Mudah2an dari tulisan yang baru lalu, sdh bs didapat berapa selisih antara harga pabrik dg harga gudang principal. Why hal ini penting diperhatikan ?? Sabar dahulu....butuh uraian selanjutnya untuk mendapatkan hal ini.
Salah satu cara ( klo tidak boleh dibilang satu2nya cara ) melanggenggakan hubungan bisnis dg foreigner ialah....adanya order yang berkelanjutan, teratur & tanpa henti. Sekalipun punya duit 1 tanker, tapi klo order terus tanpa memikirkan bagaimana 'memindahkan' order ke tangan consumer; maka
duit 1 tanker tsb lama2 akan habis juga.
Oleh karena itu, principal wajib mikirin cara agar stok di gudangnya bs pindah tangan ke consumer secara berkelanjutan, teratur & tanpa henti.
Ada 2 hal yang menyangkut masalah 'pindah mindahin' stok barang dr gudang principal ke tangan customer
& consumer. Hrs dibedakan pengertian antara consumer & customer. Consumer pasti adalah customer, namun customer belum tentu consumer. Silahkan dipikirkan sendiri mengapa bs begini.
Pertama, seringkali principal engga sanggup 'memindahkan' stok brg-nya sendiri ( Another prove about pentingnya COCOTEFASERA ) alias butuh bantuan pihak lain. Pihak lain itu umumnya disebut sebagai distributor.
Seringkali, sang
distributor juga tidak 'sendirian' alias dibantu oleh sub-dist dan ( terkadang ) agent. So, mari dipikirkan dulu bagaimana 'memindahkan' stok brg principal ke distributor.
Agar pemindahan stok brg principal ke distributor bs berlangsung dg sukses, seorang principal haruslah memahami bagaimana jalan pemikiran distributor karena distributor musti mindahin brgnya ke sub-dist, agent atau bahkan customer. Siapakah customer distributor ?? Mayoritas customernya bukanlah consumer..alias pemakai langsung, melainkan other customer ( Grosir, Retail, Agen dll ).
Nah.....mengingat setiap bisnis pasti ujung2nya adalah UUD, seorang distributor pasti akan mikirin "Gua punya customer berapa banyak, berapa volume pengambilan setiap customer per-bulan, berapa cepat perputaran stok-nya perbulan dan berapa besar untungnya yang bisa didapat dari kegiatan 'memindahkan brg ini' "
Nah, principal yang baik umumnya 'tahu diri'. Utk stok yang Fast Moving, sah2 saja klo dia mo 'gencet' distributor dg margin tipis krn distributornya ( distributor yang baik tentunya ) pun
bakal 'tahu diri' klo kunci sukses bisnis ini ialah dari volume penjualan & bukan margin. Utk brg yang Slow Moving, maka peincipal musti rela ngasih margin yang besar karena andalan distributor disini ialah margin per-pieces, dan bukan volume penjualan.
Nah...yang menentukan brg mana yang Fast dan mana yang Slow BUKANLAH principal dan/atau distributor...tapi consumer ( end user / pemakai barang ).
Oleh karena itu faktor kedua yg harus diperhatikan ialah Harga beli consumer. Sebagus apapun kualitasnya, klo dia ngga mampu beli ( atau at least 'hanya' ada sedikit org yg mo beli ) atau dia persepsikan harganya tdk sebanding dg kualititas / benefit yg dia dapatkan, maka akan tetap jd Slow Moving. Kebalikannya jg berlaku.
Lagian...setiap bisnis adalah UUD. So, distributor jg bakal itung2an...apakah dg berbisnis brg ini dia untung or tidak. So klo untung, dia jalankan secara serius en sebaliknya, klo tdk untung dia jalankan brg-nya jg ogah2an. Lebih baik gue cari brg
lain / jalanin brg lain yg lebih nguntungin, begitu katanya.
Oleh karena itu penting bagi principal buat meracik SIPOC distribusinya sesuai dg kondisi stoknya ( slow / fast ). Slow means SIPOC ramping en margin besar buat every distributornya. Fast means SIPOC bs lebar en margin bs ditekan. Fast or Slow stoknya mencerminkan kekuatan negosiasi principal. Engga heran, klo principal rela ngeluarin dana promosi gede buat mengubah stok-nya dari slow ke fast.
Namun disisi lain, racikan principal juga harus mengena di customer, consumer , artinya dg harga sekian maka customer bisa jual lagi dg harga sekian & dan marginnya dipandang menguntungkan; dan harga sekiannya customer masih membuat cukup banyak consumer yang mengkonsumsi brg tsb secara berkelanjutan, teratur & tanpa henti.
Disinilah principal hrs bs memprediksikan kebijakan harga dr tiap anggota SIPOCnya mulai dari pabrikan s/d customer. Dia jg hrs bisa predikasi berapa kira2 margin yg cukup 'masuk
akal' ( menguntungkan ) bagi tiap2 anggota distributornya....( secara ideal ) tanpa paksaan alias sutante ( sukarela tanpa tekanan ).
Yes...kebijakan harga dr principal SEBAIKNYA TIDAK 1 ARAH ( hrg pabrikan - ambil margin sekian - hrg distributor 1 dst ) tetapi 2 ARAH sesuai dg SIPOC yg diraciknya ( Mis. Hrg pabrikan - hrg principal - prediksi hrg distributor - prediksi hrg subdis - prediksi hrg agent - prediks hrg consumer ) Oh ya...tambahkan juga biaya untuk bikin perijinan2 ( POM, MUI, dll ), 'jatah bulanan' birokrat ( POM, MUI, polisi dll ) - supaya itemnya tidak 'dikerjain' oleh mreka en....tentunya biaya promosi
& adv.
Lalu...bandingkan prediksi hrg consumer dg situasi pasar & karakter consumernya. Klo prediksi hrg customernya tidak masuk ( untungnya engga cukup )..sorry...principal hrs berani pusing utk cari racikan yg pas...Klo perlu...( sorry agak ekstrim ) ganti saja pabrikannya . Why ??? Siapa yg paling jadi raja dalam situasi skg ini pabrikankah ??? Principalkah ?? Distributor dan/atau jaringannyakah ??? Atau cunsumer ( end user ) ??? Yang paling jadi raja, itulah yg harus diutamakan.
Selamat berpusing ria & meracik !!