Teman-teman saya mau bertanya tentang alasan kenapa kebanyakan penerimaan kerja itu ada syarat :- Belum MenikahApa hal ini memang diperlukan dalam perekrutan karyawan?

--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Manajemen Proyek IT" dari Grup Google.
Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke it-project...@googlegroups.com.
Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke it-project-indon...@googlegroups.com.
Untuk opsi selengkapnya, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/it-project-indonesia?hl=id.
On Mar 24, 4:59 am, Eko Kurniawan Khannedy <echo.khann...@gmail.com>
wrote:
he3..ini pasti ada yang salah disisi recruiter-nya. sampai muncul
syarat seperti tersebut..
memang ada bedanya programmer yang sdh menikah sama yang belum? kalo
cewek mungkin bisalah diberi syarat tersebut karena cuti hamil itu
3bulan. bisa rugi dari sisi pemberi kerja...
Menurut saya jika memang kondisi pekerjaan nya memang menuntut tuntutan khusus seperti yang saudara Martinus jabarkan apalagi jika posisi ini urgent (harus segera diisi as soon as possible), lebih efektif kalau menggunakan syarat “Status: Belum Menikah”. Dari sisi pemberi kerja tidak perlu banyak menyeleksi, dan dari sisi pencari kerja tinggal juga langsung bisa menduga posisi kerjanya seperti apa.
Tapi coba jika syaratnya diganti menjadi seperti yang Saudara Ronald sebutkan dibawah:
Nanti malah timbul bad persepsi tentang posisi pekerjaan yang akan ditawarkan, mungkin pikiran2 seperti ini akan muncul di benak pencari kerja:
“Kayaknya kerjaan nya berat nih – bisa-bisa disuruh lembur tiap hari – sepertinya pekerjaan nya penuh dengan tekanan – bla bla bla”
Sisi negatifnya untuk pemberi kerja - posisinya akan vacant menjadi lebih lama.
Best Regards,
Andreas
IMPORTANT NOTICE:
The information in this e-mail (and any attachments) is confidential. If you are not the intended recipient, you must not use or disseminate the information. If you have received this e-mail in error, please immediately send notification by replying this e-mail and permanently delete the original and any copies or printouts thereof. Although this e-mail and any attachments are believed to be free of any virus or other defect that might affect any computer system into which it is received and opened, it is the responsibility of the recipient to ensure that it is virus free and no responsibility is accepted by Avrist Assurance, for any loss or damage arising in any way from its use.
+1 dengan Ronald,
yang gue lebih gak habis pikir lagi klo requirementnya adalah :
- wanita
- lajang
- berpenampilan menarik
menurut gue ini udah termasuk harrasment, bagaimana teman teman
sekalian ?
Kiki Ahmadi
TechMahindra Indonesia
CRM

My 2 cents,
Feris
> --
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Manajemen Proyek IT"
> dari Grup Google.
> Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke
> it-project...@googlegroups.com.
> Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke
> it-project-indon...@googlegroups.com.
> Untuk opsi selengkapnya, kunjungi grup ini di
> http://groups.google.com/group/it-project-indonesia?hl=id.
>
>
--
Thanks & Best Regards,
Feris Thia
Business Intelligence Consultant
PT. Putera Handal Indotama
Phone : +6221-30119353
Fax : +6221-5513483
Mobile : +628176-474-525
http://www.phi-integration.com
http://pentaho.phi-integration.com
On Mar 24, 12:05 pm, Ronald Widha <ronaldwi...@gmail.com> wrote:
> Sebenernya ini juga pet peeves aku sama deskripsi lowongan kerja di
> Indonesia.
> Begitu kita nyentuh personal details, and lifestyle preference, di mana
> batasnya?
> apakah cuma status menikah? atau agama? atau suku? atau warna kulit? atau
> gender? atau seksual preference?
>
> mirisnya, aku pernah melihat bbrp lowongan yang menspesifikasi preferensi
> agama aplikasinya.
> menyedihkan.
>
> Aku setuju dengan Martinus bhw ada bbrp posisi yang menuntut tuntutan
> khusus.
> Tapi menurut aku seharusnya yang dideskripsikan lebih baik adalah
> tuntutannya,
>
> Menggunakan contoh yang sudah disebut, apa salahnya kalo deskripsinya
> diganti menjadi berikut:
>
> The ideal candidate would be someone who:
>
> - loves travelling
> - is a hard worker and passionate in the field
> - don't mind putting in the extra effort
> - lives and breathes technology
> - must be well presented
> - etc
>
> Bisa sequirky atau seserius apapun yang employernya inginkan, tanpa
> mendiskriminasikan aplikan against their status, umur maupun seks.
>
> Di special cases, seperti kerja di bank, mungkin requirementnya lebih ketat
> tentang background check (rekor kriminal dsb), jadi mungkin bisa ditambah:
>
> - Background check may be required
>
> Bagaimana pendapat para manajer di milis ini? apakah perspektif ini tidak
> relevan di Indonesia?
>
> --
> Ronald Widha
> follow me on twitter.com/ronaldwidha
> podcast tentang programming dan informatikawww.temanmacet.comwww.ronaldwidha.net
>
> 2010/3/24 Martinus Johan Wahyudi <mjwahy...@gmail.com>
>
> > Loh..kok salah? engga salah itu..
> > ada beberapa posisi yang memang sebaiknya di-isi oleh orang-orang yang
> > belum menikah. Misal, tugas yang sering bepergian, atau butuh stand-by 24
> > jam on-call..
>
> > klo sudah menikah, mana bisa ngerjain tugas-tugas begitu..
>
> > 2010/3/24 pristobenk <bpristiwa...@gmail.com>
>
> > he3..ini pasti ada yang salah disisi recruiter-nya. sampai muncul
> >> syarat seperti tersebut..
> >> memang ada bedanya programmer yang sdh menikah sama yang belum? kalo
> >> cewek mungkin bisalah diberi syarat tersebut karena cuti hamil itu
> >> 3bulan. bisa rugi dari sisi pemberi kerja...
>
> >> --
> > Sincerely,
> > Martinus J Wahyudi
> > Software Engineer
>
> > --
> > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Manajemen Proyek IT"
> > dari Grup Google.
> > Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke
> > it-project...@googlegroups.com.
> > Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke
> > it-project-indon...@googlegroups.com<it-project-indonesia%2Bunsu...@googlegroups.com>
Saya setuju dengan pendapatnya kang Ronald mengenai hal yang
disampaikan. Jika saya menempatkan diri sebagai pencari kerja tentu
membaca deskripsi diatas tersebut tidak merasa terdiskriminasi (dalam
hal apapun itu).
Kalo di Indonesia, kayaknya urusan diskriminasi gini masih belum
dienforce sama semua orang (ya LSM, pemerintah, bahkan si karyawan
sendiri).
Jadi ya orang merasa sah2 aja menuliskan job requirement yang
menyangkut urusan pribadi.
Di luar itu, personal opinion saya sih, ya tuliskan aja kebutuhannya
apa. Misalnya sering traveling.
Kalo udah nikah tapi mau dan mampu, why not.
Urusan requirement agama, bisa jadi dibutuhkan untuk posisi yang 24/7
seperti misalnya tech support atau helpdesk.
Di Indonesia, orang beragama kan dihormati haknya, sehingga kalo
lebaran/natalan masa sih gak boleh mudik.
Beda dengan di negara sekuler, yang lebih tidak toleran. Mau natalan,
kalo sudah boxing day ya tetap main bola.
Solusi di Indonesia, untuk kerjaan 24/7, agamanya harus beragam, biar
bisa gantian shiftnya.
Ini justru bagus kalo menurut saya.
--
Endy Muhardin
http://endy.artivisi.com
Y! : endymuhardin
-- life learn contribute --
Kalo soal menikah mungkin si pencari kerja membandingkan dengan apa yg
ia alami, dan asumsi2x umum yg kental di masyarakat Indonesia. Padahal
semua itu *kembali ke pribadi* masing2x nya.
Kalo dibilang udah nikah itu ngga buka laptop setelah pulang rumah,
belom tentu juga. Ada juga yang pulang rumah buka laptop lagi tapi
ngga ngerjain kerjaan kantor.
Mungkin ada juga yg pikir nge-gaji yang masih single itu bisa "DISKON"
alias lebih murah daripada dengan yg udah nikah *terkait tunjangan&
tetek bengeknya*. Klo ini masalahnya saya cenderung pikir si
perusahaan tdk bisa dengan "sehat" menghitung.
Tapi semuanya kembali ke budaya masyarakat indonesia yang sangat
"social",
menghitung kompetensi orang berdasarkan tingkat sosial, hubungan
sosial & kekerabatan ^_^
salam,
iyank4
ps: contoh menghitung tingkat sosial = presiden Indonesia itu harus
orang kaya, klo ngga kaya ngga boleh jadi presiden ^_-
On 24 Mar, 12:05, Ronald Widha <ronaldwi...@gmail.com> wrote:
> Sebenernya ini juga pet peeves aku sama deskripsi lowongan kerja di
> Indonesia.
> Begitu kita nyentuh personal details, and lifestyle preference, di mana
> batasnya?
> apakah cuma status menikah? atau agama? atau suku? atau warna kulit? atau
> gender? atau seksual preference?
>
> mirisnya, aku pernah melihat bbrp lowongan yang menspesifikasi preferensi
> agama aplikasinya.
> menyedihkan.
>
> Aku setuju dengan Martinus bhw ada bbrp posisi yang menuntut tuntutan
> khusus.
> Tapi menurut aku seharusnya yang dideskripsikan lebih baik adalah
> tuntutannya,
>
> Menggunakan contoh yang sudah disebut, apa salahnya kalo deskripsinya
> diganti menjadi berikut:
>
> The ideal candidate would be someone who:
>
> - loves travelling
> - is a hard worker and passionate in the field
> - don't mind putting in the extra effort
> - lives and breathes technology
> - must be well presented
> - etc
>
> Bisa sequirky atau seserius apapun yang employernya inginkan, tanpa
> mendiskriminasikan aplikan against their status, umur maupun seks.
>
> Di special cases, seperti kerja di bank, mungkin requirementnya lebih ketat
> tentang background check (rekor kriminal dsb), jadi mungkin bisa ditambah:
>
> - Background check may be required
>
> Bagaimana pendapat para manajer di milis ini? apakah perspektif ini tidak
> relevan di Indonesia?
>
> --
> Ronald Widha
> follow me on twitter.com/ronaldwidha
> podcast tentang programming dan informatikawww.temanmacet.comwww.ronaldwidha.net
>
> 2010/3/24 Martinus Johan Wahyudi <mjwahy...@gmail.com>
>
> > Loh..kok salah? engga salah itu..
> > ada beberapa posisi yang memang sebaiknya di-isi oleh orang-orang yang
> > belum menikah. Misal, tugas yang sering bepergian, atau butuh stand-by 24
> > jam on-call..
>
> > klo sudah menikah, mana bisa ngerjain tugas-tugas begitu..
>
> > 2010/3/24 pristobenk <bpristiwa...@gmail.com>
>
> > he3..ini pasti ada yang salah disisi recruiter-nya. sampai muncul
> >> syarat seperti tersebut..
> >> memang ada bedanya programmer yang sdh menikah sama yang belum? kalo
> >> cewek mungkin bisalah diberi syarat tersebut karena cuti hamil itu
> >> 3bulan. bisa rugi dari sisi pemberi kerja...
>
> >> --
> > Sincerely,
> > Martinus J Wahyudi
> > Software Engineer
>
> > --
> > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Manajemen Proyek IT"
> > dari Grup Google.
> > Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke
> > it-project...@googlegroups.com.
> > Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke
> > it-project-indon...@googlegroups.com<it-project-indonesia%2Bunsu...@googlegroups.com>
Sepakat banget sama ronald, Semestinya yang ditampilkan di syarat2x
itu adalah menyangkut apa yang di akan hadapi si personnel.
Kalo soal menikah mungkin si pencari kerja membandingkan dengan apa yg
ia alami, dan asumsi2x umum yg kental di masyarakat Indonesia. Padahal
semua itu *kembali ke pribadi* masing2x nya.
Kalo dibilang udah nikah itu ngga buka laptop setelah pulang rumah,
belom tentu juga. Ada juga yang pulang rumah buka laptop lagi tapi
ngga ngerjain kerjaan kantor.
Mungkin ada juga yg pikir nge-gaji yang masih single itu bisa "DISKON"
alias lebih murah daripada dengan yg udah nikah *terkait tunjangan&
tetek bengeknya*. Klo ini masalahnya saya cenderung pikir si
perusahaan tdk bisa dengan "sehat" menghitung.
Tapi semuanya kembali ke budaya masyarakat indonesia yang sangat
"social",
menghitung kompetensi orang berdasarkan tingkat sosial, hubungan
sosial & kekerabatan ^_^
salam,
iyank4
ps: contoh menghitung tingkat sosial = presiden Indonesia itu harus
orang kaya, klo ngga kaya ngga boleh jadi presiden ^_-
Dan sepertinya kawan-kawan disini juga seperti satu suara jika
requirentment seperti itu hanyalah filter yang "cepat dan efektif" di
Indonesia.
seperti pepatah, `dimana bumi dipijak disana langit di junjung`.
Seperti halnya kalo orang cina nyaman berbisnis, jual-beli barang pake
SMS doang gak masalah buat mereka, tapi kalo orang bule ngerasa nggak
afdol kalo ngga nelfon. malah prefer telpon buat bikin deal.
Semuanya kan balik lagi menyangkut hubungan horizontal kita sebagai
manusia.
Salam
^_^
On Mar 27, 11:39 pm, Martinus Johan Wahyudi <mjwahy...@gmail.com>
wrote:
On Mar 24, 1:24 pm, pristobenk <bpristiwa...@gmail.com> wrote:
> kalo saya sebagai pemberi kerja gak masalah sudah nikah atau
> belum..beristri 4 pun gak apa2 -:)
Istri saya 4 anak 2 dari masing2 istri, jadi boleh ngelamar kesitu
yah?... hehehe :-p
> , tetapi pas wawancara harus dijelaskan tentang job desc secara
> gamblang.
> kalo katakanlah harus stand by 24 jam ya harus diutarakan didepan.
> Kalo OK berarti dia sanggup menerima resikonya. setelah itu tinggal
> ukur saja performancenya
performance saya 150KM/jam ^_^
*just-a-joke-di-pagi-hari-waktu-GMT+7*