Dizki dan Rekan2 Diaspora Indonesia,
Salam Diaspora
Saya yakin bahwa ada banyak anggota Diaspora Indonesia, baik di WA, Australia ataupun diseluruh dunia, yang bekerja sebagai profesional di segala macam bidang. Saya tahu di Perth dan di Houston ada banyak profesional Indonesia yang bekerja dibidang pertambangan dan perminyakan. Saya pernah baca bahwa di Singapura bahkan ada asosiasi ahli perminyakan Indonesia di Singapura. Jadi sebagian dari pembaca grup milis ini adalah profesional. Tetapi saya perhatikan bahwa grup ini belumlah digunakan sebagai ajang penyebaran sains dan teknologi, dan lebih sering digunakan sebagai ajang medsos seperti facebook etc. Oleh karena itu ijinkan saya sekali-kali mengirimkan tulisan ilmiah populer yang saya harap cukup menarik untuk dibaca oleh semua orang, profesional atau tidak.
Kali ini saya ingin bercerita tentang CFD atau Computational Fluid Dynamics atau Computational Aerodynamics khususnya, yang diterjemahkan menjadi Aerodinamika Komputasional. Ini adalah teknologi yang dibutuhkan para perancang aerodinamika bentuk pesawat dalam tugasnya merancang bentuk luar pesawat terbang. Pada awalnya proses perancangan seluruhnya dilakukan secara teoritis/ hitungan dengan bantuan komputer, yaitu menggunakan software atau program komputer bidang aerodinamika, yang dengan demikian disebut aerodinamika komputasional. Pada tahap terakhir, perancangan di cek dengan cara membuat model dan mengujinya di terowongan angin, sebelum nantinya dibuat prototype atau purwarupa yang selanjutnya di uji terbang.
Perlu diketahui bahwa saat ini PTDI sedang dalam proses menguji terbang pesawat baru kecil yaitu N-219 untuk 20 penumpang dan propeler. Disamping itu PTDI tentu saja terus memproduksi sesuai pesanan pesawat CN-235 dan CN-295 disamping helikopter. PTDI juga membuat pesawat tanpa awak atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang lebih dikenal sebagai drone. Biasanya orang menganggap bahwa drone adalah quadcopter yang digunakan dalam hobi untuk mengambil movie dari udara, yang banyak ditunjukkan di youtube misalnya. Sebagai contoh anda bisa mengikuti perkembangan infrastruktur di Indonesia, seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung, atau LRT atau kereta bandara YIA di Kulon Progo atau perkembangan jalan tol Cisumdawu etc lewat youtube. Tetapi UAV atau drone itu ada banyak macamnya dan yang dibuat di PTDI adalah jenis yg bentuknya mirip pesawat terbang biasa, yaitu tabung dan sayap, yg digunakan untuk pemetaan udara untuk tata kota, atau pemetaan kebakaran hutan etc. UAV yg dibuat juga ada yg berfungsi sebagai peralatan militer, baik sebagai pengintai ataupun dilengkapi roket sebagai pesawat tempur. Yang dibuat PTDI bernama Elang Hitam dan dipakai oleh TNI-AU dan hasil rancangan dari para ahli kita dari PTDI, BPPT, LAPAN dan Litbang TNI-AU. Belum lama lalu dibentuk BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan kalau tak salah Elang Hitam adalah salah satu rancangan hasil karya anak bangsa dibawah naungan BRIN.
Tulisan saya berjudul "Persamaan Navier-Stokes dan Industri Pesawat Terbang". Mudah2an bermanfaat untuk memberikan gambaran bahwa sudah ada kemajuan walau masih sangat kecil, dalam bidang penguasaan teknologi dan kemampuan merancang produk sendiri bukan sekedar jadi tukang jahit saja. Saya lampirkan juga 3 file lainnya terkait dengan pembuatan software NADA untuk perancangan aerodinamika sayap pesawat, yang saya kerjakan dan tuliskan waktu bekerja di PT IPTN (sebelum jadi PTDI). Semoga ini meyakinkan anda bahwa PTDI memang bukan sekedar kuli tetapi pemikir juga.
Pendahuluan dari tulisan saya "Persamaan Navier-Stokes dan Industri Pesawat Terbang" dapat dibaca sbb: (untuk lengkapnya unduh file terlampir dan baca isi seluruh paper)
" Pertumbuhan ekonomi membutuhkan
tumbuhnya industri pembuat barang dan jasa, yang dibutuhkan
masyarakat atau untuk di expor. Industri memberikan nilai tambah pada
ekonomi nasional dengan cara membuat dan menjual secara efisien
produk yang dibutuhkan pasar, dengan harga yang kompetitif sehingga
memberikan keuntungan kepada perusahaan terkait. Supaya kompetitif
produk yang dibuat haruslah berkualitas setinggi atau lebih baik dari
para pesaing, dan produktivitas karyawan perusahaan cukup tinggi
sehingga biaya perancangan dan produksi barang yang dihasilkan
menjadi minimal dan harga jual dapat ditekan serendah mungkin namun
tetap memberikan keuntungan.
Produktivitas karyawan tergantung pada
ketrampilan dan kemampuan penguasaan teknologi nya. Bila sistem
pendidikan nasional mampu mencetak teknisi, insinyur dan para ahli
lainnya dengan mutu tinggi, maka lulusannya akan siap pakai dan mudah
diserap oleh industri yang ada. Mereka hanya butuh pelatihan dan
induksi tentang budaya dan cara kerja perusahaan yang dapat dilakukan
dalam waktu yang sependek mungkin. Apabila mutu wisudawan itu buruk,
industri mungkin butuh waktu lebih dari 1 tahun untuk membuat
karyawan baru itu produktif. Jelas bahwa itu akan sangat merugikan
perusahaan. Dalam tulisan ini, akan dibahas salah satu teknologi yang
dibutuhkan oleh industri pesawat terbang, yaitu aerodinamika
komputasional. Masalah yang ada akan di-identifikasi, dan penjelasan
tentang teknologi aerodinamika komputasional dibahas secara lebih
rinci. "
salam
Hadi Winarto