Seperti diketahui bahwa wilayah otonom Krimea adalah pusat angkatan laut Rusia yang berpangkalan di Sevastovol. Hingga digulingkannya presiden Ukraina Viktor Yanukovych, Rusia masih merasa aman untuk menempatkan basis armada lautnya di wilayah yang menjorok ke Laut Tengah ini. Namun akibat digulingkannya Viktor Yanukovych oleh demonstran pro-Barat yang tentu didukung lawan-lawan politiknya yang lebih memilih beraliansi dengan Eropa Barat dibawah payung Uni Eropa ketimbang berkiblat ke Rusia menyebabkan Moskwa seolah tidak nyaman dengan masa depan mereka di Ukraina.
Babak baru perselisihan antara barat dan Rusia ini merupakan yang paling buruk sejak Perang Dingin berakhir 20 tahun yang lalu yang ditandai oleh runtuhnya Uni Soviet. Sejak digulingkannya Viktor Yanukovych, Rusia tanpa ragu mengirimkan 30.000 serdadunya ke semenanjung Krimea. Alasan Rusia terlalu klise terkait pengiriman angkatan militernya, yaitu ingin melindungi etnis Rusia di Krimea karena wilayah Krimea merupakan salah satu wilayah Ukraina yang dihuni oleh etnis Rusia terbanyak(BBC.co.uk 14/3).
Setelah mengalami krisis yang cukup lama, Rusia tidak menundukkan kepalanya dalam urusan merebut wilayah Krimea dari Ukraina. Perkembangan terbaru adalah Rusia memilih untuk ‘terintimidasi’ oleh pihak manapun. Hal yang ditakutkan adalah sentimen-sentimen yang terjadi seperti khawatir bahwa Rusia sedang membangkitkan kembali Uni Soviet. Kerasnya Rusia memang sudah kelewat batas. Berbagai cara dilakukan oleh dunia untuk melunakkan Rusia dalam aneksasi Krimea, namun tetap tak kunjung membuahkan hasil. Rusia tetap bersikeras menjadikan semenanjung Krimea sebagai bagian dari wilayahnya. Rencana resolusi dari Dewan Keamanan PBB pun digagalkan oleh Rusia melalui penggunaan hak vetonya. Berbagai sentimen politik ini akan melahirkan kegagalan diplomatik yang berujung dengan sebuah perang baru. Atau dapat dikatakan akan memunculkan Perang Dunia III.
Oleh Yazid Fahmi