Fwd: Fw: Meja Kayu

16 views
Skip to first unread message

Destrian Setiawan

unread,
Jun 25, 2008, 6:23:10 AM6/25/08
to


---------- Forwarded message ----------
From: Nana Nurhayati <nananu...@yahoo.co.id>
Date: 2008/6/25
Subject: Fwd: Fw: Meja Kayu
To: Retno Utami <ret...@yahoo.com>, Maria Wilujeng Ningtiyas <marian...@yahoo.com>, Reni Widiastuti <reniwidi...@yahoo.com>, Erik Heryadi <erikh...@yahoo.com>, Kurnialita Mentari <bung...@yahoo.com>, catur rukmiyanti <catur_ru...@yahoo.com>, sandra catur listiana <scaturl...@yahoo.com>, SITI NURWANDINI <siti_nu...@yahoo.com>, "dr.Angel" <luvly...@yahoo.co.id>, "dr.Brian Gandhi" <matge...@gmail.com>, "dr.Ridwan Gustiana" <junk...@yahoo.com>, "dr.Parul Imra" <dokterju...@yahoo.co.id>, "dr.Sandra Maria" <delpier...@yahoo.com>, Atiqoh Dewi <atiqo...@yahoo.com>, Destrian Setiawan <bau...@gmail.com>, Dhina Mustika <dhina_...@yahoo.com>, Christiana Putri <chris_...@yahoo.com>, Cut Kumala <kuma...@yahoo.com>, Upik Aziz <upik...@gmail.com>, ratnisari ginting <ratnisar...@yahoo.com>, rini roswarini <roosw...@yahoo.com>, Vovia Witni <vovia...@yahoo.com>, "vitanry ambon.M" <mvit...@yahoo.com>, Veronica Sitorus <veronica...@yahoo.com>, ojie fauzi <oji...@gmail.com>, Onie Rihidara <y.rih...@gmail.com>, Gunawan <osin...@yahoo.com>, Mochtar Helmi <mochta...@gmail.com>, wiwied trisnadi <wied_t...@yahoo.com>, Upi Hasan <upih...@yahoo.com>, Siti Hadijah Pulungan <sitipu...@yahoo.com>, Edy Subowo <esb...@yahoo.com>, Hari Djunaedi <hard...@hotmail.com>




Note: forwarded message attached.

Keine Hälfte der Welt kann ohne die andere Hälfte der Welt überleben.



---------- Forwarded message ----------
From: "Acct-PT" <acc...@sogo.co.id>
To: <nananu...@yahoo.co.id>
Date: Wed, 25 Jun 2008 12:38:41 +0700
Subject: Fw: Meja Kayu
 
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, June 25, 2008 9:52 AM
Subject: Fw: Meja Kayu

 
----- Original Message -----
Sent: Monday, June 23, 2008 3:29 PM
Subject: Fw: Meja Kayu

 

Dear Sahabat ,
 
Semoga bermanfaat ya ...., untuk kita semuanya, baik yang sedang merintis untuk punya anak maupun yang sudah punya anak. semoga kita dapat belajar dari cerita ini 

Meja Kayu


Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.

Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar.

Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini."

Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut, ditanyalah anak itu, "Kamu sedang membuat apa?" Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, air mata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah, atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.



Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages