RE: [HalloPIM] Les Miserables Mayjen Pranoto Reksosamudro (2)

81 views
Skip to first unread message

Wimpie

unread,
Oct 15, 2014, 2:08:48 AM10/15/14
to hall...@googlegroups.com

Karena sudah ditunggu oleh pak Iskandar, saya lanjutkan saja kisah sejarah Mayjen Pranoto Reksosamudro.

Sejarah Tidak Hitam Putih

Sebelum ini saya pernah kisahkan tentang Pranoto Reksosamudro yang terdzolimi oleh Soeharto saat itu. Berbeda dengan peristiwa sejarah lainnya yang biasanya ada pro dan kontra, kisah tersebut sepertinya banyak yang menyetujui. Banyak yang sepakat bahwa Pranoto adalah sosok tak bersalah yang terdzolimi oleh rejim Orba.

Namun sesungguhnya ini membuktikan cara kita yang salah dalam menilai sejarah. Kita seringkali hanya melihat kepingan sejarah. Padahal untuk menilai sejarah kita perlu pemahaman yang komperhensif. Tidak boleh hanya pada satu peristiwa saja.

Perihal Pranoto Reksosamudro kita tampaknya perlu melihat peristiwa-peristiwa lain untuk membuat penilaian yang obyektif. Peristiwa tersebut adalah pemberontakan PRRI. Dimana ternyata ada benang merah antara peristiwa PRRI dan G30S.

Pembahasan tentang peristiwa PRRI sendiri akan kkita bahas pada kesempatan lain. Kali ini kita bicara tentang peran Pranoto dalam peristiwa ini. Karena ternyata dari sinilah awal mula Pranoto dianggap terlibat sebagai "orang PKI" dalam bersih-bersih di tubuh TNI.

Peristiwa PRRI sebenarnya pecah karena 2 faktor utama:

1. Kesenjangan pusat-daerah.

2. Kegundahan atas bangkitnya komunisme di Indonesia.

Tak heran banyak tokoh Masyumi saat itu yang dituduh terlibat pemberontakan PRRI. Karena memang golongan Islamlah yang menjadi rival PKI. Perlawanan sengit golongan Islam terhadap komunis saat itu mencapai titik nadirnya saat pecah peristiwa PRRI. PKI yang merasa diatas angin karena mendapat dukungan Soekarno menjadikan peristiwa tersebut sebagai momen balas dendam.

Kesempatan untuk membalas dendam ini terbuka lebar ketika terjadi operasi penumpasan PRRI. Awalnya operasi dipimpin langsung oleh Ahmad Yani. Namun kemudian Ahmad Yani digantikan oleh Pranoto. Nah, dibawah pimpinan Pranoto inilah terjadi pengerahan 6.300-an OKR (Organisasi Keamanan Rakyat) dan OPR (Organisasi Pemuda Rakyat). OKR dan OPR ini berubah wujud menjadi Pemuda Rakyat (PR). Merekalah yang menjadi ujung tombak PKI melakukan balas dendam terhadap PRRI.

Berbagai teror, intimidasi dan pembunuhan mereka lakukan terhadap pendukung PRRI dan keluarganya. Sungguh ironis bahwa sebagian besar pendukung PRRI ini adalah bekas pejuang kemerdekaan RI. Bahkan tokoh PRRI Syafrudin Prawiranegara adalah orang yang menyelamatkan republik saat Soekarno ditahan Belanda. Beliaulah yang mengambil alih dan memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia dari hutan-hutan di Sumatra sementara Dwi Tunggal ditahan.

Akibat campur tangan ormas-ormas PKI dalam operasi penumpasan PRRI ini maka banjir darah terjadi di tanah minang. Banyak Tentara Pelajar yang dijemput PR dari rumahnya tidak pernah kembali untuk selamanya. Kekejaman semakin menjadi-jadi dengan ikutnya Mayor Latif sebagai Perwira Seksi I/Intelijen dan Letnan Untung sebagai Komandan Kompi.

Pendukung PRRI yang tidak lari ke hutan sering ditemukan dalam karung tanpa kepala atau mata. Bahkan saat terjadi perdamaian antara pemerintah dan PRRI, PKI justru mengacaukannya dengan aksi-aksi sepihak. Kolonel Dahlan Djambek yang bersiap turun gunung memenuhi panggilan pemerintahan Soekarno diberondong sampai tewas. Demikian pula dengan pendukung-pendukung PRRI yang dijamin keamanannya jika serahkan sejata dan kembali ke Ibu Pertiwi diberondong habis saat turun gunung.

Demikianlah catatan tentang Pranoto selama operasi pembasmian PRRI. Kini kita bisa melihat secara lebih obyektif tentang beliau. Peristiwa G30S selanjutnya menjadi titik balik yang mengubah kondisi politik 180 derajat. Mereka yang mengejar-ngejar kini menjadi pihak yang diburu. Balas dendam dibalas dengan balas dendam pula. Banjir darah kembali terjadi di bumi pertiwi ini. Kali ini korbannya adalah PKI.

Bisa jadi Pranoto tidak terlibat dan tidak tahu akan peristiwa G30S itu. Namun catatan beliau selama operasi menumpas PRRI tidak dilupakan. Demikian penjelasan singkat tentang keterlibatan Pranoto dalam penumpasan PRRI. Marilah pelajari sejarah secara bijak. Salam.

 

 

"Kita tidak bisa mengarahkan angin, tetapi setidaknya kita bisa menyelaraskan Layar"

 

From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of Iskandar Mt
Sent: Wednesday, October 15, 2014 12:20 PM
To: hall...@googlegroups.com
Subject: Re: [HalloPIM] Les Miserables Mayjen Pranoto Reksosamudro

 

ditunggu pak wim

 

2014-10-15 11:31 GMT+07:00 Wimpie <wim...@centrin.net.id>:

Betul Mas Teguh, tapi kisah tersebut belum lengkap seluruhnya. Ada kisah lain dari Pranoto Reksosamudro yang melatar-belakangi peristiwa itu. Sedang saya edit. Salam.

 

"Kita tidak bisa mengarahkan angin, tetapi setidaknya kita bisa menyelaraskan Layar"

 

From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of Agung Sedayu
Sent: Wednesday, October 15, 2014 11:15 AM
To: hall...@googlegroups.com
Subject: Re: [HalloPIM] Les Miserables Mayjen Pranoto Reksosamudro

 

tulisannya cukup "melawan lupa", betul tragis p. wiem, kebetulan saya sudah pernah baca  kisah "May Djen" Pranoto Reksosamudro sangat tragis dan menyedihkan... ya smoga beliau bisa dikenang sebagai kusuma bangsa, ssebagai pahlawan tanpa tanda jasa..

salam

 

2014-10-15 10:05 GMT+07:00 Wimpie <wim...@centrin.net.id>:

Les Miserables Mayjen Pranoto Reksosamudro

Niat baik tidak selalu membawa hasil yang baik. Ini adalah kisah anak manusia yang hancur hidupnya oleh itikad baiknya.

Mayjen Pranoto Reksosamudro adalah salah satu dari sekian banyak korban maha cemburu seorang Soeharto. Sesungguhnya tidak ada persoalan pribadi antara Soehato dan Pranoto seperti hubungannya yang pernah kurang baik dengan Ahmad Yani. Namun Pranoto ini benar-benar berada di tempat dan waktu yang salah di era yang sangat krusial dalam peristiwa G30S dan peristiwa-peristiwa setelahnya. Berikut adalah kronologis peristiwa sebagaimana yang disampaikan oleh Pranoto Reksosamudro dalam memoarnya.

Tanggal 1 Oktober 1965 kira-kira jam 6 pagi Pranoto didatangi oleh Brigjen dr. Amino. Memberitahu tentang penculikan A Yani dan jendral-jendral lain. Mayjen Pranoto bergegas menuju Markas Besar AD (MBAD) dan mulai mengumpulkan berbagai informasi seputar penculikan tersebut. Setelah mengumpulkan informasi. Karena merupakan PATI paling senior saat itu maka Mayjen Pranoto memprakarsai rapat. Peserta rapat adalah para asisten Men./pangad atau wakilnya yang hadir pada saat itu di MBAD.

