PAMERAN SENI RUPA 2011

210 views
Skip to first unread message

N FATAH

unread,
Nov 25, 2011, 5:29:16 AM11/25/11
to ISSI ( Ikatan Sarjana Seni Indonesia )
Belasan Pelukis Jawa Barat Pameran Di Cirebon

20 November 2011 09:45:04 0
Penulis : rep-pun

BANDUNG - “Pameran Seni Rupa Tenda: Selusin Pelukis Plus” yang
digelar Multi Arta Mayida Event Organizerkembali akan dilaksanakan.
Kali ini bertempat di Pusdiklat RI Jalan. Dr. Cipto Cirebon, 25 – 27
Nopember 2011
“ini adalah pameran seni rupa karya 14 orang Pelukis ternama
di Jawa Barat yang diselenggarakan di dalam tenda berukuran 21 x 9 x
5 meter yang dirancang khusus untuk pameran tersebut. Pameran ini
merupakan bagian dari acara Kirab Seni-Budaya Jabar,” ujar Koko
Sondari ,direktur Multi Arta Mayida Event Organizer dalam jumpa pers
di Bandung kemarin
Pameran akan menampilkan karya-karya dari : Acep Zamzam Noor,
Anggiat Tornado, Deden Sambas, Diyanto, Eddy Hermanto, Hanafi, Herry
Dim, Heyi Makmun, Isa Perkasa, Iwan Koeswana, Sam Bimbo, Rosid,
Setiawan Sabana dan Tisna Sanjaya ditambah
karya terpilih dari daerah Cirebon yakni Hariyadi Suardi dan dua
pelukis kaca terkenal Rastika dan Toto Sunu
Pameran Seni Rupa Tenda: Selusin Pelukis Plus,disamping
sebagai ajang apresiasi bagi masyarakat yang tinggal di kota/
kabupaten, juga memberikan kesempatan kepada pelukis-pelukis setempat
untuk bersama-sama memamerkan karyanya. Mereka juga dapat saling
bertukar informasi dan berproses kreatif bersama-sama
Untuk memeriahkan acara tersebut, akan diselenggarakan juga
demo melukis yang menampilkan Acep Zamzam Noor, Deden Sambas, Eddy
Hermanto, Hanafi, Herry Dim, Isa Perkasa, Rosid, Tisna Sanjaya dan
sebagainya. Disamping demo melukis, para pelukis handal ini akan
mengadakan juga Happening Art yang oleh seniman Bandung biasa disebut
ngajeprut.

=====================================================================

Proyek Seni KAAP 2011 di Belanda (Mella Jaarsma, Nindityo Adipurnomo
dan Tintin Wulia)

KAAP adalah pameran seni rupa aktual dari sepuluh proyek seni
karya sepuluh orang seniman, digarap secara khusus peruntukannya bagi
seluruh anggota keluarga.
KAAP merupakan rute penemuan yang unik dari pengembaraan
avontur di dalam sebuah bunker benteng Ruigenhoek di Groenekan
Belanda. Pada Edisi ke enam KAAP ini, sepuluh macam proyek seni
dikerjakan oleh seniman-seniman dari seluruh penjuru dunia; KAAP
mengundang mereka untuk bekerja secara khusus bagi anak-anak.
Frank Koolen misalnya menunjukkan bahwa di masa mendatang
benteng seperti Ruigenhoek bisa menjadi tempat kunjungan arkeologis.
Pilvi Takala membebaskan anda bermain dengan uang sungguh-sunguh
layaknya suatu mainan. Seberapa jujurkah anda? Yeondoo Jung minta
kepada anak-anak di Belanda melihat bapaknya sendiri kemudian
memvisualisasikannya dalam foto. Birthe Leemeijer yang ingin
menunjukkan pada anda yang paling indah yang ia kenal dan meminta pada
anda untuk melakukan sesuatu. Tintin Wulia mempertontonkan dunia
mempergunakan peta yang tersusun dari pot-pot bunga yang bermekaran.
Rini Hurkmans dan Hans Scholten bersama-sama mencari perbedaan dan
titik-titik temu beberapa kota. Di dalam benteng anda akan mengalami
avontur perjalanan kota mereka. Erica van Loon membuat karya seni
dimana ia mempergunakan patungnya untuk meneliti alam. Kalau anda
benar-benar berdiri di atas sepatu-sepatunya Mella Jaarsma dan
Nindityo Adipurnomo, anda akan mengalami kembali penemuan-penemuan
dari perantauan panjang. Yoko Semaya dan Lindsey Housden membuat
sesuatu dari bukit bunker benteng Ruigenhoek menjadi permainan
organisme yang hidup.
Benteng Ruigenhoek terbentang di atas padang rumput serta
merupakan batas garis air Belanda. Pameran dibuka pada hari Minggu
tanggal 29 Mei 2011 pukul 15.00 dan mulai terbuka untuk dikunjungi
umum pada tanggal 3 Juni 2011.
Proyek KAAP ini atas inisiasi seorang kurator Tiong Ang dan
Thomas Peutz, pendiri sekaligus direktur Smaart Project Space in
Amsterdam. Kunjungilah website mereka di www.kaapweb.nl
Diterjemahkan bebas dari Undangan Pembukaan KAAP oleh Petra
Blok – Direktur Yayasan Storm Belanda

=====================================================================

6 Perupa Jogja Pameran di Surabaya
Jum'at, 04 November 2011 10:25:25 WIB
Reporter : Ribut Wijoto

Surabaya (beritajatim.com) - Ini adalah sebuah peristiwa
langka, 6 orang perupa asal Jogja yang dikenal kritis dalam pemikiran
dan gagasan ini berkumpul dan melakukan proses berkarya sekaligus
pameran bersama di Surabaya.
Pameran bukan di Galeri Besar, tapi di kampus seni. Tepatnya di
Galeri Rangkuti Kampus STKW, Jl Klampis Anom II, Wisma Mukti,
Sukolilo, Surabaya. Peserta Ugo Untoro, Bob 'Sick' Yudhita, S. Teddy
D, Yustony Volunteero, Tohjaya Tono, Cahyo Basuki 'Yopi'.
Ugo Untoro memiliki kedekatan tersendiri dengan kampus STKW
karena sebelum ia menjadi perupa yang cukup diperhitungkan di dunia
senirupa internasional, ia pernah beberapa bulan berproses di kampus
ini.
Bob Sick, S Teddy, dan Ugo adalah 3 sahabat karib yang unik
pada awal karir sebagai perupa. Kisah mereka dapat dibaca dalam buku
tulisan Omi Intan Naomi "Warna Angin dan Bunyi Sunyi Antara Ujung
Rokok dan Korek Api (17 Tahun Seni Rupa Ugo Untoro, 1989-2006)".
Adapun Tony Volunteero adalah Presiden Pertama Lembaga Budaya
Kerakyatan Taring Padi. Bob Sick juga termasuk pendiri pertama Taring
Padi. Sekadar diketahui, Taring Padi dikenal melalui gerakan reformasi
tahun 1997. Ketika itu, mereka memilih jalur turun ke kaum pinggiran,
untuk melakukan pendidikan politik bagi masyarakat grass root. [but]

Rangkaian acara Pameran Senirupa "FINE WINE at 9:
5 November 2011, pukul 14.30 WIB (Artis Talk)
5 November 2011 pukul 19.00 WIB (Pembukaan)
5-19 November 2011 (Pameran)

=====================================================================

Pameran “Influx” FSR ISI Yogyakarta, Kreatifitas Bermain, Eksperimen
dan Ujicoba
November 21st, 2011 | 08:38
Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta menyelenggarakan pameran
karya mahasiswa pada Kamis-Senin (17-21/11) di Jogja
Galery,Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan pameran rutin tahunan yang
pada tahun ini adalah tahun yang ketiga.
Pameran kali ini bertajuk “Influx” yang dihasratkan dapat
menyampaikan pesan universal, yakni sebagai kode yang menandai
semangat berkarya mahasiswa Fakultas Seni rupa (FSR) Institute Seni
Indonesia (ISI) Yogyakarta yang pada praktiknya mereka menjalankan
kreativitasnya dengan mengalir, saling menyerap dan mempengaruhi.
Inilah satu karakter dari lembaga pendidikan tinggi seni FSR
ISI Yogyakarta, bahwa di dalam tubuh FSR yang memiliki tiga jurusan;
kriya, desain dan seni murni, sesungguhnya berasal dari satu muara,
dimana masing-masing program studi mengalir karakternya masing –
masing.
Diksi flux/flaks/-n dalam kamus The New Oxford American
Dictionary memiliki arti 1)the action or procces of flowing or flowing
out, 2) Continuos change. Dapat kiranya dengan bebas diterjemahkan
sebagai aksi atau proses yang mengalir.
“Flux” juga bermakna sebuah perubahan berlanjut. Dalam bahasa
latin disebut fluxus, dari kata fuere yang artinya ‘to flow’ atau
mengalir.
Kata ‘flux’ dalam sejarah seni tidak asing lagi. Image kata itu
melekat pada gerakan ‘fluxus’ di Eropa pada masa silam. Sebuah
kreativitas yang mengutamakan permainan, eksperimen dan uji-coba.
Gerakan itu memiliki semangat untuk terus menciptakan kode-kode
estetik dan pemikiran baru. Pengaruh gerakan itu menghasilkan berbagai
kode estetik baru, baik dalam seni murni dan terapan.
Meminjam semangat kaum fluxus, maka semangat seperti itu bisa
menggambarkan jiwa mahasiswa seni rupa yang ingin selalu menghasiklkan
karya yang segar, memiliki kualitas eksperimen tinggi, menerobos sekat-
sekat.
“Influx”, yang kemudian berarti “dalam sesuatu yang mengalir;
tumbuh, berkembang’. Karya-karya yang ditengarai memuat spirit semacam
itulah, yang akan disajikan dalam pameran mahasiswa FSR ISI Yogyakarta
“inlux”.
Ketua panitia pameran ini adalah P. Gogor Bangsa, S.sn. , M.Sn,
melibatkan Tim kurator yang dikoordinasi oleh Drs. Suwarno
Wisetrotomo, M. Hum, dan tim Artistik yang dikoordinasi oleh
Widyatmoko S.Sn., M. Sn.S. (Jogjanews.com/Nilu)

=====================================================================

Pameran Tunggal “Pesan Cinta” Harsono Sapuan, Imaji Kehidupan Penuh
Kebahagiaan
November 17th, 2011 | 12:55

Sebanyak 30 karya lukis oil, acrylic dan sketsa ditampilkan
perupa dari Gresik yang tinggal di Yogyakarta, Harsono Sapuan di Tembi
Rumah Budaya Yogyakarta, Rabu (16/11) hingga Selasa (6/12). Harsono
Sapuan menghadirkan tema “Pesan Cinta” pada pameran yang keduanya di
tahun 2011 ini.
Pembukaan pameran tunggal “Pesan Cinta” pada Rabu malam
menghadirkan suasana berbeda dari pameran-pameran umumnya digelar di
Yogyakarta.
Harsono Sapuan mengajak para seniman sastra dari Yogyakarta dan
luar Yogyakarta untuk mementaskan karya sastra mereka di Amphiteater
Tembi Rumah Budaya Yogyakarta.
Mereka adalah Arieyoko (Bojonegoro), Anisa Afsal ( Sukabumi ),
Indra Ning Listiani ( Tegal ), Catur Mulyadi ( Pekalongan ), Bambang
Oeban ( Jakarta ), Mayda Akmal ( Yogyakarta ), Sri Harjanto Sahid
( Yogyakarta ), Hari Leo ( Yogyakarta ), Mardi Luhung ( Gresik ).
Selain itu juga dipentaskan art performance dari seniman Nong
Resti dari Sukabumi dan Ben Goyang Resah (Yogyakarta). Pameran dibuka
oleh Ki Medi Sumiarno (Juru Kunci Cupi Panjolo). Seratusan penonton
menyaksikan pembacaan karya sastra puisi dan cerpen.
Pameran “Pesan Cinta” terinspirasi dari pengalaman hidup
Harsono Sapuan yang hadir melalui mimpi, harapan, kecemasan, ketidak
puasan dan perasaan cinta yang romantis yang kuat melekat yang
mempengaruhi alam pikir secara sadar maupun tidak sadar muncul dalam
kanvas Harsono Sapuan.
“Bagiku proses berkarya tidak saja ketika aku berhadapan dengan
kanvas, tapi segala pengalaman dalam kehidupanku ketika masih kecil
sampai dewasa sampai berkeluarga serta kejadian diluar diriku menjadi
sumber inspirasi yang luar biasa,” terang pria yang memperoleh
penghargaan anugerah Khatulistiwa Award tahun 2010 ini.
Mohamad Sobary dalam catatan pamerannya mengatakan karya lukis
Harsono Sapuan merupakan imajinasi tentang hidup yang menggembirakan
yang mencerminkan dunia kegembiraan milik Harsono Sapuan.
Karya berjudul Story Night misalnya menurut Mohammad Sobary
menampilka ribuan cerita tentang malam yang penuh roman, keindahan.
Bunyi seruling yang ditiup di puncak segala kegembiraan. Malam juga
kegembiraan naik motor tanpa gangguan.
“Ini sekedar contoh bahwa hidup itu kegembiraan,” ujar Mohamad
Sobary menggambarkan lukisan “Story Night” yang menampilkan kehidupan
malam hari sebuah kota dimana diatas kota itu ada sosok wanita sedang
memainkan serulingnya.
Demikian pula pada karya berjudul Tjap Toegoe Monas (145 cm x
195 cm, acrylic on canvas, 2008) yang diciptakan Harsono Sapuan yang
menghadirkan pasemon (menyindir halus) dengan idion senyum dan tawa.
Karya Tjap Toegoe Monas menghadirkan perempuan tertawa
sumringah sibuk bersolek dengan wajah penuh bedak sehingga sangat
komikal. Di mejanya tergeletak gincu dan pupur plus bunga warna-warni
serta seekor kucing menggeliat di persendian perempuan ini.
Lukisan tersebut menjadi narasi politik ketika Harsono melukis
Tugu Monas pada punggung cermin, gedung DPR pada jariknya serta foto-
foto para pemimpin politik tanah air. Inilah relasi resiprokal
kegenitan perempuan bersolek di satu sisi dengan metafora politik di
sisi lain.
Dalam konteks politik, metafora-metafora Harsono ini tidak
garang tapi lebih sebagai pasemon (sindiran halus). Namun sebenarnay
pasemon itu dalam budaya Jawa tidak selalu identik dengan kegembiraan
tapi juga cermin kegetiran.
Dari lukisan Tjap Toegoe Monas ini, dikaitkan dengan tema
pameran “Pesan Cint” Harsono Sapuan, bisa ditarik pemahaman bahwa
lukisan-lukisan harsono memang berangkat dari rasa cinta yang lentur
sehingga luapan emosi nya dikristalkan secara reflektif yang
dicairkan sebagai pengalaman estetik yang tidak meledak-ledak.
(Jogjanews.com/joe)

=====================================================================

Karya Gigantik “Album Hijau” Desrat Fianda
November 15th, 2011 | 14:12

Salah satu seniman yang terlibat dalam Outdoor Sculpture
Exhibition “Bunga-Bunga Impian: Respon Seni untuk Alam yang
diselenggarakan di International Cultural Centre (ICC) adalah Desrat
Fianda.
Mikke Susanto dalam catatan pamerannya menulis, Desrat Fianda
dan juga seniman peserta pameran di ICC merasa bahwa lahan yang ada di
ICC sangat mencukupi untuk menggerakkan kesadaran manusia dalam
melihat kasus-kasus maupun persoalan di ruang yang lain.
“Karya seni yang dipamerkan di ICC tidak hanya kuat, tahan
panas, dingin, hujan, debu tapi juga bersyfat menyatukan gagasan
mengenai nilai estetik, kesadaran alam, serta respon simbolis tentang
isu-isu kontekstual,” tulis Mikke Susanto.
Salah satu yang bisa merepresenstasikan pemahaman Mikke Susanto
itu adalah karya Desrat Fianda yang berjudul “Album Hijau” yang
diciptakan dari aluminium dan kayu berukuran 140 cm x 90 cm x 500 cm
(2011).
Karya Desrat berbasis pada kesadaran bahwa seni adalah alat
untuk menggulirkan pesan-pesan. Desrat tidak hanya menjadikan seni
sebagai penghias ruang yang tujuannya hanya menjadikan manusia lupa
atas berbagai hikmah di sekitar kita.
Desrat membawa karya dengan objek utama pacul. Namun jika
diperhatikan dengan seksama, pacul besar yang dipakainya adalah
sekumpulan teks yang disatukan. Bagian utama paculnya adalah baju yang
telah dilipat dan dirapikan.
Maka jadilah sebuah pesan singkat, jika biasanya pacul dipakai
oleh petani, kini pacul itu berganti rupa, menjadi baju jas yang
eksklusif. Sebuah satir yang mendalam, bahwa sejata yang biasanya
untuk bekerja, telah beralih rupa. Ukuran karya yang gigantik
menjadikan karya ini ingin menawarkan perubahan dimensi ruang.
(Jogjanews.com/joe)

=====================================================================

Pameran “Manja Jawa” Fukamachi Reiko, 15 Tahun Reiko Kenal Orang Jawa
November 13th, 2011 | 03:50

Fashion Desainer Jepang Fukamachi Reiko untuk pertama kalinya
menggelar pameran seni rupa di Indonesia Contemporary Art Network
(ICAN), Jalan Suryodiningratan No.39 Yogyakarta dengan menghadirkan
tema pameran “Manja Jawa” pada Jum’at (11/11). Pameran “Manja Jawa”
akan berlangsung hingga Jum’at (25/11).
Fukamachi Reiko (kiri) dan Antariksa (Kanan) dari Ican
Yogyakarta saat membuka Pameran Tunggal "Manja Jawa" di Ican Gallery,
Jum'at (11/11).
Fukamachi Reiko memamerkan 12 karya seni lukis yang sebagian
diantaranya adalah karya lukis yang dibuat wanita ini pada tahun 2010.
Sementara beberapa lukisan yang lain adalah hasil berproses
Fukamachi Reiko selama dua minggu di Ican Gallery.
“Saya mau karya yang besar dan disini kotak, putih, saya kira
cocok untuk lukisan saya dan mereka (pihak Ican Gallery) memberi
dukungan saya untuk pameran,” ujar Fukamachi Reiko mengenai pameran
perdananya di Ican.
Tema “Manja Jawa” terinspirasi oleh kehidupan Fukamachi Reiko
selama 15 tahun terakhir di Yogyakarta dan Jakarta berinteraksi dengan
kehidupan masyarakat Jawa. “Manja Jawa” menurut Reiko (nama
panggilannya) adalah campuran dari kecakapan, kedewasaan dan
kesedihan.
“Manja Jawa itu adalah suasana, aura orang Jawa yang sangat
berbakat. Saya melihat hidup orang Jawa itu sangat menarik, diluar
dugaan, saya kaget, cara bermasyarakatna, cara berkomunikasi, cara
membantu, keakrabannya, mereka sangat menarik,” terang Fukamachi
Reiko.
Masih menurut Fukamachi Reiko, Manja Jawa adalah representasi
manusia Jawa yang selalu ingin menang dalam hal apapun, tanpa sadar,
dimana hal ini terjadi mungkin karena pengaruh pola kekuasaan di Jawa
pada jaman dulu.
“Manja Jawa” secara tidak sadar memahami dirinya sendiri
sebagai seorang raja, seperti sifat anak-anak yang menggemaskan,
inilah syfat paling manis dari Manja Jawa,” ujar Fukamachi Reiko dalam
catatan pamerannya.
Fukamachi Reiko memang tak ubahnya warga Indonesia. Kedua orang
tuanya sudah lama sering sekali ke Indonesia sebagai pengusaha.
“Indonesia seperti negara kedua saya,” kata Reiko yang selama tahun
1995-2000 kuliah di jurusan seni kriya dengan konsentrasi di Batik di
ISI Yogyakarta ini.
12 karya seni lukis yang dipamerkan Fukamachi Reiko sebisa
mungkin menjadi representasi dari tema “Manja Jawa”. Dalam lukisan
berjudul “Ilmu Sosial” berukuran 140 cm x 180 cm dari akrilik, krayon,
dan pencil warna diatas kanvas, Fukamachi Reiko menampilkan
representasi laki-laki Jawa.
“Itu (lukisan “Ilmu Sosial”) simbol laki-laki Jawa yang manis,
kuat, suka bekerja, punya kapasitas untuk mendapatkan sesuatu dari
impian mereka,” terang Fukamachi Reiko yang sangat menyukai batik
Indonesia. (Jogjanews.com/joe)

=====================================================================

Event Kolaborasi Personal Oikumene, Mencari Tempat Berpijak
October 30th, 2011 | 12:03

Penyeragaman selalu memicu respon. Fenomena penyeragaman itu
antara lain kerap disebut dengan istilah globalisasi, yakni melesapnya
batas-batas yang khas ke dalam sebuah dunia yang seragam.
Globalisasi bukan suatu proses yang bebas nilai. Ideologi
neoliberalisme yang menggerakkan globalisasi menyediakan seperangkat
simbol, norma dan citra yang merekatkan individu-individu ke dalam
sebuah identitas kolektif. Ia menjadi kekuatan dominan yang
memengaruhi hidup manusia dan membuat mereka kehilangan kontrol atas
diri dan lingkungannya.
Resistensi muncul guna untuk mengambilalih kembali kontrol yang
hilang tersebut. Maka di tengah fenomena penyeragaman itu, di belahan
dunia manapun selalu muncul kelompok maupun individu yang sengaja
menampilkan identitas yang berbeda dari komunitas besar yang
melingkupinya.
Homogenisasi berjalan seiring dengan heterogenisasi. Dan ketika
kuasa penyeragaman itu beroperasi di wilayah diri yang paling personal
(self), maka resistensi pun akan muncul di wilayah personal.
Kegiatan bertajuk ‘Personal Oikumene’ ini bisa dibaca dalam
konteks tersebut. Dalam dunia yang dikuasai ideologi besar, acara ini
mencoba mengajak setiap individu untuk menemukan ‘rumahnya’ sendiri
(personal oikumene) sebagai tempat berpijak.
Ideologi besar itu bisa berupa apa saja : sistim ekonomi,
pendidikan, hingga kultur yang dampaknya bisa dirasakan dalam
kehidupan sehari-hari. Dari tempat berpijak itu mereka diharapkan akan
bisa memaknai situasi di luar rumahnya sehingga dia bisa menjadi
individu, bukan sekadar bagian dari sekumpulan manusia yang terseret
arus.
Di sini respon itu diungkapkan dalam bentuk karya seni, semata
karena para pelakunya adalah para pegiat seni. Lewat karyanya,
sejumlah seniman yang terlibat dalam kegiatan ini mencoba berbicara
tentang persoalan yang mereka hadapi.
Sebagian besar seniman yang terlibat dalam kegiatan ini masih
berusia muda. Mereka tidak menempuh pendidikan seni secara formal dan
sedang dalam proses mencari bentuk dalam berkesenian. Dalam dunia yang
memuja simbol dan status, kondisi itu membuat posisi mereka sebagai
seniman seolah-olah tidak setara dengan mereka yang menempuh
pendidikan seni secara formal.
Mereka berkarya dengan gayanya sendiri. Mencoba mencari tempat
berpijak pada level yang sangat personal.
Rizky Hidayat yang lulusan sekolah broadcasting, misalnya,
membuat sketsa menggunakan tangan kiri. Pada salah satu karyanya, ia
bahkan perlu dengan tegas mengatakan bahwa coretan itu ia buat dengan
tangan kirinya. Menggunakan tangan kiri menjadi wujud pencarian diri
bagi Rizky. Ia menerobos keterbatasan dan ketidakmungkinan dalam dunia
‘normal’ yang bertangan kanan karena sebenarnya ia tidak kidal.
Nurify, satu-satunya peserta perempuan dalam pameran ini,
adalah lulusan akutansi yang aktif melukis dan sudah banyak mengikuti
pameran. Ia rajin membuat aneka suvenir yang dijual sendiri dalam
semangat ‘do it yourself’.
Berbeda dengan keduanya, Nur Wiyanto saat ini masih belajar
seni patung di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Di usianya yang
masih muda, ia mencari bentuk dengan mengolah materi yang mudah
didapat di lingkungan tempat tinggalnya di daerah Imogiri Bantul.
Lokalitas menjadi strateginya dalam berkarya. Ia mendapatkan
inspirasi saat melihat neneknya menyapu halaman menggunakan sapu lidi.
Materi berupa lidi itu lantas ia olah secara hati-hati menjadi patung
yang menampakkan tekstur lidi dari ijuk daun kelapa.
Perupa lainnya dalam pameran ini yakni Fran Anggoman, Asep
Prasetya, Piko Sugianto dan Sarwoto “Kotot” juga berkarya dengan
semangat yang kurang lebih sama. Karya mereka mewakili setiap upaya
dan strategi personal yang telah dicoba guna menemukan tempat berpijak
itu.
Dalam pameran ini mereka berkumpul dan bercakap-cakap tentang
bagaimana cara mereka mencari dan menemukan ruang berpijak itu.
Bersama mereka, ada sejumlah penyair dan musisi yang turut membagikan
personal oikumene lewat karyanya masing-masing. Semuanya masih berusia
muda.
Melengkapi semangat muda itu, acara yang digelar di tengah
kampung ini pun digarap oleh sekumpulan panitia yang sebagian besar
masih duduk di bangku SMA. Mereka bekerja secara sukarela, tanpa
dukungan dari konglomerat maupun lembaga donor manapun
Semangat pameran ini adalah belajar. Maka pameran ini bisa
menjadi ruang berbagi dan membuka diri. Dari situ biasanya akan muncul
kemungkinan-kemungkinan baru yang menginspirasi. Siapa tahu, oleh
kurator pameran ini Idha Saraswati.
Menurut Greg Sindana dan Invani Lela Herliana, Oikumene adalah
terjemahan bebas yang diterjemahkan sebagai terjemahan rumah pribadi.
Setiap orang memiliki idealismenya masing-masing. Umumnya setiap orang
mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mewujudkan idealismenya itu.
Namun kadang-kadang mucul sebuah tegangan ketika proses mewujudkan
idealismenya tersebut bersinggungan dengan idealism orang lain.
“Dari situlah muncul ide kami untuk mempertemukan idealisme-
idealisme tersebut untuk kemudian berkumpul dalam satu ‘masyarakat’,”
ujar penggerak Ketjil Bergerak ini di Kersan Art Studio, Selasa
(26/10).
Oikumene dalam bahasa Yunani berarti rumah. Secara historis,
Oikumene adalah istilah yang digunakan untuk menyebut gereja atau
kristenisasi. Oiukumene kemudian dijadikan istilah untuk menampilkan
pengertian untuk menyebarkan kebenaran, kebenarannya sendiri.
Greg berpandangan ketegangan yang muncul adalah mempertemukan
ketegangan satu individu dengan individu lainnya. Karena ketika
kepentingan satu individu tidak mau dipertemukan dengan kepentingan
individu lainnya, maka tidak memungkinkan untuk memunculkan suatu
masyarakat.
Acara ini merupakan karya ketjil bergerak yang ‘bergerak’ terus
untuk mempertemukan masyarakat-masyarakat dalam issue-issue
multidisipliner secara dinamis dan nyata. (Jogjanews.com/Nilu)

=====================================================================

Pameran “Drawing Revolution” FFR-DGTMB, Siapapun Bisa Membuat Drawing
October 21st, 2011 | 15:05

FFR–DGTMB yang bertempat di jalan parangtritis ini merupakan
distro berkonsep artist merchandise milik perupa Wedhar Riyadi dan Eko
Nugroho. Merkea adalah dua perupa yang dekat dengan sub kultur, musik
dan ikon komik.
Produk limited yang dijual disini umumnya adalah karya-karya
merchandise artist seperti Burn Your Idol karya Wok the Rock, t-shirt
merchandise dari Sangkakala, komik-komik underground dan juga beberapa
perupa seperti Isrol Medialegal yang membuat karya di media tripeks.
FFR-DGTMB memiliki sejumlah agenda berkala yang diadakan di
distro ini bersama dengan seniman atau musisi dalam rangka memberikan
ruang kepada public untuk mengakses dan merespon ruang yang mereka
punya di toko ini.
Pembukaan pameran”Drawing Revolution” dibuka Kamis (20/1)
pukul 20.00) di FFR-DGTMB dan dibuka oleh Wedhar Riyadi.
Pementasan musik oleh Yayasan Disko Lombok Terror oleh Ican
Harem, Uji ‘Hahan’, dkk yang membawakan musik elektronik experimental
malam itu disambut antusias pengunjung di parking lot FFR-DGTMB.
Pameran “Drawing Revolution” menurut Wedhar Riyadi adalah salah
satu dari agenda berkala yang dibuat FFR-DGTMB dengan konsep sederhana
dengan mengundang siapapun yang berminat untuk mendisplay karya mereka
diruang ini.
Pameran “Drawing Revolution” tidak menggunakan kurasi seni
rupa. Setiap peserta mengirimkan karya mereka yang nantinya akan
diambil dua karya untuk didisplay di distro FFR-DGTMB.
Drawing adalah teknik paling awal dan mendasar dari penciptaan
karya yang lebih sederhana, lebih spontan dan siapapun bisa
mengerjakan karya drawing. Setiap karya yang didisplay disini memiliki
kekuatan karyanya masing-masing. Baik dari kekuatan garis, sketsa dan
cerita dibalik dibalik karyanya.
Hal yang menarik disini ternyata responnya sangat baik.
Pesertanya lebih dari 200 orang dengan latar belakang yang beragam.
Sebagian besar pesertanya adalah mahasiswa ISI Yogyakarta, ada juga
beberapa dari UGM dan juga siswa-siswa SMA. Karya yang didisplay
disini lebih dari 300 karya. Pameran ini akan berlangsung dari 20
Oktober sampai dengan 29 November 2011. (Jogjanews.com/Nilu)

=====================================================================

Pameran Seni Rupa “So Fat So Good” Dias Purba, Figur Gendut Bercitra
Positif
October 20th, 2011 | 11:18

Figur-figur tokoh hero disuguhkan saat memasuki ruang pamer di
Tembi Rumah Budaya. Menariknya, banyak tokoh hero tersebut digambarkan
dengan kelucuannya. Figur gemuk memang memiliki dunia fantasi sendiri
bersama figur-figur lainnya seperti orang gempal, kurus, robot, atau
monster-monster unik.
Tokoh hero dan lainnya merupakan gambaran karya Dias Prabu
dalam pameran seni rupa bertajuk “So Fat so God” di Tembi Rumah
Budaya.
Dias merupakan peserta program Artist in Residence Tembi Rumah
Budaya yang kedelapan. Setiap tahunnya program ini menghasilkan tiga
residensi.
Secara keseluruhan Dias mengusung 13 karya yang tampil segar
dan menampilkan figure-figur yang menerobos steorotip konvensional dan
merupakan narasi linear yang mencerminkan konsistensi perjuangan serta
keuletan pemilihan karya.
“Sejauh ini, tema itu semakin gendut semakin bagus, semakin
gendut semkain banyak ide yang tertuang. Yang menjadi titik saya bahwa
sosok gendut menjadi ide yang positif walaupun di sisi lain ada segi
negatifnya,” kata Dias kepada Jogjanews.com, Senin (17/10) malam.
Dias menghadirkan figur gendut karena ingin mengusung bagaimana
ide yang segar dan menghangatkan seni rupa. Kadang orang hanya melihat
sisi negative dari figur gendut. Contohnya suka makan dan banyak
tidur. Namun dalam seni rupa saya bisa diartikan menjadi sisi positif
misalanya tokoh Wolferine dan hulk.
Menurut Dias Prabu, kalau melihat figur gendut dari sisi
negatif itu merupakan gambaran sisi kaum kapitalis. Ia menginginkan
kehadiran sosok gendut membuat nyaman dan suka. Hal itu yang
menginspirasi Dias dalam proses penggarapan karya sekitar tiga bulan;
memposisikan figur gendut menjadi lebih baik di mata apresian yang
melihatnya serta mencoba menggiring pemikiran yang negatif menjadi
lebih positif dalam figure ini.
“Harapan saya tidak terlampau muluk-muluk, saya hanya mengajak
diri saya, kamu, kita, untuk mampu keluar dari stereotip-stereotip
negatif lama, dan kita mampu melihat positifnya,” jelas Mahasiswa
Pascasarjana ISI Yogyakarta ini.
Dalam catatan karyanya berjudul Koperaction’s Figure berukuran
80 x 60cm (4 pieces) dengan media acrylic on canvas and spray paint,
Dias menampilkan koper dengan figure hero di satu sisi sedangkan sisi
lainnya figure jahat. Ia membolak-balikkan tokoh tersebut ingin
menjadi sebuah narasi cerita.
Sedangkan karyanya yang berjudul Damai, 100 x 120 cm (variable
dimension), car paint on mulltiplek, menggambarkan orang yang
berpegangan tangan. Lima figure bergandengan tangan yang masing-masing
menggambarkan satu kata dan bila digabungkan menjadi sebuah kata
PEACE.
Menurut Dias, lima orang yang berpegangan tangan itu bukan
hanya berpegangan tangan saja, tetapi berpegangan kaki dan hati. Satu
orang digambarkan dalam bentuk orang, yang lainnya menggambarkan dalam
bentuk orang yang mendengarkan musik, kribo, figure kartunal, dan
setan.
“Saya gabungkan itu bahwa setiap eleman masyarakat dengan cara
figur gendut bisa menjadi kedamaian, bukan berarti hanya satu figur
tetapi figure-figur lain atau bentuk lain bisa kita damaikan,” tutur
seniman kelahiran Malang ini. (Jogjanews.com/Anam)

=====================================================================

Art Project Exhibition “KW 2″ Prihatmoko Moki, Mempertanyakan Seni
Rupa Kontemporer
October 15th, 2011 | 08:42

Art project exhibition bertajuk “KW2” digelar oleh Prihatmoko
Moki berkolaborasi dengan Nathan Grey, Budi Dharmawan, Dwe Rahmanto
dan Anang Saptoto di Kedai Kebun Forum Yogyakarta, Jum’at-Sabtu
(14-29/10). Art project exhibition “KW2” memamerkan karya video, foto
serta instalasi gerobak dan sound system dengan dikurasi oleh selaku
Prihatmoko Moki menerangkan proyek “KW2” berawal dari apa yang
ia lihat mengenai perkembangan seni rupa Indonesia khususnya seni
lukis dan seni grafis dimana seni lukis selalu menjadi nomor satu dan
seni grafis berada dibawahnya dalam kaitanya dengan pasar dan sebagai
objek koleksi.
Permasalahan medium ini cukup menjadi pertanyaan besar buat
Prihatmoko Moki. Apakah karena seni grafis memiliki sifat yang dapat
digandakan dengan mudah sehingga nilainya jadi berkurang dibandingkan
seni lukis yang dibuat tunggal? Atau memang muatan pada karya itu
sendiri yang a penyebabnya?
Berawal dari pertanyaan tersebut, saya mulai mengerjakan Proyek
KW2. Dalam proyek ini, saya membuat poster dengan menggunakan image
lukisan karya seniman-seniman kontemporer termahal di Indonesia,
menurut data salah satu balai lelang di Paris, Perancis,” terang
Prihatmoko Moki, Jum’at (14/10).
Setelah mendapatkan image lukisan-lukisan melalui situs milik
beberapa balai lelang tersebut, Prihatmoko Moki memproduksi poster
dengan image-image yang ia peroleh dengan menggunakan teknik silk
screen empat warna cyan, magenta, Yellow dan black (CMYK).
Prihatmoko memproduksi masing-masing image lukisan sebanyak 20
lembar dengan memberi harga pada lembaran karya itu seharga Rp 10 ribu
dan menjajakannya dengan gerobak kaki lima di pinggir jalan DI
Panjaitan Yogyakarta.
Selama proses pengerjaan karya, Prihatmoko Moki melakukan
banyak diskusi mengenai gagasan dasar dari proyek “KW2” agar bisa
berkembang. Isu ruang public/ privat hingga fungsi seni sendiri muncul
dalam proses diskusi yang dilakukan Prihatmoko Moki.
Saya tidak menutup kemungkinan untuk terus mengembangkan art
project “KW2” baik dari segi visual maupun muatannya selama
perkembangan tersebut masuk dalam kerangka besar proyek ini, yaitu
dari kegelisahan yang saya rasakan dan membuka kemungkinan-kemungkinan
untuk menampilkan sesuatu yang baru,” terang Prihatmoko Moki.
Agung Kurniawan mengatakan melalui karya ini Prihatmoko Moki
sekaligus mempertanyakan seni rupa kontemporer. Selama ini lukisan-
lukisan termahal di dunia dan beberapa diantaranya adalah karya orang
Indonesia.
Dan karya tersebut hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang
dan selebihnya tidak ada akses untuk kesana. Mengapa? Karena Indonesia
tidak memiliki museum, sehingga orang dapat belajar dari karya-karya
itu.
“Yang dilakukan moki disini adalah membuat kopiannya atau
bajakannya sehingga orang dapat membeli dan mengingat karya
kontemporer design. Kedai kebun sangat tertarik dengan konsep pameran
yang dilakukan moki ini,” jelas Agung Kurniawan. (Jogjanews.com/Nilu)

=====================================================================

Pameran Tunggal “Silent Conversation” Surajiya, Memahami Relasi Diam
dan Berbicara
October 13th, 2011 | 12:49

Sebanyak 50 karya seni rupa dipamerkan Surajiya dalam pameran
tunggal bertajuk “Silent Conversation” di Karta Pustaka Yogyakarta,
Selasa-Selasa (11-18/10). Selain karya lukisan dalam gambar, Surajiya
menampilkan 15 buku-buku sastra berupa cerpen dan novel yang
digarapnya.
Surajiya menjelaskan Silent Conversation merupakan bagian yang
tidak dapat dipisahkan, saling mengisi agar menjadi utuh seperti dua
sisi mata uang, hidup dan mati, atau suami istri.
“Sebenarnya ini sederhana gambarannya, kata silent tidak akan
menemui maknanya jika tidak ada conversation, begitupun sebaliknya
conversation tanpa silent sulit untuk dipahami hingga secara visual
dapat hadir dan begitu dekat dalam benak kita,” kata Surajiya kepada
Jogjanews.com Selasa (11/10).
Ia melanjutkan, Silent Conversation bisa dipahami seperti orang
berdoa, orang bekerja, bahkan dengan keinginan kita sendiri meskipun
dimaknai dengan cara yang berbeda.
“Saya ingin memancing imajinasi dan daya kreatifitas sesorang
dengan pola pikir mereka sehingga mereka berfikir dan merespon. Tidak
hanya satu tafsir, yang saya inginkan menjadi multitafsir,” jelas
Surajiya.
Dalam karyanya yang berjudul seri “Seni dan Uang”, Surajiya
menjelaskan dalam menciptakan suatu karya memerlukan uang. Ia
menginginkan bahwa ada nilai dalam mengeluarkan uang dan bisa
dimanfaatkan dan bisa diapresiasikan bagi dirinya.
Sedangkan dalam puisi dan lukisan yang dibuatnya, Surajiya
menyebut tidak ada perbedaan tema yang hadir diantara dua karya seni
rupa dan sastra yang ia buat. Hanya bahasanya yang berbeda dan bisa
diapresiasikan secara bersama. “Kalau menulis saya hobi, dari tahun ke
tahun saya punya proses menulis seperti novel saya berjudul “Jangan
Mencintai Laki-laki Beristri” yang memiliki proses banyak,” ujarnya.
Pembukaan pameran”Silent Conversation” ini menampilkan
kolaborasi penari Arjuni Prasetyorini dan penabuh gamelan group Sido
Muncul pimpinan Ki Sumari dari Komunitas Studio Gunung. Sebelumnya,
Surajiya juga membacakan sebuah puisi yang diambil dari buku ‘catatan
kecil dari negeri tulip’. (Jogjanews.com/Anam

=====================================================================

Pameran Seni Rupa “Konflik” 6 Perupa Jogja, Ide Kreatif Seni Rupa Dari
Wacana Konflik
October 11th, 2011 | 11:58

Pameran Seni Rupa bertajuk “Konflik” diselenggarakan di , Sabtu-Jum’at
(8-14/10) oleh.
Ada 22 karya seni rupa yang menampilkan konflik sebagai wacana
kreatif penciptaan karya seni rupa oleh enam perupa tersebut.
Konflik adalah realitas yang menembus keberadaan manusia baik
secara pribadi maupun kemasyarakatan.
Zainal Aripin menjelaskan ada banyak wajah konflik yang dibawa
dari kehidupan kemudian dihadirkan melalui media lukis atau patung
seperti konflik politik, perjuangan batin hingga penyesalan.
“Konflik dalam pameran ini lebih cenderung konflik vertical,
rasa percaaya diri yang ditambah dengan kesenian sekarang yang
menimbulkan gejolak, tuntunan perupa pun yang terjadi diluar bukan
halangan untuk berbuat dan konflikny atetep ada. Katakanlah dalam
posisi pasar yang lesu, itu kan jadi konflik,” kata Zainal Aripin,
Sabtu (8/10).
Zainal Aripin memamerkan karya mix media berjudul “ Metafor”
yang menggambarkan binatang Zebra dengan warna badan yang tidak lazim.
Hal ini mengintrepretasikan bahwa manusia bisa berubah sifat, dari
yang dimangsa menjadi pemangsa. Di lain itu ada penolakan terhadap
gaya gambar itu sendiri.
Sementara itu, dalam karya patung Noor Ibrahim berjudul
“Patriot” dengan media perunggu di gambarkan konflik yang terjadi
antara penindas dan tertindas, kuat dan tak berdaya.
Patung tersebut mengingatkan pada kemanusiaan manusia yang
berjuang dan membayar konflik dengan tubuh mereka dan kehidupan
mereka, yang terpaksa atau terdaftar dalam pertempuran karena berbagai
alasan di luar kendali mereka. (Jogjanews.com/Anam)

=====================================================================

Pameran Seni Rupa “Celebrating The Body” Kelompok Jago Tarung,
Eksplorasi Wacana Eksploitasi Tubuh
October 10th, 2011 | 17:30

Salah satu kelompok seniman (perupa) Jogja, Kelompk Jago Tarung
Yogyakarta (Fighting Cock Group) bekerjasama dengan Ubud Writers and
Reading Festival 2011 menyelenggarakan Pameran Seni Rupa “Celebrating
The Body” di Gaya Fusion Art Space Bali.
Pameran Seni Rupa “Celebrating The Body” diselenggarakan Minggu-
Rabu (2/10-1/11). Kelompok Jago Tarung Yogyakarta beranggotakan Zam
Kamil, Movh.Basori, Nurul Hayat (Acil), I Made Wiradana serta Ida
Bagus Purwa.
Pameran Seni Rupa “Celebrating The Body” menampilkan tema
lukisan tentang tubuh manusia yang menghadapi berbagai tantangan dan
persepsi namun mengarah pada problem yang sama: marginalisasi tubuh.
“Tubuh telah lama dipinggirkan dalam sejarah peradaban, tubuh
menjadi target persepsi yang sudah dikonstruksi bahwa dia harus
ditaklukkan, tubuh menjadi bagian paling representatif untuk diangkat
sebagai komoditas kekuasaan,” tulis Tommy A Wuy, Kurator Pameran Seni
Rupa “Celebrarting The Body”.
Dalam pameran ini, selain menampilkan ketidak berdayaan tubuh
atas eksploitasi dirinya juga menampilkan tubuh yang menggeliat untuk
mencari eksistensi dan terus bertahan.
Nurul Hidayat (Acil) misalnya menghadirkan lukisan tubuh yang
terperangkap dalam ruang formal dan struktural. Sepertinya ruang-
ruang bagi tubuh ini begitu fleksibel namun justru disitulah yang
menyebabkan manusia terabaikan.
“Secara transparan bisa dilihat bahwa pada kenyataannya bukan
jiwa yang dipenjara oleh tubuh tapi sebaliknya. Idealitas ruang
kehidupan sudah sangat kuat menutup kemungkinan tubuh-tubuh konkrit
mencari jalannya sendiri,” terang Tommy Awuy mengenai lukisan karya
Acil ini.
Sementara itu, Basori menghadirkan lukisan yang menggambarkan
hubungan tubuh dengan waktu sebagai tema kontemporer yang jelas.
Relasi tubuh dan waktu ternyata menyebabkan hilangnya relasi manusia
dari tempat asal mereka yaitu “rumah alam”.
Manusia kontemporer telah kehilangan aura romantisme sehingga
tidak jelas apa yang tengah dikejar. Mungkin manusia sendiri tidak
tahu jawabnya kecuali hrus berpacu dengan waktu. (Jogjanews.com/joe)

=====================================================================

Pameran Fotografi “3Point Award” Mes56, Dorong Konsistensi Fotografi
Kontemporer Anak Muda
October 9th, 2011 | 18:37

Fungsi dapur tidak hanya dimanfaatkan sebagai ruang persiapan
memasak dan proses memasak tetapi juga bisa menampilkan fungsi lain.
Di Bromo, dapur kerapkali menjadi fungsi tempat bertemunya keluarga,
teman atau siapa saja.
Bagi masyarakat tradisional Jawa, dapur juga biasa sebagai
tempat menyimpan hewan ternak dan peralatan pertanian. Bahkan pada
masyarakat pinggiran kota Jakarta, dapur melebur menjadi satu ruangan
dengan ruang interaksi dan tempat tinggal sebuah keluarga.
Inilah yang terekam dalam karya fotografi Seto Hari Wibowo
dalam Pameran Fotografi “3Point Award” MES 56 yang diselenggarakan di
Rumah Kelas Pagi Jogja, Sabtu-Senin (8-31).
Seto hari Wibowo adalah salah satu dari tiga orang penerima
3point Award yang diselenggarakan MES 56 . Selain seto penerima
3point Award yang lain adalah Dito Yuwono dan Doni Maulistya.
Selain Seto dengan konsep fotografi “Di belakang”, dalam
pameran fotografi yang didukung Jogjanews.com ini, Dito Yuwono
menampilkan tema “Have Meet” sementara Doni Maulistya yang menampilkan
konsep “Sudah Saatnya”.
3point Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada tiga
orang muda atas konsistensinya di dalam aktifitas fotografi
kontemporer.
Tujuannya adalah mempromosikan konsep dan kreatifitas fotografi
kontemporer sebagai inspirasi untuk generasi muda yang konsisten
dengan fotografi sebgai mediumnya.
Angki Purbandono, kurator pameran menuturkan 3Point Award
adalah penghargaan yang sifatnya reguler yang diberikan terhadap sikap
konsestensi anak muda di bawah 30 tahun yang aktif dengan
eksperimental dan gagasan dalam fotografi yang lebih spesifik ke
kontemporer.
“Penghargaan itu penting menurutku, konsistensinya dan
regenerasinya ada pembuktian dan di situ diuji. Aku yakin award
semacam ini akan menjadi regenerasi yang bagus dan sehat,” kata Angki,
Sabtu (8/10) malam.
Proses penghargaan ini dimulai sekitar satu tahun lalu dan
menariknya para penerima penghargaan tidak memiliki latar belakang
pendidikan formal fotografi. Ketiganya memiliki aktifitas yang
bermacam-macam mulai dari fotografi jurnalistik, eksperimen, dan
riset.
“Padahal mereka aktifitasnya lebih dari tiga tahun dan tidak
punya pendidikan formal fotografi. Ini yang patut kita menghargai
supaya aktifitasnya dalam fotografi kontemporer selalu menjadi
inspirasi bagi yang muda,” jelas Angki.
Tema yang ditampilkan berasal dari masing-masing fotografer dan
kurator hanya mengembangkan dan mengkomparasi sesuai dengan
pengalamannya sebagai seniman visual.
“Mereka lebih memperlihatkan teknologi yang berarti untuk orang
lain apabila gagasan itu diolah dari pengalaman atau situasi sekitar
mereka. Jadi, bukan aktifitas teknik ata cerita dongengya (dalam
pameran ini) justru aktifitas mereka melihat realitas dulu lalu
mengembangkannya,” ujar Angki.
Selain menampilkan 55 karya fotografi, ada agenda Artist
Conversation di Rumah Kelas Pagi Yogyakarta, Senin (10/10) jam 4 sore.
(Jogjanews.com/Anam)

=====================================================================

Pameran Seni Rupa “ZigZag” Kelompok Meja Putar, InginTerus Maju Dalam
Dunia Seni Rupa
October 9th, 2011 | 18:18

Sebanyak 11 perupa Solo yang tergabung dalam Kelompok Meja
Putar menyelenggarakan Pameran Seni Rupa dengan tajuk “Zig Zag” di
Taman Budaya Yogyakarta, Rabu-Selasa (5-11/10). Pameran bersama ini
merupakan kali ke empat bagi kelompok ini setelah sebelumnya
diselenggarakan di Solo dan Jakarta.
Berdiri sejak empat tahun silam, dengan memamerkan 53 karya
Kelompok Meja Putar mengungkapkan berbagai kegelisahan masing-masing
perupa. Kelompok Meja Putar beranggotakan Perupa Abdul Azis, Alit Dwi
Joko, Agus Sasmito, Anang Sya’roni, Ki Gedhe Solo, Wiryono, Jayadi,
Sarsito, Henri Cholis, dan Bambang Tejo.
Tema “Zig Zag” merupakan sebuah langkah maju yang berliku-liku
atau sebuah langkah maju yang sulit ditebak. Kesenian yang saat ini
cenderung berubah namun kesemuanya mempunyai satu tujuan yaitu
keinginan terus maju.
“Kami mencoba terus untuk maju dan terus maju sehingga karya
kelompok meja putar bisa terapresiasi,” kata Abdul Aziz, salah satu
perupa kepada Jogjanews.com, Sabtu (8/10).
Ia menuturkan Jogja merupakan gudangnya para seniman sehingga
dengan digelarnya pameran ini berharap untuk dapat diterima dalam
kesenian tanah air yang mampu memberi warna baru dalam dunia kesenian.
Dalam catatan karya pameran bersama ini, Agussis mencoba
mengungkapkan karyanya dalam bentuk karya kubisme dan mencoba
mengangkat tentang kerusakan alam yang diakibatkan oleh ulah manusia.
Ki Gedhe Solo yang merupakan salah satu tokoh spiritual mencoba
berbicara tentang politik yang terjadi di negeri ini.
Wiryono yang intens menggarap karya dalam bentuk realis
surealis mencoba menuangkan kegelisahannya aka nada seorang idol.
Sebanyak sembilan perupa memvisualisasi karya dalam bentuk lukisan
maka Henri Cholis mencoba berbicara melalui media grafis ke dalam
bentuk digital printing.
Sedangkan Abdul Aziz menuangkan karya dalam bentuk kayu panel
seperti dalam karyanya berjudul “Palagan Kumbakarna” dengan media kayu
waru berukuran 150 x 70 x 5 cm (2011) yang menggambarkan sebuah kisah
sosok Kumbakarna. Karya ini mengintreprestasikan bahwa pemimpin saat
ini memiliki seorang pemimpin yang tidur dan akan hancur.
Sedangkan karya Sarsito yang berjudul “Their Lost Fortless”
dengan media oil on canvas berukuran 90 x 140 cm (2011) menggambarkan
sosok Cakil yang mengibaratkan seorang prajurit yang prajurit yang
patriot yang berhubungan dengan kondisi rakyat saat ini.
(Jogjanews.com/Anam)

=====================================================================

Ageng Purna Galih Pamerkan “WAWBAW #2″, Penuh Karakter llustrasi
October 8th, 2011 | 00:44

Ageng Purna Galih memamerkan karya bertema “WAWBAWseries“ di
ViaVia Travellers Café and Alternative Space, Kamis-Minggu (6-30/10).
Tidak seperti kebanyakan seniman-seniman sebelumnya yang pernah
berpameran di Via Via Cafe Jogja, Ageng Purna Galih tidak memiliki
latar belakang pendidikan seni.
Age adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas
Padjadjaran Bandung. Walaupun latar belakang pendidikannya bukan dari
seni, namun pria kelahiran Bandung ini sudah berkecimpung di dunia ini
sejak tahun 2003. Singkat cerita, sampailah perjalanan berkesenian Age
pada sebuah karakter yang diberi nama WAWBAW.
WAWBAWseries merupakan kumpulan karakter hasil ilustrasi Age
sejak tahun 2003. Di tahun 2008 karakter ini sempat digunakan oleh
sebuah majalah lokal di Bandung sebagai media promonya.
Kemudian pada tahun 2010 karakter WAWBAW mulai diperkenalkan
secara luas melalui jejaring social Twitter, dimana avatar WAWBAW
dapat dipesan secara gratis dan dibuat sesuai dengan karakter wajah si
pemesan.
WAWBAW juga berkolaborasi dengan beberapa seniman dan musisi
lokal, yang membuat karakter ini merebak bagai virus. Dalam pameran
ini Age mencoba memperkenalkan WAWBAWseries kepada khalayak Yogjakarta
melalui sejumlah karya baik itu dua dimensi maupun tiga dimensi.
Sekitar 200 avatar Twitter dikompilasi dan akan dihadirkan
dalam WAWBAWavatarbook. Selain avatar, WAWBAWseries juga
diaplikasikan pada beberapa produk terbatas dalam
WAWBAWarchivalproducts.
Selain itu, karya-karya hasil kolaborasi WAWBAWseries dengan
seniman dan musisi lokal ikut serta dihadirkan dalam
WAWBAWcolaboration. Keseluruhan karya ini tergabung dalam WAWBAWday
#2.
WAWBAWavatarbook merupakan karya utama dalam pameran ini yang
merupakan kolaborasi antara WAWBAW series dengan VITARLENOLOGY.
“Setelah hampir lebih dari satu tahun lebih lamanya, VITARLENOLOGY
akhirnya mewujudkan karya tersebut dengan teknik book binding,” kata
Age melalui rilisnya, Jumat (7/10).
Karakter WAWBAW tersebut mengalami proses perubahan dan
penyempurnaan yang panjang, sehingga pertama kalinya dikenal sebagai
“WAWWOBAWBAW” yaitu datang dari sebuah ujaran yang subyektif. Nama
tersebut akhirnya diperpendek menjadi “WAWBAW”. “Secara penyebutan
lebih cepat, singkat dan padat,” ujarnya. (Jogjanews.com/Anam)

=====================================================================

Alam, Manusia Dan Transendensi Dalam Pameran Grafis “Rimba Senjakala”
Winarso Taufik,
October 2nd, 2011 | 12:38

Bentara Budaya Yogyakarta menggelar Pameran Grafis “Rimba
Senjakala” Winarso Taufik. Siapa Winarso Taufik? Seniman Kebumen
pemenang pertama Lomba Trienal Seni Grafis Indonesia III, 2009 yang
diselenggarakan Bentara Budaya.
Dengan karya seni grafis berupa 20 lembar karya grafis yang
dibuat dengan teknik etsa, aquatint dan drypoint ditampilkan dalam
buku berukuran 50 cm x 40 cm bertajuk “Imaji Kerusakan Alam” (2009)
Winarso Taufik menjadi pemenang pertama Trienal Seni Grafis Indonesia
III (2009).
Efix Mulyadi penyelia lomba Trienal Seni Grafis Indonesia III
(2009), mengatakan dulu Winarso Taufik menarik perhatian para Juri
Trienal Seni Grafis Indonesia III yang diwujudkan di dalam benda dwi
matra panjang serta lembaran kertas yang dikumpulkan menjadi buku.
Sekarang, dengan persiapan belasan bulan, Winarso Taufik
menawarkan karya-karya lepas berukuran besar dengan perluasan dan
pendalaman tema karya seni grafis yang diikutsertakan dalam lomba
Trienal Seni Grafis Indonesia III (2009).
Sementara itu, Kurator Pameran Grafis “Rimba Senjakala” Winarso
Taufik, Hendra Himawan menjelaskan penciptaan karya seni grafis dengan
teknik etsa, aquatint serta drypoint untuk menghasilkan efek barik
semu tertentu pada natar (aquatint), citraan atau imba, gurat serta
blabar rumit dan halus(etsa dan drypoint diatas kertas dan menjadi
lebih berwarna di kanvas.
Winarso Taufik dalam pandangan Hendra Himawan melalui album
multigraphs menampilkan alegori syfat atau hakekat manusia yang
digambarkannya cenderung sepenuhnya melawan alam bahkan menjadikan
alam sebagai obyek egosentrisme atau kesadaran subyekstif manusia itu
sendiri.
Sikap eksploitasi manusia terhadap alam semesta hadir dalam
karya grafis berjudul Meniti Tulang Belulang (2011), diatas kertas
sarat simbolisme alam, kebinatangan dan kemanusiaan kita. Ada menara-
menara kubus sebagai pengingat bahtera bangsa-bangsa di masa purba
yang memancarkan keingintahuan awal manusia, mengendarai babi hutan,
meniti jalur anak-anak tangga tersusun dari tulang belulang.
Adapun kehidupan yang mengejar nikmat ragawi digambarkan
Winarso Taufik berupa gumpalan-gumpalan daging menggiurkan melingkupi
puncak bahtera.
Eksploitasi alam yang membuat kerusakan alam dalam pandangan
Winarso Taufik telah memberi gambaran mengenai tanda simbollis
kematian manusia. Hal itu bisa dicermati dalam karya grafis berjudul
“Sacrifice” (2010) yang menampakkan anak bajang tersalib dengan
mahkota tulang belulang dikepalanya.
Inilah penderitaan manusia dimana antara langit, bumi dan
manusia seakan hanya makhluk tersisa diantara barang-barang ciptaannya
sendiri, hingga menjadi ranting terakhir dari sejarah panjang spesies
manusia itu sendiri.
Pameran Grafis “Rimba Senjakala” Winarso Taufik sesungguhnya
tidak hanya menghadirkan sisi buruk manusia yang terampil melakukan
eksploitasi alam yang berakibat kematian bagi mereka sendiri, namun
juga pemahaman mengenai kehidupan bersama antara manusia dan alam .
Dalam karya “Perjumpaan Sunyi” Winarso Taufik menggambarkan
sikap dan pandangan manusia mencari persamaan dengan alam yang
digambarkan secara simbolis sebagai perjumpaan lembut antara dunia
atas dan bawah, antara sosok manusia dan ikan, dua dunia yang
dipisahkan batas goyah dan tipis penuh makna.
Begitu pula dalam karya “Hutan Karang “(2011) Winarso Taufik
melalui sosok Mbah Marijan seperti memberi pemahaman bahwa alam dan
manusia adalah kawan bahkan saudara. Karya “Hutan Karang” melukiskan
sosok tubuh yang menyembunyikan wajahnya sendiri, bersujud di bawah
amukan gunung seolah sosok itu adalah mitos, mengatasi semua ketakutan
dan kepanikan manusia untuk menyelamatkan diri.
Winarso ingin mendedahkan pengalaman baik pengalaman buruk
manusia dalam setiap lukisan-lukisannya. Ikan dalam karya Perjumpaan
Sunyi misalnya adalah simbol asa, syukur dan keberuntungan yang
menjadi representasi gagasan dengan tema alam, manusia dan
transendensi antara keduanya.
Sayangnya, sekali lagi, manusia tetap saja menampilkan sisi
tragis dan ironis bahkan ketika mereka masih saja berpesta di gugus
pulau terakhir dari manusia tinggal dan hidup.Lihat karya The End of
Party (2010). (Jogjanews.com/joe)

=====================================================================

Karya Lukis Spiritualis Jawa-Islam Kaji Habieb Hadir di Taj Mahal
House Yogyakarta
September 23rd, 2011 | 14:56

Sebanyak 12 karya seni lukis dengan tema spiritualitas Jawa-
Islam dihadirkan seniman Demak Kaji Habieb di Taj Mahal House
Yogyakarta, Indian & Midle East Restaurant di Jalan Dewi Sartika No.11
A, Sagan Gondokusuman Yogjakarta.
Lukisan dengan tema spiritualitas Jawa dan Islam sudah menjadi
trade mark seni rupa dari Kaji Habieb sejak awal ia menekuni dunia
seni rupa. Latar belakang Kaji Habieb yang sejak kecil hidup di pondok
pesantren dan menyerap banyak ilmu agama sangat mempengaruhi
perjalanan karier seni rupa Kaji Habieb hingga saat ini.
Dari 12 karya lukis yang diciptakan Kaji Habieb, tujuh
diantaranya adalah seni lukis berseri yang diberi judul “Meta
Evolusi” yang sarat dengan tema spiritualitas secara khusus
perjalanan spiritualitas manusia menuju kepada keadaan yang lebih
baik.
“Saya menyebutnya Meta Evolusi . Evolusi artinya perubahan
pelan-pelan dalam wilayah spiritualitas dari yang paling nol.
Untuk menuju kesadaran tertentu manusia bertemu dengan berbagai
keadaan serta dimana pada situasi tertentu manusia tersadar
keberadaan dirinya,” terang Kaji Habieb di Taj Mahal House, Senin
(19/9).
Tujuh karya Meta Evolusi karya Kaji Habieb diberi judul Meta
Evolusi Maqam 1-7. Lukisan Meta Evolusi Maqam #1 menampilkan sosok
manusia yang menggambarkan kondisi spiritual keadaan nabi Adam (Kaji
Habieb menyebutnya ke-adam-an).
Kaji tidak menggambar sosok nabi Adam terhadap tampilan sosok
manusia yang ia lukis. Dengan sosok manusia itu menggambarkan karakter
keadaman manusia yang dibekali ilmu pengetahuan dalam batas nama-nama
secara visual.
Keadaan ke-Adam-an itu adalah keadaan dimana dengan kesadaran
visualnya, manusia bisa membaca dan memaknai hal-hal yang
terlihat.”Itulah syfat ke-Adam-an,” kata seniman yang tinggal di
Magelang ini.
Kemudian lukisan Meta Evolusi Maqam #2 yang menggambarkan
keadaan ke-Nuh-an (atau Nabi Nuh) dalam diri manusia. Keadaan ke-Nuh-
an menampilkan situasi pertentangan pribadi yang muncul dalam diri
manusia.
“Ada pertentangan pribadi individu, terjadi pertentangan nafsu
kebaikan dan nafsu kejahatan. Nafsu kebaikan (muthmainah) itu mudah
dikendalikan,” terang Kaji Habieb.
Meta Evaluasi Maqam #2 dihadirkan melalui sosok abstrak manusia
dimana pada bagian perutnya muncul gelas dengan air serta percik api
dari sumber api sementara sebentuk sumber air berada di atas gelas
itu.
“Ada pertentangan pribadi individu, terjadi pertentangan nafsu
kebaikan dan nafsu kejahatan. Nafsu kebaikan (muthmainah) itu mudah
dikendalikan,” terang Kaji Habieb.
Kemudian karya Meta Evolusi Maqam #3 menceritakan keadaan ke-
Ibrahim-an manusia. Keadaan ke-Ibrahim-an adalah keadaan dimana
manusia mencari Tuhan dari situasi kesendirian yang ia lakukan.
Menurut Kaji Habieb, ketika berada di dalam gua yang gelap,
Nabi Ibrahim bertanya dalam kesendiriannya mengenai keberadaan Tuhan.
Kemudian oleh Tuhan, Nabi Ibrahim diperlihatkan adanya matahari dan
rembulan yang saling bergantian muncul.
Lukisan karya Kaji Habieb diluar lukisan Meta Evolusi berseri
adalah lukisan berukuran cukup besa (1,70 cm x 200 cm) yang
menampilkan sosok istri Kaji Habieb sedang menaiki kuda. Lukisan ini
diberi judul “Wanita Evolusi”.
Lukisan “Wanita Evolusi” menggambarkan kekuatan yang dimiliki
wanita dalam menjalani hidup dimana wanita sebagai istri harus mampu
hidup dengan segala situasi dan keadaan dalam hidup berkeluarga
bersama suami dan anak.
Menurut Kaji Habien, karya lukis berseri Meta Evolusi adalah
karya masterpiece yang ia pernah buat karena menghadirkan tema
spiritualitas Jawa-Islam yang kental.
“Bagi saya (lukisan) yang berseri itu (Meta Evolusi) semacam
master piece.Dari situ kemudian diecer-ecer,” terang Kaji Habieb.
(Jogjanews.com/Joe)

=====================================================================

Pameran Seni Visual Soulscape“The Treasure of Spiritual Art-Post
Hybridity” di Sangkring Art Space
September 23rd, 2011 | 03:54

Mixed Art Management menggelar Pameran Seni Visual Soulscape
bertajuk “The Treasure of Spiritual Art-Post Hybridity” di Sangkring
Art Space Yogyakarta, 19-30 September. Pameran ini merupakan
kelanjutan dari dari pameran Soulscape tahun 2010 lalu. Sebanyak 35
karya dipamerkan tujuh perupa abstrak Jogja yaitu AT Sitompul, Dedy
Supriyadi, Netok Sawiji_Rusnoto Susanto, Nunung WS, Sulebar M
Soekarman, Utoyo Hadi, Yusron Mudhakir.
Ide dasar Pameran Seni Visual Soulscape bertajuk “The Treasure
of Spiritual Art-Post Hybridity” adalah ‘pemandangan-jiwa’ yang
bertolak belakang dengan pemandangan alam atau pemandangan laut dan
secara visual dapat dilihat atau dirasakan dengan panca indera.
Dalam pengantarnya, Rusnoto Susanto mengatakan wacana post
hybridity akhir-akhir ini masuk ke berbagai ranah dan disiplin ilmu.
Sebuah kesadaran untuk menggali, mengadaptasi, merancang ulang, dan
mempresentasikan nilai-nilai hybrid yang universal.
“Bagaimana sebuah tinjauan hibriditas melepaskan diri dari
aspek yang kita sebut sebagai lokalitas, kita hendak menjadikannya
instrumen tersebut untuk menemukan relasi khusus ketika kita menggali
sumber gagasan,” katanya.
Benang emas dan titik temu ketujuh perupa abstrak ini adalah
semuanya mencapai tingkatan soulscape ini ternyata melalui sebuah
pengalaman dan kerja keras yang mereka sebut sebagai bentuk perjalanan
spiritual. Soulscape sendiri adalah upaya visualisasi kegelisahan
transendental bagaimana mengungkapkan solusi permasalahan mendasar
kemanusiaan dalam mewujudkan sebuah karya seni.
Semua karya tersebut utamanya adalah dalam penyadaran
menghayati fenomena yang semarak terjadi dalam kebudayaan sekarang,
yaitu persilangan kebudayaan (culture hybridization). Selain
masyarakat umum bisa mengunjungi studio masing-masing seniman selama
pameran berlangsung, juga dihadirkan agenda artist talk Rabu, (28/9)
pukul 4 sore. (Jogjanews.com/Anam)

=====================================================================

GKJ Gelar Pameran Senirupa 50 Tahun Bumi Tarung
Sosbud / Selasa, 27 September 2011 14:04 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Bagi Anda pecinta karya seni rupa,
kini, bisa datng ke Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) di Jalan Merdeka
Timur, Jakarta Pusat. Di sana sedang digelar pameran seni rupa
bertemakan 50 Tahun Bumi Tarung mulai 22 September hingga 2 Oktober
mendatang. Karya lukisan, patung, dan grafis dari 14 seniman asal
Sanggar Bumi Tarung dipamerkan dalam acara itu.
Karya yang dipamerkan di antaranya hasil seniman Amrus
Natalsya, Djoko Pekik, Adrianus Gumelar, Suhardjija Pudjanadi.
Keunikan, keindahan, dan pesan sosial yang diselipkan sangat kental
terlihat dalam karya-karya mereka. Misalnya pada karya Suhardjija
Pudjanadi, perupa asal Yogyakarta itu membuat karya seni rupa pahat
colek yang sarat pesan sosial dan sejarah atas realita kehidupan.
Yang paling banyak menyita perhatian pengunjung adalah sebuah
perahu besar yang dibuat dengan cara dipahat dengan judul Kapal Nabi
Nuh. Tidak hanya itu. Pengunjung juga disuguhi berbagai karya lukisan
kanvas, karya pahatan kayu ataupun karya ukiran patung dengan berbagai
tema.
Sanggar Bumi Tarung merupakan satu organisasi seniman era 1960-
an dari Yogyakarta, yang masih bertahan hingga saat ini. Eksistensinya
pun tak perlu diragukan. Digawangi sejumlah seniman kelas kakap, hasil
karya seniman perupanya tidak dapat diremehkan, walaupun anggotanya
sudah banyak yang lanjut usia.(DSY)

=====================================================================


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages