Jujur saja, saya bukan tipikal orang yang suka tantangan. Saya
lebih suka dengan sesuatu yang santai dan tenang, dijalani dengan aman hingga
semuanya selesai dengan tenang. Namun, kondisi ini sedikit terusik dengan
perjalanan saya ke Aceh beberapa waktu lalu.
“Terima kasih atas undangannya, Mobil123 akan diwakili oleh
bapak Adi Hidayat.” Kira-kira begitu jawaban dari managing editor saya, Indra
Prabowo ketika beliau mendapatkan undangan untuk melakukan test drive All-new
NP300 Navara.
Jujur, saya bersyukur telah mendapatkan kesempatan ini.
Aceh, Serambi Mekah-nya Indonesia. Tempat yang mungkin tidak bisa saya datangi
dengan kocek saya saat ini. Apalagi ketika saya mengetahui bahwa mobil yang
digunakan adalah manual. Well, jujur saja, saya jauh percaya diri ketika
mengemudi dengan transmisi manual dibandingkan dengan transmisi otomatis.
Namun saat saya melihat di undangan ‘harap mengirimkan
wartawan dengan kemampuan mengemudi yang baik karena perjalanan akan melalui
rute ekstrim’ (kira-kira begitu) rasanya jadi agak ciut. Seperti yang saya katakana
di awal, saya bukan orang yang suka tantangan, apalagi menyangkut nyawa.
Mengemudi bukanlah hal yang mudah bagi saya. Karena mengemudi,
setelah saya pelajari, bukan hanya sekedar mengendalikan kendaraan, namun juga
mengendalikan ‘waktu hidup’ penumpangnya. Tapi, ya sudahlah, kalau ini tidak
diambil, maka saya tidak akan bisa berkembang bukan?
Singkat cerita, saya harus tiba dibandara pukul 04.00 WIB. Tapi
saya baru naik taksi kira-kira pukul 03.15. terlalu mepet buat saya untuk tiba
di Bandara. Akhirnya sang supir pun saya suruh agak ngebut. Beruntung,
perjalanan masih lancar. Wajar sih, namanya juga adzan subuh belum
berkumandang.
Dibandara saya bertemu dengan puluhan wartawan senior dan
terkemuka di dunia otomotif Indonesia. Jujur, saya minder mampus. Pengalaman saya
di bidang otomotif tidak lebih dari secuil upil mereka. di bandara, kami
diberikan pakaian untuk digunakan pada hari pertama.
Jadwal hari pertama adalah terbang ke Sabang dengan transit
terlebih dahulu di Medan. Perjalanan dari Jakarta ke Medan tidak ada yang
istimewa kecuali pelayanan pramugarinya yang kurang ramah.
Dan saya pun tiba di Medan dengan selamat. Alhamdulillah. Akhirnya
saya sampe di Medan, dan langsung saya lakukan ritual wajib ketika memasuki
wilayah baru yaitu pipis. Iyah, pipis. Oke, misi pertama : pipis di kualanamu, done.
Perjalanan kemudian dilakkan kembali. Perjalanan kali ini
naik pesawat kecil dengan baling-baling. Sedikit norak, saya pun foto-foto
didepan pesawat. Nah, disini pilotnya cukup menegangkan di darat. Bawanya udah
kayak bawa metromini. Ngagetin. Tapi pas udah di udara, LUAR BIASA MANTAP!
Entah mungkin memang cuacanya yang super cerah atau pilotnya
yang memang hebat, tapi perjalanannya luar bisa diluar perkiraan. Nyaris tidak
ada goncangan. Perjalanan sangat nyaman dan pelayanan pramugarinya juga lebih
ramah.
Setibanya di pulah Weh, kami pun disambut dengan tarian
lokal sana, brifing dan dipertemukan dengan mobil yang akan kami tes. Saya satu
mobil dengan Wahyu kecil Dapurpacu.com dan bapak Martin dari Bisnis Indonesia.
Pulau ini kecil memang, tapi sangat bagus. Jalannya mulus,
aspal rata dengan kemacetan yang nyaris tidak ada. Namun tidak dapat dipungkiri
jalanan cukup menantang karena meski jalannya bagus, namun sempit dan menanjak
curam.
Disini saya kewalahan. Mobil yang saya supiri tersendat
hingga matik aja gitu. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Namun mental saya
jujur saja drop. Saya pun memutuskan untuk memberikan kunci kepada 2 rekan satu
tim saya.
Nah, disini destinasi utama adalah Tugu Kilometer 0. Tugu ini
merupakan symbol bahwa kita berada diujung terluar Indonesia. Sebenarnya secara
geografis sih bukan pulau We tapi Pulau Benggala. Pulau tersebut tidak
berpenghuni. Tapi kalau dengar-dengar sih, pulau tersebut ada tertutup dan
hanya boleh TNI disana. Karena itulah, tugu Kilometer 0 dibangun di Pulau Weh.
Nah, disana kita sesi foto. Sayang Tugu sedang direnovasi,
jadi ya kuranglah fotonya. Ditambah lagi, terlalu banyak pedagang disana yang
justru mengurangi daya tarik dari Tugu Kilometer Nol itu sendiri. Padahal seharusnya,
Tugu Kilometer 0 bisa tampil lebih atraktif. Oiya, bagi yang sudah kesini, kita
bisa mendapatkan sertifikat yang menunjukkan bahwa kita sudah disana.
Saya di Pulau We, Sabang, hanya semalam. Disini saya
menginap di sebuah resort yang ngat bagus. Saying, saya terlalu capek dan
ketiduran untuk ikut diving atau snorkeling. Sumpah, nyesel abis.
--
Posting oleh Adi Hidayat ke
Kala Kata Berbicara pada 6/12/2015 06.27.00 PM