Tarian Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman suku
bangsa dan budaya Indonesia. Terdapat lebih dari 700 suku bangsa di
Indonesia: dapat terlihat dari akar budaya bangsa Austronesia dan
Melanesia, dipengaruhi oleh berbagai budaya dari negeri tetangga di
Asia bahkan pengaruh barat yang diserap melalui kolonialisasi.
Rumpun bahasa Austronesia
Klasifikasi genetik:
Salah satu rumpun bahasa utama di dunia; meski hubungan dengan
rumpun-rumpun lain sudah diajukan, namun belum ada yang diterima
secara luas
Pembagian: Formosa (beberapa cabang utama)
Melayu-Polinesia (mungkin anak cabang Formosa)
Rumpun bahasa Austronesia adalah sebuah rumpun bahasa yang
sangat luas penyebarannya di dunia. Dari Taiwan dan Hawaii di ujung
utara sampai Selandia Baru (Aotearoa) di ujung selatan dan dari
Madagaskar di ujung barat sampai Pulau Paskah (Rapanui) di ujung
timur.
Istilah Austronesia
Austronesia mengacu pada wilayah geografis yang penduduknya
menuturkan bahasa-bahasa Austronesia. Wilayah tersebut mencakup Pulau
Formosa, Kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia,
Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Secara harafiah,
Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" dan berasal dari bahasa Latin
austrālis yang berarti "selatan" dan bahasa Yunani nêsos (jamak:
nesia) yang berarti "pulau".
Jika bahasa Jawa di Suriname dimasukkan, maka cakupan geografi
juga mencakup daerah tersebut. Studi juga menunjukkan adanya
masyarakat penutur bahasa Melayu di pesisir Sri Langka.
Asal usul bangsa Austronesia
Untuk mendapat ide akan tanah air dari bangsa Austronesia,
cendekiawan menyelidiki bukti dari arkeologi dan ilmu genetika.
Penelaahan dari ilmu genetika memberikan hasil yang bertentangan.
Beberapa peneliti menemukan bukti bahwa tanah air bangsa Austronesia
purba berada pada benua Asia. (seperti Melton dkk., 1998), sedangkan
yang lainnya mengikuti penelitian linguistik yang menyatakan bangsa
Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan. Dari sudut pandang ilmu
sejarah bahasa, bangsa Austronesia berasal dari Taiwan karena pada
pulau ini dapat ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia
dari rumpun bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk
sembilan dari sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia. Comrie
(2001:28) menemukan hal ini ketika ia menulis:“ ... Bahasa-bahasa
Formosa lebih beragam satu dengan yang lainnya dibandingkan seluruh
bahasa-bahasa Austronesia digabung menjadi satu sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa terjadi perpecahan genetik dalam rumpun bahasa
Austronesia di antara bahasa-bahasa Taiwan dan sisanya. Memang genetik
bahasa di Taiwan sangatlah beragam sehingga mungkin saja bahasa-bahasa
itu terdiri dari beberapa cabang utama dari rumpun bahasa Austronesia
secara kesuluruhan. ”
Setidaknya sejak Sapir (1968), ahli bahasa telah menerima bahwa
kronologi dari penyebaran sebuah keluarga bahasa dapat ditelusuri dari
area dengan keberagaman bahasa yang besar ke area dengan keberagaman
bahasa yang kecil. Walau beberapa cendekiawan menduga bahwa jumlah
dari cabang-cabang di antara bahasa-bahasa Taiwan mungkin lebih
sedikit dari perkiraan Blust sebesar 9 (seperti Li 2006), hanya ada
sedikit perdebatan di antara para ahli bahasa dengan analisis dari
keberagaman dan kesimpulan yang ditarik tentang asal dan arah dari
migrasi rumpun bahasa Austronesia.
Bukti dari ilmu arkeologi menyarankan bahwa bangsa Austronesia
bermukim di Taiwan sekitar delapan ribu tahun yang lalu. Dari pulau
ini para pelaut bermigrasi ke Filipina, Indonesia, kemudian ke
Madagaskar dekat benua Afrika dan ke seluruh Samudra Pasifik, mungkin
dalam beberapa tahap, ke seluruh bagian yang sekarang diliputi oleh
bahasa-bahasa Austronesia. Bukti dari ilmu sejarah bahasa menyarankan
bahwa migrasi ini bermula sekitar enam ribu tahun yang lalu. Namun,
bukti dari ilmu sejarah bahasa tidak dapat menjembatani celah antara
dua periode ini.
Pandangan bahwa bukti dari ilmu bahasa menghubungkan bahasa
Austronesia purba dengan bahasa-bahasa Tiongkok-Tibet seperti yang
diajukan oleh Sagart (2002), adalah pandangan minoritas seperti yang
dinyatakan oleh Fox (2004:8):“ Disiratkan dalam diskusi tentang
pengelompokan bahasa-bahasa Austronesia adalah permufakatan bahwa
tanah air bangsa Austronesia berada di Taiwan. Daerah asal ini mungkin
juga meliputi kepulauan Penghu di antara Taiwan dan Cina dan bahkan
mungkin juga daerah-daerah pesisir di Cina daratan, terutama apabila
leluhur bangsa Austronesia dipandang sebagai populasi dari komunitas
dialek yang tinggal pada permukiman pesisir yang terpencar. ”
Analisis kebahasaan dari bahasa Austronesia purba berhenti pada
pesisir barat Taiwan. Bahasa-bahasa Austronesia yang pernah dituturkan
di daratan Cina tidak bertahan. Satu-satunya pengecualian, bahasa
Chamic, adalah migrasi yang baru terjadi setelah penyebaran bangsa
Austronesia.
Penggolongan
Agak sulit untuk mendefinisikan struktur kekeluargaan dari
bahasa-bahasa Austronesia karena rumpun bahasa Austronesia terdiri
dari bahasa-bahasa yang sangat mirip dan berhubungan erat dengan
kesinambungan dialek yang besar sehingga sukar untuk mengenali batasan
di antara cabang. Bahkan pada pembagian terbaik yang ada sekarang
banyak grup di Filipina dan Indonesia dikelompokan dari letak
geografisnya alih-alih dari keterkaitannya antara satu dengan yang
lainnya. Namun adalah jelas bahwa keberagaman genealogis terbesar
ditemukan pada bahasa-bahasa Taiwan dan keberagaman terkecil ditemukan
pada kepulauan Pasifik sehingga mendukung teori penyebaran dari Taiwan
atau Tiongkok.
Famili bahasa-bahasa Formosa sebelum kolonisasi Cina, per Blust
(1999).
Penggolongan bahasa-bahasa Austronesia berikut diajukan oleh
Blust. Penggolongan yang diajukannya bukanlah yang pertama dan bahkan
ia juga mencantumkan paling sedikit tujuh belas penggolongan lainnya
dan mendiskusikan fitur-fitur dan rincian dari pengelompokan tersebut.
Beberapa ahli bahasa Formosa mempertentangkan rincian dari
penggolongan itu namun penggolongan ini dalam garis besar tetap
menjadi titik referensi untuk analisis ilmu bahasa saat ini. Dapat
dilihat bahwa sembilan cabang utama dari bahasa Austronesia kesemuanya
adalah bahasa-bahasa Formosa.
Austronesia
Atayalik (Atayal, Seedik) [nama lain untuk Seediq:Truku, Taroko,
Sediq]
Formosa Timur
Utara (Basai-Trobiawan, Kavalan)
Tengah (Amis, Nataoran, Sakizaya)
Barat Daya (Siraya)
Puyuma
Paiwan
Rukai
Tsouik (Tsou, Saaroa, Kanakanabu)
Bunun
Dataran Rendah Barat
Dataran Tengah-Barat (Taokas-Babuza, Papora-Hoanya)
Thao
Formosa Barat Laut (Saisiyat, Kulon-Pazeh)
Malayo-Polinesia (Lihat di bawah)
Penggolongan bahasa cabang Melayu-Polinesia
Berikut adalah klasifikasi bahasa cabang Melayu-Polinesia yang
disederhanakan oleh Wouk & Ross (2002)
Bahasa Melayu-Polinesia
Bahasa Kalimantan-Filipina atau bahasa Malayo-Polinesia Barat
Luar (Hesperonia Luar): terdiri dari banyak bahasa seperti Dayak
Ngaju, Gorontalo, bahasa Bajau, bahasa-bahasa Minahasa, Tagalog,
Cebuano, Hiligaynon, Ilokano, Kapampangan, Malagasi, dan Tausug
Bahasa Malayo-Polinesia Inti (Kemungkinan menyebar dari Pulau
Sulawesi)
Bahasa Sunda-Sulawesi atau bahasa Malayo-Polinesia Barat Dalam
(Hesperonia Dalam), contoh: Indonesia Barat, Bugis, Aceh, Cham (di
Vietnam dan Kamboja), Melayu, Indonesia, Iban, Sunda, Jawa, Bali,
Chamoru, dan Palau
Bahasa Malayo-Polinesia Tengah-Timur
Bahasa Malayo-Polinesia Tengah atau bahasa Bandanesia: sekitar Laut
Banda yaitu bahasa-bahasa di Pulau Timor, Sumba, Flores, dan juga di
Maluku
Bahasa Malayo-Polinesia Timur atau disebut juga bahasa Melanesia
Halmahera Selatan-Papua Barat-Laut: beberapa bahasa di pulau Halmahera
dan sebelah barat pulau Irian, contohnya bahasa Taba dan bahasa Biak
Bahasa Oseanik: Termasuk semua bahasa-bahasa Austronesia di Melanesia
dari Jayapura ke timur, Polinesia dan sebagian besar Mikronesia
Salah satu cabang terbesar adalah cabang Sundik yang menurunkan
bahasa-bahasa Austronesia dengan jumlah penutur terbesar yaitu: Bahasa
Jawa, Bahasa Melayu (dan Bahasa Indonesia), Bahasa Sunda, Bahasa
Madura, Bahasa Aceh, Bahasa Batak dan Bahasa Bali.
Kekerabatan dengan rumpun bahasa yang lain
Hubungan-hubungan genealogis antara rumpun bahasa Austronesia
dan keluarga bahasa yang lainnya di Asia Tenggara telah diajukan dan
umumnya disebut Filum Bahasa Austrik. Pada hipotesis filum Austrik
dinyatakan bahwa semua bahasa di Tiongkok bagian selatan sebenarnya
berkerabat yaitu rumpun bahasa Austronesia, bahasa Austro-Asia, bahasa
Tai-Kadai dan bahasa Hmong-Mien (juga disebut Miao-Yao).
Secara skematis rumpun bahasa Austrik secara hipotetis adalah sebagai
berikut:
Austrik
Austronesia
Tai-Kadai
Hmong-Mien
Austro-Asiatik
Para penutur keempat rumpun bahasa yang diduga berkerabat ini
bermukim di daerah yang sekarang termasuk Tiongkok bagian selatan
sampai kurang lebih pada antara tahun 2000 SM – 1000 SM. Kala itu suku
bangsa Han, yang merupakan penutur bahasa Sino-Tibet, dari Tiongkok
utara menyerbu ke selatan dan para penutur bahasa Austrik tercerai-
berai. Hal ini yang diduga sebagai alasan mengapa kaum Austronesia
lalu bermigrasi ke Taiwan dan ke kepulauan Asia Tenggara dan Samudra
Pasifik lainnya.
Beberapa hipotesis filum Austrik juga mengajukan akan perubahan
dari akar kata dwisuku kata di mana bahasa Austronesia menyimpan kedua
suku kata sedangkan bahasa Austro-Asiatik menyimpan suku kata pertama
dan bahasa Tai-Kadai menyimpan suku kata kedua. Sebagai
contoh:Austronesia purba *mata ‘mata
Austro-Asiatik purba *măt ‘mata'’
Tai-Kadai purba *taa ‘mata
Namun, satu-satunya proposal dari yang mematuhi metode
perbandingan adalah hipotesis "Austro-Tai" yang menghubungkan rumpun
bahasa Austronesia dengan rumpun bahasa Tai-Kadai. Roger Blench
(2004:12) mengetakan tentang Austro-Tai bahwa:“ Ostapirat
mengasumsikan sebuah model sederhana dari sebuah perpecahan dengan
para Daik [Tai-Kadai] sebagai orang-orang Austronesia yang menetap di
daerah asalnya. Namun hal ini nampaknya tidak mungkin karena Daik
nampak seperti percabangan dari bahasa Filipina Purba dan tidak
mempunyai kerumitan seperti yang dimiliki oleh bahasa-bahasa Formosa.
Mungkin dapat lebih baik dipandang bahwa penutur Daik Purba bermigrasi
kembali dari Filipina utara ke daerah di pulau Hainan. Hal ini dapat
menjelaskan perbedaan dari Hlai, Be, dan Daik sebagai hasil dari
penstrukturan ulang secara radikal karena kontak dengan penutur bahasa-
bahasa Miao-Yao dan Sinitik. ”
Atau dengan kata lain, pengelompokan dibawah Tai-Kadai akan
menjadi cabang dari bahasa Kalimantan-Filipina. Namun, tidak ada dari
proposal tersebut yang mendapat sambutan luas dari komunitas ilmu
bahasa.
Contoh perbandingan kosakata dalam rumpun bahasa pada masing-masing
wilayah[1]Jawa mati pati
Malayu mati
Bugis mate
Malagasi mattē
Tagalog matay patay
Tonga mate
Selandia Baru mate
Tahiti māte
Hawai make
Klasifikasi bahasa Jepang
Telah diajukan juga hipotesis bahwa bahasa Jepang mungkin
adalah saudara jauh dari rumpun bahasa Austronesia. [Ada yang
mengelompokkan bahasa ini dalam rumpun bahasa Austronesia berdasarkan
beberapa kata-kata dan fonologi bahasa Jepang. Namun yang lain
berpendapat bahwa bahasa Jepang termasuk rumpun bahasa Altai dan
terutama mirip dengan cabang bahasa Mongol. Bahasa Korea kemungkinan
besar termasuk rumpun bahasa yang sama pula. Bahasa Korea mirip dengan
bahasa Jepang namun sejauh ini belum ada yang menghubungkannya dengan
rumpun bahasa Austronesia. Namun perlu diberi catatan pula bahwa
rumpun bahasa Altai masih dipertentangkan pula.
Sebagai contoh adalah beberapa kata dari bahasa Jepang yang
diduga berasal dari rumpun bahasa Austronesia:
hi yang berarti api dan berasal dari *PAN (Proto-Austronesia): *Xapuy
ke yang berarti kayu
Beberapa kata dari bahasa Sikka - Maumere (Flores) yang diduga
berasal dari rumpun bahasa Austronesia:
ai yang berarti kayu
api yang berarti api
Hipotesis akan hubungn bahasa Jepang sebagai saudara dari
bahasa-bahasa Austronesia ditolak oleh hampir seluruh pakar ilmu
bahasa karena hanya ada sedikit bukti akan hubungan antara bahasa
Jepang dan rumpun bahasa Austronesia dan kebanyakan ahli bahasa
berpikir bahwa kesamaan yang sedikit ini adalah hasil dari pengaruh
bahasa-bahasa Austronesia pada bahasa Jepang, mungkin melalui
substratum. Mereka yang mengajukan skenario ini menyarankan bahwa
rumpun bahasa Austronesia dulunya pernah meliputi pulau-pulau di utara
dan selatan dari Taiwan. Lebih lanjut, tidak ada bukti genetis untuk
hubungan yang dekat antara penutur bahasa-bahasa Austronesia dan
bahasa-bahasa Japonik, sehingga apabila ada interaksi pra-sejarah
antara penutur bahasa Austronesia purba dengan bahasa Japonik purba
lebih mungkin interaksi itu adalah sebuah pertukaran budaya yang
sederhana alih-alih percampuran etnis yang signifikan. Analisis
genetis menunjukan secara konsisten bahwa orang-orang Ryukyu di antara
Taiwan dan pulau-pulau utama Jepang lebih mirip dengan orang Jepang
daripada orang asli Taiwan. Hal ini menyarankan bahwa apabila ada
interaksi antara bangsa Austronesia purba dan bangsa Japonik purba,
interaksi ini kemungkinan terjadi di benua Asia timur sebelum
pengenalan bahasa-bahasa Austronesia ke Taiwan (atau setidaknya
sebelum kepunahan hipotetis bahasa-bahasa Austronesia dari daratan
Tiongkok), dan bahasa-bahasa Japonik ke Jepang.
Perbendaharaan kata
Rumpun bahasa Austronesia didefinisikan menggunakan metode
perbandingan bahasa untuk menemukan kata-kata yang seasal, yaitu kata-
kata yang mirip dalam bunyi dan makna dan dapat ditunjukan berasal
dari kata yang sama dari bahasa Austronesia purba menurut sebuah
aturan yang regular. Beberapa kata seasal sangatlah stabil, sebagai
contoh kata untuk mata pada banyak bahasa-bahasa Austronesia adalah
"mata" juga mulai dari bahasa paling utara di Taiwan sampai bahasa
paling selatan di Aotearoa.
Di bawah disajikan sebagai contoh untuk menunjukkan
kekerabatan, kata-kata bilangan dari satu sampai sepuluh dalam
beberapa bahasa Austronesia. Catatan: /e/ harus dibaca sebagai taling
(misalkan dalam kata “keras”) dan /é/ sebagai pepet (misalkan dalam
kata “lémpar”). Jika ada kesalahan, para pembaca dipersilakan
memperbaikinya.Bahasa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Proto-Austronesia *esa/isa *duSa *telu *Sepat * lima *enem *pitu *walu
*Siwa *sa-puluq
Paiwan ita dusa celu sepac lima unem picu alu siva ta-puluq
Tagalog isá dalawá tatló ápat limá ánim pitó waló siyám sampû
Ma'anyan Isa' rueh telo epat dime enem pitu Balu' suei sapuluh
Bugis seddi dua téllu eppa lima enneng pitu aruwa asera seppulo
Malagasy iráy róa télo éfatra dímy énina fíto válo sívy fólo
Aceh sa duwa lhee peuet limöng nam tujôh lapan sikureueng plôh
Toba Batak sada dua tolu opat lima onom pitu ualu sia sampulu(baca: /
m/ hilang, menjadi /sappulu/
Bali sa dua telu empat lima enem pitu akutus sia dasa
Sasak esa due telu empat lime enem pitu’ balu’ siwa’ sepulu
Jawa Kuna sa rwa telu pat lima nem pitu wwalu sanga sapuluh
Jawa Baru siji loro telu papat lima nem pitu wolu sanga sepuluh
Sunda hiji dua tilu opat lima genep tujuh dalapan salapan sapuluh
Madura settong dhua tello' empa' léma' ennem pétto' ballu' sanga'
sapolo
Melayu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh
Minangkabau ciék duo tigo ampék limo anam tujuah salapan sambilan
sapuluah
Rapanui tahi rua toru ha rima ono hitu va'u iva 'ahuru
Hawaii `ekahi `elua `ekolu `eha: `elima `eono `ehiku `ewalu `eiwa `umi
Sinama issah duah talluh mpat limah nnom pitu' walu' siam sangpu
Gayo sara roa tulu opat lime onom pitu waloh siwah sepuluh
Sikka-Maumere ha rua telu hutu lima ena pitu walu hiwa puluh
Toraja misa da'dua tallu a'pa' lima annan pitu karua kasera sangpulo
Dawan-Timor mese' nua teoun ha nim ne' hiut fa'un sea bo'es
Rote-Oenale esa rua telu ha lima ne hitu falu sio sanhulu
Sabu- NTT ahi due telu epa lemi ena pidu aru heo hemuru
Basis Data Perbendaharan Kata Bahasa-Bahasa Austronesia
(pranala diberikan dibawah artikel) mencatat kata-kata (dikodekan
menurut keseasalan) untuk sekitar 500 bahasa Austronesia.
Tipologi dan struktur
Sukar untuk menarik sebuah generalisasi yang berarti tentang
bahasa-bahasa yang menyusun rumpun yang seberagam rumpun bahasa
Austronesia. Pada garis besarnya, bahasa-bahasa Austronesia dapat
dibagi menjadi tiga kelompok bahasa: tipe Filipina, tipe Indonesia,
dan tipe pasca-Indonesia [8]. Kelompok yang pertama diwatakkan dengan
urutan kata kata kerja-pertama dan pengubahan suara gramatik ala
bahasa Filipina, fenomena yang seringkali dirujuk sebagai pemfokusan.
Literatur yang berhubungan mulai menjauhi penggunaan istilah ini
karena banyak ahli bahasa merasa bahwa fenomena pada bahasa bertipe
ini lebih baik disebut sebagai suara gramatik.
Bahasa-bahasa Austronesia umumnya menggunakan pengulangan kata.
Fonologi bahasa-bahasa Austronesia tergolong sederhana dengan
aturan pembentukan suku kata yang sangat terbatas dan jumlah fonem
yang sedikit. Banyak dari bahasa-bahasa Austronesia tidak
memperbolehkan sukukata dan gugusan konsonan. Beberapa bahasa memang
memiliki gugusan-gugusan konsonan namun ini merupakan pengaruh dari
bahasa-bahasa lain, terutama dari bahasa Arab, bahasa Sansekerta, dan
bahasa Indo-Eropa lainnya.
Beberapa bahasa bahkan meminjam fonem dari bahasa lain seperti
retrofleks dalam bahasa Jawa dan fonem berhembus dalam bahasa Madura
yang diduga dipinjam dari Sansekerta. Namun banyak para pakar yang
menentang bahwa fonem-fonem ini dipinjam dari bahasa Sansekerta.
Mereka berpendapat bahwa fonem-fonem ini merupakan perkembangan
sendiri saja.
Jumlah penutur
Secara total jumlah penutur bahasa Austronesia sekitar 300 juta
jiwa. Berikut adalah bahasa-bahasa Austronesia diurutkan dari bahasa
dengan penutur terbanyak.
Jumlah penutur bahasa-bahasa AustronesiaBahasa Jumlah Penutur
Sebagai Bahasa Ibu Sebagai Bahasa Resmi
Bahasa Jawa 76.000.000
Bahasa Sunda 20.000.000
Bahasa Melayu 19.000.000*
Bahasa Indonesia 25.000.000* 220.000.000
Bahasa Tagalog 24.000.000 70.000.000
Bahasa Cebu 15.000.000 30.000.000
Bahasa Malagasy 17.000.000
Bahasa Batak 14.000.000
Bahasa Madura 14.000.000
Bahasa Ilokano 8.000.000 10.000.000
Bahasa Minangkabau 7.000.000
Bahasa Hiligaynon 7.000.000 11.000.000
Bahasa Bikol 4.600.000
Bahasa Banjar 4.500.000
Bahasa Bali 4.000.000
Bahasa Bugis 4.000.000
Bahasa Tetum 800.000
Bahasa Samoa 370.000
Bahasa Fiji 350.000 550.000
Bahasa Tahiti 120.000
Bahasa Tonga 108.000
Bahasa Māori 100.000
Bahasa Kiribati 100.000
Bahasa Chamorro 60.000
Bahasa M̧ajeļ 44.000
Bahasa Nauru 6.000
Bahasa Hawai'i 1.000 8.000
Status resmi
Bahasa Austronesia terpenting ditilik dari status resminya
ialah bahasa Melayu, yang menjadi bahasa resmi di Indonesia (sebagai
bahasa Indonesia), Malaysia, dan Brunei. Bahasa Indonesia juga
berstatus bahasa kerja di Timor Leste m. Bahasa Filipina (Filipino),
yang merupakan bentuk baku dari bahasa Tagalog, adalah bahasa resmi
Filipina. Di Timor Leste, bahasa Tetum, yang juga termasuk sebuah
bahasa Austronesia, menjadi bahasa resmi di samping bahasa Portugis.
Di Madagaskar, bahasa Malagasi adalah bahasa resmi. Di Aotearoa
(Selandia Baru), bahasa Maori juga memiliki status bahasa resmi di
samping bahasa Inggris.
Daftar pustaka
Bellwood, Peter, 1979, Man’s Conquest of the Pacific. The Prehistory
of Southeast Asia and Oceania, New York: Oxford University Press.
Bellwood, Peter, 1985, Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago,
Orlando, Florida: Academic Press.
Bellwood, Peter, 1987, The Polynesians: Prehistory of an Island
People, New York: Oxford University Press.
P. Benedict, 1975, Austro-Thai Language and Culture. With a Glossary
of Roots, New Haven: HRAF Press.
O.C. Dahl, 1951, Malgache et Maanjan., Oslo: Egede Instituttet.
Dempwolff, Otto, 1956, Perbendaharaan Kata-kata dalam Berbagai Bahasa
Polinesia, Terjemahan Sjaukat Djajadiningrat. Jakarta: Pustaka Rakyat.
Diamond, Jared, 1997, Guns, Germs and Steel, W.W. Norton & Company.
Isidore Dyen, 1956, “Language Distribution and Migration Theory”, di
Language, 32: 611-626.
Fox, James J., 1995, Austronesian societies and their transformations,
Canberra: Department of Anthropology, Research School of Pacific and
Asian Studies, The Australian National University.
Kern, Hendrik, 1956, Pertukaran Bunyi dalam Bahasa-bahasa Melayu-
Polinesia, Terjemahan Sjaukat Djajadiningrat. Jakarta: Pustaka Rakyat.
Hendrik Kern, 1957, Berbagai-bagai Keterangan berdasarkan Ilmu Bahasa
dipakai untuk Menetapkan Negeri Asal Bahasa-Bahasa Melayu-Polinesia,
Terjemahan Sjaukat Djajadiningrat. Jakarta: Pustaka Rakyat.
Wolff, John U., "Comparative Austronesian Dictionary. An Introduction
to Austronesian Studies", Language, vol. 73, no. 1, pp. 145-56, Mar
1997, ISSN-0097-8507
Melanesia
Peta kawasan Melanesia
Melanesia (dari bahasa Yunani "pulau hitam") adalah sebuah wilayah
yang memanjang dari Pasifik barat sampai ke Laut Arafura, utara dan
timur laut Australia. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Jules
Dumont d'Urville pada 1832 untuk menunjuk ke sebuah etnis dan
pengelompokan pulau-pulau yang berbeda dari Polinesia dan Mikronesia.
Sekarang ini, klasifikasi rasial d'Urville dianggap tidak tepat sebab
dia menutupi keragaman budaya, linguistik, dan genetik Melanesia dan
sekarang ini hanya digunakan untuk penamaan geografis saja.
Negara-negara yang termasuk ke dalam Melanesia yaitu:
Fiji
Papua Nugini
Kepulauan Solomon
Vanuatu
Kaledonia Baru
Maluku, Indonesia
Maluku Utara, Indonesia
Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Papua, Indonesia
Papua Barat, Indonesia
Sebagai tambahan, negara Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Solomon,
Vanuatu, dan Kaledonia Baru (yang merupakan dependensi Perancis)
menggunakan istilah ini untuk menggambarkan diri mereka sendiri karena
mencerminkan sejarah kolonial dan situasi regional umum yang serupa.
Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya
sendiri; Di Indonesia terdapat lebih dari 3000 tarian asli Indonesia.
Tradisi kuno tarian dan drama dilestarikan di berbagai sanggar dan
sekolah seni tari yang dilindungi oleh pihak keraton atau akademi seni
yang dijalankan pemerintah.[1]
Keraton
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Keraton atau kraton (bahasa Jawa) adalah daerah tempat seorang
penguasa (raja atau ratu) memerintah atau tempat tinggalnya (istana).
Dalam pengertian sehari-hari, keraton sering merujuk pada istana
penguasa di Jawa. Dalam bahasa Jawa, kata kraton (ke-ratu-an) berasal
dari kata dasar ratu yang berarti penguasa. Kata Jawa ratu berkerabat
dengan kata dalam bahasa Melayu; datuk/datu. Dalam bahasa Jawa sendiri
dikenal istilah kedaton yang memiliki akar kata dari datu, di Keraton
Surakarta istilah kedaton merujuk kepada kompleks tertutup bagian
dalam keraton tempat raja dan putra-putrinya tinggal. Masyarakat
Keraton pada umumnya memiliki gelar kebangsawanan.
[sunting]
Keraton-keraton di IndonesiaNama Keraton Nama Kerajaan Provinsi
Keraton Surosowan
Kesultanan Banten
Banten
Keraton Kaibon
Kesultanan Banten
Banten
Keraton Kasepuhan
Kesultanan Cirebon
Jawa Barat
Keraton Kanoman
Kesultanan Cirebon
Jawa Barat
Keraton Kacirebonan
Kesultanan Cirebon
Jawa Barat
Keraton Sumedang Larang
Kerajaan Sumedang Larang
Jawa Barat
Keraton Surakarta Hadiningrat
Kasunanan Surakarta Hadiningrat
Jawa Tengah
Pura Mangkunegaran
Praja Mangkunagaran
Jawa Tengah
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
D.I. Yogyakarta
Pura Paku Alaman
Kadipaten Paku Alaman
D.I. Yogyakarta
Keraton Sumenep
Kadipaten Sumenep
Jawa Timur
Kedaton Kutai Kartanegara
Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura
Kalimantan Timur
Lihat pula
Untuk keperluan penggolongan, seni tari di Indonesia dapat digolongkan
ke dalam berbagai kategori. Dalam kategori sejarah, seni tari
Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga era: era kesukuan prasejarah, era
Hindu-Buddha, dan era Islam. Berdasarkan pelindung dan pendukungnya,
dapat terbagi dalam dua kelompok, tari keraton (tari istana) yang
didukung kaum bangsawan, dan tari rakyat yang tumbuh dari rakyat
kebanyakan. Berdasarkan tradisinya, tarian Indonesia dibagi dalam dua
kelompok; tari tradisional dan tari kontemporer.
Era sejarah
Tari bercorak prasejarah atau tari suku pedalaman
Tari perang Papua dari Kabupaten Kepulauan Yapen.
Tari Kabasaran, Minahasa Sulawesi Utara.
Sebelum bersentuhan dengan pengaruh asing, suku bangsa di kepulauan
Indonesia sudah mengembangkan seni tarinya tersendiri, hal ini tampak
pada berbagai suku bangsa yang bertahan dari pengaruh luar dan memilih
hidup sederhana di pedalaman, misalnya di Sumatra (Suku Batak, Nias,
Mentawai), di Kalimantan (Dayak, Punan, Iban), di Jawa (Badui),
Sulawesi (Toraja, Minahasa), Kepulauan Maluku dan Papua (Dani, Asmat,
Amungme).
Banyak ahli antropologi percaya bahwa tarian di Indonesia berawal dari
gerakan ritual dan upacara keagamaan.[2] Tarian semacam ini biasanya
berawal dari ritual, seperti tari perang, tarian dukun untuk
menyembuhkan atau mengusir penyakit, tarian untuk memanggil hujan, dan
berbagai jenis tarian yang berkaitan dengan pertanian seperti tari
Hudoq suku Dayak. Tarian lain diilhami oleh alam, misalnya Tari Merak
dari Jawa Barat. Tarian jenis purba ini biasanya menampilkan gerakan
berulang-ulang seperti tari Tor-Tor suku Batak dari Sumatra Utara.
Tarian ini juga bermaksud untuk membangkitkan roh atau jiwa yang
tersembunyi dalam diri manusia, juga dimaksudkan untuk menenangkan dan
menyenangkan roh-roh tersebut. Beberapa tarian melibatkan kondisi
mental seperti kesurupan yang dianggap sebagai penyaluran roh ke dalam
tubuh penari yang menari dan bergerak di luar kesadarannya. Tari
Sanghyang Dedari adalah suci tarian istimewa di Bali, dimana gadis
yang belum beranjak dewasa menari dalam kondisi mental tidak sadar
yang dipercaya dirasuki roh suci. Tarian ini bermaksud mengusir roh-
roh jahat dari sekitar desa. Tari Kuda Lumping dan tari keris juga
melibatkan kondisi kesurupan.
Tari bercorak Hindu-Buddha
Lakshmana, Rama dan Shinta dalam sendratari Ramayana di Prambanan,
Jawa.
Dengan diterimanya agama dharma di Indonesia, Hinduisme dan Buddhisme
dirayakan dalam berbagai ritual suci dan seni. Kisah epik Hindu
seperti celebrated Ramayana, Mahabharata dan juga Panji menjadi ilham
untuk ditampilkan dalam tari-drama yang disebut "Sendratari"
menyerupai "ballet" dalam tradisi barat. Suatu metode tari yang rumit
dan sangat bergaya diciptakan dan tetap lestari hingga kini, terutama
di pulau Jawa dan Bali. Sendratari Jawa Ramayana dipentaskan secara
rutin di Candi Prambanan, Yogyakarta; sementara snedratari yang
bertema sama dalam versi Bali dipentaskan di berbagai Pura di seluruh
pulau Bali. Tarian Jawa Wayang orang mengambil cuplikan dari episode
Ramayana atau Mahabharata. Akan tetapi tarian ini sangat berbeda
dengan versi India. Meskipun sikap tubuh dan tangan tetap dianggap
penting, tarian Indonesia tidak menaruh perhatian penting terhadap
mudra sebagaimana tarian India: bahkan lebih menampilkan bentuk lokal.
Tari keraton Jawa menekankan kepada keanggunan dan gerakannya yang
lambat dan lemah gemulai, sementara tarian Bali lebih dinamis dan
ekspresif. Tari ritual suci Jawa Bedhaya dipercaya berasal dari masa
Majapahit pada abad ke-14 bahkan lebih awal, tari ini berasal dari
tari ritual yang dilakukan oleh gadis perawan untuk memuja Dewa-dewa
Hindu seperti Shiwa, Brahma, dan Wishnu.
Di Bali, tarian telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual suci
Hindu dharma. Beberapa ahli percaya bahwa tari Bali berasal dari
tradisi tari yang lebih tua dari Jawa. Relief dari candi di Jawa Timur
dari abad ke-14 menampilkan mahkota dan hiasan kepala yang serupa
dengan hiasan kepala yang digunakan di tari Bali kini. Hal ini
menampilkan kesinambungan tradisi yang luar biasa yang tak terputus
selama sedikitnya 600 tahun. Beberapa tari sakral dan suci hanya boleh
dipergelarkan pada upacara keagamaan tertentu. Masing-masing tari Bali
memiliki kegunaan tersendiri, mulai dari tari suci untuk ritual
keagamaan yang hanya boleh ditarikan di dalam pura, tari yang
menceritakan kisah dan legenda populer, hingga tari penyambutan dan
penghormatan kepada tamu seperti tari pendet. Tari topeng juga sangat
populer di Jawa dan Bali, umumnya mengambil kisah cerita Panji yang
dapat dirunut berasal dari sejarah Kerajaan Kediri abad ke-12. Jenis
tari topeng yang terkenal adalah tari topeng Cirebon dan topeng Bali.
[sunting]
Tari bercorak Islam
Tari Saman dari Aceh.
Sebagai agama yang datang kemudiam, Agama Islam mulai masuk ke
kepulauan Nusantara ketika tarian asli dan tarian dharma masih
populer. Seniman dan pneari masih menggunakan gaya dari era
sebelumnya, menganti kisah cerita yang lebih berpenafsiran Islam dan
busana yang lebih tertutup sesuai ajaran Islam. Pergantian ini sangat
jelas dalam Tari Persembahan dari Jambi. Penari masih dihiasi
perhiasan emas yang rumit dan raya seperti pada masa Hindu-Buddha,
tetapi pakaiannya lebih tertutup sesuai etika kesopanan berbusana
dalam ajaran Islam.
Era baru ini membawa gaya baru dalam seni tari: Tari Zapin Melayu dan
Tari Saman Aceh menerapkan gaya tari dan musik bernuansa Arabia dan
Persia, digabungkan dengan gaya lokal menampilkan generasi baru tarian
era Islam. Digunakan pula alat musik khas Arab dan Persia, seperti
rebana, tambur, dan gendang yang menjadi alat musik utama dalam tarian
bernuansa Islam, begitu pula senandung nyanyian pengiring tarian yang
mengutip doa-doa Islami.
Tari keraton
Tari Golek Ayun-ayun, dari Keraton Yogyakarta
Tari Jaipongan, tari tradisi rakyat Sunda
Tarian di Indonesia mencerminkan sejarah panjang Indonesia. Beberapa
keluarga bangsawan; berbagai istana dan keraton yang hingga kini masih
bertahan di berbagai bagian Indonesia menjadi benteng pelindung dan
pelestari budaya istana. Perbedaan paling jelas antara tarian istana
dengan tarian rakyat tampak dalam tradisi tari Jawa. Strata masyarakat
Jawa yang berlapis-lapis dan bertingkat tercermin dalam budayanya.
Jika golongan bangsawan kelas atas lebih memperhatikan pada kehalusan,
unsur spiritual, keluhuran, dan keadiluhungan; masyarakat kebanyakan
lebih memperhatikan unsur hiburan dan sosial dari tarian. Sebagai
akibatnya tarian istana lebih ketat dan memiliki seperangkat aturan
dan disiplin yang dipertahankan dari generasi ke generasi, sementara
tari rakyat lebih bebas, dan terbuka atas berbagai pengaruh.
Perlindungan kerajaan atas seni dan budaya istana umumnya digalakkan
oleh pranata kerajaan sebagai penjaga dan pelindung tradisi mereka.
Misalnya para Sultan dan Sunan dari Keraton Yogyakarta dan Keraton
Surakarta terkenal sebagai pencipta berbagai tarian keraton lengkap
dengan komposisi gamelan pengiring tarian tersebut. Tarian istana juga
terdapat dalam tradisi istana Bali dan Melayu, yang bisanya—seperti di
Jawa—juga menekankan pada kehalusan, keagungan dan gengsi. Tarian
Istana Sumatra seperti bekas Kesultanan Aceh, Kesultanan Deli di
Sumatra Utara, Kesultanan Melayu Riau, dan Kesultanan Palembang di
Sumatra Selatan lebih dipengaruhi budaya Islam, sementara Jawa dan
Bali lebih kental akan warisan budaya Hindu-Buddhanya.
Tari rakyat
Tarian Indonesia menunjukkan kompleksitas sosial dan pelapisan
tingkatan sosial dari masyarakyatnya, yang juga menunjukkan kelas
sosial dan derajat kehalusannya. Berdasarkan pelindung dan
pendukungya, tari rakyat adalah tari yang dikembangkan dan didukung
oleh rakyat kebanyakan, baik di pedesaan maupun di perkotaan.
Dibandingkan dengan tari istana (keraton) yang dikembangkan dan
dilindungi oleh pihak istana, tari rakyat Indonesia lebih dinamis,
enerjik, dan relatif lebih bebas dari aturan yang ketat dan disiplin
tertentu, meskipun demikian beberapa langgam gerakan atau sikap tubuh
yang khas seringkali tetap dipertahankan. Tari rakyat lebih
memperhatikan fungsi hiburan dan sosial pergaulannya daripada fungsi
ritual.
Tari Ronggeng dan tari Jaipongan suku Sunda adalah contoh yang baik
mengenai tradisi tari rakyat. Keduanya adalah tari pergaulan yang
lebih bersifat hiburan. Seringkali tarian ini menampilkan gerakan yang
dianggap kurang pantas jika ditinjau dari sudut pandang tari istana,
akibatnya tari rakyat ini seringkali disalahartikan terlalu erotis
atau terlalu kasar dalam standar istana. Meskipun demikian tarian ini
tetap berkembang subur dalam tradisi rakyat Indonesia karena didukung
oleh masyarakatnya. Beberapa tari rakyat tradisional telah
dikembangkan menjadi tarian massal dengan gerakan sederhana yang
tersusun rapi, seperti tari Poco-poco dari Minahasa Sulawesi Utara,
dan tari Sajojo dari Papua.
Tari tradisional
Tari tradisional Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman
bangsa Indonesia. Beberapa tradisi seni tari seperti; tarian Bali,
tarian Jawa, tarian Sunda, tarian Minangkabau, tarian Palembang,
tarian Melayu, tarian Aceh, dan masih banyak lagi adalah seni tari
yang berkembang sejak dahulu kala, meskipun demikian tari ini tetap
dikembangkan hingga kini. Beberapa tari mungkin telah berusia ratusan
tahun, sementara beberapa tari berlanggam tradisional mungkin baru
diciptakan kurang dari satu dekade yang lalu. Penciptaan tari dengan
koreografi baru, tetapi masih di dalam kerangka disiplin tradisi tari
tertentu masih dimungkinkan. Sebagai hasilnya, muncullah beberapa tari
kreasi baru. Tari kreasi baru ini dapat merupakan penggalian kembali
akar-akar budaya yang telah sirna, penafsiran baru, inspirasi atau
eksplorasi seni baru atas seni tari tradisional.
Sekolah seni tertentu di Indonesia seperti Sekolah Tinggi Seni
Indonesia (STSI) di Bandung, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di
Jakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) yang tersebar di Denpasar,
Yogyakarta, dan Surakarta kesemuanya mendukung dan menggalakkan
siswanya untuk mengeksplorasi dan mengembangkan seni tari tradisional
di Indonesia. Beberapa festival tertentu seperti Festival Kesenian
Bali dikenal sebagai ajang ternama bagi seniman tari Bali untuk
menampilkan tari kreasi baru karya mereka.
[sunting]
Tari kontemporer
Tari modern pengiring pagelaran musik
Seni tari kontemporer Indonesia meminjam banyak pengaruh dari luar,
seperti tari ballet dan tari modern barat. Pada tahun 1954, dua
seniman dar Yogyakarta — Bagong Kusudiarjo dan Wisnuwardhana —
merantau ke Amerika Serikat untuk belajar ballet dan tari modern
dengan berbagai sanggar tari disana. Ketika kembali ke Indonesia pada
tahun 1959 mereka membawa budaya berkesenian baru, yang pada akhirnya
mengubah arah, wajah dan pergerakan dan koreografi baru, mereka
memperkenalkan gagasan seni tari sebagai ekspresi pribadi sang seniman
ke dalam seni tari Indonesia.[3] Gagasan seni tari sebagai media
ekspresi pribadi seniman telah membangkitkan seni tari Indonesia, dari
yang semula selalu berlatar tradisi menjadi ekspresi seni, melalui
paparan sang seniman terhadap berbagai latar belakang seni dan budaya
yang lebih luas dan kaya. Seni tari tradisional Indonesia juga banyak
memengaruhi seni tari kontemporer di Indonesia, misalnya langgam tari
Jawa berupa pose dan sikap tubuh serta keanggunan gerakan seringkali
muncul dalam pagelaran seni tari kontemporer di Indonesia. Kolaborasi
internasional juga dimungkinkan, misalnya kolaborasi seni tari Jepang
Noh dengan seni tari teater tradisional Jawa dan Bali.
Tari modern Indonesia juga seringkali ditampilkan dalam dunia industri
hiburan dan pertunjukan Indonesia, misalnya tarian pengiring nyanyian,
pagelaran musik, atau panggung hiburan. Kini dengan derasnya pengaruh
budaya pop dari luar negeri, terutama dari Amerika serikat, beberapa
tari modern seperti tari jalanan (street dance) juga merebut perhatian
kaum muda Indonesia.