Saya mendengar rumor bahwa Group Bakrie tengah memindahkan saham-saham perusahaannya yang bergerak di usaha pertambangan ke Benakat Integra (Ltd) atau di kenal dengan BIPI. Ini beberapa berita yang bisa di kaitkan satu sama lain:
· Long Haul Holdings Ltd (LHH) berperan sebagai perantara alias broker PT Benakat Integra Tbk (BIPI) dalam penjualan PT Mitratama Perkasa (PTMP) oleh PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA). Adhi Utomo Jusman, Direktur BIPI mengatakan, berdasarkan perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) yang disepakati, entitas milik Grup Bakrie itu berjanji menjual dan mengalihkan 30% saham PTMP kepada BIPI.
· Kabar yang beredar, AMI adalah induk usaha dua perusahaan, PT Mitratama Perkasa dan PT Nusa Tambang Pratama, yang dijual PT Bumi resources Tbk (BUMI) beberapa waktu yang lalu.
· Hasil akuisisi PT Benakat Integra Tbk (BIPI) atas PT Astrindo Mahakarya Indonesia. (AMI) menghasilkan kinerja fantastis. Bahkan, bottom line BIPI untuk tahun buku 2013
· meroket hingga ribuan persen.
· Hasil akuisisi PT Benakat Integra Tbk (BIPI) atas PT Astrindo Mahakarya Indonesia (AMI) menghasilkan kinerja fantastis. Bahkan, bottom line BIPI untuk tahun buku 2013 meroket hingga ribuan persen. Berdasarkan rilis keuangan BIPI belum lama ini, manajemen membukukan laba bersih sebesar US$ 55 juta. Selisihnya jika dibandingkan dengan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya mencapai US$ 54 juta. Dengan kata lain, laba bersih BIPI tahun lalu meroket hingga 5.886%.
Bagi teman-teman yang ikut berinvestasi saham, mulai perhatikan saham BIPI. Bisa jadi akan bertelur emas. Disclaimer on ya. Salam.
Bila bertambah perspektif seseorang dan luas pemahamannya, niscaya sedikitlah ia akan menyalah-nyalahkan orang.
From: Wimpie [mailto:wim...@centrin.net.id]
Sent: Wednesday, April 02, 2014 5:21 PM
To: 'hall...@googlegroups.com'
Subject: RE: [HalloPIM] Pasar Modal & Grup Bakrie
Dear Pak Andriano & All,
Agak terlambat menjawab pertanyaan Pak Andri, karena saya memerlukan beberapa data pendukung supaya lebih jelas. Di pasar modal, sama dengan pasar-pasar lain, terdapat beragam pelaku pasar yang berkumpul. Pedagang jangka pendek disebut trader, sementara yang jangka lebih panjang disebut investor. Trader biasa menggunakan perangkat analisa tehnikal, sementara investor melakukan analisa fundamental. Jelas pola perniagaan mereka berbeda.
Investor (jangka panjang) biasanya mengoleksi saham-saham yang laporan keuangan (historikal) bagus dan diprediksi masih akan tumbuh secara konsisten. Artinya ketika kita membeli saham perusahaan itu sekarang, kita percaya harga sahamnya akan terus naik sejalan dengan pertumbuhan perusahaan dan ada kemungkinan kita memperoleh bagian keuntungan perusahaan (deviden). Sementara trader (jangka pendek) tidak terlalu peduli pada laporan keuangan. Mereka membaca grafik pergerakan harga (masa lalu) untuk memperkirakan pergerakan berikutnya (kedepan). Hitungannya bisa dalam menit, jam, hari atau minggu. Jarang melebihi 1 bulan kedepan.
Mari kita kihat grafik dibawah ini. Di awali sejak akhir tahun 2006 pada titik yang sama, kita dapat melihat pergerakan sampai hari ini: IHSG (kuning), UNVR (pink), BBRI (hijau), LSIP (coklat) dan BUMI (biru muda). UNVR (Unilever) dan BBRI (Bank BRI) adalah 2 saham bluechip yang disukai banyak investor. Mengapa? Karena kedua perusahaan ini selalu tumbuh dan memperoleh keuntungan lumayan setiap tahunnya. ROE (return on equty) BBRI selalu >20% dan keuntungan hampir selalu +20% dari tahun sebelumnya. Kalau kita lihat garis grafik keduanya, BBRI juga selalu bergerak naik, sedikit lebih baik dari performance indeks (IHSG), sementara UNVR bahkan jauh lebih baik. Pada masa krisis ekonomi tahun 2008-pun, dampaknya tak terlalu banyak pada saham keduanya. Sempat terkoreksi sebentar untuk kemudian melanjutkan kenaikannya.
Bagaimana dengan dua saham yang lainnya, yaitu London Sumatera (LSIP) dan Bumi Resources (BUMI)? Performannya setelah 8 tahun ternyata dibawah indeks (IHSG). Mengapa? Keduanya saham komoditi. Sejak terjadi krisis tahun 2008 sampai sekarang, keuntungan perusahaan selalu merosot turun dibanding sebelumnya. Untuk tahun 2013 saja, laba BUMI (coal) dan LSIP (CPO) turun sekitar 40 – 50% dibanding tahun 2012. Jadi tidak mengherankan jika investor tidak berminat menyimpan saham kedua perusahaan ini.
Yang menarik adalah pergerakan saham BUMI periode krisis 2008. Terlihat saham BUMI di “goreng” sehingga naik luar biasa dan tiba-tiba ketika krisis pada puncaknya, tiba-tiba investor kehilangan kepercayaan dan melepas saham perusahaan itu. Harga saham BUMI kembali keharga awal sebelum naik. Apa yang sesungguhnya terjadi waktu itu dan mengapa BUMI tak pernah pulih kembali seperti masa jayanya? Akan saya bahas nanti.
Harus diakui bahwa pasar modal memang tempat berkumpul segala macam pedagang. Diantaranya ada kelompok pedagang yang menyukai saham-saham “gorengan” kolesterol tinggi. Gorengan disini maksudnya ketika satu/sekelompok pemodal bermaksud menggerakkan harga saham secara luar biasa, bisa naik atau turun tiba-tiba, bahkan sampai lebih dari 20% sehari. Pergerakan harga dan peluang keuntungan besar dalam tempo singkat tentu menarik minat para trader jangka pendek untuk ikut berspekulasi. Ada yang untung karena masuk pada saat yang tepat dan tentu saja ada yang merugi karena masuk ketika pesta sudah usai. Kebagian sebagai pencuci piring. Sudah tentu yang berpeluang memperoleh keuntungan paling besar adalah orang/kelompok pemodal yang menggerakkan harga tadi. Disebut bandar, karena menreka yang mengenalikan permainan.
Menjawab pertanyaan Pak Andriano, kenaikan harga saham BUMI secara luar biasa pada tahun 2008 karena memang di goreng oleh pemiliknya. Kita tidak pernah mengetahui apa motivasi sesungguhnya, karena grup perusahaan ini memang terkenal sebagai jagoan akrobatik di pasar keuangan. Tapi kita bisa menduga. Lalu mengapa banyak yang ikut? Karena para trader tergiur peluang keuntungan besar di depan mata. Siapa yang tak tergiur ketika melihat saham BUMI bergerak naik dai 400 menuju 8000. Saya saja beberapa kali ikut naik kereta.
Ketika itu BUMI memang terlihat menggiurkan. Memperoleh dua tambang batu bara besar (KPC & Arutmin) dengan harga obral, kemudian di jual sebagian (25%) pada TATA India dengan harga premium. Pemberitaan yang dilangsir waktu itu bernada positif. Menjelang pemilu pemilik saham BUMI mulai melakukan profit taking. Ketika itu krisis ekonomi memuncak dan tiba-tiba terjadi kepanikan di pasar modal. Saham BUMI yang sebelumnya naik luar biasa, kini meluncur turun sama luar biasanya. Seperti roller coaster. Tak terbendung. Ketika itulah saya mendengar terjadinya pertikaian antara Bakrie dan Sri Mulyani yang ketika itu menjabat sebagai Menko Perekonomian/Menteri keuangan. Bakrie ingin perdagangan saham BUMI dihentikan sementara, tapi SMI menolak. Investor/trader yang panik akhirnya membuang saham perusahaan ini begitu saja. Lembaran hitam di pasar saham kita.
Nanti kita dilanjutkan.

"Kita tidak bisa mengarahkan angin, tetapi setidaknya kita bisa menyelaraskan Layar"
From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of Syaharuddin Noorhan
Sent: Tuesday, April 01, 2014 4:54 PM
To: hall...@googlegroups.com
Subject: Re: [HalloPIM] Pasar Modal & Grup Bakrie
Masalah-masalah keuangan yang terjadi pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ternyata semakin membenamkan harga saham-saham Group Bakrie. Bahkan Head of Research BNI Securities Norico Gaman mengingatkan agar investor berhati-hati dengan saham Bakrie tersebut setelah tahun 2014 mendatang."Karena setelah 2014 itu, bisa saja aset-asetnya diambil alih oleh pihak lain," katanya dalam seminar Prospek Investasi Saham 2013 di ajang Indonesia Financial Expo & Forum 2012 di Jakarta, Sabtu (6/10/2012).
Tujuan group itu (masuk ke pasar modal) untuk meningkatkan nilai aset. Jadi, investor harus cermat dan dalam memilih saham harus memperhatkan good corporate governance (GCG), perusahaan yang memiliki GCG bagus adalah saham-saham group Astra dan BUMN. Pasar saham memang paling sensitif jadi gak heran kalau hari ini perlembar saham BUMI tingal Rp. 300.-
Salam
On Tuesday, April 1, 2014 4:25 PM, Andriano <andriano...@gmail.com> wrote:
Menarik bagi saya mengamati grafik pergerakan saham bumi 2006 - 2014 yg disampaikan pak Wimpie. Saya lihat sepertinya harga saham 2014 kira2 sama dengan harga sebelum 2006. Pertanyaan nya adalah jika pada awal 2006 ada perbaikan performance yg signifikan atau prospek bisnis yg baik maka saat ini kejatuhan harga saham bisa dipandang sebagai kemundurun bisnis, namun pertanyaan yg kedua adalah jika tidak ada keadaan yg fundamental namun nilai saham naik begitu signifikan hingga. Rp 8000 artinya kebanyakan pemain saham di bursa efek adalah spekulan dan tidak mengherankan jika saat ini harga kembali kenilainya sebelum 2006. Dan jika salah satu dari pertanyaan ini ada jawab nya saya bisa memahami situasi di pasar modal kita. Salam
Sent from my iPhone
> On 1 Apr 2014, at 11.40, "Wimpie" <wim...@centrin.net.id> wrote:
>
> dalam
--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"
HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "HalloPIM" dari Google Grup.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.
--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"
HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.
Ini berita lama sebagai tambahan informasi:
“Bumi Resources is 29pc-owned by Bumi, the bombed-out coal miner brought to the London market in June 2010 by Nat Rothschild and Indonesia’s Bakrie family. The two infrastructure companies – Mitratama Perkasa and Nusa Tambang Pratama – were sold by Bumi Resources in deals totalling just over $190m. Now, 70pc stakes in each of the companies have been repackaged as a new company, Astrindo Mahakarya Indonesia (AMI), and sold to Jakarta-listed Benakat Petroleum Energy for $600m. Tata Power owns the remaining 30pc.”
Saat ini harga saham BUMI turun -10.82% dan BIPI naik +13.79%. Sesuatu-kah? Karena ini saham jagoan akrobatik Bakrie Group, maka Disclaimer always On…LOL. Salam.

Pak Bobby,
Ini grafik (weekly) saham BIPI. Secara technical, hari ini BIPI breakout resistan (weekly) di level 121. Bisa juga dijadikan support. Salam.

Bila bertambah perspektif seseorang dan luas pemahamannya, niscaya sedikitlah ia akan menyalah-nyalahkan orang.
From: Wimpie [mailto:wim...@centrin.net.id]
Sent: Tuesday, April 15, 2014 3:52 PM
To: 'Wimpie'
Subject: RE: [HalloPIM] Pasar Modal & Grup Bakrie -- Perhatikan BIPI
Ini berita lama sebagai tambahan informasi:
“Bumi Resources is 29pc-owned by Bumi, the bombed-out coal miner brought to the London market in June 2010 by Nat Rothschild and Indonesia’s Bakrie family. The two infrastructure companies – Mitratama Perkasa and Nusa Tambang Pratama – were sold by Bumi Resources in deals totalling just over $190m. Now, 70pc stakes in each of the companies have been repackaged as a new company, Astrindo Mahakarya Indonesia (AMI), and sold to Jakarta-listed Benakat Petroleum Energy for $600m. Tata Power owns the remaining 30pc.”
Hari ini harga saham BUMI turun -9% dan BIPI naik +13%. Sesuatu-kah? Karena ini saham jagoan akrobatik Bakrie Group, maka Disclaimer always On…LOL. Salam.

|
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengklaim akan mampu
merampungkan seluruh proses penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek
terlebih dahulu (private placement) di kuartal II-2014 ini.
BUMI merugi US$
609,01 juta di 2013
Salam. |