Topik Diskusi #3

18 views
Skip to first unread message

Bernard Johnson

unread,
Feb 27, 2013, 10:34:17 AM2/27/13
to international-eco...@googlegroups.com
Teman2,

Maaf Senin kemarin gw ngga ikut kelas karena ada aktivitas di luar.

Anw, sebagai jurusan HI harusnya teman2 ngga asing dengan isu imigrasi. Di Eropa barat, isu ini begitu panasnya sampai kampanye parpol tidak pernah luput dari janji membatasi jumlah imigran. Friksi sosial akibat imigrasi juga sudah sering terjadi, dari riot, pembunuhan, sampai munculnya grup2 ekstrim.

Di Indonesia isu ini memang belum sepanas itu, tapi kita sudah lumayan kewalahan menangani kasus imigran gelap yg mau menyebrang ke Australia via Indonesia. Mereka yg tujuan sebenarnya bukan Indonesia saja sudah bisa memicu sedikit2 isu sosial, seperti yg bs dilihat di sini:


Menurut gw ini penting untuk Mahasiswa HI jadi inilah topik kita minggu ini. Mungkin ini ngga se-ekonomi topik2 sebelumnya, tapi justru itu kita coba lihat dari sisi ekonominya. Pertanyaan gw:
  • Dari kacamata ekonomi, apakah ada garis yg jelas antara jumlah imigran yang "cukup" dan yang "terlalu banyak"?
Sekali lagi deadline untuk topik ini hari Senin (4 Maret 2013) pas kelas kita dimulai. 

Jangan lupa cc grup ini pas reply. Jangan lupa juga include link informasi supaya yg lain bisa ikut belajar.

Garry

Ade Satriya

unread,
Feb 27, 2013, 12:48:04 PM2/27/13
to Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com
Besaran jumlah imigran yang datang memang mendatangkan sikap positif dan negatif. Positifnya adalah seperti bertambahnya pendapatan negara karena pajak yang dibebankan kepada para imigran, lalu bertambahnya permintaan akan produk" untuk memenuhi kebutuhan imigran. Sisi negatifnya adalah seperti meningkatnya daya saing dengan penduduk lokal, baik dari sisi pekerjaan, pendidikan maupun sisi ekonomi. Dari sisi pekerjaan, banyak imigran seolah mengambil alih hak bekerja warga lokal, seperti yang terjadi di Yunani. Resesi, kebangkrutan, dan pengangguran di Yunani telah menciptakan sikap permusuhan terhadap imigran yang diangap telah mengambil alih pekerjaan warga Yunani. Aparat kini sibuk memeriksa imigran ilegal dan mereka yang tertangkap langsung ditahan (sumber:http://goo.gl/pYP9d).

Garis yang jelas antara yang "cukup" dan "terlalu banyak" menurut saya masih abu-abu. Belum ada garis pembatas yang jelas antara keduanya, namun hal yang "cukup" dapat dilihat dari sisi produktifitas imigran yang datang dan bekerja, jika seperti itu maka nilai cukup bisa diberikan. Tapi apabila banyak imigran namun tidak produktif, itu hanya akan menambah beban pemerintah negara tujuan dan dipastikan anggaran rumah tangga pemerintah akan membengkak dan tidak diimbangi dengan tingkat produktifitas para imigran, secara jangka panjang perekonomian negara akan kolaps.

2013/2/27 Bernard Johnson <poluan...@gmail.com>

Anita Restiana

unread,
Feb 27, 2013, 9:45:41 PM2/27/13
to Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com
kalo tentang garis yang jelas terhadap jumlah imigran di suatu negara sih menurut saya gak ada atau "mungkin" would be exist ahead. Dulu sejarah imigrasi di EU mulai dari post- WW1 Prancis, Jerman, Belgia mulai mengizinkan even menarik imigran datang seiring dg ledakan ekonomi di negara2 tsb yg menarik datangnya imigran. Pertama negara eropa selatan yg miskin pd saat itu seperti Spanyol dan Italia kemudian dari pantai jauh seperti mediterania, Afrika Utara, dan Timur Tengah. GB menarik pendatang dari seluruh kerajaan Inggris (UK), imigran asal India dan Pakistan mulai berdatangan ke Inggris sejak tahun 1950. Prancis, Jerman, Belanda juga menarik imigran dari negara bekas koloni mereka dulu.
sekitar tahun 70an krisis ekonomi bikin para pembuat kebijakan sadar kalo imigran gak selalu merupakan fenomena yg positif terhadap suatu negara. Banyak imigran yang nganggur, dan gak mau balik ke negara asalnya which is ngerepotin negara yg jd destinasinya dong. bahkan ada juga yg homeless tp tetep stay disana. Kekhawatiran mulai tumbuh ketika byk imigran yg justru pengen tinggal permanen di negara destinasi entah dg alasan apapun misalnya kondisi negara destinasi lebih baik dari negara asal, makanya pemerintah Eropa Barat mengupayakan "pemberhentian imigrasi" dg melakukan pembatasan jumlah imigran dan pemberhentian perekrutan tenaga asing.
pemberhentian imigrasi punya dampak yg gak diduga. Migrasi pekerja asing emang berkurang, tp dinamika migrasi tetep berlanjut.
tapi ironis, justru imigran makin banyak yg dateng ke Eropa. Jd menurut saya sih susah juga deh buat nentuin peluang penutupan imigrasi dalam praktek. di Belanda jml imigran Maroko dan Turki pertama dan generasi kedua hampir 10x lipat meningkat setelah pemberhentian.
di Inggris pun melakukan pembatasan jml imigran dg tujuan/alasan "mengontrol imigrasi" http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2010-06-29/inggris-berlakukan-pembatasan-jumlah-imigran-dari-luar-ue/71440 . kata temen saya di UK sih sebenernya warga lokal merasa "terancam" dg pendatang asing yg dianggap "mengambil alih" hak kerja warga lokal di UK karena persaingan skill.
Imigran India banyak banget di Inggris, bahkan di US juga. Skill org India yg emang mostly qualified yaa jd kaya "anceman" buat warga lokal. Tp sekali lagi, kalo diliat dari kacamata Ekonomi keuntungan buat India ya devisa negaranya tinggi which is good.
Kalo imigran gelap sih ya harus kudu mesti wajib dideportasi.



2013/2/27 Bernard Johnson <poluan...@gmail.com>

Bernard Johnson

unread,
Feb 28, 2013, 12:27:15 AM2/28/13
to international-eco...@googlegroups.com, Ade Satriya, anitar...@gmail.com

Tq Ade (cepet bgt replynya :D) & Anita. Betul garis antara “cukup” dan “kebanyakan” itu sangat abu-abu, apalagi isu imigrasi ini lintas disiplin, dari ekonomi, sosial, politik, dll. Lihat instruksi di post berikut.

Bernard Johnson

unread,
Feb 28, 2013, 12:31:46 AM2/28/13
to international-eco...@googlegroups.com

Semuanya, coba landaskan analisa menggunakan Figure 15.4 di buku (hal 367).

Silakan buat asumsi apapun dan/atau menggunakan data nyata. Misalnya, mungkin mau analisa efek imigran Algeria di Prancis. Teman2 bisa cari data jumlah imigran yg ada dan wage rate di kedua negara, lalu analisa sendiri efeknya. Banyak penjelasan di Chapter 15 yg bs bantu memperkaya jawaban teman2 untuk pertanyaan gw.

Dari situ, kalo mau buat hipotesa sendiri jg silakan. Kalo mau menghubungkan dengan disiplin lain (isu sosial, politik, atau isu ekonomi lain seperti level harga atau output dunia), monggo.

Garry

lumina mentari

unread,
Feb 28, 2013, 11:39:45 PM2/28/13
to Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com

Negara-negara yang menjadi target dari kebanyakan immigrant memang yang memiliki stabilisasi politik dan sosial yang kokoh serta keadaan dan peluang ekonomi yang menjanjikan. Indonesia memang masih belum ramai dalam menganalisa isu-isu immigrant karena kita terlalu menstereotypekan negara kita tidak seperti negara amerika atau Australia yang pemerintahannya  sudah siap menerima immigrant baik yang berupa refuge atau yang kasus biasa.

 Kita sebenarnya sudah dari dulu  terus menerus menerima immigrant, kebanyakan memang berasal dari China, India dan Arab, hanya saja kita belum banyak menganalisa ataupun melihat peluang yang diciptakan immigrant tersebut MAKANYA ini jarang dibahas atau bahkan diperhatikan. Mekanisme administrasi immigrant dan spesifikasi hukum immigrant dan tata kerjanya masih belum spesifik (hanya ada sejenis segregasi kerja dimana imigran tidak boleh menjadi PNS dan itu ada dari jaman pak harto), sehingga kita tidak mampu mengeksploitasi sumber daya immigrant tersebut secara  maksimal (seperti amerika serikat).

Dari kacamata ekonomi, immigrant secara umum lebih banyak member pengaruh baik. Mereka yang datang  membawa skill dan budaya baru bagi negara host. Banyak diantara mereka juga berpendidikan tinggi, sehingga sangat bermanfaat bagi orang banyak, kalaupun tidak berpendidikan kebanyakan mereka membuka toko (dan biasanya pekerjaan yang mereka cari tidaklah sama dengan masyarakat dari negara Host), sehingga justru ini menguntungkan negara host, karena bukan hanya meningkatkan aktivitas jual beli mereka juga menyerap tenaga kerja. Di Amerika immigrant memberi peran dalam peningkatan ekonomi yang secara constant meningkatkan daya beli masyarakat sebanyak 14 %. Contoh bidang yang meningkat pesat di Amerika adalah kuliner; kuliner di kota-kota seperti new york,LA,portland, dallas berkembang sangat pesat serta bukan hanya meningkatkan daya beli tapi juga membantu untuk memboost pariwisata disana. Di Indonesia misalnya kita sudah tak asing lagi dengan perusahaan besar seperti MNC group, Djarum, Sampoerna, MD entertaintment dst. Immigrant di Indonesia kebanyakan merupakan pengusaha (generasi pada jaman orde lama dan baru) dan sampai sekarang mereka memiliki peran yang sangat crucial dalam kegiatan jual beli masyarakat, serta kontribusinya kedalam berbagai profesi yang membutuhkan keahlian khusus (misalnya akupuntur yang dibawa dari china, atau seni-seni textile yang dibawa dari india dan arab).

Adapun efek negative dari immigrant, memang ketika statusnya illegal. Di Indonesia belum ada pengawasan khusus, makanya terjadi banyak segregasi, diskriminasi dan kesalahpahaman. Banyak immigrant yang datang ke Indonesia berasal dari negara-negara Asia karena kulturnya yang mirip atau agamanya sama jadi merasa lebih dekat, namun bukan berarti kita tidak perlu landasan hukum yang kuat. Permasalahan illegal immigrant; 1. Mengancam keamanan, 2. Jika mereka tidak terdaftar dan memiliki legitimasi maka pemerintah tak akan mampu menolong mereka (seperti banyak immigrant yang terdampar di Indonesia ketika ingin ke australia, mereka terpaksa hidup dipengungsian dan memerlukan proses yang lama untuk mengurus kewarganeraan mereka itupun jika mereka diterima oleh negara Australia) 3. Pemerintah juga rugi memfasilitasi mereka tapi mereka tidak membayar retribusi dan pajak (contohnya di Pontianak banyak immigrant yang menyusup menggunakan kartu identitas keluarganya yang telah meninggal untuk meneruskan usahanya, secara philosofis mereka juga perlu melakukan kewajiban untuk berkontribusi untuk nasionalisme negara dengan mendapatkan legitimasi dan bukan hanya menggunakan negara Host untuk menjadi “inangnya”) 


2013/2/28 Bernard Johnson <poluan...@gmail.com>

Puji Islamaniskha

unread,
Mar 1, 2013, 9:35:23 AM3/1/13
to Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com

Setiap tahun Indonesia selalu dibanjiri imigran dari sejumlah negara. Sebenarnya tujuan mereka ke Australia, namun Indonesia menjadi tempat mereka sementara. Mereka hidup di sejumlah penampungan selama bertahun-tahun, sehingga tidak jarang diantara mereka ada yang menikah dengan penduduk setempat. Namun masalah imigran ini visa menjadi bom waktu, bila Indonesia tidak mengambil langkah tepat. Kehadiran imigran ini bisa menimbulkan banyak masalah, termasuk hubungan baik Indonesia dan Australia.

Sebagian besar imigran ini melarikan diri dari Pakistan dan Afghanistan. Sisanya Myanmar, Iran dan Srilanka. Mereka umumnya lari dari tekanan politik dan ekonomi.
Sebenarnya  tujuan mereka  adalah ke Australia, di mana di sana mereka bisa memulai kehidupoan baru yang lebih baik. Indonesia setiap tahun harus menampung para imigran ini. International Organization of Migran atau IOM mencatat, tahun lalu saja, sekitar 600 imigran gelap masuk ke Indonesia. 

Di Indonesia, mereka ditampung di sejumlah daerah. Di Medan, Sumatera Utara, para imigran ini hidup di penampungan yang dikelola badan international IOM di Jalan Cempaka.

Bagi pemerintah Indonesia, kehadiran imigran tentu menimbulkan masalah. Tidak sedikit mereka yang tertangkap karena melakukan tindakan kriminal. 
Tidak itu saja, soal imigran ini juga mempengaruhi hubungan Indonesia dan Australia. Indonesia dianggap tidak bisa menangani imigran gelap ini dengan baik.

Berada di antara negara – negara penerima pencari suaka dan pengungsi dalam jumlah besar seperti Australia, secara berkelanjutan Indonesia terkena dampak dari pergerakan populasi tercampur (mixed population movements). Kedatangan baru pencari suaka yang tinggi telah menjadikan masalah suaka/migrasi sebagai salah satu faktor penting dalam bidang keamanan Negara, dengan sebagian besar pendatang berasal dari Afghanistan, Iran, Iraq, Myanmar, Pakistan, Somalia dan Sri Lanka. Pencari suaka dan pengungsi tetap memperoleh perlindungan atas pemulangan paksa dan tetap diberikan akses ke UNHCR.

Sampai dengan akhir Oktober 2012, sebanyak 6.995 pencari suaka terdaftar di UNHCR Jakarta secara kumulatif. Mereka berasal dari Afghanistan (56%), Iran (11%) dan Pakistan (7%). Sementara sejumlah 1.606 pengungsi terdaftar di UNHCR Jakarta dari Afghanistan (47%), Sri Lanka (16%), Myanmar (12%) dan Irak (8%).

Imigran-imigran ini tentu saja memberikan dampak yang besar kepada Indonesia, isu teroris yang berasal dari para imigran ini membuat keamanan nasional indonesia terancam. kehadiran imigran ilegal itu bisa menimbulkan dampak terhadap keamanan nasional. Selain itu dalam bidang ekonomi para imigran gelap ini juga sangat merugikan Negara, seharusnya Negara bias mendaoatkan pemasukan dari orang0orang yang berkunjung ke indonesiua, namun para imigran ini datang dengan cara illegal sehingga negara kehilangan devisa dari kedatangan orang0orang luar ini. Negara juga harus bertanggung jawab memberikan tempat tinggal sementara atau biaya pemulangan para imigran gelap ini ke Negara mereka masing0masing.

dalam bidang politik bias menyebabkan hubungan antara Indonesia dengan Negara asal mereka menjadi renggang, karena misalnya ketika para imigran ini akan dideportasi atau terkena jeratan kasus hokum membuat hubungan kedua Negara menjadi renggang karena Negara asal mereka pasti akan berusaha melindungi warganya dan menyalahkan Indonesia.

Misalnya lagi saat tragedy bom bali kan banyak turis yg mati, ternyata banyak turis yg illegal, dari segi ekonomi dan politik sangat merugikan Negara. Negara asal mereka pasti akan mengumumkan akan ketidak amanan Indonesia sebagai kunjungan wisata, ini sangat merugikan Indonesia. 


2013/2/28 Bernard Johnson <poluan...@gmail.com>

Retno Dewati

unread,
Mar 1, 2013, 10:04:37 PM3/1/13
to Puji Islamaniskha, Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com
isu mengenai imigrasi itu memang sudah muncul sejak jaman industrialisasi. dan benar apa yang dikatakan lumina, bahwa imigrant itu pada umumnya menuju ke negara dengan kondisi ekonomi, politik, dan keamanan yang lebih stabil. jika ditanya mengenai garis kejelasan antara imgrant banyak dengan imigrant sedikit, menurut saya itu tidak terlalu dapat dibedakan. pada dasarnya imigrant datang ke sebuah negara untuk mendapatkan pekerjaan karena mereka menganggur di negara asalnya. nah, kalo menurut saya imigran itu sangat berdampak pada 4 hal yaitu Pertama adanya efek kepada pasar buruh dari host country. Kedua, imigrasi dapat meningkatkan pemasukan bagi negara tujuan. Ini diperoleh dari uang yang dihabiskan imigran melalui konsumsi, perawatan kesehatan, fasilitas pendidikan, dan pajak di negara tujuan. Ketiga, imigrasi merupakan solusi bagi negara yang memiliki masalah dengan tingkat penduduk tua yang tinggi. Keempat, imigrasi bisa membawa dampak positif bagi negara pengirim, terutama melalui remitansi. akan tetapi, diluar dampak terhadap ekonomi, imigrant (gelap) yang arusnya begitu deras juga dapat berdampak pada kehidupan sosial dan politik. ambillah kasus imigrant turkey di jerman, sejarah migrasi Turki ke Eropa dimulai pada tahun 1963, dengan penandatanganan perjanjian bilateral dengan Jerman (dan bebarapa negara-negara Eropa). Perjanjian ini menciptakan apa yang disebut program guestworker. Dalam program tersebut para pekerja dari Turki  ( dan dari beberapa negara lain seperti Yugoslavia) diharapkan untuk mendorong proses industrialisasi Jerman yang tengah berkembang. Pemerintah Jerman meminta pekerja asing untuk datang bekerja lantaran kekurangan stok buruh murah, terutama di sektor industri. Program tersebut awalnya didesain sebagai program temporer dan berotasi. Pekerja tamu yang datang diasumsikan setelah mendapatkan uang kemudian kembali ke rumah selepas kontrak kerja habis. Setelah pekerja tamu dari satu negara kembali ke negara mereka, maka diberlakukan kebijakan rotasi dengan mengambil pekerja tamu dari negara lainnya. Namun kebijakan ini tidak berjalan, lantaran banyak pengusaha enggan memberikan pelatihan lagi untuk para pekerja baru. Mereka lebih memilih tetap mempekerjakan pekerja lama untuk menghemat biaya.

Dari dalam negeri Turki sendiri, selama tahun 1960-an mengalami perubahan politik yang bervariasi; rezim Menderes digulingkan oleh tentara, konstitusi yang baru memberikan warga Turki hak untuk bepergian ke luar negeri. Perubahan politik 1960 memfasilitasi gerakan migrasi lebih lanjut sebagai bagian dari kebijakan "perencanaan populasi" dan "pertumbuhan ekonomi". Dengan tingkat perpindahan manusia ke Eropa yang semakin tinggi, kemudian muncul suara-suara yang menentang imigrasi ke Eropa. Mereka melihat bahwa migrasi tidak hanya menjanjikan keuntungan bagi negara penerima, tapi ekses negatif dari migrasi jauh lebih banyak. Dampak negatif tersebut meluas dalam berbagai sektor (politik, ekonomi, sosial, budaya), tapi argumen utama dari kalangan oposan imigrasi adalah kekhawatiran bahwa semakin bertambahnya jumlah migran mengancam ketahanan negara. Para migran tersebut dianggap tidak memiliki nasionalisme seperti masyarakat asli. Inilah yang kemudian membuahkan disahkannya sejumlah peraturan diskriminatif bagi para migran di negara-negara Eropa. Seperti misalnya dikeluarkannya kebijakan anti simbol agama di Perancis pada masa pemerintahan Jacques Chirac. Penerus Chirac, Nicholas Sarkozy juga mengumumkan sikap permusuhan kepada imigran pada pemilu presiden 2007. Sementara di Italia, politisi Italia menyalahkan imigran pada kejadian terbunuhnya seorang wanita di Roma tahun 2007. Isu ini kemudian memantik kekerasan terhadap imigran di Italia.

ria.a...@gmail.com

unread,
Mar 2, 2013, 11:08:29 AM3/2/13
to Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com
Berdasarkan data yg saya dapatkan dari us.m.news.viva.co.id/news/read/333457-5-732-imigran-gelap-ada-di-indonesia jumlah imigran gelap yg ada di Indonesia kini telah mencapai 5732 org yg berasal dr berbagai negara, khususnya Pakistan dan Myanmar.
Dan menurut saya tidak ada indikator yg jelas utk menunjukkan cukup atau tidaknya jumlah tsb. Krn tdk ad yg bisa menghentikan jumlah itu utk trs naik atau turun. Saat kita menganggap jumlahny sudah terlalu banyak, ga ada yg tau jumlahny akan berkurang kan ke depannya. Sehingga sulit utk menentukan ukuran cukup atau banyaknya itu.
Anw, balik k imigran ya. Menurut saya Indonesia secara umum tdk mendapatkan keuntungan apa pun dgn hadirnya imigran2 gelap yg ada d Indonesia, selain citra baik d Indonesia di mata dunia. Krn kebanyakan imigran tsb merupakan org2 yg ingin memperbaiki kehidupannya mengingat bahwa di negarany keadaan ekonomi dan politik tdk lg mendukung kehidupan mereka. Sehingga atas nama kebaikan dan HAM, Indonesia "dipaksa" utk menampung bahkan memfasilitasi imigran2 tsb. Padahal kenyataannya adalah, banyak dr imigran tsb yg tdk berkelakuan baik. Ada yg mencuri, merampok, bahkan ada yg malah ternyata merupakan sindikat perdagangan manusia seperti yg dimuat dlm link berikut us.m.news.viva.co.id/news/read/333457-5-732-imigran-gelap-ada-di-indonesia
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

From: Bernard Johnson <poluan...@gmail.com>
Date: Wed, 27 Feb 2013 07:34:17 -0800 (PST)
Subject: Topik Diskusi #3

puja restuti

unread,
Mar 3, 2013, 10:39:05 PM3/3/13
to ria.a...@gmail.com, Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com
Menurut sumber yang saya dapatkan dari 
http://hidayatullah.com/read/26769/14/01/2013/warga-inggris-melihat-imigrasi-sebagai-biang-masalah.html di Inggris banyak sekali terjadi konflik yang disebabkan oleh imigrasi.salah satunya adalah konflik perpecahan antara masyarakat ,ketegangan antara warga asli inggris dan warga pendatang semakin sering terjadi.
tiga masalah terbesar yang dihadapi semua golongan usia dan kelas sosial dalam masyarakat adalah ketidakpatuhan hukum, tidak menghormati kebebasan berbicara orang lain, serta ketidakmampuan berbahasa Inggris dengan baik.
Dalam kasus ini dapat kita lihat dari segi kesejahteraan sosial mungkin akan mengalami kesenjangan bagi warga negaa yang tidak asli berasal dri inggris,serta toleransi pun akan sangat sulit tercipta karena misalkan perbedaan agama dan status.

septi yusnita

unread,
Mar 4, 2013, 2:51:08 AM3/4/13
to puja restuti, ria.a...@gmail.com, Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com

Imigran ada yang masuk ke suatu negeri secara resmi (terdaftar) dan ada pula yang tak terdaftar (unregistered/ undocumented).  Mereka yang terdaftar bisa masuk ke suatu negeri secara resmi (melalui pintu imigrasi resmi) dan terdaftar sebagai imigran resmi.  Ada juga yang masuk melalui pintu imigrasi resmi namun kemudian tidak kunjung keluar (overstay).  Jenis lainnya adalah yang masuk melalui pintu tidak resmi dan bertahan tinggal di negeri tersebut tanpa dokumen yang resmi.  Yang terakhir ini pantas disebut sebagai imigran gelap.

Akan halnya para pengungsi (refugees) dan pencari suaka (asylum seekers) adalah bukan sengaja datang sebagai imigran dengan motif ekonomi.  Dalam rangka mencari penghidupan yang lebih baik. Mereka terpaksa datang karena merasa terancam di negeri asalnya dan ingin mencari tempat yang lebih aman di negeri lain.  Konvensi Status Pengungsi 1951 (Convention Relating to the  Status of Refugee) menyebutkan bahwa pengungsi adalah mereka yang mengungsi ke negeri lain karena takut akan penyiksaan atau ancaman penyiksaan (persecution) yang terjadi atas dasar perbedaan suku, agama, ras, etnis, golongan sosial, keyakinan politik , kelompok kepentingan, dan lain-lain.  Pengungsi ada yang bertahan sementara di negeri lain untuk kemudian kembali ke negerinya.  Ada pula yang mengajukan suaka (asylum) ke negeri lain karena telah hilang harapan terhadap keamanan dirinya di negeri asalnya.  Merekalah yang kemudian disebut sebagai pencari suaka (asylum seeker).  Akan halnya mereka yang terpaksa hijrah dari daerah tempat tinggalnya entah karena konflik sosial maupun bencana alam namun tidak meninggalkan batas-batas negerinya tidaklah disebut sebagai pengungsi, melainkan Internally Displaced Persons.(http://herususetyo.com/2012/03/25/imigran-gelap-dan-peran-negara/)

Peran imigran di negara maju sangat penting apabila imigran tersebut sangat produktif,namun kalo tidak produktif hanya menambah beban negara tujuan.

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages