JBP for kids

1 view
Skip to first unread message

echo

unread,
Jan 23, 2008, 12:11:04 AM1/23/08
to jabar...@googlegroups.com
Beberapa rekan di JBP melontarkan keinginan untuk menularkan awareness
terhadap bencana pada anak-anak.

Yang disasar bukan mengenai modul kebencanaan yang terintegrasi dengan
kurikulum sekolah, tapi lebih pada add-on atau suplemen terhadap
pengetahuan kebencana dengan metoda pemberian materi yang sambil bermain..
mungkin bisa kerja sama dengan Jendala Ide ya, kang Andar ? tinggal bentuk
materi seperti apa yang akan coba di gali untuk 'percobaan'.

Targetnya tidak muluk2, yang penting rekan2 bisa berinteraksi dengan anak2
dan melihat minat mereka terhadap masalah kebencanaan, entry pointnya yang
kemarin terpikir adalah membuat disaster family kit.. mungkin tidak
selengkap yang versi ideal, karena setelah coba dihitung2 harganya mahal.

Untuk kit yang direkomendasikan oleh FEMA saya hitung kasar, harganya bisa
lebih dari 500rb rupiah (kalo dihitung semua beli baru). Wah itu baru untuk
basic kit (galon air, makanan 3 hari, radio baterai, senter+ekstra batere,
peluit, susu formula+popok, kantung plastik, toiletry, masker debu, lap
katun, lembaran plastik untuk shelter, tang atau multi tool), belum
termasuk alat tidur dan pakaian.

Tampaknya kita harus memikirkan kit versi 'katro', sehingga sebagian bisa
'nyolong' saja dari dapur ibu atau gudang bapak :). Atau bisa saja kita
kasih pengetahuan dasarnya, nanti biar anak2 (dan orangtuanya) yang
memikirkan, kira2 substitusi dengan apa dan dievaluasi bareng..

Kita punya beberapa bahan content seperti dari CDASC Muhammadiyah, FEMA,
dan beberapa institusi lain bertebaran di internet tapi memang harus
dikembangkan lagi..

Silahkan kalau ada saran, ide, kritik bisa melalui milis. Untuk rekan2 yang
punya waktu luang dan mau ikutan develop kegiatan ini bisa kontak ke Ifran
(081367324 delapan tiga nol)

Rgds,

.e

Bayu E. Sandera

unread,
Jan 23, 2008, 10:17:05 AM1/23/08
to jabar...@googlegroups.com, bayues...@yahoo.com
betul-betul yang sulitnya dipengembangan?


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

echo

unread,
Jan 23, 2008, 11:28:53 AM1/23/08
to jabar...@googlegroups.com
Kalau dibantuin sama Om Bayu Jabir sih kayaknya jadi gampang hehe.

Rgds,
.e

Bayu E. Sandera wrote:
> betul-betul yang sulitnya dipengembangan?

andar manik

unread,
Jan 23, 2008, 10:01:08 PM1/23/08
to jabar...@googlegroups.com
Jendela Ide siap untuk menjadi salah satu organisasi yang memfasilitasi kegiatan penyadaran ttg kebencanaan pd anak-anak usia 6 s/d 13 thn,  salah satu kegiatan yang pernah kami  lakukan  adalah: "Bagaimana banjir bisa terjadi dan apa fungsi pohon untuk tanah",  nara sumber yang kami panggil  yaitu: Bpk DR Ir Munasri (Aci) dari PUSLIH GeoTeknologi LIPI Bandung , beliau  menjelaskan fenomena bajir dengan alat peraga  yang  sederhana; kaleng biskuit yang dipotong miring menjadi 2 bagian dan diisi tanah, yang satu tanpa tanaman yang satu lagi memakai tanaman, anak2 menyirami 2 kaleng tersebut dengan penyiram tanaman yang airnya keluar seperti hujan, Tanah yang tanpa tanaman akan hilang terbawa air yang bergerak turun mengikuti kemiringannya,  tanah yang ada tanamannya tetap utuh karena tertahan oleh dedaunan dan akar tanaman yang mencengkramnya .Dengan mengalami secara langsung dan mengamati fenomenanya anak-anak dpt membuat kesimpulan yang mengejutkan, kami tidak perlu lagi menyampaikan pesan secara banal dan verbal.

Artikel:

Bumi Itu seperti Kerupuk di Atas Bubur

Jumat, 04 Februari 2005

DALAM suatu acara sosialisasi pendidikan bencana alam untuk guru-guru Sejarah dan Geografi di SMUN 6 Cijerah, Cimahi, Jawa Barat, pada pertengahan Januari lalu, guru-guru tampak sangat tertarik.
MEREKA antusias melihat tayangan-tayangan yang diberikan T Bachtiar, ahli geografi dari Masyarakat Geografi Indonesia, dan Budi Brahmantyo, ahli geologi dari Kelompok Riset Cekungan Bandung.
Elok Komariah (40), guru Geografi SMUN 9 Bandung, sudah tidak sabar bertemu murid-muridnya. Ia ingin secepatnya membagikan pengetahuannya tentang gempa dan tsunami serta potensi bencana alam di Jawa Barat kepada murid-muridnya.
Meskipun setiap hari media massa memberitakan gempa dan tsunami serta keadaan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), ternyata informasinya belum cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana orangtua, guru, dan murid.
Pemberitaan media massa justru menambah beban buat orangtua. "Saya sengaja mematikan televisi, sebab saya takut anak saya jadi trauma melihat pemberitaan tentang NAD di televisi. Soalnya, waktu saya kecil, kematian adalah sesuatu yang sangat menakutkan," kata Ny Sarah Bastaman (35).
Namun, Sarah tidak anti memberi pengetahuan tentang pendidikan bencana alam kepada anaknya. Maka, ketika Jendela Ide, sebuah lembaga pendidikan nonformal untuk anak-anak dan remaja di Bandung, mengadakan pendidikan untuk mengenal alam secara lebih dekat, Sarah pun segera membawa anaknya, Sabine (8), ikut serta. Hal yang sama dilakukan oleh Ny Shiavellia (35) atau akrab dipanggil Lia, yang membawa tiga anaknya.
"MEREKA masih terus bertanya," kata Lia yang berharap dengan menyajikan informasi dalam bentuk animasi, anak-anak bisa dengan mudah memahami. Jendela Ide lalu memfasilitasi pendidikan mengenal bumi untuk anak-anak yang disajikan oleh Dr Ir Munasri, Kepala Unit Pelaksanaan Teknik Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
"Bumi itu seperti kerupuk di atas bubur. Ia terus bergerak," kata Munasri kepada anak-anak, ketika dia memulai cerita tentang keadaan bumi. Ia menunjukkan animasi bagaimana benua yang jutaan tahun lalu bersatu dan kemudian saling berpisah.
Munasri juga menerangkan bahwa ahli kebumian telah meneliti hal itu dengan cara menemukan kesamaan fosil, iklim, batuan, dan bentuk pantai yang sama di benua-benua yang terpisah.
Saat anak-anak tampak lelah, ia membangkitkan semangat mereka dengan bermain sulap. Ia juga terus memancing anak-anak untuk bertanya dan menjawab pertanyaannya.
Munasri menerangkan soal gempa dan tsunami dengan bahasa yang sederhana. Ia menggambarkan dengan mempertemukan kedua kepalan tangannya dan memperlihatkan gerakan saling mendorong untuk menjelaskan bagaimana patahan di bumi saling mendesak dan akhirnya terpelanting yang menyebabkan gempa, dan jika terjadi di laut hal tersebut juga menyebabkan tsunami.
Untuk menghindari gempa, anak-anak diajarkan untuk bersembunyi di bawah meja sambil memegang satu kaki meja. Untuk tsunami, anak-anak disarankan berlari ke tempat yang lebih tinggi saat air laut menyurut.
Di akhir acara, Munasri yang telah memberikan pendidikan mengenal bumi untuk anak-anak di Karangsambung, Jawa Tengah, sejak tahun 2002 ini membawa anak-anak membuat hujan dari gayung yang dilubangi dan diisi air. Lalu, "hujan" tersebut diteteskan di atas tanah miring yang ditumbuhi rumput dan yang tidak ditumbuhi rumput.
"Perhatikan Nak, apa perbedaannya," saran seorang ibu sambil memeluk anaknya yang tengah memerhatikan percobaan sederhana tersebut. Anak itu dengan sigap menjawab bahwa tanah yang tidak ditumbuhi tanaman cepat rontok terbawa air. "Itu tanda tanah tersebut mudah longsor," ujar sang ibu.
Niken Anggrahini, Koordinator Program Mengenal Bumi Lebih Dekat dari Jendela Ide, menyatakan, program yang disiapkan selama dua minggu ini bisa menjawab pertanyaan anak-anak selama ini tentang bumi dan kejadian di sekitarnya.
Niken juga berharap siswa sekolah yang sudah diundang bisa menyebarluaskan pengetahuan yang didapat dari program yang dilakukan sekitar dua jam itu kepada teman-teman sekolahnya melalui majalah dinding.
Program yang sama diberikan juga oleh SMP Santa Angela, Bandung.
Pendidikan mengenal bumi diberikan kepada siswa yang tidak bisa mengikuti program studi wisata. "Bagaimanapun kami tidak bisa lepas tangan begitu saja. Meski mereka tidak ikut wisata, mereka harus mendapat tambahan pengetahuan karena itu hak mereka," kata Bonita, Pembantu Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Santa Angela.
Karena hal yang tengah aktual adalah persoalan gempa dan tsunami, SMP tersebut mengundang ahli geologi untuk berbicara di depan kelas. Munasri kembali ditunjuk berbicara di sekolah itu.
Bonita mengatakan, sekolahnya amat tertarik untuk memberikan pendidikan bencana alam kepada murid-muridnya, sayangnya kurikulum sudah sangat padat.
T Bachtiar mengatakan, pendidikan bencana alam bisa dimasukkan dengan menambah satu kompetensi dalam kurikulum yang telah ada dalam mata pelajaran Geografi. Kompetensi yang diperlukan adalah praktikum yang membahas potensi bencana alam di wilayah lokal di mana murid berada.
Menanggapi antusiasme beberapa lembaga terhadap pendidikan bencana alam, Dadang Dally, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, mengatakan, dirinya pun menganggap penting pendidikan tersebut dan tengah memikirkan untuk memasukkannya dalam kurikulum.
Kata Dadang, pihaknya segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan di kota dan kabupaten di Jawa Barat. "Banyak aspek yang harus dibicarakan untuk membuat kurikulum," kata Dadang yang tertarik dengan cara Jepang menyosialisasikan pendidikan keselamatan dari bencana melalui pelajaran Olahraga.
Dr Ir Surono, Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan, meskipun belum ada kurikulum, pendidikan bencana alam masih dapat dilakukan.
Ia bercerita tentang pengalamannya memberikan pendidikan bencana alam kepada murid-murid sekolah di Garut. Garut berpotensi gempa, longsor, dan letusan gunung berapi.
Surono menyosialisasikan tentang bencana alam sepulang sekolah sampai murid-murid terpaksa terlambat pulang.
"Harapan saya, orangtua bertanya pada anaknya mengapa mereka terlambat, dan anak- anak menuturkan alasannya sambil menceritakan kembali pengetahuan yang didapat dari kami pada orangtuanya," kata Surono. (Y09)

Sumber: www.kompas.com (04/02/2005)

Salam
A Manik


2008/1/22 echo <unreg...@gmail.com>:

Bayu E. Sandera

unread,
Jan 24, 2008, 7:53:52 AM1/24/08
to jabar...@googlegroups.com, bayues...@yahoo.com
ha..ha..ha.....nyak babarengan atuch..ya sepakat anak adalah salah satu kelompok rentan ketika terjadi bencana, dan yang pasti mereka harus terlibat dalam kesadaran kebencanaan sedini mungkin, disamping orang tuanya juga, mesti punya pengetahuan akan kebencanaan.
memberikan new knowledge bagi anak dirasa penting, apalagi anak sangat responsif dengan metode pembelajaran yang akrab, menarik, dan dengan media yang dikemas seasik mungkin.....kapan atuch bergeraknya..sapa tau yang lain juga bisa memberikan sumbangan-sumbangan ide, gagasan, pendapat.
 
katanya sich tanggal 25 Januari 2008 ada pertemuan lahi di Bramatala. ngebahas soal teknis pergerakan. tapi hawar-hawarna teu kadangu,,dilihat dari audiens kemarin dan dengar pendapat memang masih tertarik dalam operasi SAR, hanya saja masih bersifat parsial, kunci utama dalam operasi sebenarnya ada ditangan Widyatama. saya cuma mengusulkan adanya kelonggaran dalam menjalankan sistem SAR alam Bandung tea, karena tidak menutup kemungkinan banyak kelompok-kelompok masyarakat yang masih semangat untuk mencari. kelonggaran itu mungkin diartikan dengan memposisikan SDM yang ada sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan di lapangan, ya kalu udah banyak SRU ya diposisikan di logistik, informasi, atau apa dech. biar mereka juga tidak merasa diberdayakan.

----- Original Message ----
From: echo <unreg...@gmail.com>
To: jabar...@googlegroups.com

ahmad ifran

unread,
Jan 27, 2008, 10:22:02 AM1/27/08
to jabar...@googlegroups.com

WUIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIHHHHHHHHHHHHHHHHHH

SAR GUNUNG AGUNG

BANYAK SAUDARA-SAUDARA KITA YANG INGIN MELANJUTKAN PENCARIAN TEHADAP 2 KORBAN YANG HILANG DISANA.

KANG JABIR HARUS IKUT YAAA

TEMAN-TEMAN YANG MAU DUKUNG PENDANAAN JG BOLEH, SISA UANG SAR KMRN TGL 9 JT AN.

RENC TGL 2 FEB 08 TIM SAR GN AGUNG AKAN BERANGKAT DARI BANDUNG, DAN MEMULAI PENCARIAN PADA TGL 5 NYA. SESUAI DG RAPAT TEKNIS 25 JAN 08 AKAN DITURUNKAN 13 TIM PD TGL TSB SELAMA 10 HR, JIKA G KTMU 10 HR SLNJUTNYA 7 TIM YG AKAN BERTAHAN, KALO G KTM JG 10 HR SLNJUTNYA 5 TIM. TAPI ITU TGTG UANG

KALO G ADA UANG MAKA AKAN DI KIRIM TGL 2, SEBANYAK 5 TIM YG SUDAH MAMPU SECARA FINANSIAL YANG AKAN MAJU

SMG TIM SAR GN AGUNG BISA BEKERJA MAKSIMAL DG MODAL YANG ADA

O IYA SMC NYA KANG SOMA

SEDANGKAN LAINNYA SAYA LUPA NYATET EUY

KLO MAU INFO LENGKPNYA DTG AJA KE POSKO SAR NYA DI WIDYATAMA

On 1/24/08, Bayu E. Sandera <bayues...@yahoo.com> wrote:
ha..ha..ha.....nyak babarengan atuch..ya sepakat anak adalah salah satu kelompok rentan ketika terjadi bencana, dan yang pasti mereka harus terlibat dalam kesadaran kebencanaan sedini mungkin, disamping orang tuanya juga, mesti punya pengetahuan akan kebencanaan.
memberikan new knowledge bagi anak dirasa penting, apalA

echo

unread,
Jan 27, 2008, 9:23:36 PM1/27/08
to jabar...@googlegroups.com
Thanks infonya, btw tombol caps-locknya macet ya fran ? hehe

Wah kalo disana ada koneksi internet via satelit enak yah untuk transfer
data dan komunikasi. Sekarang udah murah tuh Indosat Blitz, pakai Ku Band,
bandwidth bisa 512kbps. Per bulan hanya 850rb dengan investasi alat 20jt.
Saya lagi iseng tanya apa ada skema murah meriah untuk kegiatan kemanusiaan.

Rgds,

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages