DINAS PENDIDIKAN JAWA TIMUR : NURUL FATAH GURU SENI YANG PERDULI LINGKUNGAN

72 views
Skip to first unread message

N FATAH

unread,
Nov 25, 2011, 5:59:30 PM11/25/11
to ISSI ( Ikatan Sarjana Seni Indonesia )
Nurul Fatah, SPd, Guru SMPN 1 Manyar Gresik
Posted on August 12th, 2011 by dikbangkesadmin

Menghijaukan Sekolah Bersama Tukang Kebun
Bekerja di sekolah yang baru dibuka dibutuhkan dedikasi dan
kecerdikan untuk mengatasi berbagai keterbatasan. Nurul Fatah
menyadari akan hal itu ketika ditempatkan sebagai pengajar di SMPN 1
Gresik 27 tahun silam. Bersama tukang kebun dia mencangkuli sekitar
halaman untuk penghijauan, dia ciptakan alat peraga untuk memudahkan
proses belajar mengajar, dan sekarang memetik hasilnya. Dia terpilih
sebagai Juara III Guru Berdedikasi Luar Biasa Jawa Timur 2011.
Fatah, panggilannya, ketika masih SMA tak pernah terlintas
sedikitpun dalam benaknya bercita-cita menjadi guru, apalagi di bidang
kesenian. Namun alur kehidupan sering tak dapat diduga, langkah
kehidupannya tiba-tiba mengantarkan dirinya hingga menjadi pendidik di
SMP Negeri 1 Gresik bidang kesenian.
Dia menyadari keberadaan guru kesenian masih dipandang sebelah
mata karena dianggap bukan pelajaran penting sebagaimana materi yang
dijadikan Ujian Nasional. Meskiun, prestasi kedua pelajaran tersebut
sering mengukir popularitas sekolah. Walau begitu dia tidak risau.
Fatah tetap mengasah kreativitas mencipta alat peraga agar siswanya
bisa menguasai materi yang diajarkan dengan baik.
Meski disiplin ilmunya seni rupa namun Fatah diminta mengajar
semua pelajaran kesenian. Maka ketrampilan semasa SMA bermain musik
diasahnya kembali hingga bisa menguasai beragam peralatan. Karena
jumlah peralatan musik di sekolah belum ideal kemudian Fatah menemukan
pola.
“Dalam mengajar keyboard murid saya perintahkan untuk
menggambar susunan toots di atas lembaran kertas kemudian saya ajari
tentang posisi tangan dalam memainkan accords. Setelah hafal lalu
digiring ke ruang musik untuk memainkan keyboard. Dengan cara seperti
itu ternyata lebih efektif,” tutur Fatah.
Demikian pula ketika mengajar bermain gitar, murid-muridnya
disuruh memotong penggaris kayu sepanjang satu meter menjadi lima
bagian lalu digarisi seperti pembatas posisi jari pada gitar. Langkah
selanjutnya memasang 6 karet gelang yang dilingkarkan secara
horizontal sebagai senar gitar. Nah dengan alat peraga tersebut para
murid diajari menghafal accord-accord standar seperti C, G, F, Am, Dm
dan E. Setelah berlangsung beberapa kali dan mereka cukup hafal
kemudian digiring ke kelas musik untuk memainkan gitar secara
langsung.
Meski perannya sebagai guru kesenian namun dia berhasil meraih
beberapa penghargaan membanggakan, antara lain Juara I Guru Teladan
(1995), Juara I lomba menggambar komik (2007), Penata Musik Terbaik
Jawa Timur (2009) dan Juara III Guru Berdedikasi Luar Biasa 2011
tingkat Jawa Timur.

Mencipta 100 Lagu
Hobi menggambar dan bermain musik sejak muda menggiringnya ke
industri musik. Pada tahun 1997 dia sudah menawarkan karya-karya musik
popnya ke produser rekaman namun momennya kurang tepat karena waktu
itu Gombloh sedang populer sehingga lagu-lagu ciptaannya tidak
mendapat perhatian.
Suatu saat seseorang meminta diajari bermain keyboard untuk
memainkan lagu-lagu qasidah, setelah dituruti orang tersebut
menyuruhnya untuk mencoba mencipta lagu berirama qasidah tapi saat
diajukan ke produser ternyata nuansanya terlalu ngepop kemudian
disuruh merevisi. Sejak itu dia getol mengolah musik qasidah yang
direkam secara kompilasi bersama komposer lain.
“Sampai sekarang karya saya sudah direkam dalam 8 album dengan
penyaji yang berbeda-beda,” tutur Fatah, antara lain bersama grup
Zurhiya Nada, Alfun Nada dan Mayang Madu. “Saya masih mempunyai 100
lagu yang siap direkam,” tutur Fatah yang bersandar pada hadist Nabi
Muhammad sebagai sumber penyusunan lirik. Beberapa karyanya berjudul
‘Khulafaur Rasyidin’, ‘Rajin Belajar’ dan ‘Tabbaruj’ direkam oleh Arco
Record milik keluarga Ariyanto (alm), pendiri grup Favorit.
“Kalau banyak pencipta lagu yang mendapat imbalan berpuluh-
puluh juta tapi saya hanya memperoleh Rp 250 ribu per lagu. Meski
secara nominal begitu kecil akan tetapi saya memperoleh kepuasan
karena karya-karya saya diabadikan dalam album mayor yang diapresiasi
publik secara luas,” dalih Fatah.
Pengalamannya yang amat mengesankan adalah ketika masih sekolah
di SMAN 1 Gresik membentuk grup band pelajar dan berhasil terpilih
sebagai juara pertama Festival Band Pelajar se Kota Gresik. “Meskipun
saya anak orang miskin namun berhasil meraih prestasi yang
diperebutkan oleh anak-anak berpunya,” terangnya.
Lahir di Gresik , 21 April 1962 dari pasangan Machi –
Istirohah, pedagang kecil di kawasan Desa Sekapuk Sedayu. Putra sulung
ini mempunyai seorang adik bernama Ummu Hanifah. “Saya berkembang di
tengah keluarga miskin sehingga ketika sekolah di SMAN 1 Gresik tidak
berani bermimpi untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi,
akan tetapi guru-guru mendorong saya agar melanjutkan ke IKIP Surabaya
yang sedang membuka program Panduan Bakat bagi siswa berprestasi tanpa
test,” kenang Nurul Fatah dalam berbincangan di sela pelatihan bagi
guru-guru kesenian tingkat SMP/MTs program Dikbangkes (14-16/06/11).
Saat kelas 3 SMA Negeri 1 Gresik dia pernah mengukir kenangan
manis atas keberhasilannya meraih juara pertama pada perlombaan bulu
tangkis antar pelajar se Kabupaten Gresik serta lomba lukis untuk
tingkat serupa. Dua predikat itulah yang dijadikan tiket untuk
memasuki program Diploma 2 jurusan seni rupa di IKIP Negeri Surabaya
(sekarang Unesa) hingga ditempatkan mengajar di SMPN 1 Manyar Gresik.
Di sela-sela kuliah dia mencari uang untuk biaya hidup dengan
menjual rokok dan beralih menjual koran setelah diobrak satpol PP.
Dengan menjual koran pengetahuan umumnya lebih berkembang karena
setiap hari bisa membaca beragam peristiwa.

Mengolah Lingkungan
SMPN 1 Manyar yang sekarang menjadi salah sekolah favorit di
kota Gresik dikitari pemukiman menengah ke atas, namun tidak pernah
disangka bahwa 28 tahun silam bangunan sekolah itu saja berdiri di
tengah kawasan gersang. Dalam benak suami dari Ummuh Solichah ini
banyak kenangan yang amat mengesankan. Tahun 1983 sekolah tersebut
dibangun di atas pertanahan tandus bergelombang, karena medannya cukup
ekstrem sehingga sering sering digunakan sebagai ajang motocross atau
off road.
Dia mengajak tukang kebun bernama Pak Askin dan Mustakim
mencangkuli tanah keras tersebut guna ditanami bunga namun ternyata
tak satupun yang tumbuh. Melihat sebagian waktunya dihabiskan untuk
mencangkuli lahan sekitar sekolah tidak sedikit guru mencibir. “Kamu
ini SK-mu bukan untuk mencangkul tapi mengajar,” ujar mereka. Namun
suara sumbang itu melecut niatnya semakin gigih dengan mencari jenis
tanaman yang cocok.
Keakraban Fatah dan Pak Askin ibarat dua mata sisi uang yang
tak terpisahkan, mereka sama-sama tinggal di lingkungan sekolah tanpa
aliran listrik itu. Si tukang kebun menempati sebuah kamar di belakang
sekolah bersama istri dan seorang siswa bernama Edy Suwantoro yang
indekost, sedangkan Fatah berada di ruang ketrampilan karena honor
yang dia terima sebagai guru kesenian belum mencukupi jika harus
menyewa rumah maupun indekost.
Berangkat dari pengalaman di desa kelahirannya di Desa Sekapuk,
Kecamatan Ujung Pangkah, dia bersama Pak Askin mencoba menanam turi
dalam jumlah banyak untuk menyuburkan tanah. Ternyata benar, permukaan
tanah yang semula keras berubah gembur. Kemudian mereka menanam
lamtoro gung, sono dan sekarang terdapat pohon sawo, nangka, mangga
dan beragam buah-buahan.
Burung-burungpun seolah menemukan habitat baru. Apalagi
lingkungan sekitar sekolah itu sudah beralih fungsi menjadi pemukiman
dan habitat burung semakin hilang. Selain burung puter, derkuku,
glatik, peking dan emprit kini mulai dilepasi burung merpati. Dia
mengimpikan seperti pemandangan di beberapa negara yang dipenuhi
dengan burung merpati, untuk pakannya para siswa dan guru-guru kadang
membawakan makanan sisa dari rumah juga tidak sedikit murid yang
membawa jagung. Ketika melihat ada anak-anak menabur pakan maka secara
serentak burung-burung itu turun dari atas pohon menjadi pemandangan
yang elok.
“Yang lebih menggembirakan, sekarang orang-orang ikut saling
menjaga dengan melarang siapapun menembak burung,” tutur bapak tiga
anak yang berdomisili di Jl. Bondowoso II/118 Gresik Kota Baru.
Untuk mengembangkan penghijauan, satu sen pun pihak sekolah
tidak mengeluarkan biaya. Fatah punya kiat sendiri agar bisa
memperoleh pohon secara gratis. Sebagai guru kesenian, bagi murid yang
tidak mengumpulkan karya setelah diberi waktu tiga minggu maka
sanksinya harus menyerahkan sebatang pohon keras yang berbuah.
Ternyata ada saja murid yang ‘ndablek’ tidak menyerahkan tugas
kekaryaannya dan lebih memilih menyerahkan bibit pohon,” tutur bapak
dari Dendy Adi Luhung, Johan Adi Luhung, dan Niken Ranang Kapti.
Bagaimanapun Fatah tak dapat melupakan jasa-jasa Pak Askin.
Lelaki yang baik hati itu suatu malam dibunuh perampok, yang sampai
hari ini pembunuhnya belum terungkap, juga motivasinya tidak jelas.
Sementara Edy Suwantoro, siswa yang indekost itu, kini menjadi guru di
SMK Dharma Budi Bhakti “plus” Jakarta Utara. ● Lazuardi

* Dinukil dari Majalah BENDE Juli 2011

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages