Topik Diskusi #6

24 views
Skip to first unread message

Bernard Johnson

unread,
Apr 24, 2013, 9:20:08 AM4/24/13
to international-eco...@googlegroups.com
Halo teman2,
Tq partisipasinya di topik diskusi 5. Untuk Minggu ini kita coba ambil sedikit dari topik debat kita (yg seru) Senin kemarin.

Teman2 sekarang udah tau secara garis besar trouble di Eropa dan terutama isu Yunani. Kita semua tahu format persatuan antar negara seperti itu juga ada di regional kita, yaitu ASEAN Economic Community (AEC). Ada business leaders di Indonesia yang sangat confident dengan prospek perkembangan ASEAN ke depannya dan karena itu sangat menginginkan free trade di AEC untuk terbentuk. Sering market ASEAN secara keseluruhan (dianggap seperti satu negara) disejajarkan dengan raksasa2 seperti Cina dan India, dan memang ASEAN selalu berkompetisi dengan dua itu. Di sisi lain masih banyak jg yang tidak yakin dengan AEC, sebagian karena merasa kita hanya akan mengulangi kesalahan di EU.

Pertanyaan gw, menurut teman2 seberapa efektif dan sustainable ya AEC ini dalam mengembangkan ekonomi regional ASEAN?

Silakan dilihat dari berbagai aspek, baik ekonomi makro, mikro, forex, labor, socio-cultural, politics, etc.

Garry

septi yusnita

unread,
Apr 24, 2013, 11:19:37 AM4/24/13
to Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com

Saat ini kita hanya akan membahas dari segi ekonominya saja yaitu AEC (ASEAN Economic Community). AEC adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN yang direncanakan akan tercapai pada tahun 2015. AEC sendiri bertujuan untuk menjadikan ASEAN daerah yang stabil, makmur, dan berkompetitif tinggi dengan pembangunan ekonomi yang merata, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi.

AEC memiliki empat pilar utama: 1) kawasan pasar tunggal dan basis produksi; 2) daerah ekonomi berkompetitif tinggi; 3) daerah dengan pembangunan ekonomi yang merata; dan 4) daerah yang terintegrasi penuh ke perekonomian global. Untuk dapat mencapai semua hal itu diperlukan partsipasi aktif dari setiap anggota ASEAN. AEC juga telah membuat blueprint (rencana kerja) yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya. Untuk memastikan semua target dapat tercapai di tahun 2015, AEC membuat sistem kartu penilaian untuk mengikuti perkembangan tiap negara ASEAN.

Menurut Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, persiapan Indonesia menghadapi AEC 2015 sebesar 72% (source: http://www.neraca.co.id/2012/09/02/mendag-kesiapan-indonesia-capai-72/). Posisi Indonesia sebagai Chair dalam ASEAN pada tahun 2011 ini berdampak sangat baik untuk menyongsong terealisasinya ASEAN Economic Community. Dari dalam negeri sendiri Indonesia telah berusaha untuk mengurangi kesenjangan ekonomi antara pemerintah pusat dengan daerah, pengusaha besar dengan UKM dan peningkatan dalam beberapa sektor yang mungkin masih harus didorong untuk meningkatkan daya saing.

Di sisi lainnya ada juga yang bisa menjadi penghambat, yaitu menurut penilaian beberapa institusi keuangan internasional, daya saing ekonomi Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan Singapura, Malaysia dan Thailand. Selain itu, percepatan investasi di Indonesia tertinggal bila dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Sisa krisis ekonomi 1998 yang belum juga hilang masih berdampak pada rendahnya pertumbuhan investasi baru (khususnya Foreign Direct Investment) atau semakin merosotnya kepercayaan dunia usaha yang menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Buruknya infrasturuktur ekonomi dan korupsi, yang merupakan isu paling hangat di Indonesia, juga  menjadi penyebab merosotnya kepercayaan para investor terhadap Indonesia. Berdasarkan data ASEAN Corruption Perceptions Index 2007, korupsi dianggap ada di antara pejabat publik dan politisi di hampir semua negara anggota ASEAN.

Melihat hal ini pemerintah tidak bisa menunda lagi untuk segera berbenah diri jika tidak ingin menjadi sekedar pelengkap di AEC 2015. Keberhasilan tersebut harus didukung oleh komponen-komponen lain di dalam negeri. Masyarakat bisnis Indonesia diharapkan mengikuti gerak, irama kegiatan diplomasi dan memanfaatkan peluang yang sudah terbentuk ini. Peluang yang sudah terbuka ini harus segera dimanfaatkan. Apabila kita terus menunda-nunda kita akan tertinggal karena proses ini juga diikuti oleh negara lain dan hal ini terus berjalan. Yang kita butuhkan sekarang dalam menghadapi AEC 2015 adalah menyelesaikan pekerjaan rumah bersama-sama. Pemerintah perlu menyosialisasikan rencana aksi menghadapi tantangan regional. Kerjasama antar negara menjadi tak ada artinya apabila masyarakat tidak terlibat.

Puji Islamaniskha

unread,
Apr 24, 2013, 11:53:30 AM4/24/13
to international-eco...@googlegroups.com

Tentu saja, penerapan AEC ini akan berdampak pada perekonomian negara-negara di kawasan ASEAN, tak terkecuali Indonesia. Senenarnya jika ditanya AEC ini efektif atau tidak itu tergantung dari negara-negara ASEAN sendiri apakah sudah siap atau belum menghadapi berbagai resiko yang diakibatkan oleh adanya AEC itu sendiri. Penerapan AEC 2015 meletakkan perekonomian Indonesia di tengah persimpangan. Sebenarnya AEC itu sendiri akan efektif bagi indonesia jika, pertama, jika Indonesia mampu memanfaatkannya, perekonomian Indonesia akan mencapai kejayaan. Kejayaan dalam arti Indonesia sebagai bangsa besar yang berpengaruh dan dihormati dunia, khususnya ASEAN, karena mampu memanfaatkan semangat globalisasi. Artinya, dengan penerapan AEC 2015, terbuka pasar yang lebih luas bagi pengusaha Indonesia. 

Jika pengusaha-pengusaha Indonesia bisa bersaing dengan pengusaha ASEAN, terbuka kemungkinan untuk melakukan ekspansi ke negara tetangga. Persimpangan kedua, perekonomian Indonesia akan terjun bebas. Artinya Indonesia hanya dimanfaatkan sebagai pasar bagi berbagai komoditas barang dan jasa negara-negara ASEAN. Dengan tingkat kondusivitas pertumbuhan perekonomian serta jumlah populasi penduduk terbesar di ASEAN, sangat memungkinkan skenario ini terjadi. 

Pasar domestik Indonesia merupakan pasar yang sangat menggiurkan bagi berbagai produk impor. Melihat realitas tantangan yang dihadapi, Indonesia harus mulai berbenah. Tidak banyak waktu bagi Indonesia untuk memperbaiki daya saing perekonomian nasional. Padahal begitu banyak yang perlu segera dilakukan untuk mengatasi berbagai ketertinggalan, khususnya dalam kecepatan doing business, peraturan dan perundangan, birokrasi, permodalan, infrastruktur, dan kualitas produk. Peningkatan daya saing adalah kebutuhan masa kini yang harus segera dipenuhi. 

Pada 2013 ini ada beberapa tantangan yang dihadapi sektor usaha nasional dalam upaya peningkatan daya saing perekonomian nasional: tarik ulur kenaikan harga BBM bersubsidi, kenaikan tarif dasar listrik, dan kenaikan upah minimum. Belum lagi tarik ulur masalah ketenagakerjaan, tingkat korupsi yang masih tinggi, hingga masalah maraknya pungutan liar. Mau tidak mau, permasalahan tersebut harus segera diatasi. Apalagi pada 2013 ini Indonesia sudah memasuki tahun politik. Seluruh konsentrasi nasional akan terpusat pada proses suksesi nasional yang akan berlangsung pada 2014. 

Namun, tanpa disadari masyarakat umum, seiring berakhirnya pemilu, ada tantangan yang lebih besar, yaitu AEC 2015. Kita berharap, adanya AEC 2015 akan memicu tumbuhnya pengusaha-pengusaha yang bukan hanya mampu bersaing di panggung nasional, tetapi juga mampu bersaing di tataran global. Peluang emas saat ini terpampang di depan mata. Sangat sayang jika peluang emas tersebut tidak bisa dimanfaatkan Indonesia. Saat ini perusahaan nasional sulit meningkatkan daya saing dikarenakan hambatan ekonomi biaya tinggi, iklim investasi yang belum kondusif, serta hambatan kapasitas institusional. 

Padahal peluang emas tersebut seyogianya menjadi faktor pemercepat bagi terwujudnya “Asianisme” yang sudah diprediksi banyak pihak sebelumnya. Asianisme—menggantikan Westernisme—adalah fenomena atau tepatnya zaman di mana perekonomian dunia digerakkan oleh perekonomian di Asia, khususnya Asia Tenggara. Yang perlu dicatat, Asianisme tidak hanya terbatas pada pengertian Asia sebagai pasar, tapi juga Asia sebagai produsen barang dan jasa dengan kualitas dan harga yang sangat kompetitif bagi pasar-pasar negara Barat. 

Sayangnya baru sedikit dari perusahaan Indonesia yang memiliki kemampuan untuk menembus pasar regional dan internasional. Justru yang terjadi sebaliknya. Di pasar dalam negeri sendiri pun produsen nasional kalah bersaing dengan barang dan jasa impor. Hal itu patut disayangkan karena sebelum merambah pasar regional, produsen nasional sebaiknya mendominasi pasar dalam negeri terlebih dahulu. Apalagi mengingat ukuran pasar Indonesia yang begitu besar, setiap produsen nasional memiliki kesempatan untuk mencapai skala ekonomis yang cukup besar sehingga menurunkan ongkos produksi secara signifikan. 

referensi: 

 http://jakarta.okezone.com/read/2013/04/18/320/793609/asean-economic-community-jangan-jadi-boomerang

http://www.neraca.co.id/harian/article/23736/Tenaga.Kerja.Terampil.Indonesia.Belum.Memadai


http://www.sepetak.org/2011/05/sekilas-tentang-asean-dan-asean-summit.html

Puji Islamaniskha

unread,
Apr 24, 2013, 11:56:10 AM4/24/13
to international-eco...@googlegroups.com


2013/4/24 Bernard Johnson <poluan...@gmail.com>

Aldia Dinita

unread,
Apr 24, 2013, 11:57:42 AM4/24/13
to Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com
kalo untuk indonesia sendiri sih, gak tau akan seefektif apa. karena Indonesia menghadapi AEC juga masih 50:50 antara siap dan gak siap.  dari (http://bem.feb.ugm.ac.id) dikatakan bahwa AEC sebagai peluang datangnya ancaman, kerap kali dinilai sudah memiliki persiapan yang matang tetapi tidak dibarengi dengan penerapan maksimal. Sebagai contoh konkrit, kemajuan ekonomi Indonesia untuk bersaing secara global membutuhkan setidaknya Sumber Daya Manusia (SDM) yang matang secara usia, mantap dalam akademik, dan siap bersaing di dunia kerja. Berbagai cara ditempuh seperti mencanangkan program wajib belajar disertai dengan subsidi pendidikan menjadi katalis perkembangan SDM Indonesia. Hal ini berbuah manis ketika hasil survey Human Development Report (HDR) 2006 yang dilansir oleh UNDP menyebutkan bahwa Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam perkembangan angka melek huruf dimana pada tahun 1999 berada di poin 79,5 dan  di tahun 2004  berada di poin 90,4. Pemerintah pun terus menambah anggaran pendidikan dan kesehatan setiap tahun.

di liat dari sisi ketenagakerjaan di Indonesia, AEC akan menggerakkan setiap angkatan kerja, baik profesional, tenaga ahli, manajer, analisis, bebas bekerja dimana saja tanpa halangan ataupun batasan di kawasan ASEAN. Setiap orang bakal berlomba-lomba mencari pekerjaan di perusahaan ASEAN lain yang mampu mempekerjaan mereka dengan imbalan yang lebih dibanding bekerja di negeri sendiri. Akibatnya, cuma masyarakat yang tidak memiliki keterampilan ataupun masyarakat yang menanamkan secara baik jiwa nasionalismenya berjuang di negara sendiri...  sementara itu, yang membingungkan adalah sewaktu Menteri Kordinator Perekonomian Indonesia, Hatta Rajasa, menegaskan Indonesia harus menjadi basis produksi di ASEAN, tidak hanya menjadi  pasar pada AEC 2015, kunci dari keberhasilan Indonesia terletak padainfrastruktur dan konektivitas. Sehingga selama 3 tahun ini, pemerintah gencar membangun sarana infrastruktur dan membangun konektivitas di negara kawasan lain. tapi, kalo pemerintah  Indonesia cuma berfokus mendahulukan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah saja dan menjadikan Indonesia produsen terbesar dalam SDA-nya tanpa memedulikan kualitas SDM-nya, terus gimana dengan nasib warga yang tidak memiliki
keahlian dong? maka dari itu, blm bisa dinilai efektif/ engga kalo ternyata kita aja antara siap dan ga siap.... maaf kalo ada yg salah ya kak tolong di koreksi.. thanks thanksss :D


2013/4/24 Bernard Johnson <poluan...@gmail.com>

Aldia Dinita

unread,
Apr 24, 2013, 12:01:36 PM4/24/13
to septi yusnita, Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com
maaf font size nya kegedean... :|

Bernard Johnson

unread,
Apr 25, 2013, 10:32:40 AM4/25/13
to international-eco...@googlegroups.com, Bernard Johnson
Septi, itu angka 72% yang dibiliang Pak Gita Wirjawan asalnya dari mana ya? Maksud gw dia bisa bilang begitu berdasarkan apa.

Garry

Retno Dewati

unread,
Apr 27, 2013, 5:41:36 AM4/27/13
to Bernard Johnson, international-eco...@googlegroups.com
kalo menurut saya asean economy community ini akan sangat potensial ke depannya. ada beberapa poin yang ingin saya utarakan disini terkait pendapat sya yang mendukung AEC dan yakin bahwa AEC dapat membawa sustainability untuk ekonomi kawasan asean. pertama, AEC akan membawa dampak positif bagi indonesia, mengingat posisi indonesia yang strategis untuk perdagangan dunia. kita juga harus ingat bahwa indonesia menyumbang 40% penduduk asean, dengan demikian indonesia akan menjadi negara penyumbang sdm terbesar dalam AEC itu sendiri. AEC juga akan membawa manfaat untuk integrasi ekonomi dan potensial pasaar dunia. mengenai integrasi ekonomi, hal ini tentu saja sangat efektif mengingat kondisi perekonomian negara2 ASEAN yang tidak berbeda jauh tingkatannya. dengan begitu akan memicu perekonomian yang kompetitif dalam upaya untuk integrasi ekonomi kawasan regional. nah, karena adanya integrasi ekonomi tersebut asean mampu memnjadi raksasa ekonomi dunia yang kemudian akan sangat potensial untuk menjadi pasar dunia. kita juga harus mengetahui bahwa Indonesia memiliki beberapa komodity yang dapat di ekspor dan sangat menguntungkan ketika AEC ini deberlakukan. sebut saja kelapa sawit, elektronik dan hasil kekayaan bumi lainnya. dengan begitu kita juga dapat menarik investor. inti dari keuntungan untuk segi ekonomi adalah tumbuhnya perekonomian yang kompetitif sehingga memicu asean menjadi kekuatan ekonomi dunia. sedangkan dari segi politics adalah meningkatnya power of bargaining. why? simplenya, ketika sebuah kawasan menjadi kekuatan ekonomi dunia, hal ini akan mengantarkannya menjadi kawasan yang memberikan kpengaruh terhadap konstelasi politik global. seperti, mereka akan memiliki power of bargaining dalam hal kebijakan dan penentuan tarif di free trade.

Bernard Johnson

unread,
Apr 28, 2013, 10:16:27 AM4/28/13
to international-eco...@googlegroups.com
Dari Nabila,
Dear all,

Kalo di bahas seberapa efektif dan sustainable kah single currency di ASEAN ini menurut gue prospek efektifitas nya lumayan baik karena :
1. Akan dapat mereduksi biaya transaksi bisnis lintas negara (mata uang yang sama akan lebih efisien), 2. Berpotensi meningkatkan investasi antar negara negara ASEAN, seperti negara negara Uni Eropa yang  tingkat investasi di Eurozone nya mencapai 75% (di ASEAN hanya sekitar 25%) karena kemudahan dari mata uang sama, 
3. Akan dapat menjaga neraca ekonomi agar tidak terlalu fluktuatif karena tidak terlalu dipengaruhi lagi oleh mata uang kuat seperti USD dan Euro
4. Selain itu juga a currency equal a language : dengan bahasa yang sama orang akan lebih mudah berkomunikasi, dengan mata uang yang sama orang akan lebih mudah bertransaksi



Kalo sustainable nya gue rasa masih di ragukan karena :
1. Menurut Dr. Surin Pitsuan mantan Sekjen ASEAN 2012, saat ini opsi single currency tidak terlalu meyakinkan buat ASEAN setalah apa yang terjadi di Uni Eropa karena saat ini ASEAN dinilai belum stabil.
2. Penggunaan single currency tidak terlalu berpotensi meningkatkan integrasi antar warga negara negara ASEAN karena blue print ASEAN Community sendiri masih dipertanyakan ke efektifannya. Single currency mungkin dapat diterapkan setelah ASEAN Community terbukti berhasil, sehingga kontinuitas dari penggunaan mata uang ini akan lebih stabil dan panjang umur.
3. Ketidakstabilan ini sangat tidak baik bagi masa transisi mata uang yang merupakan suatu fase pasti bila ASEAN menerapkan single currency, ketidakstabilan berpotensi besar mengagalkan fase transisi yang hasilnya pasti tidak sustainable bagi sistem single currency. Riset dari Asian Development BAnk juga  memantapkan asumsi tersebut karena menurut mereka ASEAN belum memiliki kapasitas yang cukup untuk melalui masa transisi tersebut
4. Potensi hilangnya otoritas suatu negara atas kebijakan moneternya, karena dengan ditetapkan nya single currency ASEAN akan memiliki satu wadah otoritas atas kebijakan moneter di ASEAN, keadaan ini di khawatirkan tidak dapat mengakomodasi kepentingan khusus negara negara anggota ASEAN

thats all thanks

Nabila 


proses transisi

Bernard Johnson

unread,
Apr 29, 2013, 2:00:11 AM4/29/13
to international-eco...@googlegroups.com
Dari Sarah,
Sorry for late reply. But I do care for  AEC.
Saya pro akan AEC yang menjadi goal untuk kawasan regional asia tenggara, tinggal kita sebagai masyarakat Indonesia dapat benar benar memanfaatkan waktu. karena persaingan yang kuat pasti akan terasa nantinya. dan kita sebagai generasi muda indonesia harus peduli dengan adanya bahasa asing khususnya bahasa inggris yang pasti menjadi salah satu syarat terbesar dalam persaingan tersebut. lagi lagi berbicara ekonomi, we have to grateful much karena kita masih bisa diberi kesempatan untuk dapat bersaing dan meningkatkan potensi kita, dimana diluar sana masih banyak yang menganggur dan tidak bisa sekolah. pertumbuhan ekonomi sendiri harus dinaikkan, pemerintah harus dapat lebih concern dalam pendidikan generasi mudanya sendiri. semua tujuan pasti baik, tergantung kitanya dalam berperan. karena lagi lagi, negara Indonesia ada di tangan generasi dan kualitas mahasiswanya.
That's my opinion. Thanks
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages