Fastabiqul Khairat - Berlomba-lombalah Dalam Kebaikan

279 views
Skip to first unread message

wimpie

unread,
Jun 28, 2016, 12:43:44 AM6/28/16
to hall...@googlegroups.com

Fastabiqul Khairat – Berlomba-lombalah Dalam Kebaikan

 

Tafsir Al Manar karya Rasyid Ridla, saya jadikan acuan tentang makna fastabiqul khairat. Paparan Ridla tentang makna ayat fastabuqul khairat dan relasi antar agama.

 

Kata Ridla tentang "Fastabiqul khairat": wajib bagi kita untuk bergegas pada kebaikan-kebaikan (khairat) karena itulah tujuan dari SYARIAT-SYARIAT AGAMA-AGAMA. Wahai kalian, untuk apa berfokus pada perbedaan antar komunitas agama-agama, mengabaikan hikmah Ilahi di balik adanya perbedaan itu?. Bukankah dengan teralu fokus pada perbedaan tersebut kalian justru meninggalkan pedoman Ilahi dan mengikuti hawa nafsu kalian belaka?. Berlomba-lomba dalam kebaikan (antara para pemeluk agama-agama), itulah yang justru memberi manfaat dunia dan akherat, bukan yang lainnya. Nanti di Hari Pembalasan, Allah akan memberitahu kepada kalian semua tentang hakekat dari apa yang kalian pertengkarkan di dunia.

 

Ridla menutupnya: "Fa'alaikum an taj'alu al-syara'i'a sababan fi al-tanafus fil khairat, la sababan li al tanafus fil khairat la sababn lil 'adawah bi tanafus al ashabiyyat." Artinya: “Kalian harus jadikan perbedaan syariat-syariat agama-agama sebagai alasan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan sebagai sebab untuk permusuhan dalam sektarianisme sempit.”

 

Inti paparan Ridla di ataslah yang jadi dalil saya untuk bilang bahwa perbedaan agama adalah ajang untuk berkompetisi dalam kebaikan. "Kompetisi dalam kebaikan" yang berlaku antar umat beragama ini juga dinyatakan Imam Thabari dalam tafsirnya. Juga dalam kitab tafsir Jalalain.

 

Memang ada keberatan terhadap kompetisi kebaikan antar pemeluk agama: menurut mereka, agama yang benar sejak Adam sampai sekarang hanya satu: Islam. Karena agama yang benar hanya Islam, mereka menolak kompetisi kebaikan antar pemeluk agama. Kebaikan baginya hanya dalam Islam.

 

Di satu sisi, benar bahwa agama yang benar hanya satu, yakni Islam. Tapi kita perlu memahami apa makna Islam menurut Qur'an. Dalam Qur'an, Islam bisa mengacu secara khusus pada agama Nabi Muhammad, tapi juga secara umum pada sikap pasrah/berserah pada Allah semata. Islam dalam arti generic (sikap pasrah hanya pada Allah) itulah yang menjelaskan kenapa Nabi-nabi seperti Ibrahim, Musa, Isa juga disebut muslim.

 

Misal dalam QS 3: 52, kaum Hawariyyun, pengikut Isa, berkata: kami adalah orang-orang yang berserah diri pada Allah (muslimun). Perhatikan juga QS 3:19: Sesungguhnya agama yang paling benar di sisi Allah adalah Islam. Makna Islam di sini khusus, tapi juga umum. Kenapa maknanya umum juga? Ayat setelahnya, QS 3: 20: "Katakan kepada orang-orang yang telah diberi Kitab Allah dan mereka yang tak diberi kitab (ummi) apakah kalian telah berserah diri (Islam)? "Jika mereka telah berserah diri, maka sungguh mereka telah dapat petunjuk Ilahi."

 

Bagaimana kita memahami dua ayat di atas? Mari kita simak apa yang dikatakan Hamka dalam Tafsir Al Azhar. Hamka menafsirkan "sungguh agama yang benar menurut Allah hanya Islam tidak hanya dalam artinya yang spesifik saja, tapi juga dalam arti generiknya. Ayat itu bisa juga bermakna: Yang benar-benar agama pada sisi Allah hanyalah semata menyerahkan diri padaNYA. Kalau bukan begitu, bukanlah agama.

 

Hamka jelaskan tentang agama-agama kaum ahli Kitab yang sejatinya mengandung "Islam sebagai sikap pasrah pada Allah", tapi diselewengkan pemuka agamanya. Menurut Hamka, para pemuka agama-agama ahli Kitab menguasai agama, tapi menurut istilah di ayat tersebut "baghyan": telah melanggar batas. Mereka melampaui batas karena mereka menguasai agama dan memutuskan sesuatu, tapi umatnya "tidak boleh berpikir lain dari apa yang mereka putuskan."

 

Dan kalau para pemuka agama tersebut berkuasa, lanjut Hamka, mereka akan bertindak kejam terhadap mereka yang dipandang sesat. Para pemimpin agama yang melampaui batas itulah yang menyebabkan agama-agama mereka menyeleweng dari Islam dalam arti pasrah tadi. Menariknya, Hamka bilang, itu semua merupakan peringatan juga buat kaum muslim agar tak melampaui batas dengan mengambil alih hak Tuhan.

 

Pandangan Hamka tentang Islam dan agama-agama lain bisa disimak dalam 2 esai Buya Syafii Maarif : https://www.facebook.com/notes/akhmad-sahal/buya-syafii-maarif-ttg-hamka-iman-dan-pluralisme/521436504571428

 

Pemahaman Islam bukan hanya dalam arti yang spesifik, tapi juga dalam arti generik juga dikemukakan Cak Nur. Juga Muhammad Abduh. Itulah kenapa agama yang benar menurut Allah sejak Adam sampai sekarang hanya satu, yakni Islam. Artiya tak hanya spesifik, tapi juga generik. Sebelum Nabi Muhammad, agama yang mengajarkan tauhid dan kepasrahan pada Allah disebut Islam, meski hukum dan aturannya bisa saja beda. Adanya perbedaan dalam hukum dan aturan agama (syariah) terjadi karena berbedanya zaman dan konteks sejarah agama masing-masing.

 

Islam sebagai agama tauhid dan kepasrahan pada Allah itulah yang disebut DIN. Aturan dan hukumnya disebut syariah. Mengutip Qatadah Ibn Da'amah, ulama generasi Tabi'in, Al- Din wahid wa al-syari'ah mukhtalifah: Agamanya satu, syariahnya beda-beda.

 

Paparan tentang Islam dalam dua arti tersebut TIDAK berarti semua agama sama, tapi lebih pada penegasan adanya garis kesinambungan antar agama. Tujuannya adalah untuk mencari "titik temu" antar pemeluk agama, agar bisa kerjasama, bukan "titik tengkar” untuk saling bermusuhan. Tujuannya  BUKAN untuk menyatakan semua agama sama, tapi untuk mewujudkan toleransi. Bagaimana iman dan toleransi bisa bejalan seiring?.

 

Bagaimana kita bisa di satu sisi meyakni agama kita yang paling benar, tapi di sisi lain juga bersikap toleran?. Menurut saya: sambil yakin agama kita yang paling benar, kita hargai hak pemeluk agama lain untuk yakini agamanya yang paling benar juga. Saya sebagai muslim yakin Islamku paling benar. Keyakinanku itu mutlak buatku. Tapi dalam relasi dengan pemeluk agama lain, saya hargai hak mereka.

 

Di sini menarik untuk menyimak penjelasan Pak Quraisy Syihab tentang makna toleransi dalam ayat "lakum dinukum wa liya din." Menurut Pak Quraisy, ke dalam diri kita kita harus yakin agama kita yang paling benar, tapi dalam konteks hubugan sosial, acuannya beda lagi. Pak Quraisy mengutip ayat dari Surah Saba' untuk konteks hubungan sosial: Wa inna aw iyyakum la 'ala hudan aw fi dlalalin mubin. Artinya: Dan sesungguhnya entah kami atau kalian yang berada dalam petunjuk Allah atau dalam kesesatan yang nyata.

 

Menurut Pak Quraisy, ayat tersebut mengandung arti, dalam pergaulan sosial kita tak perlu umbar tuduhan sesat dan kafir, bahkan pada yang beda agama. Dalam pergaulan sosial, kita harus menghargai hak pemeluk agama lain untuk yakin paling benar. Biarlah di akhirat Tuhan yang memutuskan. Sedang pada level individu, begitu Pak Quraisy, kita harus yakin bahwa agama kitalah yang paling benar. Keyakinan kita tentang itu harus mutlak.

 

Paparan Pak Quraisy tersebut bisa disimak pada rekaman ini, menit 18 kalau nggak salah: https://www.youtube.com/watch?v=FaYqWlilI4U 

Dengan sikap mutlak ke dalam, toleran ke luar, kita bisa dengan rileks menerima prinsip fastabiqul khairat terhadap pemeluk agama lain. Salam.




Avast logo

Email ini telah diperiksa untuk mendeteksi virus oleh perangkat lunak antivirus Avast.
www.avast.com


Darwin Abra

unread,
Jun 28, 2016, 6:40:44 PM6/28/16
to hall...@googlegroups.com

Dear Pak Wimpie, Tanggapan Untuk Buya Syafei Maarif Ysh.

Sesungguhnya Plural itu hanya ada pd sentuhan hidup berkemasyarakatan saja, dalam penyembahan, akhlak dan ibadah tak boleh ada kompromi. 

Mmg pernah ada tinjauan, bhw ada kemungkinan semua umat menyembah Tuhan yg sama, ttp  itu adalah suatu tinjauan filsafat, sebaiknya dianggap  sbg dongeng. Bukankah sumber pemikiran para filsafat berawal dari dongeng2, cerita2 dari orang ke orang,  yg lama kelamaan diperbaiki dimana perlu, berubahlah kemudian  menjadi suatu nilai filsafat.

 

Filsafat itu adalah buah fikiran yg keluar dari materi, bukan kebenaran mutlak, ttp nisbi. Utk paham keagamaan tak semua dpt  diterima.

Bukankah pula Filsafat itu ibarat pedang bermata dua pertama memperkuat paham keagamaan dan yang lain sebaliknya. IAIN pernah punya fakultas filsafat dan dibubarkan salah satu sebab adalah takut santrinya berdakwah,  tak sengaja memperlemah rasa ketauhidan, wallahu ‘alam.

Darwin

 


--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"

HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Kunjungi grup ini di https://groups.google.com/group/hallopim.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages