Dear pak Putera. mbak Virni, dan bapak ibu yth lainnya,
karena pak Putera menyebut saya, mohon perkenan untuk ikut berpendapat disini.
Sejujurnya sejak pertama melihat episode 1 film itu keluar (tgl 7 April), alias sebelum resmi diputar di show-time, sudah bisa saya perkirakan bahwa ini akan menjadi topik bahasan yang seru di pihak kita. Kebetulan kami tim di Maryland, memang mendapat link film itu cukup awal karena data yang salah satunya muncul di bagian awal episode itu, memang datang dari group kami, dan data itu memang dibuka untuk publik.
Mohon maaf bapak ibu, perlu saya sampaikan, sejujurnya, disinilah sering timbul dilema buat saya (terlebih karena saya juga pembuat data di Planology), karena data (Indonesia) yang saya lihat, saya proses dan kerjakan disini memang benar mengatakan apa adanya. Tidak ada manipulasi, data adalah data, dan hanya menyampaikan suatu fakta. Bahkan sejujurnya, saya sendiri "miris" melihatnya.
Namun demikian, data memang seterusnya diolah menjadi informasi, yang kadang gaung-nya akan bergantung pada siapa yang menyampaikan dan mendistribusikannya. Disini saya melihat bahwa film itu dibuat karena (salah satu alasannya) adalah para "scientist" dianggap tidak bisa menyampaikan informasi kepada publik, sehingga dipakailah para bintang film untuk menjadi daya tarik. Kebetulan lagi, Mr. Indiana Jones HF adaah duta konservasi di conservation international, maka jadilah dia ke Tesso Nilo, naik gajah, ngomong sana ngomong sini dsb.
dalam hal ini kalau boleh saya berpendapat (mohon maaf sekali lagi kalau banyak yang tidak sependapat), sebaiknya kita sedikit berkepala dingin, walau hati boleh panas, pasalnya, tindakan emosional dan terburu-buru, juga akan berdampak kurang elegan. Selain itu ada beberapa point yang perlu kita amati sebelum memutuskan untuk protes, yaitu:
1. HF datang ke Indonesia juga dengan ijin, bahkan dia bertemu president, foto mereka ada dimana-mana di internet.
2. Waktu HF ke lapangan (ada di film itu), dia juga ditemani beberapa orang Indonesia, saya kenali mereka adalah mitra kerja Kemenhut juga, yang mestinya menjadi jubir yang menyampaikan kondisi diluar disana. Adakah dari internal kita juga (atau telah) berkomunikasi dengan teman-teman sebangsa yang ada di film itu? Barangkali ada bagusnya mereka di dengar dulu apa maksud, tujuan dan kemana arahnya, juga apa tanggungjawabnya.
3, Adakah dari internal kita, pada waktu HF di Indonesia, memberikan cukup informasi yang komprehensif dengan apa yang terjadi di lapangan? Bahwa Tesso Nilo adalah TN baru, dimana memang sejak awal sudah ada penduduk disana? dsb dsb. Banyak fakta yang seharusnya disampaikan ke HF dan tim-nya ketika mereka masih berada di Indonesia, dan apakah ini semua sudah tersampaikan? Bila sudah, dan HF and the gang membandel, kita bisa memprotesnya, tentu saja secara elegan.
4. Kalau kita mau protes, kita harus sampaikan keberatan kita secara elegan dan diplomatis, disertai data dan fakta, yang credible di mata dunia, apabila itu tidak, maka itu bisa dianggap hanya pembelaan diri, dan menjadi bumerang buat kita.
5. Sebagai sesama negara tropis dengan hutan yang luar biasa, posisi Brazil lebih kuat, karena mereka memang punya "sesuatu" yang dianggap credible di mata dunia. Jadi mereka bisa melawan dengan fakta yang mereka punya. Dan satu lagi, Brazil cukup solid menghadapi pihak luar.
Bapak dan ibu, bukan saya tidak sepaham dengan protes, namun kita harus melihat dulu, (kata orang jawa) "nggon papan" alias "timing", dan kesiapan kita. Lebih jauh, perlu sedikit saya sampaikan, sejauh ini saya amati bahwa isu di film itu "tidak terlalu luar biasa" disini (paling tidak sampai hari ini, tidak ada head line khusus). Kebetulan saya ada di DC di mana berbagai institusi internasional banyak berada, Pada kesempatan bertemu dengan orang-orang ini (kebetulan tadi siang), mereka tidak terlalu menanggapi, buat mereka itu beritanya bukan hal baru, dan bagi mereka ini adalah suatu film dokumentasi, garapan insan film, dimana memang memiliki kebebasan untuk berkreasi. Jadi barangkali samalah dengan interpretasi Hanung Bramantyo waktu bikin film Sukarno, ada pro dan ada kontra.
Kalau barangkali sudah ada pengaruh di "pasar", maka memang sebaiknya kita mengambil sikap, namun tentunya harus dengan memperhatikan butir2 yang saya sampaikan sebelumnya.
Untuk soal "gethok tulor" atau kata pak Agus "flooding information", disini saya sependapat dengan pak Putera, kalau ada kesempatan bercerita soal Indonesia, maka kesempatan itu harus dipergunakan. Barangkali ini akan lebih efektif.
sementara itu dulu, mohon maaf apabila ada kata atau pendapat yang tidak/kurang berkenan.
Salam
Belinda A Margono