Ditunjukkan dalam gambar bahwa meski kondisi target yang diharapkan adalah sama, namun kedua sistem memiliki waktu yang berbeda untuk mencapainya. Sistem A terlihat lebih cepat mencapai suhu target pemanasan. Demikian juga dalam mencapai suhu target pendinginan, sistem A terlihat lebih cepat. Kondisi semacam ini berkonsekuensi pada keberhasilan sebuah proses pemanasan. Bagaimana ceritanya?
Andaikan sebuah studi ketahanan-panas sebuah strain bakteri pathogen menggunakan sistem B menghasilkan nilai D110 °C sebesar 10 detik. Kemudian sebuah industri pengolahan susu bermaksud menggunakan sistem A untuk produksinya dengan target pengurangan bakteri pathogen sebesar y D dari konsentrasi semula. Maka sistem A, dengan berbagai pertimbangan, dijalankan untuk mencapai suhu 110 untuk ditahan selama x detik. Ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Berkurangnya populasi bakteri target tidak mencapai y D. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ini terjadi karena kinerja kedua sistem berbeda. Intensitas panas, tercermin dalam luas area di bawah kurva, yang dibangkitkan oleh sistem A lebih rendah daripada sistem B.
Selanjutnya apa hasilnya jika yang terjadi adalah sebaliknya? Studi ketahanan-panas bakteri dilakukan pada sistem A sedangkan aplikasi yang dilakukan oleh industri menggunakan sistem B. Maka kemungkinan yang terjadi adalah inefisiensi energi yang tentu saja sangat tidak diharapkan oleh industri. Inilah mengapa, di samping informasi mengenai ketahanan-panas mikroba target, informasi mengenai kinerja sistem pemanas juga diperlukan dalam sebuah proses pemanasan pangan.
-Kontributor IFT Setya B.M. Abduh-
--
Posted By IFT Kontributor to Indonesian Food Technologist | Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan | IFT Indonesia at 3/05/2012 06:17:00 AM