Benar, ada hubungan yang menarik antara penggunaan bunyi “Pa” dalam beberapa nama yang digunakan oleh masyarakat Tionghoa di Batavia, tetapi maknanya tidak selalu sama.
● Patekoan dalam penjelasan yang paling umum memang diartikan sebagai “tempat teko”, dengan kata dasar teko (kendi) dan imbuhan Melayu pa-…-an yang menunjukkan tempat. Dalam penafsiran ini, “pa” bukanlah nama Jakarta, melainkan bagian dari pembentukan kata dalam bahasa Melayu.
● Di kalangan masyarakat Tionghoa, khususnya penutur Hokkien, Batavia/Jakarta dahulu sering disebut dengan pengucapan yang terdengar seperti “Pa-chia”, “Pa-cheng”, atau variasi lain, tergantung dialek dan cara romanisasinya. Bunyi “Pa” di sini merupakan bagian dari pelafalan nama Batavia, bukan kata yang berdiri sendiri berarti Jakarta.
● Mengenai PAHOA (八華學校 / Tiong Hoa Hwee Koan School), nama itu memang sangat terkenal dalam sejarah pendidikan Tionghoa di Indonesia. Pahoa adalah ejaan Hokkien dari karakter Tionghoa 八華 (Pat Hwa), yang secara harfiah berarti “Delapan Kemegahan” atau “Delapan Keagungan”. Nama ini tidak berasal dari kata “pa” yang berarti Jakarta, melainkan merupakan nama khusus yang dipilih oleh pendirinya.
Jadi, walaupun terdengar mirip, “pa” dalam Patekoan, “Pa” dalam sebutan Hokkien untuk Batavia, dan “Pa” dalam Pahoa memiliki asal-usul yang berbeda. Kemiripan bunyinya sering menimbulkan dugaan adanya hubungan langsung, tetapi bukti sejarah dan linguistik yang ada menunjukkan bahwa masing-masing berkembang dari konteks yang berbeda.
Kalau Anda belajar sejarah komunitas Tionghoa di Batavia, memang menarik bahwa banyak nama tempat—seperti Angke, Patekoan, Glodok, dan Pekojan—menyimpan jejak percampuran bahasa Melayu, Hokkien, Jawa, dan Belanda selama ratusan tahun.