Perjanjian Aqabah 1 Dan 2 Pdf

0 views
Skip to first unread message

Marie Ota

unread,
Aug 3, 2024, 4:18:40 PM8/3/24
to inculendberp

The second pledge at al-ʿAqabah (Arabic: بيعة العقبة الثانية, romanized: bayʾa al-ʿaqaba al-thaniya) was an important event in Islam where 70 residents of the city of Medina pledged their loyalty to Muhammad as their leader in an oath of allegiance known as a bay'ah.[1] It preceded the Hijrah, or migration of Muhammad and his supporters from Mecca, where they were persecuted, to Medina, where Muhammad became ruler. The pledge occurred in 622 CE at a mountain pass (al-ʿaqabah) five kilometers from Mecca.

Converts to Islam came from both non-Jewish tribes of Arabia present in Medina, such that by June of the subsequent year seventy-five Muslims came to Mecca for pilgrimage and to meet Muhammad (SAW). Meeting him secretly by night, the group made what was known as the Second Pledge of al-ʿAqaba, where the pledge was made. The guarantee of protection led (orientalist)people who studied the language,culture,history or custom of countries in eastern asia and ulema to describe it as the "Pledge of War".[2][better source needed][3] Conditions of the pledge, many of which similar to the first, included obedience to Muhammad, enjoining good and forbidding wrong, as well as responding to the call to arms when required.[4]

tirto.id - Perjanjian (Baiat) Aqabah menjadi salah satu perjanjian penting yang berpengaruh besar dalam proses dakwah Nabi Muhammad. Perjanjian Aqabah Pertama berlangsung pada 621 Masehi, sedangkan Perjanjian Aqabah Kedua terjadi pada 622 M. Kedua perjanjian ini melibatkan Rasulullah dengan penduduk Yastrib, yang kelak disebut Madinah.

Perjanjian ini disebut Perjanjian Aqabah karena dilakukan di sebuah bernama Aqabah, yang terletak sekitar 5 kilometer dari Makkah. Perjanjian Aqabah dilakukan dalam momentum yang tepat, ketika kaum muslimin Makkah membutuhkan tanah harapan baru, sedangkan penduduk Yastrib tengah mencari sosok ideal yang dapat mempersatukan mereka.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ - ٢١٨

Pada tahun ke-11 kerasulan, Nabi Muhammad saw. ditemui oleh 6 penduduk Yastrib ketika masa ibadah haji. Pertemuan pra-Aqabah ini terjadi di Mina dan menjadikan keenam orang tersebut masuk ke dalam agama Islam.

Keenam penduduk Yastrib ini kemudian menerima kesanggupan dan bersedia menerima ajaran baru serta berjanji untuk menyebarkan risalah Islam di Madinah. Berbeda dengan kaum musyrikin Makkah yang menolak dakwah nabi, keenam penduduk Yastrib justru bersedia menyebarkan ajaran Islam di daerahnya.

Pada tahun ke-12 kerasulan (621 Masehi) ketika masa haji, 5 orang yang menemui nabi semasa pra aqabah kembali membawa 7 orang lainnya dan berjumpa kembali di bukit Aqabah. Rombongan ini terdiri dari 10 orang dari suku Khazraj dan 2 orang dari suku Aus.

Pada tahun ke-13 kerasulan (622 Masehi) ketika masa haji, 73 orang dari rombongan haji Yastrib kembali menemui Nabi Muhammad SAW. Pertemuan ini dikenal dengan peristiwa aqabah kedua. Peristiwa ini dilaksanakan di pertengahan hari-hari tasyriq (11, 12, dan 13 Zulhijah) setelah sepertiga malam.

Sekelompok orang Yastrib ini membawa sebuah pesan yang berisikan permintaan masyarakat Madinah supaya Rasulullah bersedia datang ke wilayah mereka. Maksud dari permintaan ini secara lebih luas adalah bahwa penduduk Yastrib menginginkan Nabi berdakwa di sana.

Selain itu, orang-orang Yastrib mempertimbangkan keselamatan Nabi Muhammad saw. dan kaum muslimin Makkah yang sering kali terancam keselamatannya dari kaum kafir Quraisy. Rasulullah menyambut permintaan ini dan menyetujuinya.

  1. Pernyataan sami'na wa atho'na (mendengar dan mematuhi) Rasulullah baik dalam keadaan sibuk maupun lapang.
  2. Berinfaik baik semasa susah maupun senang.
  3. Menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
  4. Berjuang karena Allah tanpa mempedulikan ancaman orang.
  5. Mendukung Rasulullah ketika tiba di Yastrib, menjaga Nabi sebagaimana menjaga diri dan anak-istri, dengan balasan surrga Allah di akhirat nanti.

Setelah pelaksanaan proses baiat pada aqabah kedua, Nabi Muhammad menunjuk 12 orang dari rombongan Yastrib untuk menjadi Naqib. Naqib ini memiliki tugas untuk merealisasikan perjanjian yang telah ditetapkan. 9 Naqib berasal dari suku Kazraj dan 3 lainnya merupakan suku Aus.

Liputan6.com, Jakarta Perjanjian Aqabah atau yang juga dikenal dengan istilah Baiat Aqabah merupakan sebuah perjanjian yang dilakukan Rasulullah SAW dengan penduduk Yatsrib (sekarang disebut Madinah). Disebut Perjanjian Aqabah atau Baiat Aqabah karena perjanjian tersebut dilakukan di sebuah tempat yang bernama Aqabah.

Perjanjian Aqabah merupakan sebuah peristiwa di mana kelompok penduduk Yatsrib menerima agama Islam di hadapan Rasulullah SAW secara langsung. Perjanjian Aqabah sendiri terjadi dua kali, di mana Perjanjian Aqabah 1 terjadi pada tahun 12 H dan selanjutnya perjanjian kedua dilangsungkan pada tahun 13H.

Perjanjian Aqabah 1 dan Perjanjian Aqabah 2 menghasilkan kesepakatan yang intinya menyatakan untuk setia kepada Nabi Muhammad SAW, memeluk agama Islam, serta bersedia untuk terlibat dalam upaya dakwah.

Perjanjian Aqabah dilatarbelakangi oleh kesadaran suku Aus dan Khazraj akan pentingnya persatuan antara kedua suku tersebut. Mereka menyadari bahwa konflik di antara mereka dapat memungkinkan kaum Yahudi mengambil keuntungan dan memperoleh kekuasaan di Yatsrib.

Untuk mencegah hal tersebut, suku Aus dan Khazraj memutuskan untuk memilih pemimpin dari suku Khazraj sebagai raja atau pemimpin bagi kedua suku tersebut. Dengan bersatunya kedua suku, beberapa perkembangan pun terjadi, termasuk di antaranya adalah perjalanan beberapa anggota suku Khazraj ke Mekkah selama musim haji.

Selanjutnya, rombongan yang terdiri dari enam orang ini bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di bukit Aqabah. Bukit Aqabah sendiri letaknya yang tidak terlalu jauh dari kota Mekah. Pada pertemuan ini, anggota suku Khazraj berdiskusi dengan Nabi Muhammad tentang Tuhan dan kepercayaan mereka.

Pada kesempatan itu, Nabi Muhammad mengajak mereka untuk memeluk agama Islam dan beriman kepada Allah SWT. Setelah pertemuan tersebut, kafilah pertama dari Yatsrib kembali ke kampung halaman mereka. Kepulangan keenam orang tersebut membawa penyebaran agama Islam semakin meluas di Yatsrib.

Mereka secara rahasia bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di Aqabah dan menyatakan keinginan mereka untuk memeluk Islam. Mereka juga mengundang Nabi untuk datang ke Yastrib dengan tujuan menyelamatkan kota mereka dari konflik dan pertumpahan darah yang telah berlangsung selama 40 tahun.

Rasulullah kemudian menyampaikan prinsip-prinsip dasar agama Islam kepada mereka dan mengajak mereka untuk melakukan bai'at, sebagai tanda mengokohkan keimanan mereka. Bai'at tersebut dilakukan dengan saling berpegangan tangan erat-erat, dengan tangan Nabi berada di atas tangan mereka.

"Kami berbaiat dengan Rasulullah pada malam Aqabah yang pertama: bahwa kami tidak akan menyekutukan Allah dengan apapun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak, tidak akan menyebarkan berita palsu di antara sesama kami, dan tidak akan durhaka kepada Rasul dalam perkara yang benar."

Dengan demikian, Perjanjian Aqabah 1 merupakan kesepakatan penting yang meneguhkan komitmen para peserta untuk mematuhi prinsip-prinsip Islam dan menjaga persatuan serta keharmonisan di Yastrib (Madinah). Adapun isi Perjanjian Aqabah 1 antara lain adalah sebagai berikut:

Akibat dari hasil Perjanjian Aqabah 1, para penduduk kelompok yang terdiri dari 12 orang tersebut harus terlibat dalam menyebarkan agama Islam kepada para penduduk Yastrib. Kemudian penduduk Yatsrib yang telah memeluk Islam harus tetap teguh memegang agama Allah.

Kabar tentang Perjanjian Aqabah 2 ini pun terdengar hingga ke telinga kaum kafir Quraisy. Hingga pada akhirnya peristiwa inilah yang melatarbelakangi hijrahnya kaum muslim dari Mekah ke Madinah, karena di kota Mekkah mereka tidak dapat hidup tenang dan bebas dari gangguan, ancaman dan penyiksaan dari orang-orang kafir Quraisy.

Baiat Aqabah 1 (621 M) ialah perjanjian Nabi Muhammad dengan 12 orang dari Yathrib(Madinah) yang kemudian mereka memeluk Islam. Baiat Aqabah ini terjadi pada tahun kedua belas kenabiannya. Kemudian mereka berbaiat (bersumpah setia) kepada Muhammad.

Mengutip buku Sejarah Kebudayaan Islam Periode Klasik yang ditulis oleh Ahmad Sugiri, perjanjian Aqabah bermula pada tahun ke-11 kenabian tatkala Rasulullah SAW bertemu dengan enam orang dari suku Khazraj, Yastrib yang datang ke Makkah untuk menunaikan haji.

Keenamnya adalah As'ad bin Zurara, Auf bin Haritha (Ibn Afra'), Raafi' bin Malik bin Ajlan, Quthah bin Amir bin Hadidah, Uqbah bin Amir, dan Jabir bin Adullah bin Riab. Pertemuan mereka terjadi di bukit Aqabah.

Pertemuan tersebut berlanjut pada tahun berikutnya atau tahun ke-12 kenabian. Pada waktu itu Rasulullah SAW menemui rombongan haji berjumlah 12 orang yang datang dari Yastrib. Beberapa dari mereka pernah bertemu dengan nabi di musim haji sebelumnya.

Murodi dalam bukunya Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII menjelaskan, di bukit Aqabah yang tidak jauh dari Mina itulah Rasulullah SAW dan penduduk Yastrib mengadakan perjanjian untuk membantu Rasulullah SAW dalam menyebarkan agama Islam. Perjanjian ini dikenal dengan Perjanjian Aqabah I.

Setibanya di Tanah Suci, mereka secara sembunyi-sembunyi menyusun rencana untuk menemui Rasulullah SAW. Dikisahkan oleh Ka'ab bin Malik, pada sepertiga malam mereka berangkat menuju bukit Aqabah. Tak lama kemudian, Rasulullah SAW datang bersama pamannya, Abbas bin Abd al-Muthalib.

Perjanjian Aqabah II tersebut ditutup dengan sabda Nabi SAW yang artinya, "Dan supaya kamu sekalian menolongku, lalu kamu menjaga diriku bilamana aku datang dan pindah kepadamu; sebagaimana kamu menjaga dirimu, perempuan-perempuan kamu, dan anak-anakmu; serta bagi kamu surgalah balasannya dari Allah SWT."

c80f0f1006
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages