Artikel yang diangkat oleh koran Kompas membuat saya berbangga
bahwa sebenarnya banyak anak bangsa yang cukup kreatif, inovatif
disamping juga mampu melihat potensi keunggulan dari ‘kearifan lokal’
yang dimiliki oleh bangsa ini..
Mari teman2.. kita kontribusi secara riil kepada Bangsa ini.. sekecil
apapun itu..
Salam :
Joko Triyono, Guru Pencipta Virtual Gamelan
KOMPAS/MADINA NUSRAT
Sabtu, 21 Maret 2009 | 03:27 WIB
MADINA NUSRAT
Esensi nilai suatu permainan sejatinya tak perlu hilang, tetapi
medianya bisa berubah. Prinsip itulah yang menjadi dasar pijakan bagi
Joko Triyono dalam menciptakan program virtual gamelan di komputer
yang menjadi media pembelajaran kesenian di SMA Negeri Prembun,
Kebumen, Jawa Tengah. ”Medianya yang berubah, dari alat gamelan asli
ke komputer,” ucapnya.
Virtual gamelan buatan Joko, guru kesenian di SMA Negeri
Prembun itu, menarik. Permainan gamelan yang biasanya menggunakan alat
musik gamelan yang berbentuk besar dan membutuhkan ruangan luas dia
pindahkan ke program Flash Macromedia berukuran 3,5 megabyte.
Alat yang dibutuhkan cukup laptop atau komputer kerja dan
tempat untuk memainkannya pun bisa menggunakan meja belajar.
Program virtual gamelan itu bisa dibawa ke mana saja dengan
menyimpannya dalam kartu memori, seperti di USB flash disc yang
besarnya cuma seruas jari. Orang tak perlu repot membawa seperangkat
gamelan untuk memainkan karawitan.
Menurut Joko, program itu menolong siswa untuk mengembangkan
minat dan kemampuan mereka membangun kerja sama. Terlebih, program
virtual gamelan itu berbasis komputer yang digandrungi para remaja.
Utamanya untuk permainan virtual, seperti game online yang sudah
menjamur sampai ke desa.
Kegandrungan remaja pada permainan virtual telah mengubah
perilaku mereka menjadi lebih individual. Kaum muda menjadi kurang
diasah kemampuan bermain atau kerja sama dalam kelompok.
Namun, dengan virtual gamelan kaum muda tetap bisa mengikuti
permainan berbasis komputer yang lebih mengandalkan keterampilan jari.
Bersamaan dengan itu, mereka pun belajar bekerja sama dengan teman
satu kelompok karena harmonisasi musik dalam karawitan hanya bisa
tercipta lewat kerja sama kelompok.
Sejak 2006
Sebetulnya Joko sudah memperkenalkan virtual gamelan sejak
tahun 2006. Ciptaannya itu berhasil menggondol medali perak dan
perunggu untuk karya cipta guru yang diselenggarakan Departemen
Pendidikan.
Namun, karena Joko tak memublikasikan ciptaannya secara luas,
karyanya itu kurang dikenal. Sejak 2007 sampai kini ia bersama
siswanya baru tiga kali tampil memainkan orkestra karawitan virtual
gamelan. Itu pun hanya di Semarang.
Alasannya, pihak sekolah ingin agar program musik tradisional
versi digital itu dapat digunakan semaksimal mungkin untuk
pengembangan bakat siswa.Alasan lain, kata Joko, ia belum memperoleh
perangkat lunak dengan harga terjangkau untuk melindungi ciptaannya
dari pembajakan.
Pernah seorang kolega menawarkan perangkat lunak itu, tetapi
harganya mencapai Rp 3 juta. ”Saya belum mampu kalau sampai Rp 3 juta.
Nanti saja, menunggu kalau ada yang lebih murah,” katanya .
Ketertarikan Joko menciptakan virtual gamelan berawal dari rasa
prihatin terhadap kendala klise pengadaan perangkat gamelan di sekolah
yang selalu terbentur pada keterbatasan dana pendidikan.
”Padahal, kita tahu, gamelan merupakan bagian dari kurikulum.
Namun, murid tak bisa memainkannya karena tak ada alatnya,” tuturnya.
Dalam tiga bulan Joko dan istrinya, Sri Jatmawati, pada awal 2006
mencoba merekam semua alat musik karawitan dalam versi digital.
Peralatan gamelan yang digunakan merekam dia pinjam dari sekolah dasar
di dekat rumahnya di Desa Kabekelan, Kecamatan Prembun, Kebumen,
Jateng.
Perekaman suara dilakukan satu per satu. Joko dan istrinya
serius melakukan pekerjaan ”besar ” ini. Perekaman suara instrumen
alat musik karawitan itu bisa selesai dalam tiga bulan.
Keterampilan Joko di bidang multimedia mendukung misinya merekam
semua alat musik karawitan ke dalam versi digital hingga menghasilkan
virtual gamelan dalam program Flash Macromedia.
”Saya memang suka utak-atik program komputer. Terlebih karena
multimedia memberikan ruang cukup luas untuk kegiatan apa saja,”
katanya .
Dalam penyusunan program tersebut, Joko melalui dua tahap.
Program itu disusun atas beberapa materi, yakni perbandingan musik,
partitur pelog dan slendro, permainan gamelan yang dinamai orkestra,
serta kuis gamelan yang dinamai game. Ukuran program yang terbuat pun
mencapai 8 megabyte.
Karya pertama dia itulah yang diajukan dalam lomba karya cipta
guru Depdiknas pada pertengahan 2006 dan meraih medali perunggu.
Namun, karena mulai banyak kalangan yang tertarik dengan
ciptaannya, Joko kemudian menyederhanakannya menjadi sebuah program
musik tradisional karawitan dengan hanya memuat materi orkestra dan
game. Program virtual gamelan buatannya itu hanya berukuran 3,5
megabyte atau sekitar separuh lebih kecil dari program buatan Joko
yang pertama.
”Penyederhanaan ini juga saya lakukan supaya materi yang
ditampilkan tidak terlalu rumit. Yang terpenting, anak-anak tetap bisa
bermain gamelan dan mengenal gamelan lewat game,” ujarnya.
Kolintang dan angklung
Joko juga tengah ditugaskan Depdiknas untuk mempelajari dan
mentransfer permainan musik tradisional kolintang dan angklung ke
dalam programmultimedia. Sementara itu, hampir setiap minggu dia juga
sibuk memberikan ceramah pada sejumlah seminar di Yogyakarta dan
beberapa kabupaten di Jateng terkait pembelajaran lewat multimedia.
Selain mengembangkan permainan alat musik tradisional, ia juga
aktif mengembangkan beberapa materi pembelajaran dalam program
multimedia. Joko sudah menciptakan lima program pembelajaran
multimedia untuk pelajaran Biologi, Sosiologi, Geografi, tata surya,
dan proses letusan gunung berapi.
Semua program itu menampilkan visualisasi dari setiap materi
pelajaran yang selama ini hanya bisa diperoleh lewat bacaan. ”Banyak
hal abstrak dari setiap materi pelajaran yang perlu divisualisasikan
sehingga siswa tak salah tafsir,” katanya.
Meski semua hasil karyanya sudah dipatenkan, lagi-lagi karena
keterbatasan dana untuk membeli perangkat lunak guna melindungi
ciptaannya dari pembajakan, Joko belum bersedia memublikasikan
karyanya kepada masyarakat luas.
”Sementara ini biar program ciptaan saya itu dipakai untuk anak
didik saya saja,” ucapnya . Joko berharap kendala yang
dihadapinya itu menjadi perhatian Pemprov Jateng. Ini agar pendidikan
di Jateng tidak lagi mengalami kekurangan prasarana.
=====================================================================
Degung di Amerika
Posted by Komang Merthayasa on Maret 28, 2009
Tulisan di Harian Pikiran Rakyat
Sabtu, 04 Oktober 2008
Degung di Amerika
KETIKA saya mendapat undangan dari beberapa universitas di
Amerika dan Kanada untuk mengajar gamelan (dari awal Maret hingga
akhir Mei 2008), maka yang terpikir harus dipersiapkan adalah lagu
atau gending dalam gamelan pelog atau salendro. Tetapi ketika kontak
terus berlangsung, dalam rangka persiapan untuk kegiatan itu, mulailah
terbuka, bahwa selain mempersiapkan lagu-lagu dalam gamelan pelog
salendro, baik untuk lagu tradisi atau komposisi baru, mereka juga
meminta untuk diajarkan lagu-lagu dalam gamelan degung. Sejenak agak
kaget juga, karena setahu saya hanya di Universitas Santa Cruz
California yang mempunyai gamelan degung. Lebih kaget lagi, selain
mempersiapkan lagu- lagu degung klasik, mereka juga meminta diajarkan
lagu-lagu degung perkembangan, bukan saja untuk perbendaharaan lagu
bagi para mahasiswa, tetapi juga untuk dipertunjukkan.
Tentu bukan masalah untuk menyiapkan lagu degung, karena buku
tentang lagu degung klasik, yang disusun oleh Juju Sa`in atau Encar
Carmedi, sudah lama ada. Tetapi untuk mempersiapakan lagu-lagu degung
perkembangan, saya sendiri cukup repot menulis notasinya, karena belum
ada bukunya. Kalaupun satu dua saya pernah mencipta untuk lagu degung
perkembangan, saya sendiri jarang menulis notasinya, atau lupa
menyimpannya, terutama kreasi tabuh gendingnya.
Sesuai dengan jadwal, awal Maret 2008 saya datang ke Amerika.
Pertama ke Bates College di Maine Portland. Di sana ada Gina Fatone
yang mengajar gamelan. Saya kenal Gina waktu dia masih menjadi
mahasiswa Santa Cruz California pada 1990. Dia pemain gamelan yang
baik, dan pernah datang ke Bandung untuk mempelajari karawitan Sunda.
Di sini saya mengajar dan mempersiapkan materi untuk pertunjukan,
antara lain komposisi baru dalam gamelan salendro, iringan tari, dan
degung. Selama dua minggu, mereka benar-benar berlatih dengan tekun,
dan hasilnya pun mendapat sambutan yang baik dari penonton.
Kontribusi Akustik untuk meningkatkan kualitas musik tradisional
Indonesia
Pendahuluan
Kekayaan budaya yang bermacam ragam yang di miliki Indonesia,
diantaranya dengan adanya bahasa daerah yang berbeda-beda, salah
satunya juga dicirikan dengan adanya berbagai jenis seni musik
tradisional yang memiliki keunikan tersendiri. Meskipun memiliki
karakteristik tradisional, namun di dalam perkembangannya beberapa
jenis musik ini sudah cukup dikenal di mancanegara, bahkan saat inipun
sudah ada group-group musik tradisional yang berasal dari luar negeri.
Misalnya musik gamelan Bali, musik Gamelan Jawa, Gamelan degung/sunda,
angklung, wayang kulit, gondang Batak, kolintang dan sebagainya.
Disamping itu, berbagai jenis musik tradisional inipun sudah cukup
sering dipagelarkan di berbagai gedung konser (concert hall) yang
cukup terkenal di mancanegara. Namun sampai saat ini, tidak ada
satupun dari musik tradisional Indonesia yang memiliki kualitas seni
musik adi luhung ini yang memiliki ‘rumah’ berupa gedung konser di
daerahnya masing-masing.
Bagi penonton/pendengar, hal terpenting yang diinginkannya
adalah kondisi medan akustik yang optimal dari hasil dari pagelaran
musik tradisional ini. Untuk mencapai kondisi yang optimal dari medan
suara inilah peranan ilmu & teknologi akustik semestinya perlu
dilibatkan. Secara umum dapat dijelaskan bahwa medan suara yang
diterima oleh penonton dipengaruhi oleh faktor spektral, temporal dan
spatial dari medan suara. Untuk memperoleh besaran parameter akustik
medan suara dari musik tradisional ini, dapat dilakukan dengan
melakukan serangkaian penelitian psycho & physio-akustik. Hasil
response subjektif dan objektif tersebut dapat digunakan untuk
menentukan kondisi medan suara optimum yang diharapkan oleh umumnya
penonton di dalam suatu gedung konser. Dengan mengubah besaran
parameter ini menjadi besaran dimensi arsitektur, maka gedung konser
yang ‘dedicated’ untuk jenis musik tradisional tertentu dapat
dilakukan. Hal ini berarti perancangan arsitektur gedung konser
tersebut semestinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan besaran
parameter akustik optimum dari medan suara, yang diperoleh dari
penelitian tersebut. Tanpa memanfaatkan parameter akustik optimum ini,
maka pagelaran musik tradisional tersebut tidak akan dapat memberikan
persepsi yang maksimal tentang kualitas seni musik tradisional ini.
Disamping faktor ruang gedung konser itu sendiri, karakteristik
akustik dari sumber suara, yaitu alat musiknya sendiri, juga memiliki
peran yang sangat penting, disamping musik hasil gubahan senimannya.
Sampai saat ini dapat dikatakan bahwa belum ada standar karakteristik
akustik dari masing2 alat musik tradisional Indonesia ini. Dengan
tiadanya standar akustik ini (sesuai dengan faktor spektral, temporal
dan spatialnya) menyebabkan terjadinya kesulitan untuk menentukan
kwalitas akustik musik tradisional hasil gubahan seniman itu. Hal ini
juga menyebabkan terjadinya kesulitan untuk menentukan besaran optimum
parameter medan suara itu sendiri, mengingat karakteristik sinyal
akustik dari musik itu sendiri sangat menentukan besaran parameter
akustik optimum tersebut.
Sampai saat ini, pada umumnya karakteristik akustik dari alat
musik tradisional ini dan juga proses pembuatan alat musik itu sendiri
sangat tergantung kepada kemampuan pendengaran, pengetahuan dan
pengalaman para pembuatnya (empu). Pengetahuan, pemahaman dan
penilaian subjektif tersebut, diturunkan secara tradisional dari
generasi pendahulunya, tanpa disertai dokumentasi teknis yang memadai
dan bersifat objektif (terutama kalau ditinjau dari sisi teknis &
karakteristik fisikanya). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian
dan pengkajian yang bersifat integral dan sinergis, tentang
karakteristik akustik alat musik itu sendiri beserta proses
pembuatannya, struktur material, karakteristik material dan juga
struktur pendukungnya. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat
dihasilkan suatu standar dan paten yang semestinya dimiliki oleh
masyarakat sendiri (dalam hal ini ‘mungkin’ dapat dikuasai atau
dimiliki oleh negara c.q. Pemerintah/pemerintah daerah).
Di sisi pelaksanaan pagelarannya sendiri, set-up panggung dan
penempatan posisi alat musik itu sendiri belum dirancang dengan
memanfaatkan karakteristik parameter akustik dan juga performansi
visual yang optimum. Tentunya dengan merancang set-up dan penempatan
yang tepat dapat meningkatkan ‘preferensi’ medan suara yang diterima
oleh penonton. Dalam hal inipun, ‘preferensi’ yang dituntut penonton/
pendengar dapat diperoleh dengan melakukan penelitian yang berdasarkan
kepada methoda psiko & physio-akustik.
Objektif
Sebagai langkah awal dari program ini, perlu dilakukan
identifikasi yang lengkap tentang jenis musik tradisional dari masing-
masing daerah. Identifikasi ini dilakukan bukan hanya kepada jenis
musik tradisional yang sudah cukup mapan dipentas nasional maupun
internasional. Peralatan musik tradisional pada umumnya dibuat dengan
berpedoman kepada ‘local genius’ yang umumnya dikaitkan dengan adat
istiadat dan falsafah kehidupan di daerah itu sendiri. Penelusuran
sejarah keberadaan alat musiknya perlu dilakukan sejalan dengan
penggalian keterkaitannya dengan aspek kehidupan dan sejarah dari
masyarakatnya.
Selanjutnya dilakukan pengkajian aspek fisika dari masing-masing alat
musik tradisional ini, dikaitkan dengan aspek pembuatannya. Untuk
peralatan musik yang terbuat dari metal, seperti gong, bonang dan
sebagainya, proses metalurgi pembuatan alat tersebut perlu dielaborasi
secara mendalam. Sementara untuk peralatan musik yang terbuat dari
bahan non-metal, pengkajian dari sisi struktur dan juga susunan elemen-
elemen mekanis yang mendasarinya perlu ditelaah secara mendalam
terutama jika dikaitkan dengan karakteristik akustik yang
dihasilkannya. Selanjutnya, proses penalaan yang melibatkan kepakaran
dari ‘empu’ pembuatnya juga perlu dikaji dengan memanfaatkan konsep
pengujian akustik dari sisi spektral, temporal dan spatialnya.
Disamping itu kajian tentang konsep ‘judgement’ yang dilakukan oleh
sang ‘empu’ juga perlu dilakukan, mengingat aspek subjektif yang
mendasarinya disamping akibat kelangkaan literatur pendukungnya.
Dengan kelengkapan kajian/penelitian tersebut maka penyusunan konsep
standarisasi alat musik tradisional ini dapat dilakukan, disamping
itu, perlu juga dituangkan ke dalam dokumen ‘paten milik masyarakat’
untuk alat musik tradisional tersebut.
Mengingat adanya kenyataan bahwa kondisi medan akustik yang
baik bagi ‘presentasi’ jenis musik tertentu sangat ditentukan oleh
karateristik sinyal dari gubahan musik itu sendiri, maka penelitian
atas karakteristik akustik secara lengkap dari gubahan musik hasil
dari kreativitas senimannya perlu dilakukan. Sebagai gambaran,
meskipun alat-alat musik yang digunakan sama, namun kreativitas dari
seniman dapat menghasilkan gubahan musik yang berbeda-beda, misalnya
jika dilihat dari sisi temponya. Hal ini perlu dipahami mengingat jika
musik itu dimainkan di dalam ruang tertutup misalnya auditorium,
‘resital hall’, ataupun ‘concert hall’, maka karakteristik sinyal dari
gubahan musik tersebut sangat menentukan kondisi akustik optimal yang
dapat didengarkan oleh penontonnya.
Objektif selanjutnya adalah mengidentifikasi kondisi akustik
optimum sesuai dengan ’preferensi’ dari pendengarnya. Sebelumnya perlu
untuk dijelaskan bahwa kondisi medan akustik yang dialami oleh
pendengar terdiri dari penggabungan empat parameter utama, yaitu :
1. Tingkat pendengaran (Listening Level), biasanya besaran ini
dinyatakan dengan besaran dBA.
2. Waktu tunda pantulan awal (Initial Delay Time), yaitu waktu tunda
yang terjadi antara suara langsung dari sumber ke pendengar dan suara
pantulan,
3. Waktu dengung subsequent (Sub-sequent Reverberation Time), yaitu
waktu dengung yang berhubungan satu-satu dengan posisi sumber suara
dan penerima dan
4. Korelasi silang sinyal antar kedua telinga (Inter-Aural Cross
Correlation, IACC), yaitu besaran yang menyatakan adanya perbedaan
sinyal suara yang diterima di telinga kiri dan kanan pendengar.
Tiga parameter utama dari 1 sampai 3 di atas adalah parameter
yang bersifat temporal dan besaran ini dapat diukur dengan menggunakan
satu channel pengukuran saja, misalnya menggunakan sound level meter
atau frequency analyzer 1 channel. Disamping itu, ketiga parameter
tersebut memiliki karakteristik yang juga sangat tergantung kepada
frekwensi. Sementara parameter utama yang keempat adalah besaran yang
bersifat spatial dan hanya dapat diukur dengan menggunakan instrumen
dual channel dengan memanfaatkan dummy head. Hal ini disebabkan karena
manusia memiliki dua buah telinga yang posisinya sedemikian rupa
sehingga dapat mendeteksi adanya ruang dan juga dapat melokalisasikan
posisi dari sumber suara. Adanya ke‐empat parameter utama akustik ini,
bukan hanya berlaku bagi medan suara di dalam ruangan (indoor) tetapi
juga berlaku untuk sistem tata suara di luar ruangan (outdoor). Dengan
penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa disisi sistem pendengaran
manusia memiliki 4 dimensi yang sama dengan sistem visual, namun
sistem pendengaran memiliki 3 dimensi waktu dan satu dimensi ruang.
Sementara pada sistem visual manusia memiliki 3 dimensi yang
menyatakan karakteristik ruang dan satu dimensi tentang waktu.
Berkaitan dengan penjelasan ringkas diatas, maka objektif
selanjutnya dari program ini adalah menentukan besaran optimum dari
masing‐masing empat parameter akustik medan suara tersebut. Penentuan
parameter optimum ini akan melibatkan proses penelitian yang
menerapkan methoda psiko dan phisio‐akustik, dimana response subjektif
dan objektif dari para subjek pendengar yang diberi presentasi variasi
parameter medan suara mesti dianalisis dengan teliti. Disamping
melibatkan subjek, penelitian ini juga memerlukan bantuan simulasi
medan suara di dalam laboratorium yang melibatkan sarana peralatan
yang memiliki ketelitian tinggi.
Objektif utama dari program ini adalah dihasilkannya rancangan
Gedung Konser, atau paling tidak berupa gedung rehearsal yang mungkin
berbentuk Gedung Kesenian yang secara akustik memadai untuk pagelaran
seni musik tradisional tersebut. Hal ini akan dibahas pada paragraph
tersendiri.
Aktivitas
Untuk melaksanakan program ‘research road‐map’ ini, dengan
memanfaatkan hasil dari penelitian awal yang sudah berhasil
diselesaikan dan juga yang sedang dilaksanakan, maka perlu dilakukan
sosialisasi dan meningkatkan ‘linkage’ ke seluruh ‘stake holder’ dari
seni musik Tradisional Indonesia ini. Dengan memanfaatkan berbagai
media, dari media cetak/koran sampai ke internet, dan juga melalui
presentasi di seminar‐seminar, kongres maupun saresehan, maka
pemahaman atas diperlukannya ‘perhatian – attention’
yang memadai bagi peningkatan kualitas musik tradisional ini dapat
dilakukan. Hal ini perlu dilakukan mengingat banyaknya ‘salah kaprah’
yang terjadi di dalam pelaksanaan seni pertunjukan musik tradisional
ini. ‘Salah kaprah’ yang terjadi disebabkan karena adanya pemahaman
yang keliru atas pemanfaatan teknologi sistem tata suara dan juga
belum membudayanya ‘konsentrasi perhatian’ ketika mendengarkan
pertunjukan seni musik tradisional. Disamping itu, kondisi pelaksanaan
pertunjukan seni musik tradisional inipun tidak terlepas dari adanya
berbagai macam gangguan yang menyebabkan ‘konsentrasi perhatian dan
mendengarkan’ musik tradisional ini tidak dapat tercapai secara
optimal.
Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi sumber daya
manusia yang memiliki pemahaman yang memadai di bidangnya masing‐
masing, yang dapat diajak bekerjasama di dalam upaya peningkatan
kualitas musik tradisional ini. Berbagai kepakaran diperlukan dan
dapat berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung
sehingga budaya kualitas seni musik tradisional ini dapat berkembang
dengan pesat. ‘Best practices’ dari bangsa Jepang yang secara
konsisten dan berkelanjutan dapat meningkatkan kualitas seni musik
tradisionalnya, dapat dijadikan sebagai sarana ‘benchmarking’ untuk
menuntun pelaksanaan program ini. Keterlibatan berbagai jenis
teknologi mutakhir dari teknologi yang paling dasar sampai kepada
teknologi ‘signal processing’ dan simulasi komputer mutakhir, perlu
dimanfaatkan untuk meningkatkan ketelitian, efisiensi dan efektivitas
dari aktivitas‐aktivitas pelaksanaan program ini. Disamping itu,
pelaksanaan kegiatan juga perlu didasari dengan paradigma
transparansi, terlacak dan teraudit, agar dapat menghilangkan berbagai
macam kendala yang bersifat subjektif dan sektoral.
Aktivitas selanjutnya adalah melakukan identifikasi kebutuhan
dan manfaat dari masing‐masing daerah atas potensinya untuk
mengembangkan dan meningkatkan kualitas keunikan dan kekhasan dari
budaya daerahnya masing‐masing jika dikaitkan dengan seni musik
tradisionalnya. Hal ini perlu dilakukan mengingat dengan
diimplementasikannya otonomi daerah maka potensi keuangan dan
penerapan skala prioritas dari masing‐masing daerah tentunya akan
berbeda‐beda. Dari sisi potensi seni musik tradisionalnya, maka secara
makro mungkin dapat dikatakan bahwa daerah Jakarta, Bali, DIY, Jawa
Tengah (Solo), Jawa Barat dan Sumatera Barat memiliki potensi
pengembangan dan peningkatan kualitas musik tradisionalnya yang sangat
tinggi. Hal ini ditunjukkan dari adanya tuntutan dan perkembangan
aktivitas dari para seniman dan budayawan pendukung seni musik itu
sendiri, disamping karena tuntutan identitas daerahnya sendiri.
Meskipun diperlukan ‘feasibility study’ yang lebih mendalam dan juga
teliti dari semua aspek, kebutuhan akan sarana Gedung Konser di daerah‐
daerah tersebut dapat dikatakan sangat ‘urgen’ dan selanjutnya dapat
dijadikan sebagai salah satu acuan akan keberhasilan dari program
peningkatan kualitas musik tradisional ini. Bagi daerah lainnya,
tuntutannya mungkin tidak perlu sampai merancang Gedung Konser namun
melakukan renovasi dan revitalisasi terhadap Gedung Kesenian yang
dimilikinya sehingga secara akustik cukup memadai bagi pagelaran seni
musik tradisional daerahnya. Sebagai contoh, saat ini proses
perancangan renovasi Gedung Sultan Suriansyah di Banjarmasin sedang
dilakukan, yang ditujukan untuk meningkatkan ‘perhatian’ masyarakatnya
terhadap budaya seni pertunjukan di daerah tersebut. Sampai saat ini,
banyak gedung kesenian diberbagai daerah yang dibangun tanpa disertai
konsep perancangan akustika arsitektur yang memadai, sehingga hampir
semua pertunjukan seni musik dan tari di Gedung Kesenian tersebut
tidak mampu meningkatkan ‘perhatian’ dan ‘ketertarikan’ masyarakat
untuk memberikan apresiasinya.
Kemudian perlu dilakukan ‘survey’ lapangan berkaitan dengan
pengujian/penelitian fisika dari seluruh komponen penunjang seni musik
Tradisional ini, meliputi sarana peralatannya, lingkungan ‘venue’
tempat latihan dan juga presentasinya (misalnya keberadaan Gedung
Kesenian, pendopo, bale banjar, atau ampitheatre misalnya), termasuk
juga pengujian baik psiko‐akustik maupun physio‐akustik yang
melibatkan para subjek di lingkungan masyarakatnya. Pengujian in‐situ
bagi presentasi alami dari musik tradisional ini secara umum dapat
dianggap lebih murah dari sisi finansial dibandingkan dengan
mendatangkan para seniman tersebut ke pusat penelitian. Pada sisi
aktivitas ini, keterlibatan perguruan tinggi yang berada di daerah
tersebut sangat diperlukan, demikian juga dari jajaran pemerintah
daerahnya. Keterlibatan perguruan tinggi dan jajaran pemerintah daerah
juga diperlukan untuk melaksanakan ‘feasibility study’ dari berbagai
aspek tentang potensi pengembangan dan peningkatan kualitas seni ini
serta prospek pembangunan sarana (bangunan dan sarana pendukungnya)
dan prasarana (kebijakan dan rencana pengembangan jangka panjangnya).
Sementara itu di perguruan tinggi perlu dikembangkan dan juga
difasilitasi secara serious dan konsisten pembentukan unit kesenian
daerah yang merupakan sarana berkreasi dan berinovasi bagi para
mahasiswa/i, sebagai salah satu bentuk pengembangan identitas
institusi dan juga daerahnya. Untuk dapat meningkatkan ‘prideness’ dan
‘confidency’ para mahasiswa yang terlibat di bidang seni musik
tradisional ini, maka bagi institusi terkait di tingkat pusat perlu
untuk menyelenggarakan festival musik tradisional bagi unit kesenian
dari berbagai perguruan tinggi. Dengan adanya berbagai penghargaan
riil dari pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun daerah, maka
lambat laun tingkat ‘prideness’ dan ‘confidency’ dari masyarakat umum
akan lebih meningkat lagi, sehingga ‘perhatian’ mereka atas warisan
adi luhung nenek moyang mereka akan lebih meningkat lagi.
Setelah dilakukannya ‘survey in situ’, maka seluruh data
kemudian diolah dan juga disimulasikan di dalam laboratorium, sebagai
upaya untuk meningkatkan keobjektifan ‘finding’ dari masing‐masing
jenis musik tersebut. Di Laboratorium juga perlu dilakukan pengujian
dan evaluasi baik psiko‐ maupun phisio akustik melalui simulasi medan
suara yang juga melibatkan subjek. Hasil analisa seluruh data kemudian
dimanfaatkan untuk menentukan kondisi medan suara optimum yang
memiliki ‘preferensi’ tertinggi dari
masing‐masing parameter akustik medan suara itu sendiri.
Selanjutnya, sebagai puncak aktivitas program ini adalah
dirancangnya suatu Concert Hall yang ‘dedicated’ untuk musik
tradisional Indonesia, dengan cara menterjemahkan besaran dari masing‐
masing parameter akustik yang diperoleh dari penelitian ke dalam
parameter yang umum digunakan pada bidang arsitektur. Jika dapat
diimplementasikan secara nyata, maka secara meyakinkan akan dihasilkan
suatu sarana pertunjukkan musik tradisional yang bersifat unik dan
khas sehingga setiap pengunjung/penonton akan dapat merasakan dan juga
menyimpulkan bahwa mereka tidak akan dapat mendengarkan musik
tradisional dengan kualitas yang lebih tinggi dari yang mereka
dengarkan di dalam gedung itu.
Mengingat keunikan, kekhasan dan juga tuntutan kualitas dari
sarana Gedung Konser ini, disamping juga karena karakteristiknya yang
berupa landmark, monumental, culture based, advanced technology,
prideness, confidence dan juga civilized, disamping karena usianya
yang umumnya lama dan juga biayanya yang mahal, maka sangat perlu
dikembangkan suatu konsep manajemen ‘sustainability’ yang cukup rinci
dan teliti, sehingga utilisasi sarana ini dapat dimanfaatkan secara
optimal untuk meningkatkan dari prideness, confidence dan dignity
bangsa seutuhnya.
Penutup
Pada tulisan ini secara ringkas sudah diungkapkan tentang upaya
untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas ‘local genius’ berupa
hasil budaya seni musik tradisional bangsa Indonesia dari sisi
keilmuan akustik‐nya. Berbagai hasil penelitian yang telah dicapai
sampai saat ini secara meyakinkan dan objektif dapat menunjang program
‘research road‐map’ yang diusulkan ini. Kontribusi positif dan juga
dukungan dari berbagai pihak termasuk dari seluruh ‘stake holder’ seni
musik tradisional ini, sangat dibutuhkan untuk dapat mencapai berbagai
objektif dari program ini. Masukan, saran dan juga kritik dengan
rendah hati sangat diperlukan guna menyempurnakan dan meningkatkan
kualitas capaian dari program ini. Atas perhatian dan kerjasamanya,
penulis ucapkan terima kasih.
=====================================================================
Gamelan Menuju Industri Kreatif
Posted by Komang Merthayasa on Januari 11, 2009
Gamelan Menuju Industri Kreatif
Kompas/arb
Sabtu, 10 Januari 2009 | 23:24 WIB
SOLO, SABTU–Seni gamelan baik asal Jawa, Sunda, Bali, Bugis
atau lainnya untuk pada era globalisasi sangat potensial menuju
industri kreatif, karena dalam perkembangannya musik-musik di barat
sekarang ini banyak yang berpaling ke wilayah timur, termasuk
Indonesia.
Guru Besar Kerawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
Prof.Dr. Rahayu Supanggah mengatakan hal itu dalam Seminar
“Pertumbuhan dan Perkembangan Gong Kebyar” yang diselenggarakan
Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta, di kampus
Kentingan Solo, Sabtu.
“Dulu musik-musik barat telah dieksplorasi sedemikian kuat,
tetapi sekarang tidak lagi dan mereka beralih kebudayaan timur
termasuk Indonesia. Untuk itu gamelan sangat potensial menuju ke
induwstri kreatif,” katanya.
Dia mengatakan globalisasi jangan hanya dipandang sebagai
ancaman tetapi juga peluang besar bagi perkembangan musik gamelan yang
sekarang ini telah banyak dilirik dunia barat.
Gamelan di negara barat tidak hanya dijadikan inspirasi untuk
mengembangkan musik-musik barat, tetapi juga diajarkan ke berbagai
organisasi dan lembaga bahkan di penjara-penjara seperti di Inggris.
“Melalui gamelan orang bisa menghilangkan dari sifat brutal,
menambah kreatifitas, memupuk prinsip-prinsip kerjasama dan gamelan
sekarang ini telah menjadi multi guna,” jelasnya.
“Tradisi menjadi penting untuk mencari indentitas diri, untuk
itu tidak mengherankan kalau para musikus barat dalam mencari jati
dirinya banyak yang berpaling ke budaya timur yang masih asli,” kata
Supangah.
Di Amerika Serikat (AS) ada 500 perangkat gamelan lebih, di
Ingris, Jepang ada sekitar 100 perangkat gamelan dan ada di Australia,
Jerman, perancis dan bahkan di Singapura hampir tiap Sekolah Dasar
memiliki gamelan.
Seminar tersebut juga menapilkan pembicara Dekan Fakultas Seni
Pertunjukan ISI Surakarta Prof.Dr. Pande Made Sukerta, Staf Ahli
Menteri Keuangan Dr Permana Agung D, M.Sc dan Staf Pengajar ISI
Yogyakarta I Wayan Senin,SST, M.Hum. (ANT)
=====================================================================
Musik Pun Menggugah Kebangsaan…
Posted by Komang Merthayasa on Desember 7, 2008
Tulisan Redaktur Senior di Koran Kompas
100 Tahun Kebangkitan Nasional
Musik Pun Menggugah Kebangsaan…
Senin, 15 September 2008 | 01:31 WIB
Oleh Ninok Leksono
“Di samping segala-galanya (urusan lain-lain—pen), perjuangan
untuk Kemerdekaanlah yang harus menjadi pokok pekerjaan semua orang
Indonesia di zaman-zaman kesukaran seperti sekarang ini.” (Ismail
Marzuki, dalam ”Minggu Merdeka”, 1/6/1958)
Ucapan itu sendiri keluar dari Bang Mail—panggilan akrab Ismail
Marzuki—semasa pemerintahan bala tentara Dai Nippon berada dalam
kemegahannya; semasa semua segi kehidupan kita—politik, ekonomi,
kebudayaan—harus ditujukan dan dilakukan untuk kepentingan Jepang, dan
”menang perang” (Asia Timur Raya).
Berarti Bang Mail menyadari bahwa tujuan utama bermusiknya,
semangat yang menggebu untuk mencipta lagu, sebetulnya untuk mendukung
upaya mencapai kemerdekaan. Jadi, tidak mengherankan kalau banyak dari
202 lagu ciptaannya bercorak romantika perjuangan. Bahkan, ketika
kemerdekaan yang telah dikumandangkan 17 Agustus 1945 itu terancam
oleh kekuatan kolonial yang ingin kembali berkuasa, Ismail terus
menggugah semangat bangsanya melalui lagu-lagu perjuangan, seperti
Sepasang Mata Bola (1946) dan Melati di Tapal Batas (1947).
Penggolong-golongan karya Ismail dalam tiga periode perjuangan,
yakni Hindia-Belanda (1900-1942), Pendudukan Jepang (1942-1945), dan
Revolusi (1945-1950), menyiratkan kentalnya konteks karya musik
komponis kita ini dengan perjuangan. Dalam hal Ismail, karya
pertamanya pun—O Sarinah (1931)—menggunakan judul yang maknanya lebih
dari sekadar nama seorang wanita. Sarinah juga lambang bangsa yang
tertindas penjajah.
=====================================================================
Pendidikan Kesenian Jangan Dianggap Remeh
Posted by Komang Merthayasa on Desember 7, 2008
Dari Koran Kompas
Belajar-Mengajar
Pendidikan Kesenian Jangan Dianggap Remeh
Senin, 15 September 2008 | 00:30 WIB
Jakarta, Kompas – Kegiatan belajar di sekolah hendaknya
mempertahankan pendidikan kesenian dalam berbagai jenisnya. Kesenian
memengaruhi kehalusan rasa peserta didik di tengah proses belajarnya.
”Kesenian menggugah dan membentuk rasa dan nurani siswa. Jangan
pisahkan dari pendidikan di sekolah,” kata Direktur SMA Kolese
Kanisius Jakarta Romo E Baskoro Poedjinoegroho di sela-sela Canisius
Education Fair 2008 bertema First Step for Your Future di Jakarta,
Sabtu (13/9).
Hal senada diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen
Kebudayaan dan Pariwisata Wardiyatmo. Untuk menjadi manusia unggul di
era modern seperti sekarang, seseorang tidak cukup hanya dengan
mengandalkan semata-mata kemampuan otaknya.
Setidaknya, harus melibatkan tiga kompetensi, yakni penguasaan
ilmu pengetahuan alam dan teknologi (iptek), agama, dan seni budaya.
Hidup lebih mudah
Ilmu pengetahuan alam dan teknologi membuat hidup lebih mudah,
agama memberi arah hidup, sedangkan seni budaya memberi rasa indah.
”Semua manusia pada dasarnya ingin hidup lebih baik. Namun,
juga ingin ketenangan, menjauhi kekerasan, dan kebersamaan. Seni
budaya penting dalam hal ini,” katanya.
Romo Baskoro mengatakan, pendidikan kesenian menjadi kegiatan
wajib di SMA Kanisius dan ada angka penilaiannya. ”Yang penting siswa
dapat terlibat dalam berkesenian, tidak harus menjadi mahir,” ujarnya.
Proses belajar tanpa berkesenian dalam berbagai jenisnya, di
antaranya akan membuat rasa belajar kering. Siswa pun menjadi pribadi
yang lemah dalam apresiasi dan ekspresi.
Secara khusus, manifestasi berkesenian ditampilkan secara
kolosal pada pembukaan pameran dua hari itu. Selain orkestra siswa,
lebih dari 550 siswa dan guru bergabung menari kecak di tengah
lapangan sepak bola sekitar 20 menit.
Penampilan itu bersanding dengan pameran pendidikan yang
diikuti 66 perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri. Pengunjung
dari Kanisius maupun sekolah lain gratis berkonsultasi atau menjajaki
pilihan kuliah.
Selain perguruan tinggi swasta dalam negeri, beberapa perguruan
tinggi luar negeri ikut serta, seperti dari Singapura, Malaysia,
Australia, Selandia Baru, Belanda, Jepang, dan Korea.
Sejumlah presentasi pengenalan berbagai jurusan juga digelar
selama dua hari, Sabtu (13/9) dan Minggu (14/9). ”Kami berharap
presentasi itu memberi informasi yang jujur dan tepat sehingga siswa
mampu menimbang dengan jernih pilihan masa depannya,” kata Romo
Baskoro. (GSA)
=====================================================================
Pembuatan Gamelan Bali
Posted by Komang Merthayasa on Desember 7, 2008
Gamelan Bali
Gamelan Bali merupakan peralatan musik tradisional yang dikenal
sejak zaman Kerajaan Majapahit. Alat musik ini biasa dipakai untuk
mengiringi upacara keagamaan, penyambutan tamu, dan dalam pesta-pesta
adat.
Untuk membuat satu set gamelan lengkap, yang biasa disebut satu
barong, diperlukan waktu sekitar tiga bulan. Gamelan ini biasanya
dipesan kelompok-kelompok pemusik Bali dan sekitarnya, turis asing,
hingga musisi mancanegara. Khusus di kalangan musisi mancanegara,
gamelan Bali yang memiliki suara khas dipadukan dengan alat musik
modern. Satu barong gamelan harganya mencapai Rp 125 juta.
Desa Tihingan, Kabupaten Klungkung, dikenal sebagai penghasil
gamelan Bali dengan kualitas yang bagus. Desa berpenduduk 200 keluarga
ini sebagian warganya merupakan pengrajin gamelan Bali. Wartawan “SP”,
YC Kurniantoro, yang mengunjungi desa itu belum lama ini, menyajikan
potret pembuatan gamelan Bali dalam bidikan berikut.
1. Gong dan kempul yang laku terjual dibawa untuk upacara keagamaan.
2. Kempul dari bahan campuran timah dan tembaga dibakar di tungku
pembakaran agar mudah dibentuk.
3. Mencoba harmonisasi suara kempul.
4. Menghaluskan permukaan dengan gerinda.
5. Membentuk lekukan.
6. Menempa kempul menggunakan palu kayu.
=====================================================================
Angklung Poco-Poco Goyang Aljazair
Senin, 31 Oktober 2011 06:35 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO - Begitu mendengar irama angklung
mengiringi lagu poco-poco, para muda mudi Aljazair pun bergoyang
mengikuti musik khas Jawa Barat itu. Suasana tambah semarak ketika ibu-
ibu dan staf KBRI Aljer muncul di panggung untuk turut goyang poco-
poco mengiringi irama musik yang oleh Badan PBB, UNESCO, ditetapkan
sebagai salah satu warisan budaya dunia tersebut.
Kehangatan musik angklung dan goyang poco-poco itu tergambar
dalam penampilan Saung Angklung Udjo di pusat perbelanjaan kesohor di
ibu kota Aljier, "Bab Ezzouar Mall", kata siaran pers KBRI Aljer yang
diterima ANTARA Kairo, Senin.
Penampilan Saung Angklung Udjo di Bab Ezzouar Mall pada Jumat
(28/10) itu terselenggara atas kerja sama KBRI Aljer dengan pihak
pengelola mal terbesar di negara Arab di Afrika Utara teresbut.
"Kunjungan Saung Angklung Udjo ke Aljazair benar-benar membawa kesan
tersendiri", ujar Taufik Hidayat, koordinator Tim Saung Angklung Udjo
tersebut.
Taufik menjelaskan, penampilan Saung Angklung Udjo di Aljazair
dalam rangka mewakili Indonesia dalam Pameran Warisan Budaya Dunia Non-
Benda dari Negara-Negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI)
yang berlangsung di Tlemcen pada 22 - 26 Oktober 2011.
Tlemcen, kota wisata di bagian barat Aljazair itu terpilih
sebagai Ibukota Kebudayaan Islam 2011 dalam Pertemuan Tingkat Menteri
Kebudayaan OKI di Baku, Azerbaijan pada 2009.
Disebutkan, dalam pertunjukan itu, pemain Saung Angklung Udjo
juga mengiringi sejumlah lagu khas Timur Tengah untuk menunjukkan
kehebatan alat musik tradisional Indonesia.
Pengujung Bab Ezzouar Mall di hari Jumat yang merupakan liburan
akhir pekan di negara itu dibuat terkagum-kagum ketika Saung Angklung
Udjo memainkan alunan "Ya Rayeh," sebuah lagu rakyat yang sangat
populer di kalangan masyarakat Aljazair, katanya.
Pagelaran seni budaya Indonesia di Mal Bab Ezzouar itu ditutup
dengan sebuah lagu khas Mesir, Ya Habibi.
Usai pertunjukan, para penonton berebut untuk meminta foto
bersama dengan para personel Saung Angklung Udjo dan peralatan musik
angklung mereka, hingga akhirnya pihak keamanan pun terpaksa turun
tangan menertibkan suasana, katanya.
"Luar biasa sekali kesenian tradisional Indonesia ini, dan saya
sangat terharu menyaksikan saudara-saudara saya yang datang jauh dari
Indonesia untuk menghibur kami di sini", tutur seorang pengunjung
seperti dikutip kantor berita Antara.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Antara
=====================================================================
KJRI New York Galakkan Diplomasi Budaya Lewat Pelajaran Angklung di
Sekolah-sekolah
Upaya pendekatan ke berbagai kalangan dalam rangka promosi
citra Indonesia melalui diplomasi budaya tidak hanya dapat dilakukan
terhadap orang dewasa namun juga terhadap anak-anak. Atas dasar
itulah, KJRI New York di awal tahun 2009 melakukan diplomasi budaya
lewat program pengajaran seni musik angklung di sekolah-sekolah dasar
di New York, khususnya distrik Scarsdale.
Program yang direncanakan berlangsung selama kurang lebih 2
bulan ini dilaksanakan di sedikitnya 8 sekolah mulai dari tingkat
taman kanak-kanak hingga sekolah menengah. Salah satunya, di Fox
Meadow Elementary School, yang secara resmi dibuka oleh Konsul
Jenderal RI Trie Edi Mulyani pada hari Kamis, 29 Januari 2009.
Meskipun salju tebal masih menutupi wilayah Up State New York,
kehangatan sangat terasa di ruang musik tempat 40 orang murid kelas 3
berkumpul mengikuti workshop pengenalan musik angklung.
Acara dimulai dengan paparan Konsul Jenderal RI New York, Ibu
Trie Edi Mulyani yang menerangkan tentang Indonesia dan kebudayaannya.
Selanjutnya, Konjen RI dibantu oleh guru musik, Ms. Barbara Laman.
mendemonstrasikan cara-cara memainkan alat musik angklung. Lagu-lagu
seperti “Topi Saya Bundar” dan “Twinkle Twinkle Little Star” yang
diajarkan mendapat tanggapan yang antusias dari para murid. Satu per
satu mencoba memainkan angklung. Selain itu, satu hal yang membuat
murid-murid semakin terkesan adalah keindahan musik angklung yang
dipadukan dengan piano dan “chime bells”.
Seusai dilaksanakannya praktek musik angklung, Konsul Jenderal
RI membagikan DVD promosi Indonesia dan aneka panganan kecil khas
Indonesia baik kepada murid-murid maupun guru-guru yang yang hadir.
Program pengenalan musik tradisional Indonesia di sekolah ini
direncanakan akan ditutup dengan sebuah pagelaran seni dimana para
murid akan mendemonstrasikan kemampuan mereka memainkan musik dengan
menggunakan angklung (sumber: KJRI New York).
=====================================================================
Festival Bambu Nusantara V, Perangkat Tradisional untuk Musik
Internasional
Banyak hal yang bisa dieksplorasi dari bambu, salah satunya
adalah alunan musik dengan kombinasi nada dan suara dengan cita rasa
seni internasional. Tengok saja pagelaran Bambu Nusantara (World Music
Festival) ke 5 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, 1-2 Oktober
2011 akan menampilkan musisi whole music kenamaan luar negeri, sebut
saja Melodi Manis dan Sora Awi&Anggrek dari Jepang, Wallaki gabungan
musisi asal Australia, Chile, dan Indonesia, serta beberapa musisi
dari Amerika.
"Inilah ketertarikan mereka -musisi luar negeri- mengikuti
festival bambu, karena mereka bisa mengeksplorasi bambu. Tidak hanya
dengan angklung, tapi ternyata bambu bisa dimaksimalkan jadi berbagai
macam alat kesenian," papar Direktur Program Festival Bambu Nusantara
5 Iman Nuradi.
Tidak melulu angklung dan calung, suling dan musik bambu klasik
lainnya, namun suara merdu juga dihasilkan dari arumba (alunan rumpun
bambu) yang dikolaborasi dengan musik masa kini seperti piano elektrik
dan piringan hitam yang dimainkan seorang Disk Jockey (DJ). Selain
musisi luar negeri, ada pula musisi papan atas nusantara, diantaranya
Balawan dan Gamelan Maestro Project, Sambasunda, SS Ensamble, Rafli Wa
Saja (musisi kenamaan Aceh), Sawung Jabo, Saras Vati, Babendjo, Europe
in De Troppen, Dwiki Dharmawan, juga Komunitas Hong.
Bedanya pagelaran kali kelima ini dibandingkan festival bambu
sebelumnya adalah menampilkan sosok-sosok muda dalam dunia musik
bambu. Menurut Dirjen Pemasaran Kemenbudpar Sapta Nirwandar, pagelaran
Bambu Nusantara ini merupakan titik awal regenerasi penggiat musik
bambu. Pasalnya, pengisi acara Festival Bambu Nusantara didominasi
kaum muda.
"Target pengunjung pagelaran adalah kaum muda. Untuk itu kita
akan banyak menampilkan kelompok musik bambu kaum muda," tegas Sapta.
Sesuai dengan targetnya, Sapta mengharapkan bambu menjadi musik
kontemporer dan tidak dianggap 'norak', bahkan sama nikmatnya dengan
festival musik jazz.
Selain kaum muda profesional, ada pula siswa-siswi Kota Kembang
Bandung yang unjuk gigi, yakni SMA 3 Cimahi (SMALUCHI), SMAN 2, SMAN
8, SMAN 44, SMPN 2 Bandung. Musisi indigenous lain yang akan tampil
adalah sekelompok anak punk yang mengekspresikan diri melalui seni
musik bambu dan Jatiwangi Art Factory, sekelompok pekerja pabrik
genting yang pada malam hari mengisi waktu dengan bekesenian bambu.
Acara tersebut juga melibatkan perwakilam kelompok musik bambu
dari daerah lain, seperti Pompang Santorayan dari Sulsel, Blambangan
Art School dari Jawa Timur, ada pula perwakilan dari Propinsi Jawa
Tengah, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Banten.
Selain musik, festival ini juga menyuguhkan pameran hasil
desain produk Itenas, karya seni bambu dari Fakultas Seni Rupa dan
Desain ITB, workshop tentang Biola Bambu Abah Dasep, wayang bambu,
angklung TRA-digi. Tidak ketinggalan seminar, live streaming, bazar
kuliner, dan eco fashion yang menampilkan karya seni bambu dari
Bengkel Kostum STSI Bandung.
Perihal pengunjung, Festival Bambu Nusantara ini selalu
mengalami peningkatan setiap tahunnya. "Jumlah pengunjung selalu
meningkat. Tahun lalu mencapai 8000 dalam dua hari. Kali ini kita
menargetkan 10 ribu pengunjung," tutur Ketua Penyelenggara Dadang
Johari.
Desain letak pagelaran seni yang mengangkat seni musik tradisi
Indonesia ini pun dibuat berbeda dari sebelumnya. Penyelenggara
menempatkan 3 panggung dengan pembagian saru panggung utama dengan HTM
Rp 50.000 per hari atau Rp 75.000 terusan (2 hari) dan dua panggung
gratis di selasar utara dan selatan.
Sapta mengharapkan, tahun depan Festival Bambu Nusantara ini
dapat digelar di Jakarta, tepatnya di Jakarta Convention Center. Hal
ini akan diusahakan dengan mengajukan rancangan ke DPR agar
direalisasikan. (Pusinpub/*)