Menurut hemat saya harus dikaji sebelum meningkatkan kapasitas dari 200 - 300 ton per jam. Karena pada umumnya kapasitas dari Port Tank ke tempat penampungan kapal Tanker itu rata-rata hanya bisa dicapai 250 ton per jamnya pada kebanyakan pelabuhan di Indonesia. Selain sebagai praktisi, saya bekerja sebagai independent konsultan pada perusahaan global dan komoditi curah cair yang di-ekspor itu memerlukan PCA (Product Conformity Assessment).
Meningkatkan kapasitas itu harus dilihat dari dua arah, artinya:
- Harus seimbang antara kapasitas saluran Kapal Tanker dan;
- Kapasitas saluran Port Tank (Tank Pelabuhan setempat).
Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Sebut saja Port Tank di Dumai itu mampu mencapai kinerja loading & discharge-nya sebesar 500 ton per jam, tetapi ternyata rata-rata kapal Tanker yang dapat disandarkan pada Pelabuhan Dumai berdasarkan fasilitas draft dsbnya itu hanya mampu menyandarkan kapal dengan fitur saluran-salurannya sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini, bahwasannya: kapal tanker dimaksud hanya mampu dengan kinerja maksimal 250 ton per jamnya. Dengan demikian menjadi tidak seimbang.
Gambar di bawah ini mengilustrasikan secara garis besar saja tentang proses kegiatan loading & discharge komoditi Curah Cair.
Selanjutnya, mari kita explore secara umum tentang profil Pelabuhan Dumai. Grafik di bawah ini adalah data selama kurun waktu 30 hari sejak tanggal artikel email ini ditulis, yaitu:
STATISTIK KUNJUNGAN KAPAL DI PELABUHAN DUMAI
Berdasarkan data grafik di atas maka profil logistik kepelabuhanan Dumai adalah kapal penumpang selain kapal tanker. Selama 30 hari, hasil dari kunjungan kapal cargo adalah sebagai berikut:
Grafik Kunjungan Kapal Penumpang
Sedangkan kapal Tanker dan kapal Penumpang adalah sebagai berikut:
Grafik Kunjungan Kapal Tanker
Maksimum per hari berdasarkan grafik kunjungan Kapal Tanker di atas adalah 9 Kapal Tanker. Rata-rata GT Kapal Tanker yang berkunjung adalah kisaran 50.000-an yang memerlukan kondisi draft pelabuhan sedalam 15 meter. Sedangkan rata-rata draft Pelabuhan Dumai berdasarkan gelombang naik turun itu menghasilkan batas aman draft hanya sekitaran 10 meter saja. Hal ini disebabkan kapal Tanker semakin diisi untuk mencapai kapasitas maksimum berdasarkan GT-nya akan menjadi semakin terbenam dan memerlukan draft yang menunjang. Analisa ini hanya secara kasar saja, sehingga kapasitas 200 s/d 300 ton saja atau rata-rata 250 ton saja sudah cukup; tidak perlu ditambahkan lagi menjadi 500 ton per jamnya. Penambahan kapasitas 500 ton per jam ini hanya berpengaruh pada kecepatan bongkar muat yang dapat meningkatkan BOR (Berthing Occupancy Rasio) sehingga bisa lebih dari 9 kapal tanker per harinya (lihat gambar di atas, yakni: pada tanggal 22 Oktober 2017).
Gambar di bawah ini adalah hasil zoom dari gambar rute kapal tanker di atas dan didapati density kapal pada DLKP (Daerah Lingkup Kerja Pelabuhan) itu tidak ada kepadatan atau banyak kapal berlabuh.
Artinya: jumlah 9 kunjungan kapal tanker dimaksud di atas itu masih available untuk dilayani berdasarkan fasilitas panjang dermaga Pelabuhan Dumai. Perkiraan saya, BOR-nya tidak sampai 50%. Dengan demikian, kecepatan bongkar muat 200 s/d 300 ton per jam itu masih mumpuni dan tidak perlu ditingkatkan menjadi 500 ton per jam-nya. Tetapi sekali lagi, ini hanya analisa umum saja. Perlu dikaji lebih teliti mengenai hal ini.
Grafik Kunjungan Kapal Penumpang
PORT FOLLOWS THE HINTERLAND RESOURCES
Membangun atau merevitalisasi pelabuhan itu tidak hanya berdasarkan Rencana Induk Pelabuhan dari instansi pemerintah terkait. Gambaran di atas kiranya dapat memberi pengertian pada kita bahwa pencapaian Logistik Kepelabuhanan agar dapat mewujudkan Biaya Logistik yang efisien itu filosofinya adalah port follows the hinderland resources.
Berdasarkan ilustrasi di atas maka faktor-faktor yang menyebabkan Biaya Logistik pelabuhan kita di Indonesia belum bisa turun adalah mind-set revitalisasi pelabuhan belum bergeser dari port sebagai Loading & Unloading Port. Standard Operation Procedure-nya pun masih belum dirubah sejak tahun 1960-an.
Kalau melihat rincian penjelasan di atas, khususnya kasus revitalisasi Pelabuhan Dumai maka mind-set revitalisasinya harus bergeser menjadi phase 3, yaitu: Logistics/ Port Supply Chain. [port follows the hinterland resources] - baru kita dapat merubah pelabuhan secara totalitas dan akhirnya dapat menikmati Biaya Logistik yang efisien. Dan itupun masih belum cukup untuk menjadi Smart Port (phase 4). Ada yang bilang: Once again: Say Big Data Technology. Menurut saya mustahil karena ini ada prakondisinya berdasarkan phase-phase pada gambar ilustrasi Evolusi Pelabuhan di atas dan perlu diurai, di-exercise berkali-kali sehingga bisa ditemukan berbagai formula untuk menurunkan atau meng-efisiensi-kan Biaya Logistik.
Wassalam
Rudy Sangian - 08118060049.