Menarik mengikuti kisah Pak Nur Hidayat tentang awal mula proyek PIM-1. Banyak hal-hal baru yang belum saya ketahui sebelumnya, termasuk peranan Pak Hartato di tahap-tahap awal proyek. Saya tambahkan sedikit kisah dari sisi pengalaman sendiri.
Saya masuk PIM pada awal Oktober 1982, bersama-sama rombongan trainees angkatan pertama. Kalau tidak salah juga merupakan rombongan karyawan yang di rekrut pertamakali, diluar yang mutasi dari Pusri. Oh ya, mungkin sudah ada beberapa karyawan lokal yang sudah lebih dahulu dari kami (?). Walau sudah diterima sejak awal, kami baru benar-benar menjejakkan kaki pertama kali di Lhokseumawe hampir setahun kemudian (Agustus 1983). Sebelumnya kami berkeliling mengikuti pelatihan di berbagai tempat. Ketika tiba di Lhokseumawe sudah berdiri beberapa rumah dinas di kompleks perumahan. Bagi yang sudah berkeluarga memperoleh rumah dinas tipe-E. Sementara kami yang “jomlo” memperoleh wisma, rumah tipe-D yang dihuni bersama-sama.
Jujur saja, tak banyak manfaat yang saya peroleh ketika hampir setahun ikut pelatihan di berbagai pabrik pupuk. Materinya masih baru sama sekali, sehingga perlu waktu (bagi saya) untuk menyesuaikan diri. Saya banyak bingung ketika diajarkan tentang proses operasi pabrik pupuk. Tapi mungkin maksudnya hanya untuk pengenalan, agar tak terlalu kaget ketika sampai di lapangan. Ketika pelatihan di Jepang, saya lebih banyak manfaatkan untuk menambah wawasan. Selama 3 bulan tinggal di sana telah mengubah saya menjadi sosok yang berbeda, tak lagi sama dengan sebelumnya. Telah terjadi transformasi mental yang fenomenal dalam diri saya ketika itu…jadi ingat revolusi mental Jokowi…LOL.
Tapi sejujurnya, saya kaget juga ketika pertama kali menjejakan kaki di plantsite. Tak seperti yang dibayangkan pada awalnya. Tapi suasana proyek yang dinamis menyebabkan saya mudah menyesuaikan diri. Ditambah karena teman-teman seperjalanan yang lumayan menyenangkan dan, tentu saja, karena Direksi yang dekat dengan karyawan. Hanya selingan ringan saja dari saya, silahkan kisahnya di lanjutkan Pak Nur. Topik yang selalu menarik. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Bagaimana kalau ada rekans ada juga yg share tentang Perjuangan membangun PIM-2 ? Karena banyak juga pelakunya dimilis kita ini.
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.
Mengapa pembangunan PIM-1 itu saya sebut perjuangan ? Dlm rangka kemandirian suatu bangsa, secara bertahap pemerintah ketika itu bermaksud utk memberi tantangan kpd kemampuan putra bangsa, yaitu memberi porsi mengembangkan kemampuan engineering & construction. Makanya ketika itu kontrak pembangunannya dibagi dua. Basic & detail Engineering dan Procuremen Foreign equipmen diberikan sama TEC. Tapi local material procuremen & Construction hrs dikerjakan oleh REK atas appoval PIM. Kontrak dg REK hanya dibayar secara lumpsum utk jasanya saja. Jadi tanggung jawab PIM sangat besar. Adapun budget utk keseluruhan pembangunan itu hanya diberikan lebih kecil dp biaya utk AAF. Biaya supervisi & start-up oleh TEC sdh disiapkan dlm budget, yg sdh tentu secara keseluruhaan biayanya lebih hemat/rendah dibanding total cost proyek AAF.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Pada periode th 1978-1983, Pusri mengalami masa jaya-jayanya. Karyawan sangat bangga akan dirinya sebagai karyawan Pusri, suatu BUMN yg punya pabrik urea terbesar dlm satu komplek diseluruh dunia. Punya armada perkapalan, unit2 Pengantongan Pupuk di berbagai pelabuhan dan kantor perwakilan Pemasaran Pupuk disetiap Kota Propinsi. Semua produk pupuk yg diproduksi oleh BUMN pupuk lain di Indonesia hrs dipasarkan oleh Pusri. Pemerintah menunjuk Pusri sebagai penanggung jawab tunggal pengadaan, distribusi dan pemasaran pupuk di Indonesia. Dan tiap ada policy perubahan harga2 kebutuhan pokok, pak Harmoko sebagai Menteri Penerangan mengumumkan harga2 beras dan harga pupuk Pusri dipasaran. Hal tsb menyebabkan para karyawan tdk mau atau enggan pindah ke BUMN Pupuk lain seperti pemintaan dari PT. Pupuk Kaltim yg masih berjuang membangun proyek Kaltim-1, sangat membutuhkan karyawan Pusri berpengalaman yg mau pindah kesana, tdk satu orangpun yg mau. Mereka mau bantu Kaltim sebagai tenaga bantuan Pusri, artinya status tetap sebagai karyawan Pusri dan dpt gaji serta fasilitas Pusri dan di Kaltim juga dpt uang jasa. Demikan juga sewaktu AAF meminta karyawan Pusri utk pindah ke AAF, walau direkturnya adalah mantan Plant Mgr Pusri, tdk seorangpun yg mau berpindah. Teringat ketika itu saya sebagai Pimpinan. Produksi Pusri krn ingin membantu AAF hrs menugaskan beberapa staff andalan pindah ke AAF. Demikian juga sewaktu PIM terbentuk, staff Pusri yg bertugas di Proyek (yg disebut) Pusri V, dan berubah menjadi Proyek PIM, mereka pada ingin kembali ke induknya Pusri. Apa yg dirasakan oleh direksi AAF itu teralami juga oleh saya pribadi. Bukan saja hanya keinginan karyawan, tapi juga pimpinan Pusri tdk rela kehilangan karyawan yg berpengalaan berpindah ke PIM. Teringat ketika saya meminta kpd Dir Litbang Pusri spy staffnya yaitu ir. Ade Suryanti utk tetap di PIM, beliau menolaknya, walaupun ibu Ade sendiri bersedia utk pindah ke PIM, tapi bosnya di Pusri tdk mengizinkannya. Malah saya ditegur spy tdk mengganggu Pusri. Saya sangat memerlukan tenaga seperti ibu ir. Ade Suryanti dikantor Jakarta, krn bu Ade adalah seperti bidannya sewaktu PIM dilahirkan. Berpengalaman dlm menjaga hubungan dg instansi lain, dan dpt mengusai masaalah teknis, administrasi dan gesit bekerja. Syukur alhamdulilah Dirut Pusri masih mendukung secara konsekwen akan rencana lahirnya indiustri pupuk baru di Aceh dan mengetahui serta mengerti apa yg dibutuhkan utk kelangsungan PIM, beliau sampai memanggil Dirlitbang Pusri dan minta spy bu Ade diizinkan pindah ke Pusri. Itulah sebabnya kami tunjuk bu Ade sebagai Kep.Perwakilan PIM Jkt. Saya bukan hanya ditegur oleh Dirlitbang, tapi juga oleh Dirtek Pusri. Saya heran mengapa PIM seolah-olah bukan anak perusahaannya. Ada kemungkinan beberapa direksi Pusri merasa kecewa, bhw rencana perluasan Pusri V yg direncanakan itu gagal lagi. Saya bersyukur bhw Dirut Pusri, pak Sotion Arjanggi dan mantan Dirut Pusri pak Hasan Kasim masih terus mendukung PIM. Bersambung.Powered by Telkomsel BlackBerry®From: nhiday...@gmail.comDate: Mon, 4 Aug 2014 12:09:59 +0000
ReplyTo: nhiday...@gmail.comSubject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.Kita lanjutkan cerita membangun PIM-1. Kami sebagai Direksi yg baru diangkat pd tg 24 Febr.1982, masing2 belum mengenal medan pekerjaan yg sdh dikerjakan oleh Tim Proyek Pusri di Lhok Seumawe dan bagaimana caranya utk dpt menyelesaikan proyek PIM itu. Maka kami jadwalkan untuk sgr melihat lapangan. Sth melihat lapangan di Kr. Geukeuh ternyata kondisi lapangan masih rawa-rawa. REK masih bertempur dg lumpur karang laut hasil pengerukan pelabuhan AAF. Sibuk membuat/memperbaiki bendungan kocoran dari corong Dredger agar spy lumpur tsb tdk lolos keluar daerah yg hrs direklamasi. Sungai Kr. Geukeuh masih mengalir melingkar dari arah timur jambatan Kr.Geukeuh kearah barat mengelilingi daerah rawa yg akan ditimbun. Direncanakan Sei Kr. Geukeuh akan dirubah alirannya spy terus lurus dari Jembatan itu kearah muara baru di sebelah utara pantai laut. Utk pekerjaan tsb hrs minta izin dulu ke Direktorat Sungai, PU di Jkt. Ternyata blm ada studinya utk rerout sungai itu. Maka sgr diurus dan disiapkan studinya utk memohon izin dari instansi berwenang. Tentu saja semua pekerjaan REK hrs dikontrol oleh Site Mgr Proyek PIM, krn kontrak PIM dg REK itu. Cost & Fee, jadi setiap pengeluaran biaya utk pekerjaan tsb hrs disetujui PIM. Krn Site Mgr yg menjabat adalah staff Pusri dan berkeinginan kembali ke Pusri, kami sgr mengangkat ir.Prasytianto (asal Pusri yg bersedia pindah menjadi karyawan PIM.) Demikian juga pejabat Proyek Mgr asal Pusri ingin kembali ke Pusri dan digantikan oleh saya sendiri sebagai Dirtek. Krn semua pambelian local material, penunjukan sub-kotraktor yg dilakukan REK dibayarnya oleh PIM, maka semua Requisition for Bidder hasil evaluasi lelang serta Comitment/PO hrs di approve oleh PIM. Dan itu menjadi tugas Proyek Mgr/Dirtek. Apa lagi utk yg bernilai besar, semua Commitment/PO hrs disetujui sesuai Prosedur Pemerintah. Dg urutan PIM, trs Dirjen IKD, trs Menteri Perindustrian dan terus ke Tim apa namanya .. Saya lupa/ Tim Pengendalian Pengadaan Milik Pemerintah. Tiap surat permohonan disertai surat dan dibahas bersama dg Dirjen dan terus sampai ke Tim tsb. Kalau dilapangan umumnya nilainnya kecil, sehingga cukup di-approvee oleh Site Mgr, seperti bali pasir, kontraktor lokal/tenaga kasar dll. Dg demikian saya diharuskan kerja didua tempat antara Jkt dan LSM. Sangat sibuk luar biasa, sehingga utk mengadakan Kick-off Meeting dg TEC yg seharusnya diadakan di TEC Office, saya minta spy diadakan di Jkt. Dg demikian TEC mendatangkan banyak staffnya ke Jkt. (Bersambung)Powered by Telkomsel BlackBerry®From: nhiday...@gmail.comDate: Sat, 2 Aug 2014 13:50:15 +0000
Sangat menarik membaca penuturan Pak Nur Hidayat tentang sejarah masa lalu PIM, termasuk perpupukan nasional. Dilengkapi dengan intrik-intrik politik yang terjadi ketika itu. Saya mendengar beberapa gosip di masa lalu, tapi kini mendengarkannya langsung dari pelaku sejarahnya. Silahkan dilanjutkan Pak Nur. Mungkin nanti bisa dilengkapi dengan asal mula subsidi pupuk dan, menurut pendapat Pak Nur, bagaimana sebaiknya perlakuan terhadap subsidi tersebut sekarang. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Yang paling penting dalam setiap hubungan bukanlah apa yang kita terima, melainkan apa yang kita berikan ~ Eleanor Roosevelt.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Dear Pak Iqbal & All,
Walau dimulai dengan kisah-kisah yang heroik, pada akhirnya bagi sebagian kita memang tak terjadi ‘happy ending’ dari perjalanan bersama PIM. Bersama berjalannya sang waktu dan karena alasan/pertimbangan masing-masing, sebagian kita memilih arah yang berbeda. Sebagian pergi membawa harapan-harapan akan kehidupan yang lebih baik ditempat lain. Sebagian lain karena ingin keluar dari zona nyaman yang dirasa mengungkung. Tapi tak kurang pula yang berhasil menyelesaikan masa tugasnya sampai usia pensiun. Apapun pertimbangannya, kini sebagian besar kita yang bergabung di halloPIM bukan lagi karyawan PIM. Kita hanya disatukan oleh kenangan manis masa lalu, dimana ada keinginan untuk tetap melestarikan semampu kita hubungan silaturahim yang telah terbina selama ini. Saya setuju dengan pak Iqbal, mari lupakan (jika ada) sisi buruknya, kita utamakan kenangan yang baik-baik saja. Saya percaya Pak Iqbal dan teman-teman halloPIM telah memberikan yang terbaik untuk PIM dimasa lalu. Kita semua telah memberikan yang terbaik dan kini saatnya memetik buah kenangan manisnya. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Luar biasa! Kisah-kisah dari masa lalu terungkap kembali. Selalu menarik mengikuti apa yang diperbuat oleh para pelaku yang menorehkan atau mengubah jalan sejarah. Dari sejarah kita belajar sesuatu dan memahami mengapa suatu peristiwa terjadi. Karena menyinggung Proyek Rehabilitasi PGM Silihnara, saya yang juga pelaku sejarah yang terlibat langsung, walau peranannya kecil, ingin juga berbagi cerita/komentar.
Rehabilitasi PGM Silihnara pada awalnya hanya sebatas perbaikan (rekondisi) peralatan yang sudah ada. Tak ada perubahan proses. Saya yang pada waktu itu menjabat sebagai Kasi Bengkel Mesin ditunjuk merangkap jabatan sebagai Site Manager Rehabilitasi (Tahap-1). Posisi yang keren juga waktu itu karena saya di beri kendaraan operasional (jeep hardtop) lengkap dengan supir. Mungkin satu-satunya Kasi yang punya supir waktu itu…LOL. Karena tugas tersebut saya sering ke lapangan di Takengon dan menginap disana.
Di sepakati waktu itu bahwa permasalahan utama pabrik gula itu terletak pada Mesin Giling tebunya. Terdapat 2 mesin giling yang rendemennya rendah sehingga perlu rekondisi. Keseluruh rol giling dan bantalannya kami bawa ke perbengkelan PIM untuk di rekondisi. Kami hanya lakukan pengelasan permukaan sebelum di-machining kebentuk semula. Rendemen naik, tapi tetap tak sesuai harapan. Kalau tidak salah kemudian ada tenaga ahli di datangkan dari Pasuruan. Ahli-ahli pabrik gula. Kesimpulannya sistem yang ada sulit di perbaiki. Perlu perubahan sistem dari proses terbuka menjadi tertutup. Proyek Rehabilitasi Silihnara memasuki tahapan yang lebih serius. Waktu itu saya tak menyangka bahwa perubahan proses tersebut ternyata mengubah total pabrik gula tersebut. Hampir seluruh peralatan pabrik lama dibongkar dan diganti yang baru.
Organisasi proyek dirombak total (Tahap-2). Pekerjaan engineering dilakukan oleh PT. Imakon (dan Biro teknik PIM), sementara pekerjaan lapangan oleh PT. Imabritama (dan Bagian Perbengkelan PIM). Kedua anak perusahaan itu baru saja dibentuk. Saya yang waktu itu sudah promosi menjadi Kabag Perbengkelan agar lebih fokus ke pabrik PIM1 tidak lagi menjadi Site Manager dan digantikan oleh Ir. Minardi yang juga adalah salah satu Direktur Imabri. Tapi seluruh pekerjaan fabrikasi peralatan tetap dilakukan di bagian perbengkelan PIM. Tiba-tiba saja kami menjadi sangat sibuk karena harus melakukan fabrikasi peralatan sebuah pabrik gula mini baru, sambil tetap harus fokus melayani pemeliharaan pabrik PIM-1. Saya, kabag perbengkelan baru yang sebelumnya relatif punya pengalaman terbatas, tiba-tiba dihadapkan pada 2 kegiatan besar yang menyita perhatian.
Nanti dilanjutkan lagi. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Saya lanjutkan pengalaman sendiri tentang rahabilitasi PGM Silihnara.
Pada awalnya saya tidak terlalu mengerti tentang pabrik gula mini. Ketika menjadi site manager rehab tahap-1, kami banyak berdiskusi dengan pihak PGM untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dan peralatan apa saja yang rusak. Seingat saya kami fokus pada mesin giling tebu dan memasang pompa air baru di water intake. Dugaan saya, rehap tahap-1 gagal karena disain pabrik tersebut memang kurang handal sejak awal. Itu pula yang mendasari putusan rehab tahap-2 yang mengubah seluruh proses. Saya kaget juga ketika belakangan mengetahui bahwa perubahan proses pabrik tersebut ternyata membongkar hampir seluruh pabrik dan mengganti dengan yang baru. Total seluruhnya! Selain peralatan utama juga ditambahkan peralatan boiler yang sumber energinya berasal dari pembakaran ampas tebu. Boiler ini ternyata gagal karena tak tersedia ampas tebu yang cukup kering untuk dijadikan bahan bakar. Akibatnya sejak awal digunakan kayu kering. Dapat dibayangkan upaya untuk menyediakan kayu bakar dalam jumlah yang memadai, terutama karena di Silihnara sering turun hujan.
Kami di bagian perbengkelan jadi sibuk sekali. Personal begian perbengkelan dibagi menjadi 3 grup. Ada yang bertugas dan tingal dilapangan (Silihnara), sebagian mengerjakan fabrikasi bengkel, sementara sebagian lain fokus melayani pabrik PIM1. Saya jarang kepalangan, hanya sesekali ketika menemani Dirprod (Pak Suardin). Jadi saya tak begitu mengikuti perkembangan disana. Pekerjaan di perbengkelan sangat menyita waktu saya. Cukup banyak peralatan baru yang di fabrikasi disini. Sebenarnya kami tak begitu kesulitan, karena perbengkelan punya peralatan yang cukup lengkap. Kesulitan hanya ketika membuat tube sheet untuk heat-exchanger, karena kita tak punya mesin bor khusus yang presisi. Tapi bisa diakali tentunya, walau saya tak menyarankan dilakukan dalam kondisi normal.
Kesulitan lainnya justru datang dari bagian lain (engineering). Seringkali gambar fabrikasi yang kami terima ternyata disainnya belum final. Akibatnya banyak peralatan yang sudah hampir selesai di fabrikasi di bongkar lagi, di fabrikasi ulang karena ada perubahan disain. Membongkar dan kemudian fabrikasi ulang peralatan yang sudah hampir jadi bukan pekerjaan mudah. Jauh lebih sukar dan memakan waktu. Amburadul pokoknya. Apalagi kami seperti dikejar-kejar waktu. Unit fabrikasi terpaksa bekerja shift. Pekerjaan saya yang paling sulit adalah memotivasi ulang para pekerja (fabricator) yang mulai lelah dan dihinggapi rasa frustrasi karena ketidak-pastian pekerjaan.
Saya rasa persoalan bermula dari sini. PIM bukanlah perusahaan rancang-bagun & perekayasaan. Unit kerja yang ada ketika itu di siapkan hanya untuk menangani pemeliharaan pabrik. Sebagian besar tenaga kerja adalah pemula. Sebagian kecil lainnya berpengalaman untuk pemeliharaan pabrik, bukan membangun dari awal sebuah pabrik baru. PIM tak memiliki tenaga ahli yang memadai dan awam dibidang disain pabrik gula. Kita memang memakai jasa beberapa tenaga ahli, tapi saya meragukan kapasitas/kapabilitas mereka, terbukti dengan banyaknya perubahan disain yang terjadi ditengah jalan.
Ketika kemudian mengikuti dari dekat bagaimana REK/TEC ketika menangani pekerjaan engineering/perekayasaan PIM2, saya menyadari bahwa PIM sebenarnya telah melakukan ‘mission-impossible’ ketika mengambil peran lakukan rehabilitasi/renovasi (tahap-2) PGM Silihnara.
Nanti disambung lagi. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Ok Pak Nur, nanti saya lanjutkan sebagai selingan dari kisah pak Nur yang lebih menarik. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Dear Pak Nur & All, saya lanjutkan ya..
Silihnara (3)
Pada waktu itu alasan rendemen rendah di laporkan karena mesin giling tebunya tak bekerja sesuai harapan. Sekurang-kurangnya seperti itu yang di sampaikan pihak managemen Silihnara. Saya lupa apakah rendemen kadar gula tebu juga rendah. Maklum, saya bukan ahli soal itu dan perhatian saya lebih fokus pada sisi mekanikalnya. Tapi mengenai kapasitas pabrik yang terlalu kecil mungkin ada benarnya. Buktinya 2 PGM sejenis lainnya yang terdapat di Lawang-Bukit Tinggi dan Pontianak juga dalam kondisi “hidup segan mati tak mau.” Sekali waktu saya sempat berkunjung ke PGM Lawang dan merasa prihatin melihat pabrik itu kondisinya tak berbeda dengan Silihnara. Sebenarnya, kalau sukses melakukan rehabilitasi di Silihnara, maka tugas PIM akan di lanjutkan di 2 PGM lainnya.
Saya bisa mengerti mengapa pemerintah meminta bantuan PIM untuk lakukan rehab terhadap PGM Silihnara. Kalau tidak salah PGM adalah proyek pemerintah untuk bantu petani transmigrasi. Ketiga PGM itu memang di disain berskala kecil untuk luas kebun tebu yang memang terbatas. Lokasi PIM tak jauh dari Silihnara. PIM punya fasilitas perbengkelan memadai dan masih punya banyak peralatan/sisa material proyek PIM1 yang dapat dimanfaatkan untuk PGM Silihnara. Menurut saya, rehab (tahap-1) masih sesuai dengan kemampuan PIM. Kesalahan terjadi ketika PIM kemudian memutuskan untuk lanjut ketahap-2. Kita kemudian mengubah total disain pabrik, membangun pabrik yang sama sekali baru disana. Tak menyadari bahwa kita mungkin bukan ahlinya. Sistem proses terbuka mungkin cocok untuk kapasitas terbatas seperti PGM, minimal seperti itu seharusnya ketika PGM digagas. Hanya saja kita kemudian mengubahnya menjadi sistem tertutup. Menjadikan mirip dengan pabrik PIM berskala mini. Mungkin kalau waktu itu pekerjaan RB&P diserahkan pada REK akan lebih baik hasilnya, walau saya tetap saja ragu terhadap kemampuan REK sendiri saat itu.
Kami di perbengkelan PIM nyaris frustrasi karena sering terjadi change order akibat perubahan disain. Pernah peralatan “Pan Masakan” yang hampir selesai harus di rombak total karena ukuran tube yang dipakai ternyata berubah. Kalau tidak salah ada beberapa unit. Peralatan lain ukuran (pipe) nozzle-nya yang berubah, menjadi lebih besar atau kecil. Atau posisinya diubah. Terpaksa di bongkar ulang. Duh ribetnya. Pernah melihat peralatan yang penuh tambalan seperti baju pengemis? Untung kemudian bisa disamarkan dengan pengecatan..…LOL. Waktu itu saya sempat kesal pada teman-teman di engineering. Tapi belakangan bisa memaklumi karena mereka juga harus mengerjakan sesuatu yang juga tak dikuasai sepenuhnya. Mereka memang dibantu oleh penasihat ahli dari Pasuruan, yang ternyata juga tak cukup ahli…LOL.
Waktu itu saya punya penasehat ahli lain dari TEC, lupa namanya. Hanya Dep. Operasi (Mr. Mandai), Dep. Pemiliharaan (Mr. Hashimoto), Biro Tehnik (Mr. Kanamoto?) dan Bagian Perbengkelan (Mr. Okamoto?) yang punya penasihat ahli orang Jepang. Penasehat Jepang saya lumayan stress melihat cara kerja kami menangani fabrikasi peralatan PGM Silihnara. Mirip cara kerja bengkel las kecil di luaran. Tapi pelaut handal tidak lahir dari lautan yang tenang, bukan?...LOL. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of nhiday...@gmail.com
Sent: Monday, August 11, 2014 7:42 AM
To: Hall...@googlegroups.com
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.
Lankjutkan pak Wimpie, saya baru dengar cerita yg menarik ini, krn saya sdh di Pusri. Tapi sejak awal saya sdh menyimpulkan bhw renovasi Silinara tsb tdk feasible krb masaalah randement kadar gula rendah dan kapasitas produksi kecil. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
From: "Wimpie" <wim...@centrin.net.id>
Sender: hall...@googlegroups.com
Date: Mon, 11 Aug 2014 07:22:35 +0700
To: <hall...@googlegroups.com>
ReplyTo: hall...@googlegroups.com
Subject: RE: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.
Silihnara (2)
Saya lanjutkan pengalaman sendiri tentang rahabilitasi PGM Silihnara.
Pada awalnya saya tidak terlalu mengerti tentang pabrik gula mini. Ketika menjadi site manager rehab tahap-1, kami banyak berdiskusi dengan pihak PGM untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dan peralatan apa saja yang rusak. Seingat saya kami fokus pada mesin giling tebu dan memasang pompa air baru di water intake. Dugaan saya, rehap tahap-1 gagal karena disain pabrik tersebut memang kurang handal sejak awal. Itu pula yang mendasari putusan rehab tahap-2 yang mengubah seluruh proses. Saya kaget juga ketika belakangan mengetahui bahwa perubahan proses pabrik tersebut ternyata membongkar hampir seluruh pabrik dan mengganti dengan yang baru. Total seluruhnya! Selain peralatan utama juga ditambahkan peralatan boiler yang sumber energinya berasal dari pembakaran ampas tebu. Boiler ini ternyata gagal karena tak tersedia ampas tebu yang cukup kering untuk dijadikan bahan bakar. Akibatnya sejak awal digunakan kayu kering. Dapat dibayangkan upaya untuk menyediakan kayu bakar dalam jumlah yang memadai, terutama karena di Silihnara sering turun hujan.
Kami di bagian perbengkelan jadi sibuk sekali. Personal begian perbengkelan dibagi menjadi 3 grup. Ada yang bertugas dan tingal dilapangan (Silihnara), sebagian mengerjakan fabrikasi bengkel, sementara sebagian lain fokus melayani pabrik PIM1. Saya jarang kepalangan, hanya sesekali ketika menemani Dirprod (Pak Suardin). Jadi saya tak begitu mengikuti perkembangan disana. Pekerjaan di perbengkelan sangat menyita waktu saya. Cukup banyak peralatan baru yang di fabrikasi disini. Sebenarnya kami tak begitu kesulitan, karena perbengkelan punya peralatan yang cukup lengkap. Kesulitan hanya ketika membuat tube sheet untuk heat-exchanger, karena kita tak punya mesin bor khusus yang presisi. Tapi bisa diakali tentunya, walau saya tak menyarankan dilakukan dalam kondisi normal.
Kesulitan lainnya justru datang dari bagian lain (engineering). Seringkali gambar fabrikasi yang kami terima ternyata disainnya belum final. Akibatnya banyak peralatan yang sudah hampir selesai di fabrikasi di bongkar lagi, di fabrikasi ulang karena ada perubahan disain. Membongkar dan kemudian fabrikasi ulang peralatan yang sudah hampir jadi bukan pekerjaan mudah. Jauh lebih sukar dan memakan waktu. Amburadul pokoknya. Apalagi kami seperti dikejar-kejar waktu. Unit fabrikasi terpaksa bekerja shift. Pekerjaan saya yang paling sulit adalah memotivasi ulang para pekerja (fabricator) yang mulai lelah dan dihinggapi rasa frustrasi karena ketidak-pastian pekerjaan.
Saya rasa persoalan bermula dari sini. PIM bukanlah perusahaan rancang-bagun & perekayasaan. Unit kerja yang ada ketika itu di siapkan hanya untuk menangani pemeliharaan pabrik. Sebagian besar tenaga kerja adalah pemula. Sebagian kecil lainnya berpengalaman untuk pemeliharaan pabrik, bukan membangun dari awal sebuah pabrik baru. PIM tak memiliki tenaga ahli yang memadai dan awam dibidang disain pabrik gula. Kita memang memakai jasa beberapa tenaga ahli, tapi saya meragukan kapasitas/kapabilitas mereka, terbukti dengan banyaknya perubahan disain yang terjadi ditengah jalan.
Ketika kemudian mengikuti dari dekat bagaimana REK/TEC ketika menangani pekerjaan engineering/perekayasaan PIM2, saya menyadari bahwa PIM sebenarnya telah melakukan ‘mission-impossible’ ketika mengambil peran lakukan rehabilitasi/renovasi (tahap-2) PGM Silihnara.
Nanti disambung lagi. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of Wimpie
Sent: Sunday, August 10, 2014 8:28 PM
To: hall...@googlegroups.com
Subject: RE: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.
Silihnara (1)
P.Nurhidayat yg saya banggakan...
Senang sekali membaca tulisan bapak Nur walaupun saat ini saya adalah satu satunya trainee yg masih ada dizona nyaman yg bapak bangun hhee...
Bicara soal listrik, ada satu hal yg sangat menarik bagi saya di komplek perumahan ini pak yaitu jaringan listrik yg sudah ditanam dibawah tanah/underground saya salut dengan perencanaan ini padahal ini dibangun sudah 30 tahun yg lalu sungguh bapak sangat visioner,sehingga dari segi estetika sangat menarik apalagi saat ini setelah pohon pohon mahoni sudah mulai besar dan berkerak,kalau pada awal bulan maret kita berjalan disepanja
ng jogging track persis serasa dinegeri empat musim, dan sampai saat ini saya lihat tidak banyak komplek perumahan yg jaringannya dibawah tanah,saya gak tahu kenapa begitu..?
Salam dari saya pak badge T-830126
Tambahan...
(Pada bulan maret pohon pohon Mahoni yg ada dikomplek serentak berguguran,....)
Pak Bobby,
Kemarin malam terjadi fenomena supermoon di langit Jakarta dan sekitarnya. Supermoon terjadi ketika bulan berada pada titik paling dekat dari bumi. Katanya ukuran bulan terlihat 12% lebih besar dan cahaya bulan 30% lebih terang dibandingkan biasanya. Semoga fenomena itu juga bisa disakisikan dari sela pohon-pohon Mahoni di komplek perumahan PIM, Lhokseumawe. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Jadi ingat ketika di wisma jalan entrogen di nggersik, memandang bulan yang sama sambil dengarkan lagu Endang S Taurina: "hatimu seputih salju"...eh?. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Dear Pak Ahmad Bahagia,
Sebuah perjalanan karir yang panjang. Sungguh beruntung karena tak banyak orang yang diberi kesempatan menekuni satu bidang saja selama itu. Kesempatan untuk menjadikan kita seorang ahli/spesialis. Saya percaya itu sebabnya bahkan ketika di usia pensiun pak AB masih menerima tawaran pekerjaan dan masih berkarya hingga sekarang. Diantara tahun-tahun yang panjang itu kita memang sempat bersisian jalan selama beberapa tahun. Dalam perjumpaan itu mungkin saya memberikan sesuatu pada Pak AB, tapi saya juga menerima banyak. Kita belajar dari setiap orang yang kita temui dan Pak AB memberi kontribusi yang berharga dalam pembentukan jati diri saya yang sekarang. Untuk itu saya juga berterima kasih.
Penilaian saya, pak AB adalah seorang pekerja keras, selalu bersemangat, gesit, ramah, mudah bergaul dan banyak menghadirkan kegembiraan. Menurut saya itu sebuah bakat yang teramat istimewa. Semoga sekeluarga tetap beroleh lindungan Nya. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Silihnara (4)
Untuk merangkai jadi satu tulisan saya tentang Silihnara, maka saya berikan sub-judul ‘Silihnara’ secara berseri. Saya lanjutkan.
Seperti di ceritakan sebelumnya, secara tehnis PIM telah melakukan ‘mission impossible’ ketika ditugaskan rehab PGM Silihnara. Saya tidak mengetahui sepenuhnya latar belakang politik penugasan tersebut. Hanya yang diceritakan para pelaku sejarah, antara lain seperti yang disampaikan Pak Djarot ketika itu atau yang sekarang kembali diceritakan oleh Pak Nur Hidayat. Saya punya analisa sendiri, mungkin benar tapi bisa jadi meleset. Maklum saya masih yunior ketika itu.
Kita telah mendengar kisah sukses dan heroik tentang pembangunan pabrik PIM1. Sebagian dari kita disini adalah pelaku/saksi sejarah. Ekses dari proyek PIM1 adalah berkumpulnya banyak ahli/tenaga kerja melebihi kapasitas yang mampu diserap pabrik PIM1 saja. Sebagai perbandingan ketika itu PIM punya karyawan lebih dari 1300 orang, sementara disebelah terdapat pabrik dengan kapasitas sama, AAF, hanya punya 800 karyawan. Jelas ini masalah. Seperti pernah dijelaskan oleh menajemen, kelebihan karyawan itu karena Direksi PIM berasumsi selesai pabrik PIM1 akan segera dilanjutkan dengan pembangunan pabrik PIM2. Asumsi yang ternyata meleset. Lalu dikemanakan kelebihan karyawan itu?
Kalau tak salah menilai, seperti tentara, sebagian dari karyawan PIM adalah mereka yang berpengalaman sebagai pasukan pertahanan/keamanan, cocok diserahi tugas operasi/pemeliharaan pabrik. Sebagian lainnya adalah pasukan tempur yang disiapkan untuk menangani proyek konstruksi baru. Ketika tak ada peperangan didepan mata, maka pasukan tempur tadi jelas akan bermasalah jika dibiarkan menganggur. Karena itu perlu diciptakan ladang pertempuran baru. Saya duga berdirinya banyak anak perusahaan dan proyek PGM Silihnara adalah solusi yang diambil ketika itu.
Saya tak hendak menilai/menghakimi keputusan managemen PIM itu. Setiap orang diberi-tanggung jawab sejarah dan mereka tentu telah menunaikan sesuai perspektif masing-masing dan sesuai zamannya. Lagi pula saya hanya pemula waktu itu, belum banyak mencicip asam-garam. Jadi keputusan yang diambil bisa saja sudah benar, sesuai dengan kondisi/situasi saat itu. Kalau boleh lakukan kritik, menurut saya, kekurangan kita adalah karena sebagian dari kerumunan yang ada kualifikasinya dibawah standar. Tak mudah menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. Bahkan diantara teman-teman sering muncul ungkapan PGPL.
Rehab PGM Silihnara, Anak Perusahaan, atau bahkan proyek PIM2, menurut penilaian saya, bukan keputusan keliru. Kalau hasilnya tak maksimal, lebih karena ketidakmampuan mencapai tujuan bersama. Setelah proyek PIM1 selesai secara mengagumkan, kita kemudian kurang berhasil menjadi sebuah tim yang solid untuk mengulang kisah sukses tersebut. Kekurang-kompakan terlihat sejak pelaksanaan Rehab PGM Silihnara, pengelolaan Anak Perusahaan dan mungkin juga proyek PIM2. Saya sebagai salah seorang pelaku dari momen-momen bersejarah tersebut merasakan bahwa kita tak pernah lagi menjadi tim yang sama dengan ketika menyelesaikan proyek PIM1. Itu sebabnya cerita bersambung pak Nur Hidayat menjadi bermakna.
Saya mohon maaf kalau self-criticism ini mungkin kurang menyenangkan. Tapi generasi mendatang perlu belajar dari sejarah. Salam.
P.Wimpie....
Upaya untuk membentuk tim yang solid pada waktu itu sudah ada upaya dari Manajemen dengan dilaksanakannya program Team Building Corporate Outbound yg kita lakukan di Cisaat Sukabumi bersama yayasan Wanadri, mungkin pelatihan ini belum insight kita maknai, mohon maaf saya ikut nimbrung sedikit pak, menurut saya pelaksanaan pembangunan proyek pim-2 termasuk proyek gagal dibanding dg pim-1.
Salam
Pak Bobby,
Upaya membentuk tim yang solid berulangkali dilakukan. Dimulai dari program TQC yang sudah coba di terapkan sejak PIM1 masih berstatus proyek. Termasuk program Tim Building yang pak Bobby katakan. Ketika mengamati riwayat hidup(CV) sendiri, saya sering takjub melihat benyaknya jumlah pelatihan yang pernah saya ikuti selama bekerja di PIM. Tentu karyawan lain juga mengalaminya. Tapi semua program tersebut tak maksimal hasilnya. Buktinya kita tak pernah menjadi tim yang solid. Saya menilai penyebabnya lebih keakar masalah, yaitu faktor manusianya. Penyebabnya mungkin proses seleksi penerimaan karyawan yang harus berdamai dengan situasi dan kondisi. Pernah mendengar istilah PGPL dilingkungan teman-teman?
Mengenai proyek PIM2, sudah saya sampaikan penilaian awal saya dalam tulisan sebelumnya. Sama seperti proyek-proyek lainnya setelah PIM1 selesai, hampir semuanya tak sesuai harapan. Bahkan untuk proyek-proyek yang termasuk sukses seperti optimalisasi dan HRU sekalipun, saya yang juga sebagai pelaku ikut terlibat dalam konflik dan intrik-intrik internal. Belum lagi sepanjang saya bertugas sebagai procurement representative di kantor PIM Tokyo.
Saya sepakat dengan pak Bobby, bahwa proyek PIM2 telah gagal mencapai target-target utamanya: Waktu (Schedule), Mutu (Quality) & Biaya (Cost). Mengenai penyebab obyektifnya kita bisa berdiskusi panjang lebar. Mungkin saya dan para pelaku sejarah yang terlibat langsung dalam proyek itu bisa menjelaskan suatu waktu nanti.
Menurut penilaian saya (subyektif sifatnya), proyek PIM2 sebenarnya sudah dirundung masalah sejak dari awal sampai akhir proyek. Mulai dari Bahan Baku (Gas), Sumber Dana, Keamanan, dll. Masalah dari internal adalah karena kita tak pernah menjadi satu tim yang padu untuk menyukseskannya. Semua kita. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Maaf, saya lakukan 2 kali kesalahan ketik. Bukan PGPL tapi maksudnya PGPS. Mungkin semua sudah mengetahui maksudnya. Salam.
Bang Sjamsul, saya enggan menyebutkan kepanjangan singkatan itu karena terkesan vulgar. Kuatir ada yang tersinggung. Maaf, karena itu ungkapan yang umum dan sering saya dengar sewaktu bekerja dulu. Tentu saja tak semua disama-ratakan. Banyak juga yang baik lho, hanya mereka cenderung tenggelam di kerumunan. Menjadi apatis atau malah pergi.
Bang Sjamsul (BS), karena sudah terlanjur bunyi, menurut saya adalah contoh paling bagus. Ketika pertamakali berjumpa, pangkat BS adalah Lakda (koreksi kalau saya salah) di Bagian Perbengkelan. Saya melihat BS sebagai seorang yang paling ‘niat’ belajar dan punya potensi untuk maju. BS merupakan salah seorang yang pertama saya promosikan menjadi Karu Bagian Perbengkelan. Tapi tidak mudah menjadi Karu ketika harus berhadapan dengan kerumunan, kan? BS kemudian saya tugaskan menyusun perencanaan/pengendalian khusus perbengkelan dan berhasil membuat program komputer khusus untuk itu. Padahal ketika itu PC masih sesuatu yang baru. Saya memperoleh 1 unit PC dari PT. Imakarya karena peranan/posisi saya sebagai Komisaris disana. Karena dapat pekerjaan pengecatan pabrik, Dirut IK kemudian sumbang 1 unit PC untuk perbengkelan (pertamakali saya lakukan kongkalingkong... LOL). Belum banyak yang bisa mengoperasikan komputer dan BS sudah membuat programnya.
Ketika saya di Proyek PIM2, saya merasa sangat bangga ketika mendengar BS diterima mengikuti program S2 di ITB. Saya rasa Pak Bambang Sedewo yang menjadi mentor BS selanjutnya juga merasa sangat bangga dengan pencapaian itu. Saya mengaku salah. BS bahkan lebih hebat dari dugaan saya sebelumnya. Tapi dalam beberapa kali diskusi saya turut merasakan betapa sukarnya untuk bisa kuliah dengan baik. Berbagai hambatan (barrier) muncul, bahkan dari manajemen perusahaan sendiri. Pernah tercetus rasa heran saya karena BS merupakan satu-satunya karyawan putera daerah yang bisa melangkah sejauh itu, tapi tak mendapat cukup dukungan memadai dari perusahaan. Prihatin sekali. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
Dear pak Wimpie,
Ternyata ramai juga yang membantu saya. Salah satu dari teman-teman yang saya maksudkan adalah pak Aziz Pazsa yang buat surat usulan ke dirut.
Salam, srz.
...
Dear Bang Sjamsul,
Saya hanya melihat kerlipan cahaya waktu itu. Setelah itu pak Dewo yang mengasah sehingga kerlipan itu menjadi sinar yang terang. Pak Dewo memang punya talenta itu. Saya percaya tentu banyak pihak juga yang membantu BS sewaktu kuliah dulu, termasuk Pak Aziz Pasza seperti yang disampaikan. Sama seperti pak Dewo, saya juga telah mengenal pak Aziz sejak awal keberadaan kami di PIM. Sudah berbakat jadi pemimpin sejak awal, ketika menjadi kepala suku rombongan traninees PIM. Beliau orang baik dan tulus.
Keprihatinan saya tadi karena teringat ‘curhat’ BS dulu sewaktu masih kuliah. Syukurlah kalau kemudian bisa diatasi dengan baik. Oh ya, sejak BS kembali ke Aceh kita tidak pernah bertemu lagi. Kegiatan apa yang dilakukan sekarang? Masih aktifkah atau sudah santai menikmati tabungan? (LOL). Atau malah sedang rajin mengumpulkan tabungan akhirat seperti yang Pak Ahmad Bahagia sarankan? Salam.
Dear Uda Raflis & All,
Berbahagialah karena bisa menjadi spesialis/profesional. Tak banyak orang yang berkesmpatan melakukannya. Kita bisa menekuni pekerjaan yang benar-benar diminati dan menjadi ahli. Mengikuti rekam jejak uda Raflis, saya yakin bapak sudah menjadi spesialis/profesional sekarang. Kekayaan bukan segala-galanya, terutama karena imbalan menjadi spesialis adalah kepuasan terhadap apa yang kita kerjakan.
Ketika kita bekerja di perusahaan sebesar PIM, kalangan spesialis memang kurang mendapat perhatian. Jika Anda seorang welder (tukang las), spesialis, maka jejang karir menjadi terbatas, begitu pula imbal hasilnya. Sewaktu masih di PIM dulu beberapa kali diupayakan agar profesi spesialis bisa memperoleh penghargaan yang sesuai, tapi selalu tak sesuai harapan. Entah sekarang. Mungkin pak Bobby bisa bercerita, apakah welder kita masih orang-orang yang sama dengan dulu? Apakah sudah ada perbaikan jenjang karir/penghasilan setelah sepanjang hidup menekuni pekerjaan yang sama?
Saya sendiri dididik untuk profesi spesialis. Tadinya saya merasa sudah dijalur yang benar ketika ditempatkan dibagian perbengkelan pada awal operasi pabrik PIM1. Jabatan saya sebagai Kasi Bengkel Mesin, setahun kemudian Kabag Perbengkelan. Saya menikmati pekerjaan tersebut dan merasa tertantang karena membangun (setup) sesuatu yang baru di bidang yang memang saya pahami. 5 tahun kemudian semua itu buyar ketika atasan saya Kadep Pemeliharaan (Pak Otang) mutasi ke anak perusahaan dan saya (bersama pak Susanto Tirto) ikut di mutasikan bersama beliau. Jujur saja saya kurang berkenan waktu itu karena berbagai alasan. Keberatan saya didengar oleh pak Dirprod (Pak M. Djaenuddin) dan saya kemudian di pindah lagi jadi staf beliau. Pertama kali saya berkantor di barak (eks konstruksi) bersama staf-sataf direksi yang lain.
Sejak itu saya tercerabut dari karir spesialis, masuk kedunia kaum generalis. Tapi tak seluruhnya berjalan buruk. Kita manusia diberi kemampuan untuk beradaptasi yang sudah terasah sejak zaman purba agar bisa bertahan (survival). Ternyata kehidupan berwarna-warni bukannya tak menyenangkan sama sekali. Tergantung kita juga akhirnya. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali
From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of Raf Raflis
Sent: Thursday, August 14, 2014 6:08 PM
To: hall...@googlegroups.com
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.
Yth Pak Cipto,
Dear Pak Eddy & All,
Salut pada pak Eddy Yatiman juga tentu saja, karena bapak adalah bagian dari mereka. Saya punya ungkapan untuk teman-teman itu: Mereka bukan tipikal individu yang terlena dengan zona nyaman. Mereka tipe penjelajah, pemberani yang selalu “memelihara” kegelisahan. Salam.
"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali