DownfallThe Case Against Boeing merupakan film dokumenter yang menguak hasil investigasi peristiwa jatuhnya dua pesawat Boeing 737 MAX. Dalam film ini, produsen pesawat Boeing diduga lebih mementingkan keuntungan dibanding keselamatan penumpang.
Lion Air JT-610 jatuh di Laut Jawa pada Oktober 2018. Sementara itu, Ethiopian Airlines ET-302 jatuh Maret 2019, beberapa menit setelah lepas landas dari ibu kota Ethiopia, Addis Ababa. Kedua kecelakaan ini menewaskan 346 korban.
Hasil investigasi menunjukkan penyebab dua kecelakaan disebut terletak pada kegagalan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Namun, kerusakan itu diabaikan Boeing selaku produsen pesawat.
Melalui film ini, Kennedy ingin berbicara dengan orang-orang yang berada di garis depan tragedi pesawat tersebut. Mulai dari karyawan Boeing, inspektur FAA, pilot komersial, jurnalis, penyelidik kongres, dan anggota keluarga korban.
Film Downfall: The Case Against Boeing ini berdurasi 1 jam 29 menit. Kamu bisa menyaksikannya di Netflix. Buat kamu yang penasaran seperti apa film-nya, bisa banget simak reviewnya di bawah ini..
Downfall: The Case Against Boeing merupakan film dokumenter berdasarkan tragedi di dunia nyata pada tahun 2018-2019 di mana ratusan orang meninggal dunia akibat jatuhnya dua pesawat.Dua pesawat itu adalah Lion Air penerbangan 610 berasal dari Indonesia dan Ethiopian Airlines penerbangan 302 berasal dari Afrika Timur.
Disebutkan dalam film bahwa penyebab kecelakaan Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines ET 302 adalah kegagalan pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS).Sistem tersebut merupakan sensor otomatis yang membuat hidung pesawat menukik ke bawah.
Downfall menampilkan wawancara Garima Sethi istri kapten Lion Air, anggota keluarga penumpang korban, mantan karyawan Boeing, pilot berpengalaman, mantan reporter kedirgantaraan Wall Street Journal Andy Pasztor hingga politisi seperti Rep. Peter DeFazio, Ketua Komite Transportasi dan Infrastruktur.
Cerita kemudian bergulir tentang bagaimana Boeing mengalami krisis PR karena upayanya menjaga reputasi dan menutup-nutupi fakta terkait pesawat Boeing 737 Max.Berdasarkan hasil investigasi diketahui bahwa Boeing tidak memberikan informasi tentang sistem kontrol penerbangan (MCAS) kepada pilot.
Pada 18 februari lalu, Platform streaming digital Netflix merilis sebuah film dokumenter berjudul Downfall: The Case Againts Boeing, film tersebut masuk dalam salah satu top 10 di Netflix Indonesia, film ini menarik banyak pengguna Netflix karena menceritakan tentang penyelidikan dua kecelakaan pesawat yang terjadi pada tahun 2018 dan 2019 lalu yaitu Ethiophian Airlines ET-302 dan Lion Air JT-610. Pengguna netflix terutama dari Indonesia langsung tertuju pada kasus Lion Air JT-610 karena kru dan penumpang yang mayoritas berasal dari Indonesia sekaligus lokasi jatuh nya pesawat di perairan karawang dan peristiwa yang menewaskan 189 orang ini menambah tinta hitam dalam sejarah penerbangan di Indonesia.
Padahal Boeing sudah memiliki reputasi yang baik dalam bidang keselamatan penerbangan, film dibuka dengan kesaksian dari istri pilot Lion Air, ia menceritakan hari dimana suami nya berangkat bekerja seperti hari biasanya, namun beberapa saat setelah suami nya berangkat dan pesawat lepas landas ia mendapat telpon dan mengetahui pesawat yang dipiloti suami nya telah hilang kontak, singkat cerita pesawat ditemukan di laut Karawang dalam keadaan sudah menjadi puing-puing, lalu lima bulan kemudian kecelakaan lain terjadi di Ethiopia, yang menjadi sorotan adalah tipe pesawat tersebut sama dengan Lion Air.
Dilansir dari The Guardian, pihak Boeing sendiri sempat menyalahkan kejadian tersebut pada pilot pesawat. Padahal kesalahan berasal dari Boeing sendiri yaitu masalah pada MCAS sistem, dimana penambahan fitur tersebut tidak diberitahu kepada maskapai dan Boeing tidak mengadakan training. Alasan Boeing menutupi hal tersebut karena ingin bersaing dengan Airbus yaitu menciptakan pesawat hemat bahan bakar tanpa perlu training pilot. Sedangkan produk pesawat Airbus terbaru memerlukan training dan biaya training dinilai sangat mahal. Boeing tidak transparan karena ingin mengejar profit dan Ia berhasil mendapatkan profit sangat tinggi, namun kejayaannya tidak bertahan setelah tragedi jatuhnya 2 Boeing Max 787.
IAP2 Indonesia mendukung transparansi informasi untuk kepentingan publik, hal tersebut tercantum pada core value IAP2 bahwa komunikasi dan informasi menjadi kunci utama dalam pengambilan keputusan publik. Selain itu pada tingkat pertama Spektrum Partisipasi Publik IAP2 adalah Inform, artinya menyediakan informasi secara objektif kepada publik agar mereka paham terhadap masalah, alternatif, solusi, dan lainnya.
Yuk kamu bisa menjadi menjadi member dengan mendaftar pada link berikut. Mari kita belajar dari film Downfall bahwa pentingnya transparan informasi untuk pengambilan keputusan publik. Kami tunggu partisipasi kamu ya menjadi Member IAP2 Indonesia!
TEMPO.CO, Jakarta - Downfall: The Case Against Boeing merupakan film dokumenter terbaru dari Netflix yang mengungkap hasil investigasi di balik kecelakaan dua pesawat Boeing 737 MAX dalam waktu yang berdekatan. Dua pesawat itu adalah Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines ET 302.
Film yang disutradarai dan diproduksi oleh Rory Kennedy ini mengungkap kelalaian dan keserakahan perusahaan yang menyebabkan pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines jatuh dalam rentang waktu hanya lima bulan. Lion Air JT 610 mengalami kecelakaan pada 29 Oktober 2018 setelah beberapa menit lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta menuju Pangkal Pinang. Sebanyak 189 orang menjadi korban.
Sementara, Ethiopian Airlines ET 302 mengalami kecelakaan pada 10 Maret 2019 setelah beberapa menit lepas landas dari ibu kota Addis Ababa menuju Nairobi, Kenya. Total ada 157 penumpang dan awak pesawat yang meninggal akibat peristiwa tersebut.
Film dokumenter ini akan dipandu oleh pakar penerbangan, jurnalis berita, mantan karyawan Boeing, Kongres Amerika Serikat, dan keluarga korban. Film ini mengungkapkan budaya pemotongan biaya demi kepentingan bisnis bukan keselamatan penumpang dan rahasia yang disembunyikan oleh perusahaan Boeing.
Penyebab kecelakaan Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines ET 302 terungkap karena kegagalan pada MCAS atau Maneuvering Characteristics Augmentation System. Sistem tersebut merupakan sensor otomatis yang membuat hidung pesawat menukik ke bawah. Boeing diketahui tidak pernah memberikan informasi mengenai MCAS kepada pilot.
Downfall: The Case Against Boeing akan menampilkan bagaimana penyelidikan dilakukan untuk mengungkap dugaan adanya permainan kotor yang dilakukan perusahaan dan menjadi penyebab dalam dua kecelakaan pesawat tersebut. Downfall: The Case Against Boeing mulai tayang pada Jumat, 18 Februari 2022 di Netflix.
Ketika pesawat Lion Air JT 610 dikabarkan jatuh di perairan Karawang pada 29 Oktober 2018, seolah seluruh lapisan masyarakat Indonesia tahu siapa yang harus disalahkan. Tentu saja Lion Air selaku maskapai yang sudah kadung terkenal dengan penerbangan murah dan masalah delay.
Berbagai media, bahkan media-media di Amerika Serikat pun sempat menyalahkan Lion Air sebagai pihak yang enggak aware soal keamanan penumpang. Pilot yang mengemudikan Lion Air JT 610: Bhavye Suneja pun tak luput dari cemooh. Sang pilot dikabarkan enggak terlalu mumpuni dan enggak melakukan hal-hal prosedural.
Sayangnya, saat black box ditemukan, kecurigaan kepada Boeing selaku perusahaan pembuat pesawat tersebut mulai tumbuh. Dugaan kelalaian Boeing semakin kuat tatkala lima bulan kemudian, 10 Maret 2019, pesawat Ethiopian Airlines 302 jatuh di dekat kota Bishoftu. Baik JT 610 dan 302 sama-sama menggunakan pesawat Boeing 737 MAX 8.
Maka dari itu, ketika berita kecelakaan JT 610 disiarkan di seluruh dunia, media dan masyarakat sempat enggak berpikir bahwa pihak Boeing-lah yang patut disalahkan. Didukung Boeing sendiri, beberapa media Amerika Serikat justru menyalahkan pilot. Hal ini yang hingga kini mengecewakan Garima Sethi, istri dari pilot Bhavye Suneja.
Sejak awal, Sethi udah mencium sesuatu yang enggak beres. Ia memahami bagaimana suaminya bertindak saat bekerja. Ia memahami integritas dan jam terbang sang suami. Bahkan, sang suami sudah memegang lisensi dari Amerika Serikat. Kenapa media enggak berhenti menyalahkan ketidakbecusan pilot? Bagaimana seorang pemegang lisensi, dikatakan Boeing, tidak mengikuti aturan.
Kisah dalam dokumenter ini kemudian bergulir ke tragedi Ethiophia Airlines pada bulan Maret. Kesalahan Boeing yang tadinya agak samar kini mulai terlihat semakin jelas. Media dan khalayak mulai memahami bahwa ada sesuatu yang memang enggak beres. Muncul banyak headline yang mempertanyakan dan menduga bahwa, dua kecelakaan ini memang terjadi karena sistem dari Boeing itu sendiri.
Setelah seperempat perjalanan, film kemudian menyorot bagaimana sedihnya perasaan keluarga korban Ethiopian Airlines yang berasal dari berbagai macam negara. Mulai dari Michael Stumo yang kehilangan anaknya hingga Zipporah Kuria, yang kehilangan sang ayah.
Penumpang pesawat dari Addis Ababa ke Nairobi itu berasal dari berbagai negara. Identitasnya beragam. Pasalnya, banyak penumpang yang kabarnya pergi ke Nairobi untuk mengikuti sesi ke-empat dari Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Maka, bisa dimaklumi jika suara protes terhadap Boeing lebih nyaring terdengar dari kecelakaan ini, ketimbang dari tragedi Lion Air
Dua kali kejadian buruk dari satu jenis pesawat yang sama adalah warning. Namun, film ini memperlihatkan betapa ignorant-nya pihak Boeing. Andy Pasztor, seorang wartawan dari The Wallstreet Journal bahkan mengungkapkan bahwa ada banyak dokumen yang disembunyikan.
Menambahkan hal tersebut, Richard Reed, insinyur dari FAA menyebutkan bahwa Boeing menutupi masalah MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System), sebuah program penyeimbang baru di pesawat tipe MAX 737 kurang lebihnya karena satu alasan: supaya enggak perlu ada pelatihan pilot.
3a8082e126