Seni rupa Kerajaan Kushan adalah bahasan mengenai peninggalan
seni rupa yang berkembang selama berkuasanya Kerajaan Kushan di daerah
utara India. Seni Rupa dari daerah ini memperlihatkan kekayaan
pengaruh luar yang masuk ke India melalui jalan politik dan
perdagangan.
Kebanyakan karya dari masa ini terinspirasi oleh ajaran Buddha.
Sejarah Kerajaan Kushan
Kerajaan Kushan merupakan hasil persatuan bangsa-bangsa Indo-
Eropa yang salah satu sukunya bernama Kushan, yang kemudian
mendominasi suku lainnya dan membentuk persatuan baru dengan Kujula
Kadphises sebagai pemimpinnya. Beberapa dari suku ini telah mendapat
pengaruh hellenisme sejak penaklukan Alexander Agung sehingga bisa
dimaklumi bahwa kebudayaan Kushan sendiri pun kemudian banyak mendapat
pengaruh Yunani.
Wilayah kerajaan Kushan meliputi Tajikistan hingga Pakistan dan
Afganistan, kemudian terus ke selatan sampai lembah Sungai Gangga.
Kushan mendapatkan kekuasaannya atas Gandhara seiring ekspansi
ke arah selatan. Selanjutnya daerah ini menjadi pusat kesenian India
yang terkenal dengan pengaruh gaya seni rupa hellenisme yang
realistis.
Perekonomian kerajaan hidup bersandarkan kepada perdagangan
sutra dan rempah ke Eropa dan emas dan karya seni ke Tiongkok. Untuk
itu, banyak sekali pemimpin Kushan yang menciptakan uang logamnya
sendiri sebagai alat tukar resmi, sehingga perkembangan koin-koin
Kushan memberikan catatan sejarah tersendiri, terutama dalam seni
rupa.
Walaupun dikenal sebagai bagian bagian dari sejarah seni rupa
Buddha, sebenarnya Kerajaan Kushan juga memiliki bagian kepercayaan
lain terhadap pendewaan, yaitu Zoroastrianisme yang merupakan pengaruh
Persia.
Karakteristik
Terdapat dua aliran besar yang dikenal dari periode Kushan,
yaitu Gandhara dan Mathura. Kedua aliran ini terutama bisa ditelusuri
dari karya seni patung.
Gaya Gandhara banyak mendapat pengaruh hellenisme. Hal ini bisa
dilihat dengan mudah dari ciri lipatan kain yang teliti dan sikap
tubuh yang luwes. Sementara gaya Mathura, walaupun selanjutnya juga
mendapat pengaruh yang sama hingga akhirnya berkembang menjadi Gaya
Ghupta, tetapi berangkat dari titik tolak seni rupa asli India, yang
bisa ditelusuri dalam karya seni rupa Mahenjo Daro-Harappa.
Tetapi realisme di dalam gaya gandhara tidak bisa dijadikan
patokan ciri seni rupa Kerajaan Kushan, mengingat ciri ini sudah ada
jauh sebelumnya sebagai akibat penguasaan oleh Alexander Agung. Gaya
Mathura berkembang lebih lanjut, sebagai akibat posisinya sebagai
salah satu ibukota dari Kerajaan Kushan.
Karya seni pada periode ini dipengaruhi oleh kelahiran agama
Kristen di Eropa. Buddha di India berubah dari Hinayana menjadi
Mahayana yang bersifat luas, massal, dan humanistis. Akibatnya mudah
sekali menemukan arsitektur tempat ibadah yang menekankan ibadah
bersama daripada usaha pribadi menuju nirvana. Sebagai bukti lain,
banyak sekali patung dewa-dewi dan dikenalkannya konsep Boddhisattva,
individu yang baru mencapai tahap paling akhir sebelum Buddha.
Seni Patung
Walaupun umumnya patung Gandhara bersifat humanis, namun
beberapa patung dibuat dengan ukuran raksasa seperti patung Buddha di
Bamiyan, Afghanistan yang memiliki tinggi 53 meter. Patung ini kini
telah hancur akibat kebijakan iconoclaust yang diambil pemerintah
Taliban, Afghanistan di masa lalu.
Contoh bentuk humanis adalah patung Athena dari Gandhara
setinggi 83 cm, mendekati postur manusia asli.
Gaya Mathura berciri sebaliknya, penuh dengan stilasi dengan
ukuran tubuh kecil. Patung-patung ini banyak mewujudkan Yaksha dan
Yakshi, roh spriritual dalam ajaran Buddha. Contohnya adalah patung-
patung penguasa Kushan, antara lain Jayavarman dan Kanishka.
Dekatnya pengaruh seni rupa Kushan, dan kebanyakan seni rupa
Buddha lainnya menyebabkan timbul klasifikasi gaya Greko-Buddha dalam
perkembangan sejarah seni rupa India
Koin
Dari koin Kanishka bisa terlihat bermacam kepercayaan yang
berkembang di sekitar India bagian utara pada saat itu. Dewa-Dewi
Persia, Mitologi Roma, Hellenisme-oriental, dan Brahmanisme.
Salah satu koin yang cukup dikenal adalah dari masa Raja
Kanishka. Sisi koin ini memperlihatkan wujud Buddha sementara sisi
lain memperlihatkan wujud Kanishka yang mirip mitos Jupiter di Romawi
atau Zeus di Yunani.
Tipografi
Kerajaan Kushan pada awalnya menggunakan tulisan resmi dari
Yunani. Namun semenjak kekuasaan Raja Kanishka, tulisan ini
dikombinasi dengan tulisan Kharoshthi.
Arsitektur
Arsitektur dari masa ini berukuran besar dan masif. Hal ini
ditujukan untuk mengakomodasi pemeluk Buddha yang makin banyak. Pada
masa Raja Kanishka I dan Dab, dibangun benteng Qila Mubarak, di daerah
Bathinda masa kini.
Karya seni dari luar
Tidak terlalu sulit menemukan karya seni dari kedua daerah ini,
mengingat Kushan memiliki hubungan dagang erat dengan Romawi dan Cina.
Contohnya adalah ukiran gladiator di atas gelas besar yang ditemukan
di Begram.
Pengaruh
Pengaruh seni rupa Kerajaan Kushan, terutama gaya Gandhara,
bisa dilihat dari perkembangan pengaruh seni rupa Greko-Buddha, yang
pada masa akhir keemasannya banyak mendapat kontribusi dari Kerajaan
Kushan.
Seni rupa Greko-Buddha menyebar ke selatan India, seperti
Kerajaan Shunga hingga Ghupta, Asia Tengah seperti Tarim Basin
(XiangJiang) dan Baktria, Asia Timur seperti Tiongkok dan Jepang.
Tetapi pengaruh paling besar adalah di Asia Tenggara seperti Indonesia
yang bahkan mengadopsi tulisan, ajaran Mahayana, dan arsitektur dari
gaya Greko-Buddha.
Pengaruh ini terutama terjadi akibat hubungan dagang dan
sejarah penguasaan politik yang terjadi pada masa ekspansi Alexander
Agung.
=====================================================================
Seni Buddha-Yunani
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Seni Buddha-Yunani adalah bentuk manifestasi seni aliran Buddha-
Yunani, sebuah perpaduan budaya antara budaya Yunani klasik dan agama
Buddha, yang berkembang selama hampir 1.000 tahun di Asia Tengah,
antara penaklukan oleh sang Alexander yang Agung pada abad ke-4 SM,
dan penaklukan oleh orang-orang Islam pada abad ke-7. Seni Buddha-
Yunani memiliki ciri khas realisme idealistik seni Yunani Helenis dan
perwujudan pertama sang Buddha dalam bentuk manusia, yang telah
membantu membentuk kanon seni dan terutama teknik perpatungan Buddha
di seluruh benua Asia sampai sekarang. Seni juga merupakan contoh unik
perpaduan budaya antara tradisi Barat dan Timur yang tak tercapai
dalam bentuk seni yang lainnya sampai tahap ini.
Asal mula seni Buddha-Yunani bisa ditemukan di kerajaan Baktria-
Yunani yang Helenistik dan berdiri antara tahun (250 SM - 130 SM), dan
sekarang terletak di Afganistan, dari mana budaya Helenistik Yunani
tersebar ke anak benua India dengan didirikannya kerajaan Yunani-India
(180 SM-10 SM). Di bawah kaum Yunani-India (Yawana) dan kemudian
Kushan, interaksi antara budaya Yunani dan Buddha berkembang di daerah
Gandhara, yang sekarang terletak di Pakistan bagian utara, sebelum
menyebar lebih lanjut ke India, memengaruhi kesenian Mathura, dan
kemudian kesenian Buddha kekaisaran Gupta, yang juga menyebar ke Asia
Tenggara. Pengaruh seni Buddha-Yunani juga menyebar ke utara menuju
Asia Tengah, dan dengan kuat membentuk kesenian dataran rendah Tarim
di pintu gerbang ke Tiongkok, dan akhirnya pengaruhnya mencapai
Tiongkok, Korea dan Jepang.
Kesenian Helenistik di Asia Selatan
Negara-negara Helenistik yang berkuasa mulai didirikan di
wilayah Baktria dan Sogdiana, serta India Utara selama tiga abad
setelah penaklukan Alexander Agung pada 330 SM: Kekaisaran Seleukus
sampai 250 SM, diikuti dengan kerajaan Baktria-Yunani sampai 130 SM,
dan kerajaan Yunani-India dari 180 SM sampai kira-kira 10 SM.
Contoh-contoh pengaruh seni Helenistik bisa ditemukan di koin-
koin raja Baktria-Yunani dari masa yang sama, seperti Demetrius I dari
Baktria. Banyak koin para raja Baktria-Yunani yang ditemukan, termasuk
koin-koin emas dan perak terbesar yang pernah dicetak di Dunia
Helenistik, yang digolongkan memiliki kualitas terbaik baik dari segi
seni maupun teknik: koin-koin ini menunjukkan: “sebuah kadar
individualitas yang tidak pernah tertandingi oleh padanan kerajaan
mereka, dari masa yang sama, lebih ke Barat yang seringkali lebih
sederhana. ( “show a degree of individuality never matched by the
often more bland descriptions of their royal contemporaries further
West”. (dikutip dari “Greece and the Hellenistic world”))”.
Kerajaan-kerajaan Helenistik ini mendirikan kota-kota menurut
model Yunani, seperti di Ai-Khanoum di Baktria, yang hanya menunjukkan
ciri-ciri khas arsitektural Helenistik, patung-patung bergaya
Helenistik, dan juga sisa-sisa naskah manuskrip papirus yang memuat
karya Aristoteles dan simpanan-simpanan koin.
Unsur-unsur Yunani ini memasuki India barat laut mengikuti
invasi kaum Baktria-Yunani pada tahun 180 SM, di mana mereka
mendirikan kerajaan Yunani-India di India. Kota-kota Yunani yang
diperkuat dengan tembok kota seperti Sirkap di Pakistan sebelah utara,
didirikan. Gaya-gaya arsitektural menggunakan corak-corak dekoratif
Helenistik seperti keranjang buah dan lung-lungan dedaunan. Alet-palet
batu untuk minyak-minyak penyangi yang mewakili tema-tema yang murni
Helenistik seperti Nereid yang berwahana Ketos monster laut ditemukan.
Di Hadda, dewa-dewa Helenistik, seperti Atlas ditemukan. Dewa-
dewa angin juga digambarkan, yang pada masa yang akan datang akan
memengaruhi penggambaran dewa angin sampai sejauh Jepang. Adegan-
adegan dewa anggur Dionysius (Bacchus) yang menggambarkan orang-orang
dalam gaya klasik minum-minum anggur dari kan-kan sembari memainkan
instrumen musik, ditemukan.
Interaksi seni Buddha-Yunani
Langsung setelah India diinvasi oleh orang Yunani untuk
membentuk kerajaan Yunani-India, perpaduan antara unsur-unsur
Helenistik dan Buddha mulai muncul. Hal ini juga didukung oleh sikap
para raja-raja Yunani yang terbuka terhadap agama Buddha. Maka gaya
seni ini berkembang selama beberapa abad dan tampaknya berkembang
lebih lanjut semasa kekaisaran Kushan mulai abad pertama Masehi.
Model artistik
Seni Buddha-Yunani menggambarkan kehidupan Buddha dalam sebuah
cara visual, kemungkinan besar dengan menggunakan model-model
realistik dan konsep-konsep yang bisa dicapai para seniman pada masa
itu.
Para Bodhisattwa digambarkan sebagai bangsawan India yang
memakai perhiasan dan telanjang dada. Sementara para Buddha
digambarkan seperti raja-raja Yunani yang memakai busana yang mirip
toga. Gedung-gedung di mana mereka digambarkan, menggunakan gaya
Yunani dengan pilar-pilar kolom Korintus yang berada di mana-mana dan
hiasan pilar melingkar dengan ukiran lung-lungan dedaunan. Kemudian
dewa-dewi yang digambarkan merupakan kombinasi dewa-dewi (Atlas,
Herakles) dan India (Indra).
Perkembangan gaya
Gaya seni Buddha-Yunani mulai dari sangat halus dan realistik,
seperti nampak pada patung-patung Buddha yang berdiri, dengan
“penanganan lipatan-lipatan yang sangat realistik dan pada beberapa
bahkan sedikit menampakkan volume tubuh model yang menjadi ciri khas
karya Yunani yang terbaik” (Boardman). Kemudian gaya ini kehilangan
realisme kelas tinggi ini untuk kemudian menjadi semakin simbolis dan
dekoratif pada abad-abad yang mendatang.
Arsitektur
Keberadaan stupa di kota Yunani Sirkap, yang dibangun oleh
Demetrius sudah menunjukkan sebuah sinkretisme yang kuat atau
perpaduan antara agama Yunani dan Buddha, bersama dengan agama-agama
lainnya seperti Hindu dan Zoroastrianisme. Gaya bangunan adalah
Yunani, yang dihias dengan pilar-pilar kolom Korintus.
Kemudian di Hadda, dewa Yunani Atlas digambarkan menopang
monumen Buddha yang dihias dengan pilar-pilar kolom Yunani.
Sang Buddha
Kurang lebih antara abad pertama SM dan abad pertama,
perwujudan Buddha secara antropomorfis (bentuk manusiawi) pertama
dikembangkan. Inovasi ini, yang sebenarnya dilarang ajaran Buddha,
langsung meraih kecanggihan kualitas tinggi dari bentuk seni
perpatungan. Gaya ini secara alami diilhami gaya seni pemahatan patung
yang berasal dari Yunani Helenistik.
Banyak unsur-unsur stilistik dalam menggambarkan sang Buddha
merujuk kepada pengaruh Yunani: toga model Yunani, pose contrapposto
Buddha yang (lihat: abad pertama–kedua Buddha yang berdiri dari
Gandhara [1] dan [2]), rambut keriting gaya Laut Tengah dan sanggul
atas yang nampaknya diambil dari gaya Belvedere Apollo(330 SM), dan
ciri rupa wajah-wajah, semua dibuat menggunakan realisme artistik yang
kuat (Lihat: Seni Yunani).
Sang raja Baktria-Yunani Demetrius I (205-171 SM) sendiri,
kemungkinan besar adalah model citra sang Buddha. Ia adalah raja dan
penyelamat India, seperti ditekankan oleh penerusnya Raja Apollodotus
I dan Menander I, yang secara resmi disebut sebagai BASILEOS SOTHROS
"Raja Penyelamat" dalam legenda dwibahasa Yunani dan bahasa Kharoshthi
pada koin-koin mereka. Demetrius disebut sebagai Dharmamitra ("Mitra
Dharma") dalam teks India Yuga-Purana. Agama Buddha berkembang pada
pemerintahannya dan penerusnya, ketika agama ini ditindas oleh dinasti
India yang Sunga di sebelah Timur.
Patung-patung Buddha Helenistik awal menggambarkannya dalam
gaya seorang raja, di mana simbol-simbol tradisional Buddha (mandala,
singgasana kosong, pohon Boddhi, singa-singa) tidak ada. Demetrius
kemungkinan dikeramatkan sebagai dewa, dan patung-patung Buddha
Helenistik pertama yang kita ketahui kemungkinan merupakan gambaran
dari raja Yunani yang ideal, berwibawa, namun ramah dan terbuka
terhadap budaya India. Ketika semakin banyak unsur Buddha dimasukkan,
mereka menjadi pusat dalam aliran Buddha dan memengaruhi representasi
Buddha dalam seni Buddha-Yunani yang lebih mutakhir.
Sebuah ciri khas lain Demetrius ialah bahwa beliau
diasosiasikan dengan Buddha: mereka sama-sama memiliki dewa pelindung
yang sama. Di seni Gandhara, sang Buddha seringkali diperlihatkan di
bawah perlindungan dewa Yunani Herakles, yang berdiri dengan gadanya
(dan kemudian dengan tongkat intan) yang disandarkan pada lengannya
(foto di bawah ini, lihat juga [3]). Representasi Herakles yang kurang
lazim ini sama dengan yang ada di belakang koin Demetrius, dan hal ini
hanya diasosiasikan kepadanya (dan putranya Euthydemus II), dan hanya
terlihat pada sisi belakang koin-koinnya.
Kemudian, figur sang Buddha dimasukkan dalam desain-desain
arsitektural seperti pilar-pilar kolom Korintus dan membeku. Adegan-
adegan kehidupan Buddha juga sering digambarkan dalam sebuah suasana
arsitektoral Yunani dengan para protagonis memakai pakaian Yunani.
Dewa-dewi dan tokoh mitologis Yunani juga cenderung dimasukkan
dalam representasi Buddha, dan menunjukkan perpaduan budaya atau
sinkretisme yang kuat. Khususnya, Herakles (seperti terlihat pada koin-
koin Demetrius, dengan gada yang disandarkan pada lengannya) dipakai
secara luas sebagai representasi Bajrapani, pelindung sang Buddha.
Dewa Yunani lainnya yang secara luas dipakai dalam seni Buddha-Yunani
adalah representasi Atlas, dan Dewa Angin Yunai. Terutama Atlas pada
khususnya cenderung dipakai sebaga unsur penopang dalam arsitektur
Buddha.
Terutama di bawah peemrintahan kaum Kushan, banyak ditemukan
representasi Boddhisattwa yang memakai banyak perhiasan dan berwibawa
sebagai layaknya seorang bangsawan dengan gaya Buddha-Yunani yang
sangat realistis. Sang Bodhisattwa, yang merupakan ciri khas ajaran
Buddha Mahayana, terutama digambarkan memiliki rautan muka para
bangsawan Kushan, termasuk segala upakara (perhiasan) mereka.
Kontribusi kaum Kushan
Sejarah seni Buddha-Yunani yang lebih mutakhir di India barat
laut seringkali dihubungkan dengan kekaisaran Kushan. Kaum Kushan
merupakan bangsa nomad yang mulai bermigrasi dari Dataran Rendah Tarim
di Asia Tengah dari kurang lebih 170 SM dan berakhir dengan mendirikan
sebuah kekaisaran di India barat daya mulai dari abad ke-2 SM. Mereka
terpengaruh budaya Yunani karena kontak mereka dengan orang Baktria-
Yunani dan kemudian orang Yunani-India dan bukan dari orang Yunani-
Helenistik. Kaum Kushan mengambil dan menggunakan huruf Yunani.
Kaum Kushan, di tengah-tengah Jalur Sutra secara antusias
mengumpulkan karya-karya seni dari seluruh penjuru dunia kuna, seperti
bisa dilihat dari penemuan-penemuan tempat penyimpanan harta karun di
ibukota utara mereka di Begram, Afganistan.
Kaum Kushan mensponsori agama Buddha bersama-sama dengan agama-
agama Iran dan Hindu lainnya. Kemungkinan mereka pula yang ikut
menggalakkan berkembangnya seni Buddha-Yunani. Tetapi di sisi lain
koin-koin mereka menunjukkan tidak adanya kecanggihan artistik:
penggambaran raja-raja mereka, seperti Kanishka, cenderung agak kasar
(tidak ada proporsi tubuh, gambar kasar), dan gambar Buddha merupakan
kumpulan dari sebuah patung Buddha gaya Helenistik dengan kaki-kaki
yang digambar jelek dan pisah satu sama lain mirip gambar raja Kushan.
Gambar ini cenderung menunjukkan kekunaan patung-patung Buddha-Yunani,
yang dipakai sebagai model dan korupsi selanjutnya oleh para seniman
Kushan.
Penyebaran Seni Buddha-Yunani ke Asia Tengah
Pengaruh seni Buddha-Yunani secara alami mengikuti ekspansi
agama Buddha ke Asia Tengah dan Asia Timur dari abad pertama SM.
Baktria
Baktria berada di bawah kekuasan langsung Yunani selama lebih
dari dua abad dari penaklukkan oleh sang Alexander yang Agung pada 332
SM sampai akhir masa kerajaan Baktria-Yunani pada sekitar tahun 125
SM. Seni Baktria hampir seluruhnya juga Helenistik secara sempurna
seperti bisa dilihat pada peninggalan-peninggalan arkeologis Baktria-
Yunani di kota-kota seperti Alexandria di Oxus (Ai-Khanoum), atau seni
numismatik (yang berhubungan dengan koin-koin) raja-raja Baktria-
Yunani dan sering dianggap yang terbaik berasal dari Dunia Helenistik,
termasuk koin-koin perak dan emas terbesar yang pernah dicetak oleh
orang Yunani.
Ketika agama Buddha menyebar di Asia Tengah mulai abad pertama,
Baktria melihat datangya hasil pengaruh sinkretisme Buddha-Yunani
datang di wilayahnya dari India, dan sebuah pembauran baru dalam seni
perpatungan berada di sana sampai datangnya invasi Islam.
Perwujudan paling menyolok adalah Patung Buddha Bamiyan.
Mereka kelihatannya berasal dari aabd pertama sampai abad ke-3 Masehi.
Mereka dipengaruhi secara kuat oleh budaya Helenistik.
Di daerah Baktria lain yang bernama Fondukistan, beberapa
kesenian Buddha-Yunani lestari sampai abad ke-7 di biara-biara Buddha,
menunjukkan pengaruh Helenistik yang kuat dipadukan dengan gaya
dekorasi dan corak India dan sedikit pengaruh kaum Sasanid Persia.
Sebagian besar karya-karya seni dari Baktria dirusak mulai abad
ke-5: orang-orang Buddha sering dituduh sebagai penyembah berhala dan
ditindas oleh orang-orang Muslim yang merusak simbol-simbol keagamaan
(iconoclastic). Pengrusakan ini berlanjut sampai era modern pada masa
Perang Afganistan dan terutama dilakukan oleh rezim Taliban pada tahun
2001. Kasus paling dikenal adalah penghancuran patung Buddha Bamiyan.
Secara ironis karya-karya seni Afganistan yang terselamatkan justru
terjadi pada era kolonial dan dikeluarkan dari negara ini. Terutama,
sebuah koleksi yang cukup kaya dipamerkan di Musee Guimet di Perancis.
Dataran Rendah Tarim
Seni Dataran Rendah Tarim, juga disebut Seni Serindia, adalah
seni yang berkembang mulai abad ke-2 sampai ke-11 di Serindia atau
Xinjiang, daerah China yang terletak paling barat yang merupakan
bagian dari Asia Tengah. Seni ini muncul dari seni Gandhara dan secara
jelas mengkombinasikan tradisi India dengan pengaruh Yunani dan
Romawi.
Para misionaris atau pendakwah Buddha yang mengadakan
perjalanan melalui Jalur Sutra memperkenalkan kesenian ini, bersama
dengan agama Buddha sendiri ke Serindia, di mana kemudian berbaur
dengan pengaruh China dan Persia.
Pengaruh Buddha-Yunani di Asia Timur
Kesenian Tiongkok, Korea dan Jepang mendapatkan pengaruh
artistik Buddha-Yunani, tetapi cenderung mereka menambahinya dengan
elemen-elemen lokal. Yang masih bisa ditengarai sebagai pengaruh seni
Buddha-Yunai secara langsung adalah:
Realisme idealistik umum figur-figur yang merupakan peninggalan seni
Yunani.
Elemen pakaian dengan gaya lipatan-lipatan Yunani yang sangat
elaboratif.
Rambut keriting yang merupakan khas Laut Tengah.
Di beberapa pelukisan Buddha, ada tokoh-tokoh bersayap yang terbang
dan memegang rangkaian bunga.
Elemen-elemen pemahatan Yunani seperti daun anggur dan lung-lungan
dedaunan.
China
Unsur-unsur artistik Buddha-Yunani bisa dirunut semua karya
seni Buddha-Tiongkok dengan beberapa variasi lokal dan waktu,
tergantung pada karakter beberapa dinasti yang telah memeluk agama
Buddha.
Beberapa patung Dinasti Wei Utara bisa dikatakan merupakan
reminisensi patung-patung Buddha berdiri dari Gandhara meski gayanya
lebih simbolis. Namun karakternya secara umum dan pelukisan pakaian
masih sama. Patung-patung lain, misalkan dari Dinasti Qi Utara, juga
melestarikan gaya Buddha-Yunani secara umum, tetapi sifat realisme
kurang dan memiliki unsur-unsur simbolis yang lebih kuat.
Beberapa patung Wei Timur (kiri) menunjukkan gambar Buddha
dengan lipatan-lipatan jubah gaya Yunani yang megah dan dikelilingi
tokoh-tokoh terbang yang membawa rangkaian bunga.
Jepang
Di Jepang, kesenian Buddha mulai berkembang setelah negara ini
memeluk agama Buddha pada tahun 548. Beberapa ubin dari periode Asuka,
periode pertama setelah rakyat Jepang mulai memeluk agama Buddha,
menunjukkan gaya klasik yang menonjol, dengan penggunaan pakaian gaya
Helenistik secara meluas dan pelukisan anatomi tubuh secara realistik,
yang merupakan ciri khas gaya seni Buddha-Yunani.
Karya seni lainnya menggunakan beberapa variasi pengaruh China
dan Korea, sehingga seorang pemeluk Buddha Jepang sangat bervariasi
dalam berekspresi. Banyak unsur seni Buddha-Yunani masih lestari
sampai sekarang, seperti Herakles yang merupakan di belakang para
penjaga Nio di depan banyak kuil-kuil Buddha Jepang, atau representasi
sang Buddha yang masih memperlihatkan gaya seni Yunani seperti patung
Buddha di Kamakura.
Beberapa pengaruh Buddha-Yunani lainnya bisa ditemukan di
khazanah perdewaan Jepang. Salah satu contoh yang paling menonjol
adalah Dewa Angin Jepang Fujin. Masih konsisten dengan ikonografi
Yunani untuk Dewa Angin Boreas, Dewa Angin Jepang di atas kepalanya
memegang sebuah kain besar atau "kipas angin" dengan gaya penampilan
yang sama. Rambut dan bulu muka yang lebat juga masih dipertahankan di
pelukisan gaya Jepang, seperti juga rautan muka yang dilebih-lebihkan.
Dewa Buddha lainnya, bernama Shukongoshin, salah satu Dewa
pelindung kuil Buddha di Jepang yang penuh murka, juga merupakan kasus
menarik transmisi citra Dewa ternama Yunani, Herakles ke daerah Timur
Jauh sepanjang Jalur Sutra. Herakles juga dipakai dalam Seni Buddha-
Yunani untuk melukiskan Bajrapani, sang pelindung Buddha, dan
gambarannya kemudian dipakai di China dan Jepang untuk menggambarkan
Dewa-Dewa pelindung kuil-kuil Buddha.
Akhirnya, inspirasi artistik ukiran gaya lung-lungan dedaunan
Yunani, bisa ditemukan secara harafiah pada genteng-genteng atap
Jepang, salah satu elemen yang lestari pada arsitektur kayu selama
berabad-abad. Salah satu contoh yang terang berasal dari ubin-ubin
kuil Nara, di mana beberapa di antaranya menunjukkan gambar anggur dan
daun anggur. Corak-corak ini lalu berkembang menjadi lukisan yang
lebih simbolis, namun sampai sekarang masih lestari dipergunakan di
banyak gedung-gedung tradisional Jepang.
Pengaruh Selatan Seni Buddha-Yunani
Seni Mathura
Pelukisan Buddha in Mathura, di India Tengah Utara, secara
umum ditarikh lebih mutakhir daripada yang ada di Gandhara, meski hal
ini tidak tanpa pertentangan, jumlahnya juga jauh lebih sedikit.
Sampai saat itu, kesenian Buddha India bersifat anikonik, menghindari
segala penggambaran Buddha, kecuali simbol-simbolnya seperti mandala,
atau pohon Boddhi, meski beberapa pahatan Mathura kuna berbentuk Yaksa
ditarikh kurang lebih berasal dari abad pertama SM. Bahkan Yaksa-Yaksa
ini memperlihatkan beberapa pengaruh Helenistik, kemungkinan hal ini
disebabkan karena didudukinya Mathura oleh bangsa India-Yunani semasa
abad ke-2 SM.
Jika membicarakan teori artistik bagi pelukisan-pelukisan
pertama sang Buddha, seni Yunani memberikan latar belakang yang sangat
alami dan didukung dengan tradisi berabad-abad dalam menggambarkam
tokoh dewa secara antromorfis, sedangkan sebaliknya “sebelumnya dalam
ilmu perpatuangan India tidak sesuatu pun yang menyinggung akan adanya
pembahasan bentuk atau pakaian, dan kumpulan Dewa-Dewi Hindu tidak
memberikan model yang memadai bagi seorang makhluk Dewa yang bangsawan
dan sepenuhnya manusiawi.”(Boardman) (aslinya dalam bahasa Inggris:
“there was nothing in earlier Indian statuary to suggest such a
treatment of form or dress, and the Hindu pantheon provided no
adequate model for an aristocratic and wholly human
deity” (Boardman)).
Seni perpatungan Mathura menggunakan banyak unsur-unsur
Helenistik, seperti realisme idealistik yang umum, beberapa ciri khas
seperti rambut keriting dan lipatan-lipatan khas pakaian. Sedangkan
ciri khas Mathura ialah iklim yang lebih panas dan terlihat dari
pakaian yang lebih lebar dan secara bertahap lebih menutupi satu bahu
daripada kedua bahu. Kemudian raut muka juga terlihat lebih India.
Pengaruh seni Yunani masih bisa dirasakan melampaui Mathura
sampai sejauh Amaravati di pesisir timur India seperti bisa dilihat
dari gaya lung-lungan dedaunan Yunani yang dikombinasikan dengan Dewa-
Dewi Hindu. Corak-corak lain seperti kereta-kereta Yunani yang ditarik
empat kuda juga bisa ditemukan di wilayah yang sama.
Secara kebetulan, seni Hindu mulai berkembang dari abad pertama
sampai abad ke-2 Masehi dan diilhami oleh seni Buddha Mathura. Seni
ini secara berangsur-angsur memasukkan unsur-unsur asli Hindu dan
simbolisme, meski bertentangan dengan keseimbangan umum dan
kesederhanaan seni Buddha.
Seni Gupta
Masa Gupta, abad ke-5, Mathura.
Seni Mathura secara berangsur-angsur memasukkan unsur-unsur
India dan mencapai puncaknya yang sangat tinggi pada masa kekaisaran
Gupta, antara abad ke-4 dan abad ke-6. Seni Gupta dianggap sebagai
puncak Seni Buddha India.
Unsur-unsur Helenistik masih bisa dilihat secara jelas dalam
kemurnian patung-patung dan lipatan-lipatan pakaian, tetapi diperbaiki
dengan sebuah penggambaran pakaian dengan seni pahat yang sangat halus
dan semacam sinar yang diperkuat dengan penggunaan batu granit warna
merah muda.
Detail-detail artistik cenderung nampak kurang realistik,
seperti bisa dilihat pada keriting rambut yang mirip kerang yang
dipakai untuk menggambarkan rambut sang Buddha.
Kesenian Asia Tenggara
Kebudayaan India terbukti sangat berpengaruh pada perkembangan
kebudayaan Asia Tenggara. Banyak negara mengambil aksara India dan
budayanya, bersamaan dengan agama Hindu dan Buddha Mahayana.
Pengaruh seni Buddha-Yunani masih nampak pada kebanyakan
pelukisan Buddha di Asia Tenggara, meski mereka biasanya cenderung
berbaur dengan kesenian Hindu-India dan kemudian mengambil unsur-unsur
lokal.
Dampak budaya seni Buddha-Yunani
Di luar unsur-unsur gaya yang terbesar di seluruh Asia selama
hampir seribu tahun, kontribusi utama seni Buddha-Yunani kepada agama
Buddha adalah realisme idealistik yang diilhami seni Yunani dan
membantu menggambar secara langsung dan visual, keadaan berkah pribadi
dan pencerahan yang disiarkan oleh agama Buddha. Sosialisasi daripada
pendekatan manusiawi agama Buddha dan keterbukaannya terhadap semua
orang, kemungkinan besar terjadi berkat perpaduan seni Yunani dan seni
Buddha.
=====================================================================