Kenapa Status Harus Belum Menikah

2,213 views
Skip to first unread message

Eko Kurniawan Khannedy

unread,
Mar 23, 2010, 5:59:47 PM3/23/10
to Manajemen Proyek Indonesia
Teman-teman saya mau bertanya tentang alasan kenapa kebanyakan penerimaan kerja itu ada syarat :

- Belum Menikah

Apa hal ini memang diperlukan dalam perekrutan karyawan?


--
"Jujurlah Walaupun itu Pahit"

Eko Kurniawan Khannedy
- phone : +6285292775999
- blog : eecchhoo.wordpress.com

:D

eRQee

unread,
Mar 23, 2010, 7:42:52 PM3/23/10
to it-project...@googlegroups.com
on 2010/3/24 Eko Kurniawan Khannedy <echo.k...@gmail.com> wrote:
Teman-teman saya mau bertanya tentang alasan kenapa kebanyakan penerimaan kerja itu ada syarat :

- Belum Menikah

Apa hal ini memang diperlukan dalam perekrutan karyawan?

menikahlah, trus jadi manager... (-_-)

ntar ente pasti akan merasakannya. ente pengen merekrut orang2 baru yang belum menikah untuk bisa menggantikan beberapa porsi pekerjaan yg sebelumnya bisa dengan leluasa ente kerjakan sendiri ketika masih bujang, misal:
  1. deployment on site
  2. pendampingan beberapa hari/minggu
  3. ngerjain task-task critical pada saat injury time
  4. dll
hehehe...
*ini bukan jawaban serius loo ^_^ ~ tapi bisa ente pertimbangkan sebagai salah satu alternatif jawaban atas pertanyaan ente. (lagian, gw juga belum menikah koq. baru mau akan) ^_^
mungkin yang di bawah ane lebih tau gan :D

--
Salam Hormat,


Rizky Prihanto
Chief of Software Architect @ PT Cinox Media Insani
Phone: 0812 535 22 392
BloggerFacebookTwitterFriendsterLinkedinTumblr

rizalpurnama sidik

unread,
Mar 23, 2010, 8:46:45 PM3/23/10
to it-project...@googlegroups.com
Kemarin saya interview di salah satu Software House di Jakarta, kebetulan orang yang interview Kakak Kelas waktu kuliah, g sengaja kakak kelasku bilang "kalau orang yang belum menikah..pas pulang kantor pasti 'gatel' ingin coding dan mikirin tastk kerjaan walaupun hanya liatin codingnya aja...tapi klo udah nikah.....klo pulang nyampe rumah...y laptop simpen di tas....dan enggak di buka2 lagi"

2010/3/24 eRQee <ri...@prihanto.web.id>

--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Manajemen Proyek IT" dari Grup Google.
Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke it-project...@googlegroups.com.
Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke it-project-indon...@googlegroups.com.
Untuk opsi selengkapnya, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/it-project-indonesia?hl=id.

pristobenk

unread,
Mar 24, 2010, 12:31:40 AM3/24/10
to Manajemen Proyek IT
he3..ini pasti ada yang salah disisi recruiter-nya. sampai muncul
syarat seperti tersebut..
memang ada bedanya programmer yang sdh menikah sama yang belum? kalo
cewek mungkin bisalah diberi syarat tersebut karena cuti hamil itu
3bulan. bisa rugi dari sisi pemberi kerja...

On Mar 24, 4:59 am, Eko Kurniawan Khannedy <echo.khann...@gmail.com>
wrote:

Martinus Johan Wahyudi

unread,
Mar 24, 2010, 12:50:14 AM3/24/10
to it-project...@googlegroups.com
Loh..kok salah? engga salah itu..
ada beberapa posisi yang memang sebaiknya di-isi oleh orang-orang yang belum menikah. Misal, tugas yang sering bepergian, atau butuh stand-by 24 jam on-call..

klo sudah menikah, mana bisa ngerjain tugas-tugas begitu..

2010/3/24 pristobenk <bprist...@gmail.com>

he3..ini pasti ada yang salah disisi  recruiter-nya. sampai muncul
syarat seperti tersebut..
memang ada bedanya programmer yang sdh menikah sama yang belum? kalo
cewek mungkin bisalah diberi syarat tersebut karena cuti hamil itu
3bulan. bisa rugi dari sisi pemberi kerja...

--
Sincerely,
Martinus J Wahyudi
Software Engineer

Ronald Widha

unread,
Mar 24, 2010, 1:05:36 AM3/24/10
to it-project...@googlegroups.com
Sebenernya ini juga pet peeves aku sama deskripsi lowongan kerja di Indonesia.
Begitu kita nyentuh personal details, and lifestyle preference, di mana batasnya?
apakah cuma status menikah? atau agama? atau suku? atau warna kulit? atau gender? atau seksual preference? 

mirisnya, aku pernah melihat bbrp lowongan yang menspesifikasi preferensi agama aplikasinya.
menyedihkan.

Aku setuju dengan Martinus bhw ada bbrp posisi yang menuntut tuntutan khusus.
Tapi menurut aku seharusnya yang dideskripsikan lebih baik adalah tuntutannya,

Menggunakan contoh yang sudah disebut, apa salahnya kalo deskripsinya diganti menjadi berikut:

The ideal candidate would be someone who: 
  • loves travelling
  • is a hard worker and passionate in the field
  • don't mind putting in the extra effort
  • lives and breathes technology
  • must be well presented
  • etc
Bisa sequirky atau seserius apapun yang employernya inginkan, tanpa mendiskriminasikan aplikan against their status, umur maupun seks.

Di special cases, seperti kerja di bank, mungkin requirementnya lebih ketat tentang background check (rekor kriminal dsb), jadi mungkin bisa ditambah:
  • Background check may be required 
Bagaimana pendapat para manajer di milis ini? apakah perspektif ini tidak relevan di Indonesia?


-- 
Ronald Widha
follow me on twitter.com/ronaldwidha
podcast tentang programming dan informatika www.temanmacet.com
www.ronaldwidha.net

2010/3/24 Martinus Johan Wahyudi <mjwa...@gmail.com>

Tjong, Andreas

unread,
Mar 24, 2010, 1:24:08 AM3/24/10
to it-project...@googlegroups.com

Menurut saya jika memang kondisi pekerjaan nya memang menuntut tuntutan khusus seperti yang saudara Martinus jabarkan apalagi jika posisi ini urgent (harus segera diisi as soon as possible), lebih efektif kalau menggunakan syarat “Status: Belum Menikah”. Dari sisi pemberi kerja tidak perlu banyak menyeleksi, dan dari sisi pencari kerja tinggal juga langsung bisa menduga posisi kerjanya seperti apa.

 

Tapi coba jika syaratnya diganti menjadi seperti yang Saudara Ronald sebutkan dibawah:

  • loves travelling
  • is a hard worker and passionate in the field
  • don't mind putting in the extra effort
  • lives and breathes technology
  • must be well presented
  • etc

Nanti malah timbul bad persepsi tentang posisi pekerjaan yang akan ditawarkan, mungkin pikiran2 seperti ini akan muncul di benak pencari kerja:

“Kayaknya kerjaan nya berat nih – bisa-bisa disuruh lembur tiap hari – sepertinya pekerjaan nya penuh dengan tekanan – bla bla bla”

Sisi negatifnya untuk pemberi kerja  - posisinya akan vacant menjadi lebih lama.

 

Best Regards,

Andreas

 




IMPORTANT NOTICE:

The information in this e-mail (and any attachments) is confidential. If you are not the intended recipient, you must not use or disseminate the information. If you have received this e-mail in error, please immediately send notification by replying this e-mail and permanently delete the original and any copies or printouts thereof. Although this e-mail and any attachments are believed to be free of any virus or other defect that might affect any computer system into which it is received and opened, it is the responsibility of the recipient to ensure that it is virus free and no responsibility is accepted by Avrist Assurance, for any loss or damage arising in any way from its use.



kikiahmadi

unread,
Mar 24, 2010, 1:27:49 AM3/24/10
to Manajemen Proyek IT

+1 dengan Ronald,

yang gue lebih gak habis pikir lagi klo requirementnya adalah :

- wanita
- lajang
- berpenampilan menarik

menurut gue ini udah termasuk harrasment, bagaimana teman teman
sekalian ?


Kiki Ahmadi
TechMahindra Indonesia
CRM

Ronald Widha

unread,
Mar 24, 2010, 1:36:55 AM3/24/10
to it-project...@googlegroups.com
@Andreas
kata pepatah: gimanapun kita mendandani seekor keledai, tetep aja seekor keledai.

mungkin kita bisa ngedapetin orang lebih cepet, tapi apakah berguna kalo orangnya ga kerasan kerja di situ gara2 false advertising of what the job is.
high turn over bisa jg jadi masalah.
apakah efisien (secara cost) untuk nge-train orang baru setiap brp bulan sekali.

conspiracytheory->mode = on;

apa mungkin ini taktik industri untuk mengurangi turn over rate? orang cari kerja pas masi lajang, lalu secara de facto terkunci dengan pilihannya begitu memutuskan untuk kawin. alhasil pilihannya cuma untuk kerja seumur hidup di 1 perusahaan. Walaupun de jure-nya boleh2 aja buat keluar, tapi ga bisa nyari kerjaan lain karena semuanya butuh yang masih lajang. 

conspiracytheory->mode = off;

ini yang aku ingin tanyakan: apakah benar status: belum menikah kongruen dengan semua kriteria itu?
apakah kultur kita se-komplisit itu ya? tidak berani mengatakan "kerjaannya ancur2an bgt nih" kalo semasa lajang?
justru kalo dibalik, kalo sudah menikah mungkin lebih desperado buat nge-keep kerjaan karena tanggung jawab lebih banyak.

@kiki
buat aku ga masalah si ki kalo itu.. hahahaha..double standar
(buat yang para literal web, read: becanda) :)

-- 
Ronald Widha
follow me on twitter.com/ronaldwidha
podcast tentang programming dan informatika www.temanmacet.com
www.ronaldwidha.net

2010/3/24 kikiahmadi <kiki....@gmail.com>

eRQee

unread,
Mar 24, 2010, 1:45:30 AM3/24/10
to it-project...@googlegroups.com
dude, nge-filter tenaga kerja baru berdasarkan skill aja udah susah amat hare gene -- apalagi nge-filter berdasarkan atribut-atribut personal.

tapi intinya sih di komunikasi.

gw pikir masalah ketidak-kerasan gara2 false advertising itu kecil kemungkinan terjadi. kan di sesi wawancara kita juga ceritakan job-desk yang dia apply itu kerjaannya ngapa2in. ya diomongkan juga lah kalo "ada kemungkinan" travelling ke beberapa tempat atau ketat-nya deadline. kalo dia nggak cocok, ya nggak usah balik sebelum kerja.

*pola-nya, rata-rata yg emang udah married itu punya 'rasa keengganan' yg besar utk travelling (kecuali istri bisa dibawa dan akomodasi ditanggung kantor). apalagi kalo udah punya anak seusia sekolah... menurut temen gw yang psikolog dan pacar seorang programmer: programmer itu punya sifat yang rata-rata sama: cuman sangat mencintai 2 hal:
1. komputer
2. istri/kekasih

(NB: urutan tidak menentukan prioritas)

wahai para IT crowds, benarkah demikian? :-)


--
Salam Hormat,


Rizky Prihanto
Chief of Software Architect @ PT Cinox Media Insani
Phone: 0812 535 22 392
BloggerFacebookTwitterFriendsterLinkedinTumblr


2010/3/24 Ronald Widha <ronal...@gmail.com>

Feris Thia

unread,
Mar 24, 2010, 1:47:28 AM3/24/10
to it-project...@googlegroups.com
Kalau saya efek banget. Antara setelah memiliki anak dan tidak stamina
coding saya berkurang jauh. Yang tersisa daya analitiknya :)

My 2 cents,

Feris

> --
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Manajemen Proyek IT"
> dari Grup Google.
> Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke
> it-project...@googlegroups.com.
> Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke
> it-project-indon...@googlegroups.com.
> Untuk opsi selengkapnya, kunjungi grup ini di
> http://groups.google.com/group/it-project-indonesia?hl=id.
>
>


--
Thanks & Best Regards,

Feris Thia
Business Intelligence Consultant
PT. Putera Handal Indotama
Phone : +6221-30119353
Fax : +6221-5513483
Mobile : +628176-474-525
http://www.phi-integration.com
http://pentaho.phi-integration.com

Didin Nurdin Ahmadi

unread,
Mar 24, 2010, 1:54:59 AM3/24/10
to it-project...@googlegroups.com
padalah orang yang sudah menikah, tingkat ke-stressannya lebih rendah dari pada yang bujang... :D


--
Didin

Martinus Johan Wahyudi

unread,
Mar 24, 2010, 1:58:03 AM3/24/10
to it-project...@googlegroups.com
yupe, bisa juga begitu.. sebagian perusahaan kan klo bikin lowongan sudah seperti itu..
tapi klo ada yg state masalah gak boleh menikah, bisa jadi juga masalah urusan tunjangan :D
kan lebih murah tunjangan bujangan daripada tunjangan istri/suami.. :D (untuk waktu yg sementara pastinya)

soal agama, ya, ada beberapa yg seperti itu, biasanya yg ini buat kerjaan yang tidak boleh putus, 24x7.
kenapa? karena biar terjadi keseimbangan, sewaktu hari raya dan waktu ibadah..
gak mungkin kan perusahaan melarang anda ibadah atau merayakan hari raya..

tapi ya klo ada yg mencantumkan suku, itu yg baru gak etis..
kalau mencantumkan agama, masih agak abu2 disini..

ya intinya, employer berhak meminta syarat yang harus dipenuhi employee.. ada yang secara sedikit "kurang sopan" itu tergantung calon karyawan..

2010/3/24 Ronald Widha <ronal...@gmail.com>

pristobenk

unread,
Mar 24, 2010, 2:24:15 AM3/24/10
to Manajemen Proyek IT
kalo saya sebagai pemberi kerja gak masalah sudah nikah atau
belum..beristri 4 pun gak apa2 -:)
, tetapi pas wawancara harus dijelaskan tentang job desc secara
gamblang.
kalo katakanlah harus stand by 24 jam ya harus diutarakan didepan.
Kalo OK berarti dia sanggup menerima resikonya. setelah itu tinggal
ukur saja performancenya

Aha

unread,
Mar 24, 2010, 2:28:32 AM3/24/10
to Manajemen Proyek IT
pasti yang minta cowok....... hahhha... becanda mas......
kemungkinan di taro di front office..... klo ga gitu ya nyari istri
kali mas....

pristobenk

unread,
Mar 24, 2010, 2:30:52 AM3/24/10
to Manajemen Proyek IT
bener mas, recruitment sendiri sebenarnya ada aspek legal yang harus
diperhatikan karena bisa dianggap "membatasi hak orang lain". suku,
agama sebernarnya gak bisa dijadikan syarat (atau paling gak jangan
sampai keluar di job requisition). jenis kelamin kalo bisa jangan
juga. tapi pas seleksi kandidat baru bisa diterapkan kalo memang
diperlukan syarat2 tersebut

On Mar 24, 12:05 pm, Ronald Widha <ronaldwi...@gmail.com> wrote:
> Sebenernya ini juga pet peeves aku sama deskripsi lowongan kerja di
> Indonesia.
> Begitu kita nyentuh personal details, and lifestyle preference, di mana
> batasnya?
> apakah cuma status menikah? atau agama? atau suku? atau warna kulit? atau
> gender? atau seksual preference?
>
> mirisnya, aku pernah melihat bbrp lowongan yang menspesifikasi preferensi
> agama aplikasinya.
> menyedihkan.
>
> Aku setuju dengan Martinus bhw ada bbrp posisi yang menuntut tuntutan
> khusus.
> Tapi menurut aku seharusnya yang dideskripsikan lebih baik adalah
> tuntutannya,
>
> Menggunakan contoh yang sudah disebut, apa salahnya kalo deskripsinya
> diganti menjadi berikut:
>
> The ideal candidate would be someone who:
>

>    - loves travelling
>    - is a hard worker and passionate in the field
>    - don't mind putting in the extra effort
>    - lives and breathes technology
>    - must be well presented
>    - etc


>
> Bisa sequirky atau seserius apapun yang employernya inginkan, tanpa
> mendiskriminasikan aplikan against their status, umur maupun seks.
>
> Di special cases, seperti kerja di bank, mungkin requirementnya lebih ketat
> tentang background check (rekor kriminal dsb), jadi mungkin bisa ditambah:
>

>    - Background check may be required


>
> Bagaimana pendapat para manajer di milis ini? apakah perspektif ini tidak
> relevan di Indonesia?
>
> --
> Ronald Widha
> follow me on twitter.com/ronaldwidha
> podcast tentang programming dan informatikawww.temanmacet.comwww.ronaldwidha.net
>

> 2010/3/24 Martinus Johan Wahyudi <mjwahy...@gmail.com>


>
> > Loh..kok salah? engga salah itu..
> > ada beberapa posisi yang memang sebaiknya di-isi oleh orang-orang yang
> > belum menikah. Misal, tugas yang sering bepergian, atau butuh stand-by 24
> > jam on-call..
>
> > klo sudah menikah, mana bisa ngerjain tugas-tugas begitu..
>

> > 2010/3/24 pristobenk <bpristiwa...@gmail.com>


>
> > he3..ini pasti ada yang salah disisi  recruiter-nya. sampai muncul
> >> syarat seperti tersebut..
> >> memang ada bedanya programmer yang sdh menikah sama yang belum? kalo
> >> cewek mungkin bisalah diberi syarat tersebut karena cuti hamil itu
> >> 3bulan. bisa rugi dari sisi pemberi kerja...
>
> >> --
> > Sincerely,
> > Martinus J Wahyudi
> > Software Engineer
>
> >  --
> > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Manajemen Proyek IT"
> > dari Grup Google.
> > Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke
> > it-project...@googlegroups.com.
> > Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke

> > it-project-indon...@googlegroups.com<it-project-indonesia%2Bunsu...@googlegroups.com>

Muhammad Ghazali

unread,
Mar 24, 2010, 9:59:59 PM3/24/10
to Manajemen Proyek IT
On Mar 24, 12:05 pm, Ronald Widha <ronaldwi...@gmail.com> wrote:
> Sebenernya ini juga pet peeves aku sama deskripsi lowongan kerja di
> Indonesia.
> Begitu kita nyentuh personal details, and lifestyle preference, di mana
> batasnya?
> apakah cuma status menikah? atau agama? atau suku? atau warna kulit? atau
> gender? atau seksual preference?
>
> mirisnya, aku pernah melihat bbrp lowongan yang menspesifikasi preferensi
> agama aplikasinya.
> menyedihkan.
>
> Aku setuju dengan Martinus bhw ada bbrp posisi yang menuntut tuntutan
> khusus.
> Tapi menurut aku seharusnya yang dideskripsikan lebih baik adalah
> tuntutannya,
>
> Menggunakan contoh yang sudah disebut, apa salahnya kalo deskripsinya
> diganti menjadi berikut:
>
> The ideal candidate would be someone who:
>
>    - loves travelling
>    - is a hard worker and passionate in the field
>    - don't mind putting in the extra effort
>    - lives and breathes technology
>    - must be well presented
>    - etc

>
> Bisa sequirky atau seserius apapun yang employernya inginkan, tanpa
> mendiskriminasikan aplikan against their status, umur maupun seks.
>
> Di special cases, seperti kerja di bank, mungkin requirementnya lebih ketat
> tentang background check (rekor kriminal dsb), jadi mungkin bisa ditambah:
>
>    - Background check may be required

>
> Bagaimana pendapat para manajer di milis ini? apakah perspektif ini tidak
> relevan di Indonesia?
>
> --
> Ronald Widha
> follow me on twitter.com/ronaldwidha
> podcast tentang programming dan informatikawww.temanmacet.comwww.ronaldwidha.net
>
> 2010/3/24 Martinus Johan Wahyudi <mjwahy...@gmail.com>
>
> > Loh..kok salah? engga salah itu..
> > ada beberapa posisi yang memang sebaiknya di-isi oleh orang-orang yang
> > belum menikah. Misal, tugas yang sering bepergian, atau butuh stand-by 24
> > jam on-call..
>
> > klo sudah menikah, mana bisa ngerjain tugas-tugas begitu..
>
> > 2010/3/24 pristobenk <bpristiwa...@gmail.com>

>
> > he3..ini pasti ada yang salah disisi  recruiter-nya. sampai muncul
> >> syarat seperti tersebut..
> >> memang ada bedanya programmer yang sdh menikah sama yang belum? kalo
> >> cewek mungkin bisalah diberi syarat tersebut karena cuti hamil itu
> >> 3bulan. bisa rugi dari sisi pemberi kerja...
>

Saya setuju dengan pendapatnya kang Ronald mengenai hal yang
disampaikan. Jika saya menempatkan diri sebagai pencari kerja tentu
membaca deskripsi diatas tersebut tidak merasa terdiskriminasi (dalam
hal apapun itu).

Endy Muhardin

unread,
Mar 24, 2010, 10:13:06 PM3/24/10
to it-project...@googlegroups.com
2010/3/24 Ronald Widha <ronal...@gmail.com>:

> Sebenernya ini juga pet peeves aku sama deskripsi lowongan kerja di
> Indonesia.
> Begitu kita nyentuh personal details, and lifestyle preference, di mana
> batasnya?
> apakah cuma status menikah? atau agama? atau suku? atau warna kulit? atau
> gender? atau seksual preference?

Kalo di Indonesia, kayaknya urusan diskriminasi gini masih belum
dienforce sama semua orang (ya LSM, pemerintah, bahkan si karyawan
sendiri).
Jadi ya orang merasa sah2 aja menuliskan job requirement yang
menyangkut urusan pribadi.

Di luar itu, personal opinion saya sih, ya tuliskan aja kebutuhannya
apa. Misalnya sering traveling.
Kalo udah nikah tapi mau dan mampu, why not.

Urusan requirement agama, bisa jadi dibutuhkan untuk posisi yang 24/7
seperti misalnya tech support atau helpdesk.
Di Indonesia, orang beragama kan dihormati haknya, sehingga kalo
lebaran/natalan masa sih gak boleh mudik.
Beda dengan di negara sekuler, yang lebih tidak toleran. Mau natalan,
kalo sudah boxing day ya tetap main bola.
Solusi di Indonesia, untuk kerjaan 24/7, agamanya harus beragam, biar
bisa gantian shiftnya.
Ini justru bagus kalo menurut saya.

--
Endy Muhardin
http://endy.artivisi.com
Y! : endymuhardin
-- life learn contribute --

iyank4

unread,
Mar 24, 2010, 1:36:21 AM3/24/10
to Manajemen Proyek IT
Sepakat banget sama ronald, Semestinya yang ditampilkan di syarat2x
itu adalah menyangkut apa yang di akan hadapi si personnel.

Kalo soal menikah mungkin si pencari kerja membandingkan dengan apa yg
ia alami, dan asumsi2x umum yg kental di masyarakat Indonesia. Padahal
semua itu *kembali ke pribadi* masing2x nya.

Kalo dibilang udah nikah itu ngga buka laptop setelah pulang rumah,
belom tentu juga. Ada juga yang pulang rumah buka laptop lagi tapi
ngga ngerjain kerjaan kantor.

Mungkin ada juga yg pikir nge-gaji yang masih single itu bisa "DISKON"
alias lebih murah daripada dengan yg udah nikah *terkait tunjangan&
tetek bengeknya*. Klo ini masalahnya saya cenderung pikir si
perusahaan tdk bisa dengan "sehat" menghitung.

Tapi semuanya kembali ke budaya masyarakat indonesia yang sangat
"social",
menghitung kompetensi orang berdasarkan tingkat sosial, hubungan
sosial & kekerabatan ^_^

salam,
iyank4

ps: contoh menghitung tingkat sosial = presiden Indonesia itu harus
orang kaya, klo ngga kaya ngga boleh jadi presiden ^_-

On 24 Mar, 12:05, Ronald Widha <ronaldwi...@gmail.com> wrote:
> Sebenernya ini juga pet peeves aku sama deskripsi lowongan kerja di
> Indonesia.
> Begitu kita nyentuh personal details, and lifestyle preference, di mana
> batasnya?
> apakah cuma status menikah? atau agama? atau suku? atau warna kulit? atau
> gender? atau seksual preference?
>
> mirisnya, aku pernah melihat bbrp lowongan yang menspesifikasi preferensi
> agama aplikasinya.
> menyedihkan.
>
> Aku setuju dengan Martinus bhw ada bbrp posisi yang menuntut tuntutan
> khusus.
> Tapi menurut aku seharusnya yang dideskripsikan lebih baik adalah
> tuntutannya,
>
> Menggunakan contoh yang sudah disebut, apa salahnya kalo deskripsinya
> diganti menjadi berikut:
>
> The ideal candidate would be someone who:
>

>    - loves travelling
>    - is a hard worker and passionate in the field
>    - don't mind putting in the extra effort
>    - lives and breathes technology
>    - must be well presented

>    - etc


>
> Bisa sequirky atau seserius apapun yang employernya inginkan, tanpa
> mendiskriminasikan aplikan against their status, umur maupun seks.
>
> Di special cases, seperti kerja di bank, mungkin requirementnya lebih ketat
> tentang background check (rekor kriminal dsb), jadi mungkin bisa ditambah:
>

>    - Background check may be required


>
> Bagaimana pendapat para manajer di milis ini? apakah perspektif ini tidak
> relevan di Indonesia?
>
> --
> Ronald Widha
> follow me on twitter.com/ronaldwidha

> podcast tentang programming dan informatikawww.temanmacet.comwww.ronaldwidha.net
>
> 2010/3/24 Martinus Johan Wahyudi <mjwahy...@gmail.com>
>

> > Loh..kok salah? engga salah itu..
> > ada beberapa posisi yang memang sebaiknya di-isi oleh orang-orang yang
> > belum menikah. Misal, tugas yang sering bepergian, atau butuh stand-by 24
> > jam on-call..
>
> > klo sudah menikah, mana bisa ngerjain tugas-tugas begitu..
>

> > 2010/3/24 pristobenk <bpristiwa...@gmail.com>


>
> > he3..ini pasti ada yang salah disisi  recruiter-nya. sampai muncul
> >> syarat seperti tersebut..
> >> memang ada bedanya programmer yang sdh menikah sama yang belum? kalo
> >> cewek mungkin bisalah diberi syarat tersebut karena cuti hamil itu
> >> 3bulan. bisa rugi dari sisi pemberi kerja...
>
> >> --
> > Sincerely,
> > Martinus J Wahyudi
> > Software Engineer
>
> >  --
> > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Manajemen Proyek IT"
> > dari Grup Google.
> > Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke
> > it-project...@googlegroups.com.
> > Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke

> > it-project-indon...@googlegroups.com<it-project-indonesia%2Bunsu...@googlegroups.com>

Martinus Johan Wahyudi

unread,
Mar 27, 2010, 12:39:02 PM3/27/10
to it-project...@googlegroups.com
begini ya, saya juga setuju saja dengan bung ronald...
dan saya juga setuju dengan semua pendapat diatas, bahwa semua kembali ke pribadi masing-masing..
 
dan memang secara logika, kita tidak menemukan relasi langsung antara spesifikasi pekerjaan dan syarat2 perekrutan seperti masih single, dsb..
 
disini saya juga gak membela HRD loh, karena mungkin cara2 ini seperti "evil style".
tapi, jumlah pelamar itu banyak, dan siapa yang bisa menjamin anda/orang yang direkrut sanggup memenuhi persyaratan tersebut. betul itu tergantung komitmen orang yang direkrut, atau bisa juga perusahaan memaksa anda memenuhi spesifikasi pekerjaan tersebut..
 
tapi berhubung anda memang sudah katakan menikah, dan kondisinya istri anda lagi sakit/hamil, apa iya anda masih mau pergi2? cuti? itu hak anda, tapi perusahaan juga butuh orang kan? akhirnya apa? ya rekrut orang lagi..
 
jadi syarat2 itu apa fungsinya? itu sebagai alat sederhana saja untuk memfilter..
dan seperti yang anda bilang, mengukur orang dari status sosial itu memang cara berpikir sederhana manusia secara logika..
 
iya donk.. masak orang miskin mo jadi presiden, biaya kampanye dari mana? wong buat sekolah hukum saja belum tentu mampu..
 
ini engga kejam ya, tapi ini realistisnya.. :D

2010/3/24 iyank4 <iya...@gmail.com>
Sepakat banget sama ronald, Semestinya yang ditampilkan di syarat2x
itu adalah menyangkut apa yang di akan hadapi si personnel.

Kalo soal menikah mungkin si pencari kerja membandingkan dengan apa yg
ia alami, dan asumsi2x umum yg kental di masyarakat Indonesia. Padahal
semua itu *kembali ke pribadi* masing2x nya.

Kalo dibilang udah nikah itu ngga buka laptop setelah pulang rumah,
belom tentu juga. Ada juga yang pulang rumah buka laptop lagi tapi
ngga ngerjain kerjaan kantor.

Mungkin ada juga yg pikir nge-gaji yang masih single itu bisa "DISKON"
alias lebih murah daripada dengan yg udah nikah *terkait tunjangan&
tetek bengeknya*.  Klo ini masalahnya saya cenderung pikir si
perusahaan tdk bisa dengan "sehat" menghitung.

Tapi semuanya kembali ke budaya masyarakat indonesia yang sangat
"social",
menghitung kompetensi orang berdasarkan tingkat sosial, hubungan
sosial & kekerabatan ^_^

salam,
iyank4

ps: contoh menghitung tingkat sosial = presiden Indonesia itu harus
orang kaya, klo ngga kaya ngga boleh jadi presiden ^_-

iyank4

unread,
Mar 27, 2010, 8:09:12 PM3/27/10
to Manajemen Proyek IT
yup, pada akhirnya bahasa memang sangat berperan, Daripada HRD panjang
lebar jelasin job desknya mesti standby, gak boleh bolos dll.. mending
dia bilang nyari yang single..

Dan sepertinya kawan-kawan disini juga seperti satu suara jika
requirentment seperti itu hanyalah filter yang "cepat dan efektif" di
Indonesia.

seperti pepatah, `dimana bumi dipijak disana langit di junjung`.
Seperti halnya kalo orang cina nyaman berbisnis, jual-beli barang pake
SMS doang gak masalah buat mereka, tapi kalo orang bule ngerasa nggak
afdol kalo ngga nelfon. malah prefer telpon buat bikin deal.

Semuanya kan balik lagi menyangkut hubungan horizontal kita sebagai
manusia.

Salam
^_^

On Mar 27, 11:39 pm, Martinus Johan Wahyudi <mjwahy...@gmail.com>
wrote:

iyank4

unread,
Mar 27, 2010, 8:16:22 PM3/27/10
to Manajemen Proyek IT

On Mar 24, 1:24 pm, pristobenk <bpristiwa...@gmail.com> wrote:
> kalo saya sebagai pemberi kerja gak masalah sudah nikah atau
> belum..beristri 4 pun gak apa2 -:)

Istri saya 4 anak 2 dari masing2 istri, jadi boleh ngelamar kesitu
yah?... hehehe :-p

> , tetapi pas wawancara harus dijelaskan tentang job desc secara
> gamblang.
> kalo katakanlah harus stand by 24 jam ya harus diutarakan didepan.
> Kalo OK berarti dia sanggup menerima resikonya. setelah itu tinggal
> ukur saja performancenya

performance saya 150KM/jam ^_^

*just-a-joke-di-pagi-hari-waktu-GMT+7*

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages