Halo teman2,
Apa kabar?
Dua hal. Pertama, topik diskusi untuk Minggu ini kita coba yang lebih lokal:
Seperti yang teman2 mungkin tau, Pak Agus Martowardoyo terpilih menjadi Gubernur BI yang baru, menggantikan Pak Darmin Nasution dan loncat dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan RI. Dilihat dari segi makroekonomi Indonesia, apakah beliau figur yang optimal untuk posisi tersebut?
Kedua, bagi beberapa yang dengar kabar bahwa kelas Minggu depan akan ganti hari, gw mau announce di sini bahwa kelas Minggu depan akan sesuai skedul seperti biasa (Senin, mulai jam 15.45). Materi kelas kita udah abis jadi kita akan ngomongin beberapa case study dan cara presentasi yang bagus, sekalian latihan untuk teman2 presentasi Minggu depannya.
Garry
Topik Diskusi 5
Nabila Nandini (112105002)
Menurut saya dari segi makro ekonomi Agus Martowardojo adalah figur yang capable dan dapat berperan optimal dalam bidang yang ditanganinya. Ia sebelumnya adalah bankir yang bekerja di beberapa bank luar negeri, salah satunya adalah Bank of Amerika pada tahun 1984 dan kemudian menjabat sebagai direktur utama di beberapa bank ternama di Indonesia salah satu nya di Bank Mandiri dalam periode 2005 – 2010. Dengan latar belakang yang sangat interaktif dengan berbagai aktifitas finansial Ia tentunya telah memahami dengan baik seluk beluk perekonomian dan memiliki strategi yang baik dalam proses pembuatan dan eksekusi kebijakan sebagai memimpin BI.
Pendapat positif mengenai Agus Martowardojo juga mempengaruhi respon publik Indonesia dan asing, saat resmi terpilih menjadi Gubernur BI pada 27 Maret lalu, dihari yang sama terjadi apresiasi atas nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yang sebelumnya sedang melemah, hal ini menunjukan adanya harapan dari publik terhadap pemimpin baru bank central.
sumber :
http://www.tempo.co/read/news/2013/03/27/088469743/Agus-Martowardojo-Jadi-Gubernur-BI-Rupiah-Menguat
Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat akhirnya memutuskan Agus Martowardojo, yang saat ini menjabat Menteri Keuangan, sebagai Gubernur Bank Indonesia. Agus terpilih melalui suara terbanyak. Ia mendapat dukungan dari hampir seluruh anggota Komisi Keuangan. Jika ditanyakan apakan beliau adalah figur yang optimal sebagai gubernur BI saya rasa iyah, karena Agus Martowardojo telah lama berkiprah di industri perbankan. Ia mengawali karier sebagai staf International Loan di Bank of America cabang Jakarta. Pada 1986, Agus pindah ke Bank Niaga dan menempati posisi Wakil Presiden Corporate Banking, Banking Group Head. Pada 1995, Agus diangkat sebagai Presiden Direktur PT Bank Bumiputera. Kariernya berlanjut sebagai Presiden Direktur PT Bank Ekspor Impor Indonesia pada 1998. Setahun menjabat, Agus terpilih sebagai Direktur Bank Mandiri hingga 2002. Sebelumnya, Agus sempat menjabat Penasihat Ketua BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Indonesia) dan Presiden Direktur PT Bank Permata Tbk. Agus kembali ke Bank Mandiri pada Mei 2005. Ia menjabat selama dua periode sebagai direktur utama di bank terbesar di Indonesia itu. Agus sempat dicalonkan sebagai Gubernur BI pada 2008 tapi tak terpilih. Pada Mei 2010, Agus dilantik SBY sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani. Mungkin saja pemilihannya dinilai tidak tepat karena banyak yang menginginkan agar Agus Martowardojo untuk tetap menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai Menkeu sampai 2014, karena salah satu prioritas penting pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah menjaga stabilitas ekonomi Indonesia, baik aspek fiskal maupun moneter, di tahun politik 2013-2014. Menkeu tetap bisa menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi di tengah situasi politik yang dinamis, Kinerja Menkeu tidak boleh terganggu dengan situasi politik yang dinamis. Dalam hal ini posisi Agus Marto sebagai Menkeu dianggap sudah tepat.
Pertanyaan bagaimana benturan untuk seseorang yang sebelumnya menjabat sebagai
Menkeu (yang berarti dia mengurus sisi kebijakan fiskal) dan sekarang diangkat
sebagai Gubernur BI (yang berarti dia mengurus sisi kebijakan moneter), saya
rasa beliau bisa mengatasselama perubahan
itu karena jam terbang beliau didunia perbankan sudah cukup lama. Meskipun sebagai
menkeu, Agus dikesankan terlalu kaku, kurang kooperatif, serta sering
berselisih dengan DPR seperti dalam kasus kesalahan fatal yang i dilakukan Agus
dalam kasus pembelian saham Newmont yang berakhir di Mahkamah Konstitusi (MK)
dan keputusan Agus dinyatakan salah oleh MK. Wakil Ketua Komisi Keuangan DPR, Harry
Azhar Aziz mengatakan Agus Martowardojo selama ini dianggap tak cekatan
mengurus ekonomi makro dan kebijakan moneter di Indonesia. Tapi kali ini, Harry
Azhar optimistis Agus bisa cepat belajar. Sebab Agus sudah mempunyai dasar
kemampuan kuat di bidang kebijakan fiskal dan perbankan.
Beliau punya kemapuan fiskal sebagai menteri
keuangan. Itu akan membantunya nanti dalam berkordinasi terutama dengan Bank
Indonesia yang beliau akan pimpin sekarang. Dan nanti ketika beliau memimpin
Bank Indonesia beliau juga sudah paham fiskal dan beliau tentu harus belajar
moneter dari dewan anggota gubernurnya,
Sebelumnya saat menjalankan uji kelayakan
sebagai Gubernur Bank Indonesia Agus marto berjanji perkuat stabilitas moneter.
Di antara untuk memperkuat kuatr kerangka kebijakan moneter, stabilitas sistem
keuangan, sistem pembayaran, manajemen aset dan kewajiban, perbankan syariah,
dan tata kelola BI.
Referensi:
http://www.tempo.co/read/news/2013/03/26/092469562/Agus-Martowardojo-Terpilih-Sebagai-Gubernur-BI
http://m.wartakotalive.com/detil/berita/129553/pks-agus-martowardojo-sebaiknya-fokus-jadi-menkeu
http://economy.okezone.com/read/2013/02/28/457/768792/3-kendala-agus-marto-menuju-bi-1
Tq Nabila & Anita, Dilihat secara personal memang Pak Agus M. punya background yang cukup bagus untuk menjabat sebagai Gubernur BI, tapi yang gw cari di sini lebih ke arah bagaimana benturan untuk seseorang yang sebelumnya menjabat sebagai Menkeu (yang berarti dia mengurus sisi kebijakan fiskal) dan sekarang diangkat sebagai Gubernur BI (yang berarti dia mengurus sisi kebijakan moneter). Coba fokus ke arah sini. Inget dia itu dulunya bankir, tapi inget juga kalo di Indonesia akan ada OJK. Garry
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sebenernya sih saya gak bisa bilang pak Agus Martowardojo itu pas atau engga jd Gubernur BI. Menurut http://ekbis.sindonews.com/read/2013/02/23/33/720908/ekonom-agus-marto-tidak-cocok-jadi-gubernur-bi Pak Agus Martowardojo dinilai belum memiliki kapabilitas untuk memimpin BI karena pengetahuan tentang kebijakan moneternya yang masih minim. Pengetahuan dan pengalaman beliau dalam dunia perbankan tidak aplikatif untuk BI. Bank Indonesia itu bukan agregasi dari bank-bank yang ada. Jadi Bank Indonesia itu bukan Bank Mandiri, BNI, BRI digabung. Central bank itu punya logika yang berbeda dan butuh kemampuan yang berbeda pula.
Agus Martowardojo lebih cocok untuk menjabat sebagai Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK), karena mulai 2014 kebijakan perbankan diserahkan kepada OJK, tidak lagi di BI. Dan pada 2014, kebijakan bank dialihkan ke OJK. Pak Agus itu orang bank dan kalau Pak SBY calonkan, ke OJK itu karena pengalaman perbankan beliau.
Tapi berdasarkan http://www.sindotrijaya.com/news/detail/3482/gubernur-bi-terpilih-diharapkan-mampu-menjaga-kesinambungan-fiskal-moneter#.UXOWX64xaFE bila tingkat inflasi bisa terukur dengan baik, dan sistem moneter terjaga, nilai tukar rupiah terkendali, secara umum industri perbankan akan aman. Selepas kehadiran Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tugas BI ke depan lebih ke sisi moneter dengan menjaga stabilitas makroprudensial.
Sedangkan kalo menurut http://ekbis.sindonews.com/read/2013/03/28/33/732085/bni-lebih-melihat-ojk-daripada-bi lebih baik kita lihat aja dulu gimana nanti Pak Agus membawa BI. Pak Agus Martowardojo memaparkan, tugas BI pasca lahirnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ke depan masih sama, yaitu untuk menjaga kestabilan nilai rupiah, meskipun fungsi pengawasan bank telah berpindah ke OJK.
Jadi saya lebih condong untuk lihat dulu Pak Agus perannya dalam jabatan barunya sbg Gubernur BI, krn kita gak bisa men-judge orang sembarangan :D hehe itu sih menurut saya ya, jd saya netral J
kebijakan fiskal
Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda dengan kebijakan moneter, yang bertujuan men-stabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak. Perubahan tingkat dan komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah dapat memengaruhi variabel-variabel berikut:
· · Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi
· · Pola persebaran sumber daya
· · Distribusi pendapatan
Dengan kebijaksanaan fiskalnya pemerintah dapat mengusahakan terhindarnya perekonomian dari keadaan-keadaan yang tidak diinginkan seperti keadaan dimana banyak pengangguran , inflasi , neraca pembayaran internasionla yang terus menerus defisit dan sebagainya.
Ada analisis yang dipakai dalam kebijakan fiscal
· 1. Analisis kebijaksanaan fiskal dalam sistem perpajakan yang sederhana.
Dengan adanya tindakan fiskal pemerintah, pengeluaran masyarakata untuk konsumsi tidak lagi secara langsung ditentukan oleh tinggi rendahnya pendapatan nasional, akan tetapi oleh tinggi rendahnya pendapatan yang siap untuk di belanjakan atau disposable income
· 2. Analisis kebijaksanaan fiscal dalam system perpajakan yang Built-in Flexible
Yang dimaksud dengan system perpajakan yang built-in flexible adalah system pemungutan pajak pendapatan, maksudnya adalah untuk meratakan distribusi pendapatan agar tidak terjadi ketegangan – ketegangan social. Dikatakan flexible karena mengikuti pendapatan, apabila pendapatan besar maka jumlah pajak yang di bayar besar dan begitu sebaliknya.
kebijakan fiskal
Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa pajak) pemerintah. Kebijakan fiskal berbeda dengan kebijakan moneter, yang bertujuan men-stabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak. Perubahan tingkat dan komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah dapat memengaruhi variabel-variabel berikut:
· · Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi
· · Pola persebaran sumber daya
· · Distribusi pendapatan