Mulutmu harimaumu, adalah sebuah kata yang tepat untuk
menceritakan hari ketiga saya di Aceh. Ketika masih di Pulau Weh, ada yang
mengatkan “Semoga kita menemukan tanjakan yang terjal dan juga turunan yang
cuuram untuk mencoba fitur yang ada di mobil ini,” da nada juga mengatakan “Saatnya
untuk menyiksa Navara ini,” dan ternyata, semua terjadi.
Pagi, sekitar pukul 4 pagi saya sudah bangun untuk bersiap
mengejar sunrise bersama beberapa rekan saya. Kami mngejar Sunrise di kawasan
Dau Laut Tawar. Sebuah danau yang masih sangat cantik, meski sedikit ternoda
karena ada beberapa kawasan yang dibangun.
Sayang, kami gagal mendapatkan sunrise tersebut. Matahari
tertutup awan. Meski demikian, pemandangan disana masih tetap cantik dengan
cukup banyak pepohonan yang menutupi gunung. Air danau pun sangat bening. Di beberapa
titik terlihat ada kolam apung milik warga setempat untuk menampung ikan.
Setelah sarapan yang cukup menyenangkan, kami memulai
perjalanan menuju Meulaboh. Disini, kami kembali mengandalkan GPS. Namun GPS
tidak terlalu kami perhatikan mengingat kami masih berada dalam satu rombongan.
Selama perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan yang
sangat cantik meski cukup menantang. Kiri jalan tebing, kanan jurang. Meski demikian,
perjalanan terbilang manusiawi karena jalanan masih diaspal dengan baik.
Saya yang duduk sebagai penumpang belakang seakan norak
sekali dengan pemandangan yang berada di sekeliling saya. Sangat cantik. Pemandangan
sedikiit rusak saat saya melihat ada beberapa titik longsor di tengah hutan dan
beberapa titik dijalan yang kami lalui.
Menjelang siang, kondisi jalan semakin menantang. Tidak hanya
jurang, kami juga menghadapi jalanan yang longsor dan beberapa perbaikan jalan.
Jalanan pun tidak bisa dikatakan sebagai rute yang ‘mudah’ lagi. Beruntung,
kami melaluinya ketika siang hari. Jika malam hari, sudah pasti perjalanan kami
akan menjadi sangat berbahaya mengingat tidak ada penerangan dan marka jalan
yyang cukup di rute yang kami lewati.
Sekitar pukul 2 siang, rombongan tiba di sebuah desa. Saya kira
perjalanan tidak jauh lagi, namun ternyata kami justru mendapat kabar yang
kurang menyenangkan. Rute yang kami lalui salah. Memang bisa melaui rute yang
kami lalui ini, namun rute kami adalah rute yang sangat jauh dan terbilang
ekstrim.
Kami pun berkonsultasi dengan warga disana, apakah sebaiknya
melanjutkan perjalanan atau memutar kembali. Sayang, warga disana tidaklah satu
suara. ada yang mengatakan bila melanjutkan perjalanan, ada juga yang sebaiknya
kembali ke Takengon.
Permasalahannya adalah, apabila kami memutar balik, maka
perjalanan yang kami tempuh sudah pasti jauh. Rute juga terbilang berat
mengingat hari kemungkinan sudah semakin sore. Sementara apabila rute lanjut,
kami tidak mengetahui secara pasti kondisi jalannya. Demikian juga warga yang
tidak bisa memberi keterangan secara detail tentang kondisi jalan. Ia hanya
mengatakan bahwa rute tersebut terbilang ‘ngeri-ngeri sedap’, jalan juga tidak
diaspal tapi hanya dilakukan pengerasan.
Setelah berunding, kami pun memutuskan untuk tetap untuk
melajutkan perjalanan kami.
Awalnya, perjalanan cukup mudah. Halangan kami hanyalah
kerbau yang sangat banyak, ayam yang juga sangat banyak dan jalanan yang
sedikit sempit. Selama perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan yang
pastinya sangat cantik. Jujur, desa yang kami lalui mungkin bukanlah desa
wisata, namun pemandangan disana sungguhlah cantik.
Sore hari, perjalanan mulai menantang. Aspal habis dan
jalan mulai berbatu. Kanan kiri adalah semak. Dan jalan hanya cukup untuk 1 mobil. Apalagi mobil yang kami
kemudikan adalah mobil dengan dimensi yang cukup besar sehingga cukup sulit
untuk ‘nyempil’.
Namun, itu bukanlah cerita utama. Disaat kami mulai menapaki
satu bukit, tiba-tiba mobil didepan kami berhenti dan terdengar suarra dari HT ‘Ini
ada tanjakan yang sangat curan dan sulit. Kalau Navara sih kayaknya bisa, tapi
gw kurang yakin sama X-Trail,” ungkap suara di HT.
Saya pun penasaran dan melihat tanjakan tersebut. Dan benar
saja, tanjakannya demikian curam dengan kondisi jalan yang mengenaskan dan
bersebelahan dengan jurang. Jujur, saya sadar bahwa tanjakan tersebut adalah
batas kemampuan saya. Mental saya tidak cukup untuk mengemudi di medan
tersebut. Kunci pun saya serahkan pada Wahyu. Dia memiliki kemampuan mengemudi
yang jauh diatas saya.
Sementara itu, mobil X-Trail pun juga mencapai batas
kemampuannya. Mobil tersebut gagal menanjak tanjakan tersebut. Mobil X-Trail
kembali ke rute keberangkatan kami. Cuaca ketika itu sudah mulai hujan.
Perjalanan kami dilajutkan. Dan ternyata tantangan tidak
selesai sampai disana. Jalanan makin lama semakin menyempit. Dan ketika itu,
saya baru tahu bahwa rute kami ini adalah rute yang berada dibawah penguasaan
GAM ketika konflik dahulu. Sedikit horror adalah saat saya mengetahui bahwa
konon kabarnya, sering ada mayat yang tergeletak disana. Sedikit gak enak ya?
Kami pun dikejutkan dengan adanya seorang pengendara motor
yang melalui jalan kami. Bagaimana tidak, mobil yang memiliki spesifikasi cukup
tinggi seperti yang kami gunakan saja, cukup membuat kami ngeri, eh dia malah
hanya menggunakan sebuah sepeda motor, malah berani melalui jalan ini, bawa
belanjaan pula. Kami pun membiarkan ia mendahuli kami terlebih dahulu.
Namun, tidak lama kami berhenti ketika sang penegndara motor
tersebut juga berhenti. Ia ternyata tengah membuka jalan untuk kami. Ketika itu,
ada beberapa ranting pohon yang rubuh sehingga ia menggunakan goloknya untuk
membukakan jalan kami. Setelelah mengucapkan terima kasih, kami pun kembali
melanjutkan perjalanan.
Sekali lagi, mental saya dibuat menjadi seperti anak kecil. Didepan
kami ada longsor yang menghadang dengan jurang disisi kirinya. Longsor tersebut
sebenarnya terlihat sudah sedikit dibersihkan, namun masih terlihat mengerikan.
Saya sudah berpikir bahwa perjalanan mungkin harus berputar arah, namun
ternyata para senior berpendapat lain.
Perjalanan masih bisa dilanjutkan jika berjalan dengan
sangat hati-hati dan perlahan. Hanya ada 2 orang yang sanggup melintasi longsor
ini. Mereka pun bergantian untuk ‘meyebrangkan’ mobil-mobil yang kami tumpangi
agar tiba diseberang. Alhamdulillah, berhasil.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Namun hanya beberapa menit
kemudian, harus kami hentikan lagi. Kali ini, kami dihadang oleh sebuah pohon
tumbang yang melintang di tengah jalan. Praktis tidak ada jalan bagi kami untuk
melalui jalan ini.
Beruntung, pengendara motor yang kami melewati kami mau
membantu. Pria yang akrab dipanggik pak Sabar tersebut mengetahui lokasi dimana
kami bisa menemukan gergaji mesin yang disewakan. Ia bersama salah satu rekan
kami pun mencari gergaji mesin.
Sembari menunggu, kami pun
berinisiatif untuk mencari langkah lain melewati pohon tumbang tersebut.
Kami terdiri dari 7 mobil yang artinya ada 7 ban cadangan. Kami berencana untuk
meletakkan 2 ban cadangan di satu sisi dan 2 lagi di sisi lainnya agar bisa
dilewati oleh mobil. Seakan sudah dikomandoi, kami pun langsung mengerti peran
masing masing dengan tugas masing-masing pula.
Namun, setelah semua persiapan selesai, ternyata pak Sabar
telah kembali dengan 2 orang yang membawa gergaji mesin. Rasa lega pun hadir. Apalagi
setelah tahu bahwa kami sebentar lagi akan melewati hutan ini.
Setelah pohon dipotong, saya baru tahu bahwa ternyata kedua
orang tersebut adalah pembalak liar. Ditambahlagi, mereka meminta harga yang
terbilang sangat tinggi, yaitu Rp 1,5 juta, “Itu juga setelah ge tawar, tadinya
mintanya Rp 3 juta,” ungkap Anang, pria yang menemani pak Sabar untuk mencari
kedua orang tersebut.
Perlahan namun pasti, jalanan mulai lebar dan terlihat
sedikit mudah, hingga tiba-tiba suara di HT mengingatkan untuk berhati-hati
terhadap tanjakan super curam dan kondisi yang kurang bagus. Dan benar saja,
terdengar suara panic dari HT ‘CRASH CRASH CRASH!!!”
Seketika itu juga, rombongan langsung menuju lokasi. Sebuah mobil
nyusruk disebuah parit. Beruntung mobil tidak tergelincir di jurang. Kami pun
bahu membahu untuk menyelamatkan mobil tersebut. Perlu diingatkan bahwa kami
nyasar sehingga tidak membawa perlatan yang memadai untuk melakuka recovery
mobil dengan tepat. Beruntung, diantara kami terdapat senior yang memang sudah
ahli menangani kondisi seperti ini. mobil pun berhasil kembali ke posisi yang
seharusnya.
Perjalanan pun dilanjutkan. Beberapa kilometer kemudian,
kami menemukan sisa-sisa pohon yang ditebang. Kemudian ada papan bertulisan
peringatan dan menunjukkan bahwa saat ini kami berada di Taman Nasional Gunung
Leuser. Sebuah daerah yang memang terkenal dengan pembalakan liar.
Perjalanan terus kami lanjutkan hingga kami menemukan
jalanan aspal. Jalanan aspal itu layaknya sebuah sungai diantara gurun pasir. Ahahaha.
Tidak hanya aspal, kami pun juga akhirnya bisa mendapatkan sinyal. Kami langsung
menghubungi panitia yang menunggu kami di Meulaboh untuk dijemput dan bertukar
supir untuk kemudian menuju hotel yang sudah disediakan.
Di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah warung. Disana kami
istirahat dan menikmati indomie rebus paling enak sedunia. Meski masih setengah
matang, namun mie sudah mulai di lahap. Hahaha… maklum, selama 16 jam kami
menghilang, kami hanya menikmati snack dan aqua yang dihemat. Ya, namanya juga
nyasar yaaaa.
Haha…
Di hari keempat tidak banyak yang bisa saya sampaikan. Jujur,
baju saya dari kering ke basah, kering lagi, basah lagi dan kering lagi (semua
sampai tingkat celana dalam sekalipun) terpaksa tidak saya ganti di hotel. Pasalnya,
baju saya semua berada di mobil yang kembali ke Takengon.
Di hari keempat juga saya baru mendapatkabar bahwa jalan
yang kami lalui kembali longsor. Beragam cerita terkait rute tersebut pun saya
dapatkan. Mulai dari bahwa jalan tersebut masihlah menjadi wilayah sisa-sisa
GAM, sindikat ganja dan hingga tempat pelepas liaran harimau pemakan manusia
menjadi cerita tersendiri untuk saya.
Perjalanan ini pun membuat saya untuk memiliki keinginan
untuk melakukan perjalanan lagi. Entah kemana itu. Yang jelas, saya mau lagi.
--
Posting oleh Adi Hidayat ke
Kala Kata Berbicara pada 7/16/2015 03.28.00 PM