Perancangan Pesawat Terbang

30 views
Skip to first unread message

hadi winarto

unread,
Jul 27, 2018, 5:37:57 AM7/27/18
to Diski Naim' via Indonesia Diaspora Network Western Australia, Milis IDN
Salam Diaspora

Indonesia belumlah menjadi negara industri betulan. Masih menjadi bangsa kuli yang ekonominya banyak bertumpu pada tenaga buruh murah yg bekerja di bidang industri produksi sepatu, textil dlsbnya yg tak butuh pengetahuan, ketrampilan ataupun pengetahuan yang lumayan tinggi. Tetapi Indonesia berambisi untuk suatu hari menjadi bangsa maju setara dengan bangsa2 maju dunia lainnya. Untuk itu Indonesia harus memiliki banyak ahli yang mampu melakukan penelitian, kemudian berhasil mencapai discovery dan kemudian invensi yang selanjutnya dalam sebuah sistem politik, sosial dan ekonomi yang baik mampu melakukan inovasi untuk membuat produk2 ber iptek tinggi yang baru belum ada sebelumnya dan dibutuhkan masyarakat banyak diseluruh dunia, bukan hanya rakyat Indonesia. Saat itulah Indonesia baru benar2 menjadi negara maju.
Saat ini kondisi kita masih jauh dari itu. Saya dulu sering ke pameran produk industri. Sering saya ketemu dan bicara dengan para staf yg mempersiapkan pameran tsb. Saya selalu bertanya apakah produk yg dipamerkan benar2 produk Indonesia dan bera persen local content nya? Jawaban yg paling sering diberikan adalah bahwa yg dipamerkan itu sebenarnya 100% produk luar negeri, cuma diberi nama Indonesia dan dibungkus sedemikian rupa sehingga se-olah2 itu adalah produk Indonesia, macam mobil Timor yg 100% buatan Korea selatan tetapi di klaim sebagai 100% produk Indonesia sehingga tak usah bayar pajak atau bea masuk!!!

Nah dalam kondisi seperti itulah IPTN (atau PTDI sekarang) berada saat itu. Tentu saja tak banyak orang yg percaya bahwa IPTN benar2 mampu merancang dan memproduksi pesawat terbang sendiri, wong bikin mobil saja tak bisa kok! Tetapi saya tahu betul bahwa IPTN, mungkin satu2nya industri di Indonesia, adalah industri yg mampu merancang, melakukan uji terbang dan memproduksi pesawat sendiri, walaupun dengan bantuan cukup banyak ahli dari Boeing dan CASA, tetapi yg bekerja se-hari2 adalah insinyur dan teknisi Indonesia. (Memang utk N-250 IPTN merekrut teknisi asing berjumlah sekitar 300 sampai 400 orang dari sekitar 2000 orang teknisi dan insinyur yg ada, dan itu karena saat itu IPTN punya 2 program yaitu CN-235 dan N-250 disamping beberapa program lisensi memproduksi helikopter).

Tentu saja IPTN (atau PTDI) hanya memproduksi airframe saja, karena landing gear, avionik, engine, bahkan cat dan tempat duduk di pesawat semuanya harus diimpor atau dibeli dari luar negeri. Ini sama seperti Boeing, Airbus, Bombardier ataupun Embraer yg semuanya adalah produsen airframe. Memang Boeing beli engine dlsbnya dari perusahaan2 Amerika lainnya, jadi tidak impor. Bahkan aluminium pun harus di impor, karenaIndonesia belum mampu memproduksi aluminium utk grade pesawat terbang.

Namun demikian kami yg bekerja di IPTN waktu itu sangat bangga karena dengan segala keterbatasan yg ada kami bisa menerapkan apa yg dipelajari di universitas dalam praktek tugas kerja se-hari2. Memang local content (yaitu airframe saja) itu hanya sekitar 40%, tetapi IPTN juga berfungsi sebagai integrator iptek dan ini juga memberikan nilai tambah yg signifikan. Contoh dari integrator adalah misalnya produsen radio. Dia beli semua komponen elektronik dari perusahaan lain, tetapi dialah yg merancang radio itu dan menggabungkan seluruh komponen sehingga menjadi produk baru yaitu radio. Demikian juga dengan produsen pesawat terbang.

Untuk memberikan sedikit gambaran tentang apa saja yg terlibat dalam perancangan pesawt terbang, berikut disampaikan sebuah tulisan saya tentang hal tersebut. Semoga bermanfaat.

salam

Prof Hadi Winarto


A_Proses Perancangan Pesawat Terbang.pdf

hadiw2000

unread,
Nov 14, 2020, 9:38:56 AM11/14/20
to Indonesia Diaspora Network Western Australia
Dizki dan Rekan2 Diaspora Indonesia,
Salam Diaspora

Saya yakin bahwa ada banyak anggota Diaspora Indonesia, baik di WA, Australia ataupun diseluruh dunia, yang bekerja sebagai profesional di segala macam bidang. Saya tahu di Perth dan di Houston ada banyak profesional Indonesia yang bekerja dibidang pertambangan dan perminyakan. Saya pernah baca bahwa di Singapura bahkan ada asosiasi ahli perminyakan Indonesia di Singapura. Jadi sebagian dari pembaca grup milis ini adalah profesional. Tetapi saya perhatikan bahwa grup ini belumlah digunakan sebagai ajang penyebaran sains dan teknologi, dan lebih sering digunakan sebagai ajang medsos seperti facebook etc. Oleh karena itu ijinkan saya sekali-kali mengirimkan tulisan ilmiah populer yang saya harap cukup menarik untuk dibaca oleh semua orang, profesional atau tidak.
Kali ini saya ingin bercerita tentang CFD atau Computational Fluid Dynamics atau Computational Aerodynamics khususnya, yang diterjemahkan menjadi Aerodinamika Komputasional. Ini adalah teknologi yang dibutuhkan para perancang aerodinamika bentuk pesawat dalam tugasnya merancang bentuk luar pesawat terbang. Pada awalnya proses perancangan seluruhnya dilakukan secara teoritis/ hitungan dengan bantuan komputer, yaitu menggunakan software atau program komputer bidang aerodinamika, yang dengan demikian disebut aerodinamika komputasional. Pada tahap terakhir, perancangan di cek dengan cara membuat model dan mengujinya di terowongan angin, sebelum nantinya dibuat prototype atau purwarupa yang selanjutnya di uji terbang.
Perlu diketahui bahwa saat ini PTDI sedang dalam proses menguji terbang pesawat baru kecil yaitu N-219 untuk 20 penumpang dan propeler. Disamping itu PTDI tentu saja terus memproduksi sesuai pesanan pesawat CN-235 dan CN-295 disamping helikopter. PTDI juga membuat pesawat tanpa awak atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang lebih dikenal sebagai drone. Biasanya orang menganggap bahwa drone adalah quadcopter yang digunakan dalam hobi untuk mengambil movie dari udara, yang banyak ditunjukkan di youtube misalnya. Sebagai contoh anda bisa mengikuti perkembangan infrastruktur di Indonesia,  seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung, atau LRT atau kereta bandara YIA di Kulon Progo atau perkembangan jalan tol Cisumdawu etc lewat youtube. Tetapi UAV atau drone itu ada banyak macamnya dan yang dibuat di PTDI adalah jenis yg bentuknya mirip pesawat terbang biasa, yaitu tabung dan sayap, yg digunakan untuk pemetaan udara untuk tata kota, atau pemetaan kebakaran hutan etc. UAV yg dibuat juga ada yg berfungsi sebagai peralatan militer, baik sebagai pengintai ataupun dilengkapi roket sebagai pesawat tempur. Yang dibuat PTDI bernama Elang Hitam dan dipakai oleh TNI-AU dan hasil rancangan dari para ahli kita dari PTDI, BPPT, LAPAN dan Litbang TNI-AU. Belum lama lalu dibentuk BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan kalau tak salah Elang Hitam adalah salah satu rancangan hasil karya anak bangsa dibawah naungan BRIN.

Tulisan saya berjudul "Persamaan Navier-Stokes dan Industri Pesawat Terbang". Mudah2an bermanfaat untuk memberikan gambaran bahwa sudah ada kemajuan walau masih sangat kecil, dalam bidang penguasaan teknologi dan kemampuan merancang produk sendiri bukan sekedar jadi tukang jahit saja. Saya lampirkan juga 3 file lainnya terkait dengan pembuatan software NADA untuk perancangan aerodinamika sayap pesawat, yang saya kerjakan dan tuliskan waktu bekerja di PT IPTN (sebelum jadi PTDI). Semoga ini meyakinkan anda bahwa PTDI memang bukan sekedar kuli tetapi pemikir juga.

Pendahuluan dari tulisan saya  "Persamaan Navier-Stokes dan Industri Pesawat Terbang" dapat dibaca sbb: (untuk lengkapnya unduh file terlampir dan baca isi seluruh paper)

" Pertumbuhan ekonomi membutuhkan tumbuhnya industri pembuat barang dan jasa, yang dibutuhkan masyarakat atau untuk di expor. Industri memberikan nilai tambah pada ekonomi nasional dengan cara membuat dan menjual secara efisien produk yang dibutuhkan pasar, dengan harga yang kompetitif sehingga memberikan keuntungan kepada perusahaan terkait. Supaya kompetitif produk yang dibuat haruslah berkualitas setinggi atau lebih baik dari para pesaing, dan produktivitas karyawan perusahaan cukup tinggi sehingga biaya perancangan dan produksi barang yang dihasilkan menjadi minimal dan harga jual dapat ditekan serendah mungkin namun tetap memberikan keuntungan.

Produktivitas karyawan tergantung pada ketrampilan dan kemampuan penguasaan teknologi nya. Bila sistem pendidikan nasional mampu mencetak teknisi, insinyur dan para ahli lainnya dengan mutu tinggi, maka lulusannya akan siap pakai dan mudah diserap oleh industri yang ada. Mereka hanya butuh pelatihan dan induksi tentang budaya dan cara kerja perusahaan yang dapat dilakukan dalam waktu yang sependek mungkin. Apabila mutu wisudawan itu buruk, industri mungkin butuh waktu lebih dari 1 tahun untuk membuat karyawan baru itu produktif. Jelas bahwa itu akan sangat merugikan perusahaan. Dalam tulisan ini, akan dibahas salah satu teknologi yang dibutuhkan oleh industri pesawat terbang, yaitu aerodinamika komputasional. Masalah yang ada akan di-identifikasi, dan penjelasan tentang teknologi aerodinamika komputasional dibahas secara lebih rinci. "

salam
Hadi Winarto


IPTN_NADA-Multi Element Aerofoil Design with SOR to speed up convergence.pdf
3.Persamaan Navier-Stokes dan Industri Pesawat Terbang.pdf
HW_Optimisasi Bentuk Aerofoil.pdf
IPTN_NADA-Metoda Panel Vorteks Seragam dengan Syarat Batas Dirichlet.pdf
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages