Takhanya perempuan, masalah kesuburan pada pria juga bisa menjadi alasan mengapa beberapa pasangan belum juga dianugerahi anak. Pada pria, hal ini disebabkan karena kuantitas dan kualitas spermanya tidak optimal sehingga tidak dapat membuahi ovum dengan baik.
Jika Anda pria yang mengalami masalah kesuburan, jangan buru-buru cemas dan putus asa dulu. Masih ada kesempatan bagi Anda dan pasangan untuk memiliki momongan dengan menjalani program hamil. Lantas, apa saja program hamil yang bisa dilakukan oleh pria tidak subur? Simak penjelasannya berikut ini.
Umumnya, kondisi ini terjadi karena adanya gangguan pada sperma, baik dari segi konsentrasi atau jumlah, bentuk, dan pergerakan sperma. Kelainan pada sperma hanya dapat diketahui melalui analisis sperma di laboratorium berstandar WHO.
Pasalnya, kualitas sperma pada pria obesitas cenderung menurun sehingga tidak bisa membuahi ovum secara optimal. Jangankan untuk membuahi ovum, pria obesitas pun kadang mengalami kesulitan saat melakukan penetrasi karena terhalang oleh lapisan lemak tubuhnya.
Sementara kebiasaan hidup yang buruk seperti merokok dan minum alkohol, bisa jadi salah satu penyebab pria tidak subur. Lagi-lagi, kualitas dan kuantitas sperma pada pria perokok aktif lebih buruk ketimbang yang tidak merokok.
Bahkan, kebiasaan merokok juga bisa menurunkan kemampuan ereksi pada pria hingga mengalami disfungsi ereksi. Namun ingat, merokok bukan satu-satunya penyebab pria menjadi tidak subur, namun memperparah gangguan sperma.
Ketika dinyatakan tidak subur, jangan buru-buru putus asa dulu. Anda masih memiliki kesempatan untuk punya anak dengan melakukan sejumlah program hamil. Program hamil ini dilakukan untuk membantu memperbaiki kuantitas dan kualitas sperma agar bisa membuahi ovum secara optimal.
Misalnya, pria yang mengalami azoospermia atau tidak ada sperma (sperma kosong) tentu akan mustahil bisa langsung punya sperma hanya dengan pemberian suplemen atau vitamin kesuburan. Kondisi sperma kosong biasanya disebabkan oleh sumbatan pada organ reproduksinya yang tidak bisa diobati dengan obat penyubur.
Namun terkadang, operasi varikokel tidak dapat membuat kualitas dan kuantitas sperma menjadi jauh lebih baik. Sebab, proses kerusakan yang terjadi pada sel dan jaringan penghasil sperma telah terjadi selama bertahun-tahun.
Ini artinya, operasi yang dilakukan tidak bisa langsung memperbaiki masalah kesuburan. Pasien yang melakukan operasi varikokel biasanya membutuhkan waktu 6 sampai 9 bulan ke depan untuk melihat perubahannya.
Inseminasi buatan adalah cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan peluang kehamilan dengan cara meletakkan sperma langsung di dalam rongga rahim. Cara ini bisa diterapkan pada pria yang spermanya tidak bergerak dengan bagus, meski jumlahnya sudah cukup.
Inseminasi buatan dilakukan ketika sang wanita memasuki masa subur, yaitu saat indung telur menghasilkan sel telur yang siap dibuahi. Dengan begitu, sperma tidak perlu berenang atau bergerak terlalu jauh untuk mencapai sel telur tersebut.
Selain itu, tindakan ini tidak bisa dilakukan bila jumlah sel sperma sangat sedikit. Oleh karena itu, tidak semua kelainan pada sperma cocok untuk melakukan inseminasi buatan. Tingkat keberhasilan inseminasi buatan ini hanya sebesar 10 sampai 15 persen, cenderung lebih kecil daripada tingkat keberhasilan bayi tabung.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suplemen antioksidan kerap digunakan untuk mengatasi infertilitas pria karena dipercaya bisa mengurangi stres oksidatif. Namun, studi terbaru mengungkap bahwa suplemen itu tidak terbukti meningkatkan kualitas sperma atau kesuburan pria.
Studi dipimpin oleh Profesor Anne Steiner dari Universitas North Carolina di Chapel Hill, Carolina Utara. Penelitian melibatkan 174 pasangan yang para lelakinya merupakan pasien di klinik kesuburan pria di seantero Amerika.
Sebagian pria diminta mengonsumsi suplemen antioksidan yang mengandung vitamin C, D3, E, juga asam folat, seng, selenium, dan L-karnitin. Sementara, sebagian pria lain masuk dalam kelompok kontrol yang mengonsumsi plasebo atau obat palsu.
Lantas, tim peneliti menganalisis kesehatan sperma mereka yang didasarkan pada empat faktor. Tim mengukur konsentrasi sperma, morfologi (ukuran dan bentuk), motilitas atau kemampuan sperma berenang ke sel telur, dan fragmentasi DNA.
Setelah tiga bulan, tim melihat sedikit perubahan tetapi tidak berdampak pada aspek kesuburan. Tidak tampak pula perbedaan signifikan antara fragmentasi DNA kelompok antioksidan (28,9 persen) dan kelompok plasebo (28,8 persen).
Tim kembali menilai tingkat kesuburan peserta studi setelah enam bulan, tetapi angka-angka itu tidak bergerak. Profesor Steiner mengatakan, temuan ini menjadi pembaruan penelitian seputar hubungan suplemen dan kesehatan sperma.
Dia mengatakan, ada banyak penelitian terdahulu yang dilakukan pada kelompok kecil dengan latar belakang seragam. Sementara, riset yang dia gagas dalam skala percobaan lebih besar dan beragam tetap tidak membuktikan kegunaan suplemen.
3a8082e126