Sebuah judul “Herawati Diah Perempuan Jurnalis dan
Perintis,” di sebuah harian ibukota dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun beliau
ke-95, 3 April lalu memang cocok
dilekatkan kepada perempuan yang ikut mendirikan Koran Merdeka bersama suaminya almarhum Burhanuddin Mohammad Diah
(B.M.Diah), di samping mendirikan dan memimpin Koran The Indonesian Observer tahun 1955. Tetapi bagi saya yang
bersinggungan langsung dengan beliau ketika menulis buku suaminya B.M.Diah (Butir-butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah
yang Menghayati Zaman, Jakarta:Pustaka Merdeka, 1992) menambahkan judul:
“Herawati Diah, Ketabahan Seorang Perempuan.”
Mengapa harus demikian? Karena saya menyaksikan dari dekat betapa sebuah
peristiwa bisa saja begitu cepat terjadi ketika saya sedang mengumpulkan bahan untuk
menulis buku B.M.Diah, suaminya, pendiri dan pemimpin Harian Merdeka, sebuah koran perjuangan yang
lahir 1 Oktober 1945. Di samping B.M.Diah adalah satu-satunya saksi sejarah
yang pada malam 17 Agustus 1945, di rumah Maeda ikut bergabung bersama-sama
Bung Karno-Hatta dan lain-lainnya menyusun naskah proklamasi, sebagai seorang
wartawan. Setelah
itu, B.M.Diah menjadi Duta Besar Indonesia untuk
Cekoslowakia, Inggris dan Thailand. Akhirnya menjadi Menteri Penerangan RI.Orang
dekat Bung Karno dan sesuai dengan Garis Harian Merdeka waktu itu.
Di kala menyusun buku B.M.Diah
inilah saya berada dalam dilema. Ketika bahan sudah terkumpul dan ingin naik
cetak, ada orang kedua dalam kehidupan Ibu Herawati Diah, yaitu Ibu Julia yang
ada di halaman buku yang saya tulis. Saya berhubungan baik dengan keduanya. Memang
ada keraguan untuk menerbitkan buku ini atau tidak. Karena ada nama-nama besar
yang berhasil saya kumpulkan, seperti Dr.H.Roeslan Abdulgani, Mh.Isnaeni,
Tjokropranolo, A.H.Nasution,SK.Trimurti, Hardi, Ibnu Sutowo, Manai Sophiaan,
Ridwan Saidi dan Aristides Katoppo, saya kemudian memutuskan terbit. Saat itu
pula Ibu Herawati bertanya kepada saya,”Bung Dasman, foto-foto yang saya
berikan mana?.” Saya bilang foto-foto ibu disimpan Bapak (B.M.Diah), saya tidak
bisa berbuat apa-apa karena saya menulis buku Bapak.”
Akhirnya saya sarankan
Ibu Herawati menulis buku, yang kemudian lahirlah buku Kembara Tiada Berakhir dan dikirim
ke alamat saya, juga B.M.Diah Wartawan
Serba Bisa.” Tetapi ketika Pak Rosihan Anwar meresensi buku terakhir ini di
Majalah Gatra, beliau meragukan data
yang dikumpulkan karena B.M.Diah sudah sakit-sakitan. Pak Rosihan mendukung
data saya karena saya sendiri menulisnya ketika B.M.Diah masih segar bugar di
usia 75 Tahun.Juga buku “Butir-butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang
Menghayati Zaman,” yang saya tulis banyak dicuplik di buku B.M.Diah Wartawan Serba Bisa ini.
Tidak perlu diceritakan bagaimana
selanjutnya. Saya mungkin tidak mau mendalami psikologi wanita jika berhadapan dengan
masalah itu. Hanya saya ingin mengatakan,Ibu Herawati Diah tabah menjalani
hidup ini hingga usia ke-95. Semoga Allah SWT terus memberkati Ibu.Selamat
Ulang Tahun Ibu. Di usia ke-95 betul-betul anugerah dari Sang Pencipta.
[Non-text portions of this message have been removed]