Setelah menampung berbagai laporan dari sumber-sumber yang dapat dipercaya maka rapat menyimpulkan:

Secara positif A.Yani dan lima orang Jenderal lainnya telah diculik oleh sepasukan penculik yang pada saat itu belum dapat dikenal secara nyata. Berikutnya, rapat memutuskan untuk menunjuk May.Jen Soeharto Panglima kostrad agar bersedia mengisi pimpinan AD yang terdapat vacuum.

Dari hasil rapat tersebut ada dua hal penting yang layak diingat. Pertama, ada kebingungan tentang kondisi kekinian saat itu. Kedua, rapat yang dipimpin oleh Mayjen Pranoto justru memilih Soeharto mengisi kekosongan kepemimpinan di AD. Artinya Pranoto tidak memanfaatkan momentum tersebut untuk mengangkat dirinya sendiri. Konon karakter beliau memang tidak ambisius.

Selesai rapat, melalui kurir khusus disampaikan hasil rapat kepada Mayjen Soeharto di MAKOSTRAD. Namun sesaat setelah itu, yaitu jam 9 Pranoto menerima laporan dari MBAD yang isinya kelak mengubah hidupnya 180 derajat. Laporan tersebut mengatakan ada siaran dari RRI yang menyebut Pranoto ditunjuk oleh presiden sebagai caretaker men/pangad.

Benar saja. Setelah itu berturut-turut datang utusan dari presiden/panglima tertinggi. Berikut urutannya:

Pertama: Let. Kol. Inf. Ali Ebram, Kasi I Staf Resimen Cakrabirawa yang datang kira-kira jam: 09.30.

Kedua: BrigJen TNI Soetardio, Jaksa Agung, Brig.Jen. Soenarjo, Ka.Reserse Pusat Kejaksaan Agung yang datang bersama pada jam: 10.00.

Ketiga: Kolonel Bambang Wijarnako, Ajudan Presiden/Pangti yang datang sekitar jam: 12.00.

Namun karena sudah terlanjur menunjuk Soeharto dan masuk dalam hubungan komando taktis dibawah MayJen. Soeharto maka Pranoto tidak mau langsung menghadap presiden tanpa seijin Mayjen Soeharto sebagai pimpinan AD saat itu. Atas dasar panggilan presiden itu maka Pranoto berusahan meminta ijin Soeharto untuk menghadap presiden. Namun Soeharto selalu melarang Pranoto utk menghadap presiden dengan alasan keamanan. Pranoto patuh dan tetap tinggal di MBAD.

Pada malam harinya jam 07.00 Pranoto dipanggil KSAB Jendral Nasution untuk rapat di Markas KOSTRAD. Dalam rapat tersebut Nasution menanyakan sikap Pranoto perihal pengangkatannya sebagai caretaker men/pangad oleh Presiden.  Jawab Pranoto: Sebaiknya kita menaruh perhatian dalam usaha menertibkan kembali keadaan darurat yang ditangani langsung oleh Soeharto.

Untuk menepis adanya kesan pembangkangan terhadap Presiden, Nasution meminta Pranoto membuat press release esok paginya. Pranoto patuh. Namun tanggal 2 Oktober pagi, sesaat sebelum menyampaikan press release tiba-tiba Pranoto dan Soeharto bersama-sama dipanggil presiden. Soeharto yang sebelumnya melarang Pranoto menghadap Presiden kali ini mengijinkan. Mungkin karena dia pun ikut dipanggil.

Dalam rapat terjadi tarik ulur yang cukup 'keras' antara Soeharto dan Presiden Soekarno. Sementara Pranoto pada posisi pasif. Akhirnya Soekarno mengambil jalan tengah dengan keputusan rapat sebagai berikut:

Pimpinan AD dipegang langsung oleh Pangti/Presiden. Soeharto ditugaskan menjalankan 'tugas operasi militer'. Sementara Pranoto ditugaskan sebagai caretaker men/pangad dalam urusan 'daily duty'. Jabatan yang kurang berwenang untuk keputusan strategis. Rapat bersama Presiden tersebut bisa dikatakan menyelamatkan muka Presiden tetapi menjadi kemenangan Soeharto.

Setelah melalui berbagai peristiwa akhirnya tanggal 14 Oktober 1965 Mayjen Soeharto diangkat sebagai KASAD. Saat membentuk susunan staffnya yang baru, Soeharto hanya mengangkat Pranoto sebagai PATI yang diperbantukan pada KASAD. Akhirnya datanglah hari jahanam itu. Tanggal 16 Feb 1966 atas perintah KASAD MayJen Soeharto, Pranoto ditahan dengan tuduhan terlibat G.30-S/PKI.

Namun pada tanggal 7 Maret 1966 terjadi perubahan status penahanan Pranoto menjadi tahanan rumah. Tanggal 4 Maret 1969 Pranoto kembali ditahan di Inrehab NIRBAYA Jakarta, tetap dalam tuduhan yang sama. Tanggal 20 November 1970 mulai dikenakan skorsing dalam status Pranoto sebagai anggota AD.

Pada bulan Januari 71 Pranoto sudah tidak mendapat gaji dan penerimaan apapun lagi. Padahal surat pemecatan tak pernah diterima. Baru tanggla 16 Februari 1981 Pranoto dibebaskan dari tahanan. Jadi tepat 15 tahun Pranoto ditahan tanpa pernah diadili.

Jangankan diadili. Selama 15 tahun ditahan itu Pranoto belum pernah mengalami pemeriksaan dengan proses dan pembuatan berita acara yang resmi. Hanya satu kali saja Pranoto diiterogasi secara lisan, selanjutnya dia hanya ditahan begitu saja selama 15 tahun.

Meskipun akhirnya dibebaskan namun penderitaan Pranoto belum berakhir. Dia bebas dalam kondisi hancur lebur. Alih-alih melanjutkan amal baktinya untuk negara, statusnya sebagai mantan tapol membuatnya sangat kesulitan mencari nafkah. Tidak ada tempat bagi Pranoto untuk berkarya. Teman-teman seperjuangan pun takut berhubungan lagi dengannya.

Tanah air yang ikut dirintisnya mulai dari perang kemerdekaan 1945 dulu kini berubah sangat keji terhadap dirinya. Rumahnya di Kramat Jati adalah rumah yang kumuh yang bisa diakses melalui gang-gang sempit.

Pranoto akhirnya menutup mata tahun 2006 dalam kondisi miskin, terpinggirkan dan terlupakan. Apakah kesalahan Pranoto hingga dia layak menderita sedemikian rupa? Tidak ada. Mungkin jika bisa disebut kesalahan adalah karena Pranoto-lah yang ditunjuk Presiden menggantikan Ahmad Yani, bukan Soeharto. Atau kesalahan Pranoto karena kurang berambisi? Sehingga bersedia mengikuti kemauan Soeharto untuk menolak panggilan Presiden.

Namun sejarah berbicara justru dia akhirnya dihancurkan oleh Soeharto karena kepatuhannya kepada Soeharto itu. Kecemburuan dan dendam Soeharto memang tiada tara. Pranoto-lah yang pertama menunjuk dia sebagai pengganti Ahmad Yani. Namun hanya karena Soekarno lebih memilih Pranoto maka dendam Soeharto dilampiaskan dengan menghancurkan hidupnya sedemikian rupa.

Kisah hidup Pranoto adalah pelajaran terbaik bagi kita bahwa niat baik belum tentu membawa hasil yang baik pula. Salam

 

"Kita tidak bisa mengarahkan angin, tetapi setidaknya kita bisa menyelaraskan Layar"

 

--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"

HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.

 

--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"

HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.

--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"

HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.

 

--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"

HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.

ahmad bahagia -

unread,
Oct 15, 2014, 2:56:39 AM10/15/14
to hall...@googlegroups.com
Dear Pak Wimpie and All

Terimakasih Pak Wimpie atas kirima tulisannya di milis PIM ini perihal kisah pemberontakan PRRI dan mengingatkan saya sewaktu masih kecil dimana  almarhum Ayah saya Lettu TNI AD Mohd Ali Basya adalah satu korban penangkapan tentara pusat dan ayah saya ditahan 2.5 tahun dipenjara Suka Mulya Medan, Sumatra Utara (dibelakang Hotel Danau Toba) sebagai tahan politik.(saat ini penjara tersebut sudah tidak ada lagi dan telah berubah menjadi Ruko, Hotel dll) dan pada saat tersebut almarhum ayah saya adalah sebagai anggota DPD (DPR sekarang) dari Partai Masyumi dan pada saat beliau masih aktif sebagai anggota DPD beliau selalu berseberangan dengan Partai PKI pada waktu Pemilu Pertama tahun 1955.(kalau saya tidak salah).

Setelah 2.5 tahun dipenjarakan di penjara Suka Mulya Medan akhirnya ayah saya dilepaskan dario tahanan penjara Suka Mulya pukul 8.30 pagi setelah semua dokumen pelepasan beliau sebagai tahanan politik ditanda tangani. Almarhum ayah saya ditawarkan untuk kembali berdinas di TNI dan turun pangkat menjadi Letda dan  ditempatkan di meja panjang (tanpa jabatan) namun almarhum ayah saya menolaknya dan beliau hidup bersama dengan masyarakat biasa lainnya.

Semua dokumen-dokumen almarhum ayah saya sebagai mantan TNI AD berpangkat Lettu dan sebagai mantan anggota DPRD Kab.Tap.Selatan masih tersimpan rapi di file saya dan begitu juga surat-surat bukti pelepasan beliau dari penjara masih saya simpan rapi dan juga klipping koran-koran tempo dulu yang disimpan ayah saya sebagai bukti otentik beliau semasih menjabat anggota DPD dari Masyumi yang berseberangan dengan PKI dan beberapa photo beliau saat masih aktif di TNI

Bila saya mengingat kisah-kisah yang diceritakan almarhum ayah saya selama beliau ditahan sebagai tahanan politik, hati saya selalu menangis Pak Wimpie betapa sakitnya hidup beliau di penjara tersebut walaupun status beliau sebagai tahanan politik tetapi perlakuan yang diterima sama persis sebagai seorang tahanan penjahat.

Sekali lagi terimakasih banyak Pak Wimpe atas tulisan tersebut dan kemungkinan bukan hanya almarhum ayah saya saja yang mengalami penderitaan sebagai mantan anggota PRRI tetapi masih banyak teman-teman lain yang kemungkinan mempunyai kisah yang sama dengan almarhum ayah saya dan semoga Allah melapangkan kuburan beliau.

Sewaktu ayah saya meninggal dunia belia sebagai mantan anggota DPD (DPRD) sekarang maupun sebagai mantan anggota TNI yang berpangkat Lettu tetapi beliau tidak mempunyai harta apapun baik rumah maupun tanah dan sepanjang hidupnya ayah saya hanya menyewa rumah kontrakan selama puluhan tahun hingga akhir hidup hayatnya, tetapi saya pribadi Pak Wimpie bersyukur dan bangga pada ayah saya yang dengan gigihnya walaupun dalam keadaan menderita tetap berusaha untuk menyekolahkan anak-anaknya sesuai dengan kemampuannya dan salah seorang abang saya Almarhum Syamsul Bahri berhasil menjadi Ketua Fraksi Gabungan DPRD Kota Padang Sidempuan sampai akhir hayatnya.

Salam kami sekeluarga Pak Wimpie 

Wimpie

unread,
Oct 15, 2014, 3:31:19 AM10/15/14
to hall...@googlegroups.com

Dear Pak Ahmad Bahagia,

Cerita pak AB sungguh mengharukan. Sejarah masa lalu negeri ini tak selalu seramah seperti yang kita baca di buku sejarah ketika sekolah. Pasang-surut dan sesekali bergelimang darah. Tapi bangsa kita berhasil keluar dari setiap kemelut yang terjadi dan masih menjadi bangsa yang besar dan bersatu hingga kini. Kita semua sepakat bahwa persitiwa G30S PKI adalah noda hitam sejarah negeri ini. Tapi bahkan ketika itupun berjatuhan banyak korban tak bersalah karena tuduhan fitnah sebagai simpatisan PKI. Setiap kemelut selalu menimbulkan korban tak bersalah. Dari sejarah kita belajar agar tak mengulang kesalahan yang sama. Salam.

 

"Kita tidak bisa mengarahkan angin, tetapi setidaknya kita bisa menyelaraskan Layar"

 

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages