Ketegangan ini sudah lama sebenarnya terjadi dan ini adalah permasalahan tarik ulur antara rusia ukraina dan uni eropa.masalah ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang antara dua negara ini yaitu Rusia (Uni Soviet ) dan Ukraina adalah pecahan dari negara tersebut.sejarah panjang ini bermula bubarnya Negara Uni Soviet pada tahun 1990-an.Negara Ukraina pernah menjadi dareah penyimpanan hulu ledak misil nuklir ketiga terbesar di dunia setelah Amerika dan Rusia.
Kemudian ketakutan pun muncul dari kalangan Amerika dan Uni Eropa akan terganggunya kepentingan mereka. Mereka akhirnya memusnahkan kekuatan misil nuklir tersebut ,kekhawatiran itu seketika lenyap pada saat mereka menandatangani kesepakatan Budapest yaiu yang berisi bahwa seluruh hulu ledak misil nuklir ini di hancurkan ,sebagai gantinya adanya jaminan kedaulatan atas Ukraina terhadap segala berbagai ancaman yang mungkin diterima Ukraina,sementara itu banyak pihak-pihak yang menyatakan bahwa Rusia secara terang-terangan menduduki Semenanjung Crimea walaupun hal itu tidak mendapat pengakuan secara formal dari Presiden Rusia Vladmir Putin karena perlu mendapat persetujuan dari parlemen untuk melalukan aksi militer terhadapan pihak lain.
Pihak Amerika dan Uni Eropa mulai berang terhadap situasi dan kondisi ini ,dimana pada tahun 1997 terciptanya kesepakatan antara Ukraina dan NATO bahwa Ukraina akan mendapat fasilitas konsultasi apabila kedaulatan negaranya terancam. Negara Ukraina sendiri memang bukan ikut sebagai anggota NATO.ditakutkan timbul kecemburuan dari pihak Rusia
Semenanjung Crimea adalah sebuah wilayah yang diduduki oleh mayoritas keturunan dan berbahasa Rusia. Luas wilayah Crimea itu sendiri sebesar 26.100 km2 (10.077 mil2) , Mayoritas etnik disana adalah Rusia yaitu sebesar 58,3% dan Ukraina sebesar 24,3% serta etnik Crimea Tartar 12%. etnik Crimea Tartar ini dahulu pernah diusir pada masa Uni Soviet dibawah kepemimpinan Joseph Stalin dikarenakan kerjasama yang mereka lakukan terhadap NAZI pada tahun 1944, etnik ini kembali lagi pada tahun 1980-an dan memperoleh pengakuan dari Negara.
Semenjak Uni Soviet bubar beberapa kelopmpok-kelompak masyarakat di Semenanjung Crimea menghadapi polemik yang sedikit pelik yaitu tarik-menarik dengan pilihan bergabung dengan Rusia, tetap bersama Ukraina atau berdiri sendiri.
Meski demikian tuntutan untuk bergabung dengan Rusia tidak pernah hilang yang di pertajam dengan konflik internal di sistem politik Negara Ukraina sendiri. Pada saat Presiden Ukraina Viktor Yanukovhych di pecat oleh parlemen karena istruksinya untuk mengatasi aksi demonstrasi penolakannya untuk bergabung dengan uni eropa secara represif ditambah lagi keputusan hasil parlemen Ukraina bahwa Bahasa Rusia menjadi bahasa kedua. Vladmir Putin presiden Rusia pun merasa terancam beliau tidak segan-segan melakaukan pendudukan atas tanah Crimea dengan meminta parlemen untuk menyetujui pengiriman pasukan secara resmi ke perbatasan Semenjanjung Crimea.
Menurut saya akan terjadi tiga isu panas yaitu Crimea bergabung dengan Rusia ,tetap bersatu dengan Ukraina atau berdiri sendiri. Hal yang paling memungkinkan untuk Rusia ialah Criema berdirisendiri, karena kenapa? Hal ini akan membantu tujuan Rusia untuk menjauhkan negara tersebut dari kekuasaan pengaruh barat dan lebih baik buat kondisi psikologis serta demografi etniknya.
Akibat yang buruknya dari peristiwa ini yaitu ketidakseragaman sikap antara Amerika dengan Uni Eropa yaitu berkaitan dengan sikap Amerika yang menyatakan embargo ekonomi untuk Rusia dimana hal itu menyulitkan Uni Eropa,seperti yang kita ketahui bahwa Rusia adalah penyuplai gas ke negara-negara Eropa. Faktanya 40% kebutuhan gas di Jerman di dapatkan/impor dari Negara Rusia .
Inilah pelajaran bagi kita semua bahwa perjalanan suatu negara tidak terlepas dari intervensi pihak asing yang selama ini telah menggerogoti NKRI kita ini. Maka jangan pernah kaget melihat kenyataan negara ini negara boneka dari adikuasa di dunia. Melihat realitas seperti ini kita pasti marah terhadap kelakuan pihak Rusia tapi di sisi lain rakyat Semenanjung Crimea sendiri memiliki hak untuk menolak perluasan kekuatan militer AS dan Uni Eropa. Maka dapat diambil kesimpulanya apapun yang di pilih rakyat Crimea tidak boleh mendapat intervensi dari pihak manapun.
Oleh Muhammad Rizky