KASKUS
Rektor Unesa Marah Kampus Disebut Pencetak Koruptor
Prof
Dr Warsono MS, Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tidak
setuju dengan pendapat masyarakat yang menyebutkan kampus sebagai
pencetak para koruptor. Menurutnya, penilaian itu sangatlah berlebihan
dan terlalu dibesar-besarkan media.
"Kalau
kampus disebut pencetak koruptor, lebih baik kampus ditutup saja.
Kalau sudah ditutup mau jadi apa, maka ambruklah negara ini, karena
sumber daya manusia (SDM) terlahir dari Universitas" Kata Prof Warsono
saat ditemui diruangannya di Surabaya.
Ini adalah cara berfikir yang melompat, cara berfikir seperti ini sangat menyedihkan.
"Jadi
kalau ada orang atau oknum yang korup, itu bukan karena dirinya
sendiri, tetapi karena sistem. Inilah yang harus di didik agar
masyarakat dapat berfikir analysis dan sintetik tidak hanya melakukan bentuk generalisasi, ini miris sekali " Katanya
----------------------------------------------------------------
Korupsi Ratusan Milyar di Universitas Negeri Surabaya Modus Pelaku Sama Dengan Korupsi UPS DKI Jakarta
Aliansi
Masyarakat Anti Korupsi, meminta Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur
(Jatim) agar serius dalam mengusut tuntas dugaan korupsi bernilai
ratusan milyar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Menurut
Budi Santoso, ketua Alamak, pengusutan dugaan korupsi ini diharap
bisa membongkar tindak pidana korupsi yang masif, terstruktur &
terorganisir, yang bisa jadi bagaikan mafia yang telah menggurita
dalam merongrong keuangan negara.
"Indikasinya diantaranya bahwa modus dan pelaku dalam dugaan korupsi
di Unesa ini adalah sama dengan dugaan korupsi UPS (Uninterruptible
Power Suply) di DKI Jakarta yang saat ini sedang disidangkan di
pengadilan tipikor (tindak pidana korupsi) bahkan ada sebagian
pelakunya telah mendapat vonis dari hakim", ujar Budi.
Sebagaimana diketahui, di DKI Jakarta uang ratusan milyar dibelanjakan
untuk barang2 yang sebenarnya tidak diperlukan oleh sekolah, karena
UPS dengan kapasitas yang besarnya bisa untuk menghidupkan komputer
untuk kebutuhan sebuah kota/provinsi jika listrik padam, tentunya hal
ini sangat mubazir.
Padahal untuk keperluan komputer disekolah jika listrik padam hanya
diperlukan gen set ataupun jika diberi UPS cukup yang berkapasitas
sesuai kebutuhan sekolah yang harganya tidak sampai Rp. 10 juta.
Apalagi kemudian ternyata barang yang dibeli dengan dana ratusan
milyar itu, sejak awal tidak bisa berfungsi karena berbagai hal, dan
banyak yang tidak bisa dipakai karena barang yang disuplai ternyata
adalah barang yang sudah rusak, karena kualitasnya tidak bagus.
Sehingga tampak bagaimana uang ratusan milyar yang harusnya bisa
dipakai untuk pembangunan ternyata dihambur2kan untuk hal yang tidak
perlu, karena adanya dugaan korupsi & mark-up untuk memperkaya
pihak tertentu tapi akhirnya kejahatan yang sangat terencana itu
terbongkar dan saat ini kasusnya disidang di pengadilan tipikor.
"Demikian juga dengan yang terjadi di Unesa, bisa dilihat bagaimana
uang ratusan milyar yang harusnya diprioritaskan untuk pembangunan
sebuah universitas, tapi ternyata ada dugaan mark-up &
dibelanjakan untuk barang2 yang sebenarnya tidak diperlukan. Apalagi
kemudian ternyata barang yang dibeli dengan dana sebesar itu tidak
bisa berfungsi karena kualitasnya tidak bagus." tutur Budi.
"Yang tampak mencolok adalah, bisa dilihat ternyata ada dugaan bahwa
modusnya, para penyedia barangnya, distributornya, importirnya dan
orang2nya ya itu-itu saja, sama persis dengan para pelaku korupsi UPS
DKI", ujarnya.
Untuk diketahui, program yang dibiayai oleh APBN tahun 2011 yang
diduga dikorupsi dengan modus dan pelaku adalah sama dengan korupsi
UPS DKI itu diantaranya;
- Pengadaan
Peralatan Laboratorium Riset Terpadu Bidang Teknik Universitas Negeri
Surabaya dengan kode lelang 5162 senilai Rp. 27 milyar (HPS Rp.
26.926.141.000,00) dengan penyedia barang adalah CV. Tunjang Langit
yang beralamat di RUKO GRAHA INDAH B-02, Jl. Gayung Kebonsari
Surabaya;
- Pengadaan
Peralatan Laboratorium Pembelajaran Universitas Negeri Surabaya
dengan kode lelang 6162 senilai Rp. 50 milyar (HPS Rp.
49.925.268.000,00) dengan penyedia CV. Adikersa yang beralamat di Jl.
Jemur andayani 50 Blok E 52-53 Ruko Surya Inti Permata Surabaya;
- Pengadaan
Peralatan Laboratorium MIPA Dasar Fakultas Matematika dan IPA
Universitas Negeri Surabaya dengan kode lelang 8162 senilai Rp. 15
milyar (HPS Rp. 14.925.000.000,00) dengan penyedia barang adalah CV.
Gunado Utama yang beralamat di Jl. I Gusti Ngurai Rai Ruko Mall
Klender Blok B2 No. 1 Lt. 2 Rt. 008 Rw. 006 Kel. Klender Kec. Duren
Sawit - Jakarta Timur;
- Pengadaan
Peralatan Laboratorium Fakultas MIPA dengan kode lelang 2162 senilai
Rp. 26 milyar (HPS Rp. 25.991.000.000,00) dengan penyedia barang PT.
Pancamaya Buana yang beralamat di Komplek Inkopal Blok G No. 61 Kelapa
Gading Jakarta Utara;
- Pengadaan
Peralatan Laboratorium Fakultas Teknik dengan kode lelang 1162
senilai Rp. 45 milyar (HPS Rp. 44.999.830.000,00) dengan penyedia
barang CV. Generasi Global Perdana yang beralamat di Wisma Mitra
Sunter Unit 11-05 Jl. Yos Sudarso Kav. 89 Blok C.2 Kel. Sunter Jaya,
Kec. Tg. Priuk, Jakarta Utara;
- Pengadaan
Peralatan Laboratorium Sport Science Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Surabaya dengan kode lelang 3162 senilai Rp. 15
milyar (HPS Rp. 14.922.710.000,00) dengan penyedia barang PT. Putra
Utara Mandiri yang beralamat di Jl. Kramat Raya 7 - 9 Gd. Centra
Kramat Blok A - 14 Kramat - Jakarta Pusat;
- Pengadaan
Peralatan Laboratorium MIPA Terpadu Universitas Negeri Surabaya
dengan kode lelang 4162 senilai Rp. 10 milyar (HPS Rp.
9.925.811.500,00) dengan penyedia barang PT Berdikari Mandala Pratama
yang beralamat di Jl.Pucung Raya No. 8 RT. 012 RW. 004 Balekambang,
Kramat Jati - Jakarta
Direktur
CV. Tunjang Langit, Ulya Abdillah saat dikonfirmasi lewat via
handphone pribadinya 081231092266 dan 085732744749 , mengaku tidak
mengetahui dugaan korupsi berjamaah tersebut. "Oh, saya tidak tahu itu
pak. Saya tak tahu, jawab Ulya Abdillah. Sementara itu Wakil Rektor
Unesa, Ketut Prasetyo, melalui ponselnya 08170843944 ketika dihubungi
guna konfirmasi kepastian berita, tak dijawab