@Ade: Betul, artikelnya tidak menyebutkan apa aja yg turun dr segi ekspor Cina, tapi ini mungkin karena jumlahnya terlalu banyak untuk disebut. Untuk keperluan analisa kita artikel ini memang cukup sekedar menyebutkan ekspor Cina turun secara umum. Ini menyebabkan supply curve market dunia untuk turun karena banyaknya jumlah ekspor Cina keluar negeri. Mengikuti supply and demand, turunnya supply menyebabkan naiknya harga dan turunnya kuantitas ekspor yang ada. Ini adalah efek terhadap perekonomian dunia termasuk Indonesia, yang makin hari makin banyak mengkonsumsi produk dari Cina (termasuk handphone). Good point.
@Aldia: Kebijakan pemerintah Cina memang terlihat cukup maksimal apalagi menghitung betapa banyak presur yang ada (dari segi perbaikan ekonomi sampai presur politis global). Mengenai kedelai, sebagai pengekspor, kurangnya demand dari Cina akan sangat merugikan produsen kedelai di Indonesia, terutama karena Cina merupakan negara besar. Demand curve yang turun akan menyebabkan harga dan kuantitas turun. Kalau kita asumsikan Indonesia sebagai sesama pengimpor kedelai, efek kurangnya demand Cina akan tergantung pada banyak hal. Efek yang paling mungkin adalah justru menaiknya supply curve Indonesia karena kedelai yang tadinya diniatkan untuk Cina sekarang masuk ke Indonesia. Ini menurunkan harga dan menambah kuantitas, yang berarti baik untuk konsumen Indonesia. Tapi ini memungkinkan hanya kalau Indonesia benar menerima kedelai yang tidak jadi masuk ke Cina tersebut.
Kita juga harus ingat faktor2 yang menyebabkan shift dari supply dan demand curve (lihat slide 13 materi ppt Pak Wija yg pertama). Menaiknya supply kedelai di Indonesia mungkin akan di-offset kalau ada penurunan demand lokal. Kita bs lihat dari segi produk yang dihasilkan kedelai seperti kecap asin. Kecap asin memerlukan garam dalam kuantitas banyak untuk dicampur dengan kedelai. Asumsikan harga garam di Indonesia naik tinggi, ini akan membuat demand curve kedelai untuk menurun dan mengakibatkan kuantitas turun.
@semuanya, jangan lupa kalo di ekonomi boleh pake asumsi untuk buat satu argumen. Coba aplikasikan terus bentuk analisa ekonomi yang kita udah pelajari di kelas. Pikirkan juga efek jangka pendek vs. panjang, dan kalo bisa solusinya menurut lo apa.
Nerusin dari poinnya Ade soal kekurangannya artikel, coba skrg pikir soal impor. Apa kurangnya informasi tentang impor dlm artikel ini dan kenapa itu berpengaruh untuk analisa kita terhadap ekonomi Cina?
Satu lg, apa semua setuju dgn pendapat Aldia bahwa kebijakan Cina sudah cukup bagus? Kebijakan yang disebut rata2 berhubungan dengan policy keuangan Cina. Ingat GDP = C + I + G + X - M, apa aja kebijakan pemerintah Cina yang disebut di artikel itu yang mengacu ke rumus ini? Apa ada kebijakan lain yg bs mereka buat berdasarkan materi pelajaran kita?
@Lumina, tq udh ngasih perspektif lain. Sekedar food for thought berhubung subjek kita Cina, ketika ekonomi Jepang bubble di tahun 80an generasi muda Jepang banyak yang mempunyai sentimen mirip dengan generasi muda Cina sekarang (seperti yg lo blg). Mereka tidak mau bekerja “sekeras” orang tua mereka, apalagi kita tahu di Jepang budaya tradisionalnya kerja sampai mati. Anehnya tp kalo kita lihat dr sisi produktivitas, udah 22 tahun sejak bubble ekonomi Jepang hilang dan produktivitas Jepang masih, bisa diblg, belum menurun secara kelewat signifikan. Memang pertumbuhan ekonomi mereka stagnan, tp lalu mengapa sentimen tersebut bs begitu berpengaruh terhadap produktivitas Cina?
Klo gw ngga salah nangkep, paragraf keduanya kayanya blm selesai ya? Kalo gitu komen ini cuma untuk apa yg udh ada. Overall poinnya cukup bagus. Gw cuma mau buat dua koreksi biar ngga bingung. Pertama, pemerintah Cina justru menjual currency lain demi menstabilkan Yuan, bukan membeli.
Kedua, mnrt gw kurang komplit untuk mengatakan pemerintah Cina khawatir apa strategi di atas cukup untuk menstabilkan ekonomi Cina. Problem yg ada sebenarnya agak lebih rumit. Pemerintah Cina menjual currency luar bukan sekedar utk jaga kestabilan Yuan, tapi juga utk menghindari kritik negara2 luar. Perlu diketahui, depresiasi currency Cina = lebih kompetitifnya ekspor negeri tersebut. Depresiasi Yuan akan membuat barang2 buatan luar (AS dan Eropa terutama) lebih mahal di Cina (negeri dengan demand besar). AS terutama ngga akan mau nerima ini karena depresiasi Yuan = trade deficit AS dengan Cina tambah bengkak. Info lebih lanjut bs dilihat di sini http://www.nytimes.com/2012/06/01/business/global/china-lets-its-currency-slip-raising-trade-tension.html?pagewanted=all&_r=0
Ini blm akhir masalahnya, ada biaya teknis yg ribet dr menjaga kestabilan Yuan, yaitu turunnya money supply. Pemerintah Cina merespon terhadap masalah ini dengan meningkatkan kredit domestik. Hasilnya money supply memang naik, tp begitu jg inflasi. Inilah dua hal yg bikin khawatir pemerintah Cina: kestabilan currency (yg bs mancing kritik internasional) dan kestabilan level inflasi (yg kalo terlalu tinggi bs mancing krisis di dlm negeri).
@Retno, bagus sekali, sangat akurat rangkumannya. Food for thought, kita lihat bagaimana bank sentral sangat berpengaruh dalam menjaga kestabilan ekonomi di Cina. Memang pemerintah, seperti yg lo blg, harus bs lebih baik mengelola natural resources. Namun sebenarnya ada kunci penting yg harus dijaga di tengah pergolakan politik (seperti yg sering terjadi saat pengalihan kekuasaan). Kunci ini adalah independensi bank sentral dari pemerintah. Setuju ngga kira2? Apa alasannya?
@semuanya, coba break down apa yang udah ditulis berdasarkan apa yg udah kita pelajari. Contoh, artikelnya blg pemerintah Cina meningkatkan investasi publik di bidang infrastruktur. Apa efeknya utk GDP Cina? Government spending naik? Apa kira2 efek lain pada jangka panjangnya?
Btw reply gw ke satu org bukan berarti yg lain ngga boleh baca ya. Kalo ada yg mau bahas lebih lanjut poin2 yg udah dilempar temen2 jg boleh. Ngga usah semuanya mengacu ke pertanyaan2 di post gw yg pertama.
Garry
@Anita, terima kasih sekali analisa & referensinya dari liputan 6. Bagus sekali. Next time coba post link nya kalo ada supaya semua bisa liat. Btw, Presiden Cina sekarang itu Hu Jintao, Xi Jinping itu CPC General Secretary. Li Keqiang itu sekarang wakil PM, PM nya sendiri masih Wen Jiabao. Dua nama itu (Xi Jinping dan Li Keqiang) sering disebut media karena influence mereka memang besar terhadap kebijakan RRC.
@Ade, betul, jadi kalo bukan G yg naik, I yg naik. Mungkin ini juga bisa memacu naiknya C dan NX utk jangka panjangnya karena ekonomi negara menjadi lebih positif. Satu2nya downside cuma kalo infrastruktur benar dibangun dengan menaikkan G. Ini berarti pajak akan naik dan C bisa turun akibatnya. Kalau naiknya G lebih kecil dari turunnya C, GDP Cina akan turun dengan adanya proyek pembangunan infrastruktur ini, plg ngga di jangka pendeknya.
@Puji, tq data dari Kemen Perdagangannya. Observasinya cukup akurat sesuai artikel. Mungkin perlu diingat kalo melihat data Export-Import, ada bagusnya lihat pergerakan dari tahun ke tahun, lihat di tahun berapa ada kenaikan atau penurunan, dan cari tau sebabnya kenapa.
@Adzharulf, tq, observasinya betul. Dari informasi yg ada coba dilihat bagaimana berbagai kejadian itu mempengaruhi bentuk analisa ekonomi yg sudah kita pelajari (GDP, supply-demand, dll).
Teman2, tq bgt responnya yg aktif dan analisa yg bagus2. Untuk ke depannya inget beberapa hal ini:
Sebagai contoh, untuk topik ini, kita tau ekspor Cina turun. Industri manufaktur turun. Mata uang Cina terpaksa dijaga stabil. Kita jg bs baca langkah2 pemerintah untuk mengatasi masalah.
Nah, kalo bs analisanya jgn berhenti di sini. Analisanya bisa dilanjutkan.
Beberapa udah analisa soal GDP:
Analisa dgn asumsi ini bisa dilanjutin lg ke supply and demand:
Dari sini kita bs pikir dari angle international trade. Turunnya kuantitas berarti kemungkinan besar adanya shortage. Salah satu cara mengatasi shortage adalah dengan membuka pintu untuk beras import. Efek jangka panjang impor adalah posibilitas untuk trade barrier, yg bs merugikan dunia.
Selain impor, bs jg dgn menaikkan lending (seperti yg diblg di artikel). Mungkin ngga sih pemerintah Cina memfokuskan lending terhadap perusahaan2 teknologi yg bisa membantu produksi beras? Menurut gw mgkn aja, toh Cina negara komunis yg semuanya state-oriented. Dengan teknologi yg bagus, supply curve akan kembali shift ke kanan, minimal mengembalikan level harga dan kuantitas ke equilibrium awal sebelum shortage.
Garry