MAK Junah (56), korban banjir di Kampung Mujiah, RT 01 RW 01, Desa Mekar Mulya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kab. Karawang, hendak menanak nasi di dapurnya yang masih dipenuhi lumpur sisa banjir, Selasa (9/2). Selama lima jam pada hari sebelumnya, luapan Sungai Cibeet merendam puluhan rumah di Desa Mulyajaya dan Desa Mekar Mulya, Kec. Telukjambe Barat.* DEWIYATINI/"PR"
KARAWANG, (PR).-
Sejumlah warga terutama anak-anak yang rumahnya terendam banjir di
Kampung Mujiah RT 01 RW 01 Desa Mekar Mulya dan Kampung Rancajulang RT
05 RW 03 Desa Mulyajaya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten
Karawang, mulai terserang penyakit kulit dan diare.
Berdasarkan pemantauan "PR", Selasa (9/2), meski genangan air akibat banjir di wilayah tersebut sudah menyurut, tetapi warga setempat kini membutuhkan bantuan medis. Pasalnya, sebagian besar anak-anak kini mengeluhkan rasa gatal karena terlalu lama berendam di air luapan.
Menurut Anto (28), warga setempat, puluhan anak di kampungnya itu mengalami gatal-gatal pada bagian kakinya. Bahkan, ada sebagian anak yang mengalami pembengkakan akibat keseringan menggaruk. "Kami berharap ada bantuan medis ke kampung kami walau banjir tidak lama," ujarnya.
Anto mengatakan, sejumlah pejabat seperti Wakil
Bupati Karawang Eli Amalia Priyatna dan Camat Telukjambe Barat Eli
Laela memang telah mengunjungi lokasi banjir. Akan tetapi, mereka tidak
meninjau rumah-rumah yang terbilang mengalami dampak yang parah dari
banjir.
Pada kunjungan itu, mereka bahkan menjanjikan akan mengirim bantuan bahan makanan pada hari selanjutnya. Padahal, menurut warga, yang dibutuhkan sekarang lebih pada bantuan medis.
Mulai surut
Sementara itu, pascabanjir, sejumlah warga tetap
membiarkan barang-barang yang sempat dikemasi berada di plafon
rumahnya. Menurut Darso (45), warga Kampung Mujiah, air mulai surut
pada pukul 19.00 WIB, Senin (8/2).
Saat banjir, rumahnya yang berjarak kurang dari 50 meter dari Sungai Cibeet itu sempat terendam hingga ketinggian satu meter. Namun, ia dan keluarganya tidak mengungsi waktu itu.
"Kami yakin banjir ini akan cepat surut karena tidak ada hujan. Lagi pula banjir yang sebenarnya belum dimulai," katanya, yang sudah terbiasa dengan bencana banjir di wilayahnya itu ketika ditemui "PR" di rumahnya.
Dia mengungkapkan, ketika banjir tahun 2009, dia membawa serta keluarganya mengungsi di rumah kerabatnya di Kampung Rancajulang Desa Mulyajaya. Saat itu, rendaman air lebih dari satu meter. Karena tidak mungkin membawa serta barang-barang, Darso dan warga Kampung Mujiah sengaja menyiapkan ruang di plafon untuk menyimpan pakaian dan barang lainnya agar tidak terendam air.
Mak Junah (56) mengatakan, hanya lumpur yang tersisa di dalam rumahnya setelah banjir surut. "Paling sekarang yang dibersihkan lumpur-lumpur yang menumpuk di dalam rumah," ucapnya.
Korban lain, Idah (34), menuturkan bahwa bagian dapur rumahnya yang semi permanen roboh ketika air datang. Dia beserta keluarganya tidak dapat pindah ke wilayah yang lebih tinggi karena terlambat keluar dari rumah. Mereka pun terpaksa hanya diam di atas tempat tidur sambil menunggu air surut.
Menurut Idah, lebih baik diam di rumah daripada mengungsi. "Saya malas rebutan bantuan makanan seperti tahun lalu. Akhirnya malah banyak yang tidak kebagian," katanya. (A-153)***
Penulis: