Pertunjukan teater tradisional yang masih lekat di ingatan
semakin jarang dipentaskan. Aliran teater modernisme yang menjamah
ranah perteateran Indonesia dan digandrungi oleh beberapa kelompok
teater umum maupun kampus semakin mempersempit ruang gerak teater
tradisional yang sudah lama hidup ini. Ya, sudah lama hidup akan
tetapi sudah lama juga hilang dari dunia kesenian. Bahkan, pertunjukan
teater tradisi dianggap sangat kuno sehingga itu salah satu alasan
mengapa teater ini jarang dipentaskan dalam pertunjukan beberapa
dekade akhir-akhir ini.
Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di
Indonesia (2006) mengatakan, sejarah teater tradisional di Indonesia
dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Pada zaman itu, ada tanda-tanda
bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung
upacara ritual. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara
keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan
masyarakat kita. Pada saat itu, yang disebut "teater", sebenarnya baru
merupakan unsur-unsur teater dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan
teater yang utuh. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur-
unsur teater membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari
spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya.
Konsekuensi hilangnya teater tradisi di Indonesia tentunya
berpengaruh besar pada tetaer tradisi di Sumatera. Kita masih ingat
ketika di gang-gang dan tanah lapang selalu dihiasi
dengan pertunjukan tradisi yang juga menjadi acara favorit bagi kawula
muda dan sesepuh di daerah-daerah Sumatera. Kini pemandangan itu sudah
habis yang ada hanyalah sebuah museum dalam ingatan kita. Bagaimana
dahulunya kemasan itu menjadi penarik dan objek seni dan sastra daerah
di kampung kita. Anak sampai cucu kita sekalipun akan lupa tentang
historial teater tradisi ini. Bertolak dari semua itu ada secercah
harapan yang masih dijawab penerus tradisi ini. Baik itu dari kalangan
penggiat maupun akademisi.
Ada beberapa proses terjadinya atau munculnya teater tradisional
di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya.
Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu
berbeda-beda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber
dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. Berikut ini disajikan
beberapa bentuk teater tradisional yang ada di Sumatera.
PM-TOH
PM- TOH dulunya, dikenal sebagai seorang seni tutur yang
berfungsi sebagai pembawa berita atau juru kabar untuk masyarakat di
Aceh. Seni bertutur ini semakin berkembang pesat di Aceh besar. Hal
itu kemudian dianggap sebagai suatu pola penyampaian berita yang bagus
disebabkan oleh masyarakat bisa mendengar langsung apa yang
disampaikan. Tidak dalam bentuk media komunikasi saat ini. Pertujukkan
PM-TOH meredup beberapa dekade yang lalu, namun akhirnya bisa kembali
bangkit setelah beberapa tahun belakangan. PM-TOH dalam bentuk yang
lebih modern kemudian dikembangkan kembali oleh Agus Nur Amal yang
merupakan putra asli Aceh yang belajar di IKJ. PM-TOH menjadi pembawa
keceriaan dalam suasana trauma bagi anak-anak korban stunami, sehingga
seniteater tradisional ini pun menjadi icon aceh dalam pengembangan
seni di mata wisatawan asing.
Opera Batak
Opera Batak, sebuah genre teater Batak populer, yang
dikembangkan dari sekitar 1925 dan seterusnya, terinspirasi oleh
kelompok-kelompok teater Melayu dan dipopulerkan berkeliling di daerah
Sumatera.
Pada tahun 1988 beberapa kelompok Opera Batak sedikit demi
sedikit menghilang di Sumatera Utara dan umumnya berasal dari
keterlibatannya dengan budaya Batak selama sekitar dua puluh tahun.
Hal ini dimaksudkan untuk membantu pemahaman dari daerah – dalam hal
ini Batak dan sebuah identitas dalam konteks nasional Indonesia.
Adapun pendiri trend-setting Tilhang Opera Batak atau Serindo,
Tilhang Gultom. Dia digunakan untuk memainkannya tema tradisional dari
sastra lisan (termasuk sejarah silsilah, legenda sejarah dan kisah-
kisah sensasional berasal dari artikel di koran) atau tema disesuaikan
dari teks tertulis. Para pemain dalam kelompok teater Serindo
menggambarkan proses ini dan mengangkatnya ke pentas/panggung, untuk
menunjukkan bahwa Tilhang Gultom tidak hanya "menemukan" cerita.
Teks-teks yang digunakan dalam pertunjukan itu tidak ditulis,
namun kerangka dramatisnya diolah secara lisan dan menjelaskan kepada
para pemain. Dengan latar belakang pengetahuan umum, para pemain
berusaha berlatih drama dan disajikan di atas panggung sesuai dengan
bentuk yang telah diberikan selama latihan dan tentunya dengan
beberapa improvisasi selama pertunjukan.
Bentuk dan pengembangan kinerja yang dramatis dari Opera Batak
tertentu tetap sama keberadaanya dalam enam puluh tahun silam. Hanya
figuran, lagu, tarian dan kejenakaan di selingan antara segmen dari
cerita utama – telah diubah seiring dengan isi dan gaya selama periode
disaat ini.
Saat itu Opera Batak menjadi sangat populer di dekade pertama
keberadaannya pada tahun 1925-1935. Para anggota kelompok Opera Batak
berasal dari latar belakang pedesaan dan sangat terikat dengan marga
Batak mereka. Opera Batak merupakan kelompok yang didukung dan
dipengaruhi oleh intelektual perkotaan waktu itu – misalnya, melalui
artikel mereka berkontribusi pada koran lokal. Di samping itu pada
awalnya, intelektual ini menekankan kepada identitas Batak dan
perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan.
Makyong
Teater tradisi ini cukup tua dalam perkembangannya. Makyong
merupakan suatu jenis teater tradisional yang bersifat kerakyatan.
Makyong yang paling tua terdapat di pulau Mantang, salah satu pulau di
daerah Riau.
Pada mulanya kesenian Makyong berupa tarian joget atau
ronggeng. Dalam perkembangannya kemudian dimainkan dengan cerita-
cerita rakyat, legenda dan juga cerita-cerita kerajaan. Makyong juga
digemari oleh para bangsawan dan sultan-sultan, hingga sering
dipentaskan di istana-istana. Bentuk teater rakyat makyong tak ubahnya
sebagai teater rakyat Madura dinamakan topeng dalang. Semua pemain
topeng dalang memakai topeng dan para pemain tidak mengucapkan dialog.
umumnya, dipertunjukkan dengan menggunakan media ungkap tarian,
nyanyian, laku dan dialog dengan membawa cerita-cerita rakyat yang
sangat populer di daerahnya. Cerita-cerita rakyat tersebut bersumber
pada sastra lisan Melayu. Daerah Riau merupakan sumber dari bahasa
Melayu Lama. Ada dugaan bahwa sumber dan akar Makyong berasal dari
daerah Riau, kemudian berkembang dengan baik di daerah lain.
Pementasan makyong selalu diawali dengan bunyi tabuhan yang
dipukul bertalu-talu sebagai tanda ada pertunjukan makyong dan segera
dimulai. Setelah penonton berkumpul, kemudian seorang pawang (sesepuh
dalam kelompok makyong) tampil ke tempat pertunjukan melakukan
persyaratan sebelum pertunjukan dimulai yang dinamakan upacara buang
bahasa atau upacara membuka tanah dan berdoa untuk memohon agar
pertunjukan dapat berjalan lancar.
Randai
Randai merupakan suatu bentuk teater tradisional yang
bersifatkerakyatan yang terdapat di daerah Minangkabau, Sumatera
Barat. Sampai saat ini, randai masih hidup dan bahkan berkembang serta
masih digemari oleh masyarakatnya, terutama di daerah pedesaan atau di
kampung-kampung. Teater tradisional di Minangkabau bertolak dari
sastra lisan. begitu juga Randai bertolak dari sastra lisan yang
disebut "kaba" (dapat diartikan sebagai cerita). Bakaba artinya
bercerita.
Ada dua unsur pokok yang menjadi dasar Randai :
• Pertama, unsur penceritaan. Cerita yang disajikan adalah kaba dan
disampaikan lewat gurindam, dendang dan lagu. Sering diiringi oleh
alat musik tradisional Minang, yaitu salung, rebab, bansi, rebana atau
yang lainnya dan juga lewat dialog.
• Kedua, unsur laku dan gerak, atau tari, yang dibawakan melalui
galombang. Gerak tari yang digunakan bertolak dari gerak-gerak silat
tradisi Minangkabau, dengan berbagai variasinya dalam kaitannya dengan
gaya silat di masing- masing daerah.
Randai menjadi penghubung yang baik dalam kemaslahatan hidup
bertetangga masyarakat Minangkabau sehingga terus diajarkan kepada
anak cucu yang ingin belajar kesenian tradisi ini.
Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa teater tradisi di
Sumatera masih berhak hidup dan berkarya. Kesenian tradisi merupakan
kekayaan intelektual dan budaya yang harus disimpan bagi generasi yang
akan datang. Timbul pertanyaan, sudahkah kita memperkenalkan teater
tradisi yang pernah memiliki masa jayanya ini dulu kepada teman,
sahabat, anak, cucu kita? Mungkin pertanyaan itu hanya kita yang bisa
menjawab di lapangan-lapangan seperti beberapa tahun yang lalu.
Penulis : mahasiswa Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia UMSU,
bergiat di Teater Sisi.
=====================================================================
NEGERI MAMANDA MEKARKAN BUDAYA KRITIK
Oleh: HE. Benyamine
Warga masyarakat yang kebetulan berada atau melintas di sekitar
Taman Air Mancur Mingguraya Banjarbaru (17/10/10), sebagiannya
menyempatkan diri mendekat untuk menyaksikan pertunjukkan teater
Mamanda yang diselenggarakan atau difasilitasi Dewan Kesenian Daerah
Kota Banjarbaru. Pementasan teater Mamanda itu cukup menarik perhatian
warga masyarakat, apalagi saat karakter Khadam muncul dengan
perilakunya yang khas dan unik, sehingga suasana terasa cair yang
membuat penonton tertawa.
Pada pementasan malam itu, Mamanda dipentaskan dengan tokoh-
tokoh yang baku saja, seperti Raja, Mangkubumi, Panglima Perang,
Khadam, Harapan Pertama dan Harapan Kedua, Permainsuri, dan Perdana
Menteri, dengan alur cerita yang sederhana tentang Kota Banjarbaru
yang bersiap untuk meraih Adipura dan kerusakan alam. Dengan peralatan
yang sederhana, pementasannya berlangsung dengan lancar dan datar,
dengan penampilan tokoh Khadam yang mampu menutupi berbagai kendala
yang dihadapi pemain lainnya dan keterbatasan peralatan dan sarana.
Memperhatikan pementasan teater Mamanda yang sederhana dengan
peralatan seadanya di Taman Air Mancur Mingguraya itu yang ternyata
cukup menarik perhatian warga masyarakat, terbayang bagaimana
seandainya teater Mamanda mendapatkan dukungan yang memadai dan cukup.
Terlihat bahwa teater Mamanda hanya membutuhkan dukungan sumber daya
untuk menyatakan sebenarnya warga masyarakat masih berminat dan
tertarik dengan seni teater tradisional sebagai bentuk hiburan yang
layak ditonton dan memang menghibur.
Dalam pertunjukkan teater Mamanda, peran aktif dan spontan
penonton dapat memberikan daya hidup dari pertunjukkan teater Mamanda,
yang mampu meningkatkan improvisasi para pemain sehingga terjalin
interaksi yang dinamis antara penonton dan pemain. Keberadaan penonton
yang berperan aktif dan spontan mengandaikan bahwa penonton merupakan
orang yang tahu dan memahami bagaimana teater Mamanda dipentaskan yang
memungkinkan keterlibatan penonton dalam menghidupkan pertunjukkan
tersebut.
Pada pementasan teater Mamanda di Taman Air Mancur Mingguraya
malam itu, terlihat para penonton masih cenderung pasif meskipun para
pemain sudah mencoba mendekat kepada para penonton. Hal ini perlu
mendapat perhatian para penggiat teater Mamanda, bagaimana penonton
dapat terlibat secara aktif dan terjalin interaksi yang menghidupkan
suasana pertunjukkan. Para penggiat teater Mamanda perlu “mendidik”
penonton untuk dapat berperan aktif dan spontan dalam menyaksikan
pertunjukkan Mamanda, yang dapat dilakukan sekaligus saat pementasan
dengan menempatkan orang-orang teater di bagian penonton untuk
berperan sebagai penonton yang memahami posisi sebagai penonton teater
Mamanda yang aktif terlibat dalam interaksi umpan balik dengan pemain.
Selain itu, pementasan Mamanda seperti di Taman Air Mancur,
sebenarnya dapat melibatkan warga masyarakat yang ada di sekitar
menjadi tokoh atau bintang tamu secara spontan untuk menbuat suasana
semakin interaktif, provokatif, dan menarik. Misalnya, para anak muda
yang biasa nongkrong di Mingguraya dengan gaya dan tampilan mereka
masing-masing dapat dilibatkan dalam satu penampilan.
Pada saat pementasan teater Mamanda malam itu, ada terlihat
gank anak-anak muda (punk) yang siap dengan gitar duduk menyaksikan,
para penggiat teater Mamanda perlu memperhatikan keberadaan mereka
dengan meminta mereka tampil pada babak tertentu, misalnya dengan
menyanyi secara spontan. Atau para pedagang yang beroperasi di
Mingguraya, seperti pedagang pentol dengan gerobaknya, pedagang bakso,
pedagang kerak telor (betawi), dan lainnya. Mereka dapat diminta
mengemukakan apa saja, bisa berupa keluhan, saran, atau hanya sekedar
menyanyi seperti para pengamen yang biasa mangkal di Mingguraya.
Pementasan teater Mamanda dapat juga mengundang tokoh masyarakat
untuk tampil dengan dengan peran khusus, seperti tentang sampah bisa
meminta kepala dinas pertamanan, tata kota, dan kebersihan untuk
membicarakan hal tersebut dengan gaya Mamanda dalam tema persidangan
mengenai pengelolaan sampah. Begitu juga para politisi (anggota
dewan), LSM, organisasi kemasyarakatan lainnya perlu diundang untuk
tampil sesuai tema pementasan, karena teater Mamanda memberikan
suasana yang cair dan spontan sehingga dapat menjadi saluran aspirasi
yang membuka ruang kritik dengan positif. Pada penampilan tokoh
masyarakat, politisi, LSM, dan lainnya harus dipikirkan bagaimana
ditunjang dengan kemajuan teknologi saat ini seperti layar lebar
dengan menggunakan proyektor untuk menampilkan bahan tema bahasan yang
dibawa para tokoh tamu. Misalnya, masalah sampah dengan tampilan layar
sampah atau berita tentang sampah, sehingga lebih menarik perhatian
sebagai hiburan dan sekaligus sebagai sarana pendidikan.
Teater Mamanda sebagaimana pementasan di Taman Air Mancur
memperlihatkan adanya antusias warga masyarakat untuk menyaksikannya
dan merasakan keterhiburan meskipun masih dipentaskan dengan sederhana
dan seadanya. Para penonton yang cenderung pasif perlu mendapatkan
perhatian para penggiat teater Mamanda, karena peran aktif dan spontan
para penonton merupakan bagian penting dalam setiap pementasan Mamanda
yang menjadikannya lebih hidup. Sedangkan penggunaan teknologi perlu
dipikirkan untuk menjadi penunjang yang penting untuk menghidupkan
suasana persidangan dan alur cerita.
Semuanya itu, dukungan sumber daya dari semua pemangku
kepentingan sangat penting artinya untuk menjadikan teater Mamanda
sebagai tontotan yang menghibur dan sekaligus tuntutan yang mendidik.
Dengan dukungan sumber daya yang mencukupi, teater Mamanda dapat
didorong untuk tampil sebulan sekali, sehingga panggung pertunjukkan
Negeri Mamanda dapat terus menyapa warga masyarakat sambil menyemai
benih-benih budaya kritik yang lapang dan terbuka.
=====================================================================
( Teater Tradisional “Mamanda” Kalsel )
Oleh : Arsyad Indradi
Baladon
Tiga orang memadu tari nyanyi dan narasi
“Tebu salah saray sarapun
Mun ada nang tasalah kami maminta ampun”
( Musik )
(Harapan Pertama dan Harapan Kedua memasuki balai persidangan)
Harapan Pertama :
Adinda Harapan Kadua ayu kita masuki balai persidangan, kita siapakan
apa-apa yang perlu kita persiapkan hagan acara persidangan.
Harapan Kadua :
Ayu Kanda Harapan Partama
( Keduanya berjalan bersilangan mengitari propertis)
Harapan Pertama :
Balai persidangan sudah kita siapkan
Sambil bataduh lapah alangkah baiknya kita memperkanal diri, kaya apa
Adinda Harapan Kedua.
Harapan Kadua :
Bujur sekali Kanda Harapan Pertama. Sebagusnya maharagai nang tuha
Kanda Harapan Pertama nang badahulu
Harapan Pertama :
Kaya itukah Dinda. Cakra Pancar Lima aku punya nama, terpangkat
sebagai Harapan Pertama di dalam kerajaan Ganda Manik Sukalima. Telah
bertahun-tahun aku mengabdi di kerajaan ini tidak pernah mendapat
cacat dan cela dari paduka raja. Mun handak tahu :
Saribu untalan,saribu rajahan,Tahan gantalan,tahan pidakan. Kadada
duanya mun pakara panah-mamanah aku nang paharatnya. Aku kada
batampik, musuh nang haluskah, nang ganalkah, kalu tapantuk lawan
diaku kupanah lawan Cakraku.
Apa benar begitu Dinda Harapan Kadua
Harapan Kadua :
Ada benar sekali Kanda Harapan Partama
Harapan Pertama :
Kanda sudah mamparkanalkan diri, Adinda pulang.
Harapan Kadua :
Boleh dangarakan Kakanda. Tumbak Sarampang Duabelas Kati aku punya
nama terpangkat sebagai Harapan kadua di kerajaan Ganda Manik
Sukalima, apa benar begitu Kakanda.
Harapan Partama :
Ada benar sekali Adinda.
Harapan Kadua :
Akulah hayam jagaunya di kerajaan ini.
Kain kindusin
Banang baginda ali bajuku
Tujuh lapis sarung tumbakku
Ayu siapa yang wani lawan diaku,mun handak tahu rajaman tumbakku
Bagaimana Kakandaku.
Harapan Partama :
Ada benar sekali Adindaku.
Sakarang kita sudah memperkanalkan diri. Supaya jangan katiwasan
alangkah bagusnya kita periksa sekali lagi balai persidangan,Adinda.
Harapan Kadua :
Bujur Kanda Harapan Pertama, limbahitu kita berjaga-jaga di pintu
balai persidangan.
(Keduanya bersilang mengitari propertis)
(Musik)
( Musik )
( Perdana Menteri memasuki balai persidangan )
Perdana Menteri (memperkenalkan diri) :
Akulah nang bangaran Surya Kancana Biru, terpangkat sebagai Perdana
Menteri di kerajaan Ganda Manik Sukalima ini. Aku di utus oleh paduka
raja untuk memeriksa hasil
pekerjaan dari Harapan Partama wan Harapan Kadua.
(Kepada kedua Harapan)
Harapan Partama wan Harapan Kadua juga.
( Harapan Partana dan Harapan Kadua,berbalik dan memberi hormat )
Harapan Partana dan Harapan Kadua :
Harap ampun paduka perdana menteri.
Perdana Menteri :
Buka lawang, seorang Perdana Menteri ingin memasuki balai persidangan.
(Harapan Partama dan Kadua membuka jalan. Perdana Menteri memasuki
balai persidangan )
Perdana Menteri :
Sampurna gawian kalian berdua, sungguh pantas kalian diangkat sebagai
Harapan Partama dan Harapan Kadua.
Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya kepada kalian berdua. Harapan
Partama, coba ikam menghadap kepada aku empunya diri.
Harapan Partama :
Harap ampun paduka Perdana Menteri.
( Melangkah kedepan )
Perdana Menteri :
Harapan Partama nangapa artinya maka ikam letakan talabang wan parang
bungkul bersilang dibelakang tahta kerajaan ini.
Harapan Partama :
Harap ampun paduka Perdana Menteri, hamba letakan talabang dan parang
bungkul bersilang artinya kerajaan Ganda Manik Sukalima selalu siap
menghadapi musuh yang handak menyerang kerajaan kita paduka.
Perdana Menteri :
Terima kasih penjelasan Harapan Partama. Sekarang Harapan Kadua,coba
ikam menghadap kepada aku empunya diri.
Harapan Kadua :
Harap ampun paduka Perdana Menteri. Hamba segera menghadap.
(Harapan Kadua melangkah ke depan sambil menghormat)
Perdana Menteri :
Harapan Kadua nangapa artinya ikam mahampar permadani hijau dari
halaman sampai di hadapan tahta kerajaan ini.
Harapan Kadua :
Harap ampun Perdana Menteri. Hamparan permadani hijau itu melambangkan
kerajaan kita adalah kerajaan yang sejahtera, makmur, tenteram dan
damai paduka.
Perdana Menteri :
Bagus, tepat jawaban kalian berdua. Terima kasih kepada kalian berdua.
Sabalum aku empunya diri meninggalkan balai persidangan ini, adakah
perminta dari kalian ? Nanti akan kusampaikan kepada Paduka Raja.
Harapan Partama dan Kadua :
Harap Ampun paduka, rasanya asa kadada pang dipinta. Syukur banar kami
wan saluruh rakyat, paduka raja menjadi pemimpin nang bujur-bujur
seorang pemimpin yang selalu peduli menyejahterakan wan memakmurkan
rakyat dan kerajaannya.
Perdana Menteri :
Inilah aparat kerajaan yang tidak berlaku tamak, senang aku empunya
diri mendengar.
( Perdana Menteri lalu meninggalkan ruang persidngan )
(Musik)
(Musik)
(Raja,permaisur dan aparat kerajaan masuk)
Raja :
Pamanda Wajir, Mangkubumi, Perdana Menteri dan juga permaisuriku nang
bungas langkar serta seluruh pamangku kerajaan, imbah kita sampai
dipintu gerbang kerajaan ini, ada baiknya kita langsung memasuki balai
persidangan, bagaimana menurut pemikiran pamanda wajir.
Wajir :
Sependapat paduka.
Raja :
Kalau begitu mari kita segera memasuki balai persidangan. ( Kepada
Harapan Partama dan Kadua )
Harapan Pertama dan Kedua juga.
Harapan Partama dan Kadua:
Harap ampun paduka maha raja.
Raja :
Harapan Pertama wan Harapan Kedua juga, Buka lawang, beri jalan Beta
empunya diri beserta staf kerajaan akan memasuki balai persidangan.
Beta hendak mengadakan sidang.
(Harapan Par tama dn Kadua mengubah posisi ke samping,
menyilangkan pedang di atas tanda kehormatan kepada raja)
Harapan Pertama wan Harapan Kedua :
Dipersilakan paduka masuk.
( Raja masuk dan menempati property, staf lainnya mengambil posisi
masing-masing )
Raja :
Senang benar beta empunya diri melihat hasil pekerjaan dari para staf
kerajaan ini. Apa begitu Pamanda wajir.
Wajir :
Ada benar sekali paduka raja.
Raja :
Kita sudah berada di balai persidangan. Sebelum kita memulai
persidangan alangkah baiknya beta memperkenalkan empunya diri. Apa
begitu saudaraku Perdana Menteri.
Perdana Menteri :
Ada betul sekali paduka raja.
Raja :
Dangarakanlah saudara - saudaraku.
Tersebut beta empunya diri Maha Raja Brajapati Alam Gangga Sukma
Barjiwa, bertahta di Kerajaan Ganda Manik Sukalima, duduk di singgasa
bertatah yakut jambrut nilam biduri, memakai mahkota emas permata
intan berlian. Apa benar Pamanda Wajir
Wajir :
Benar sekali Paduka.
Raja :
Empat puluh anak rajaraja di kanan empat puluh anak rajaraja di kiri
tunduk berhidmat di hadapan Beta empunya diri. Apa benar Perdana
Mentri
Perdana Mentri :
Benar sekali Paduka
Raja :
Memerintah adil bijaksana sahingga disayangi rakyatnya, bujur kada
saudaraku Mangkubumi
Mangkubumi :
Bujur banar paduka raja.
Raja :
Raja yang kaya raya tapi kada lupa membantu rakyatnya supaya selalu
sejahtera dan memakmurkan negeri ini.
Apa benar adinda permaisuriku yang tercinta.
Permaisuri :
Memang benar kakanda ai.
Raja :
Ubui han biniku ini pina babungas pina balangkar pada biasanya.
Permaisuri :
Kaya itu pang Kanda ai supaya jangan kalah wan artis-artis nang pina
rancak datang mamanggung di karajaan kita. Lalakian wayah ini kada
kawa talihat pina lamak mungkal lalu ja titikan liur.
Raja :
Ai jangan pina banyaring-nyaring bapandir kadarangan buhannya. Baaarit
pang sadikit bapandir mambari supan dinda ai.
Pamanda Wajir, Perdana Menteri,Mangkubumi serta Harapan Pertama dan
Harapan Kadua juga,
Kita sudah memperkanalkan diri, baiklah kita mulai persidangan ini.
( Musik )
(Sewaktu hendak dibuka, Panglima Perang datang.)
Panglima Perang :
Gantar Gandari Buana Paksi, aku punya nama, terpangkat Panglima Perang
atau Kepala Pertanda dalam kerajaan Ganda Manik Sukalima. Telah
bertahuntahun mengabdi di kerajaan Ganda Manik Sukalima tak pernah
mendapat cacat cela dari paduka maha raja, inilah yang menjadi
kebanggaan seorang Panglima Perang atau Kepala Pertanda.Gagah berani,
sakti mandraguna, kada batampik lawan musuh, kada pilih bulu siapakah
siapakah, kuhancurlumatkan sampai mati.Gantar Gandari Buana Paksi,
akulah orangnya.
( Berakting )
Naga ulit naga umbang
Taguh di kulit sampay katulang
Wasi kuning pasak awakku kulit kijang putih babatku
Siapa yang berani menantangku
Gantar Patir garugum guntur
Zulfakar anjal maut
Awas barang siapa berani manggatuk awakku, hancur labur
dimakan tapak tanganku Si Gantar Api
Jangan coba-coba tadundum lawan Gantar Gandari Buana Paksi, mun handak
tahu.
( Berakting) :
Kataku sirunduk runduk
Runduk runduk galimbanganku
Siapa nang manantang cahaya mataku
Lumpuh sebagaimana dicabut urat seribu
Baiklah aku akan masuk ke balai persidangan mungkin aku ditunggu oleh
Paduka Maha Raja.Harapan Pertama, Harapan Kedua juga beri jalan aku
handak masuk ke balai persidangan.
Harapan Pertama dan Kedua :
Baik Tuanku, silakan masuk.
Panglima Perang :
Salam sejahtera Paduka.Ampun maaf hamba terlambat datang. Tapi tugas
yang diberikan pada hamba memperkuat benteng pertahanan dan semua
prajurit telah bersiaga lengkap dengan peralatan perangnya.
Raja :
Bagus Panglima Perang.Senang hati Beta empunya diri mendengar. Amun
kaya ini mari kita laksanakan persidangan. Mangkubumi, bagaimana
persiapan acara perkawinan putri beta Putri Ayu Rumbayan Amas Rumbayan
Intan lawan anak raja dari kerajaan Gumilang Kaca Salaksa ?
Mangkubumi :
Semuanya sudah siap paduka.
Raja :
Perdana Menteri, pengaturan acaranya kaya apa ?
Perdana Menteri :
Acara dilaksanakan karasmin empat puluh hari empat puluh malam, sudah
jua disusun acaranya, paduka.
Raja :
Beta sangat berterima kasih sekali kepada saudara-saudaraku yang
banyak membantu dan partisipasinya. Selesai pesidangan kita, maka
beta ...
( Ketika maha raja hendak menutup, Hadam berucap )
Hadam :
Mohon ampun Paduka
Raja :
Ada apa Hadam
Hadam :
Mohon ampun Paduka
Raja :
Iya, ada apa Hadam
Hadam :
Mohon ampun Paduka
Raja :
Nah, ujar Beta ada apa Hadam
Diang Kacil ( bini Hadam pina carengeh-carengeh) :
Laki ulun ini Paduka ai konslet kabelnya kalo.
U, abahnya ada apa garang pina bapandir basandatsandat.
Padahakan pang.
Hadam :
Umai hadangi pang dulu umanya ai, ikam naini kada panyabaran,
mambujurakan salawar dahulu (pina kipuh).
Diang Kacil :
(Sambil umpat malihati ) Ai kanapa salawar pian ini, abahnya. (Lalu
tatawa)
Hadam : (pina kasusupanan)
Han ditatawaakan aku.
Diang Kacil :
Kanapa pina batukul kasubalah kiwa, abahnya.
Hadam :
Gara-gara kada tuntung baauran malam tadi pang tahulah.,umanya
(Hadam sudah tenang kembali )
Hadam :
Hamba umpat batakunlah, Paduka
Raja :
Takunakan aja Hadam ai
Hadam :
Tapi jangan sariklah
Raja :
Ai, kanapa sarik, takunakan ja
Hadam :
Paduka mahargailah lawan sanibudaya Banjar
Raja :
Ha ha ha itukah Hadam, Beta sangat menghargai senibudaya Banyar. Nanti
kita adakan dalam karasmin perkawinan putri Beta, semua kesenian nang
ada di kerajaan kita tampilkan dan terus kita bina, kita gali, kita
lestarikan, kita bantu sagala apa nang diperlukan seniman dan grup
keseniannya, tiap tahun kita adakan lomba baik kesenian yang sudah ada
lawan berkreasi, kita beri hadiah seni lawan seniman yang berprestasi.
Sabuting lagi Hadam ai, kita dirikan sekolah guru kesenian.
Hadam :
Tarima kasih, Paduka. Tapi Paduka
Raja :
Ada apa lagi Hadam
Hadam :
Rasa lawas hamba kada mandangar Paduka banyanyi. Biasanya mun handak
basidang Paduka musti banyanyi wan taritarinya.
Raja :
Iihlah Hadam, bujur ujar ikam
(Maha Raja Brajapati Alam Gangga Sukma Barjiwa lalu bernyanyi lagu
raja
Dundang ... sayang ... urang nang langkar ... barikit di dalam
hati.... )Kaya apa Pamanda Wajir
Wajir :
Umai suara Paduka sampai merasuk ke dalam hati nang mandangar.
(Setelah selesai aparat kerajaan Ganda Manik Sukalima, ke luar dari
ruang balai persidangan )
(Musik)
(Musik)
Jejer di balai persidangan Kerajaan seberang lautan Kerajaan Dundung
Wowo Sagara, mempersiapkan penyerangan ke Kerajaan Ganda Manik
Sukalima, rajanya murka karena ditolak mempersunting Putri Ayu
Rumbayan Amas Rumbayan Intan.
Raja :
Bih,Bih.Dasar kurangajar,kahakung banar nyawalah Brajapati Alam Gangga
Sukma Barjiwa Huahi hihi. Awas nyawa, tidak tahu lawan unda lah, unda
nang bangaran Dungga Braja Ambarangrang Raja di Raja di Karajaan
Dundung Wowo Sagara. Hua hihihi. Jangankan manusia hantu atawa dedemit
aja takamih mandangar ngaran unda. huahihihi. Panglima Perang, unda
panas katahi-tahi,ayo sudah siapkah basukan tempur kita ?
Panglima Perang :
Sudah paduka huahihihi. Jangan hawatir.Unda Panglima Perang bangaran
Cangkamantuk Gagarraksa, siapa kada tahu, saalamanan urang tahu.
Tamusuh lawan unda huahihii kutaguk tipang bulat-bulat. Cuah cuah.
Raja :
Jangan banyak pandir ayu kita barangkat manggampur Kerajaan Ganda
Manik Sukalima. Unda kada tahan lagi mambanyun Putri Ayu Rumbayan Amas
Rumbayan Intan. Mun kada babaik-baik lawan unda,unda rampas habis
pakara Huahihihi asa gatal sudah ampun unda tahulah nyawa.
Panglima Perang :
Huahihi ayu kita berangkat paduka.
( Berangkat ke Kerajaan Ganda Manik Sukalima)
(Musik )
( Musik )
Jejer di Kerajaan Ganda Manik Sukalima, mengatur pertahanan dibantu
oleh prajurit kerajaan Gumilang Kaca Salaksa atas serbuan Kerajaan
Dundung Wowo Sagara
Putra Raja dari kerajaan Gumilang Kaca Salaksa :
Ayahanda harap bertenang diri, ulun lawan Paman Gantar Gandari Buana
Paksi, sudah menyusun siasat tempur dan pertahanan.
Raja :
Bagus Ananda Raden Guntur Guntala,ayahanda percaya lawan kamampuan
kalian. Doa restu ayahanda.
Putra Raja :
Inggih ulun ayahanda terima kasih atas kepercayaan sampian.
Hadam :
Paduka Putra jangan kada ingatlah apa nang hamba padahakan
samalamlah,kalamahan Panglima Perang Kerajaan Dundung Wowo Sagara.
Putra Raja :
Inggih ulun Paman Hadam.Ulun kada lupa. Terima kasih banar wan
sampian.
( Raja dan staf lainnya meninggalkan ruang jejer ) Tampak kesiapan
pasukan Kerajaan Ganda Manik Sukalima dan pasukan kerajaan Gumilang
Kaca Salaksa dipimpin oleh Panglima Perang Gantar Gandari Buana Paksi
dan Raden Guntur Guntala.
(Musik kancah pertempuran)
Dundung Wowo Sagara menggempur Ganda Manik Sukalima, namun dapat
dikalahkan. Rajanya Dungga Braja Ambarangrang mati di tangan Panglima
Perang Gantar Gandari Buana Paksi sedangkan Panglima Perangnya
Cangkamantuk Gagarraksa mati oleh Raden Guntur Guntala.
( Di Kerajaan Ganda Manik Sukalima, terkumpul rajanya dan seluruh staf
kerajaan bersuka cita, karasmin perkawinan Raden Guntur Guntala dengan
Putri Ayu Rumbayan Amas Rumbayan Intan )
Raja :
Hati beta rasa gembira dan berbahagia. Mari kita saksikan sebuah
tarian dari penari dari binaan Kerajaan Ganda Manik Sukalima.
( Pertujukan tarian dan selesai tarian ini maka cerita pun selesai.
Ditutup dengan lagu Terima kasih )
Bbaru, 2009
*****
nang bungas langkar = yang cantik, elok
kada batampik = tidak berpilih
taguh = kebal. mun, amun = jika, kalau
katiwasan = disalahkan. nang = yang
badahulu = duluan. kaya apa = bagaimana
Sabuting = satu . kaya itu = seperti itu,begitu
Padahakan pang = katakan lah/saja
lawan = dengan
pina carengehcarengeh = agak genit,berseloroh
pina bapandir basandatsandat = berbicara tersendat-sendat
umpat batakunlah = numpang tanya
karasmin = pesta,perayaan. sabuting = satu
bataduh lapah = mengaso, istirahat, melegakan napas
lawan = dengan. wan = dan. babat = ikat pinggang
bujur = benar. sariklah = marahlah
Diposkan oleh Sastra Banjar di 20:52 1 komentar
Selasa, 14 Oktober 2008
=====================================================================
Sekilas Mengenal Teater Tradisional Kalsel “ Mamanda “
Oleh : Arsyad Indradi
Salah satu teater tradisional Kalsel yang masih bisa bertahan
hidupnya adalah “ Mamanda “. Mengapa demikian ? Sebab cerita dari
Mamanda memang mengasyikkan tak kalah dengan cerita sinetron atau
film. Walau pun tokoh-tokoh dalam Mamanda “ baku “ namun dapat
ditambah tokoh-tokoh lain dengan cerita yang lain, artinya cerita
mamanda dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan jaman. Apa lagi
durasi pertunjukkan mamanda jang semula semalam suntuk sekarang
disesuaikan dengan permintaan, maksudnya bisa durasinya 3 jam atau 5
jam. Istemewanyanya Mamanda, bisa dimainkan dengan sebuah naskah yang
utuh seperti terater modern atau hanya dengan mengatur cerita seperti
garis besar cerita, babakan dan plot, sedangkan dialog dikenal dengan
istilah impropisasi. Pemain – pemain Mamanda memang dikenal
keahliannya berimpropisasi. Tokoh-tokoh mamanda yang baku itu adalah
Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri,Panglima Perang, Harapan
Pertama, Harapan kedua, Khadam, Permaisuri, Anak Raja ( bisa putri
atau Pangeran ). Tokoh-tokoh lain sesuai cerita misalnya Raja dari
Negeri lain, Anak Muda, Perampok,Jin, Belanda, atau nama dari daerah
lain ( Jawa, Cina, Batak, Madura atau lainnya ). Seperti juga di
teater modern, sebelum pertunjukkan dimulai akan dibacakan
sinopsisnya, di mamanda dipaparkan lewat “ Baladon “. Baladon adalah
tutur cerita dengan dibawakan berlagu dan gerak tari. Cerita mamanda
bisa berkolaburasi dengan seni tari atau musik. Yakni setelah kerajaan
selesai bersidang maka akan ditampilkan pertunjukkan tari dengan
maksud menghibur raja dengan segenap aparat kerajaan atau ketika
kerajaan menang perang diadakan pertunjukkan hiburan tari atau musik
panting.
Asal mula Mamanda adalah Badamuluk ketika rombongan bangsawan
Malaka ( Abdoel Moeloek atau Indra Bangsawan, 1897 M ) yang dipimpin
oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa, menetap di Tanah Banjar
beberapa bulan mengadakan pertunjukkan. Teater ini begitu cepat
populer di tengah masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini
melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “. Mamanda mempunyai
pengertian “sapaan” kepada orang yang dihormati dalam sistem
kekerabatan atau kekjluargaan.
Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama : Aliran Batang Banyu.
Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari.
Sering juga disebut Mamanda Periuk. Kedua : Aliran Tubau bermula tahun
1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di
daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Aliran ini
yang berkembang di Tanah Banjar.
Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya Yaitu pertunjukkan
Mamanda disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi
sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan
baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik
sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-
nilai budaya masyarakat Banjar.
Bermula, Mamanda mempunyai pengiring musik yaitu orkes melayu
dengan mendendangkan lagu-lagu berirama melayu, sekarang beralih
dengan iringan musik panting dengan mendendangkan Lagu Dua Harapan,
Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu
Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut , Lagu Mandung-Mandng, dan Lagu Nasib.
********
Diposkan oleh Sastra Banjar di 02:19 5 komentar
=====================================================================
Drama Gong Bali
Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang
masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan
unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur
kesenian tradisional Bali. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan
pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater
tradisional (Bali). Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh
karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana
dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). Drama Gong
diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari
desa Abianbase (Gianyar). Diakui oleh penciptanya bahwa Drama Gong
yang diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama tari tradisional
Bali seperti Sendratari, Arja, Prembon dan Sandiwara dimaksudkan
sebagai sebuah prembon (seni campuran) modern.
Unsur-unsur teater modern yang dikawinkan dalam Drama Gong
antara lain :
1. tata dekorasi
2. penggunaan sound efect
3. akting
4. tata busana
Karena dominasi dan pengaruh kesenian klasik atau tradisional
Bali masih begitu kuat, maka semula Drama Gong disebut "drama
klasik".
Adalah I Gusti Bagus Nyoman Panji yang kemudian memberikan nama
baru (Drama Gong) kepada kesenian ini berdasarkan dua unsur baku
(drama dan gamelan gong) dari kesenian ini. Patut dicatat bahwa
sebelum munculnya Drama Gong di Bali telah ada Drama Janger, sebuah
kesenian drama yang menjadi bagian dari pertunjukan tari Janger. Dalam
banyak hal, drama Janger sangat mirip dengan Sandiwara atau Stambul
yang ada dan populer sekitar tahun 1950.
Drama Gong adalah sebuah drama yang pada umumnya menampilkan
lakon-lakon yang bersumber pada cerita-cerita romantis seperti cerita
Panji (Malat), cerita Sampik Ingtai dan kisah sejenis lainnya termasuk
yang berasal dari luar lingkungan budaya Bali. Dalam membawakan lakon
ini, para pemain Drama Gong tidak menari melainkan berakting secara
realistis dengan dialog-dialog verbal yang berbahasa Bali.
Para pemeran penting dari Drama Gong adalah :
1. Raja manis
2. Raja buduh
3. Putri manis
4. Putri buduh
5. Raja tua
6. Permaisuri
7. Dayang-dayang
8. Patih keras
9. Patih tua
10. Dua pasang punakawan
Para pemain mengenakan busana tradisional Bali, sesuai dengan
tingkat status sosial dari peran yang dibawakan dan setiap gerak
pemain, begitu pula perubahan suasana dramatik dalam lakon diiringi
dengan perubahan irama gamelan Gong Kebyar. Masyarakat Bali
mementaskan Drama Gong untuk keperluan yang kaitannya dengan upacara
adat dan agama maupun kepentingan kegiatan sosial. Walaupun demikian,
Drama Gong termasuk kesenian sekuler yang dapat dipentaskan di mana
dan kapan saja sesuai dengan keperluan. Kesenian Drama Gong inilah
yang memulai tradisi pertunjukan "berkarcis" di Bali karena sebelumnya
pertunjukan kesenian bagi masyarakat setempat tidak pernah berbentuk
komersial. Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan
puncak kejayaannya adalah tahun1970. Pada masa itu kesenian
tradisional Bali seperti Arja, Topeng dan lain-lainnya ditinggalkan
oleh penontonnya yang mulai kegandrungan Drama Gong. Panggung-panggung
besar yang tadinya menjadi langganan Arja tiba-tiba diambil alih oleh
Drama Gong. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai
menurun popularitasnya, sekarang ini ada sekitar 6 buah sekaa Drama
Gong yang masih aktif.
Sekaa - sekaa Drama Gong yang dimaksud antara lain adalah :
1. Drama Gong Bintang Bali Timur
2. Drama Gong Duta Budaya Bali
3. Drama Gong Dewan Kesenian
4. Drama Gong Dwipa Sancaya
5. dan lain-lain
Terakhir muncul Drama Gong Reformasi yang didukung oleh para
bintang Drama Gong dari berbagai daerah di Bali.
Sumber: Team Survey ASTI
=====================================================================
Selasa, 05 April 2011
Lenong Betawi/ teater tradisional
Lenong Betawi
Lenong adalah teater tradisional Betawi. Kesenian tradisional
ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti:
gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta
alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong.
Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral,
yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela.
Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau
kini bahasa Indonesia) dialek Betawi.
Lenong adalah seni pertunjukan teater tradisional masyarakat
Betawi. Lenong berasal dari nama salah seorang Saudagar China yang
bernama Lien Ong, konon, dahulu Lien Ong lah yang sering memanggil dan
menggelar pertunjukan teater yang kini disebut Lenong untuk menghibur
masyarakat dan khususnya dirinya beserta keluarganya.
Lenong berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20.
Kesenian teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat
Betawi atas kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater
stambul" yang sudah ada saat itu.
Selain itu, Firman Muntaco, seniman Betawi, menyebutkan bahwa
lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong dan
sebagai tontonan sudah dikenal sejak tahun 1920-an.
Lakon-lakon lenong berkembang dari lawakan-lawakan tanpa plot
cerita yang dirangkai-rangkai hingga menjadi pertunjukan semalam
suntuk dengan lakon panjang dan utuh.
Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari
kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa
panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau
aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela.
Selanjutnya, lenong mulai dipertunjukkan atas permintaan
pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi
pernikahan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi
tontonan panggung.
Setelah sempat mengalami masa sulit, pada tahun 1970-an
kesenian lenong yang dimodifikasi mulai dipertunjukkan secara rutin di
panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Selain menggunakan unsur teater modern dalam plot dan tata
panggungnya, lenong yang direvitalisasi tersebut menjadi berdurasi dua
atau tiga jam dan tidak lagi semalam suntuk.
Selanjutnya, lenong juga menjadi populer lewat pertunjukan
melalui televisi, yaitu yang ditayangkan oleh Televisi Republik
Indonesia mulai tahun 1970-an. Beberapa seniman lenong yang menjadi
terkenal sejak saat itu misalnya adalah Bokir, Nasir, Siti, dan Anen.
Pada zaman dahulu (penjajahan), lenong biasa dimainkan oleh
masyarakat sebagai bentuk apresiasi penentangan terhadap tirani
penjajah.
Lenong pada hakikatnya terbagi menjadi dua kategori, yaitu ;
Lenong Preman dan Lenong Denes.
Lenong Preman : yaitu pertunjukan teater yang berisi cerita
rakyat/kehidupan rakyat pribumi dalam menentang penjajahan, dengan
mengedepankan tokoh utama 'Jago' yang kerap berkarakter tegas dan
keras. Atraksi persilatan menjadi andalan pertunjukan. gaya bahasa
yang digunakan pun cenderung kasar, seperti 'elu-gue, bangs*t, dll'.
Lenong Preman juga biasanya berisi kisah rakyat yang ditindas
oleh tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar
taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat.
Lenong Preman diasumsikan cerita berdasarkan sudut pandang masyarakat
menengah ke-bawah zaman dahulu.
Biasanya pertunjukan diitampilkan di tempat biasa masyarakat
berkumpul, seperti pasar. Panggung pertunjukan berupa 'panggung
arena', yang hanya beralaskan rumput/tikar, dengan penerangan obor/
lampu minyak dan dikelilingi oleh penonton yang duduk berkumpul
menyerupai tapal kuda. contoh Lenong Preman : Cerita Si Pitung, Abang
Jampang, Wak Item, dll.
Lenong Denes (dinas) : yaitu pertunjukan teater yang berisi
cerita mengenai dinamika pemerintahan yang saat itu dipegang oleh
penjajah. namun demikian, cerita yang diusung tetap mengenai sisi
perlawanan masyarakat terjajah. Gaya bahasa yang digunakan cenderung
halus, seperti saya-anda, tuan, dsb.
Lenong denes diasumsikan berdasarkan sudut pandang golongan
menengah atas. Panggung pertunjukan : karena Lenong Denes biasa
digelar di suatu tempat pemerintahan, maka cenderung lebih eksklusif
dibanding lenong preman, yaitu menggunakan panggung dan kelengkapan
pertunjukan saat itu. contoh : Cerita 1001 malam, dll.
Diposkan oleh wisata teater di 06:35
=====================================================================
Teater Tradisional Banyak yang Menghilang
Selasa, 20/09/2011 - 08:12
SUKABUMI, (PRLM).- Kesenian pertunjukan teater tradisional Jawa
Barat dari waktu ke waktu terus menghilang seiring dengan tidak adanya
lagi peminat untuk meneruskan dan juga peminat menyaksikan. Padahal
seperti halnya kesenian teater pada umumnya yang berkembang pesat
diperkotaan, kesenian pertunjukan teater tradisional juga banyak
memiliki nilai dan kekayaan sebagai seni tutur.
“Bahkan kesenian pertunjukan teater tradisional banyak
menyampaikan nilai-nilai filosofi hidup yang disampaikan secara halus.
Seperti halnya yang ditampilkan dalam kesenian pertunjukan teater
tradisional Uyeg asal Kota Sukabumi yang sudah direvitalisasi,” ujar
Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra Hj. Rosdiana
Rachmiwaty, M.Si., di sela-sela pelatihan kesenian pertunjukan
tradisional Uyeg di Gedung Pusat Kajian Islam (Islamic Center) Jalan
Veteran II No. 3 Kota Sukabumi.
Didanpingi Kepala Disporabudpar Kota Sukabumi, Drs. Beni
Haerani, M.M., dan Kepala Seksi Nilai-Nilai Sejarah dan Tradisional,
Cucu Ruswandi, S.Pd, dikatakan Rosdiana, kesenian pertunjukan teater
tradisional Uyeg yang berhasil direvitalisasi Balai Pengelolaan Taman
Budaya Jawa Barat bekerjasama dengan Dinas Pemuda, Olahraga,
Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Sukabumi, merupakan
kesenian tradisional yang nyaris punah dan berhasil direvitalisasi
serta di modifikasi oleh almarhum Anis Djatisunda pada tahun 1980-an.
Sebelumnya, teater tradisional Uyeg merupakan kesenian yang
dikembangkan oleh Abah Ita asal Citepus, Pelabuhan Ratu Sukabumi
(sekarang Kabupaten Sukabumi) yang berkembang dan sangat digemari pada
tahun 1950-an.
Namun seiring dengan perkembangan zaman dan sejumlah tokohnya
meninggal dunia kesenian teater tradisional Uyeg punah dengan
sendirinya hingga akhirnya pada tahun 1980-an Alm Anis Djatisunda
berupaya melakukan rekam jejak perkembangan kesenian (Uyeg) tersebut.
“Kini kami sesuai dengan visi dan misi maupun tupoksi (tugas pokok dan
fungsi) Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat memiliki
tanggungjawab untuk melakukan revitalisasi kesenian tradisional yang
nyaris punah ataupun punah sama sekali, salah satunya teater
tradisional Uyeg,” ujar Rosdiana.
Rencananya, teater tradisional Uyeg hasil revitalisasi Balai
Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat bekerjasama dengan Dinas Pemuda,
Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sukabumi, akan dipertunjukan
kepada masyarakat pada Selasa (20/9) hari ini bertempat di Gedung
Pusat Kajian Islam (Islamic Center) Jalan Veteran II No. 3 Kota
Sukabumi. Dimainkan Padepokan Seni Rawayan Kota Sukabumi akan
membawakan naskah “Sadar Ditatar Siluman” karya (alm) Anis Djatisunda
akan disaksikan unsur Muspida, Pimpinan dan Anggota DPRD, para Kepala
Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para Kepala Sekolah, para Pengawas
Kesenian TK, SD, SMP, SMA dan SMK, para Guru Kesenian, para Pengurus
Sanggar Seni dan para Seniman se Kota Sukabumi maupun Kab. Sukabumi.
(A-87/A-147)***