly Surya's first project that is based on an existing material. To fund the project, Surya sought funding from several sources, such as the Hubert Bals Fund, who also funded her sophomore release What They Don't Talk About When They Talk About Love in 2013.[2] Additionally, Bangkok-based Purin Pictures also announced in 2020 that they selected the project to receive a US$30,000 production grant.[1]
The film began production in late 2019 and was set for a 2020 release.[3] However, it was pushed back due to the COVID-19 pandemic.[1][3] In March 2021, Surya stated on Twitter that the film is likely to be pushed back due to the COVID-19 situation.[4]
Industri film komersial masih dalam tahap awal ketika Amerika Serikat menyatakan perang melawan Spanyol pada 1898. Perkembangan teknologi di bidang perfilman pun semakin maju. Berita perang tidak lagi terbatas pada surat kabar cetak atau gambar statis, tetapi adegan peperangan bisa disaksikan secara langsung di layar lebar.
Dampak perang terhadap film dokumenter bisa dirasakan secara langsung, tapi para pembuat film tidak ingin hanya sebatas merekam perang secara langsung, mereka ingin membuatnya kembali. The Fugitive (1910) karya D.W Griffith, tentang Perang Saudara Amerika, pun tayang pada 1910. Diikuti The Birth of a Nation (1915) karya D.W Griffith yang berlatar Perang Saudara Amerika juga.
Perang pun menjadi bagian dari sinema film sejak saat itu. Beberapa orang memang mengkritik dampak buruk film perang terhadap mental seseorang, tetapi ada juga yang mendukung film perang sebagai bagian dari sejarah umat manusia.
1917 (2019) dirilis 102 tahun setelah perang yang dicatatnya (Perang Dunia I). Sebelum Perang Dunia I, atau Perang Besar sebagaimana yang disebut saat itu, perang hanya terjadi pada suku, negara, dan budaya. Namun, pada akhir 1910-an, seluruh dunia terlibat dalam peperangan.
Pertempuran ini meluas dari Eropa hingga Timur Tengah yang melibatkan banyak negara dalam konflik tersebut. Ini pun bukan sekadar cakupan Perang Besar, tapi juga pengenalan teknologi canggih ke garis depan. Menyebabkan kehancuran yang belum pernah terjadi dan tidak terbayangkan sebelumnya.
Sutradara Sam Mendes menciptakan kembali perspektif tentang perang ini dalam film 1917. Ia menciptakan kisah kepahlawanan yang inspiratif sekaligus menggambarkan kengerian perang dengan sangat jelas. 1917 bercerita tentang dua tentara Inggris yang harus menyampaikan pesan di dalam wilayah musuh untuk menyelamatkan 1.600 prajurit, termasuk salah satu saudara prajurit tersebut.
1917 terbukti sukses di kalangan kritikus dan penonton film. Film perang ini memperoleh skor positif di Rotten Tomatoes, yakni 89 persen. 1917 juga menghasilkan keuntungan 37 juta dolar AS atau setara Rp588 miliar setelah penayangannya di Amerika, dan memenangkan penghargaan dari Golden Globes, AFI, dan Producers Guild of America.
Christopher Nolan adalah salah satu penulis sekaligus sutradara modern paling terkenal. Setelah sukses dalam genre superhero (trilogi Dark Knight), Interstellar (2014), dan Inception (2010), Nolan beralih haluan pada tantangan terbesarnya, yakni film perang.
Pertempuran Dunkirk adalah perang cukup menarik karena Inggris kalah dalam pertempuran tersebut. Walaupun begitu, pertempuran ini menginspirasi dunia karena berhasil mengevakuasi 338.000 tentara dari pantai Prancis. Christopher Nolan pun membuat film Dunkirk yang bisa dibilang sangat berisiko dibandingkan dengan film-film Nolan lainnya. Pasalnya, tidak adanya bintang utama dan sebagian besar sejarah pertempuran ini terlupakan, terutama di Amerika (tidak seperti Pearl Harbor).
Meskipun begitu, Warner Bros. Studios sangat yakin dengan kemampuan Christopher Nolan dalam menggarap film tersebut. Warner Bros. Studios bahkan menggelontorkan 100 juta dolar AS atau setara Rp1,5 triliun untuk film ini. Dunkirk dirilis di tengah persaingan berat dengan film superhero yang sedang booming. Namun, studio film ini yakin bahwa nama Christopher Nolan dan latar Perang Dunia II mampu bersaing dan menjadi daya tarik penonton.
Sesuai dengan keyakinan studio, karya Christopher Nolan memang tidak pernah mengecewakan. Dunkirk memperoleh skor 91 persen di Rotten Tomatoes. Film ini juga mampu meraih 189 juta dolar AS atau setara Rp2,9 triliun di AS dan 526 juta dolar AS atau setara Rp8,3 triliun di seluruh dunia. Sutradara Quentin Tarantino bahkan memilih Dunkirk sebagai salah satu film favoritnya.
Steven Spielberg adalah sutradara terlaris sepanjang masa. Namun, pada 1990-an, sutradara blockbuster di balik serial Jaws, E.T., Jurassic Park, dan Indiana Jones ini mulai mengarahkan kariernya ke arah berbeda. Mengikuti film perang terdahulunya yang berhasil memenangkan piala Oscar sebagai Film Terbaik untuk Schindler's List (1993), Spielberg kembali mengarahkan perhatiannya pada film era Perang Dunia II.
Saving Private Ryan (1998) memiliki premis yang menarik, di mana sekelompok tentara mempertaruhkan nyawa mereka di belakang garis musuh untuk menyelamatkan seorang tentara, yang saudara laki-lakinya terbunuh dalam pertempuran tersebut. Di tangan Steven Spielberg, Saving Private Ryan menjejali penonton untuk melihat Perang Dunia II dari sudut pandang baru. Spielberg menggunakan teknik dokumenter untuk menyaksikan konflik perang ini, dengan menyoroti keberanian para prajurit.
Kritikus film menganugerahkan Saving Private Ryan dengan skor 93 persen di Rotten Tomatoes. Film ini mendapatkan penghasilan domestik (Amerika) senilai 217 juta dolar AS atau setara Rp3,4 triliun dan 482 juta dolar AS atau setara Rp7,6 triliun di seluruh dunia, sampai-sampai menjadikannya film terlaris pada 1998. Saving Private Ryan juga menganugerahkan Steven Spielberg sebagai Sutradara Terbaik keduanya dalam penghargaan Oscar, meskipun film tersebut kalah dengan Shakespeare in Love (1998) sebagai Film Terbaik.
The Thin Red Line keluar pada tahun yang sama dengan Saving Private Ryan (1998), tapi film ini adalah film Perang Dunia II yang sangat berbeda. Disutradarai Terrence Malick, The Thin Red Line mencakup pandangan yang cukup filosofis mengenai perang pada umumnya, dan Perang Dunia II pada khususnya.
Film ini menunjukkan adegan kematian yang cukup tragis dan menyayat hati, di mana seorang tentara secara tidak sengaja menarik pin granatnya sendiri saat granat itu masih terpasang di ikat pinggangnya. Meskipun dibintangi aktor terkenal, seperti Nick Nolte, Sean Penn, Woody Harrelson, George Clooney, Adrien Brody, dan John Cusack, The Thin Red Line hanya berhasil meraup 36 juta dolar AS atau setara Rp571 miliar di dalam negeri (Amerika). Namun, para kritikus memberikan skor Rotten Tomatoes yang cukup baik, yakni 80 persen.
Francis Ford Coppola menyutradarai film tentang Perang Vietnam pada 1970-an. Apocalypse Now (1979) adalah kisah epik tentang peperangan. Film ini tidak hanya menyampaikan kengerian sebuah perang, tetapi juga menampilkan ketidakmanusiawian yang digambarkan dengan sangat nyata.
Apocalypse Now mendapatkan skor 98 persen di Rotten Tomatoes dan menghasilkan pendapatan kotor sebesar 91 juta dolar AS atau setara Rp1,4 triliun di seluruh dunia. Ini menjadi pencapaian terbesar dalam karier sutradara Coppola.
Sebelum menuai kontroversi sebagai penulis Scarface (1983), sutradara JFK (1991) dan Natural Born Killers (1994), Oliver Stone, adalah mahasiswa yang di-dropout dari Universitas Yale dan novelis yang gagal pada 1960-an. Namun, Oliver Stone mengabdikan dirinya ke Angkatan Darat AS dan diterjunkan langsung ke hutan Vietnam dalam Perang Vietnam. Stone dianugerahi penghargaan Bronze Star (Bintang Perunggu) dan Purple Heart (Hati Ungu) atas pengabdiannya itu.
Kemudian, Oliver Stone melanjutkan studinya di Universitas New York di bawah bimbingan sutradara Martin Scorsese. Stone pun terjun ke Hollywood sebagai penulis skenario. Baru pada 1986, Stone mengabdikan pengalamannya di medan tempur dalam film Platoon.
Platoon berkisah tentang seorang prajurit muda (diperankan oleh Charlie Sheen, putra Martin Sheen, yang berperan sebagai Kapten Willard di Apocalypse Now tujuh tahun sebelumnya). Prajurit ini harus menghadapi Viet Cong dan Sersannya yang sadis, Barnes, yang diperankan oleh Tom Berenger. Perang ini cukup mengerikan karena terinspirasi dari pengalaman pribadi Oliver Stone sendiri.
Para kritikus memberi Platoon skor 88 persen di Rotten Tomatoes. Film ini memperoleh pendapatan domestik sebesar 138 juta dolar AS atau setara Rp2,2 triliun dengan anggaran hanya 6 juta dolar AS atau setara Rp95 miliar. Platoon juga berhasil membawa pulang piala Oscar untuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Oliver Stone.
Didasarkan dari novel The Short-Timers karya Gustav Hasford, Full Metal Jacket menceritakan perjalanan Marinir AS di bootcamp hingga ke zona perang yang berdarah dan brutal. Full Metal Jacket dibintangi oleh Matthew Modine, R Lee Ermey dan Vincent D'Onofrio. Meskipun Full Metal Jacket tidak masuk dalam film terbaik Stanley Kubrick, skor Rotten Tomatoes-nya mampu meraih 91 persen.
The Hurt Locker (2008) bukan film perang biasa. Pasalnya, kita akan dibuat dag-dig-dug selama 131 menit dalam film tersebut. Sutradara Kathryn Bigelow mendefinisikan ketegangan tersebut dalam Bomb Theory-nya, di mana ia menggambarkan cerita tentang unit tentara penjinak bom selama Perang Irak.
Para kritikus terkesan dengan film ini. Mereka menganugerahkan The Hurt Locker skor 97 persen di Rotten Tomatoes. Yang lebih mengesankan, Kathryn Bigelow menjadi perempuan pertama yang memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik. Film ini juga memenangkan Academy Awards untuk Film Terbaik.
c80f0f1006