Re: DPR Sekongkol dengan Pemerintah

0 views
Skip to first unread message

Dody Suria Wijaya

unread,
Oct 25, 2005, 11:25:19 AM10/25/05
to detik...@googlegroups.com, id-med...@googlegroups.com
Pilihan judul detikcom juga makin mental tabloid, cari sensasi murahan
yang bukan lagi merepresentasikan fact, namun dipotong jadi seperti
kesimpulan. Sapa sebenarnya bekingnya redakturnya ini kok anti
pemerintahan yg sedang berkuasa sekali. Bagaimanapun berita ini dan
berita2 beberapa bulan terakhir detikcom memang suka membangun opini
politik tendensius yg tidak dibackup data yg kredibel.

Detik.Usable: berita cepat wrote:
> ### DPR Sekongkol dengan Pemerintah
>
> Tunjangan Naik
>
> [][1] Jakarta - Mengapa DPR setuju harga BBM dinaikkan? Jawabannya karena tunjangan mereka juga naik Rp 10 juta per bulan. Jadi kesimpulannya, pemerintah dan DPR telah bersekongkol.
>
> Demikian pendapat Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Sebastian Salang, dalam perbincangan dengan **detikcom** pertelepon, Selasa (24/10/2005).
>

Ikhlasul Amal

unread,
Oct 25, 2005, 12:59:24 PM10/25/05
to id-med...@googlegroups.com
On 10/25/05, Dody Suria Wijaya <dod...@gmail.com> wrote:
>
> Pilihan judul detikcom juga makin mental tabloid, cari sensasi murahan
> yang bukan lagi merepresentasikan fact, namun dipotong jadi seperti
> kesimpulan. Sapa sebenarnya bekingnya redakturnya ini kok anti
> pemerintahan yg sedang berkuasa sekali. Bagaimanapun berita ini dan
> berita2 beberapa bulan terakhir detikcom memang suka membangun opini
> politik tendensius yg tidak dibackup data yg kredibel.
>

Bukannya yang seperti itu memang sedang banyak dipakai saat ini? ;)

Keesokan hari setelah subsidi BBM dicabut, Kompas langsung teriak di
judul, "Pemerintah Keterlaluan". Ternyata ungkapan itu diambil dari
potongan salah satu pendapat seorang ahli. Di salah satu "mailing
list" jurnalis saya lihat juga ada kecenderungan menilai ungkapan yang
keras (atau "kasar"? sudah dekat ke arah ini menurut saya) dari sikap
yang tidak sependapat dengan pemerintah sebagai "berani, menghindari
basa-basi, dan lebih lugas". Sayangnya, yang dipertajam baru keras
(atau "kasar")-nya, pemaparan data penguat dan analisis kedodoran,
sehingga acapkali terseret menjadi sekadar retorika pamflet mendukung
sebuah opini.

<no-offense>
Saya juga jadi malas membaca gambaran kemiskinan di lapangan yang
disodorkan oleh media saat ini. Penuh retorika, sering hanya satu
sisi, dan sialnya satu halaman/satu bundel dengan jejeran iklan
komoditi mewah atau selera konsumtif. Alhasil, sambil melipat bundel
tersebut (jika media cetak), saya menghela nafas pendek, "Terus,
maunya apa? SWGTL?"
</no-offense>

--
amal

Azil Adi Permana

unread,
Oct 25, 2005, 10:18:33 PM10/25/05
to id-med...@googlegroups.com
apa jangan - jangan media kita sekarang sudah.....
ah.. swgtl, mending saya memikirkan hal lain yang lebih penting *buat saya*.

--
- - -
******
Azil Adi Permana
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages