On 10/25/05, Dody Suria Wijaya <
dod...@gmail.com> wrote:
>
> Pilihan judul detikcom juga makin mental tabloid, cari sensasi murahan
> yang bukan lagi merepresentasikan fact, namun dipotong jadi seperti
> kesimpulan. Sapa sebenarnya bekingnya redakturnya ini kok anti
> pemerintahan yg sedang berkuasa sekali. Bagaimanapun berita ini dan
> berita2 beberapa bulan terakhir detikcom memang suka membangun opini
> politik tendensius yg tidak dibackup data yg kredibel.
>
Bukannya yang seperti itu memang sedang banyak dipakai saat ini? ;)
Keesokan hari setelah subsidi BBM dicabut, Kompas langsung teriak di
judul, "Pemerintah Keterlaluan". Ternyata ungkapan itu diambil dari
potongan salah satu pendapat seorang ahli. Di salah satu "mailing
list" jurnalis saya lihat juga ada kecenderungan menilai ungkapan yang
keras (atau "kasar"? sudah dekat ke arah ini menurut saya) dari sikap
yang tidak sependapat dengan pemerintah sebagai "berani, menghindari
basa-basi, dan lebih lugas". Sayangnya, yang dipertajam baru keras
(atau "kasar")-nya, pemaparan data penguat dan analisis kedodoran,
sehingga acapkali terseret menjadi sekadar retorika pamflet mendukung
sebuah opini.
<no-offense>
Saya juga jadi malas membaca gambaran kemiskinan di lapangan yang
disodorkan oleh media saat ini. Penuh retorika, sering hanya satu
sisi, dan sialnya satu halaman/satu bundel dengan jejeran iklan
komoditi mewah atau selera konsumtif. Alhasil, sambil melipat bundel
tersebut (jika media cetak), saya menghela nafas pendek, "Terus,
maunya apa? SWGTL?"
</no-offense>
--
amal