Tahtauntuk Rakyat; celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, adalah buku biografi pribadi Sultan HB 9, yang dihimpun oleh Mohamad Roem, Mochtar Lubis, dkk. dan disunting oleh Atmakusumah. Sewaktu SMA saya pernah sedikit membaca buku terbitan Gramedia (1982) ini, kemudian pertengahan tahun 2010 saya kembali membaca buku ini, sebagai bagian dari proses untuk membuat lagu rakyat Jogja Istimewa tersebut.
Melalui buku ini, kita akan mengetahui cerita-cerita tentang pribadi Sultan HB 9 yang mungkin sebelumnya hanya kita anggap sebagai mitos. Tak pelak, buku ini semakin menambah kekagumanku kepada pribadi Sultan HB 9.
Buku ini tidak hanya mengisahkan seluruh perjalanan kehidupan Sultan Yogya IX, sejak dilahirkan di Keraton, berjuang pada zaman kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru sampai kemudian dimakamkan di perbukitan Imogiri, pantai Selatan Pulau Jawa.
Buku ini harus dibaca, untuk bisa memahami, mengapa warga masyarakat Yogyakarta yang selembut kain sutra berubah menjadi sekeras batu karang jika mereka merasa dipaksa dan ditekan. Bagaimanapun, kekuasaan tradisional dengan legitimasi dari falsafah leluhur sarat mistik merupakan sebuah mata air perjuangan yang tidak pernah akan kering dan sekaligus tidak mungkin disurutkan.
Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang Menginspirasi; Kolom oleh Nur Cholis Huda. Tulisan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur 2005-2022 tentang tokor-tokoh Indonesia yang menginspirasi terbit setiap Jumat. Tulisan sebelumnya berjudul: Teladan dari Jenderal Hoegeng, sang Polisi Jujur dan Bung Hatta, Mesin Jahit, dan Rahasia Negara.
Cintanya kepada masyarakat dan bangsanya bisa dilihat dari sikap dan langkahnya sejak masa penjajahan sampai setelah Indonesia merdeka. Ketika Dia dikukuhkan sebagai Sultan, Belanda mengira setelah itu akan mudah disetir dan dikuasai.
Dalam pidato pertama setelah pengukuhan yang dihadiri pembesar Belanda, Sultan menyampaikan dalam bahasa Belanda yang bagus. Tetapi sejak awal pidato sampai akhir tidak ada kata yang menyatakan akan membantu pemerintah Belanda. Sebaliknya dia berjanji akan memerhatikan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Pidato itu tidak memuaskan Belanda. Sultan pada kali lain menegaskan bahwa sekalipun dia bersekolah di sekolah Belanda tetapi dia tetaplah orang Jawa. Maka pikirannya adalah tetap kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.
Sultan bersama M. Natsir berjasa besar mengembalikan Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Belanda ingin Indonesia menjadi Negara Persemakmuran. Pada 10 November 1946 diadakan perjanjian Linggarjati.
Salah satu poin dari perjanjian itu ialah RI dan Belanda sepakat membentuk negara bernama Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS harus sudah terbentuk sebelum tahun 1949. Ini menjadi syarat Belanda bersedia mengakui keberadaan Indonesia.
Van Mook, wakil Belanda di Indonesia mendekati tokoh-tokoh lokal untuk mendirikan negara bagian. Maka berdirilah banyak negara bagian. Ada Negara Indonesia Timur. Negara Dayak Besar, Banjar, Madura, Jawa Timur, Pasundan, Jawa Tengah, dan lain-lain sampai 16 negara bagian. Hal ini mengandung kerawanan terjadinya perpecahan. Memang itulah yang diinginkan Belanda.
Atas persetujuan Bung Hatta selaku Perdana Menteri RIS, maka M. Natsir bersama Sultan Hamengku Buwono IX melakukan penjajakan kepada rakyat. Hasilnya rakyat sebenarnya ingin bergabung dengan pemerintah pusat. Rakyat ingin negara kesatuan. Bukan negara bagian.
Fakta lapangan yang dihasilkan Moh. Natsir dan Sri Sultan ini disampaikan kepada anggota parlemen dari utusan negara-negara bagian. Dengan pendekatan intensif yang dilakukan M. Natsir maka akhirnya mereka setuju ketika M. Natsir akan menyampaikan pidato penting. Pada 3 April 1950 di depan sidang pleno parlemen RIS, Natsir menyampaikan pidato bertajuk Pembentukan Negara Kesatuan. Kemudian lebih dikenal dengan Mosi Integral Moh. Natsir.
Begitulah Sri Sultan. Selalu terlibat aktif dalam perjalanan republik ini. Tidak pernah absen. Selalu hadir dalam semua peristiwa. Selalu ambil bagian dalam momen-momen penting perjalanan negeri ini. Tapi semuanya bukan untuk membesarkan kerajaan atau keraton tetapi untuk republik tercinta. Untuk masyarakat. Tahta Sultan tahta untuk rakyat. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni
Tahta untuk Rakyat; celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, adalah buku biografi pribadi Sultan HB 9, yang dihimpun oleh Mohamad Roem, Mochtar Lubis, dkk. dan disunting oleh Atmakusumah. Sewaktu SMA saya pernah sedikit membaca buku terbitan Gramedia (1982) ini, kemudian pertengahan tahun 2010 saya kembali membaca buku ini, sebagai bagian dari proses untuk membuat lagu rakyat Jogja Istimewa tersebut.
Melalui buku ini, kita akan mengetahui cerita-cerita tentang pribadi Sultan HB 9 yang mungkin sebelumnya hanya kita anggap sebagai mitos. Tak pelak, buku ini semakin menambah kekagumanku kepada pribadi Sultan HB 9.
Sultan HB 9 diberi nama ayahnya Sultan HB 8 dengan nama Dorodjatun, sejak kecil banyak dididik diluar istana, juga lebih banyak tinggal dengan ibunya yang tidak tinggal di istana Kraton. Dorodjatun pernah sekolah di Semarang dan Bandung. Kemudian dikirim untuk sekolah ke Belanda. Sepertinya ayahnya sudah mempunyai firasat, bahwa kelak Dorodjatun lah yang digadang bisa melepaskan kekuasaan Kraton dari cengkraman Belanda.
Ketika ayahnya sakit, Dorodjatun yang sebentar lagi ujian sarjana di Belanda, diminta untuk pulang oleh ayahnya untuk menerima pusaka keris Djoko Piturun, sebuah simbol bahwa Sultan HB 8 menyerahkan kekuasaan kerajaan Ngayogyokarto Hadiningrat kepada penerusnya yang dipilih. Waktu itu usia Dorodjatun masih 28 tahun.
Hingga empat bulan paska naik tahta, jendral residen Belanda di Yogyakarta gagal membujuk Sultan HB 9 untuk menandatangani kontrak kekuasaan dengan Belanda. Banyak poin-poin yang sebelumnya sudah menjadi kesepakatan antara Kraton Yogya dengan Belanda ditolak oleh Sultan HB 9. Intinya adalah bahwa Sultan HB 9 berkeinginan Kraton Yogya lebih mandiri dan peduli dengan rakyat. Pemerintah Belanda dibuat frustasi dengan pemuda berumur 28 tahun itu, yang setahun sebelumnya hanyalah seorang mahasiswa.
Kemudian Sultan HB 9 bergegas menandatangani poin-poin kontrak kekuasaan begitu saja tanpa peduli isinya. Gubernur Jendral Belanda bingung akan hal itu, kenapa dia ngotot negosiasi marathon selama lebih dari empat bulan tapi tiba-tiba dia begitu saja menandatangani tanpa membaca isinya.
Umur pohon jagung bisa dipanen selama 3,5 bulan, kemudian pohon jagung akan mati dengan sendirinya ketika berumur 3,5 tahun. Kemudian dengan wangsit itu Sri Sultan HB 9 menyusun strategi. Dia mendatangi jendral Jepang yang berkuasa di Jakarta untuk bernegosiasi. Diterangkannya bahwa Kraton Yogyakarta memiliki wilayah yang kecil dan miskin, tidak memiliki hasil panen yang memadai, Sultan HB 9 meminta kepada penjajah Jepang untuk mengganti program kerja paksa (rhomusa) bagi rakyat Yogyakarta dengan membangun saluran irigasi Selokan Mataram, agar hasil bumi wilayah Yogyakarta meningkat dan bisa memberi sumbangan kepada Jepang lebih banyak.
Perjanjian disetujui dan proyek Selokan Mataram dimulai dan dikerjakan secara gotong-royong oleh rakyat Yogyakarta. Proyek itu belum selesai ketika Jepang kalah oleh pasukan sekutu dan harus pergi dari Indonesia, tepat 3,5 tahun sesuai umur pohon Jagung.
Wangsit yang lain berkaitan dengan tokoh pewayangan Pandawa Lima. Diceritakan bahwa Sultan HB 3 membuat tokoh wayang Pandawa 5 yang ukirannya sangat halus dan warnanya indah. Wayang itu ada beberapa yang hilang. Wangsitnya adalah, bahwa jika kelima wayang itu bisa berkumpul kembali, maka Negeri Mataram (Yogyakarta) akan merdeka.
Wayang ke 4 dengan tokoh Arjuna kembali ketika agresi militer Belanda pertama. Dikembalikan oleh seorang warga dari Ambarawa yang seluruh kampungnya hangus terbakar oleh bom pesawat Belanda dalam mengejar para pejuang. Anehnya hanya rumah warga itu yang masih utuh. Warga itu percaya bahwa wayang dari Kraton itulah yang menyelamatkan. Dikembalikan wayang itu ke Kraton, tidak lama kemudian Sultan dikarunia anak dan diberi nama Herjuno (Sultan HB 10 sekarang).
Wayang ke 5 dengan tokoh Bima kembali beberapa saat sebelum perwakilan Indonesia melakukan konferensi meja Bundar bersama PBB, yang hasilnya adalah keputusan PBB bahwa Indonesia adalah negara yang berdaulat dan Belanda harus angkat kaki dari wilayah Indonesia.
Setelah proklamasi 1945, Belanda kembali datang ke Indonedia dengan membonceng kapal tentara NICA (sekutu) untuk kembali berkuasa di Indonesia. Jakarta sebagai ibu kota Republik yang masih bayi kembali dikuasai Belanda. Tahun 1946, Sultan mengundang Soekarno-Hatta dan seluruh jajaran kabinetnya untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta, sebagai negeri yang berdaulat dan diakui oleh kerajaan Belanda.
Rombongan dari Jakarta tiba di Yogyakarta tanggal 4 Januari 1946. Dua hari kemudian Yogyakarta diserang Belanda. Secara pribadi Sultan HB 9 tidak kenal dengan Soekarno sebelumnya, itu adalah pertemuan pertama mereka yang sangat bersejarah. Kelak perpisahannya pun sangat bersejarah bagi Indonesia.
Sebelum kota Yogyakarta sepenuhnya jatuh ke tentara Belanda, Sultan HB 9 meminta pejuang di bawah pimpinan Jendral Soedirman untuk menyingkir dari kota dan bergerilya. Dan melakukan penyerangan-penyerangan sporadis untuk menunjukkan kepada dunia bahwa TNI masih ada. Ketika Belanda sudah bisa menguasai wilayah kota Yogyakarta sepenuhnya, para pemimpin diasingkan, Sultan HB 9 diisolasi di dalam wilayah kraton saja, tidak boleh keluar. Tapi Sultan HB 9 sudah menyusun strategi bahwa setiap pejuang dan para pegawai pemerintahan boleh masuk ke dalam Kraton dengan menyamar menggunakan pakaian abdi dalem (pegawai kraton). Termasuk salah satunya adalah Soeharto, yang kelak menjadi presiden kedua RI.
Sultan HB 9 juga berhubungan dengan Sjahrir untuk membuat RIS (pemerintahan sementara) di Padang. Juga aktif menggalakkan siaran-siaran radio internasional untuk membuka mata dunia, bahwa pemerintahan dan tentara Indonesia masih ada, semua hal ini dilakukan agar Indonesia sebagai negara diakui eksistensinya.
3a8082e126