Suka Duka Mencapai Gelar Doktor di Jerman

720 views
Skip to first unread message

Wimpie

unread,
Mar 21, 2014, 8:27:06 PM3/21/14
to hall...@googlegroups.com

Seorang teman, Syafiq Hakim, berbagi Suka Duka Mencapai Gelar Doktor di Jerman. Saya tertarik karena seorang keponakan sedang bersiap-siap untuk sekolah kesana. Siapa tahu bermanfaat juga untuk teman halloPIM. Salam.

Dulu ketika belum melakoninya, begitu disertasi selesai ditulis dan disubmit, seolah kita sudah mendapat gelar doktor. Submit dalam akademia Jerman adalah penyerahan disertasi dari penulis kepada promotion office (PhD Office).

Proses yang biasa terjadi, kandidat doktor menulis disertasi dibimbing oleh doktor fater atau muter (pembimbing maksudnya). Jumlahnya bisa 1 atau 2. Jika 1, pembimbing 1 bertindak sebagai internal assessor, jika 2, pembimbing 2 bertindak sebagai external assessor.

Meskipun masing-masing universitas memiliki aturan sendiri-sendiri, namun soal ini mereka hampir memiliki peraturan yang sama di Jerman. Jika sudah mendapat pembimbing, kandidat doktor lalu menulis disertasinya. Model bimbingan juga berbeda-beda.

Oh ya, kapan orang bisa disebut kandidat doktor? Di universitasku biasanya setelah setahun dan sudah merampungkan proposal risetnya. Jadi, jika ada yang baru dapat S3 dan belum setahun atau selesai nulis rancangan researchnya, maka istilah kandidat tidak layak dipakai.

Para pembimbing disertasi S3 di Jerman sangat dingin dan kaku, kadang acuh dan tak jarang berkonflik dengan bimbingannya. Namun tidak jarang yang baik pula. Namun mereka sangat membedakan soal perilaku mahasiswa dan apa mereka tulis. Kandidat PhD yang berperilaku tidak sopan namun menulis sangat bagus akan mendapat nilai istimewa. Artinya, yang dinilai adalah hasil tulisan.

Namun semua orang yang pernah ambil doktor di Jerman selalu berpesan agar hati-hati jangan sampai konflik dengan pembimbing. Bagi banyak orang, pembimbing di Jerman adalah dewa di dunia, penentu nasib kelulusan. Bahkan dalam banyak kasus, jika terjadi perselisihan pembimbing dan kandidat doktor, pengadilan akan memenangkan pembimbing. Namun tidak jarang juga kandidat doktor yang bisa mengalahkan promotornya dalam persidangan jika terjadi konflik. Ini dinamika yang menarik.

Setelah setahun, kandidat doktor mulai turun lapangan: fieldwork maupun archive atau laboratorium investigation, tergantung jenis ilmunya. Oh ya, sekarang Uni di Jerman juga memperkenalkan graduate school, yang modelnya berbeda dengan doktor biasa. Graduate school harus ambil course-work selama tahun pertama, kuliah S3 biasa tidak demikian, mereka bisa cukup dengan pembimbingnya. Untuk masuk Graduate School biasanya langsung masukkan lamaran ke pihak Uni dan kompetisinya mendebarkan karena dibuka untuk seluruh dunia.

Mahasiswa doktor biasa --bukan GS--proses penerimaan biasanya melalui profesor lalu profesor membuat surat ke PhD Office. Jika PhD office setuju, lalu dibuatlah admission letter untuk si calon S3. Adakah kasus dimana profesor setuju, tapi PhD office menolak? Ada. Profesor sudah setuju, lalu PhD office tidak setuju, biasanya masalah kefakultasan dan juga prasyarat teknis seperti soal bahasa dlsb.

Jika calon mahasiswa S3 tidak diterima/ ditolak, lha pembimbingnya sudah setuju kok, dia bisa ke pengadilan dan bahkan dianjurkan. Biasanya, dalam banyak kasus, karena untuk masuk ke GS itu kompetisinya sulit, maka yang berhasil mendapatkan banyak keistimewaan. Beasiswa akan lebih tinggi dari rata-rata, fasilitas juga lebih oke terutama dengan perpustakaan-perpustakaan tertutup, dan tunjangan keluarga. Hal ini disebabkan karena GS itu didukung penuh oleh pemerintah Jerman. Ini bagian proyek andalan Jerman (excellent initiative).

Jika mampu, saya sarankan anda ambil S3 pada Graduate School. Ada belasan GS diseluruh universitas di Jerman, 7 antaranya di FU, Berlin. Cabang ilmunya macam-macam, dari sciences sampai humanities dan religious studies atau theology.

Jika dirasa riset kita sudah cukup, maka mulailah kita menulis disertasi. Tren disertasi di Jerman sekarang beda dengan masa lalu. Jika dulu, menulis 500-1000 hlman hal yang wajar dan membanggakan, sekarang 200-250 halaman adalah disertasi yang paling ideal. Ringkas, padat, direct, dan clear argument adalah jimatnya. Penulis yang baik adalah penulis yang mampu manfaatkan ruang untuk menuliskan ide. Meskipun ruangnya sedikit dan sempit dan idenya berjibun. Alasan lain, disertasi itu baru disertasi awal.

Lalu apa disertasi sesungguhnya dalam akademia Jerman? Habilitation, karya yang ditulis untuk mendapat gelar profesor universitas. Hampir semua pemikir Jerman meledak karena karya habilitationnya, antara lain Habermas. Proses habilitationnya ini juga hampir sama dengan proses disertasi, ada promotor dan penguji, namun levelnya lebih tinggi.

Kembali kepada menulis disertasi. Banyak kandidat doktor yang dapat pembimbing oke namun kaku, tapi banyak juga yang mendapat kakunya saja. Oke bukan dalam arti kapasitas keilmuan, karena profesor di Jerman jaminan mutunya tak terbantah. Oke di sini adalah kesediaan mereka membimbing.

Bagi yang dapat kakunya saja, menulis disertasi adalah menjemukan, dan banyak yang meninggalkan. Bayangkan, ada pemimbimbing yang hanya membuka konsultasi 15 menit seminggu, jika ingin lebih, 15 menit selesai, keluar dan antri 15 menit lagi. Meskipun demikian, tidak ada pemakluman bagi kandidat doktor bila hasil risetnya jelek, pembimbing tetap saja mencoret dan mengkritik keras.

Begitu proses menjemukan selesai, lalu kita satukan serpihan kita dalam monograf disertasi utuh. Kita bawa ke pembimbing. Pembimbing berkata oke, kamu bisa maju ke defense, maka pergilah kita ke kantor doktor. Setiap Uni ada kantor doktor. Sebelum ke kantor doktor, kita dan pembimbing menyusun PhD Comittee, atau dewan penguji, 3-5 orang. Tempat saya 5 orang.

Kita foto copy disertasi dan bawa ke kantor doktor beserta 5 nama penguji. Lalu kekuasaan berpindah dari pembimbing ke kantor doktor. Kantor doktor yang membagikan kembali disertasi kita ke 5 komite tadi dan pembimbing 1 & 2 bertindak sebagai penilai (penguji tulisan). Proses ini disebut PhD dissertation submission dan dibukalah pintu promosi secara resmi, memakan waktu 2 bulan paling cepat menuju defense

Pembimbing 1 & 2 membaca dan memberi nilai tertulis, berbentuk review, biasanya 5 lembar, dari bab awal sampe akhir. Proses review ini sangat mendebarkan, karena tidak bisa ditarik lagi. Jika sudah masuk proses promosi maka kita harus ikuti sampai akhir, defense.

Defense di Jerman ada 2 bentuk, disputation artinya mempertahankan disertasi kita di sidang doktor dari criticism dan rigorosum. Rigorosum adalah sidang dimana kita bukan mempertahankan disertasi, tapi kita diuji dengann ilmu-ilmu yang tidak kita tulis dalam disertasi. Waktunya lebih lama dan ilmu yang diujikan bisa lebih dari 1 bidang. Beberapa Uni masih mempertahankan cara ini.

Soal review tadi, pembimbing 1 & 2 bisa menyatakan bahwa disertasi kita tidak layak diujikan, artinya, kita tidak bisa menjalani ujian doktor. Ini adalah kiamat bagi calon doktor, tapi di Jerman itu biasa terjadi, bukan hal yang aneh. Karenanya, bila kita sudah submit bahagia boleh, tapi tunda sejenak. Di sini letak izin pemimbing menjadi agak penting.

Bila review kedua pembimbing oke, maka tandanya adalah pembimbing mengajak kita mencari waktu defense. Menentukan waktu defense ini sulit sekali karena kita harus mencari waktu luang 5 komite doktor untuk bisa duduk bersama selama 2 jam. Karakter profesor di Jerman, agenda 1-2 tahun mendatang biasanya sudah fix (pasti), kita cari celah yang belum pasti untuk hari defense kita. Yach, ini sih memang karakter orang Jerman dimana hidup mereka ditentukan kalender.

Siasat paling jitu adalah katakan mereka bahwa kita ingin cepet defense karena uang sudah abis. Teknik ini manjur buat saya, akhir 2 bulan persis. Ketika sudah ada tanggal defense, kita kirim kabar ke kantor doktor, kantor doktor akan menyebar undangan, defense harus diumumkan ke publik. Bagi pemalu seperti saya, ini masalah besar, karena semua orang tahu kalau kita defense. Saya punya alasan secara akademis untuk ini.

Tanggal defense beredar, sedikit lega, tapi ini belum membahagiakan, bahkan semakin dag dig dug saja. Tadi saya katakan, pembimbing sudah oke, tapi kita belum tahu apa isi reviewnya. Ini rahasia secara hukum, namun profesor bisa membocorkan. Tapi dengan mengetahui secara tidak resmi isi review, bukan akhir segalanya. Karena defense bisa ditolak jika kita tidak argue dengan baik.

Disertasi ditolak di defense juga bukan aneh, tapi biasa dan wajar. Kebetulan tetanggaku mengalami itu 2 bulan sebelumnya, pada Uni yang sama. Jika ditolak, kita mendapatkan satu kesempatan lagi, jika kita gagal dalam kesempatan kedua, artinya, gelar dari phil atau dr. rer. nat gagal.

Sidang disertasi di Jerman bisa smooth, tapi 90 % dalam 1.5-2 jam adalah ladang pembantaian, bahkan pembimbing kita sendiri bisa lebih kejam. Kasus teman yang defense diulang adalah usulan dari pembimbing 1 nya, bukan dari pihak lain.

Jika defense lancar, maka kita diberi gelar Dr. Des (disertasi), Dr. Phil atau Dr. Rer. Nat, bisa diambil dalam waktu 2 tahun setelah publikasi. Namun Dr. Des disematkan, sudah mulailah kita untuk lega dan berpesta, bukan seutuhnya karena masih ada agenda publikasi.

Gelar doktor bisa dicabut, jika belakangan hari ada indikasi plagiat, meskipun itu sudah bersama kita puluhan tahun. Di Jerman sekarang para penggede yang punya doktor, pada dag dig dug. Pasalnya, setelah berhasil mencabut doktornya menteri pertahanan, karean tuduhan plagiat, para pemburu meneliti disertasi-disertasi mereka. Para pemburu ini bekerja sukarela dan meneliti disertasi-disertasi orang terkenal akan orisinalitasnya, jika ditemukan keganjilan diproseslah. Untunglah di negara kita tidak ada germbolan swasta yang mempertanyakan gelar-gelar doktor para penggede itu.

Salam.

 

"Kebenaran sepenuhnya bersemayam di dalam hakekat. Namun orang bodoh mencarinya di dalam yang terlihat" – Jalaluddin Rumi.

 

Sjamsul Rizal

unread,
Mar 23, 2014, 1:05:52 PM3/23/14
to hall...@googlegroups.com

Dear pak Wimpie,
Semangat sekali saya membacanya karena saya lupa sdh out of order. Tapi saya forward ke adik2 saya utk anak2 mereka dan anak saya yg bungsu.
Terima kasih ya pak.

Salam,
Sjamsul Rizal

--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"

HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00 12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan: 0813 2071 7187 dan Syaharuddin Noorhan: 0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/hallopim.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages