Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford

442 views
Skip to first unread message

Virni Budi Arifanti

unread,
Apr 16, 2014, 4:33:43 AM4/16/14
to forum_bal...@yahoogroups.com, ict-d...@googlegroups.com
Assalamualaikum wr. wb., salam rimbawan,

Saya baru saja menonton film serial dokumenter tentang Perubahan Iklim berjudul "Years of Living Dangerously" yang sedang ditayangkan di salah satu stasiun TV di Amerika Serikat mulai tanggal 13 April 2014 setiap minggunya.  Mungkin kita masih ingat berita mengenai kedatangan Harrison Ford ke Indonesia sekitar tahun 2013, maka serial film dokumenter  ini adalah hasil dari produksi film yang dibintangi  oleh Harrison Ford selama ia melakukan misinya di Indonesia.  Film  ini dibuat oleh produser Hollywood handal seperti James Cameron, Arnold Schwarzenegger, dll. Episode ke-1 film Years of Living Dangerously dapat disaksikan di link sbb: http://www.sho.com/sho/years-of-living-dangerously/video/season/1 atau http://yearsoflivingdangerously.com/where-to-watch/

Sebagai PNS Kementerian Kehutanan yang saat ini sedang menuntut ilmu di AS, saya sangat miris dan kecewa melihat serial dokumenter episode 1 tersebut yang banyak mengungkap permasalahan terkait deforestasi di Indonesia yang menurut saya sangat menyudutkan instansi Kementerian Kehutanan.  Walau tidak dapat dipungkiri bahwa Kemenhut tidak luput dari kesalahan dan kekurangannya, namun saya sangat berharap Kemenhut dapat memberikan klarifikasi atas issues yang ditayangkan dalam film tersebut sbb:
Menit 11:42 -- disebutkan bahwa Indonesia merupakan contoh negara dengan tingkat deforestasi tertinggi tiap tahunnya akibat perubahan lahan menjadi                      perkebunan kelapa sawit dan industri kertas. 
Menit 21:40 -- Film mengambil contoh kasus di lahan konsesi REKI PT Rimba Makmur Utama, di Kab. Katingan, Kalimantan Tengah.  Diskusi antara                          Harrison Ford dengan pemilik konsesi menyebutkan tentang sulitnya pemberian ijin untuk konsesi restorasi ekosistem akibat tingginya                          tingkat korupsi di Kemenhut.
Menit 46:35 -- Sekuel ini dilakukan di TN Tesso Nilo, dimana Harrison Ford dan timnya menyaksikan land clearing dengan pembakaran lahan di dalam                          kawasan TN Tesso Nilo untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.  Dalam tayangan tsb dikatakan bahwa Kemenhut tidak ada upaya dalam                      mencegah kegiatan ini

Karena dokumenter ini menjadi tayangan prime time di TV di AS, saya sangat berharap agar pihak Kementerian Kehutanan dapat memberikan klarifikasi atas tayangan dalam film tersebut kepada produser film Years of Living Dangerously, apabila film tersebut tidak sesuai dengan keadaan yg sebenarnya dan dinilai dapat merugikan Indonesia di mata dunia internasional.  Namun apabila yang ditayangkan dalam film tersebut memang benar adanya, maka sudah sepantasnya kita merasa malu, mengintrospeksi diri dan melakukan tindakan yang nyata dalam pencegahan deforestasi di Indonesia.  Terimakasih atas perhatian Bapak/Ibu sekalian dan mohon maaf apabila ada kata-kata saya yang kurang berkenan.


Salam,
Virni Budi Arifanti

PhD student
Oregon State University
USA


 
Virni Budi Arifanti

Researcher
Center for Climate Change Research and Forest Policy
Forest Research and Development Agency (FORDA)
Ministry of Forestry
Indonesia 
Tel.     : +62(0)251 8633944
Mobile : +62(0)81310178826
Fax.    : +62(0)251 8634924
e-mail : vbu...@yahoo.com

lidiat...@gmail.com

unread,
Apr 16, 2014, 5:03:50 AM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Mungkin itu adalah sebuah bentuk masukan dan kritik thd keadaan hutan di Indonesia. Klarifikasi apakah yg harus dilakukan? Terkadang kritik itu memang pedas dan menyakitkan, tetapi kita tetap harus introspeksi diri... Jika memang byk hal yg harus kita benahi, ya kt harus membenahinya...tidak perlu dilakukan klarifikasi yg mungkin terkesan membenarkan diri atau menutupi kebobrokan pengelolaan hutan di Indonesia. Kita harus bs terbuka thd seluruh saran dan kritik... Jika memang yg disampaikan dlm film itu memberikan citra buruk pd kehutanan di Indonesia, maka kt harus berusaha memperbaikix scr riil. Penguatan kapasitas penegakan hukum, penyelesaian/pencegahan konflik dg masyarakat, serta pengelolaan kehutanan di tingkat hulu sampai hilir sangat diperlukan... Tinggix tingkat perambahan dan konflik di lapangan sy rasa sudah byk dilaporkan oleh teman2 kita yg berada di lapangan.... Tak jarang kasus/masalah2 itu tdk mendapatkan solusi atau penanganan yg maksimal, bhkan mungkin cenderung ditu2pi untuk menjaga citra institusi... Pdhl menurut saya pribadi, hal itu bukan hal yg memalukan, jika memang kt tdk bs mengatasinya di tingkat lapangan atau tingkat upt, maka dg menyampaikanx ke tingkat pusat/nasional diharapkan byk pihak2 yg memiliki kapasitas dan pengetahuan dan pengalaman lbh byk akan mampu memberikan solusi..solusi tak terbatas pd tingkat intern kemenhut, dr pihak2 mitra, akademisi dan pihak2 lain jg mungkin bs dimintai pendapat..sy yakin mrk yg berdedikasi dalam bidang kehutanan, ilmu pengetahuan, wildlife pasti akan dg senang hati membantu.
Terkait masalah tingginya tingkat korupsi, ini terkait dg mental dan moral orang perorangan... Keimanan, keikhlasan dan dedikasi yg murni utk kemajuan dan kelestarian hutan adalah kunci...
Ini sedikit pandangan saya yang hanya seorang junior...yg masih baru di kemenhut.

That's from my side.

Best wishes,
Tesa
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Virni Budi Arifanti <vbu...@yahoo.com>
Date: Wed, 16 Apr 2014 16:33:43 +0800 (SGT)
Subject: [ict-dephut] Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford

--
To unsubscribe from this group, send email to ict-dephut+...@googlegroups.com
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "Diskusi ICT Kementerian Kehutanan" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke ict-dephut+...@googlegroups.com.

Suer@nywhere

unread,
Apr 16, 2014, 5:11:01 AM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Mungkin dgn tayangan itu, positive thinkingnya, pemrintah AS melalui USAID bakal bikin program hibah baruuu...
Ini pendapat saya yang newbie dlm bidang ini.
Salam
Suer
Let's get it done and get it right

Date: Wed, 16 Apr 2014 09:03:50 +0000
Subject: Re: [ict-dephut] Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford

boe...@gmail.com

unread,
Apr 16, 2014, 9:11:36 AM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Asslmww.

Ceu Virni,

Udh banyak komentar yang bagus dari Indonesia soal film itu, termasuk dari Pak Putera. Saya sepakat juga sama bu Laksmi utk menggunakan. Jalur diplomasi. Peranan badan litbang untuk mendukung substansi dan data sangat krusial.

Tentunya teman2 di universitas tahu Virni datang dari negara yg jadi locus film tersebut. Saya pengen tahu apa komentar temen2 seProgram di Oregon soal film tersebut? Seberapa mengganggunyakan concern mereka , if any.

Selamat belajar dan sukses selalu. Wass.

BMP

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: Virni Budi Arifanti <vbu...@yahoo.com>
Date: Wed, 16 Apr 2014 16:33:43 +0800 (SGT)
Subject: [ict-dephut] Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford

--

prayi...@yahoo.com

unread,
Apr 16, 2014, 9:38:23 AM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Salaam,

Salaam,
Via diplomasi kira-kira seefektif apa ya nantinya, saya kira ide bagus namun harus dihitung betul, kalau sekiranya kurang berefek,
Ada kalaunya sesuatu akan segera menguap kalau kita cuekin,,
Namun dg catatan, kita tetap berbenah, mengcounter sesuatu kadang tidak harus head to head, bisa secara tidak langsung

Salaam,
Ari




Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Date: Wed, 16 Apr 2014 13:11:36 +0000
Subject: Re: [ict-dephut] Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford

arief.d...@gmail.com

unread,
Apr 16, 2014, 9:46:57 AM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Ayo berbenah....!!!

Salam rimbawan,

Arief Darmawan



Powered by Telkomsel BlackBerry®

boe...@gmail.com

unread,
Apr 16, 2014, 9:50:10 AM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Mengcounter yg salah dan menerima yg benar -untuk perbaikan- tetap perlu kita lakukan (Parthama, 2014). Diplomasi adalah salah satu cara untuk menjelaskan posisi pemerintah kita.
Saya gak denger lagi tentang F 11 atau kumpulan negara2 pemilik hutan tropis yg diinisiasi oleh Indonesia. Kelompok ini sbnrnya bisa dimanfaatkan untuk kampanye tentang hutan tropik di dunia termasuk di Indonesia.
Kita tahu tuduhan serupa juga sering dialamatkan ke Brazil krn deforetasi terjadi untuk perluasan peternakan sapi. Artinya ada kesamaan concern negara pemilik hutan tropis dlm memenuhi kebutuhan rakyatnya antara lain untuk pengembangan pertanian dlm arti luas.

Salam.

BMP
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

prayi...@yahoo.com

unread,
Apr 16, 2014, 9:53:08 AM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Salaam,

Dalam hal itu, Sepakat dg pak Boen dan pak PP


Salaam,
Ari
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Date: Wed, 16 Apr 2014 13:50:10 +0000

Virni Budi Arifanti

unread,
Apr 16, 2014, 4:38:13 PM4/16/14
to Virni Budi Arifanti, forum_bal...@yahoogroups.com, ict-d...@googlegroups.com
Assalamualaikum wr. wb. Bapak dan Ibu YSH,

Terimakasih banyak atas tanggapan dan saran dari para senior Kehutanan yang saya hormati dan teman-teman saya yang baik lainnya atas email saya ini. Sebenarnya saya hanya sebatas ingin menginformasikan kepada masyarakat kehutanan di Indonesia mengenai keberadaan film dokumenter ini.  Mengingat film ini adalah serial yang terdiri dari 9 episode yang sedang tayang di stasiun TV di AS saat ini, mungkin ada baiknya apabila kita semua sama-sama menyaksikan, menilai serta menindaklanjuti "take home messages" yang diberikan oleh film tsb. 

Saya setuju dengan pendapat dari Pak Putera, Pak Boen, Pak Gintings, Bu Laksmi,pak Arief, dan Pak Wayan, bahwa dibutuhkan upaya diplomatik dan pemberian counter information untuk meluruskan hal-hal yang dianggap tidak (seluruhnya) benar dalam film tsb.  Seperti untuk kasus di TN Tesso Nilo, saya yakin bahwa Kemenhut tidak mungkin diam saja dalam menghadapi masalah disana. Namun upaya-upaya yg telah dilakukan oleh Kemenhut dengan segala keterbatasannya mungkin tidak cukup, sehingga masalah di Tesso Nilo masih terus berlanjut sampai saat ini.  Selain itu Kemenhut bukanlah satu-satunya institusi yang harus disalahkan, karena masalah deforestasi ini merupakan masalah lintas sektoral.

Apabila Kemenhut memiliki data yang akurat untuk meluruskan hal-hal yang diberitakan secara salah dlm film tsb, maka akan baik sekali jika pihak Kemenhut dapat merespons film ini.  Namun jika kita tidak memiliki data yang akurat (karena memang itulah kelemahan kita), maka mari kita benahi semua kekurangan, kesalahan dan kelemahan kita untuk Indonesia yang lebih maju. 

Bagi Bapak/Ibu yang tertarik untuk melihat episode ke-2 dari film Years of Living Dangerously, maka film ini dapat dilihat secara live pada hari Minggu tgl 20 April 2014 pk 10 pm ET/PT waktu AS atau hari Senin tanggal 21 April pk 10.00 WIB.  Episode ke-2 akan menayangkan tentang deforestasi di Indonesia, sebagai lanjutan episode pertama yang saya telah saksikan kemarin.  Rekamannya dapat dilihat di http://yearsoflivingdangerously.com/.

Saya tidak tahu bagaimana pendapat rekan2 saya di kampus tentang film ini, namun saya yakin masyarakat AS yang belum pernah bekerja bersama kami di hutan Indonesia, akan menelan semua informasi yg ditayangkan dlm film ini.  Untuk mengetahui pendapat masyarakat AS tentang film ini dapat dilihat di https://www.facebook.com/YearsOfLiving.

Terimakasih banyak atas perhatian Bapak/Ibu sekalian, mohon maaf apabila ada kata-kata saya yang kurang berkenan.  Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari film ini untuk perbaikan kehutanan di Indonesia, amiin...

Wassalam,
Virni





 
Virni Budi Arifanti

Researcher
Center for Climate Change Research and Forest Policy
Forest Research and Development Agency (FORDA)
Ministry of Forestry
Indonesia 
Tel.     : +62(0)251 8633944
Mobile : +62(0)81310178826
Fax.    : +62(0)251 8634924
e-mail : vbu...@yahoo.com
On Wednesday, 16 April 2014, 8:57, Rusli Harahap <ere...@yahoo.co.id> wrote:
 
Maaf kalau menurut saya silahkan orang lain komentar yang penting kita menanam di HL dan HK yang kosong....Kita tidak menuntut bagaimana Amerika dahulu juga mengubah hutan alamnya menjadi areal pertanian...demikian pula orang eropah menunjukkan budaya yang sama...mengapa kita mau membangun SDA kita orang lain sok usil...dan kita tetap tidak menanam...ini kesalahan besar kita ?? Bagaimana mungkin hutan akan lestari tanpa menanam...??
Anjing menggonggong kapilah berlalu yang penting tingkatkan upaya menanam pohon...

Pada Rabu, 16 April 2014 17:10, "akusg...@yahoo.co.id" <akusg...@yahoo.co.id> menulis:
 
Virni, selamat belajar. Info yg diberikan akan membuat semua yang terlibat perlu memberikan informasi yg sebenarnya. Kalo ya segera perbaiki kalo tdk berikan data yg konkrit. Membuat jawaban tanpa data yang akurat akan mendatangkan kemunduran. Bila benar dan segera perbaiki akan maju. Sukses selalu.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Virni Budi Arifanti <vbu...@yahoo.com>
Subject: [forum_balitbanghut] Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford

p.gu...@gmail.com

unread,
Apr 16, 2014, 6:39:56 PM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Dear Virni, saya sarankan juga utk melihat The Greatest Good - 100 tahun USFS. Menceriterakan hancurnya hutan di USA seratus tahun yll - sebagai pembanding saja. Ada cerita deforestasi, korupsi, kekuasaan, dan konservasi. Menarik krn dokumenter ini dikemas sebagai refleksi diri dari USFS.

Petrus Gunarso

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Virni Budi Arifanti <vbu...@yahoo.com>
Date: Thu, 17 Apr 2014 04:38:13 +0800 (SGT)
Subject: [ict-dephut] Re: Bls: [forum_balitbanghut] Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford

vbudia

unread,
Apr 16, 2014, 7:35:27 PM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Dear pak Petrus,

Terimakasih atas infonya pak.. nanti akan saya cari film The Greatest Good..semoga ada di youtube ya pak :-).. Have a nice day :-)

Salam,
Virni


Sent from Samsung Mobile

Putera Parthama

unread,
Apr 16, 2014, 8:09:49 PM4/16/14
to forum_bal...@yahoogroups.com, forum_bal...@yahoogroups.com, ict-d...@googlegroups.com
Masih terkait dengan email Virni soal film The Year of Living Dangerously, sambil menikmati macet, saya ingin share sedikit pendapat berikut.

1. Deforestasi adalah sebuah keniscayaan. Deforestasi semestinya tidak haram, dan Indonesia mau tidak mau HARUS melakukan deforestasi. Tetapi...... Deforestasi yang terencana, planned deforestation.  Mengapa? Luas seluruh daratan Indonesia 187 juta hektar. Dengan penduduk hampir 250 juta, berarti luas lahan per kapita sekitar 0,75 hektar. Karena kita belum negara industri, masih natural-resource-based economy, luas lahan per kapita itu sangat kecil.  Kalau luas kawasan hutan yang duapetiga dari luas daratan itu tidak boleh berkurang, mau disuruh"kost" dimana dan makan apa sebagian dari penduduk Indonesia? Tetapi, manakala planned deforestation dilakukan, juga harus konsisten dengan pencapaian SFM dan upaya-upaya konservasi. Meskipun tidak/belum berhasil sesuai harapan, kita tidak boleh menafikkan berbagai upaya yang dilakukan Indonesia untuk tujuan itu.

2. Hal di atas yang saya selalu sampaikan manakala berdiskusi dengan orang asing  soal perusakan hutan di Indonesia. Jadi, saya tidak membantah bahwa deforestasi terjadi, kita akui, tetapi dengan argumen bahwa deforestasi memang mau tidak mau harus terjadi.  Terakhir saya sampaikan ketika bulan lalu menerima kunjungan petinggi 3M (3M adalah perusahan besar yang kita kenal sebagai produsen post-it dan diskettes, tetapi ternyata memproduksi lebih dari 6000 jenis produk, hampir setiap hari kita bersentuhan dengan salah satu produk 3M; besarnya perusahaan ini juga tercermin dari kedatangan petinggi tadi ke Indonesia menggunakan jet perusahaan).  Dalam pertemuan tersebut, petinggi 3M tadi mengatakan mendapat pencerahan, mendapat info yang lain dari yang biasa didapat dari media dan berjanji akan menyebar-luaskan info termaksud. Saya minta, karena kamu dari perusahaan berpengaruh, please help us to educate your people, perhaps starting from the capitol, about the truth concerning Indonesia forestry. 

3. Point saya menceritrakan hal di atas ialah, ketika berhadapan dengan pihak asing, menurut saya, kita harus lepaskan perbedaan di antara kita di dalam. Hanya satu sikap yang perlu dan harus dilakukan, yaitu pembelaan. Dan, sekecil apapun pembelaan itu, saya yakin bisa menjadi seed yang akan expand. Jadi, sekecil apapun, entah dalam obrolan di cafe, di pesawat, dll sebaiknya kita lakukan pembelaan tersebut.  Saya jadi ingat ketika tahun 90an bersekolah di Michigan State, ketika orde baru masih penguasa. Kita tahu saat itu, kehutanan Indonesia sangat didrive oleh kepentingan sebagian pengusaha yang dekat dengan penguasa, salah satunya BH. Suatu hari di Union Building di kampus kami, ada perhelatan. Salah satu stand, mungkin punya NGO, saya lupa namanya, khusus menyajikan poster-poster dan leaflet yang memojokkan Kehutanan Indonesia. Meski sebagian dari yang dikemukakan tidak salah (tetapi sebagian lagi opini dan karangan), saya waktu itu mencoba memberikan penjelasan, melakukan pembelaan. Tentu sangat minor, tetapi setidaknya satu ataundua orang sudah kita luruskan persepsinya. Dan itu saya lakukan meskipun saya juga benci dengan kelakuan sebagian perusahaan kehutanan Indonesia waktu itu.

4. Jadi terkait dengan penayangan The Years of Living Dangerously, selain langkah counter yang perlu dilakukan Kemenhut/Indonesia, mungkin melalui saluran diplomatik, tidak kalah pentingnya penjelasan people-to-people yang bisa dilakukan kita-kita semua manakala ada kesempatan. Jadi Virni yang sekarang di Oregon, Belinda yang masih di Maryland, bisa menjadi duta-duta untuk meng-educate oang luar mengenai kehutanan Indonesia.

5. Benar yang dikatakan oleh Virni, Indonesia tidak hanya diam dengan perambahan yang terjadi di Tesso Nilo. Tetapi persoalannya tidak sesimpel yang ada dibathuknya Harisson Ford atau David Cameroon. Kalau mereka di posisi kita, apa yang mereka lakukan terhadap penduduk sendiri yang  sudah membangun desa di dalam TN? Memberantas, seperti yang dulu mereka lakukan terhadap Mohican dan Indian-Indian yang lain? Apalagi kita sekarang negara demokratis yang tunduk pada kesepakatan global tentang human right. Bukankah kita akan dipojokkan juga manakala kita melakukan sesuatu yang dipandang melanggar human right?

Memang segala sesuatu itu tergantung dari sudut mana kita memandang. Kita perlu membuat pihak lain mencoba memandang dari sudut pandang kita, tidak hanya dari sudut pandang dia sendiri. Apalagi ketika, apa yang ingin dilihat sebenarnya sudah predetermined. Jadi apapun fakta yang ada, kesimpulan sudah dibuat di awal.

Salam, maaf bagi ang tidak setuju.

PP

Sent from my iPad

Laksmi Banowati

unread,
Apr 16, 2014, 9:03:14 PM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com

Dear kawans,

Saya gak paham tekhnologi, mohon diluruskan kalau salah, saat ini dengan tekhnologi yang ada, sebetulnya perubahan tutupan lahan hutan dan lahan dari waktu ke waktu bisa dimonitor. Dukungan data di lapangan seperti NFI dan survey biodiversity diperlukan untuk klarifikasi sebetulnya apa yang terjadi?

Banyak hal yang sudah dilakukan baik Kemenhut, swasta, NGO dll yang baik, tapi tidak dipungkiri banyak hal yang lemah dan menyimpang juga.

Saya sedang berpikir, bagaimana kita bisa konkrit menyiapkan strategi komunikasi yang baik, bukan hanya u hal ini saja tapi untuk khalayak lainnya supaya bisa melihat Indonesia secara utuh? ada usulan?

Salam,
Laksmi





On Thursday, April 17, 2014 5:40 AM, "p.gu...@gmail.com" <p.gu...@gmail.com> wrote:
Dear Virni, saya sarankan juga utk melihat The Greatest Good - 100 tahun USFS. Menceriterakan hancurnya hutan di USA seratus tahun yll - sebagai pembanding saja. Ada cerita deforestasi, korupsi, kekuasaan, dan konservasi. Menarik krn dokumenter ini dikemas sebagai refleksi diri dari USFS.

Petrus Gunarso
Powered by Telkomsel BlackBerry®
.

__,_._,___


ajust...@gmail.com

unread,
Apr 16, 2014, 9:23:54 PM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com, forum_bal...@yahoogroups.com
Dear all,
Maaf baru sempat mengikuti diskusi topik yg menarik ini. Saya setuju dengan apa yg disampaikan Pak Putera, krn selain kemenhut harus merespon lewat berbagai jalur tentu perlu juga komunikasi 'people to people' untuk memberikan info yg seimbang ttg kehutanan di Indonesia.
Saya teringat pesan Profesor dari Swedia waktu saya training disana sekitar 15 tahunan yg lalu, yg menyatakan bahwa di era keterbukaan informasi dan IT ini maka yg paling memungkinkan untuk membentuk dan merubah persepsi orang adalah dengan "flooding information". Intinya kita tdk usah membantah scr frontal tetapi dg membanjiri dg informasi positif ttg hutan di Indonesia.
Semoga rimbawan Indonesia tetap semangat berkarya untuk negeri.

Salam,
AJ
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: Putera Parthama <p_par...@yahoo.com>
Date: Thu, 17 Apr 2014 07:09:49 +0700
Subject: [ict-dephut] Sekecil apapun, it will contribute...

--

Belinda arunarwati

unread,
Apr 16, 2014, 9:47:17 PM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com, forum_bal...@yahoogroups.com
Dear pak Putera. mbak Virni, dan bapak ibu yth lainnya,
karena pak Putera menyebut saya, mohon perkenan untuk ikut berpendapat disini.

Sejujurnya sejak pertama melihat episode 1 film itu keluar (tgl 7 April), alias sebelum resmi diputar di show-time, sudah bisa saya perkirakan bahwa ini akan menjadi topik bahasan yang seru di pihak kita. Kebetulan kami tim di Maryland, memang mendapat link film itu cukup awal karena data yang salah satunya muncul di bagian awal episode itu, memang datang dari group kami, dan data itu memang dibuka untuk publik. 
Mohon maaf bapak ibu, perlu saya sampaikan, sejujurnya, disinilah sering timbul dilema buat saya (terlebih karena saya juga pembuat data di Planology), karena data (Indonesia) yang saya lihat, saya proses dan kerjakan disini memang benar mengatakan apa adanya. Tidak ada manipulasi, data adalah data, dan hanya menyampaikan suatu fakta. Bahkan sejujurnya, saya sendiri "miris" melihatnya.

Namun demikian, data memang seterusnya diolah menjadi informasi, yang kadang gaung-nya akan bergantung pada siapa yang menyampaikan dan mendistribusikannya. Disini saya melihat bahwa film itu dibuat karena (salah satu alasannya) adalah para "scientist" dianggap tidak bisa menyampaikan informasi kepada publik, sehingga dipakailah para bintang film untuk menjadi daya tarik. Kebetulan lagi, Mr. Indiana Jones HF adaah duta konservasi di conservation international, maka jadilah dia ke Tesso Nilo, naik gajah, ngomong sana ngomong sini dsb.

dalam hal ini kalau boleh saya berpendapat (mohon maaf sekali lagi kalau banyak yang tidak sependapat), sebaiknya kita sedikit berkepala dingin, walau hati boleh panas, pasalnya, tindakan emosional dan terburu-buru, juga akan berdampak kurang elegan. Selain itu ada beberapa point yang perlu kita amati sebelum memutuskan untuk protes, yaitu:

1. HF datang ke Indonesia juga dengan ijin, bahkan dia bertemu president, foto mereka ada dimana-mana di internet.
2. Waktu HF ke lapangan (ada di film itu), dia juga ditemani beberapa orang Indonesia, saya kenali mereka adalah mitra kerja Kemenhut juga, yang mestinya menjadi jubir yang menyampaikan kondisi diluar disana. Adakah dari internal kita juga (atau telah) berkomunikasi dengan teman-teman sebangsa yang ada di film itu? Barangkali ada bagusnya mereka di dengar dulu apa maksud, tujuan dan kemana arahnya, juga apa tanggungjawabnya.
3, Adakah dari internal kita, pada waktu HF di Indonesia, memberikan cukup informasi yang komprehensif dengan apa yang terjadi di lapangan? Bahwa Tesso Nilo adalah TN baru, dimana memang sejak awal sudah ada penduduk disana? dsb dsb. Banyak fakta yang seharusnya disampaikan ke HF dan tim-nya ketika mereka masih berada di Indonesia, dan apakah ini semua sudah tersampaikan? Bila sudah, dan HF and the gang membandel, kita bisa memprotesnya, tentu saja secara elegan.
4. Kalau kita mau protes, kita harus sampaikan keberatan kita secara elegan dan diplomatis, disertai data dan fakta, yang credible di mata dunia, apabila itu tidak, maka itu bisa dianggap hanya pembelaan diri, dan menjadi bumerang buat kita.
5. Sebagai sesama negara tropis dengan hutan yang luar biasa, posisi Brazil lebih kuat, karena mereka memang punya "sesuatu" yang dianggap credible di mata dunia. Jadi mereka bisa melawan dengan fakta yang mereka punya. Dan satu lagi, Brazil cukup solid menghadapi pihak luar.

Bapak dan ibu, bukan saya tidak sepaham dengan protes, namun kita harus melihat dulu, (kata orang jawa) "nggon papan" alias "timing", dan kesiapan kita. Lebih jauh, perlu sedikit saya sampaikan, sejauh ini saya amati bahwa isu di film itu "tidak terlalu luar biasa" disini (paling tidak sampai hari ini, tidak ada head line khusus). Kebetulan saya ada di DC di mana berbagai institusi internasional banyak berada, Pada kesempatan bertemu dengan orang-orang ini (kebetulan tadi siang), mereka tidak terlalu menanggapi, buat mereka itu beritanya bukan hal baru, dan bagi mereka ini adalah suatu film dokumentasi, garapan insan film, dimana memang memiliki kebebasan untuk berkreasi. Jadi barangkali samalah dengan interpretasi Hanung Bramantyo waktu bikin film Sukarno, ada pro dan ada kontra.

Kalau barangkali sudah ada pengaruh di "pasar", maka memang sebaiknya kita mengambil sikap, namun tentunya harus dengan memperhatikan butir2 yang saya sampaikan sebelumnya.

Untuk soal "gethok tulor" atau kata pak Agus "flooding information", disini saya sependapat dengan pak Putera, kalau ada kesempatan bercerita soal Indonesia, maka kesempatan itu harus dipergunakan. Barangkali ini akan lebih efektif.
 
sementara itu dulu, mohon maaf apabila ada kata atau pendapat yang tidak/kurang berkenan.

Salam
Belinda A Margono



--

andi meriansyah

unread,
Apr 16, 2014, 9:50:51 PM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
kenapa Amerika tidak bikin FILM Dokumenter tentang Freeport  perusahaan tambang terkemuka di dunia,yang melakukan eksplorasi, menambang, dan memproses bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Indonesia, yang mana hanya mengeruk sumber daya alam Papua. Namun imbasnya tidak dapat dinikmati oleh hampir seluruh warga Papua.
Dto
Andi Meriansyah, S.Kom

BPPHP Wilayah V Palembang

Ruandha Agung Sugardiman

unread,
Apr 16, 2014, 11:25:30 PM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Dear kolega,

Kita tahu dan paham betul Amrik jagonya membuat dan kreasi film dengan Hollywood sebagai icon-nya.

Kalau kita lihat film produk Hollywood dan di film tersebut ada setting lokasi di Indonesia misalnya Eat Pray Love (2010) Julia Roberts, yang kebetulan isinya 'positif' bagi kita, maka tentu kita senang atau bangga menceritakan film tersebut, bergaung sebentar di obrolan, media, habis itu hilang. Selesai!

Nah, sekarang ada film "Years of Living Dangerously" (2013) Harrison Ford, producer-nya James Cameron, Arnold Schwarzenegger yang kebetulan isinya 'negatif' bagi kita, maka reaksi kita tidak senang, emosi bahkan mungkin marah-marah menceritakan film tersebut.

Equal dengan peristiwa 'positif', mestinya ini juga akan sebentar akan habis dan hilang ditelan iklan PilPres, World Cup 2014.

Oleh karena itu sebaiknya kita dengan kepala dingin menanggapi film dokumenter tersebut, bahkan mungkin kita berterima kasih 'dibuatkan' dokumentasi peristiwa yang terjadi di Indonesia (Tesso Nilo) karena suatu saat nanti kita bisa membuat film seperti "The Greatest Good - 100 tahun USFS".

Kita tidak perlu khawatir, orang kita tidak tinggal diam kok, kita sedang melakukan upaya-upaya nyata menuju perbaikan, hanya belum selesai dan bahkan tantangannya semakin besar.

Mari kita lanjutkan pekerjaan kita masing-masing dengan lebih baik.
Biarkan juga Hollywood terus berkreasi,...


Ruandha Agung Sugardiman
...greening canopy for bluer sky...

ahmad basyiruddin usman

unread,
Apr 16, 2014, 11:44:17 PM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Sekedar informasi ada dua film dengan judul serupa:

1. The Year(s) of Living Dangerously (2014) dibintangi a.l. Harrison Ford dan Matt Damon. Kalau menurut Wikipedia, film semi dokumenter ini akan terdiri atas 9 episode dan sepertinya tidak hanya mengupas Indonesia.

2. The Year of Living Dangerously (1982) dibintangi a.l. Mel Gibson dan Sigourney Weaver. Menceritakan tentang jurnalis muda Australia yang meliput pergolakan di Indonesia sekitar Gestapu (1965). Film ini tidak pernah diputar di Indonesia karena dilarang Pemerintah. Shooting film dilakukan di Mindanao yang memiliki beberapa kemiripan bangunan dengan Jakarta.

Mari kita tanggapi film-film ini dengan kepala dingin melalui diplomasi dan memperbanyak publikasi ilmiah (flooding of information, Justianto, pers.comm., 2014).

Salam,
Basyiruddin


Date: Thu, 17 Apr 2014 08:50:51 +0700
Subject: Re: [ict-dephut] Re: Bls: [forum_balitbanghut] Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford
From: andib...@gmail.com
To: ict-d...@googlegroups.com

arief.d...@gmail.com

unread,
Apr 16, 2014, 11:46:03 PM4/16/14
to ict-d...@googlegroups.com
Adem sekali membaca posting Pak Ruandha, semangatnya mirip kayak JKW4P :)

Selamat (semangat) pagi.....

Salam,

Arief






Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Ruandha Agung Sugardiman <ra.sug...@gmail.com>
Date: Thu, 17 Apr 2014 10:25:30 +0700
Subject: Re: [ict-dephut] Re: Bls: [forum_balitbanghut] Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford

yoedh...@yahoo.com

unread,
Apr 17, 2014, 12:50:12 AM4/17/14
to ict-d...@googlegroups.com
JKW4P itu apa ya?
Politik?
Dibahas disini jg?
Jgn lari dari pembahasan donk. Udh masukin ke soal UN, mau masukin jg ke sini?
Keep on the track, lg seru2 baca bahasan berkelas, masuk pula sisipan yg tidak enak.
dikirim dari BlackBerry® abal-abal

Date: Thu, 17 Apr 2014 03:46:03 +0000

arief.d...@gmail.com

unread,
Apr 17, 2014, 12:59:19 AM4/17/14
to ict-d...@googlegroups.com
Lho, bukannya dari awal kita sudah bahas tentang politik Mas? Politik HF, politik luar negeri, tentang panggil memanggil dubes, nota keberatan. Apa bedanya kalau juga bicara politik dalam negeri kan, hehehe....

Salam semangat bekerja,


Arief

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Thu, 17 Apr 2014 04:50:12 +0000

Basah Hernowo

unread,
Apr 17, 2014, 10:25:26 AM4/17/14
to ict-d...@googlegroups.com, forum_bal...@yahoogroups.com
Assalamu'alaikum wrwb dan salam rimbawan

Saya belum pernah melihat langsung film tersebut. Seandainya film itu menceritakan keburukan pengelolaan hutan kita maka sebaiknya kita anggap sebagai jamu agar kita sembuh dari penyakit kronis kita. Saya yakin banyak dari kita yang merasa bahwa saat ini pengelolaan hutan kita menuju titik nadir dan kita berkewajiban untuk membelokkan arah tsb agar hutan kita tidak makin rusak.

Dalam perdagangan international sudah biasa adanya pembentukan opini buruk untuk menurunkan tingkat kompetisi dari kompetitor. Apakah kita akan hadapi langsung hal-hal seperti ini setiap hari dan menghabiskan energi kita? Biarlah para diplomat kita yang menangani hal-hal spt itu dan kita sebagai rimbawan lebih baik berupaya memperbaiki the way we manage our forest. Kritikan ataupun pembentukan opini negatif harus menyatukan kita semua agar sinergi makin kuat dalam memperbaiki pengelolaan hutan kita. Marilah kita kembali ke petak hutan kita yang membutuhkan sentuhan langsung kita semua. Tapak hutan kita tidak akan membaik hanya dengan berbagai studi dan seminar atau workshop, tapak membutuhkan kerja langsung kita.

Sebagai rimbawan yang kebetulan menjadi birokrat jangan sampai melupakan ilmu kita saat masih menimba ilmu dulu hanya karena kedudukan atau pangkat. Ilmu kita mengajarkan bagaimana kita mengelola hutan kita agar bisa memberikan value yang berkelanjutan dan tidak mengajarkan kepada kita untuk hanya sekedar memberikan ijin kepada orang lain mengelola seenak perutnya hutan kita yang merupakan aset rakyat Indonesia. Inilah saatnya kita kembali kepada khittah kita sebagai rimbawan kembali ke hutan kita, kembali ke petak hutan kita, kembali mencium harumnya kayu-daun-serasah, kembali mendengar celoteh macaca, lengkingan timorensis, 

Jangan sampai kita seperti pepatah mengatakan "buruk muka cermin dibelah", biarlah orang lain menilai muka kita buruk asal hati kita tidak buruk.

Negara kita tercinta membutuhkan kita semua untuk bersatu memperbaiki hutan kita. 

I am only responsible to God, people, and history.

Mohon maaf bila tidak berkenan

BHR


--

boe...@gmail.com

unread,
Apr 20, 2014, 10:24:27 PM4/20/14
to ict-d...@googlegroups.com
Dear temans,

Saya petik sedikit dari diskusi lalu:
.....maka tentu kita senang atau bangga menceritakan film tersebut, bergaung sebentar di obrolan, media, habis itu hilang. Selesai!

Pertanyaannya benarkah selesai? Bagi sebagian org mungkin selesai, tapi bgmn dampak politik ekonominya? Ini salah satu contoh email yg saya terima:

Dear Boen,

Have you seen the

Years of Living Dangerously documentary series on Showtime? The first two episodes featured Harrison Ford in Indonesia, where he explored how irresponsible palm oil production continues to drive massive deforestation while also wreaking havoc with our climate. As tropical forests are cleared to make way for palm plantations, carbon is released into the atmosphere, driving global warming and shrinking habitat for endangered species. Tropical deforestation currently accounts for about 10 percent of the world's heat-trapping emissions.

Thousands of food products on the shelves of grocery stores contain palm oil. Consider PepsiCo, the parent company of many of our favorite brands—like Quaker—and a major buyer of palm oil for products like granola bars, cookies, and crackers.

PepsiCo continues to lag behind industry peers who have already promised to ensure that they won't buy from palm oil suppliers linked to tropical deforestation or new plantation development on carbon-rich peat soils. This is unacceptable. PepsiCo can, and should, do more to protect tropical forests, our climate, and endangered species.

Together, we have already convinced three companies—Colgate-Palmolive, General Mills, and Procter & Gamble—to go deforestation-free. We can do the same with PepsiCo.

Ini contoh sedikit saja, kenapa kita tidak bisa mendiamkan hal tersebut. Memperbaiki pengelolaah SDA kita mutlak perlu. Tapi upaya diplomasi utk menangkis dan meluruskan hal yg tidak benar juga sangat perlu.

Selamat Hari Kartini.

BMP



Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: ahmad basyiruddin usman <bas...@hotmail.com>
Date: Thu, 17 Apr 2014 03:44:17 +0000
Subject: RE: [ict-dephut] Re: Bls: [forum_balitbanghut] Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford

Su Hartono

unread,
May 5, 2014, 3:43:47 AM5/5/14
to Diskusi ICT Departemen Kehutanan

Kami telah menyatukan diskusi Indonesia dalam film Years of Living Dangerously-Harrison Ford dan diskusi Sekecil apapun, it will contribute... dalam satu file terlampir.  Dari sisi ICT, diskusi di atas mengungkapkan adanya phenomena big data ("flooding information") dan saya mengharapkan kita belajar algorithm.

Big Data telah diungkapkan oleh:

Virni Budi Arifanti <vbu...@yahoo.com> Thu, Apr 17, 2014 at 3:38 AM
Ahmad basyiruddin usman <bas...@hotmail.com>Thu, Apr 17, 2014 at 10:44 AM
Ruandha Agung Sugardiman <ra.sug...@gmail.com> Thu, Apr 17, 2014 at 10:25 AM
Putera Parthama <p_par...@yahoo.com> Thu, Apr 17, 2014 at 7:09 AM
ajust...@gmail.com <ajust...@gmail.com> Thu, Apr 17, 2014 at 8:23 AM
Belinda arunarwati <aruna...@gmail.com> Thu, Apr 17, 2014 at 8:47 AM
dll

Laksmi Banowati <banowat...@yahoo.com> Thu, Apr 17, 2014 at 8:03 AM

Bagaimana kita bisa konkrit menyiapkan strategi komunikasi yang baik, bukan hanya u hal ini saja tapi untuk khalayak lainnya supaya bisa melihat Indonesia secara utuh?
Jawaban dari sisi ICT, big data analytics.

Big data is high-volume, high-velocity and high-variety information assets that demand cost-effective, innovative forms of information processing for enhanced insight and decision making. http://www.gartner.com/it-glossary/big-data/

Information processing secara otomatis memerlukan pengetahuan antara lain:
1. Algorithm  http://en.wikipedia.org/wiki/Algorithm
2. Automated reasoning  http://en.wikipedia.org/wiki/Automated_reasoning

Saya mengharapkan teman2 yang sedang tugas belajar mempelajari algorithm.
Beberapa teman2 yang telah menerapkan algorithm sederhana:
Dian Purnomo BUK, teman2 di planologi: Eko Pramu Daryono, Ahmad Basyiruddin, Agung W Munadar, Dapot dll
-- selamat bekerja --
Suhartono
Pemerhati Inpres No.06/2013
ContributeLivingDengerously.pdf
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages