4. Invoice yang dibuat dengan mengumpulkan seluruh kontrak medianusa dalam
satu produk yang sama menjadi satu nomor invoice (seluruh kontrak dalam satu bpt
menjadi satu nomor invoice)
5. Nilai invoice medianusa dibagi dalam 11 kali cicilan
6. Komposisi cicilan invoice adalah cicilan pertama senilai 1/3 dari nilai
total invoice, kemudian sisanya dibagi 10 dan menjadi cicilan kedua dst. sampai
cicilan kesebelas.
Contoh Ilustrasi :
Terdapat 3 kontrak yang dipasang oleh medianusa untuk
BPT Jakarta 2012 masing-masing kontrak bernilai :
nok 001 : SGD 200
nok 002 : SGD 100
nok 003 : SGD 100
- pada saat pengakuan pendapatan (revenue recognition)
nilai kurs SGD 1 senilai Rp 7000, maka nilai revenue yg diakui adalah sebesar
300x7000 = Rp 2.100.000,-
- kemudian seluruh kontrak digabung menjadi 1 invoice
(billdoc) dengan nomor document 90001 dengan customer IN12021077 atas nama
MEDIANUSA (S) PTE. LTD
- komposisi cicilan invoice tersebut adalah :
cicilan 1 = Rp 700.000,-
cicilan 2 = Rp 140.000,-
cicilan 3 = Rp 140.000,-
cicilan 4 = Rp 140.000,-
cicilan 5 = Rp 140.000,-
cicilan 6 = Rp 140.000,-
cicilan 7 = Rp 140.000,-
cicilan 8 = Rp 140.000,-
cicilan 9 = Rp 140.000,-
cicilan 10 = Rp 140.000,-
cicilan 11 = Rp 140.000,-
Demikian informasi yang bisa saya sampaikan, dan saya yakin informasi ini
sebelumnya sudah pernah diberikan pada saat tahap analisa dan development sistem
aplikasi SAP SD Metrasys. Semoga team metrasys bisa melakukan review terhadap
aplikasi SAP SD dan juga review terhadap data migrasi terkait perlakuan khusus
medianusa ini.
Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
Salam
Salamun