Sian Kho
unread,Apr 11, 2026, 1:21:03 PMApr 11Sign in to reply to author
Sign in to forward
You do not have permission to delete messages in this group
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to ITB and Friends Club
*TIONGHOA DI INDONESIA, APA SALAHNYA?*
Renville Almatsier
Bagaimana rasanya kalau Anda yang lahir di bumi Indonesia, keluarga kakek sampai nenek pun sehari-hari berbahasa Indonesia atau bahasa daerah, tapi status Anda masih tetap saja dipermasalahkan ?
Ini kejadian di tanah air kita. Ada tiga kawan. Si Polan, kulitnya coklat gelap. Lahir di Takengon, ibu-bapaknya Aceh asli. Kakek leluhurnya entah dari mana, Polan mengaku orang Indonesia tulen. Fine..Si Bejo lahir di Kebumen dari bapak dan ibu serta kakek asal Jawa. Sekarang tinggal di Bintaro, ia dikenal sebagai warga Indonesia. No problem. Saya sendiri, meski lahir di desa kecil di Sumatera, ibu-bapak dari daerah
berbeda, sangat pede bahwa saya bangsa Indonesia asli. Padahal saya tak tak tahu asal-usul dua generasi kakek moyang saya terdahulu. Mungkin mereka datang dari Hadramaut, atau Mongolia, atau bisa juga dari Cordoba. Buat apa saya pikirin? Toh tak ada yang bisa menggugat, saya orang Indonesia pribumi asli.
Tapi ada teman lain. Yang ketiga, Eeng, lahir di Bandung. Ayah, ibu dan kakek neneknya juga asal Jawa Barat bahkan logat bahasanya sehari-hati medok, Sunda banget.Tapi kulitnya kuning pucat karena konon leluhurnya berasal dari China Tiongkok. Sudah sejelas itu latar belakangnya, tapi sampai kini Eeng masih saja dipersulit dalam banyak hal. Berurusan dengan Pemerintah, selalu membuatnya was-was. Dia sering diperlakukan sebagai warga kelas dua. Kemana-mana harus bawa SBKRI (surat bukti kewarganegaraan RI). Tanpa surat itu tak mungkin ia jadi sarjana dari perguruan tinggi negeri seperti sekarang ini.
Begitulah gambaran yang menggelitik pikiran saya ketika hadir dalam peluncuran buku dan diskusi bertajuk sama, “PolitikTionghoa Peranakan di Jawa”. Diselenggarakan oleh KOMPAS Institute, minggu lalu, selain penulisnya Prof Leo Suryadinata, hadir pula dua pakar panelis.
Dari buku-buku sejarah kita tahu bahwa keturunan Cina sudah berada di negeri ini sejak ratusan tahun yang lalu. Kebanyakan menetap di pantai utara Jawa.
Yang datang biasanya laki-laki dan kemudian kawin dengan wanita setempat. Keturunan mereka membentuk masyarakat yang mantap, yaitu masyarakat Tionghoa peranakan sebelum perang. Masyarakat ini kemudian menyendiri. Karena perkawinan campuran dengan wanita pribumi, terbentuklah orang Tionghoa peranakan di antara mereka sendiri.
Menjelang akhir abad 19, hanya sejumlah kecil Tionghoa yang menjadi petani. Mereka kebanyakan terdiri dari pedagang dan karyawan suku Hokkien.
Pada awal abad ke-20 berlangsung pergolakan politik di Negara China, ketika itulah berdatangan orang Tionghoa yang kemudian disebut “totok” yang artinya berdarah murni asing. Orang Tionghoa peranakan menyebut mereka “singkeh”. Menurut Prof Suryadinata, para pendatang baru ini terdiri dari berbagai golongan yang masih berbicara bahasa China dan berkumpul sesuai bahasa masing-masing. Ikatan mereka dengan Negara China masih dekat.
Kalau orang Tionghoa peranakan umumnya berorientasi ke Hindia Belanda/Indonesia. Biasanya mereka mempersatukan diri dan cenderung menyamakan diri dengan daerah dari suku Indonesia tempat kelahiran dan tinggal mereka. Tidak dengan Provinsi di China. Dalam contoh di atas, itulah kawan saya Si Eeng.
Kemudian datang masa pergerakan kemerdekaan. Ternyata warga keturunan ini juga banyak berpartisipasi dalam perjuangan, termasuk menjadi anggota Volksraad.
Bung Karno dalam pidatonya di tahun 1963, mengatakan peranakan adalah salah satu kaki daripada satu tubuh, tubuh bangsa Indonesia. Jelas Soekarno menganggap peranakan Tionghoa merupakan salah satu suku Indonesia.(hal. 205).
Pada masa Orde Baru, tiga pilar kebudayaan Tionghoa yaitu organisasi, pers, dan sekolah Tionghoa, dilarang. Sesudah Orde Baru ada puluhan partai baru, dua di antaranya berdasarkan etnis Tionghoa. Sejak itu kita melihat berkurangnya kegiatan warga keturunan ini. Tidak saja di bidang politik.
Saya yang masuk generasi baby boomers dan gandrung olahraga pernah punya idola seperti “si Macan Bola” Liong Houw, Kiat Sek, dan Sian Liong dalam sepak bola. Tan Joe Hok di bulutangkis. Ada Tonny Na yang judoka serta banyak lagi di cabang-cabang lain. Sekarang saya merasa kehilangan.
Mengikuti diskusi dalam acara KOMPAS itu, saya mau tak mau terlibat jauh memikirkan mengapa saudara-saudara kita keturunan Tionghoa ini masih tersisih atau disisihkan dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh-tokoh keturunan yang lantang dan independen yang saya kenal, yaa cuma Yap Thiam Hien, Soe Hok Gie dan abangnya Arief Budiman. Kini mungkin ada Ahok. Bagaimana mereka yang lain ?
Kini kondisi sudah banyak berubah meskipun sikap kita, pada umumnya, belum. Sampai sekarang saudara-saudara kita warga keturunan ini selalu was-was jadi pecundang setiap kali terjadi demo atau kerusuhan.
Kebanyakan teman-teman generasi saya, demi masa depan, menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri. Boro-boro berbahasa daerah ortunya, apalagi menjiwai perjuangan kebangsaan Indonesia, mereka kini berfikiran global. Dan makin jauh dari tanah air Indonesia.
Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, kemana orang-orang Tionghoa bisa mengaku dan memilih tanah airnya? Coba tempatkan posisi mereka pada diri Anda. Bukan salah Bunda mengandung, siapa yang bisa memilih mau lahir dimana?…Mereka lahir di Indonesia...
Tangerang Selatan, 8 April 2026
Sent from my iPhone