saya sedang mencoba start project dengan metode scrum.
belajar sedikit2 , based on ebook dan blog.
yang jadi pertanyaan ,
bagaimana penghitungan budgeting nya ?
dalam metode waterfall , dari awal sudah di set budget yang dibutuhkan.
kalau ada perubahan schedule dan budget , ada "change document".
kalau dikabulkan , akan dikucurkan tambahan dana.
sedangkan pada scrum , iterasi 2 minggu sekali.
dan tidak tahu sampai kapan, target yang diminta oleh user tercapai.
belum lagi flexibilitas , sehingga dapat mengubah scope.
sedangkan budget selalu fixed.
sebagai contoh :
user minta internet banking.
dengan waterfall , 6 bulan selesai.
kalau project masalah , mungkin bisa sampai 7 - 8 bulan.
dengan tambahan budget dan orang.
walaupun project berjalan kacau ,
prediksi schedule sampai goal selalu ada
sedangkan scrum , bagaimana solusi nya ?
belum lagi agile selalu memperbolehkan ada tambahan requirement,
yang diselipkan di iterasi berikutnya.
kalau requirement dikunci , tidak agile.
kalau requirement dibuka , budget nya bagaimana ?
thx,
Edwin
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Manajemen Proyek IT" dari Grup Google.
Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke it-project...@googlegroups.com.
Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke it-project-indon...@googlegroups.com.
Untuk opsi selengkapnya, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/it-project-indonesia?hl=id.
thx,
Edwin
2011/1/12 Eryan Ariobowo <ery...@gmail.com>:
Ikutan nimbrung..
Rasanya ini mesti ditentukan di awal, si user mau gmn.. mau yg waterfall atau agile. Cm ya gitu, kalo usernya kebangeten awamnya, pasti requirement nya cm:
Deadline tgl xx
Tujuan akhir yy
Budget zz
Susah juga itu.. tergaantung user jg sih..
--
*sent from HTC Desire LeeDroid ROM*
Haqqi
http://haqqi.net
gtalk: m...@haqqi.net
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Manajemen Proyek IT" dari Grup Google.
Untuk mengeposkan pesan ke grup ini, kirim email ke it-project...@googlegroups.com.
Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke it-project-indon...@googlegroups.com.
Untuk opsi selengkapnya, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/it-project-indonesia?hl=id.
Jadi memang klo terima proyek ya harus jelas targetnya. Klo terjadi perubahan, soal biaya dan pengerjaan harus jelas dalam kontrak.
Klo memang sama2 paham, bahwa scrum berupa iterasi, maka biaya bisa saja dirubah menjadi seperti gaji. Keuntungan vendor dimana? Mungkin bisa bagi share keuntungan saat produk berhasil dideliver / diimplementasikan. Selama belum ada yang dipakai / deliver, maka hanya onkos operasional yang wajib dibayar oleh klien.
Thanks & Regards,
Martinus J Wahyudi (Joshua)
Programmer Analyst
IT Bussiness Support
Tel. : +62-21-5299-8888 ext.2008
thx,
Edwin
This email and any files transmitted with it are confidential and intended solely for the use of the individual or entity to whom they are addressed. If you have received this email in error please notify the system manager. This message contains confidential information and is intended only for the individual named. If you are not the named addressee you should not disseminate, distribute or copy this e-mail.
harus dipahami juga , kalau user minta budget pasti dari tahun lalu.
dan angka nya itu tidak dapat diganti.
jadi agile hanya digunakan khusus untuk keperluan internal
jadi solusi untuk client tetap balik ke waterfall.
mungkin yang diperkuat adalah iterasi dan juga unit test
kira2 , ada yang bisa menambahkan lagi ?
thx,
Edwin
2011/1/12 Martinus Wahyudi <Martinus...@allianz.co.id>:
Untuk metodologi yang feature-set nya open seperti ini, financingnya
juga harus open.
Tidak bisa kita pakai Scrum lantas nilai projectnya fixed ditentukan
di depan pada saat quotation.
Kita ambil analogi renovasi rumah.
Pada waktu kita cari kontraktor (tukang + kenek), biasanya terjadi nego harga.
Ada 2 skema utama yang bisa dipilih : borongan atau harian.
Kalo borongan, kita sebutkan scope pekerjaannya ke kontraktor,
misalnya kita ingin :
- 4 kamar tidur, 1 di lantai 1, 3 di lantai 2
- 2 kamar mandi
- 1 ruang keluarga
- dsb
Nanti si kontraktor akan estimasi cost dan durasi.
Setelah itu nego dan sepakat.
Persis seperti skema project yang biasa kita lakukan.
Ada skema lain, misalnya kita ada banyak item yang mau dikerjakan,
tapi budgetnya mepet.
Biasanya, kita sebagai pemilik rumah akan melakukan prioritas, mana
dulu yang mau dikerjakan.
Setelah itu, kita sewa tukang secara harian.
Begitu uangnya habis, renovasinya udahan.
Begitu ada uang lagi, panggil lagi tukangnya, suruh lanjut.
Borongan juga ada dua variasi, full borongan (tenaga + bahan) atau
tenaga aja, bahan kita yang belanja.
Nah, walaupun secara tingkat pendidikan, para tukang itu umumnya lebih
rendah daripada kuli coding seperti kita,
tapi ya mereka cukup pede aja tuh minta harian.
Tambahan lagi, pekerjaan renovasi rumah itu jauh lebih predictable
daripada bikin software.
Sekali dia ngecor lantai dua, butuh waktu 2 minggu sampe kering, dan 4
minggu sampe bekisting bisa dilepas.
Mau rumahnya gimana bentuknya, mau pake semen merek Indocement,
Holcim, atau apapun, 4 minggu ya 4 minggu.
Lah ini kita bikin software, begitu Hibernate naik versi, yang tadinya
compile sukses jadi warning.
Very very unpredictable.
Ini yang jarang saya temukan di dunia kita.
Startup software development house biasanya tidak mau minta skema
harian, entah apa sebabnya.
Mungkin gak pede, mungkin udah keder duluan takut client gak mau.
Padahal sebetulnya, asal kita confident, clientnya juga mau.
In fact, ArtiVisi mulai 2011 ini tidak lagi terima fixed price project.
Semua mau kita arahkan ke charging per effort.
Dengan demikian, kita tidak perlu lagi otot-ototan setiap kali terjadi
change request.
Intinya, software development itu kegiatan yang sulit diprediksi ujungnya.
Apalagi kalo metodologinya bebas merdeka seperti Scrum dan XP.
Kalo gak disertai skema financing yang baik, ya tutup aja sw housenya.
Mendingan buka warteg, omset udah jelas.
--
Endy Muhardin
http://endy.artivisi.com
y : endymuhardin
g : endy.muhardin
s : endymuhardin
t : endymuhardin
f : http://www.facebook.com/endy.muhardin
-- life learn contribute --
Kalo nilainya udah fixed, maka feature set harus fleksible.
Misalnya, budget 100 juta.
Operational cost tim development (gaji, transport, listrik, internet,
profit vendor, pajak, dsb) per bulan 30 juta.
Ya jangan minta feature set yang estimasinya > 3 bulan.
Bilang aja ke client, dengan nilai segitu, gak bisa 100 fitur, cuma
bisa 25 fitur aja.
Kalo clientnya tetap ngotot 100 juta mau 100 fitur, ya jangan diterima.
Kalo tetap diterima, ya jangan mengeluh kalo tekor.
:D
2011/1/12 <iman.nu...@gmail.com>:
--
Yayang
Nah, di sini pentingnya reputasi dan track record.
Kalo kita sudah dikenal kerjanya bener dan deliverynya bagus, bisa
pake model ini.
Tapi ya namanya software development house memang harusnya
orientasinya adalah membuat SOP sedemikian rupa
sehingga menjamin delivery yang bagus.
Perhatikan bahwa ada beda yang jelas antara project delay karena
delivery yang suck
dengan project delay karena change request tidak terkendali.
Kalo kita sering mengalami yang kedua, sudah saatnya menerapkan tarif harian.