Perjuangan membangun PIM-1.

301 views
Skip to first unread message

nhiday...@gmail.com

unread,
Jul 31, 2014, 5:18:01 AM7/31/14
to hall...@googlegroups.com
Mengapa pembangunan PIM-1 itu saya sebut perjuangan ? Dlm rangka kemandirian suatu bangsa, secara bertahap pemerintah ketika itu bermaksud utk memberi tantangan kpd kemampuan putra bangsa, yaitu memberi porsi mengembangkan kemampuan engineering & construction. Makanya ketika itu kontrak pembangunannya dibagi dua. Basic & detail Engineering dan Procuremen Foreign equipmen diberikan sama TEC. Tapi local material procuremen & Construction hrs dikerjakan oleh REK atas appoval PIM. Kontrak dg REK hanya dibayar secara lumpsum utk jasanya saja. Jadi tanggung jawab PIM sangat besar. Adapun budget utk keseluruhan pembangunan itu hanya diberikan lebih kecil dp biaya utk AAF. Biaya supervisi & start-up oleh TEC sdh disiapkan dlm budget, yg sdh tentu secara keseluruhaan biayanya lebih hemat/rendah dibanding total cost proyek AAF.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

ansir nz

unread,
Jul 31, 2014, 8:30:54 PM7/31/14
to hall...@googlegroups.com
Alhamdulillah,
Semoga perjuangan bapak-bapak Direksi dan team PIM-1 diterima Allah SWT. dan bermanfaat diakherat kelak.
Salam hormat,
Anzir Simabur Nizam.
--------------------------------------------
Pada Kam, 31/7/14, nhiday...@gmail.com <nhiday...@gmail.com> menulis:

Judul: [HalloPIM] Perjuangan membangun PIM-1.
Kepada: "Hall...@googlegroups.com" <hall...@googlegroups.com>
Tanggal: Kamis, 31 Juli, 2014, 4:18 PM
--
"BERPIKIR POSITIF, BERBUAT IKHLAS, BERTUTUR BIJAK"

HalloPIM versi facebook untuk berbagi koleksi foto di: http://www.facebook.com/groups/513695411978246/
My Blog: http://ibelievecanfly.blogspot.com/
Tabungan Sosial PMPIM di Bank MANDIRI No. Rekening: 130 00
12356567 an ALAN DJUHERLAN.
CP: Alan Djuherlan:  0813 2071 7187 dan Syaharuddin
Noorhan:  0812 655 2580
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup
"HalloPIM" dari Google Grup.
Kunjungi grup ini di
http://groups.google.com/group/hallopim.

nhiday...@gmail.com

unread,
Jul 31, 2014, 11:25:53 PM7/31/14
to hall...@googlegroups.com
Krn REK ketika itu baru didirikan dan baru pertama kali dpt pekerjaan Proyek Industri Kimia, maka tenaga-tenaga engineer nya juga, sarjana yg masih muda2 dan fresh graduate serta blm ada pengalaman, sdh tentu pimpinan Rek sebagai kontraktor dan PIM sebagai owner hrs kerja lebih keras dan tegar dlm menghadapi banyak gangguan/ancaman baik dari fihak asing maupun kita sendiri. Fihak TEC beberapa kali mencoba menyiarkan issue bhw Proyek PIM bakal terlambat dan gagal. Mereka minta jg spy beberapa bagian konstruksi diberikan/dikerjakan oleh mereka. Site mgr TEC yg bertugas melaksanakan supervisi & advise kpd REK, malah hanya menjelek-jelekan REK. Rongrongan subkontraktor lokal yg belum pernah mengerjakan pekerjaan konstruksi pabrik juga menuntut/memaksa utk dpt pekerjaan di Proyek sehingga banyak pekerjaan mereka tdk diselesaikan dg baik dan mereka tinggalkan. Ada juga yg terpaksa dihentikan oleh owner/PIM krn pekerjaannya salah2 melulu dan lambat memperbaikinya. Pemerintah dan Pusri sebagai pemegang saham REK dan PIM, hanya mengandalkan kpd Pimpinan (Direksi) saja yg punya pengalaman dlm membangun Proyek di PUSRI. Ketika itu PUSRI hanya sebagai owner tapi Kontraktornya semua adalah perusahaan asing. Dg. ditunjuknya REK sebagai Kontraktor Proyek PIM, tentu saja mereka kehilangan, pekerjaannya. Jadi seolah-olah kue asing akan direbut oleh kita. Yg menyedihkan ketika itu masih banyak orang kita sendiri pessimis bhw proyek PIM akan selesai, mereka mengira proyek PIM akan gagal atau waktunya akan molor.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 1, 2014, 12:03:40 AM8/1/14
to hall...@googlegroups.com
Sangat bersyukur ketika itu, bpk Ir Hartarto, sebagai Kuasa Pemegang Saham baik REK maupun PIM sangat percaya kpd direksi PIM, sehingga apa yg kami laporkan diterimanya dg baik. Teringat ketika Dirut Rek yg pertama menjabat adalah seorang birokrat dan blm berpengalaman, diganti secara tiba2 atas usulan PIM. (Wah ini rahasiah loh, dulu tdk berani membuka rahasia ini ). Direksi PIM ketika itu diberi kepercayaaan penuh utk melakukan yg terbaik utk menyelaikan Proyek PIM. Kegoncangan yg terjadi di Pimpinan REK juga diselaikan oleh PIM. Pernah suatu ketika Site Mgr REK beserta semua engineernya pada lari ke Jkt meninggalkan Proyek, disebabkan oleh faktor keamanan di Aceh. Ketika itu kami selesaikan dg para Komandan Keamanan setempat. Pernah juga kontraktor AAF yg mengeruk bakal Pelabuhan AAF dan membuang lumpur galiannya utk menimbun rawa2 yg akan dijadikan lokasi pabrik PIM, tdk mau mengentikan pekerjaannya, walaupun lumpurnya menimbun sungai Kr. Geukeuh, sehingga banyak tambak2 ikan rakyat didaerah sungai tsb banjir dan menuntut ganti rugi kpd PIM. ( Apa perlu dilanjutkan cerita jadul ini ? )

bang...@gmail.com

unread,
Aug 1, 2014, 2:20:11 AM8/1/14
to Milis MPIM
Pak Nur Hidayat Ysh,

Mohon dilanjutkan pak Nur. Saya senang bacanya. Banyak hal yang Bapak sampaikan dan saya baru tahu latar belakangnya. Meskipun banyak teman-teman dan saya terlibat namun karena saya sebagai karyawan baru di PIM saat pembangunan PIM-1, maka tidak bisa merasakan suasana dan apa yang sesungguhnya terjadi dilevel pimpinan proyek/perusahaan. Semangat Bapak2 Direksi saat itu pembangunan PIM-1 patut menjadi contoh bagi kita semua, meski tidak mudah karena situasi dan kondisinya berbeda. Peran pak Hartarto ternyata sangat kunci dan benar2 memberikan kepercayaan penuh kepada Direksi PIM, ini suatu contoh yang juga sangat bagus sebagai "lesson learn", bagi generasi penerus. Terima kasih infonya pak Nur . . . Lanjut terus !!!

Selamat libur lebaran . . . Sambil menunggu kapan HBH atau sambungan cerita dari teman2 yang lain . . . LOL.

Salam,
Dewo

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 1, 2014, 3:39:10 AM8/1/14
to hall...@googlegroups.com
Yg sangat berkesan bagi saya ketika PIM mau membuat/memperluas Pelabuhan AAF utk dpt digunakan secara bersama oleh PIM, tentu saja saya kebingungan bagaimana mendapatkan izin dari Direktorat Pelabuhan dan Kelautan. Dan ketika saya melaporkannya kepada bpk ir. Hartarto (ketika itu beliau masih sebagai Dirjen Ind.Kimia), beliau langsung telp Dirjen Pelabuhan & Kelautan dan meminta waktu utk membicarakan rencana PIM. Bersyukur permintaan tsb diterima dan langsung saya diajak bersama beliau menghadap Dirjen Pel & Kel.di kantornya. Ketika itu dg membawa gambar dan data2 yg diperlukan pak Hartarto menyempaikan rencana PIM dan memohon izin dan disambut dg baik dan direspond ke eselon berikutnya utk diurus di Direktorat Pelabuhan &Kelautan. Begitu bersemangatnya ketika itu pak Hartarto mengajak saya utk pergi bersama menemui Dirjen Pel & Kel.

Raf Raflis

unread,
Aug 1, 2014, 11:39:34 PM8/1/14
to hall...@googlegroups.com
Yth Pak Nur Hidayat, saya sangat setuju sekali dengan saran Pak Dewo, sebagai Pimpinan tertinggi waktu itu di PIM , mungkin ada pengalaman dilapangan  yang lain bisa Bapak sampaikan lewat group ini, agar bisa diketahui oleh generasi sekarang,  
Yang jadi pertanyaan saya waktu itu, kenapa PIM tidak buat Water Intake sendiri, dan kenapa  digabung dengan AAF? walaupun akhirnya sampai sekarang water Intake tersebut dioperasikan oleh PIM sendiri..
Selamat Iedul Fitri 1435 H, mohon maaf lahir dan bathin, dan semoga Bapak beserta Keluarga sehat Selalu..amin


nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 2, 2014, 9:50:19 AM8/2/14
to hall...@googlegroups.com
Pak Raflis, suatu pertanyaan yg bagus mengapa PIM tdk punya Water Intake sendiri ? Idea pambangunan PIM itu asalnya adalah renacana Pusri utk mengembangkan pabriknya di Lhok Seumawe, Aceh, yg pada mulanya disebut Proyek Pusri V. Demikian juga asal mula AAF, dibangun dan dimulai oleh Pusri, tapi Pemerintah mengubahnya menjadi AAF dg maksud utk mempererat kerja sama dg negara2 Asean. Kemudian timbul lagi idea Pusri utk membangun Pusri V tsb disebelahnya AAF, tapi lagi-lagi Pemerintah tdk menyetujuinya ada pabrik Pusri lain di Aceh, kemudian Pemerintah membentuk Perusahaan baru dg management sendiri dan mendirikan Persero baru dg nama Pupuk Iskandar Muda. Pusri hanya boleh menjadi pemegang saham minoritas di PT. PIM. Makanya direksi barunya ditunjuk oleh Pemerintah dg Dirut: Ir. Djarot Djojokusumo (Alm),dari Petrokimia Gresik, Dirtek ir. Nur Hidayat dan Dirkeu Drs. Rochadi Prayitno dari Pusri. Adapun Proyek PIM itu sebenarnya melanjutkan Proyek Pusri V, dimana kontrak dg TEC sdh ditanda-tangani juga dg REK yg baru dibentuk. Konsep Pusri V itu hanya utk numpang fasilitas AAF, seperti Dermaga/Pelabuhan, dan Water Intake dg maksud menghemat anggaran Proyek. Malah utk Laboratorium juga hanya Lab.control. Dalam budget tsb tdk ada anggaran utk. Bengkel Pemeliharaan, Main Lab. Gd. Pertemuan, Hotel dan Mesjid.(Ada anggaran utk Mesjid yg kecil). Saya sendiri tdk in- ancharge/involve pd Proyek tsb. Budget Proyek dibuat oleh Tim Preoyek Pusri yg sdh disetujui Pemerintah, jadi kami direksi PIM yg baru dibentuk Pemerintah menerima apa yg sdh dibuat oleh Menagent Pusri. Budget yg dianggarkan tsb jumlahnya 424 juta US$. Pada waktu peralihan Management Proyek dari Pusri kepada PIM, semua biaya-biaya yg sdh dikeluarkan Pusri dibebankan semuanya kpd biaya Proyek PIM. Termasuk juga biaya jasa/ tenaga2 Pusri yg telah in-charge di Proyek itu. Ketika itu Management PIM memberikan kesempatan kpd karyawan Pusri yg sdh kerja di Proyek tsb utk memilih apakah mau tetap melanjutkan di Proyek dan menjadi Karyawan PIM atau mau kembali ke induknya yaitu Pusri. Bagi mereka yg mau melanjutkan dan berpindah menjadi karyawan PIM mendapat kenaikan pangkat. Ada juga yg memilih kembali ke Pusri, kebanyakan mereka itu karyawan tingkat staff, seperti Proyek Mgr, Site Mgr dan tenaga ahli yg senior. Pembebasan lahan/tanah, baik utk lokasi pabrik (Plant Area) maupun lokasi Perumahan (Housing Area) sdh diselesaikan oleh Tim Proyek Pusri. Walaupun para penduduk/penghuni rumahnya masih tetap tinggal dilahan yg sdh dibebaskan. Sebagian besar lahan yg dibebaskan tsb terdiri dari rawa-rawa, yg tdk mudah dilewati. Hampir 95% Plant Area hrs ditimbun dulu dg pasir laut hasil pengerukan pelabuhan AAF. Demikian juga utk Housing Area kira2 70% rawa dan sisanya adalah tanah daratan yg berupa bukit2 yg kering ditumbuhi pohon kelapa dan semak2 dan ada juga bukit batu karang, sedikit kuburan. Ada beberapa petak sawah tadah hujan. Tanah daratan dan perbukitan sebelah Selatan Sungai Kr.Geiukeuh dijadikan rumah2 utk staff dan direksi dan daerah utara sungai dijadikan Fasitas Umum seperti Mesjid, Kolam Renang, Poliklinik, Sekolah pertokoan. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Raf Raflis <mac....@gmail.com>
Date: Sat, 2 Aug 2014 10:39:33 +0700
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.

Wimpie

unread,
Aug 2, 2014, 10:27:57 AM8/2/14
to hall...@googlegroups.com

Menarik mengikuti kisah Pak Nur Hidayat tentang awal mula proyek PIM-1. Banyak hal-hal baru yang belum saya ketahui sebelumnya, termasuk peranan Pak Hartato di tahap-tahap awal proyek. Saya tambahkan sedikit kisah dari sisi pengalaman sendiri.

Saya masuk PIM pada awal Oktober 1982, bersama-sama rombongan trainees angkatan pertama. Kalau tidak salah juga merupakan rombongan karyawan yang di rekrut pertamakali, diluar yang mutasi dari Pusri. Oh ya, mungkin sudah ada beberapa karyawan lokal yang sudah lebih dahulu dari kami (?). Walau sudah diterima sejak awal, kami baru benar-benar menjejakkan kaki pertama kali di Lhokseumawe hampir setahun kemudian (Agustus 1983). Sebelumnya kami berkeliling mengikuti pelatihan di berbagai tempat. Ketika tiba di Lhokseumawe sudah berdiri beberapa rumah dinas di kompleks perumahan. Bagi yang sudah berkeluarga memperoleh rumah dinas tipe-E. Sementara kami yang “jomlo” memperoleh wisma, rumah tipe-D yang dihuni bersama-sama.

Jujur saja, tak banyak manfaat yang saya peroleh ketika hampir setahun ikut pelatihan di berbagai pabrik pupuk. Materinya masih baru sama sekali, sehingga perlu waktu (bagi saya) untuk menyesuaikan diri. Saya banyak bingung ketika diajarkan tentang proses operasi pabrik pupuk. Tapi mungkin maksudnya hanya untuk pengenalan, agar tak terlalu kaget ketika sampai di lapangan. Ketika pelatihan di Jepang, saya lebih banyak manfaatkan untuk menambah wawasan. Selama 3 bulan tinggal di sana telah mengubah saya menjadi sosok yang berbeda, tak lagi sama dengan sebelumnya. Telah terjadi transformasi mental yang fenomenal dalam diri saya ketika itu…jadi ingat revolusi mental Jokowi…LOL.

Tapi sejujurnya, saya kaget juga ketika pertama kali menjejakan kaki di plantsite. Tak seperti yang dibayangkan pada awalnya. Tapi suasana proyek yang dinamis menyebabkan saya mudah menyesuaikan diri. Ditambah karena teman-teman seperjalanan yang lumayan menyenangkan dan, tentu saja, karena Direksi yang dekat dengan karyawan. Hanya selingan ringan saja dari saya, silahkan kisahnya di lanjutkan Pak Nur. Topik yang selalu menarik. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

Raf Raflis

unread,
Aug 2, 2014, 12:07:31 PM8/2/14
to hall...@googlegroups.com
Yth Pak Nur, 
Terima kasih  keterangan Bapak yang sudah panjang lebar atas jawaban dari pertanyaan yang saya sampaikan, 
Saya usul kalau Bapak ada waktu yang lebih longgar, bagaimana kalau Bapak menulis satu Buku, Mulai dari Bangku pendidikan,hingga pengalaman Bapak berkarya di Pusri dan sampai Bapak dapat Karier Jabatan yang lebih tinggi di PIM, 
Hal ini saya pernah Baca di Suatu Media dulu, Pak Kotan Pasaman pernah buat Buku yang judul nya Berkarya dengan Hati (Jejak Karya Aanak Negri), dan sebelumnya Pak Kotan pernah di Pusri sebelum ke Pupuk Kaltim
Tujuan saya mengusulkan ini agar generasi yang akan datang yang berkarya di PIM, selalu ingat dengan sejarah berdirinya PT.PIM di Aceh sampai saat ini
Salam, dan semoga Bapak dan Keluarga selalu dalam keadaan sehat sehat semuanya

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 2, 2014, 10:36:52 PM8/2/14
to hall...@googlegroups.com
Pak Raflis, dulu saya pernah juga menulis jejak karier saya selama di Pusri dan juga di PIM di group Hallopim ini, tapi saya pribadi tdk menyimpan filenya. Kalau tertarilk mungkin bisa minta kpd pak Wimpie. Kalau gak salah judulnya adalah: "Ilmu dan Pengalaman menjadi bekal hidup". Mengenai saran yg baik utk menulis dan membuat suatu buku ttg karya selama mengabdi di Pusri, PIM, bagi saya rasanya tdk ada kemampuan utk berbuat demikian. Malu rasanya saya krn karir saya juga hanya sebagai pekerja. Sangat jauh berbeda dg karir pak ir. Kotan Pasaman. Ada lagi yg saya tdk suka dg membuat buku Memoir tsb, krn dlm pengalaman saya sering mengalami pertentangan pendapat dg atasan saya dan saya sering utk tidak melakukan perintah kalau saya yakini tdk sesuai dg ilmu yg saya fahami. Dlm buku Memoir pak Kotan Pasaman (Jejak Karya Anak Negeri) saya menulis cerita mengenai riwayat hidup dan keuletan serta kekuatan daya ingat pak Kotan atas permintaan beliau. Ketika itu beliau mengirim penulis profeseonal dari Linda Jalil Group kerumah saya atas perintah pak Kotan dan penulis tsb mewawancarai saya serta meminta saya menulis ttg pak Kotan utk dimasukkan kedalam buku Memoir pak Kotan. Sdh tentu itu akan membutuhkan biaya yg saya tdk mampu utk membiayainya. Jadi saya mohon maaf bhw saya tdk berhasrat utk membuat buku semacam itu. Tulisan yg saya buat dlm GroupHallopim ini saya khususkan hanya utk kawan2 di PIM ini saja, barangkali ada manfaatnya. Trimakasih atas perhatiannya. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Raf Raflis <mac....@gmail.com>
Date: Sat, 2 Aug 2014 23:07:30 +0700

Raf Raflis

unread,
Aug 4, 2014, 12:15:29 AM8/4/14
to hall...@googlegroups.com
Yth. Pak Nur,
Terimakasih Pak Nur atas jawaban usulan yang saya sampaikan, dasar usulan saya itu dulunya adalah sesuai dengan Bapak sampaikan, karena Pembangunan PIM 1 adalah pertama Kali indonesia lansung menangani teknologi canggih waktu itu, Dibawah komando 3 Direksi waktu itu, Pak Djarot, dan Pak Nur dan  Pak Rohadi, maka skhedul pembangunannya nya bisa lebih awal  dari rencana, sehingga produk komersil nya bisa lebih cepat, dan saya tetap menunggu cerita dan pengalaman Pak Nur yang lain  disampaikan dalam Group ini, dan cerita pengalaman Pembangunan PIM 1ini, tentu akan lebih lengkap bisa disampaikan oleh Pak Rohadi, tapi sayang Pak Rohadi tidak aktif di group ini, mungkin Pak Wimpie bisa membantu, bagaimana supaya Pak Rohadi bisa aktif di Group ini
Salam dan doa saya semoga Pak Nur dan Kelg selalu dalam keadaan sehat sehat semuanya...amin

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 4, 2014, 8:10:04 AM8/4/14
to hall...@googlegroups.com
Kita lanjutkan cerita membangun PIM-1. Kami sebagai Direksi yg baru diangkat pd tg 24 Febr.1982, masing2 belum mengenal medan pekerjaan yg sdh dikerjakan oleh Tim Proyek Pusri di Lhok Seumawe dan bagaimana caranya utk dpt menyelesaikan proyek PIM itu. Maka kami jadwalkan untuk sgr melihat lapangan. Sth melihat lapangan di Kr. Geukeuh ternyata kondisi lapangan masih rawa-rawa. REK masih bertempur dg lumpur karang laut hasil pengerukan pelabuhan AAF. Sibuk membuat/memperbaiki bendungan kocoran dari corong Dredger agar spy lumpur tsb tdk lolos keluar daerah yg hrs direklamasi. Sungai Kr. Geukeuh masih mengalir melingkar dari arah timur jambatan Kr.Geukeuh kearah barat mengelilingi daerah rawa yg akan ditimbun. Direncanakan Sei Kr. Geukeuh akan dirubah alirannya spy terus lurus dari Jembatan itu kearah muara baru di sebelah utara pantai laut. Utk pekerjaan tsb hrs minta izin dulu ke Direktorat Sungai, PU di Jkt. Ternyata blm ada studinya utk rerout sungai itu. Maka sgr diurus dan disiapkan studinya utk memohon izin dari instansi berwenang. Tentu saja semua pekerjaan REK hrs dikontrol oleh Site Mgr Proyek PIM, krn kontrak PIM dg REK itu. Cost & Fee, jadi setiap pengeluaran biaya utk pekerjaan tsb hrs disetujui PIM. Krn Site Mgr yg menjabat adalah staff Pusri dan berkeinginan kembali ke Pusri, kami sgr mengangkat ir.Prasytianto (asal Pusri yg bersedia pindah menjadi karyawan PIM.) Demikian juga pejabat Proyek Mgr asal Pusri ingin kembali ke Pusri dan digantikan oleh saya sendiri sebagai Dirtek. Krn semua pambelian local material, penunjukan sub-kotraktor yg dilakukan REK dibayarnya oleh PIM, maka semua Requisition for Bidder hasil evaluasi lelang serta Comitment/PO hrs di approve oleh PIM. Dan itu menjadi tugas Proyek Mgr/Dirtek. Apa lagi utk yg bernilai besar, semua Commitment/PO hrs disetujui sesuai Prosedur Pemerintah. Dg urutan PIM, trs Dirjen IKD, trs Menteri Perindustrian dan terus ke Tim apa namanya .. Saya lupa/ Tim Pengendalian Pengadaan Milik Pemerintah. Tiap surat permohonan disertai surat dan dibahas bersama dg Dirjen dan terus sampai ke Tim tsb. Kalau dilapangan umumnya nilainnya kecil, sehingga cukup di-approvee oleh Site Mgr, seperti bali pasir, kontraktor lokal/tenaga kasar dll. Dg demikian saya diharuskan kerja didua tempat antara Jkt dan LSM. Sangat sibuk luar biasa, sehingga utk mengadakan Kick-off Meeting dg TEC yg seharusnya diadakan di TEC Office, saya minta spy diadakan di Jkt. Dg demikian TEC mendatangkan banyak staffnya ke Jkt. (Bersambung)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sat, 2 Aug 2014 13:50:15 +0000

Syaharuddin Noorhan

unread,
Aug 4, 2014, 11:50:42 PM8/4/14
to hall...@googlegroups.com
p NUR HIDAYAT Ysh

Fakta sejarah yang baik utk menjadi informasi/iktibar bagi generasi/Karyawan PIM
sekarang, bahwa projek PIM 1 dibangun dengan penuh perjuangan.

Salam

Figli Bombach

unread,
Aug 5, 2014, 12:07:57 AM8/5/14
to hall...@googlegroups.com

Bagaimana kalau ada rekans ada juga yg share tentang Perjuangan membangun PIM-2 ? Karena banyak juga pelakunya dimilis kita ini.

Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 5, 2014, 5:38:19 AM8/5/14
to hall...@googlegroups.com
Pada periode th 1978-1983, Pusri mengalami masa jaya-jayanya. Karyawan sangat bangga akan dirinya sebagai karyawan Pusri, suatu BUMN yg punya pabrik urea terbesar dlm satu komplek diseluruh dunia. Punya armada perkapalan, unit2 Pengantongan Pupuk di berbagai pelabuhan dan kantor perwakilan Pemasaran Pupuk disetiap Kota Propinsi. Semua produk pupuk yg diproduksi oleh BUMN pupuk lain di Indonesia hrs dipasarkan oleh Pusri. Pemerintah menunjuk Pusri sebagai penanggung jawab tunggal pengadaan, distribusi dan pemasaran pupuk di Indonesia. Dan tiap ada policy perubahan harga2 kebutuhan pokok, pak Harmoko sebagai Menteri Penerangan mengumumkan harga2 beras dan harga pupuk Pusri dipasaran. Hal tsb menyebabkan para karyawan tdk mau atau enggan pindah ke BUMN Pupuk lain seperti pemintaan dari PT. Pupuk Kaltim yg masih berjuang membangun proyek Kaltim-1, sangat membutuhkan karyawan Pusri berpengalaman yg mau pindah kesana, tdk satu orangpun yg mau. Mereka mau bantu Kaltim sebagai tenaga bantuan Pusri, artinya status tetap sebagai karyawan Pusri dan dpt gaji serta fasilitas Pusri dan di Kaltim juga dpt uang jasa. Demikan juga sewaktu AAF meminta karyawan Pusri utk pindah ke AAF, walau direkturnya adalah mantan Plant Mgr Pusri, tdk seorangpun yg mau berpindah. Teringat ketika itu saya sebagai Pimpinan. Produksi Pusri krn ingin membantu AAF hrs menugaskan beberapa staff andalan pindah ke AAF. Demikian juga sewaktu PIM terbentuk, staff Pusri yg bertugas di Proyek (yg disebut) Pusri V, dan berubah menjadi Proyek PIM, mereka pada ingin kembali ke induknya Pusri. Apa yg dirasakan oleh direksi AAF itu teralami juga oleh saya pribadi. Bukan saja hanya keinginan karyawan, tapi juga pimpinan Pusri tdk rela kehilangan karyawan yg berpengalaan berpindah ke PIM. Teringat ketika saya meminta kpd Dir Litbang Pusri spy staffnya yaitu ir. Ade Suryanti utk tetap di PIM, beliau menolaknya, walaupun ibu Ade sendiri bersedia utk pindah ke PIM, tapi bosnya di Pusri tdk mengizinkannya. Malah saya ditegur spy tdk mengganggu Pusri. Saya sangat memerlukan tenaga seperti ibu ir. Ade Suryanti dikantor Jakarta, krn bu Ade adalah seperti bidannya sewaktu PIM dilahirkan. Berpengalaman dlm menjaga hubungan dg instansi lain, dan dpt mengusai masaalah teknis, administrasi dan gesit bekerja. Syukur alhamdulilah Dirut Pusri masih mendukung secara konsekwen akan rencana lahirnya indiustri pupuk baru di Aceh dan mengetahui serta mengerti apa yg dibutuhkan utk kelangsungan PIM, beliau sampai memanggil Dirlitbang Pusri dan minta spy bu Ade diizinkan pindah ke Pusri. Itulah sebabnya kami tunjuk bu Ade sebagai Kep.Perwakilan PIM Jkt. Saya bukan hanya ditegur oleh Dirlitbang, tapi juga oleh Dirtek Pusri. Saya heran mengapa PIM seolah-olah bukan anak perusahaannya. Ada kemungkinan beberapa direksi Pusri merasa kecewa, bhw rencana perluasan Pusri V yg direncanakan itu gagal lagi. Saya bersyukur bhw Dirut Pusri, pak Sotion Arjanggi dan mantan Dirut Pusri pak Hasan Kasim masih terus mendukung PIM. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Mon, 4 Aug 2014 12:09:59 +0000

sucipt...@gmail.com

unread,
Aug 5, 2014, 5:55:44 AM8/5/14
to Hallo PIM

Yth. Pak Nur,

Sampai saat ini saya masih keep contact dg perusahaan2 pupuk di Indonesia walaupun pasif ( mereka sebagai customer kami ).

Yang terjadi sekarang ini justru Pusri terjadi krisis regenerasi. Kalau ada major overhaul maupun TA di Pusri, justru Pusri minta bantuan kepada JPP Pupuk Kaltim ( divisi di PKT semacam DTK dan Brikasa di Pusri ).

Bukan itu saja, PT. Petrokimia Gresik kalau TA atau ada pekerjaan major overhaul juga minta bantuan ke PKT ( bukan Pusri ). Brikasa ( anak perusahaan Pusri ) juga mengalami kemunduran secara significant, bahkan Pusri sendiri sudah tidak mempercayainya.

Kelihatanya setelah pak Syahlan Komari, pak Sriyono, dan pak Paryono, pensiun terjadi efek domino ( para karyawan seolah ikut pensiun secara psychologis ). Akhirnya alih generasi penerus terjadi stagnan ( mandeg ).

Salam,

.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Tue, 5 Aug 2014 09:38:18 +0000

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 5, 2014, 6:24:22 AM8/5/14
to hall...@googlegroups.com
Betul sekali pak Cipto, ada banyak kemunduran yg terjadi di Pusri sejak Dirut Pusri berganti dari masa kemasa. Jaman reformasi dimana partai2 politik berperan sesuai dg kementingannya masing2. Bukan lagi profesi yg diutamakan tapi kedekatan oknum dg Pejabat yg berwenang. Mungkin sdh hukum alam bhw roda itu berputar ada kalanya berada dibawah, ada kalanya diatas. Kita hanya bisa menyaksikannya dari luar. Kagum saya sama pak Cipto yg dpt meloloskan diri dari putaran BUMN dan tegak berdiri berperan dari luar. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Tue, 5 Aug 2014 09:55:41 +0000

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 5, 2014, 8:02:48 AM8/5/14
to hall...@googlegroups.com
Sedikit koreksi pd cerita sebelumnya dikalimat sbb:.... beliau sampai memanggil Dirlitbang Pusri dan minta spy bu Ade diizinkan pindah ke PIM. ....
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Tue, 5 Aug 2014 09:38:18 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Pada periode th 1978-1983, Pusri mengalami masa jaya-jayanya. Karyawan sangat bangga akan dirinya sebagai karyawan Pusri, suatu BUMN yg punya pabrik urea terbesar dlm satu komplek diseluruh dunia. Punya armada perkapalan, unit2 Pengantongan Pupuk di berbagai pelabuhan dan kantor perwakilan Pemasaran Pupuk disetiap Kota Propinsi. Semua produk pupuk yg diproduksi oleh BUMN pupuk lain di Indonesia hrs dipasarkan oleh Pusri. Pemerintah menunjuk Pusri sebagai penanggung jawab tunggal pengadaan, distribusi dan pemasaran pupuk di Indonesia. Dan tiap ada policy perubahan harga2 kebutuhan pokok, pak Harmoko sebagai Menteri Penerangan mengumumkan harga2 beras dan harga pupuk Pusri dipasaran. Hal tsb menyebabkan para karyawan tdk mau atau enggan pindah ke BUMN Pupuk lain seperti pemintaan dari PT. Pupuk Kaltim yg masih berjuang membangun proyek Kaltim-1, sangat membutuhkan karyawan Pusri berpengalaman yg mau pindah kesana, tdk satu orangpun yg mau. Mereka mau bantu Kaltim sebagai tenaga bantuan Pusri, artinya status tetap sebagai karyawan Pusri dan dpt gaji serta fasilitas Pusri dan di Kaltim juga dpt uang jasa. Demikan juga sewaktu AAF meminta karyawan Pusri utk pindah ke AAF, walau direkturnya adalah mantan Plant Mgr Pusri, tdk seorangpun yg mau berpindah. Teringat ketika itu saya sebagai Pimpinan. Produksi Pusri krn ingin membantu AAF hrs menugaskan beberapa staff andalan pindah ke AAF. Demikian juga sewaktu PIM terbentuk, staff Pusri yg bertugas di Proyek (yg disebut) Pusri V, dan berubah menjadi Proyek PIM, mereka pada ingin kembali ke induknya Pusri. Apa yg dirasakan oleh direksi AAF itu teralami juga oleh saya pribadi. Bukan saja hanya keinginan karyawan, tapi juga pimpinan Pusri tdk rela kehilangan karyawan yg berpengalaan berpindah ke PIM. Teringat ketika saya meminta kpd Dir Litbang Pusri spy staffnya yaitu ir. Ade Suryanti utk tetap di PIM, beliau menolaknya, walaupun ibu Ade sendiri bersedia utk pindah ke PIM, tapi bosnya di Pusri tdk mengizinkannya. Malah saya ditegur spy tdk mengganggu Pusri. Saya sangat memerlukan tenaga seperti ibu ir. Ade Suryanti dikantor Jakarta, krn bu Ade adalah seperti bidannya sewaktu PIM dilahirkan. Berpengalaman dlm menjaga hubungan dg instansi lain, dan dpt mengusai masaalah teknis, administrasi dan gesit bekerja. Syukur alhamdulilah Dirut Pusri masih mendukung secara konsekwen akan rencana lahirnya indiustri pupuk baru di Aceh dan mengetahui serta mengerti apa yg dibutuhkan utk kelangsungan PIM, beliau sampai memanggil Dirlitbang Pusri dan minta spy bu Ade diizinkan pindah ke Pusri. Itulah sebabnya kami tunjuk bu Ade sebagai Kep.Perwakilan PIM Jkt. Saya bukan hanya ditegur oleh Dirlitbang, tapi juga oleh Dirtek Pusri. Saya heran mengapa PIM seolah-olah bukan anak perusahaannya. Ada kemungkinan beberapa direksi Pusri merasa kecewa, bhw rencana perluasan Pusri V yg direncanakan itu gagal lagi. Saya bersyukur bhw Dirut Pusri, pak Sotion Arjanggi dan mantan Dirut Pusri pak Hasan Kasim masih terus mendukung PIM. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Mon, 4 Aug 2014 12:09:59 +0000

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 5, 2014, 8:51:57 AM8/5/14
to hall...@googlegroups.com
Bagaimana dg kondisi keuangan PIM ketika baru dibentuk ? Hal tsb sebaiknya pak Rochadi Prayitno yg menceritakannya, silahkan wawancara beliau selaku menjabat Dirkeu PIM yg baru. Tapi saya mendengar dari keluhan pak Rochadi bhw utk mendapatkan dana dari Pusri sebagai penyandang sumber keuangan PIM dlm bentuk rupiah mengalami kesukaran. Bersyukur kerja sama antara Direksi PIM sangat kompak dan saling percaya. Utk mengatasi kesulitan dana ketika itu, Direksi PIM mengajukan pinjaman ke Bank BNI. Ketika saya diminta utk tanda-tangan atas pinjaman tsb, saya tanya apa yg dpt saya jaminkan atas pinjaman tsb dijawabnya bhw profesi dari para Direksi yg menjadi jaminan pinjaman tsb. He hee, apa itu kelakar atau beneran, saya merasa bhw tanggung jawab guna menyelesaikan proyek PIM semakin besar dan hrs lebih serous penuh tanggung jawab. Satu hal yg lebih prihatin bagi saya pribadi ialah bhw gaji sebagai Direksi PIM ketika itu hanya 90% dari gaji direksi yg sdh beroperasi. Dibandingkan pendapatan sewaktu saya sebagai Pimpinan Produksi Pusri (Plant Mgr), gaji direksi PIM lebih rendah. Istri saya bertanya kenapa kok jadi lebih rendah katanya naik pangkat jadi direktur. He hee, saya jawab ini ujian dan perjuangan. Keluarga saya agak kacau krn rumah jabatan di Pusri Plg hrs dikosongkan utk ditempati pejabat penggantinya. Sementara blm ada rumah tinggal di Jkt, keluarga saya ditampung di Wisma Pusri Jkt, Jl. S. Parman 101. Baru 6 bulan kemudian saya disewakan kontrak rumah utk selama 3 tahun. Kalau dinas ke Lhok Seumawe, kami bertiga menyewa satu rumah type D di komplek AAF, bersebelahan dg rumah yg disewa oleh Mgr Konstruksi REK, ir. Winardi. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Tue, 5 Aug 2014 09:38:18 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Pada periode th 1978-1983, Pusri mengalami masa jaya-jayanya. Karyawan sangat bangga akan dirinya sebagai karyawan Pusri, suatu BUMN yg punya pabrik urea terbesar dlm satu komplek diseluruh dunia. Punya armada perkapalan, unit2 Pengantongan Pupuk di berbagai pelabuhan dan kantor perwakilan Pemasaran Pupuk disetiap Kota Propinsi. Semua produk pupuk yg diproduksi oleh BUMN pupuk lain di Indonesia hrs dipasarkan oleh Pusri. Pemerintah menunjuk Pusri sebagai penanggung jawab tunggal pengadaan, distribusi dan pemasaran pupuk di Indonesia. Dan tiap ada policy perubahan harga2 kebutuhan pokok, pak Harmoko sebagai Menteri Penerangan mengumumkan harga2 beras dan harga pupuk Pusri dipasaran. Hal tsb menyebabkan para karyawan tdk mau atau enggan pindah ke BUMN Pupuk lain seperti pemintaan dari PT. Pupuk Kaltim yg masih berjuang membangun proyek Kaltim-1, sangat membutuhkan karyawan Pusri berpengalaman yg mau pindah kesana, tdk satu orangpun yg mau. Mereka mau bantu Kaltim sebagai tenaga bantuan Pusri, artinya status tetap sebagai karyawan Pusri dan dpt gaji serta fasilitas Pusri dan di Kaltim juga dpt uang jasa. Demikan juga sewaktu AAF meminta karyawan Pusri utk pindah ke AAF, walau direkturnya adalah mantan Plant Mgr Pusri, tdk seorangpun yg mau berpindah. Teringat ketika itu saya sebagai Pimpinan. Produksi Pusri krn ingin membantu AAF hrs menugaskan beberapa staff andalan pindah ke AAF. Demikian juga sewaktu PIM terbentuk, staff Pusri yg bertugas di Proyek (yg disebut) Pusri V, dan berubah menjadi Proyek PIM, mereka pada ingin kembali ke induknya Pusri. Apa yg dirasakan oleh direksi AAF itu teralami juga oleh saya pribadi. Bukan saja hanya keinginan karyawan, tapi juga pimpinan Pusri tdk rela kehilangan karyawan yg berpengalaan berpindah ke PIM. Teringat ketika saya meminta kpd Dir Litbang Pusri spy staffnya yaitu ir. Ade Suryanti utk tetap di PIM, beliau menolaknya, walaupun ibu Ade sendiri bersedia utk pindah ke PIM, tapi bosnya di Pusri tdk mengizinkannya. Malah saya ditegur spy tdk mengganggu Pusri. Saya sangat memerlukan tenaga seperti ibu ir. Ade Suryanti dikantor Jakarta, krn bu Ade adalah seperti bidannya sewaktu PIM dilahirkan. Berpengalaman dlm menjaga hubungan dg instansi lain, dan dpt mengusai masaalah teknis, administrasi dan gesit bekerja. Syukur alhamdulilah Dirut Pusri masih mendukung secara konsekwen akan rencana lahirnya indiustri pupuk baru di Aceh dan mengetahui serta mengerti apa yg dibutuhkan utk kelangsungan PIM, beliau sampai memanggil Dirlitbang Pusri dan minta spy bu Ade diizinkan pindah ke Pusri. Itulah sebabnya kami tunjuk bu Ade sebagai Kep.Perwakilan PIM Jkt. Saya bukan hanya ditegur oleh Dirlitbang, tapi juga oleh Dirtek Pusri. Saya heran mengapa PIM seolah-olah bukan anak perusahaannya. Ada kemungkinan beberapa direksi Pusri merasa kecewa, bhw rencana perluasan Pusri V yg direncanakan itu gagal lagi. Saya bersyukur bhw Dirut Pusri, pak Sotion Arjanggi dan mantan Dirut Pusri pak Hasan Kasim masih terus mendukung PIM. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Mon, 4 Aug 2014 12:09:59 +0000

Teguh Sutjahjo

unread,
Aug 5, 2014, 8:40:59 PM8/5/14
to hall...@googlegroups.com
Yth. Pak Nur Hidayat,
Setelah membaca kisah menarik sebagaimana yang Bapak sampaikan tersebut, kami mengusulkan agar Bapak dapat menulis ulang untuk dimuat di buletin PIM sehingga dengan demikian setiap generasi dapat menghargai jasa-jasa dan perjuangan generasi pendahulunya dimana saat ini terasa sudah semakin menipis di lingkungan PT PIM

Salam,


Pada 31 Juli 2014 16.18, <nhiday...@gmail.com> menulis:
Mengapa pembangunan PIM-1 itu saya sebut perjuangan ? Dlm rangka kemandirian suatu bangsa, secara bertahap pemerintah ketika itu bermaksud utk memberi tantangan kpd kemampuan putra bangsa, yaitu memberi porsi mengembangkan kemampuan engineering & construction. Makanya ketika itu kontrak pembangunannya dibagi dua. Basic & detail Engineering dan Procuremen Foreign equipmen diberikan sama TEC. Tapi local material procuremen & Construction hrs dikerjakan oleh REK atas appoval PIM. Kontrak dg REK hanya dibayar secara lumpsum utk jasanya saja. Jadi tanggung jawab PIM sangat besar. Adapun budget utk keseluruhan pembangunan  itu hanya diberikan lebih kecil dp biaya utk AAF. Biaya supervisi & start-up oleh TEC sdh disiapkan dlm budget, yg sdh tentu secara keseluruhaan biayanya lebih hemat/rendah dibanding total cost proyek AAF.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 5, 2014, 10:05:43 PM8/5/14
to hall...@googlegroups.com
Pak Teguh yg baik, terus terang saya tdk punya kemampuan utk menulis cerita yg dimaksud dlm bulletin PIM, dan cerita itu masih akan lanjutkan dulu sampai saya bosan menulisnya mudah2an sampai PIM-diresmikan atau saya dipindah tugaskan ke Pusri Plg pd Agustus th 1986. Nanti tolonglah edit secara keseluruhan oleh ahlinya, pilah yg mana yg gak perlu diterbitkan spy enak dibaca dan ada manfaatnya. Trimakasih atas perhatiannya. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Teguh Sutjahjo <dte...@gmail.com>
Date: Wed, 6 Aug 2014 07:40:58 +0700
Subject: Re: [HalloPIM] Perjuangan membangun PIM-1.
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "HalloPIM" di Google Grup.

Raf Raflis

unread,
Aug 6, 2014, 2:28:21 AM8/6/14
to hall...@googlegroups.com
Yth Pak Nur, sangat menarik sekali yang Bapak sampaikan dalam perjuangan Pembangunan PIM 1, saya masih menunggu pengalaman Bapak yang lain.

Saya kira Biro Humas PIM bisa menyusun lebih lengkap apa yang disampaikan oleh Pak Nur ini, dan, saya kira apa yang disampaikan Pak Nur ini jangan lah dimasukan dalam Buletin saja,karena dimasukan ke dalam Bulletin hanya ingat sesaat saja, perlu dikembangkan dan dilengkapi informasinya dari Pak Rohadi, dan Karyawan lainnya, sehingga kalau dijadikan satu Buku, sehingga bisa sebagai  Dokumen Abadi..disimpan di Pepustakaan PIM, atau dibagikan pada Karyawan atau pada Mantan Karyawan....dan bisa dibagikan pada Pabrik Pupuk lainnya Sebagai bukti sejarah bahwa membangun PIM 1 banyak juga perjuangannya, baik Pikiran, Tenaga, serta perjuangan biayanya.

Memang semua yang diterbitkan dalam satu Buku, pernah disampaikan Pak Nur  sebelumnya,  perlu cost nya,  mungkin Manajemen PT.PIM bisa membantunya, atau Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu di Group ini bisa mencarikan solusinya karena Redaksi nya ada Pak Norhan dan Pak Pram (Kedua nya Mantan Humas)

Seperti Cerita Pak Nur, dulunya orang bangga kerja di PT.Pusri,,sehingga diajak pindah ke PIM,AAF,Kaltim banyak keberatan, Sekarang Mantan PIM dan Karyawan PIM harus bangga pernah berkarya di PIM, karena mulai membangun, mengoperasikan lebih cepat dari skhedul, dan mantan PIM banyak berkarya ditempat lain termasuk saya sendiri karena budaya kerja PIM yang cepat beradaptasi ditempatnya berkarya, maka sebagai buktinya tentu Buku inilah sebagai dokumen sejarah bagi generasi yang akan datang

Demikian dulu tanggapanya, mohon maaf pada Pak Nur dan Bapak - Ibu diGroup ini, kalau ada kata yang bukan pada tempatnya saya menyampaikannya, semoga Pak Nur dan Bapak Ibu di Group ini selalu dalam keadaan sehat semuanya..amin,..amin,..amin

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 6, 2014, 5:20:14 AM8/6/14
to hall...@googlegroups.com
Kira2 bulan Agustus 1982, kami pak Djarot dan saya sendiri dipanggil oleh pak Hartarto (masih Dirjen IKD). Beliau minta bhw budget proyek PIM yg sdh disetujui Menko Ekuin sebesar 424 juta US$ dihitung kembali dan ditunggu hari itu juga; kalo mungkin dihitung dikamar sebelah beliau. Kami coba berfikir dan kami mohon waktu utk kembali kekantor kami dulu(masih numpang sama Pusri) utk melihat perincian biaya proyek dikantor dan kami akan segera kembali mereview budet proyek. Sth kami lihat perincian budget proyek, kami melihat peluang utk melakukan penghematan, kira2 bisa berkurang menjadi sekitar 400 juta US$. Dan kami segera kebali melaporkan hal tsb kpd pak Hartarto. Beliau sangat senang sekali dan bilang "sungguh ya". Saya berfikir bhw saya akan memotong biaya foreign loan dg mengurangi tenaga expatriat dan saya akan potong juga biaya utk housing area. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Tue, 5 Aug 2014 12:51:59 +0000

Teguh Sutjahjo

unread,
Aug 6, 2014, 8:50:34 PM8/6/14
to hall...@googlegroups.com
Yth. Pak Nur Hidayat,
Kami sangat setuju bila Bapak senantiasa menulis segala pengalaman yang berharga dimana hal tersebut akan memberi pencerahan bagi kita semua.
Menurut kami senioritas adalah berbanding lurus dengan tingkat kedewasaan dan kemampuan menyelesaikan masalah, bukan sekedar dituakan semata. sehingga dari sanalah mungkin asal muasal timbulnya pepatah jawa seperti "Ngono yo ngono mung ojo ngono" dsb.
Kami juga ikut meng-amini bila orang bijak berkata bahwa " Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan menghormati para pahlawannya", karena sedikit banyak bahwa penciptaan computer canggih yang ada saat ini tidak terlepas dari andil kalkulator pedagang yang sederhana bahkan mungkin sempoa

Salam


Pada 6 Agustus 2014 09.05, <nhiday...@gmail.com> menulis:

iqbal.bustaman

unread,
Aug 7, 2014, 5:43:23 AM8/7/14
to hall...@googlegroups.com, nhiday...@gmail.com
Pak Nurhidayat yth,sangat bagus ceritanya karena saya juga nanti akan sharing sebagai team perintis awal dan ikut mengalami berkantor digudangnya PT Pusri yang di cot Panggoi...menarik dan semoga menggugah rasa memiliki pabrik pupuk urea yang dibikin susah oleh pemerintah yang berkuasa waktu itu dengan harga GAS DIJUAL MURAH untuk tempo 20 tahun....???
Salam persaudaraan ex PIM dan maaf lahir bathin..kalau tiba2 nimbrung.
iqbal bustaman (badge PIMnya no 5 pak Nur..he he ).


On Tuesday, August 5, 2014 4:38:19 PM UTC+7, Nur Hidayat wrote:
Pada periode th 1978-1983, Pusri mengalami masa jaya-jayanya. Karyawan sangat bangga akan dirinya sebagai karyawan Pusri, suatu BUMN yg punya pabrik urea terbesar dlm satu komplek diseluruh dunia. Punya armada perkapalan, unit2 Pengantongan Pupuk di berbagai pelabuhan dan kantor perwakilan Pemasaran Pupuk disetiap Kota Propinsi. Semua produk pupuk yg diproduksi oleh BUMN pupuk lain di Indonesia hrs dipasarkan oleh Pusri. Pemerintah menunjuk Pusri sebagai penanggung jawab tunggal pengadaan, distribusi dan pemasaran pupuk di Indonesia. Dan tiap ada policy perubahan harga2 kebutuhan pokok, pak Harmoko sebagai Menteri Penerangan mengumumkan harga2 beras dan harga pupuk Pusri dipasaran. Hal tsb menyebabkan para karyawan tdk mau atau enggan pindah ke BUMN Pupuk lain seperti pemintaan dari PT. Pupuk Kaltim yg masih berjuang membangun proyek Kaltim-1, sangat membutuhkan karyawan Pusri berpengalaman yg mau pindah kesana, tdk satu orangpun yg mau. Mereka mau bantu Kaltim sebagai tenaga bantuan Pusri, artinya status tetap sebagai karyawan Pusri dan dpt gaji serta fasilitas Pusri dan di Kaltim juga dpt uang jasa. Demikan juga sewaktu AAF meminta karyawan Pusri utk pindah ke AAF, walau direkturnya adalah mantan Plant Mgr Pusri, tdk seorangpun yg mau berpindah. Teringat ketika itu saya sebagai Pimpinan. Produksi Pusri krn ingin membantu AAF hrs menugaskan beberapa staff andalan pindah ke AAF. Demikian juga sewaktu PIM terbentuk, staff Pusri yg bertugas di Proyek (yg disebut) Pusri V, dan berubah menjadi Proyek PIM, mereka pada ingin kembali ke induknya Pusri. Apa yg dirasakan oleh direksi AAF itu teralami juga oleh saya pribadi. Bukan saja hanya keinginan karyawan, tapi juga pimpinan Pusri tdk rela kehilangan karyawan yg berpengalaan berpindah ke PIM. Teringat ketika saya meminta kpd Dir Litbang Pusri spy staffnya yaitu ir. Ade Suryanti utk tetap di PIM, beliau menolaknya, walaupun ibu Ade sendiri bersedia utk pindah ke PIM, tapi bosnya di Pusri tdk mengizinkannya. Malah saya ditegur spy tdk mengganggu Pusri. Saya sangat memerlukan tenaga seperti ibu ir. Ade Suryanti dikantor Jakarta, krn bu Ade adalah seperti bidannya sewaktu PIM dilahirkan. Berpengalaman dlm menjaga hubungan dg instansi lain, dan dpt mengusai masaalah teknis, administrasi dan gesit bekerja. Syukur alhamdulilah Dirut Pusri masih mendukung secara konsekwen akan rencana lahirnya indiustri pupuk baru di Aceh dan mengetahui serta mengerti apa yg dibutuhkan utk kelangsungan PIM, beliau sampai memanggil Dirlitbang Pusri dan minta spy bu Ade diizinkan pindah ke Pusri. Itulah sebabnya kami tunjuk bu Ade sebagai Kep.Perwakilan PIM Jkt. Saya bukan hanya ditegur oleh Dirlitbang, tapi juga oleh Dirtek Pusri. Saya heran mengapa PIM seolah-olah bukan anak perusahaannya. Ada kemungkinan beberapa direksi Pusri merasa kecewa, bhw rencana perluasan Pusri V yg direncanakan itu gagal lagi. Saya bersyukur bhw Dirut Pusri, pak Sotion Arjanggi dan mantan Dirut Pusri pak Hasan Kasim masih terus mendukung PIM. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Mon, 4 Aug 2014 12:09:59 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Kita lanjutkan cerita membangun PIM-1. Kami sebagai Direksi yg baru diangkat pd tg 24 Febr.1982, masing2 belum mengenal medan pekerjaan yg sdh dikerjakan oleh Tim Proyek Pusri di Lhok Seumawe dan bagaimana caranya utk dpt menyelesaikan proyek PIM itu. Maka kami jadwalkan untuk sgr melihat lapangan. Sth melihat lapangan di Kr. Geukeuh ternyata kondisi lapangan masih rawa-rawa. REK masih bertempur dg lumpur karang laut hasil pengerukan pelabuhan AAF. Sibuk membuat/memperbaiki bendungan kocoran dari corong Dredger agar spy lumpur tsb tdk lolos keluar daerah yg hrs direklamasi. Sungai Kr. Geukeuh masih mengalir melingkar dari arah timur jambatan Kr.Geukeuh kearah barat mengelilingi daerah rawa yg akan ditimbun. Direncanakan Sei Kr. Geukeuh akan dirubah alirannya spy terus lurus dari Jembatan itu kearah muara baru di sebelah utara pantai laut. Utk pekerjaan tsb hrs minta izin dulu ke Direktorat Sungai, PU di Jkt. Ternyata blm ada studinya utk rerout sungai itu. Maka sgr diurus dan disiapkan studinya utk memohon izin dari instansi berwenang. Tentu saja semua pekerjaan REK hrs dikontrol oleh Site Mgr Proyek PIM, krn kontrak PIM dg REK itu. Cost & Fee, jadi setiap pengeluaran biaya utk pekerjaan tsb hrs disetujui PIM. Krn Site Mgr yg menjabat adalah staff Pusri dan berkeinginan kembali ke Pusri, kami sgr mengangkat ir.Prasytianto (asal Pusri yg bersedia pindah menjadi karyawan PIM.) Demikian juga pejabat Proyek Mgr asal Pusri ingin kembali ke Pusri dan digantikan oleh saya sendiri sebagai Dirtek. Krn semua pambelian local material, penunjukan sub-kotraktor yg dilakukan REK dibayarnya oleh PIM, maka semua Requisition for Bidder hasil evaluasi lelang serta Comitment/PO hrs di approve oleh PIM. Dan itu menjadi tugas Proyek Mgr/Dirtek. Apa lagi utk yg bernilai besar, semua Commitment/PO hrs disetujui sesuai Prosedur Pemerintah. Dg urutan PIM, trs Dirjen IKD, trs Menteri Perindustrian dan terus ke Tim apa namanya .. Saya lupa/ Tim Pengendalian Pengadaan Milik Pemerintah. Tiap surat permohonan disertai surat dan dibahas bersama dg Dirjen dan terus sampai ke Tim tsb. Kalau dilapangan umumnya nilainnya kecil, sehingga cukup di-approvee oleh Site Mgr, seperti bali pasir, kontraktor lokal/tenaga kasar dll. Dg demikian saya diharuskan kerja didua tempat antara Jkt dan LSM. Sangat sibuk luar biasa, sehingga utk mengadakan Kick-off Meeting dg TEC yg seharusnya diadakan di TEC Office, saya minta spy diadakan di Jkt. Dg demikian TEC mendatangkan banyak staffnya ke Jkt. (Bersambung)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sat, 2 Aug 2014 13:50:15 +0000

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 7, 2014, 7:22:54 AM8/7/14
to hall...@googlegroups.com
Mangapa pak Hartarto hanya memanggil saya dan Dirut pak Djarot utk menghitung kembali budget proyek PIM tsb ? Pak Hartarto sebagai Dirjen IKD, mengetahui benar latar belakang riwayat & pengalaman para direksi yg diangkatnya ketika itu. Pak Hartartolah yg memilih calon2 direksi diberbagai bumn Deprind. Beliau mengetahui bhw saya pernah turut dlm Tim Evaluasi Proyek2 Pupuk di Indonesia bersama Konsultant Agrar und Hydrotecknik Jerman, turut serta dalam proyek Proyek Pusri-II, III dan Pusri-IV, mengevaluasi Bidders Proyek2 tsb, pernah jadi Reprentative Pusri & Kujang mengevaluasi pekejaan Enggineering & Procuremant TEC di Funabashi, supervisi konstruksi Pusri II, III, Site Mgr Pusri III dan IV dan mengopersikan pabrik2 Pusri II,III dan IV sampai menjadi Pimpinan Produksi Pusri. Mungkin krn itulah saya ditunjuk dan diangkat menjadi Dirtek PIM yg akan dibangun di Aceh. Saya juga kenal baik dg Direksi REK, khususnya pak ir. Didi Suwardi, yg kemudian saya usulkan utk menggantikan Dirut REK ( yg dicopot seperti cerita diatas), juga saya kenal baik dg Ir. Purnomo Dir. Teknik & Konstruksi REK yg dulu pernah sama2 kerja di Proyek Rayon yg dibatalkan, juga dg ir. Winardi yg ditunjuk sebagai Site Mgr REK, rekan kerja di Pusri, mantan Maintenace Mgr Pusri Plg. Jadi bagi saya mudah dlm memperkirakan budget proyek pabrik pupuk itu. Walaupun budget yg sdh dikurangi dan saya laporkan kpd pak Hartarto, budget tsb masih cukup dan akan saya hemat lagi dlm pelaksanaannya nanti. Bersambung.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Wed, 6 Aug 2014 09:20:09 +0000

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 8, 2014, 6:52:23 AM8/8/14
to hall...@googlegroups.com
Walaupun budget proyek sdh dilaporkan secara lisan kpd pak Hartarto, tapi secara resmi masih tetap tercatat sebesar 424 juta US$. Dilain fihak Pusri sebagai distributor produk pupuk meminta kpd PIM utk membagun tanki penyimpanan dan pengisian minyak solar utk armada kapal curah bila bersandar di Dermaga PIM, sehingga kami meminta change-order kpd REK utk mendesign tanki dan membangun fasilitas tsb. Jadi biaya proyekpun jadi bertambah krn ada tambahan biaya. Walaupun akhirnya fasilitas tsb sampai sekarang tdk pernah digunakan seperti rencana semula krn Pertamina tdk mau memberikan izin kpd PIM sebagai distributor solar di Lhok Seumawe. Kemudian kami direksi memutuskan juga utk membuat fasilitas Laboratorium Kimia dan Perbengkelan yg cukup utk fabrikasi peralatan pabrik. Sedangkan dlm konsep Pusri semula, anggaran 424 juta tsb hanya membuat Lab.Control saja, dg pemikiran dpt menumpang pd fasilitas di AAF. Demikian juga Bengkel Pemeliharaan. Utk kedua fasitas tsb kami menggunakan designer yg berpengalaman di Petrokimia Gresik dan daftar peralatan perbengkelan saya minta pak ir. Mudjahid ex Pusri yg membuat spek. peralatan yg diperlukan utk Bengkel tsb dan di Order via Perwakilan PIM di Tokyo memakai dana Loan Proyek PIM. Yang menyusun peralatan Lab. Kimia (Main Laboratory) saya minta ir. Melani Cornella, karyawan PIM. Gedung pertama PIM yg kami duduki adalah gedung ex. Restoran Lyn yg kami beli krn berada di kawasan Plant Area. Disitulah kami bekerja kalau kami berada di LSw. Kemudian kami bangun gedung baru darurat yg disebut Site Office PIM, dimana ada ruang Direksi & sekretaris, ruang Biro Direksi, Biro Keuangan, R. Personalia, Biro Teknih dan Ruang Rapat. Bangunan itu dirancang oleh PIM sendiri (Ir. Iskandar MT & Staffnya). Dibelakang Site Office itu ada Lapangan tempat upacara bendera yg kami adakan setiap bulan. Ketika itu lapangan tsb masih ditumbuhi pohon2 kelapa yg rindang. Site Offce PIM tsb bersebelahan dg Gd. REK sebagai Site Office nya, sehingga memudahkan kami berkomunikasi. Para sarjana teknik dan sarjana muda yg kami rekrut di Jkt berjumlah 40 orang dg asumsi ketika itu PIM akan diperluas dan dikembangkan oleh Pemeintah menjadi perusahan pupuk seperti Pusri (akan menjadi 4 pabrik ). Proyek PIM adalah satu-satu bumn yg melakukan suatu Studi Lingkungan dg menunjuk Konsultan dibawah pimpinan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, bernama "Indo Consult". Hasil studi tsb dipresentasikan dihadapan Bapenas dan para pejabat daerah di Aceh, Gubernur dan Bupati & staffnya serta para Komandan Keamanan seperti Kodam Iskandar Muda, Korem, Kodim dan Kepolisian. Dalam studi tsb ditentukan wilayah Industri, penunjang industri rakyat, wilayah Perbangkan dan Perkantoran dan wilayah Pemukiman. Semua pejabat menanda tangani Rancangan tsb utk dipatuhi secara bersama. Tapi kenyataannya tdk disusul dg Peraturan Pemerintah setempat, agar masyarakat tdk membangun perumahan yg terlalu dekat dg Industri yg dpt berdampak pd keselamatan penduduk sendiri. Setiap orang bebas saja membangun rumah2 disekitar pabrik krn belum ada aturan mengenai IMB. Dalam Studi tsb juga diceritakan ttg budaya Aceh, dimana rumah pimpinan itu biasanya berada ditengah-tengah rumah2 rakyat yg dipimpinnya. Konsep tsb kami terapkan dlm membangun rumah direksi PIM seperti terlihat di Perumahan PIM sekarang ini. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Thu, 7 Aug 2014 11:22:54 +0000

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 8, 2014, 8:31:54 PM8/8/14
to hall...@googlegroups.com
Dalam rangka penghematan biaya pembangunan, saya menghindari pemakaian jasa konsultan/advisor teknik baik utk Plant Construction maupun utk pembangunan Pemukiman. Krn itu saya mencari tenaga2 berpengalaman dlm berbagai keahlian yg diperlukan. Saya hrs melakukan dg tenaga2 PIM sendiri. Seharusnya utk pembangunan Pemukiman diperlukan konsultan utk membuat Master Plant, dlm menentukan rencana pembangunan rumah2 serta fasilitasnya, menata lahan dg melakukan cut & filled daerah perbukitan dan rawa2. Kalau memakai jaya konsultan akan memerlukan waktu yg lama dan biaya yg cukup mahal. Krn terdesak oleh waktu saya bersama staff menentukan sendiri bukit mana yg hrs dipotong dan mana yg hrs ditimbun. Satu2nya Lahan yg siap dibangun ketika pertama kali membangun rumah karyawan adalah didesa Tambun Tunong ketika itu kami hanya tinggal memotong pohon2 kelapa. Ketika kami memakai bulldozer utk mempercepat pemotongan pohon2 kelapa tsb, pak Juta Din alm.( Karyawan Pusri yg pindah ke PIM), tiba2 mau dihadang dg golok oleh seseorang tukang potong pohon, sehingga dia bersama supir buldozer lari tunggang langgang kekantor saya sambil ketakutan mengadu. Kemudian saya datangi orang yg masih pegang golok tsb dan saya tanyakan baik2 mengapa kami tdk boleh menggunakan bulldozer. Dia mengadu bhw "kalau pakai bulldozer saya kehilangan perkerjaan dan bagaimana saya menghidupi keluarga saya" katanya. "Ini daerah saya". Kemudian dg rasa terharu saya menjelaskan bhw PIM sedang dikejar waktu utk cepat membangun rumah2 disini utk keperluan karyawan yg akan membangun pabrik, dan kami juga memerlukan pekerja2 seperti tukang potong, sehingga bisa terus bekerja. Dan sekarangpun bisa langsung bekerja membantu pengemudi bulldozer dan pak Juta Din utk menjaga anak2 yg nanton dan membersihkan, meratakan lahan. Sth dpt penjelasana tsb orang tsb berubah wajahnya dari muka marah menjadi muka gembira dan senang sekali. Saya bilang juga bhw dia boleh terus kerja di PIM utk membersihkan halaman diperumahan PIM. perumahan nanti. Didesa tsb kami bangun rumah prefab dg alasan waktu pambangunan cepat, murah dan tahan lama, krn memakai kayu Damar Laut, sehingga dpt segera ditempati beberapa karyawan staff PIM yg berdomisili di LSw. Didesa itu ada satu rumah permanent type kuno dan saya lestarikan. Sumber airnya dg membuat sumur pompa dan ditampung dlm tangki. Serta utk penerangannya kami bangun Genset diesel dipasang utk wilayah itu, dan utk pendekatan dg masyarakat kami pasang kabel listrik juga ke Meunasah yg ada didesa Tambun Tunong tanpa diminta; kepala desa dan masyarakat tsb senang sekali dg penerangan tsb. Didesa tsb juga kami bangun Wisma utk para expatriate TEC yg bertugas dlm membangun pabrik. Design dan gambar detail gedung tsb beserta speknya saya copy dari gedung BQ Pusri, krn kalau tdk demikian akan memerlukan biaya dan waktu. Kebetulan saya dpt melakukan pendekatan dg staff Dept Teknik Pusri Plg sehingga dpt mengkopi gambar2 berbagai type rumah karyawan Pusri, gambar tsb saya berikan kpd Biro Teknik, ir. Iskandar MT cs utk dijadikan dokumen tender bagi pembangunan berbagai rumah2 di PIM. Masa PIM sebagai anak perusahaan Pusri tdk boleh mengkopi gambar2 rumah karyawan Pusri ? Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Fri, 8 Aug 2014 10:52:17 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Walaupun budget proyek sdh dilaporkan secara lisan kpd pak Hartarto, tapi secara resmi masih tetap tercatat sebesar 424 juta US$. Dilain fihak Pusri sebagai distributor produk pupuk meminta kpd PIM utk membagun tanki penyimpanan dan pengisian minyak solar utk armada kapal curah bila bersandar di Dermaga PIM, sehingga kami meminta change-order kpd REK utk mendesign tanki dan membangun fasilitas tsb. Jadi biaya proyekpun jadi bertambah krn ada tambahan biaya. Walaupun akhirnya fasilitas tsb sampai sekarang tdk pernah digunakan seperti rencana semula krn Pertamina tdk mau memberikan izin kpd PIM sebagai distributor solar di Lhok Seumawe. Kemudian kami direksi memutuskan juga utk membuat fasilitas Laboratorium Kimia dan Perbengkelan yg cukup utk fabrikasi peralatan pabrik. Sedangkan dlm konsep Pusri semula, anggaran 424 juta tsb hanya membuat Lab.Control saja, dg pemikiran dpt menumpang pd fasilitas di AAF. Demikian juga Bengkel Pemeliharaan. Utk kedua fasitas tsb kami menggunakan designer yg berpengalaman di Petrokimia Gresik dan daftar peralatan perbengkelan saya minta pak ir. Mudjahid ex Pusri yg membuat spek. peralatan yg diperlukan utk Bengkel tsb dan di Order via Perwakilan PIM di Tokyo memakai dana Loan Proyek PIM. Yang menyusun peralatan Lab. Kimia (Main Laboratory) saya minta ir. Melani Cornella, karyawan PIM. Gedung pertama PIM yg kami duduki adalah gedung ex. Restoran Lyn yg kami beli krn berada di kawasan Plant Area. Disitulah kami bekerja kalau kami berada di LSw. Kemudian kami bangun gedung baru darurat yg disebut Site Office PIM, dimana ada ruang Direksi & sekretaris, ruang Biro Direksi, Biro Keuangan, R. Personalia, Biro Teknih dan Ruang Rapat. Bangunan itu dirancang oleh PIM sendiri (Ir. Iskandar MT & Staffnya). Dibelakang Site Office itu ada Lapangan tempat upacara bendera yg kami adakan setiap bulan. Ketika itu lapangan tsb masih ditumbuhi pohon2 kelapa yg rindang. Site Offce PIM tsb bersebelahan dg Gd. REK sebagai Site Office nya, sehingga memudahkan kami berkomunikasi. Para sarjana teknik dan sarjana muda yg kami rekrut di Jkt berjumlah 40 orang dg asumsi ketika itu PIM akan diperluas dan dikembangkan oleh Pemeintah menjadi perusahan pupuk seperti Pusri (akan menjadi 4 pabrik ). Proyek PIM adalah satu-satu bumn yg melakukan suatu Studi Lingkungan dg menunjuk Konsultan dibawah pimpinan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, bernama "Indo Consult". Hasil studi tsb dipresentasikan dihadapan Bapenas dan para pejabat daerah di Aceh, Gubernur dan Bupati & staffnya serta para Komandan Keamanan seperti Kodam Iskandar Muda, Korem, Kodim dan Kepolisian. Dalam studi tsb ditentukan wilayah Industri, penunjang industri rakyat, wilayah Perbangkan dan Perkantoran dan wilayah Pemukiman. Semua pejabat menanda tangani Rancangan tsb utk dipatuhi secara bersama. Tapi kenyataannya tdk disusul dg Peraturan Pemerintah setempat, agar masyarakat tdk membangun perumahan yg terlalu dekat dg Industri yg dpt berdampak pd keselamatan penduduk sendiri. Setiap orang bebas saja membangun rumah2 disekitar pabrik krn belum ada aturan mengenai IMB. Dalam Studi tsb juga diceritakan ttg budaya Aceh, dimana rumah pimpinan itu biasanya berada ditengah-tengah rumah2 rakyat yg dipimpinnya. Konsep tsb kami terapkan dlm membangun rumah direksi PIM seperti terlihat di Perumahan PIM sekarang ini. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Thu, 7 Aug 2014 11:22:54 +0000

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 9, 2014, 8:25:48 AM8/9/14
to hall...@googlegroups.com
Hubungan saya dg Dirprod Pusri Plg ir. Wardiyasa saya jaga dg baik, malahan kalau saya datang ke Pusri Plg beliau selalu wellcome, malah menanyakan apa yg bisa Pusri bantu, tentu saja saya senang sekali dan menyampaikan bhw saya memerlukan karyawan yg berpengalaman, dan pak Wardiyasa membolehkan saya memilihnya selama mereka mau pindah ke PIM. Namun saya juga hrs berusaha agar tdk mengambil karyawan andalan utk tdk menyulitkan Pusri dlm operasi pabriknya. Kemudian saya melakukan pendekatan dg beberpa karyawan2 Pusri yg saya perlukan di PIM, diantaranya saya dekati pak Juta Din BE.(Sipil lapangan), pak Darwin Abra BE. (ahli listrik), pak ir. Mujahid Rachman (utk Bengkel Pemeliharaan) kemudian disusul dg pak ir.Sucipto (Mech.Eng) dan beberapa mekanik, pipe fitters dll sesuai dg jadwal proyek. Utk operasi pabrik saya dekati juga beberapa formen/Kepala Bag. atau Senior Operator Ammonia, Urea dan Utility, Kebetulan sekali mereka mau dan bersedia pindah ke PIM. Kpd saya juga datang melamar ir. Harun Al Rasyid, proses engineer dari Pupuk Kujang, tentu saja saya terima utk membina engineer baru di PIM dlm Operasi pabrik. Mereka itulah berperan aktif dan memperlancar proyek PIM. Saya meresa bersyukur bhw banyak karyawan Pusri yg mau mendukung dan turut serta bersama saya pindah ke PIM Lhok Seumawe, walaupun proyek tsb masih baru dan memulai dari Grass-root. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sat, 9 Aug 2014 00:31:49 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Dalam rangka penghematan biaya pembangunan, saya menghindari pemakaian jasa konsultan/advisor teknik baik utk Plant Construction maupun utk pembangunan Pemukiman. Krn itu saya mencari tenaga2 berpengalaman dlm berbagai keahlian yg diperlukan. Saya hrs melakukan dg tenaga2 PIM sendiri. Seharusnya utk pembangunan Pemukiman diperlukan konsultan utk membuat Master Plant, dlm menentukan rencana pembangunan rumah2 serta fasilitasnya, menata lahan dg melakukan cut & filled daerah perbukitan dan rawa2. Kalau memakai jaya konsultan akan memerlukan waktu yg lama dan biaya yg cukup mahal. Krn terdesak oleh waktu saya bersama staff menentukan sendiri bukit mana yg hrs dipotong dan mana yg hrs ditimbun. Satu2nya Lahan yg siap dibangun ketika pertama kali membangun rumah karyawan adalah didesa Tambun Tunong ketika itu kami hanya tinggal memotong pohon2 kelapa. Ketika kami memakai bulldozer utk mempercepat pemotongan pohon2 kelapa tsb, pak Juta Din alm.( Karyawan Pusri yg pindah ke PIM), tiba2 mau dihadang dg golok oleh seseorang tukang potong pohon, sehingga dia bersama supir buldozer lari tunggang langgang kekantor saya sambil ketakutan mengadu. Kemudian saya datangi orang yg masih pegang golok tsb dan saya tanyakan baik2 mengapa kami tdk boleh menggunakan bulldozer. Dia mengadu bhw "kalau pakai bulldozer saya kehilangan perkerjaan dan bagaimana saya menghidupi keluarga saya" katanya. "Ini daerah saya". Kemudian dg rasa terharu saya menjelaskan bhw PIM sedang dikejar waktu utk cepat membangun rumah2 disini utk keperluan karyawan yg akan membangun pabrik, dan kami juga memerlukan pekerja2 seperti tukang potong, sehingga bisa terus bekerja. Dan sekarangpun bisa langsung bekerja membantu pengemudi bulldozer dan pak Juta Din utk menjaga anak2 yg nanton dan membersihkan, meratakan lahan. Sth dpt penjelasana tsb orang tsb berubah wajahnya dari muka marah menjadi muka gembira dan senang sekali. Saya bilang juga bhw dia boleh terus kerja di PIM utk membersihkan halaman diperumahan PIM. perumahan nanti. Didesa tsb kami bangun rumah prefab dg alasan waktu pambangunan cepat, murah dan tahan lama, krn memakai kayu Damar Laut, sehingga dpt segera ditempati beberapa karyawan staff PIM yg berdomisili di LSw. Didesa itu ada satu rumah permanent type kuno dan saya lestarikan. Sumber airnya dg membuat sumur pompa dan ditampung dlm tangki. Serta utk penerangannya kami bangun Genset diesel dipasang utk wilayah itu, dan utk pendekatan dg masyarakat kami pasang kabel listrik juga ke Meunasah yg ada didesa Tambun Tunong tanpa diminta; kepala desa dan masyarakat tsb senang sekali dg penerangan tsb. Didesa tsb juga kami bangun Wisma utk para expatriate TEC yg bertugas dlm membangun pabrik. Design dan gambar detail gedung tsb beserta speknya saya copy dari gedung BQ Pusri, krn kalau tdk demikian akan memerlukan biaya dan waktu. Kebetulan saya dpt melakukan pendekatan dg staff Dept Teknik Pusri Plg sehingga dpt mengkopi gambar2 berbagai type rumah karyawan Pusri, gambar tsb saya berikan kpd Biro Teknik, ir. Iskandar MT cs utk dijadikan dokumen tender bagi pembangunan berbagai rumah2 di PIM. Masa PIM sebagai anak perusahaan Pusri tdk boleh mengkopi gambar2 rumah karyawan Pusri ? Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Fri, 8 Aug 2014 10:52:17 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Walaupun budget proyek sdh dilaporkan secara lisan kpd pak Hartarto, tapi secara resmi masih tetap tercatat sebesar 424 juta US$. Dilain fihak Pusri sebagai distributor produk pupuk meminta kpd PIM utk membagun tanki penyimpanan dan pengisian minyak solar utk armada kapal curah bila bersandar di Dermaga PIM, sehingga kami meminta change-order kpd REK utk mendesign tanki dan membangun fasilitas tsb. Jadi biaya proyekpun jadi bertambah krn ada tambahan biaya. Walaupun akhirnya fasilitas tsb sampai sekarang tdk pernah digunakan seperti rencana semula krn Pertamina tdk mau memberikan izin kpd PIM sebagai distributor solar di Lhok Seumawe. Kemudian kami direksi memutuskan juga utk membuat fasilitas Laboratorium Kimia dan Perbengkelan yg cukup utk fabrikasi peralatan pabrik. Sedangkan dlm konsep Pusri semula, anggaran 424 juta tsb hanya membuat Lab.Control saja, dg pemikiran dpt menumpang pd fasilitas di AAF. Demikian juga Bengkel Pemeliharaan. Utk kedua fasitas tsb kami menggunakan designer yg berpengalaman di Petrokimia Gresik dan daftar peralatan perbengkelan saya minta pak ir. Mudjahid ex Pusri yg membuat spek. peralatan yg diperlukan utk Bengkel tsb dan di Order via Perwakilan PIM di Tokyo memakai dana Loan Proyek PIM. Yang menyusun peralatan Lab. Kimia (Main Laboratory) saya minta ir. Melani Cornella, karyawan PIM. Gedung pertama PIM yg kami duduki adalah gedung ex. Restoran Lyn yg kami beli krn berada di kawasan Plant Area. Disitulah kami bekerja kalau kami berada di LSw. Kemudian kami bangun gedung baru darurat yg disebut Site Office PIM, dimana ada ruang Direksi & sekretaris, ruang Biro Direksi, Biro Keuangan, R. Personalia, Biro Teknih dan Ruang Rapat. Bangunan itu dirancang oleh PIM sendiri (Ir. Iskandar MT & Staffnya). Dibelakang Site Office itu ada Lapangan tempat upacara bendera yg kami adakan setiap bulan. Ketika itu lapangan tsb masih ditumbuhi pohon2 kelapa yg rindang. Site Offce PIM tsb bersebelahan dg Gd. REK sebagai Site Office nya, sehingga memudahkan kami berkomunikasi. Para sarjana teknik dan sarjana muda yg kami rekrut di Jkt berjumlah 40 orang dg asumsi ketika itu PIM akan diperluas dan dikembangkan oleh Pemeintah menjadi perusahan pupuk seperti Pusri (akan menjadi 4 pabrik ). Proyek PIM adalah satu-satu bumn yg melakukan suatu Studi Lingkungan dg menunjuk Konsultan dibawah pimpinan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, bernama "Indo Consult". Hasil studi tsb dipresentasikan dihadapan Bapenas dan para pejabat daerah di Aceh, Gubernur dan Bupati & staffnya serta para Komandan Keamanan seperti Kodam Iskandar Muda, Korem, Kodim dan Kepolisian. Dalam studi tsb ditentukan wilayah Industri, penunjang industri rakyat, wilayah Perbangkan dan Perkantoran dan wilayah Pemukiman. Semua pejabat menanda tangani Rancangan tsb utk dipatuhi secara bersama. Tapi kenyataannya tdk disusul dg Peraturan Pemerintah setempat, agar masyarakat tdk membangun perumahan yg terlalu dekat dg Industri yg dpt berdampak pd keselamatan penduduk sendiri. Setiap orang bebas saja membangun rumah2 disekitar pabrik krn belum ada aturan mengenai IMB. Dalam Studi tsb juga diceritakan ttg budaya Aceh, dimana rumah pimpinan itu biasanya berada ditengah-tengah rumah2 rakyat yg dipimpinnya. Konsep tsb kami terapkan dlm membangun rumah direksi PIM seperti terlihat di Perumahan PIM sekarang ini. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Thu, 7 Aug 2014 11:22:54 +0000

sucipt...@gmail.com

unread,
Aug 9, 2014, 8:50:50 AM8/9/14
to Hallo PIM
Yth. Pak Nur,

Saya mohon maaf saya selingi cerita sedikit walaupun yg saya ketahui juga hanya sedikit. Mungkin Bapak lebih tahu tentang cerita dibawah ini untuk memberikan klarifikasi. Mohon maf kalau ada yg kurang berkenan.

Saya sangat sependapat jaman keemasan Pusri 1978 -1983 saat Dirutnya pak Sotion Ardjanggi. Namun setelah beliau diganti oleh Johni Marsinih terjadi hal yg kurang simpatik bahkan para karyawan Pusri cenderung berontak saya ibu ( Ny. Wardiyasa ) dipecat dari anggota sekaligus pengurus Dharmawanita PT. Pusri.

Waktu itu bu Wardiyasa dipecat dari keanggotaan Dharmawanita oleh bu Johni Marsinih. Hampir semua karyawan terkejut, karena mereka tahu dedikasi kepemimpinan pak Wardiyasa itu sama seperti halnya dg kepemimpinan pak Nur Hidayat. Pak War dan Pak Nur sebagai pimpinan sekaligus perintis Pusri sangat dicintai dan menjadi kebanggaan semua karyawan. Saya sendiri yg masih sangat yunior saat itu bila ketemu pak War atau pak Nur semangat kerja semakin tinggi dan kebanggaan saya thd Pusri semakin besar.

Kecerobohan Bpk dan Ibu Johni Marsinih tidak disadari bahwa karyawan lebih mencintai pak War ketimbang pak Johni. Pak Johny bukan lahir dari industri pupuk tetapi berani sewenang-wenang memecat pimpinan ( istri ) yg sudah terbukti loyalitasnya di Pusri.

Betul sekali kata pak Nur bahwa dunia berputar. Suatu saat pak Wardiyasa diangkat menjadi Dirjen Industri Kimia Dasar menggantikan pak Sidharta sekaligus tentunya akan menjadi atasan pak Johni Masinih. Disitulah posisi Johni Marsinih seperti diatas bara api.

Saat itu perhatian Pemerintah kepada Pusri sebagai Kampiun pabrik pupuk urea di Indonesia mulai redup dan aura sinar keunggulan pabrik pupuk sedikit bergeser ke PKT.

Cerita diatas sangat kontradiksi dg PIM. Siapa karyawan terutama level staff ( bukan pelaksana ) yg istrinya nggak aktif di Dharmawanita maka suaminya tidak akan naik pangkat. Sementara di Pusri justru istri Dir. Prod dipecat dari keanggotaan Dharmawanita malah naik jadi Dirut Kujang terus naik lagi jadi Dir Jend.

Salam,

.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sat, 9 Aug 2014 12:25:59 +0000

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 9, 2014, 10:35:52 AM8/9/14
to hall...@googlegroups.com
Trimakasih pak Cipto atas tambahan cerita itu sebagai penambah cerita, dan setelah saya dipindah tugaskan ke Pusri kembali meggantikan pak War, dimana ketika itu pak Johni Marsinih sebagai Dirut Pusri, saya sendiri turut merasakan bagaimana perasaan pak War di Plg. Ketika itu anggota direksi yg berasal dan dibesarkan di Pusri hanya saya sendiri, yang lainnya dari Petrokimia Gresik dan Semen Padang. Dg dipindahnya saya ke Pusri, hubungan yg baik dg pak War jadi memburuk, mungkin pak War mengira bhw saya telah menjadi pengikut pak Johni yg dibencinya. Padahal saya sendiri tdk demikian, saya tetap professional. Banyak hal yg saya amankan ketika beberapa aset Pusri seperti Gedung Pusri Jkt, Wisma Pusri Jkt mau dijual atau tukar guling, saya protes keras sama ide pak Johni tsb. Saking beratnya beban moril saya ketika itu, tugas saya juga tambah berat, bukan saja sebagai DirProd tapi juga membantu Dir.Litbang ir. Supoyo (ir. Sipil) dalam rangka Optimalisasi Pusri-II, III dan IV, ditambah Proyek Pusri IB. Saking beratnya kerjaan itu, saya jatuh sakit krn stress Tampaknya pak Sidharta sebagai Dir Jend IKD punya rasa dendam kpd Pusri, krn Pemerintah ketika th 1970-1980 terlalu memanjakan Pusri dan menjadikan Pusri sebagai penanggung jawab tunggal dlm distribusi & pemasaran pupuk di Indonesia. Sehingga Dirut Pusri digantikan oleh direksi dari bumn yg lebih kecil spy Pusri tdk menjadi kuat dan membesar lagi. Itulah yg terjadi, kita hanya hamba Allah. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sat, 9 Aug 2014 12:50:48 +0000

Wimpie

unread,
Aug 9, 2014, 9:31:47 PM8/9/14
to hall...@googlegroups.com

Sangat menarik membaca penuturan Pak Nur Hidayat tentang sejarah masa lalu PIM, termasuk perpupukan nasional. Dilengkapi dengan intrik-intrik politik yang terjadi ketika itu. Saya mendengar beberapa gosip di masa lalu, tapi kini mendengarkannya langsung dari pelaku sejarahnya. Silahkan dilanjutkan Pak Nur. Mungkin nanti bisa dilengkapi dengan asal mula subsidi pupuk dan, menurut pendapat Pak Nur, bagaimana sebaiknya perlakuan terhadap subsidi tersebut sekarang. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 9, 2014, 11:09:36 PM8/9/14
to hall...@googlegroups.com
Trimakasih pak Wimpie atas komentarnya, insyaallah akan saya lanjutkan cerita ini berdasarkan apa yg saya alami dan rasakan ketika itu, tapi maaf kalau ada kata2 yg kurang berkenan krn cerita ini hanya versi saya yg mungkin saja keliru. Komentar kawan atau tambahan dari kawan2 akan dpt melengkapi cerita ini dan saya akan bertambah semangat melanjutkannya. Perihal subsidi pupuk nanti akan saya jelaskan pendapat saya. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: "Wimpie" <wim...@centrin.net.id>
Date: Sun, 10 Aug 2014 08:31:43 +0700
Subject: RE: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

iqbal.b...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 1:43:35 AM8/10/14
to hall...@googlegroups.com
Pak Nur yth
Sebelum sharing soal anggaran PIM1 dll,kami generasi th 76 yg masukPusri..pada tahun79 karena ada issue kntr pusat mau dipindah ke Palembang,bgitu juga Petro,Kujang dan Kaltim..maaf beribu maaf setelah pak HasanKasim pensiun n digantikan bpk Sotion Ardjanggi( wlaupun yg merestui saya ditempatkan di PIM adalah beliau dan pak Kotan Pasaman),ditingkat BOD dan 1 level dibawah BOD mulai tidak kompak..dan gak diolah system kaderisasi yg baik.Bahkan bpk Wardiyasa sendiri setelah jadi Dirut PKC u PKC dua memaksakan lebih dulu dibuat ketimbang PIM2 yg sdh ready segalanya,sedangkan bapak waktu itu sdh balik ke Pusri yg gantikan bapak di PIM adalah pk Suardin.Saya sampe fight habis dirapat Renstrabang u PIM2 kenapak gak diperhatikan,akhirnya alm pak enthol mengusulkan ke ketua rapat(wardiyasa) u break dulu dan pending keputusan rapat.Seingat saya bpk sama pk Nanang n pk Enthol sampe minta duduk dg bpk2 skalian dan mensupport usulan saya.
Jadi maaf mgkin pk Wardiyasa agk sakit hati soal yg diceritakan pk sucipto tadi..jadi maaf beribu maaf disinilah respect saya menurun ke pk wardiyasa,padahal sblmnya saya mengidolakan beliau dg pk Kotan..
Apalagi setelah kena virus gaul dg anak2 pk Harto idealisme beliau u mengembangkan pabrik2 ppk menurun drastis?(Setelah jadi Dirjen smpat saya ketemu bebrpa kali..krna wktu itu beliau mau jual pbrik kertas Basuki rahmat yg 3 tahun merugi terus)..Jadi gak banyak penjabat Pusri yg memikirkan jauh u kader2nya spt pak Nur n pak Kotan.beraninya cuma dibelakang aja..sekarang bapak liat di Holding pt pupuk indonesia yg berkiprah ex Petro dan PKT..sediiih bukan..salam kompak selalu..

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sat, 9 Aug 2014 14:36:07 +0000
Anda menerima pesan ini karena berlangganan topik dalam grup "HalloPIM" di Google Grup.

Syaharuddin Noorhan

unread,
Aug 10, 2014, 2:23:57 AM8/10/14
to hall...@googlegroups.com
Yth Semua Perintis PIM

Saya ingin usul tindak lanjut, bagaimana kalau cerita Bapak2 ini
dituangkan dalam memoar yang disebut "buku", keliahatannya menarik
dan punya posisi tawar yang bagus, karena banyak cerita-cerita yang baik
dalam membangun PIM 1, apalagi Pim adalah hasil Rekayasa Engineering pertama 
di negeri ini.
Semua kita sedang bergerak menuju penyempurnaan diri. Bukankah kita tak bisa
memutar kembali waktu yang berlalu ?, tapi kita bisa menciptakan kenangan dengan waktu yang masih kita punya dengan kenangan yang berarti.

Sekali lagi yang berarti bukanlah berapa banyak yang kita bisa beli, tapi
berapa banyak yang sudah kita BERI !

Mari kita mulai !

Salam

iqbal.b...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 2:37:33 AM8/10/14
to hall...@googlegroups.com
Dear pak Noorhan

Suatu ide yang bagus berupa Biography ..saya heran masalah sejarah ini bangsa kita kayak suka melupakan??..saya pernah ke Tambang KCL di Russia utara tepatnya di pegunungan siberia.
(Perjalanan 2 jam terbang + jalan darat 3 jam..nama daerahnya Solikam)..luarbiasanya dikantor tambang ybs (berlantai lima)..disetiap lantai terpampang foto2 sejarahnya berdirinya tambang tsb dan bagaimana susahpayahnya para perintisnya berjuang dg alat2 pertambangan yg sangat sederhana..smpe mereka berkembang..Luarbiasa bangsa yang selalu mengingat pelaku2 sejarah adalah bangsa yang berbudaya tinggi..bisa kita bahas bersama dengan team pak Noorhan( perlu ketelatenan dan kesabaran)..:))
Salam kompak

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: "'Syaharuddin Noorhan' via HalloPIM" <hall...@googlegroups.com>
Date: Sun, 10 Aug 2014 14:23:53 +0800

Wimpie

unread,
Aug 10, 2014, 2:52:38 AM8/10/14
to hall...@googlegroups.com

Yang paling penting dalam setiap hubungan bukanlah apa yang kita terima, melainkan apa yang kita berikan ~ Eleanor Roosevelt.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

iqbal.b...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 3:11:59 AM8/10/14
to hall...@googlegroups.com
Pak wimpie kalo saya pribadi /misalnih ingat2 pasti sakit hati /jadi sudah melupakan perlakuan perush u uang pensiun yg saya terima (tdk manusiawi) selama mengabdi 16 tahun..bisa2 saya tidak akan muncul dg keluarga besar PIM yg saya cintai..ha ha ha
Hanya Allah swt yg tahu

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: "Wimpie" <wim...@centrin.net.id>
Date: Sun, 10 Aug 2014 13:52:38 +0700
Subject: RE: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Wimpie

unread,
Aug 10, 2014, 5:23:25 AM8/10/14
to hall...@googlegroups.com

Dear Pak Iqbal & All,

Walau dimulai dengan kisah-kisah yang heroik, pada akhirnya bagi sebagian kita memang tak terjadi ‘happy ending’ dari perjalanan bersama PIM. Bersama berjalannya sang waktu dan  karena alasan/pertimbangan masing-masing, sebagian kita memilih arah yang berbeda. Sebagian pergi membawa harapan-harapan akan kehidupan yang lebih baik ditempat lain. Sebagian lain karena ingin keluar dari zona nyaman yang dirasa mengungkung. Tapi tak kurang pula yang berhasil menyelesaikan masa tugasnya sampai usia pensiun. Apapun pertimbangannya, kini sebagian besar kita yang bergabung di halloPIM bukan lagi karyawan PIM. Kita hanya disatukan oleh kenangan manis masa lalu, dimana ada keinginan untuk tetap melestarikan semampu kita hubungan silaturahim yang telah terbina selama ini. Saya setuju dengan pak Iqbal, mari lupakan (jika ada) sisi buruknya, kita utamakan kenangan yang baik-baik saja. Saya percaya Pak Iqbal dan teman-teman halloPIM telah memberikan yang terbaik untuk PIM dimasa lalu. Kita semua telah memberikan yang terbaik dan kini saatnya memetik buah kenangan manisnya. Salam.  

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

sucipt...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 5:43:38 AM8/10/14
to Hallo PIM

Pak Nur,

Saya sependapat dg Bapak bahwa pak Sidharta ( Dir Jend IKD ) punya rasa dendem dg Pusri. Untuk memperkuat posisinya maka pabrik-pabrik pupuk yg baru ( AAF dan PIM ) Dirutnya diangkat dari Petrokiian Gresik yaitu Ir. Rachman Subandi ( AAF ) dan Ir. Djarot Djojokusumo ( PIM ).

Sementara itu IIr. Zaini Muhibat, Ir. Nanang, dan Ir. Sutardi ( AAF ) dan Ir. Nur Hidayat, Drs. Rochadi Prayitno nggak ada opsi lain kecuali mmengikuti kebijakan Dirut masing-masing karena mau minta pertimbangan Dirut Pusri sebagai induk para direksi asal PUsri ini sudah tertutup sehubungan dirut Pusri diangkat bukan dari industri Pupuk.

Celakanya lagi PIM ini dibuat semacam kelinci percobaan. Mengapa saya katakan demikian ?

Pusri dan Kellog sudah lebih dulu membentuk anak perusahaan ( Joint Venture ). Perusahaan ini sukses membangun pabrik ban Intirub yg dipimpin oleh Ir. Perangin-Angin. Kemudian perusahaan ini sukses membangun Pertamina EP Prabumulih yg dipimpim Ir. Sucipto Somodiharjo ( saya ). Dengan sukses story ini didirikanlah PT. Rekayasa Industri. Proyek pertama Rekayasa adalah PIM. Hal inilah yg saya ktakan PIM dipakai uji coba. Walaupun kenyataanya Rekayasa juga masih menggandeng Kellod sebgai Technical Asisstance.

Saya bisa bayangkan komplexitas Direksi PIM waktu itu yang harus memangae TEC, Rekayasa+Kellog, dan internal PIM sendiri.

Namun keberhasilan ( success story ) PIM-1 ini kelihatanya membuat Direksi PIM merasa over confident. Dalam waktu singkat membentuk 30 anak perusahaan tanpa Feasibility Study dan Business Plan yg jelas.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sat, 9 Aug 2014 14:36:07 +0000

sucipt...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 5:58:38 AM8/10/14
to Hallo PIM

Yth. Pak Nur,

Mohon maaf tulisan saya tadi belum selesai namun sudah terlanjur terkirim. Dan dibawah ini saya lanjutkan sedikit :

Saya waktu itu merasa kebijakan Direksi PIM mulai ngawur. Terlebih-lebih setelah pak Nur kembali ke Pusri. Berawal dari kasus pabrik gula Silihnara. Saya teramasuk penentang program tersebut karena penangan project ini tidak dikelola secara profesional, tidak ada busniess plan, tidak ada analisa cost and benefit, tidak ada disiplin anggaran, tidak ada engineering. design yg jelas, dan tidak ada project milestone. ( Schedule. Yg terintegrasi. Yang ada adalah perkiraan tanpa diikuti perhitungan tapi dilapangan sudah kerja dg system coba-coba.

Saya pernah mengomentari project tersebut melalu salah satu anak perusahaan yg namanya PT. Imabitama. Kebetulan saya adalah Komisaris PT. Imabritama., sehinggak komentar saya itu dilaporkan ke pak Djarot. Tak pelak lagi, saya dipanggil pak Djarot dan diberitahu " Siapa saja yg menghalangi atau tidak mendukung proyek Silihnara tidak akan naik pangkat ". Maka dari itulah saya berinisiatif mengundurkan diri dari PIM walaupun saat itu belum ada karyawan selevel Kabag yang minta mengundurkan diri.

Sekali lagi saya mohon maaf kalau cerita saya tadi kurang berkenan, karena ini juga pandangan seorang karyawan terhadap kebajakan direksinya.

Salam hormat,

.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sun, 10 Aug 2014 09:43:26 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.


Pak Nur,

Saya sependapat dg Bapak bahwa pak Sidharta ( Dir Jend IKD ) punya rasa dendem dg Pusri. Untuk memperkuat posisinya maka pabrik-pabrik pupuk yg baru ( AAF dan PIM ) Dirutnya diangkat dari Petrokiian Gresik yaitu Ir. Rachman Subandi ( AAF ) dan Ir. Djarot Djojokusumo ( PIM ).

Sementara itu IIr. Zaini Muhibat, Ir. Nanang, dan Ir. Sutardi ( AAF ) dan Ir. Nur Hidayat, Drs. Rochadi Prayitno nggak ada opsi lain kecuali mmengikuti kebijakan Dirut masing-masing karena mau minta pertimbangan Dirut Pusri sebagai induk para direksi asal PUsri ini sudah tertutup sehubungan dirut Pusri diangkat bukan dari industri Pupuk.

Celakanya lagi PIM ini dibuat semacam kelinci percobaan. Mengapa saya katakan demikian ?

Pusri dan Kellog sudah lebih dulu membentuk anak perusahaan ( Joint Venture ). Perusahaan ini sukses membangun pabrik ban Intirub yg dipimpin oleh Ir. Perangin-Angin. Kemudian perusahaan ini sukses membangun Pertamina EP Prabumulih yg dipimpim Ir. Sucipto Somodiharjo ( saya ). Dengan sukses story ini didirikanlah PT. Rekayasa Industri. Proyek pertama Rekayasa adalah PIM. Hal inilah yg saya ktakan PIM dipakai uji coba. Walaupun kenyataanya Rekayasa juga masih menggandeng Kellod sebgai Technical Asisstance.

Saya bisa bayangkan komplexitas Direksi PIM waktu itu yang harus memangae TEC, Rekayasa+Kellog, dan internal PIM sendiri.

Namun keberhasilan ( success story ) PIM-1 ini kelihatanya membuat Direksi PIM merasa over confident. Dalam waktu singkat membentuk 30 anak perusahaan tanpa Feasibility Study dan Business Plan yg jelas.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sat, 9 Aug 2014 14:36:07 +0000

Wimpie

unread,
Aug 10, 2014, 9:28:26 AM8/10/14
to hall...@googlegroups.com

Luar biasa! Kisah-kisah dari masa lalu terungkap kembali. Selalu menarik mengikuti apa yang diperbuat oleh para pelaku yang menorehkan atau mengubah jalan sejarah. Dari sejarah kita belajar sesuatu dan memahami mengapa suatu peristiwa terjadi. Karena menyinggung Proyek Rehabilitasi PGM Silihnara, saya yang juga pelaku sejarah yang terlibat langsung, walau peranannya kecil, ingin juga berbagi cerita/komentar.

Rehabilitasi PGM Silihnara pada awalnya hanya sebatas perbaikan (rekondisi) peralatan yang sudah ada. Tak ada perubahan proses. Saya yang pada waktu itu menjabat sebagai Kasi Bengkel Mesin ditunjuk merangkap jabatan sebagai Site Manager Rehabilitasi (Tahap-1). Posisi yang keren juga waktu itu karena saya di beri kendaraan operasional (jeep hardtop) lengkap dengan supir. Mungkin satu-satunya Kasi yang punya supir waktu itu…LOL. Karena tugas tersebut saya sering ke lapangan di Takengon dan menginap disana.

Di sepakati waktu itu bahwa permasalahan utama pabrik gula itu terletak pada Mesin Giling tebunya. Terdapat 2 mesin giling yang rendemennya rendah sehingga perlu rekondisi. Keseluruh rol giling dan bantalannya kami bawa ke perbengkelan PIM untuk di rekondisi. Kami hanya lakukan pengelasan permukaan sebelum di-machining kebentuk semula. Rendemen naik, tapi tetap tak sesuai harapan. Kalau tidak salah kemudian ada tenaga ahli di datangkan dari Pasuruan. Ahli-ahli pabrik gula. Kesimpulannya sistem yang ada sulit di perbaiki. Perlu perubahan sistem dari proses terbuka menjadi tertutup. Proyek Rehabilitasi Silihnara memasuki tahapan yang lebih serius. Waktu itu saya tak menyangka bahwa perubahan proses tersebut ternyata mengubah total pabrik gula tersebut. Hampir seluruh peralatan pabrik lama dibongkar dan diganti yang baru.

Organisasi proyek dirombak total (Tahap-2). Pekerjaan engineering dilakukan oleh PT. Imakon (dan Biro teknik PIM), sementara pekerjaan lapangan oleh PT. Imabritama (dan Bagian Perbengkelan PIM). Kedua anak perusahaan itu baru saja dibentuk. Saya yang waktu itu sudah promosi menjadi Kabag Perbengkelan agar lebih fokus ke pabrik PIM1 tidak lagi menjadi Site Manager dan digantikan oleh Ir. Minardi yang juga adalah salah satu Direktur Imabri. Tapi seluruh pekerjaan fabrikasi peralatan tetap dilakukan di bagian perbengkelan PIM. Tiba-tiba saja kami menjadi sangat sibuk karena harus melakukan fabrikasi peralatan sebuah pabrik gula mini baru, sambil tetap harus fokus melayani pemeliharaan pabrik PIM-1. Saya, kabag perbengkelan baru yang sebelumnya relatif punya pengalaman terbatas, tiba-tiba dihadapkan pada 2 kegiatan besar yang menyita perhatian.

Nanti dilanjutkan lagi. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 9:59:09 AM8/10/14
to hall...@googlegroups.com
Pak Cipto, saya sangat menghargai jasa2 yg pak Cipto dan kawan2 lain yg sdh memberikan jasa besar kpd PIM dan bekerja dg professional sehingga turut mensukseskan pembangunan PIM-1. Saya kecewa kpd pak Djarot yg tdk memahami akan jasa2 karyawan PIM yg preofessional dan bertindak secara diktator memaksakan merehabilitasi/renovasi pabrik gula Silihnara. Saya pernah bilang kpd Inspektur ir. Gunawan Inspektur Jendr. yg ditugasi Pemerintah utk memonitor pelaksanaan renovasi Silihnara tsb bhw pekerjaan tsb akan sia2 dan tdk akan layak utk dioperasikan. Sejak pabrik PIM sdh beroperasi normal saya sering bertentangan dg kebijakan pak Djarot dlm membina anak2 perusahaan. Rupanya pak Djarot bermain politik dg mendekati fihak Istana sehingga mau mem-by-pass pak Menteri Hartarto. Dibuatnya Feasibility studi Renovasi Silinara dan disimpulkan bhw renovasi itu dinyatakan layak dan telah berhasil dilaksanakan. FS nya saya lihat dan dibuat th 1987 oleh PIM. Ketika itu pak Sidharto memanggil saya dan mau menjebak saya dikiranya yg membuat FS itu saya, maka ketika saya lihat th pembuatannya 1987, saya katakan bhw saya tdk pernah menyatakan bhw Silinara itu layak utk dioperasikan dan FS itu bukan saya yg membuatnya, krn th 1986 itu saya sdh dipindah ke Pusri. Pak Sidharta ketika itu teringat bhw saya sdh digantikan oleh ir. Suardin. Saya mendengar bhw pak Hartarto sangat marah ketika itu kpd pak Djarot. Pak Djarot pernah dipanggil pak Hartarto dan ditegurnya dan diingatkan jangan juga ngomong2 mau bangun PIM-2. Tapi krn pak Djarot masih terus saja ngotot mau perluasan PIM-2, lalu pak Menteri memberhentikannya. Ada cerita lain ttg hubungan saya dg pak Djarot. Ketika pak Djarot mau membeli peralatan Forging and Molding, saya terkejut disodori Permintaan Penawaran peralatan tsb oleh pak Otang Adirahmat Dep.Logistik. Saya bilang kpd pak Otang bhw saya tdk tahu menahu akan rencana tsb dan belum ada studi kelayakannya jadi saya tdk mau memberikan paraf. Begitu pula pak Rochadi, Dirkeu, melihat saya tdk mau memaraf, beliau juga menolaknya, sehingga pak Otang terus lapor kpd pak Djarot bhw saya dan pak Rochadi tdk mau memberi paraf, apalagi tanda-tangan. Ketika itu pak Djarot bilang kpd kami berdua sambil menyindir bhw itu adalah utk memenuhi keinginan pak Menteri. Kami berdua bilang bhw kami belum mengkajinya sehingga kami tdk berani utk memarafnya. Akhirnya pak Djarot menanda-tanganinya juga, seolah-olah sdh janji dg supplier Jawa Bussan. Rupanya pak Djarot sdh bermain politik, apalagi ketika mau bangun PIM-2, beliau bermain dg calo2 yg berani atas nama Yayasan punya pak Harto. Demikian pak Cipto cerita hubungan kami (saya dan pak Rochadi) dg pak Djarot. Ketika periode pembangunan PIM-1, pak Djarot selalu setuju dan mendukung apa yg saya usulkan/kemukakan mungkin krn beliau sendiri blm punya pengalaman mengenai membangun pabrik Ammonia dan urea. Beliau pernah kerja di Pusri-I, namun terlambat dan hanya sebemtar kemudian pindah ke Petrokimia. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sun, 10 Aug 2014 09:58:25 +0000

sucipt...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 10:20:45 AM8/10/14
to Hallo PIM

Yth. Pak Nur,

Terima kasih banyak atas tanggapanya yg cukup terbuka. Saya merasa bersyukur rupanya saya tidak sendirian bahkan Bapak juga tidak sependapat dg project tersebut. Saat itu saya merasa sendirian sebagai orang yg dibenci pak Djarot karena sikap saya menentang project Silihnara itu. Maka dari itu saya merasa harus mengundurkan diri dari PIM.

Kita semakin percaya bahwa Allah sudah mengatur segalanya, sedangkan kita sendiri belum tahu kemana langkah kaki kita akan diayun.

Salam.

.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sun, 10 Aug 2014 13:59:02 +0000

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 11:32:28 AM8/10/14
to hall...@googlegroups.com
Soal pengunduran dari itu juga pernah saya rencanakan bersama pak Rochadi krn masaalah hubungan antara bu Djarot dg istri kami. Bu Djarot begitu sombong dll thd istri2 kami. Dia pengen dipuji oleh ibu2 kita. Salam
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sun, 10 Aug 2014 14:20:53 +0000

Wimpie

unread,
Aug 10, 2014, 8:22:41 PM8/10/14
to hall...@googlegroups.com

Saya lanjutkan pengalaman sendiri tentang rahabilitasi PGM Silihnara.

Pada awalnya saya tidak terlalu mengerti tentang pabrik gula mini. Ketika menjadi site manager rehab tahap-1, kami banyak berdiskusi dengan pihak PGM untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dan peralatan apa saja yang rusak. Seingat saya kami fokus pada mesin giling tebu dan memasang pompa air baru di water intake. Dugaan saya, rehap tahap-1 gagal karena disain pabrik tersebut memang kurang handal sejak awal. Itu pula yang mendasari putusan rehab tahap-2 yang mengubah seluruh proses. Saya kaget juga ketika belakangan mengetahui bahwa perubahan proses pabrik tersebut ternyata membongkar hampir seluruh pabrik dan mengganti dengan yang baru. Total seluruhnya! Selain peralatan utama juga ditambahkan peralatan boiler yang sumber energinya berasal dari pembakaran ampas tebu. Boiler ini ternyata gagal karena tak tersedia ampas tebu yang cukup kering untuk dijadikan bahan bakar. Akibatnya sejak awal digunakan kayu kering. Dapat dibayangkan upaya untuk menyediakan kayu bakar dalam jumlah yang memadai, terutama karena di Silihnara sering turun hujan.

Kami di bagian perbengkelan jadi sibuk sekali. Personal begian perbengkelan dibagi menjadi 3 grup. Ada yang bertugas dan tingal dilapangan (Silihnara), sebagian mengerjakan fabrikasi bengkel, sementara sebagian lain fokus melayani pabrik PIM1. Saya jarang kepalangan, hanya sesekali ketika menemani Dirprod (Pak Suardin). Jadi saya tak begitu mengikuti perkembangan disana. Pekerjaan di perbengkelan sangat menyita waktu saya. Cukup banyak peralatan baru yang di fabrikasi disini. Sebenarnya kami tak begitu kesulitan, karena perbengkelan punya peralatan yang cukup lengkap. Kesulitan hanya ketika membuat tube sheet untuk heat-exchanger, karena kita tak punya mesin bor khusus yang presisi. Tapi bisa diakali tentunya, walau saya tak menyarankan dilakukan dalam kondisi normal.

Kesulitan lainnya justru datang dari bagian lain (engineering). Seringkali gambar fabrikasi yang kami terima ternyata disainnya belum final. Akibatnya banyak peralatan yang sudah hampir selesai di fabrikasi di bongkar lagi, di fabrikasi ulang karena ada perubahan disain. Membongkar dan kemudian fabrikasi ulang peralatan yang sudah hampir jadi bukan pekerjaan mudah. Jauh lebih sukar dan memakan waktu. Amburadul pokoknya. Apalagi kami seperti dikejar-kejar waktu. Unit fabrikasi terpaksa bekerja shift. Pekerjaan saya yang paling sulit adalah memotivasi ulang para pekerja (fabricator) yang mulai lelah dan dihinggapi rasa frustrasi karena ketidak-pastian pekerjaan.

Saya rasa persoalan bermula dari sini. PIM bukanlah perusahaan rancang-bagun & perekayasaan. Unit kerja yang ada ketika itu di siapkan hanya untuk menangani pemeliharaan pabrik. Sebagian besar tenaga kerja adalah pemula. Sebagian kecil lainnya berpengalaman untuk pemeliharaan pabrik, bukan membangun dari awal sebuah pabrik baru. PIM tak memiliki tenaga ahli yang memadai dan awam dibidang disain pabrik gula. Kita memang memakai jasa beberapa tenaga ahli, tapi saya meragukan kapasitas/kapabilitas mereka, terbukti dengan banyaknya perubahan disain yang terjadi ditengah jalan.

Ketika kemudian mengikuti dari dekat bagaimana REK/TEC ketika menangani pekerjaan engineering/perekayasaan PIM2, saya menyadari bahwa PIM sebenarnya telah melakukan ‘mission-impossible’ ketika mengambil peran lakukan rehabilitasi/renovasi (tahap-2) PGM Silihnara.

Nanti disambung lagi. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 8:42:20 PM8/10/14
to hall...@googlegroups.com
Lankjutkan pak Wimpie, saya baru dengar cerita yg menarik ini, krn saya sdh di Pusri. Tapi sejak awal saya sdh menyimpulkan bhw renovasi Silinara tsb tdk feasible krb masaalah randement kadar gula rendah dan kapasitas produksi kecil. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Mon, 11 Aug 2014 07:22:35 +0700

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 11:22:31 PM8/10/14
to hall...@googlegroups.com
Ketika membangun beberapa rumah Prefab dan Gd. Wisma di Tambun Tunong, saya hrs segera juga membangun rumah2 di desa Paloh Gadeng yg terdiri dari bukit-bukit dan lereng-lerengnya yg ditumbuhi banyak pohon kelapa. Dilereng bukit tsb masih diisi/diduduki penduduk aslinya, dan belum dipindahkan oleh Tim Proyek Pusri, sehingga saya hrs sgr membebaskan daerah yg sdh dibayar oleh Pusri tsb. Saya ingat benar ketika saya diantar oleh sdr Eddi Purnomo,( karyawan ex. Pusri Belawan yg pertama ditempatkan pd proyek Pusri- V dan berubah jadi Proyek PIM.) mendatangi para penduduk dg baik2 dan menjelaskan bhw lahan yg masih mereka tempati tsb akan segera dipakai utk membangun rumah2 PIM. Kami katakan bhw PIM akan membantu biaya pindah selama mereka pindahnya disekitar desa itu dan bahan2 bangunan ex.rumah mereka boleh dibawa utk membangun rumah mereka ditempat yg baru. Cara approach kita kpd penduduk itu sangat penting dan kita perlu mengenal budaya & adat suku Aceh yg sangat pekak perasaannya. Sdr Eddi Purnomo berhasil menjelaskan dan berkomunikasi dg baik dg semua penduduk yg akan dipindahkan rumahnya, sehingga berlangsung dg aman, tdk ada kegelisahan atau tuntutan lainnya. Utk mengetahui sumber air tanah utk perumahan, maka kami (saya bersama Eddi Purnomo) mencoba air sumur penduduk dan kami cicipi rasa dan baunya, ternyata airnya cukup baik. (Saya sdh punya pengalaman/pengetahuan ttg kwalitas air minum). Untuk membangun rumah2 PIM di Paloh Gadeng tsb tdk ada asses jalan dari desa Tambon Tunong atau dari jalan aspal yg ada disamping desa Paloh Gadeng. Kami hrs membuat jembatan darurat lebih dulu menyebrangi sungai Kr. Geukeuh dari desa Tambon Tunong ke Paloh Gadeng. Jembatan sementara itu kami bangun dg menggunakan batang2 pohon kelapa yg kami tebang sendiri dan dibelah menjadi balok2 dan batang2 bambu sebagai bahan bangunan jembatan. (Pak Iskandar MT, mohon dikoreksi kalau saya salah). Adapun gambar wilayah yg sdh dibebaskan Pusri itu, kami hanya punya gambar topografinya saja. Jadi berdasarkan gambar tsb dan krn kami tdk memakai jasa konsultan utk membuat Master Plan, maka saya sendiri menunjukkan kpd pak Juta Din yg memberi perintah langsung kpd supir buldozer utk memotong puncak bukit2 agar bisa menjadi lebih lebar dan dpt membangun sarana jalan dan rumah2 type B.(Utk Kep.Biro/Kadep). Mula2 Juta Din menanyakan berapa m kedalamnya yg hrs dikeruk, saya bilang kira2 aja dulu keruk dg kedalamannya 3 m. Sth selesai dia menanyakan lagi apa masih hrs dilanjutkan ? Sth saya lihat ternyata masih kurang lebar maka saya perintahkan lagi utk dikeruk lebih dalam. Dan seterusnya sampai diperoleh lahan selebar berapa m (saya lupa) utk membuat jalan beserta saluran air hujan, trotoir jalan kaki dan disampingnya lagi adalah halaman rumah bersama rumahnya. Utk sarana jalan mobil, dibuatkan route berdasarkan jalan kaki saya dari bari bawah bukit terus membelok dan nanjak kerarah dataran paling tinggi utk rumah direksi. Jadi ketika itu saya perintahkan kpd Juta Din bersama buldozernya mengikuti saya dibelakang dg jalan kaki menaiki bukit. Dan route itulah yg akan menjadi jalan utama. He hee, begitu primitif ya. Ada sebagian tanah yg dipakai route jalan itu adalah bekas sawah yg sebelumnya dipakai tanam padi tadah hujan, dan ternyata tanah tsb lembek dan ambles. (Tanah lembek). Saya coba atasi dg menguruknya dg sirtu (yg harganya lebih murah) beberapa truk. Alhamdulilah ternyata dg cara tsb tanah itu tdk ambles lagi, sehingga bisa dilewati truk bermuatan bahan bangunan utk membangun rumah2 diatas bukit. Sebelumnya saya hampir setiap hari jalan kaki mengitari wilayah Paloh Gadeng tsb serta memikirkan bagaimana bentuk dan route kalan dikomplek PIM nanti. Dibukit yg mana utk rumah2 direksi dan dimana utk dibuat Gedung Pertemuan dan Wisma para tamu. Dengan demikian saya sdh punya gambaran seluruh wilayah Pemukiman. Kpd Biro Teknik tinggal diberikan berbagai type rumah serta luas halamannya masing2. Gambar rumahnya (gambar copy yg didapat dari Pusri) juga diberikan. Jadi Biro Teknik tinggal menentukan lokasi rumah2 tsb. Supaya ada sistim pemerataan kpd kontraktor yg banyak menginginkan pekerjaan proyek PIM, maka kami tenderkan dg cara membagi beberapa paket utk berbagai rumah. Silahkan pak Iskandar MT bercerita lebih lanjut pengalaman beliau. Sebelum ditenderkan, kami kumpulkan dulu semua calon kontraktor lokal bersama semua staff PIM utk diberikan penjelasan. Selain diberi penjelasan ttg dokumen tender, juga saya tekankan bhw peserta tender hrs mengajukan penawaran harga disertai dg perinciannya. Yg dinilai bukan hanya harga penawaran yg rendah tapi mutu barang yg dipakai hrs berkwalitas baik seperti ketentuan dlm dokumen tender. Kontraktor dilarang memberikan uang (menyogok/gratifikasi) kpd pejabat/pengawas lapangan PIM. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sat, 9 Aug 2014 12:25:59 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Hubungan saya dg Dirprod Pusri Plg ir. Wardiyasa saya jaga dg baik, malahan kalau saya datang ke Pusri Plg beliau selalu wellcome, malah menanyakan apa yg bisa Pusri bantu, tentu saja saya senang sekali dan menyampaikan bhw saya memerlukan karyawan yg berpengalaman, dan pak Wardiyasa membolehkan saya memilihnya selama mereka mau pindah ke PIM. Namun saya juga hrs berusaha agar tdk mengambil karyawan andalan utk tdk menyulitkan Pusri dlm operasi pabriknya. Kemudian saya melakukan pendekatan dg beberpa karyawan2 Pusri yg saya perlukan di PIM, diantaranya saya dekati pak Juta Din BE.(Sipil lapangan), pak Darwin Abra BE. (ahli listrik), pak ir. Mujahid Rachman (utk Bengkel Pemeliharaan) kemudian disusul dg pak ir.Sucipto (Mech.Eng) dan beberapa mekanik, pipe fitters dll sesuai dg jadwal proyek. Utk operasi pabrik saya dekati juga beberapa formen/Kepala Bag. atau Senior Operator Ammonia, Urea dan Utility, Kebetulan sekali mereka mau dan bersedia pindah ke PIM. Kpd saya juga datang melamar ir. Harun Al Rasyid, proses engineer dari Pupuk Kujang, tentu saja saya terima utk membina engineer baru di PIM dlm Operasi pabrik. Mereka itulah berperan aktif dan memperlancar proyek PIM. Saya meresa bersyukur bhw banyak karyawan Pusri yg mau mendukung dan turut serta bersama saya pindah ke PIM Lhok Seumawe, walaupun proyek tsb masih baru dan memulai dari Grass-root. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Sat, 9 Aug 2014 00:31:49 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Dalam rangka penghematan biaya pembangunan, saya menghindari pemakaian jasa konsultan/advisor teknik baik utk Plant Construction maupun utk pembangunan Pemukiman. Krn itu saya mencari tenaga2 berpengalaman dlm berbagai keahlian yg diperlukan. Saya hrs melakukan dg tenaga2 PIM sendiri. Seharusnya utk pembangunan Pemukiman diperlukan konsultan utk membuat Master Plant, dlm menentukan rencana pembangunan rumah2 serta fasilitasnya, menata lahan dg melakukan cut & filled daerah perbukitan dan rawa2. Kalau memakai jaya konsultan akan memerlukan waktu yg lama dan biaya yg cukup mahal. Krn terdesak oleh waktu saya bersama staff menentukan sendiri bukit mana yg hrs dipotong dan mana yg hrs ditimbun. Satu2nya Lahan yg siap dibangun ketika pertama kali membangun rumah karyawan adalah didesa Tambun Tunong ketika itu kami hanya tinggal memotong pohon2 kelapa. Ketika kami memakai bulldozer utk mempercepat pemotongan pohon2 kelapa tsb, pak Juta Din alm.( Karyawan Pusri yg pindah ke PIM), tiba2 mau dihadang dg golok oleh seseorang tukang potong pohon, sehingga dia bersama supir buldozer lari tunggang langgang kekantor saya sambil ketakutan mengadu. Kemudian saya datangi orang yg masih pegang golok tsb dan saya tanyakan baik2 mengapa kami tdk boleh menggunakan bulldozer. Dia mengadu bhw "kalau pakai bulldozer saya kehilangan perkerjaan dan bagaimana saya menghidupi keluarga saya" katanya. "Ini daerah saya". Kemudian dg rasa terharu saya menjelaskan bhw PIM sedang dikejar waktu utk cepat membangun rumah2 disini utk keperluan karyawan yg akan membangun pabrik, dan kami juga memerlukan pekerja2 seperti tukang potong, sehingga bisa terus bekerja. Dan sekarangpun bisa langsung bekerja membantu pengemudi bulldozer dan pak Juta Din utk menjaga anak2 yg nanton dan membersihkan, meratakan lahan. Sth dpt penjelasana tsb orang tsb berubah wajahnya dari muka marah menjadi muka gembira dan senang sekali. Saya bilang juga bhw dia boleh terus kerja di PIM utk membersihkan halaman diperumahan PIM. perumahan nanti. Didesa tsb kami bangun rumah prefab dg alasan waktu pambangunan cepat, murah dan tahan lama, krn memakai kayu Damar Laut, sehingga dpt segera ditempati beberapa karyawan staff PIM yg berdomisili di LSw. Didesa itu ada satu rumah permanent type kuno dan saya lestarikan. Sumber airnya dg membuat sumur pompa dan ditampung dlm tangki. Serta utk penerangannya kami bangun Genset diesel dipasang utk wilayah itu, dan utk pendekatan dg masyarakat kami pasang kabel listrik juga ke Meunasah yg ada didesa Tambun Tunong tanpa diminta; kepala desa dan masyarakat tsb senang sekali dg penerangan tsb. Didesa tsb juga kami bangun Wisma utk para expatriate TEC yg bertugas dlm membangun pabrik. Design dan gambar detail gedung tsb beserta speknya saya copy dari gedung BQ Pusri, krn kalau tdk demikian akan memerlukan biaya dan waktu. Kebetulan saya dpt melakukan pendekatan dg staff Dept Teknik Pusri Plg sehingga dpt mengkopi gambar2 berbagai type rumah karyawan Pusri, gambar tsb saya berikan kpd Biro Teknik, ir. Iskandar MT cs utk dijadikan dokumen tender bagi pembangunan berbagai rumah2 di PIM. Masa PIM sebagai anak perusahaan Pusri tdk boleh mengkopi gambar2 rumah karyawan Pusri ? Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Fri, 8 Aug 2014 10:52:17 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Walaupun budget proyek sdh dilaporkan secara lisan kpd pak Hartarto, tapi secara resmi masih tetap tercatat sebesar 424 juta US$. Dilain fihak Pusri sebagai distributor produk pupuk meminta kpd PIM utk membagun tanki penyimpanan dan pengisian minyak solar utk armada kapal curah bila bersandar di Dermaga PIM, sehingga kami meminta change-order kpd REK utk mendesign tanki dan membangun fasilitas tsb. Jadi biaya proyekpun jadi bertambah krn ada tambahan biaya. Walaupun akhirnya fasilitas tsb sampai sekarang tdk pernah digunakan seperti rencana semula krn Pertamina tdk mau memberikan izin kpd PIM sebagai distributor solar di Lhok Seumawe. Kemudian kami direksi memutuskan juga utk membuat fasilitas Laboratorium Kimia dan Perbengkelan yg cukup utk fabrikasi peralatan pabrik. Sedangkan dlm konsep Pusri semula, anggaran 424 juta tsb hanya membuat Lab.Control saja, dg pemikiran dpt menumpang pd fasilitas di AAF. Demikian juga Bengkel Pemeliharaan. Utk kedua fasitas tsb kami menggunakan designer yg berpengalaman di Petrokimia Gresik dan daftar peralatan perbengkelan saya minta pak ir. Mudjahid ex Pusri yg membuat spek. peralatan yg diperlukan utk Bengkel tsb dan di Order via Perwakilan PIM di Tokyo memakai dana Loan Proyek PIM. Yang menyusun peralatan Lab. Kimia (Main Laboratory) saya minta ir. Melani Cornella, karyawan PIM. Gedung pertama PIM yg kami duduki adalah gedung ex. Restoran Lyn yg kami beli krn berada di kawasan Plant Area. Disitulah kami bekerja kalau kami berada di LSw. Kemudian kami bangun gedung baru darurat yg disebut Site Office PIM, dimana ada ruang Direksi & sekretaris, ruang Biro Direksi, Biro Keuangan, R. Personalia, Biro Teknih dan Ruang Rapat. Bangunan itu dirancang oleh PIM sendiri (Ir. Iskandar MT & Staffnya). Dibelakang Site Office itu ada Lapangan tempat upacara bendera yg kami adakan setiap bulan. Ketika itu lapangan tsb masih ditumbuhi pohon2 kelapa yg rindang. Site Offce PIM tsb bersebelahan dg Gd. REK sebagai Site Office nya, sehingga memudahkan kami berkomunikasi. Para sarjana teknik dan sarjana muda yg kami rekrut di Jkt berjumlah 40 orang dg asumsi ketika itu PIM akan diperluas dan dikembangkan oleh Pemeintah menjadi perusahan pupuk seperti Pusri (akan menjadi 4 pabrik ). Proyek PIM adalah satu-satu bumn yg melakukan suatu Studi Lingkungan dg menunjuk Konsultan dibawah pimpinan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, bernama "Indo Consult". Hasil studi tsb dipresentasikan dihadapan Bapenas dan para pejabat daerah di Aceh, Gubernur dan Bupati & staffnya serta para Komandan Keamanan seperti Kodam Iskandar Muda, Korem, Kodim dan Kepolisian. Dalam studi tsb ditentukan wilayah Industri, penunjang industri rakyat, wilayah Perbangkan dan Perkantoran dan wilayah Pemukiman. Semua pejabat menanda tangani Rancangan tsb utk dipatuhi secara bersama. Tapi kenyataannya tdk disusul dg Peraturan Pemerintah setempat, agar masyarakat tdk membangun perumahan yg terlalu dekat dg Industri yg dpt berdampak pd keselamatan penduduk sendiri. Setiap orang bebas saja membangun rumah2 disekitar pabrik krn belum ada aturan mengenai IMB. Dalam Studi tsb juga diceritakan ttg budaya Aceh, dimana rumah pimpinan itu biasanya berada ditengah-tengah rumah2 rakyat yg dipimpinnya. Konsep tsb kami terapkan dlm membangun rumah direksi PIM seperti terlihat di Perumahan PIM sekarang ini. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Thu, 7 Aug 2014 11:22:54 +0000

sucipt...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 11:31:44 PM8/10/14
to Hallo PIM

Oh gitu ya pak Nur. Waktu saya masuk rumah type C yg saya tempati sempat heran kenapa design ruangan rumah tersebut persis seperti rumah di Pusri di Jl. Bayam yg ditempati kakak saya Ir. Gunawan G ( Ka Operasi Pusri 1 ). Saya baru tahu sekarang kalau design rumah itu berasal dari copy design rumah di Pusri.


.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Mon, 11 Aug 2014 03:22:30 +0000

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 10, 2014, 11:41:49 PM8/10/14
to hall...@googlegroups.com
Iya pak Cipto, kalo gak gitu jadwal bisa mundur dan biaya akan jauh lebih tinggi. Kan saya sdh bilang bhw budget proyek hrs berkurang dan dihemat. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Mon, 11 Aug 2014 03:31:40 +0000

Wimpie

unread,
Aug 11, 2014, 12:18:02 AM8/11/14
to hall...@googlegroups.com

Ok Pak Nur, nanti saya lanjutkan sebagai selingan dari kisah pak Nur yang lebih menarik. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

Wimpie

unread,
Aug 11, 2014, 1:07:49 AM8/11/14
to hall...@googlegroups.com

Dear Pak Nur & All, saya lanjutkan ya..

Silihnara (3)

Pada waktu itu alasan rendemen rendah di laporkan karena mesin giling tebunya tak bekerja sesuai harapan. Sekurang-kurangnya seperti itu yang di sampaikan pihak managemen Silihnara. Saya lupa apakah rendemen kadar gula tebu juga rendah. Maklum, saya bukan ahli soal itu dan perhatian saya lebih fokus pada sisi mekanikalnya. Tapi mengenai kapasitas pabrik yang terlalu kecil mungkin ada benarnya. Buktinya 2 PGM sejenis lainnya yang terdapat di Lawang-Bukit Tinggi dan Pontianak juga dalam kondisi “hidup segan mati tak mau.” Sekali waktu saya sempat berkunjung ke PGM Lawang dan merasa prihatin melihat pabrik itu kondisinya tak berbeda dengan Silihnara. Sebenarnya, kalau sukses melakukan rehabilitasi di Silihnara, maka tugas PIM akan di lanjutkan di 2 PGM lainnya.

Saya bisa mengerti mengapa pemerintah meminta bantuan PIM untuk lakukan rehab terhadap PGM Silihnara. Kalau tidak salah PGM adalah proyek pemerintah untuk bantu petani transmigrasi. Ketiga PGM itu memang di disain berskala kecil untuk luas kebun tebu yang memang terbatas. Lokasi PIM tak jauh dari Silihnara. PIM punya fasilitas perbengkelan memadai dan masih punya banyak peralatan/sisa material proyek PIM1 yang dapat dimanfaatkan untuk PGM Silihnara. Menurut saya, rehab (tahap-1) masih sesuai dengan kemampuan PIM. Kesalahan terjadi ketika PIM kemudian memutuskan untuk lanjut ketahap-2. Kita kemudian mengubah total disain pabrik, membangun pabrik yang sama sekali baru disana. Tak menyadari bahwa kita mungkin bukan ahlinya. Sistem proses terbuka mungkin cocok untuk kapasitas terbatas seperti PGM, minimal seperti itu seharusnya ketika PGM digagas. Hanya saja kita kemudian mengubahnya menjadi sistem tertutup. Menjadikan mirip dengan pabrik PIM berskala mini. Mungkin kalau waktu itu pekerjaan RB&P diserahkan pada REK akan lebih baik hasilnya, walau saya tetap saja ragu terhadap kemampuan REK sendiri saat itu.

Kami di perbengkelan PIM nyaris frustrasi karena sering terjadi change order akibat perubahan disain. Pernah peralatan “Pan Masakan” yang hampir selesai harus di rombak total karena ukuran tube yang dipakai ternyata berubah. Kalau tidak salah ada beberapa unit. Peralatan lain ukuran (pipe) nozzle-nya yang berubah, menjadi lebih besar atau kecil. Atau posisinya diubah. Terpaksa di bongkar ulang. Duh ribetnya. Pernah melihat peralatan yang penuh tambalan seperti baju pengemis? Untung kemudian bisa disamarkan dengan pengecatan..…LOL. Waktu itu saya sempat kesal pada teman-teman di engineering. Tapi belakangan bisa memaklumi karena mereka juga harus mengerjakan sesuatu yang juga tak dikuasai sepenuhnya. Mereka memang dibantu oleh penasihat ahli dari Pasuruan, yang ternyata juga tak cukup ahli…LOL.

Waktu itu saya punya penasehat ahli lain dari TEC, lupa namanya. Hanya Dep. Operasi (Mr. Mandai), Dep. Pemiliharaan (Mr. Hashimoto), Biro Tehnik (Mr. Kanamoto?) dan Bagian Perbengkelan (Mr. Okamoto?) yang punya penasihat ahli orang Jepang. Penasehat Jepang saya lumayan stress melihat cara kerja kami menangani fabrikasi peralatan PGM Silihnara. Mirip cara kerja bengkel las kecil di luaran. Tapi pelaut handal tidak lahir dari lautan yang tenang, bukan?...LOL. Salam.    

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 


Sent: Monday, August 11, 2014 7:42 AM
To: Hall...@googlegroups.com

Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

 

Lankjutkan pak Wimpie, saya baru dengar cerita yg menarik ini, krn saya sdh di Pusri. Tapi sejak awal saya sdh menyimpulkan bhw renovasi Silinara tsb tdk feasible krb masaalah randement kadar gula rendah dan kapasitas produksi kecil. Salam.

Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: "Wimpie" <wim...@centrin.net.id>

Date: Mon, 11 Aug 2014 07:22:35 +0700

Subject: RE: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

 

Silihnara (2)

Saya lanjutkan pengalaman sendiri tentang rahabilitasi PGM Silihnara.

Pada awalnya saya tidak terlalu mengerti tentang pabrik gula mini. Ketika menjadi site manager rehab tahap-1, kami banyak berdiskusi dengan pihak PGM untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dan peralatan apa saja yang rusak. Seingat saya kami fokus pada mesin giling tebu dan memasang pompa air baru di water intake. Dugaan saya, rehap tahap-1 gagal karena disain pabrik tersebut memang kurang handal sejak awal. Itu pula yang mendasari putusan rehab tahap-2 yang mengubah seluruh proses. Saya kaget juga ketika belakangan mengetahui bahwa perubahan proses pabrik tersebut ternyata membongkar hampir seluruh pabrik dan mengganti dengan yang baru. Total seluruhnya! Selain peralatan utama juga ditambahkan peralatan boiler yang sumber energinya berasal dari pembakaran ampas tebu. Boiler ini ternyata gagal karena tak tersedia ampas tebu yang cukup kering untuk dijadikan bahan bakar. Akibatnya sejak awal digunakan kayu kering. Dapat dibayangkan upaya untuk menyediakan kayu bakar dalam jumlah yang memadai, terutama karena di Silihnara sering turun hujan.

Kami di bagian perbengkelan jadi sibuk sekali. Personal begian perbengkelan dibagi menjadi 3 grup. Ada yang bertugas dan tingal dilapangan (Silihnara), sebagian mengerjakan fabrikasi bengkel, sementara sebagian lain fokus melayani pabrik PIM1. Saya jarang kepalangan, hanya sesekali ketika menemani Dirprod (Pak Suardin). Jadi saya tak begitu mengikuti perkembangan disana. Pekerjaan di perbengkelan sangat menyita waktu saya. Cukup banyak peralatan baru yang di fabrikasi disini. Sebenarnya kami tak begitu kesulitan, karena perbengkelan punya peralatan yang cukup lengkap. Kesulitan hanya ketika membuat tube sheet untuk heat-exchanger, karena kita tak punya mesin bor khusus yang presisi. Tapi bisa diakali tentunya, walau saya tak menyarankan dilakukan dalam kondisi normal.

Kesulitan lainnya justru datang dari bagian lain (engineering). Seringkali gambar fabrikasi yang kami terima ternyata disainnya belum final. Akibatnya banyak peralatan yang sudah hampir selesai di fabrikasi di bongkar lagi, di fabrikasi ulang karena ada perubahan disain. Membongkar dan kemudian fabrikasi ulang peralatan yang sudah hampir jadi bukan pekerjaan mudah. Jauh lebih sukar dan memakan waktu. Amburadul pokoknya. Apalagi kami seperti dikejar-kejar waktu. Unit fabrikasi terpaksa bekerja shift. Pekerjaan saya yang paling sulit adalah memotivasi ulang para pekerja (fabricator) yang mulai lelah dan dihinggapi rasa frustrasi karena ketidak-pastian pekerjaan.

Saya rasa persoalan bermula dari sini. PIM bukanlah perusahaan rancang-bagun & perekayasaan. Unit kerja yang ada ketika itu di siapkan hanya untuk menangani pemeliharaan pabrik. Sebagian besar tenaga kerja adalah pemula. Sebagian kecil lainnya berpengalaman untuk pemeliharaan pabrik, bukan membangun dari awal sebuah pabrik baru. PIM tak memiliki tenaga ahli yang memadai dan awam dibidang disain pabrik gula. Kita memang memakai jasa beberapa tenaga ahli, tapi saya meragukan kapasitas/kapabilitas mereka, terbukti dengan banyaknya perubahan disain yang terjadi ditengah jalan.

Ketika kemudian mengikuti dari dekat bagaimana REK/TEC ketika menangani pekerjaan engineering/perekayasaan PIM2, saya menyadari bahwa PIM sebenarnya telah melakukan ‘mission-impossible’ ketika mengambil peran lakukan rehabilitasi/renovasi (tahap-2) PGM Silihnara.

Nanti disambung lagi. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of Wimpie
Sent: Sunday, August 10, 2014 8:28 PM
To: hall...@googlegroups.com
Subject: RE: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

 

Silihnara (1)

Raf Raflis

unread,
Aug 11, 2014, 1:52:42 AM8/11/14
to hall...@googlegroups.com
Dari pengalaman yang disampaikan oleh Pak Nur dan dan Pak Wimpi dan menyusul lagi nanti Pak Iqbal, maka pengalaman dari Bapak2 yang lain ditunggu tulisannya untuk melengkapi tulisan Pak Nur ini
Salam dan semoga Pak Nur dan bapak2 dan Kawan Yang lainnya selalu dalam keadaan sehat semua nya....amin

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 11, 2014, 6:20:37 AM8/11/14
to hall...@googlegroups.com
Utk penarangan lampu rumah, dan jalan, saya minta pak Darwin Abra utk membuat perencanaan sistim distribusi dan Generator Dieselnya, lengkap dg spek utk dilakukan pembelian barang2 yg diperlukan. Jadi kami bisa menghemat biaya jasa dan waktu utk disigned, gambar berikut speknya. Saya sangat menghargai dan berterimakasih atas jasa dan usaha pak Darwin Abra. Tanpa beliau, jadwal dan budget proyek akan molor semua. Ketka itu daerah pemukiman yg ditepi jalan Raya Banda Aceh-Medan sampai ditepian sungai Kr.Geukeuh, masih berupa rawa-rawa, belum ditimbun/direklamasi. Jadi semua kendaraan angkutan barang, masih memakai jembatan darurat Kr. Geukeuh dari Tambun Tunong ke Paloh Gadeng. Kami juga membangun satu Poliklinik guna perawatan karyawan yg sakit/melahirkan didaerah perumahan desa Tambon Tunong. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Mon, 11 Aug 2014 03:22:30 +0000

Figli Bombach

unread,
Aug 11, 2014, 6:42:19 AM8/11/14
to hall...@googlegroups.com

P.Nurhidayat yg saya banggakan...

Senang sekali membaca tulisan bapak Nur walaupun saat ini saya adalah satu satunya trainee yg masih ada dizona nyaman yg bapak bangun hhee...

Bicara soal listrik, ada satu hal yg sangat menarik bagi saya di komplek perumahan ini pak yaitu jaringan listrik yg sudah ditanam dibawah tanah/underground saya salut dengan perencanaan ini padahal ini dibangun sudah 30 tahun yg lalu sungguh bapak sangat visioner,sehingga dari segi estetika sangat menarik apalagi saat ini setelah pohon pohon mahoni sudah mulai besar dan berkerak,kalau pada awal bulan maret kita berjalan disepanja
ng jogging track persis serasa dinegeri empat musim, dan sampai saat ini saya lihat tidak banyak komplek perumahan yg jaringannya dibawah tanah,saya gak tahu kenapa begitu..?

Salam dari saya pak badge T-830126

Figli Bombach

unread,
Aug 11, 2014, 6:48:36 AM8/11/14
to hall...@googlegroups.com

Tambahan...

(Pada bulan maret pohon pohon Mahoni yg ada dikomplek serentak berguguran,....)

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 11, 2014, 7:58:25 AM8/11/14
to hall...@googlegroups.com
Pak Figli yg baik hati, perihal jaringan listrik dibawah tanah itu saya pertimbangkan dari segi safety dan ketahanannya. Pengalaman di Pusri juga begitu, jadi bagi saya dan pak Darwin bukan sesuatu yg baru. Saya senang sekali bila cerita saya itu banyak kawan2 yg menyenanginya, mohon maaf bila kalimat dan kata2 dlm memyusun cerita itu kurang berkenan, maklum saya ini bukan seorang penulis seperti pak Wimpie atau lainnya. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Figli Bombach <makg...@gmail.com>
Date: Mon, 11 Aug 2014 17:42:17 +0700

Wimpie

unread,
Aug 11, 2014, 9:05:33 AM8/11/14
to hall...@googlegroups.com

Pak Bobby,

Kemarin malam terjadi fenomena supermoon di langit Jakarta dan sekitarnya. Supermoon terjadi ketika bulan berada pada titik paling dekat dari bumi. Katanya ukuran bulan terlihat 12% lebih besar dan cahaya bulan 30% lebih terang dibandingkan biasanya. Semoga fenomena itu juga bisa disakisikan dari sela pohon-pohon Mahoni di komplek perumahan PIM, Lhokseumawe. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

Figli Bombach

unread,
Aug 11, 2014, 10:13:19 AM8/11/14
to hall...@googlegroups.com
P.Wimpie,..

He he he,..so pasti di lsw kemaren kami juga melihat fenomena
Supermoon karena yg kita lihat bulan yang sama, hanya saja kemaren
sehabis magrib munculnya di arah timur,kalau kita pandang dari arah
mesjid Al Muntaha bulan tepat berada diatas Stadion, jadi disana tidak
terlihat pohon Mahoni lebih banyak pohon Cemara, pohon Mahoni berada
diseputaran Jln Seulawah atas,Geurutee,Geurudong dan seputaran
Meuligoe,...

Salam,

Pada tanggal 11/08/14, Wimpie <wim...@centrin.net.id> menulis:
> Pak Bobby,
>
> Kemarin malam terjadi fenomena supermoon di langit Jakarta dan sekitarnya.
> Supermoon terjadi ketika bulan berada pada titik paling dekat dari bumi.
> Katanya ukuran bulan terlihat 12% lebih besar dan cahaya bulan 30% lebih
> terang dibandingkan biasanya. Semoga fenomena itu juga bisa disakisikan
> dari
> sela pohon-pohon Mahoni di komplek perumahan PIM, Lhokseumawe. Salam.
>
>
>
> "I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is
> to
> do it right." -- Muhammad Ali
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
>
> From: nhiday...@gmail.com
>
> Date: Wed, 6 Aug 2014 09:20:09 +0000
>
> To: Hall...@googlegroups.com<hall...@googlegroups.com>
>
> ReplyTo: nhiday...@gmail.com
>
> Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.
>
>
>
> Kira2 bulan Agustus 1982, kami pak Djarot dan saya sendiri dipanggil oleh
> pak Hartarto (masih Dirjen IKD). Beliau minta bhw budget proyek PIM yg sdh
> disetujui Menko Ekuin sebesar 424 juta US$ dihitung kembali dan ditunggu
> hari itu juga; kalo mungkin dihitung dikamar sebelah beliau. Kami coba
> berfikir dan kami mohon waktu utk kembali kekantor kami dulu(masih numpang
> sama Pusri) utk melihat perincian biaya proyek dikantor dan kami akan
> segera
> kembali mereview budet proyek. Sth kami lihat perincian budget proyek, kami
> melihat peluang utk melakukan penghematan, kira2 bisa berkurang menjadi
> sekitar 400 juta US$. Dan kami segera kebali melaporkan hal tsb kpd pak
> Hartarto. Beliau sangat senang sekali dan bilang "sungguh ya". Saya
> berfikir
> bhw saya akan memotong biaya foreign loan dg mengurangi tenaga expatriat
> dan
> saya akan potong juga biaya utk housing area. Bersambung.
>
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> _____
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> -----Original Message-----
> From: nhiday...@gmail.com
>
> Date: Fri, 1 Aug 2014 04:03:35
> To: Hall...@googlegroups.com<hall...@googlegroups.com>
>
> Reply-To: nhiday...@gmail.com
> Subject: Re: Perjuangan membangun PIM-1.
>
> Sangat bersyukur ketika itu, bpk Ir Hartarto, sebagai Kuasa Pemegang Saham
> baik REK maupun PIM sangat percaya kpd direksi PIM, sehingga apa yg kami
> laporkan diterimanya dg baik. Teringat ketika Dirut Rek yg pertama menjabat
> adalah seorang birokrat dan blm berpengalaman, diganti secara tiba2 atas
> usulan PIM. (Wah ini rahasiah loh, dulu tdk berani membuka rahasia ini ).
> Direksi PIM ketika itu diberi kepercayaaan penuh utk melakukan yg terbaik
> utk menyelaikan Proyek PIM. Kegoncangan yg terjadi di Pimpinan REK juga
> diselaikan oleh PIM. Pernah suatu ketika Site Mgr REK beserta semua
> engineernya pada lari ke Jkt meninggalkan Proyek, disebabkan oleh faktor
> keamanan di Aceh. Ketika itu kami selesaikan dg para Komandan Keamanan
> setempat. Pernah juga kontraktor AAF yg mengeruk bakal Pelabuhan AAF dan
> membuang lumpur galiannya utk menimbun rawa2 yg akan dijadikan lokasi
> pabrik
> PIM, tdk mau mengentikan pekerjaannya, walaupun lumpurnya menimbun sungai
> Kr. Geukeuh, sehingga banyak tambak2 ikan rakyat didaerah sungai tsb banjir
> dan menuntut ganti rugi kpd PIM. ( Apa perlu dilanjutkan cerita jadul ini ?
> )
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
>
> -----Original Message-----
> From: nhiday...@gmail.com
> Date: Thu, 31 Jul 2014 09:18:28
> To: Hall...@googlegroups.com<hall...@googlegroups.com>
> Reply-To: nhiday...@gmail.com
> Subject: Perjuangan membangun PIM-1.
>
> Mengapa pembangunan PIM-1 itu saya sebut perjuangan ? Dlm rangka
> kemandirian
> suatu bangsa, secara bertahap pemerintah ketika itu bermaksud utk memberi
> tantangan kpd kemampuan putra bangsa, yaitu memberi porsi mengembangkan
> kemampuan engineering & construction. Makanya ketika itu kontrak
> pembangunannya dibagi dua. Basic & detail Engineering dan Procuremen
> Foreign
> equipmen diberikan sama TEC. Tapi local material procuremen & Construction
> hrs dikerjakan oleh REK atas appoval PIM. Kontrak dg REK hanya dibayar
> secara lumpsum utk jasanya saja. Jadi tanggung jawab PIM sangat besar.
> Adapun budget utk keseluruhan pembangunan itu hanya diberikan lebih kecil
> dp biaya utk AAF. Biaya supervisi & start-up oleh TEC sdh disiapkan dlm
> budget, yg sdh tentu secara keseluruhaan biayanya lebih hemat/rendah
> dibanding total cost proyek AAF.
> Powered by Telkomsel BlackBerryR
Rasulullah SAW bersabda : "Orang mukmin yang satu atas mukmin yang
lain laksana bangunan yang menguatkan antara satu dengan yang lain."
(HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang mampu memberikan manfaat
pada saudaranya maka hendaknya dia memberi manfaat."
(HR. Muslim dan
Ahmad)

Wimpie

unread,
Aug 11, 2014, 9:25:23 PM8/11/14
to hall...@googlegroups.com

Jadi ingat ketika di wisma jalan entrogen di nggersik, memandang bulan yang sama sambil dengarkan lagu Endang S Taurina: "hatimu seputih salju"...eh?. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 12, 2014, 4:01:33 AM8/12/14
to hall...@googlegroups.com
Untuk pekerjaan re-rute sungai Kr. Geukeuh, pekerjaan gambar sipilnya dilakukan oleh Biro Teknik PIM (ir. Iskandar MT) dan pelaksanaannya oleh PIM sendiri disupervisi oleh pak Juta Din (alm) bersama surveyor PIM dg menyewa Dredger Kecil utk mengeruk sungai. Saya terharu sekali melihat pak Juta nongkrongin pekerja khususnya dimuara krn tanahnya berlumpur, sehingga pak Juta belekotan lumpur sekujur tubuhnya. Saya sendiri kalau jalan kesitu hrs pakai sepatu boot yg tinggi. Dimuara sungai itulah pekerjaan yg paling berat krn sekali2 diterjang ombak. Ternyata mulut sungai dimuara itu berpindah-pindah mengikuti arus angin/ombak. Selain dg Dredger kecil juga dibantu buruh kasar dg cangkulnya. Setelah sungai Kr. Geukeuh mengalir dijalur/rute yg baru, maka pekerjaan penimbunan Plant Area dpt dilakukan dg mudah. Dan selanjutnya saya minta kpd REK utk dibuatkan tanggul setinggi 3-4 m sepanjang pinggir Jalan Raya Medan- Banda Aceh, dg maksud utk ditumbuhi pohon-pohon penghijau, dan berfungsi sebagai Green Barier antara pabrik dan fasilitas umum. Saya pikir tanggul tsb akan mengurangi kecelakaan lalu lintas di jalan raya, krn pengemudi tdk terganggu melihat/menengok pabrik dari jalan raya. Demikian juga jalan dari Komplek PIM tdk dibikin lurus, dgn maksud utk mengurangi tabrakan antara mobil PIM dg kendaraan umum. Makanya pintu gerbang PIM dibuat ditengah-tengah Plant Area, sehingga mabil PIM dari arah Komplek PIM hrs belok kekeri dulu baru belok kekanan masuk Gerbang Pintu Plant Area. . Kemudian baru Housing Area yg terdiri rawa2 dari tepi jalan Raya Nedan-Banda Aceh masuk kedalam sampai sungai Kr. Geukeuh direklamasi dg pasir hasil kerukan pelabuhan yg diperuntukkan utk dermaga umum. Semula PIM diharuskan bayar pajak galian pasir (pajak galian C) oleh Pemda Propinsi Aceh. Tagihannya cukup besar krn volume pasir laun yg dikeruk juga cukup besar. Saya lupa berapa jumlah rupiahnya. Sewaktu Biro Keuangan PIM menyodorkan tagihan dari Pemda tsb kpd saya, saya terkejut dan heran, lho kenapa kita hrs bayar pajak galian pasir ? Kita mengeruk itu bukan utk menambang pasir terus menjualnya, tapi kita PIM mengeruk itu adalah utk menggali dlm rangka membantu Pemda membuat pelabuhan umum. Dibuatnya surat PIM kekantor pajak Propinsi, menjelaskan posisi PIM dalam membantu pelabuhan umum atas permintaan Gubernur tapi tetap mereka ngotot menagih spy PIM membayar pajak tsb. Surat tagihan pajak tsb sampai berulang kali, tapi saya juga ngotot tetap tdk mau bayar. Sampai akhirnya, ketika pak Gubernur meninjau proyek PIM, saya sampaikan dan jelaskan persoalan tsb. Alhamdulilah sth itu saya tdk mendengar lagi dan tdk melihat lagi tagihan pajak galian tsb. Hasil kerukan pelabuhan umum tsb banyak sekali sampai menggunung disekitar tepi pelabuhan yg digali, krn area pemukiman PIM yg direklamasi sdh cukup, malah saya timbun lebih tinggi utk lokasi mesjid yg akan dibangun ketika itu. Sampai proyek PIM selesai dan beroperasi normal, timbunan pasir hasil kerukan pelabuhan itu jadi menggunung. Saya pikir kalau gunungan itu hrs diratakan oleh PIM, akan memakan biaya yg cukup besar, atau bisa juga dijualnya utk keperluan reklamasi daerah lain, tapi saya tinggalkan aja. Ketika pejabat pelabuhan mendatangi saya dlm rangka melanjutkan pembuatan proyek pelabuhan umum, beliau menanyakan kenapa itu gunungan pasir lautnya dibiarkan menggunung ? Terpaksa saya beri saran ngibul, "wah itu uang tuh, pasir itu kan bisa dijual utk menimbun rawa2 didaerah lain, pasti laku tuh". Ahirnya beliau senyum dan tdk nuntut apa2 lagi. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Mon, 11 Aug 2014 10:20:35 +0000

Iskandar Mt

unread,
Aug 12, 2014, 6:25:17 AM8/12/14
to hall...@googlegroups.com
Saya ingin melengkapi memory re route Krg Geukueh ini yaitu:
Pada waktu dilakukan reklamasi area pabrik, maka untuk mendapatkan area yang compact perlu di reroute Kr Geukueh yang berkelok-kelok ditengah area plant site menjadi sungai yang lurus disisi timur area plant site.
Desain reroute sungai segera  dilakukan oleh PT. Fincode & Associates Jakarta, tetapi pada saat yang bersamaan reklamasi plant site yang diambil dari hasil pengerukan daerah pelabuhan AAF & perluasan Pelabuhan untuk PIM terus dilaksanakan oleh PT. Tropical Jaya dengan kapal keruk Beaver 300.
Sempat terjadi tanggul reklamasi area jebol sehingga Kr Geukueh sebagian tertimbun, sedang pada saat yg sama terjadi maksimum pasang laut dan curah hujan yang tinggi.
Cukup seru waktu itu PIM menghadapi komplain masyarakat di DAS Kr Geukueh.
Untuk mengantisipasi kedepannya maka waktu itu pak Nurhidayat mulai masuk kearah dialog dan pembuktian ilmiah.
Mula mula sambil dilakukan pengerukan Kr Geukueh oleh PT.Tropical Jaya,kami dikirim Pak Nur ke Universitas Syiah Kuala untuk mempresentasikan makalah kami tentang dampak Re route Kr Geukueh dihadapan civitas akademika disana.
Tahap ke dua ditugaskan PT. diagram untuk menyiapkan studi amdal Re Route Kr Geukueh yang untuk presentasinya diadakan di PIM dan Kantor Bupati yang saya sudah lupa siapa saja yang hadir.
Tahap ketiga PIM melakukan monitoring rutin dampak erosi dan sedimentasi dasar sungai dengan menggunakan alat echo sounder yang dibeli PIM. Untuk itu tim surveyor dipimpin oleh Hermansyah Nukaga ( mualaf dari japan).
Dari hasil pemantauan yang rutin dilaporkan, secara perlahan Kr Geukueh mencari sendiri equilibriumnya dimuara sungai.
Ada juga masalah legal dengan AAF tentang luasan sungai yang ditimbun dan tanah PIM yang dikeruk, tetapi hal ini juga telah diselesaikan dengan baik baik.

Just sharing pak Nur


Iskandar Mt

unread,
Aug 12, 2014, 6:36:55 AM8/12/14
to hall...@googlegroups.com
Saya ingin melengkapi memory re route Krg Geukueh ini yaitu:
Pada waktu dilakukan reklamasi area pabrik, maka untuk mendapatkan area yang compact perlu di reroute Kr Geukueh yang berkelok-kelok ditengah area plant site menjadi sungai yang lurus disisi timur area plant site.
Desain reroute sungai segera  dilakukan oleh PT. Fincode & Associates Jakarta, tetapi pada saat yang bersamaan reklamasi plant site yang diambil dari hasil pengerukan daerah pelabuhan AAF & perluasan Pelabuhan untuk PIM terus dilaksanakan oleh PT. Tropical Jaya dengan kapal keruk Beaver 300.
Sempat terjadi tanggul reklamasi area jebol sehingga Kr Geukueh sebagian tertimbun, sedang pada saat yg sama terjadi maksimum pasang laut dan curah hujan yang tinggi.
Cukup seru waktu itu PIM menghadapi komplain masyarakat di DAS Kr Geukueh.
Untuk mengantisipasi kedepannya maka waktu itu pak Nurhidayat mulai masuk kearah dialog dan pembuktian ilmiah.
Mula mula sambil dilakukan pengerukan Kr Geukueh oleh PT.Tropical Jaya,kami dikirim Pak Nur ke Universitas Syiah Kuala untuk mempresentasikan makalah kami tentang dampak Re route Kr Geukueh dihadapan civitas akademika disana.
Tahap ke dua ditugaskan PT. diagram untuk menyiapkan studi amdal Re Route Kr Geukueh yang untuk presentasinya diadakan di PIM dan Kantor Bupati yang saya sudah lupa siapa saja yang hadir.
Tahap ketiga PIM melakukan monitoring rutin dampak erosi dan sedimentasi dasar sungai dengan menggunakan alat echo sounder yang dibeli PIM. Untuk itu tim surveyor dipimpin oleh Hermansyah Nukaga ( mualaf dari japan).
Dari hasil pemantauan yang rutin dilaporkan, secara perlahan Kr Geukueh mencari sendiri equilibriumnya dimuara sungai.
Ada juga masalah legal dengan AAF tentang luasan sungai yang ditimbun dan tanah PIM yang dikeruk, tetapi hal ini juga telah diselesaikan dengan baik baik.

Just sharing pak Nur


2014-08-12 15:01 GMT+07:00 <nhiday...@gmail.com>:

nhiday...@gmail.com

unread,
Aug 12, 2014, 6:42:40 AM8/12/14
to hall...@googlegroups.com
Trimakasih sekali pak Is atas sharing dan melengkapi cerita saya serta akurat. Cerita saya hanya berdasarkan apa yg teringat, maklum saya sdh dimakan umur sehingga memori saya juga sdh banyak hilang alias lupa. Tolong lanjutkan dan lengkapi cerita saya ini, spy kawan2 PIM dpt mengenang betapa seriousnya kita semua berkarya membangun PIM-1. Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Iskandar Mt <iskanda...@gmail.com>
Date: Tue, 12 Aug 2014 17:25:15 +0700

Iskandar Mt

unread,
Aug 12, 2014, 8:33:07 PM8/12/14
to hall...@googlegroups.com
USULAN
Saya perkirakan kalau kawan kawan bersedia sharing, maka dengan masing2 menulis 1 atau 2 episode tentang pengalamannya selama pembangunan proyek PIM-1, baik saat konstruksi maupun sampai saat detik detik first prilling urea, maka akhirnya akan jadi satu buku mungil yang isinya saling melengkapi (Jadi kita tidak membebankan kepada pak Nurhidayat seorang).
Saya jadi ingat PT.Pusri juga pernah mengeluarkan memoar sejenis.
Disamping bantuan para pakar spt pak Noorhan, Suparmono dll, saya juga bersedia membantu sbg editor dan pembuatan skematik yang diperlukan.
Memoar tersebut bisa dibaca sebagai serba serbi nostalgia, sebagai kajian ilmiah proses Manajemen Proyek maupun masalah humanitas yang sangat tergantung masukan dari masing masing penulis.

Sebagai trigger mensupport pak Nur, baik saya lanjutkan mengenai memories Komplek perumahan PIM.

LANJUTAN SUPPORT MEMOAR PEMBANGUNAN PIM-1
Sangat benar sekali masterplan komplek PIM dirancang oleh pak Nur dengan menjadikan center pointnya 2 bukit Paloh Gading,
Pada bukit pertama dibangun Gedung pertemuan dan Wisma Cut Mutia, sedang pada bukit kedua dibangun perumahan Board of Director (BOD), eselon1 dan eselon 2 ( rumah type A, B dan C)..
Mengingat ada anak sungai Kr Geukueh yang membelah dua area komplek perumahan, maka kebijakan yang dipilih Alm Pak Jarot (kalau saya tidak salah) adalah menjadikan area komplek di Tambun Tunong sebagai common facilities sehingga diarea tsb dibangun, Masjid, Stadion, kolam renang, supermarket, Laundry, Poliklinik dan fasilitas pendidikan. Khusus tentang Dormitory dan rumah prefab dibangun di area Tambun Tunong lebih dikarenakan kebutuhan perumahan PIM pada masa awal sedang area tersebut masih merupakan tanah asli sehingga tidak perlu menunggu reklamasi dari dredging pelabuhan PIM.
Awalnya lay out jalan masuk kekomplek adalah berkelok dan bukan straight line seperti yang dibangun.
Pada waktu jalan aspal hotmix komplek PIM akan dibangun maka Direksi memanggil pak Markam (alm) dari PT. Marjaya untuk mengerjakannya dengan penunjukan langsung mengingat hanya PT.Marjaya satu satunya kontraktor aspal hotmix yang ada dan terbesar di Aceh waktu itu.
Pada waktu peninjauan ke lapangan beliau menyarankan ke Direksi PIM agar jalan masuk kekomplek dibuat lurus agar lebih terkesan megah dan protokoler. Hebatnya Direksi PIM menyetujui saran baru yang tidak kita jumpai pada komplek Arun dan AAF pada masa itu.
kami diminta langsung untuk merubah lay out dan menata jalan protokol tersebut yang tujuannya mengarah ke gedung pertemuan tsb.
Jadilah dibuat jalan 2 jalur dengan green belt yang sangat bagus dikomplek PIM.
Saya ingat betul waktu itu (alm) Pak Jarot meminta saya untuk mendesain sendiri jembatan merah dengan lampu artistik seperti di Paris dan Pak Nur juga meminta dibangunkan jembatan gantung ke lokasi Taman Kanak2 PIM.
Sebagai memory dapat saya sampaikan Masjid Al Muntaha dibangun atas special request pak Nur karena terkesan dengan keindahan Masjid Al Kautsar PT. AAF. Maka dipanggilah Arsitek Masjid AAF yaitu PT. Duta Hari Mukti untuk mendesain masjid Al Muntaha dengan syarat pak Nur yaitu harus lebih besar dan lebih megah dari Masjid AAF. Benar kan pak Nur, maaf kalau saya keliru.

Just sharing



ahmad bahagia -

unread,
Aug 13, 2014, 3:41:38 AM8/13/14
to hall...@googlegroups.com
Ass.Wr.Wb. Pak Iskandar, Pak Wimpie, Pak Samiadji, Pak Alan Djuherlan Pak Irvan Pasha Pak Cipto, Pak Usman Mahmud & All PIM

Bila kita mengenang pembangunan pabrik PIM 1 maka saya pribadi juga merasa terpanggil untuk nimbrung bercerita pada pembangunan pabrik PIM 1 dimana pada saat konstruksi pabrik PIM 1 berjalan saya bergabung dengan PT.Rekayasa Industri selama kurang lebih 2.5 tahun dan saya ditempatkan oleh PT.Rekayasa Industri (Persero) di Departemen Warehouse dengan posisi sebagai Central Warehouse Foreman & Import Material Cargo Handling Coordinator di bawah pimpinan Lody Lumingkewas dan Mr.Thomas Robert Killer sebagai Chief Warehouse Supervisor.

Setelah Pak Lody Lumingkewas resign beliau digantikan  oleh Bapak Ir.Mohd Johny Sardjanto MM dari Departemen Perindustrian Jakarta yang ditugaskan oleh Pemerintah di PT.Rekayasa untuk menangani warehousing. Personil dari PIM yang menangani warehouse adalah Bapak Sarbani Aziz, Bapak Purnomo Soetardjo, Bapak Mufti Said, Bapak Albidin Pangaribuan, Bapak Nuh Nurudiin Hasan dan lain-lain.

Kalau mengingat masa masa konstruksi pabrik PIM 1 harus saya akui suka maupun dukanya dan pengalaman saya pribadi saya pernah dimarahi oleh almarhum Pak Jutauddin (semoga beliau dilapangkan kuburnya), juga saya dimarahi oleh Pak Sofar dan Pak Jati

Saya ditegur dan dimarahi dalam menangani equipment/barang -barang yang tersimpan di open storage untuk packaging Import yang penanganannya kurang maksimal saya lakukan karena saya sebagai Coordinator Import Material dan menangani Cargo Handlingnya dimana pada saat packaging moving equipment terdapat packaging yang tersodok oleh Fokrlift yang di operasikan oleh staf saya sdr Nurdin (warehouse staf) sehingga terjadi damage yang harus dilakukan perbaikan.

Namun demikian dan Alhamdulillah dengan ditegurnya saya oleh mereka  dan saya menangapi teguran tersebut dengan positif untuk perbaikan kinerja saya maka hasilnya saya dapat bekerja lebih baik lagi dan lebih berprestasi.

Dan setelah pembangunan pabrik PIM 1 selesai 1985 dan start up pabrik telah menghasilkan first urea prill, saya ditawari untuk bergabung dengan PIM dan karena saya mempunyai sedikit keahlian dibidang Bahasa Inggris maka saya ditempatkan di Seksi Pembelian Luar Negeri dan atasan pertama saya di PIM adalah Bapak Irvan Pasha sebagai Kepala Seksi Pembelian Luar Negeri, dan Bapak Latief Ismail sebagai Kabag Pengadaan dan Pak Otang Adi Rachmat sebagai Logistics Manager dan digantikan oleh Pak Prasetyanto dan Direksi pada saat tersebut adalah Pak Djarot dan Pak Nur Hidayat sebagai Direktur Produksi (dimana pada waktu tersebut saya hanya kenal nama Diprod saya Pak Nur Hidayat sebagaimana saat ini saya kenal dengan Pak SBY sebagai Presiden saya). Selanjutnya atasan saya adalah Bapak almarhum Irama Izeddin, Bapak Alan Djuherlan sebagai Kabag dan Bapak Prasetyanto dan Pak Alan Djuherlan selalu meberikan amanah bahwa "Bekerja adalah Ibadah" dan pada masa Pak Irvan Pasha saya dipromosi oleh beliau sebagai Karu Pembelian Luar Negeri dan seiring adanya mutasi atasan saya berganti kepada  Alrmahum Irama Izeddin sebagai Kasi Pembelian Luar Negeri dan Bapak Alan Djuherlan sebagai Kabag Pengadaan dan selanjutnya kepada almarhum T.Adnan dan Almarhum Syahbanil serta Bapak Taufik Helmy sewaktu belia menjadi Kabag Pengadan dan Pak Alan Djuherlan sebagai Logistic Manager dan pada saat  Pak Benny Hermawan sebagai Logistic Manager dan pada periode beliau saya juga mendapat promosi menjadi Kasi Pembelian Luar Negeri dan selanjutnya Logistics dikomandani oleh Bapak Usman Mahmud dan sebelum Pak Usman menjadi Sekper dan sebelum beliau promosi menjadi Direksi beliau kembali ke Logistik menggantikan Pak Samiadji sebagai ketua Team tender dan saya tetap dibawah Pak Usman Mahmud.

Kembali kebelakang seiring dengan perkembangan pabrik PIM 1 dan pada masa tersebut dibangun Proyek CO2 Plant dimana Project Managernya adalah Pak Dibio Suwardono, Project Engineering Bapak Buswan Wibowo dan Ketua Bidang Konstruksinya Pak Wimpie dan saya sendiri sebagai Ketua Bidang Pengadaan untuk pembelian CO2 Plant dari Monsanto USA.(Memo Dinas Direksi sebagai tugas tambahan).

Pada proyek Optimalisasi yang dikomandoi oleh Pak Harun Al Rasyid saya diperbantukan di Procurement bersama Pak Alm Syahbanil dan Pak Teguh pada Bidang Engineering, namun saya tidak bertahan lama dan saya dikembalikan ke basic semula (back to basic) di Logistik dan kembali bersama Pak Alan Djuherlan.

Waktu berjalan terus dan pabrik PIM semakin mengalami kepesatannya dan disaat saat terakhir saya bergabung di Proyek PIM-2 dibawah komando Pak Wimpie dan Pak Andriano dan Alhamdulillah pada saat saya bergabung dengan Pak Wimpie saya berhubungan baik dengan beliau hingga saat ini dan beliau selalu menugaskan saya untuk SPD ke Jakarta untuk membantu pengurusan perpanjangan Master List dan SPD untuk pekerjaan lainnya. dan saya diberikan petuah oleh Pak Wimpie untuk tidak menjadi ketimun bungkuk yang tidak masuk dalam perhitungan, tetapi jadilah ketimun yang diperhitungkan dan inilah salah satu amanah beliau yang selalu saya ingat sehingga sewaktu saya aktif sebagai Sekretaris DPD II KNPI Aceh Utara saya pernah ditugaskan ke Singapore untuk mengikuti International Islamic Management Training.. Dalam masa tersebut saya direkomendasikan oleh Pak Wimpie untuk bergabung dengan Bapak Iskandar MT untuk bergabung denganbeliau dalam pembangunan Proyek Portal Scrapper dan Proyek Urea Formaldhyde dan Pak Iskandar memberikan kepercayaan kepada saya untuk menangani Procurement dan menangani handling Customs Clearance,Trucking dll untuk Import Equipment dari Topsoe Denmark (baik handling di pelabuhan AAF maupun handling equipment di Polonia Medan) selanjutnya Pak Iskandar dan Pak Bambang Sedewo mengajak saya untuk bergabung membangun pabrik BioDiesel di PTP IV Adolina Sumatra Utara.

Pak Iskandar dan Pak Dewo menugaskan saya selama sebulan lebih ke Jakarta dan berkantor di Perkantoran Warung Buncit Jakarta Selatan untuk menangani Procurement Equipment BioDiesel Project bersama dengan Pak Munir Abdullah.

Kemudian waktu berjalan terus dan saya dikembalikan lagi ke basic saya di Departemen Logistik dan bergabung di Team Tender bersama Pak Dibio, Aminullah Daud,dan Pak Afif Abda dan kemudian Ketua Team Tender dikendalikan oleh Pak Samiadji dan saya menjadi salah seorang Staf beliau di Team Tender dan beliau juga sangat banyak memberikan ilmu kepada saya pribadi dan selanjutnya Team tender ditangani oleh Pak Usman Mahmud sebelum beliau menjadi Direksi PIM dan saya juga menjadi staf Pak Usman Mahmud di team tender.

Seiring dengan adanya Promosi Jabatan dan perluasan struktur organisasi Alhamdulillah Management PIM memberikan saya kepercayaan untuk menduduki jabatan terakhir sebagai Manager Pengadaan Jasa dan pekerjaan terakhir yang saya tangani adalah Pengadaan Secondary Waste Heat Boiler dari Hudson Italiana Italy dan disaat detik-detik terakhir memasuki pensiun saya ditugaskan sebagai Staf Direktur SDM & Umum Bidang Pengadaan Barang dan Jasa.

Alhamdullillah juga saya panjatkan puji syukur saya yang tidak terhingga kepada Ilahi Robby dimana Bapak Bambang Sedewo sebagai Direktur Produksi pada saat tersebut memberikan kesempatan (hadiah) kepada saya dimana sewaktu saya akan memasuki pensiun Pak Bambang Sedewo menugaskan saya bersama dengan Pak Susanto Tirto Projo dan Pak Syakban serta Pak Nasri Abdullah  untuk melakukan Perjalanan Dinas (Manufacturing Visit) ke beberapa perusahaan di Tokyo Japan selama 14 hari sehingga saya mengetahui kota Ikebukuro,Tsuchiura,Hibadachi dan kota-kota lainnya.

Setelah mengabdi di PIM selama 27 tahun (mulai tahun 1985 s/d Nov 2011 pada bidang Procurement dan tidak pernah mengani bidang lainnya) dan setelah memasuki masa MPP tepatnya terhitunbg mulai tanggal 11 Nopember 2011 dan berselang beberapa hari saya beristirahat dirumah saya di Medan .Alhamdulillah tanpa saya duga-duga saya menerima telephone dari Pak Iskandar MT dan saya ditawari oleh beliau untuk bergabung dengan beliau pada perusahaan Construction Management Consultant (PT.SCC) yang beliau tangani di Jakarta untuk membangun pabrik Pipa Seamless di Kawasan Industri Krakatau Cilegon.

Tawaran tersebut langsung saya terima tanpa memperdulikan berapa gaji yang saya terima dan Alhamdulillah Pak Iskandar menawarkan pendapatan bulanan saya yang lumayan dan tambahan biaya sewa rumah per bulan. Sejenak setelah saya menerima tawaran kerja dari Pak Iskandar MT saya langsung tersungkur dan sujud untuk mengucap sukyur Alhamdulillah kehadirat Allah Yang Maha Kuasa atas tawaran kerja yang disampaikan oleh Pak Iskandar. Saya menangis dihadapan Alah dan berucap kepada Allah " Ya Allah betapa luas karuniaMu dan janjimu adalah benar bahwa rezeki yang disampaikan oleh Allah kepada hambanya tanpa kita ketahui dari mana asalnya.

Setelah bergabung dengan Pak Iskandar kurang lebih 1 1/2  tahun saya ditawari oleh pemilik pabrik Seamless Pipe Mill tersebut (PT.Artas Energi Petrogas) dan atas seizin Pak Iskandar saya bergabung dengan perusahaan tersebut dan dipercaya sebagai Logistics Manager hingga sampai dengan saat saya menulis pengalaman pribadi saya di Milis PIM ini. Terimakasih Pak Iskandar, Pak Dewo, Pak Wimpie, Pak Benny,Pak Alan, Pak Samiadji, Pak Irvan dll yang telah memberikan bimbingan kepada saya dan juga kepada Bapak Sucipto Sumodihardjo mantan Ketua Bidang Pendidikan Korpri PIM) sewaktu kami mendirikan Iskandar Muda English Club (IMEC) bersama dengan Pak Rommel Ginting, Ilyas Ahkab dan Yayat Hidayat dll.

Juga terimakasih saya kepada Pak Andriano yang selalu memberikan motivasi kepada saya khusunya dan teman teman lain umumnya untuk tetap bekerja dengan baik dan tekun  didalam bekerja dan Insya Allah kata beliau orang lain tidak akan menutup mata tentang hasil kerja kita dan inilah salah satu petuah beliau dan begitu juga dengan Pak Aziz Patza yang selalu memanggil adik kepada saya (sperti seorang abang kepada adiknya) sungguh pendekatan yang sangat Islami dan menyejukkan hati kepada karyawan yang telah diterapkan Pak Aziz Patza dan petuah petuah belia yang sangat bermanfaat bagi karyawan PIM sewaktu beliau menjabat Karo SDM maupun setelah beliau menjadi Direksi.

Inilah kisah perjalanan hidup saya selama bergabung di PT.Rekayasa saat konstruksi pabrik  PIM1 maupun selama bergabing di PIM selama 27 tahun dan saya mohon maaf dan mengangkat tangan sepuluh jari untuk memohon maaf yang sebesar besarnya atas kelancangan saya menuliskan kisah pribadi saya yang tidak pantas saya tuliskan di Milis PIM ini dan alur cerita saya yang berputar putar.

Tetapi saya bangga dengan adanya Milis PIM ini dan milis ini adalah salah satu media pengobat rindu saya kepada teman-teman selama saya mengabdi di PIM 27 tahun (suka dan duka bersama teman-teman) dan saya dapat menceritakan kisah pribadi saya di milis PIM ini walaupun saya sadari akan banyak yang tidak berkenan atas tulisani ni karena tidak bermanfaat bagi teman teman lainnya 

Mudah mudahan saya diberi maaf oleh semua anggota Milis PIM ini, kurang dan lebih atas cerita saya ini saya mohon maaf yang sebesar besarnya.

Wassalam Ahmad Bahagia

iqbal.bustaman

unread,
Aug 13, 2014, 4:14:39 AM8/13/14
to hall...@googlegroups.com, nhiday...@gmail.com





























th Pak Nur dan kawan2 PIMERS

Alhamdulillah sudah panjang cerita pak Nur ,terutama dari segi teknik dan operasional project PIM 1.luar biasa daya ingat pak Nur kalo saya liat masih fresh dan sangat patut kita syukuri bersama...saluut.

Dari segi administrasi keuangan saya coba mengingat ingat ,Sekitar tahun 1979 awal , setelah disetujui pemegang saham nota bene pemerintah,agar proyek pembangunan pabrik Urea PUSRI ke V yang mengambil lokasi di Lhokseumawe Aceh Utara ,setuju dilaksanakan maka PT PUSRI membentuk Team Task Force Pusri V.

Didalam team ini ditunjuk sebagai Bendahara Team adalah bapak Drs Ak Made Oka ( Kabag Keuangan di Biro Perbendaharaan Pusri) dan wakilnya bapak Amran Latief.
Dan untuk memperlancar komunikasi,pengaturan administrasi yang berdinas dan bertugas ke Aceh Utara serta pengamanan efisiensi Direksi menugaskan Kepala Perwakilan /Pemasaran Wilayah (KPW) SUMUT diangkat sebagai Liason Officer yang berdomisili di Medan.yaitu bapak Drs Syaefudin Ajib yang kemudian hari sempat jadi Dirkeu /Dirkom PT PIM.

Pada waktu tersebut Bapak Drs Zulkarnaen (alm) belum ditunjuk Direksi PUSRI ,beliau masih menjabat sebagai Kabag Asuransi dan pajak (dibawah lingkup Biro Perbendaharaan) dan tidak mengetahui bahwa beliau akan menjadi Karo Keuangan Proyek PIM 1,namun beberapa bulan kemudian setelah team Task force bolak balik ke Lhokseumawae ,terutama dalam rangka pembelian tanah dimana untuk memudahkan pekerjaan Team sempat merenovasi kantor Gudang pupuk Pusri di Cot Panggoi ,karena tanah proyek masih banyak yang belum selesai dan negosiasi dengan para pemilik tanah terkadang cukup melelahkan.

Saya pernah diajak bapak Made Oka suatu saat (karena waktu pak Amran latif sedang berhalangan) tiba 2 saya dapat penugasan dari atasan untuk mendampingi team proyek PUSRI V ,saya waktu itu sudah Junior Auditor selevel Kasie di Biro Internal Audit, untuk mengikuti proses pembelian dan pembayaran tanah ternyata cukup rumit dan pak Amran Latief yang banyak dilapangan cukup banyak asam garamnya yang beliau alami.

Pada kedatangan saya berikutnya sempat mendampingi team kelapangan yang mana untuk membayar tanah harus cash ,dan bawa banyak duit dan otomatis di kawal team dari Kodim dan Polres Aceh Utara.

Luar biasa dimasa pembelian dan pembebasan tanah ini jasa Bapak Abdullah Sarong (orang tua kita) sangat jago berdiplomasi dan sangat hafal sejarah/silsilah tiap keluarga pewaris atau pemilik Tanah, yang berhubungan dengan proyek PUSRI V atau PIM 1 ini,sehingga melalui beliau dan dibantu pak Keuceik dan Pamongpraja dapat dieselesaikan dalam schedule yang diperintahkan Direksi.(pekerjaan yang cukup alot memakan waktu hampir dua tahun lebih).

Tanah yang dibeli pada awalnya +/- sekitar 400 ha ,namun setelah reklamasi dan Re Route Kanal yang sudah diceritakan Pak Nur dan pak Iskandar MT ,kalau saya gak salah tanah PIM bertambah sekitar 20 ha.sehingga total tanah sampai keperumahan luasnya menjadi 420 ha.(mohon dikoreksi kalao saya salah).

Tidak lama kemudian Team Direksi PT PIM ditunjuk pemerintah (Februari 1982) yaitu Komisaris Utama bapak Ir Suryo Sunarko ( waktu itu beliau Staff ahli Menteri Suparman (Dirtekbang PUSRI),bpk Ir Djarot Djoyokusumo (ex PT PKG) ,Ir Nurhidayat (ex PT Pusri) dan Drs Rochadi Prayitno (ex PT Pusri).

Ternyata setelah ada penunjukan Direksi PT PIM (nama PUSRI v) lansung disesuaikan dengan nama yang selaras untuk daerah Aceh yaitu mengabadikan nama Sang Sultan Iskandar Muda,namun pak Drs Made Oka mengundurkan diri dan Team task force dibubarkan Direksi Pusri ,sedangkan Pak Amran Latif tetap ditugaskan untuk penyelesaian final atas tanah2 dimaksud serta diangkat Direksi PIM sebagai Kabag Perbendaharaan.

Dan setelah mundurnya pak Made Oka,Pak Rochadi atas izin Dirkeu dan Karo Perbendaharaan Pusri bapak Drs Zulkarnaen ditunjuk sebagai Kepala Biro Keu dan Akuntansi PT PIM,seingat saya Karo yang diangkat bersamaan dengan pak Zulkarnaen (alm) adalah Pak Ir Prasetyanto (teknik) dan selevel bpk Ir Harun Alrasyid (Proyek engineering),kalo saya salah mohon dikoreksi juga..

Satu bulan kemudian saya dipanggil bapak Ir Sotion Ardjanggi didampingi bapak Ir Kotan Pasaman ( sempat jadi dirut PT PKT ) dan bpr Drs Rusdi Tambunan (terkahir pensiun sbg Dirut PT Leces) saya bilang pada saat tsb bapak Drs Nurdin Nawas memanggil saya untuk Kabag Anggaran PT PKT,kata pak Kotan Direksi tidak setuju dan merestui membantu sebagai orang PUSRI di proyek PT PIM sebagai akuntan proyek.

Pada saat tersebut kami dapat tugas untuk memanage keuangan dan akuntansi proyek yang diperkirakan sekitar 400 Juta USD (ini mungkin yang pak Nur bilang setelah ada beberapa penghematan) kurs Rupiah pada saat tsb jauh dibawah rp 1.000,-
Saya ditugaskan direksi segera menyiapkan detail anggaran proyek,dan maaf data2 yang ada pada saat tsb sangat minim dan tidak bisa kami ambil dari feasibility study karena sudah banyak penyesuaian.
Alhamdulillah bapak Ir Suyatno ( ex Kaperwkilan Pusri di Jepang) ternyata beliau dapat amanah mengawasi proyek pembangunan pabri Urea PT AAF dan dipanggil pulang ke Indonesia oleh direksi PUSRI ,beliau setelah saya jelaskan tugas saya,dengan senang hati membriefing singkat kesaya karena PIM 1 duplikat dari AAF dan beliau besok harinya memberikan kunci kamar beliau di wisma PUSRI S.Parman 101 dan memberi mandat penuh untuk membongkar file proyek pembangunan pabrik AAF dan menyelaraskannya ke proyek PIM 1 ,dari sinilah kami dengan pak Zulkarnaen alm membuat acuan ke perbankan,karena dalam pembiayaan proyek PIM 1 setelah beberapa kali negosiasi akhirnya dai Loan LN dan Dalam negeri disepakati 65 % dan 35 %.

Untuk pabrik dan prasarana teknis dari foreign loan (Mitsui bank/ world bank sindication)untuk kantor,houssing colony dan prasarana penunjang dari local  loan (BNI)..akhirnya setelah penghematan penghematan maka biaya proyek PIM 1 real usd 388.863.000 dan ditambah subsidiary loan sekitar usd 8.000.000 ( dari sinilah pak Nur membangun Diesel Tank  yang gak pernah efektif pemanfaatannya) karena sebenarnya dari awal saya sudah sampaikan ke bapak  Dirut untuk dirobah aja jadi prasarana lain yang sangat bermanfaat ( saya usulkan ada dua Rumah sakit,satu untuk umum/yang ada mungkin sampai sekarang,kemudian yang khusus karyawan)seperti PT ARUN,karena gak mungkin PERTAMINA bisa mengalahkan bisnisnya sebagai Bunker Utama di Belawan ketimbang pelabuhan Krueng Geukeuh yang jauh kalah banyak frekewensi kapal2 yang sandar dibandingkan dengan Belawan??

Saya lupa menjelaskan bahwa saya hanya sekitar 4 bulan pegang akuntansi,karena bapak Dirut (pak Djarot alm) disini saya salutnya kebeliau,beliau sempat menguji saya,kalau kita punya "main contractor" dan pola pembiyaan ke mereka untuk yang local adalah dengan "system reimbursable" apa yang mutlak harus dilakukan?saya jawab bahwa "pengawasan anggaran sangat mutlak"beliau tanya pernah dengar Cash Budget?saya bilang pernah pak,tapi skala kecil sewaktu saya survey buat bikin skripsi Sarjana Muda,beliau tersenyum okay besok kamu siap2 pagi2 kita rapat dengan team PT PIM,saya ingat itu sekitar bulan May 1982,beliau mengajak saya satu mobil dari kantor Pusri kemanggisan kita rapat di Pusri Wisma S.parman 101,sekian menit saja /karena Jakarta tidak kenal macet waktu itu,beliau arahkan point2 pengawasan budget dan beliau mau adakan "cash Budget meeting" setiap bulan.bagi saya pribadi ini ilmu yang Luar Biasa dan sangat menarik kita bisa bertukar fikiran dan terkadang berdebat keras dalam rapat tersebut terutama dengan team Rekind dan internal PIM (rapatnya terpisah).

Maaf karena pak Zulkarnaen (alm) dan pak Rochadi juga tidak berpengalaman soal teknis operasional pengawasan cash budget ini,setelah sama2 belajar beberapa bulan dan malah saya sempat dikirim beliau (pak Djarot /alm) ke PT Petro Kimia Gresik untuk study detail atas cash Budget system ini.karena dari proyek2 Petrokimia Gresik dan operasionalnya kata beliau Dirjen  terkesan banyak hal yang bisa dilakukan penghematan2.
Disinilah saya dapat ilmu banyak meskipun sering juga bertentangan pendapat dengan pak Dirut terutama.
Maka pada akhirnya proyek PT PIM 1 dengan segala kesulitan dan kesenangan yang dihadapi bisa 3 bulan lebih cepat dan berhemat hampir +/- 5 % dari budget awal yang dicanangkan.

Makanya saya sempat membawa "uang bonus" pertama dengan nilai yang cukup besar kalao gak salah hampir Rp 2 Milyar waktu itu .manalagi lembaran uangnya lebar2 per lembarnya,dan ada kasus perampokan di proyek JGC Arun,karena pak Zul sedang ke Jakarta,saya yang dapat amanah mangaturnya..Alhamdulillah Jasa Pertama dari Mobil Jenazah Mesjid Al Munthaha PT PIM adalah membawa duit cash hampir rp 2 milyar dari kantor BNI Lhokseumawe ke kantor kita PT PIM Di Krueng Geukuh.
(he he orang 2 BNI sendiri mengatakan ini pengalaman pertama kali buat mereka memuat duit beberapa pulh kotak ke mobil Jenazah? :))....)

Disimpulkan suka duka mengatur dana dan anggaran proyek PIM1 yang kata pak Nur proyek perjuangan ada benarnya,kenapa demikian ,dari pengamatan saya sbb :

1.Main kontraktor yang diamanahkan ke kontraktor domestic pertama kali.
2.Rekind sebagai main kontraktor bagi mereka juga baru pertama kali dan sumber kehidupan usahanya tergantung sangat pada PT PIM 1.
3.Bagi putera Aceh karena proyek ini menjaga nama pahlawan dan sultan Iskandar Muda yang terkenal,juga merupakan kebanggaan pertama di Aceh.
4.Tenaga2 ahli yang ikut andil masih muda2 dan pengalamannya juga masih kurang tapi penuh dedikasi tinggi.
5.Prasarana pendukung untuk kenyamanan bekerja,baik kendaraan,penginapan dll kurang memadai pada awal 2 proyek.

Demikian dulu insya Allah akan kami lanjutkan....dan maaf kalau ada tertulis tanpa sengaja hal hal yang dianggap mengkritisi kebijakan2 direksi pada masa itu...salam
 

On Friday, August 8, 2014 5:52:23 PM UTC+7, Nur Hidayat wrote:Walaupun budget proyek sdh dilaporkan secara lisan kpd pak Hartarto, tapi secara resmi masih tetap tercatat sebesar 424 juta US$. Dilain fihak Pusri sebagai distributor produk pupuk meminta kpd PIM utk membagun tanki penyimpanan dan pengisian minyak solar utk armada kapal curah bila bersandar di Dermaga PIM, sehingga kami meminta change-order kpd REK utk mendesign tanki dan membangun fasilitas tsb. Jadi biaya proyekpun jadi bertambah krn ada tambahan biaya. Walaupun akhirnya fasilitas tsb sampai sekarang tdk pernah digunakan seperti rencana semula krn Pertamina tdk mau memberikan izin kpd PIM sebagai distributor solar di Lhok Seumawe. Kemudian kami direksi memutuskan juga utk membuat fasilitas Laboratorium Kimia dan Perbengkelan yg cukup utk fabrikasi peralatan pabrik. Sedangkan dlm konsep Pusri semula, anggaran 424 juta tsb hanya membuat Lab.Control saja, dg pemikiran dpt menumpang pd fasilitas di AAF. Demikian juga Bengkel Pemeliharaan. Utk kedua fasitas tsb kami menggunakan designer yg berpengalaman di Petrokimia Gresik dan daftar peralatan perbengkelan saya minta pak ir. Mudjahid ex Pusri yg membuat spek. peralatan yg diperlukan utk Bengkel tsb dan di Order via Perwakilan PIM di Tokyo memakai dana Loan Proyek PIM. Yang menyusun peralatan Lab. Kimia (Main Laboratory) saya minta ir. Melani Cornella, karyawan PIM. Gedung pertama PIM yg kami duduki adalah gedung ex. Restoran Lyn yg kami beli krn berada di kawasan Plant Area. Disitulah kami bekerja kalau kami berada di LSw. Kemudian kami bangun gedung baru darurat yg disebut Site Office PIM, dimana ada ruang Direksi & sekretaris, ruang Biro Direksi, Biro Keuangan, R. Personalia, Biro Teknih dan Ruang Rapat. Bangunan itu dirancang oleh PIM sendiri (Ir. Iskandar MT & Staffnya). Dibelakang Site Office itu ada Lapangan tempat upacara bendera yg kami adakan setiap bulan. Ketika itu lapangan tsb masih ditumbuhi pohon2 kelapa yg rindang. Site Offce PIM tsb bersebelahan dg Gd. REK sebagai Site Office nya, sehingga memudahkan kami berkomunikasi. Para sarjana teknik dan sarjana muda yg kami rekrut di Jkt berjumlah 40 orang dg asumsi ketika itu PIM akan diperluas dan dikembangkan oleh Pemeintah menjadi perusahan pupuk seperti Pusri (akan menjadi 4 pabrik ). Proyek PIM adalah satu-satu bumn yg melakukan suatu Studi Lingkungan dg menunjuk Konsultan dibawah pimpinan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, bernama "Indo Consult". Hasil studi tsb dipresentasikan dihadapan Bapenas dan para pejabat daerah di Aceh, Gubernur dan Bupati & staffnya serta para Komandan Keamanan seperti Kodam Iskandar Muda, Korem, Kodim dan Kepolisian. Dalam studi tsb ditentukan wilayah Industri, penunjang industri rakyat, wilayah Perbangkan dan Perkantoran dan wilayah Pemukiman. Semua pejabat menanda tangani Rancangan tsb utk dipatuhi secara bersama. Tapi kenyataannya tdk disusul dg Peraturan Pemerintah setempat, agar masyarakat tdk membangun perumahan yg terlalu dekat dg Industri yg dpt berdampak pd keselamatan penduduk sendiri. Setiap orang bebas saja membangun rumah2 disekitar pabrik krn belum ada aturan mengenai IMB. Dalam Studi tsb juga diceritakan ttg budaya Aceh, dimana rumah pimpinan itu biasanya berada ditengah-tengah rumah2 rakyat yg dipimpinnya. Konsep tsb kami terapkan dlm membangun rumah direksi PIM seperti terlihat di Perumahan PIM sekarang ini. Bersambung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Thu, 7 Aug 2014 11:22:54 +0000
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

Mangapa pak Hartarto hanya memanggil saya dan Dirut pak Djarot utk menghitung kembali budget proyek PIM tsb ? Pak Hartarto sebagai Dirjen IKD, mengetahui benar latar belakang riwayat & pengalaman para direksi yg diangkatnya ketika itu. Pak Hartartolah yg memilih calon2 direksi diberbagai bumn Deprind. Beliau mengetahui bhw saya pernah turut dlm Tim Evaluasi Proyek2 Pupuk di Indonesia bersama Konsultant Agrar und Hydrotecknik Jerman, turut serta dalam proyek Proyek Pusri-II, III dan Pusri-IV, mengevaluasi Bidders Proyek2 tsb, pernah jadi Reprentative Pusri & Kujang mengevaluasi pekejaan Enggineering & Procuremant TEC di Funabashi, supervisi konstruksi Pusri II, III, Site Mgr Pusri III dan IV dan mengopersikan pabrik2 Pusri II,III dan IV sampai menjadi Pimpinan Produksi Pusri. Mungkin krn itulah saya ditunjuk dan diangkat menjadi Dirtek PIM yg akan dibangun di Aceh. Saya juga kenal baik dg Direksi REK, khususnya pak ir. Didi Suwardi, yg kemudian saya usulkan utk menggantikan Dirut REK ( yg dicopot seperti cerita diatas), juga saya kenal baik dg Ir. Purnomo Dir. Teknik & Konstruksi REK yg dulu pernah sama2 kerja di Proyek Rayon yg dibatalkan, juga dg ir. Winardi yg ditunjuk sebagai Site Mgr REK, rekan kerja di Pusri, mantan Maintenace Mgr Pusri Plg. Jadi bagi saya mudah dlm memperkirakan budget proyek pabrik pupuk itu. Walaupun budget yg sdh dikurangi dan saya laporkan kpd pak Hartarto, budget tsb masih cukup dan akan saya hemat lagi dlm pelaksanaannya nanti. Bersambung.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Wed, 6 Aug 2014 09:20:09 +0000

herry yusmal

unread,
Aug 13, 2014, 4:54:37 AM8/13/14
to hall...@googlegroups.com
As,wr,wb Pak Ahmad bahagia sharing autobiografi bisa sebagai pembelajaran bagi anak2 sekarang kegigihan, kesabaran, ketawaqalan kerendahan hati didalam menjalankan tugas amanah dan ketulusan akan membawa hasil yang tidak diduga2 krn allah tidak akan menyia2kan hambanya yang amanah apa lagi dengan gigih menegakkan amar maqruf nahi mungkar insyaallah derajat tertinggi dan kemulian yang akan allah berikan amin wslm


Herry Yusmal

Wimpie

unread,
Aug 13, 2014, 5:03:51 AM8/13/14
to hall...@googlegroups.com

Dear Pak Ahmad Bahagia,

Sebuah perjalanan karir yang panjang. Sungguh beruntung karena tak banyak orang yang diberi kesempatan menekuni satu bidang saja selama itu. Kesempatan untuk menjadikan kita seorang ahli/spesialis. Saya percaya itu sebabnya bahkan ketika di usia pensiun pak AB masih menerima tawaran pekerjaan dan masih berkarya hingga sekarang. Diantara tahun-tahun yang panjang itu kita memang sempat bersisian jalan selama beberapa tahun. Dalam perjumpaan itu mungkin saya memberikan sesuatu pada Pak AB, tapi saya juga menerima banyak. Kita belajar dari setiap orang yang kita temui dan Pak AB memberi kontribusi yang berharga dalam pembentukan jati diri saya yang sekarang. Untuk itu saya juga berterima kasih.

Penilaian saya, pak AB adalah seorang pekerja keras, selalu bersemangat, gesit, ramah, mudah bergaul dan banyak menghadirkan kegembiraan. Menurut saya itu sebuah bakat yang teramat istimewa. Semoga sekeluarga tetap beroleh lindungan Nya. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

Wimpie

unread,
Aug 13, 2014, 9:13:54 PM8/13/14
to hall...@googlegroups.com

Silihnara (4)

Untuk merangkai jadi satu tulisan saya tentang Silihnara, maka saya berikan sub-judul ‘Silihnara’ secara berseri. Saya lanjutkan.

Seperti di ceritakan sebelumnya, secara tehnis PIM telah melakukan ‘mission impossible’ ketika ditugaskan rehab PGM Silihnara. Saya tidak mengetahui sepenuhnya latar belakang politik penugasan tersebut. Hanya yang diceritakan para pelaku sejarah, antara lain seperti yang disampaikan Pak Djarot ketika itu atau yang sekarang kembali diceritakan oleh Pak Nur Hidayat. Saya punya analisa sendiri, mungkin benar tapi bisa jadi meleset. Maklum saya masih yunior ketika itu.

Kita telah mendengar kisah sukses dan heroik tentang pembangunan pabrik PIM1. Sebagian dari kita disini adalah pelaku/saksi sejarah. Ekses dari proyek PIM1 adalah berkumpulnya banyak ahli/tenaga kerja melebihi kapasitas yang mampu diserap pabrik PIM1 saja. Sebagai perbandingan ketika itu PIM punya karyawan lebih dari 1300 orang, sementara disebelah terdapat pabrik dengan kapasitas sama, AAF, hanya punya 800 karyawan. Jelas ini masalah. Seperti pernah dijelaskan oleh menajemen, kelebihan karyawan itu karena Direksi PIM berasumsi selesai pabrik PIM1 akan segera dilanjutkan dengan pembangunan pabrik PIM2. Asumsi yang ternyata meleset. Lalu dikemanakan kelebihan karyawan itu?

Kalau tak salah menilai, seperti tentara, sebagian dari karyawan PIM adalah mereka yang berpengalaman sebagai pasukan pertahanan/keamanan, cocok diserahi tugas operasi/pemeliharaan pabrik. Sebagian lainnya adalah pasukan tempur yang disiapkan untuk menangani proyek konstruksi baru. Ketika tak ada peperangan didepan mata, maka pasukan tempur tadi jelas akan bermasalah jika dibiarkan menganggur. Karena itu perlu diciptakan ladang pertempuran baru. Saya duga berdirinya banyak anak perusahaan dan proyek PGM Silihnara adalah solusi yang diambil ketika itu.

Saya tak hendak menilai/menghakimi keputusan managemen PIM itu. Setiap orang diberi-tanggung jawab sejarah dan mereka tentu telah menunaikan sesuai perspektif masing-masing dan sesuai zamannya. Lagi pula saya hanya pemula waktu itu, belum banyak mencicip asam-garam. Jadi keputusan yang diambil bisa saja sudah benar, sesuai dengan kondisi/situasi saat itu. Kalau boleh lakukan kritik, menurut saya, kekurangan kita adalah karena sebagian dari kerumunan yang ada kualifikasinya dibawah standar. Tak mudah menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. Bahkan diantara teman-teman sering muncul ungkapan PGPL.

Rehab PGM Silihnara, Anak Perusahaan, atau bahkan proyek PIM2, menurut penilaian saya, bukan keputusan keliru. Kalau hasilnya tak maksimal, lebih karena ketidakmampuan mencapai tujuan bersama. Setelah proyek PIM1 selesai secara mengagumkan, kita kemudian kurang berhasil menjadi sebuah tim yang solid untuk mengulang kisah sukses tersebut. Kekurang-kompakan terlihat sejak pelaksanaan Rehab PGM Silihnara, pengelolaan Anak Perusahaan dan mungkin juga proyek PIM2. Saya sebagai salah seorang pelaku dari momen-momen bersejarah tersebut merasakan bahwa kita tak pernah lagi menjadi tim yang sama dengan ketika menyelesaikan proyek PIM1. Itu sebabnya cerita bersambung pak Nur Hidayat menjadi bermakna.

Saya mohon maaf kalau self-criticism ini mungkin kurang menyenangkan. Tapi generasi mendatang perlu belajar dari sejarah. Salam.

Figli Bombach

unread,
Aug 13, 2014, 10:23:53 PM8/13/14
to hall...@googlegroups.com

P.Wimpie....

Upaya untuk membentuk tim yang solid pada waktu itu sudah ada upaya dari Manajemen dengan dilaksanakannya program Team Building Corporate Outbound yg kita lakukan di Cisaat Sukabumi bersama yayasan Wanadri, mungkin pelatihan ini belum insight kita maknai, mohon maaf saya ikut nimbrung sedikit pak, menurut saya pelaksanaan pembangunan proyek pim-2 termasuk proyek gagal dibanding dg pim-1.

Salam

Wimpie

unread,
Aug 13, 2014, 11:31:31 PM8/13/14
to hall...@googlegroups.com

Pak Bobby,

Upaya membentuk tim yang solid berulangkali dilakukan. Dimulai dari program TQC yang sudah coba di terapkan sejak PIM1 masih berstatus proyek. Termasuk program Tim Building yang pak Bobby katakan. Ketika mengamati riwayat hidup(CV) sendiri, saya sering takjub melihat benyaknya jumlah pelatihan yang pernah saya ikuti selama bekerja di PIM. Tentu karyawan lain juga mengalaminya. Tapi semua program tersebut tak maksimal hasilnya. Buktinya kita tak pernah menjadi tim yang solid. Saya menilai penyebabnya lebih keakar masalah, yaitu faktor manusianya. Penyebabnya mungkin proses seleksi penerimaan karyawan yang harus berdamai dengan situasi dan kondisi. Pernah mendengar istilah PGPL dilingkungan teman-teman?

Mengenai proyek PIM2, sudah saya sampaikan penilaian awal saya dalam tulisan sebelumnya. Sama seperti proyek-proyek lainnya setelah PIM1 selesai, hampir semuanya tak sesuai harapan. Bahkan untuk proyek-proyek yang termasuk sukses seperti optimalisasi dan HRU sekalipun, saya yang juga sebagai pelaku ikut terlibat dalam konflik dan intrik-intrik internal. Belum lagi sepanjang saya bertugas sebagai procurement representative di kantor PIM Tokyo.

Saya sepakat dengan pak Bobby, bahwa proyek PIM2 telah gagal mencapai target-target utamanya: Waktu (Schedule), Mutu (Quality) & Biaya (Cost). Mengenai penyebab obyektifnya kita bisa berdiskusi panjang lebar. Mungkin saya dan para pelaku sejarah yang terlibat langsung dalam proyek itu bisa menjelaskan suatu waktu nanti.

Menurut penilaian saya (subyektif sifatnya), proyek PIM2 sebenarnya sudah dirundung masalah sejak dari awal sampai akhir proyek. Mulai dari Bahan Baku (Gas), Sumber Dana, Keamanan, dll. Masalah dari internal adalah karena kita tak pernah menjadi satu tim yang padu untuk menyukseskannya. Semua kita. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

Wimpie

unread,
Aug 13, 2014, 11:53:22 PM8/13/14
to hall...@googlegroups.com

Maaf, saya lakukan 2 kali kesalahan ketik. Bukan PGPL tapi maksudnya PGPS. Mungkin semua sudah mengetahui maksudnya. Salam.

Sjamsul Rizal

unread,
Aug 14, 2014, 1:55:22 AM8/14/14
to hall...@googlegroups.com
Maaf ikut nimbrung. Mungkin yang dimaksud PGPS adalah "Pinter Goblok Pendapatan Sama", apa demikian? Kalau salah saya mohon maaf sekali lagi.

Salam, srz.
srz.-

sucipt...@gmail.com

unread,
Aug 14, 2014, 2:08:33 AM8/14/14
to Hallo PIM

Pak Syamsul,

Sekarang PGPS itu orang semua sudah tahu, yaitu Partai Gerindra Prabowo Subianto ( PGPS ).

Salam,
Sucipto S
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Sjamsul Rizal <sjam...@gmail.com>
Date: Thu, 14 Aug 2014 12:55:20 +0700

Wimpie

unread,
Aug 14, 2014, 2:49:32 AM8/14/14
to hall...@googlegroups.com

Bang Sjamsul, saya enggan menyebutkan kepanjangan singkatan itu karena terkesan vulgar. Kuatir ada yang tersinggung. Maaf, karena itu ungkapan yang umum dan sering saya dengar sewaktu bekerja dulu. Tentu saja tak semua disama-ratakan. Banyak juga yang baik lho, hanya mereka cenderung tenggelam di kerumunan. Menjadi apatis atau malah pergi.

Bang Sjamsul (BS), karena sudah terlanjur bunyi, menurut saya adalah contoh paling bagus. Ketika pertamakali berjumpa, pangkat BS adalah Lakda (koreksi kalau saya salah) di Bagian Perbengkelan. Saya melihat BS sebagai seorang yang paling ‘niat’ belajar dan punya potensi untuk maju. BS merupakan salah seorang yang pertama saya promosikan menjadi Karu Bagian Perbengkelan. Tapi tidak mudah menjadi Karu ketika harus berhadapan dengan kerumunan, kan? BS kemudian saya tugaskan menyusun perencanaan/pengendalian khusus perbengkelan dan berhasil membuat program komputer khusus untuk itu. Padahal ketika itu PC masih sesuatu yang baru. Saya memperoleh 1 unit PC dari PT. Imakarya karena peranan/posisi saya sebagai Komisaris disana. Karena dapat pekerjaan pengecatan pabrik, Dirut IK kemudian sumbang 1 unit PC untuk perbengkelan (pertamakali saya lakukan kongkalingkong... LOL). Belum banyak yang bisa mengoperasikan komputer dan BS sudah membuat programnya.

Ketika saya di Proyek PIM2, saya merasa sangat bangga ketika mendengar BS diterima mengikuti program S2 di ITB. Saya rasa Pak Bambang Sedewo yang menjadi mentor BS selanjutnya juga merasa sangat bangga dengan pencapaian itu. Saya mengaku salah. BS bahkan lebih hebat dari dugaan saya sebelumnya. Tapi dalam beberapa kali diskusi saya turut merasakan betapa sukarnya untuk bisa kuliah dengan baik. Berbagai hambatan (barrier) muncul, bahkan dari manajemen perusahaan sendiri. Pernah tercetus rasa heran saya karena BS merupakan satu-satunya karyawan putera daerah yang bisa melangkah sejauh itu, tapi tak mendapat cukup dukungan memadai dari perusahaan. Prihatin sekali. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

Raf Raflis

unread,
Aug 14, 2014, 3:17:41 AM8/14/14
to hall...@googlegroups.com
Assalamualaikum wr,wb,Pak Ahm.Bahagia

Setelah saya membaca, apa yang Bapak sampaikan dalam menjalani kehidupan ini dimana Bapak sudah mendapatkan sesuai dengan nama Bapak sendiri yaitu BAHAGIA, Maksud saya (maaf) dan menurut Fikiran saya, Bapak mulai berkarier dari BAwah Hingga pAlinG dIAtas..selamat Pak atas Karier yang dicapai,...semoga semuanya ini membawa berkah Bagi Bapak di Dunia dan amal yang tidak terhingga sebagai modal diakhirat nanti...amin

Kalau selama saya mengenal Bapak di PIM dulu, dimana Bapak bekerja selalu fokus, (Hal ini saya rasakan ketika saya pernah ada urusan spare part instrumen dengan Bapak dahulu) tidak ada tujuan lain, dan kalau kata orang banyak, Bapak bekerja sangat profesional, sehingga lepas dari PIM, Bapak tidak perlu mencari kerja lagi ditempat lain, tapi pekerjaan yang mencari Bapak..sehingga Bapak bisa menikmati apa yang Bapak dapatkan sekarang

Tapi intinya pola kerja yang sudah ditata sedemikian rupa , (Mulai ikut konstruksi, pelatihan/ training dan study banding di dalam dan diluar negri) sewaktu selama di  PIM, sehingga ketika lepas dari PIM, bisa berkarya dan mudah beradaptasi  ditempat lain, (Saya sendiri merasakannya sekarang setelah tidak di PIM  lagi, walaupun berkarya di PIM sampai 23 tahun,)

Ini semuanya adalah, bahwa  Orang PIM itu bisa berkaya bukan di PIM saja tapi kalau ada  kemauan, maka diluar PIM juga bisa berkarya,

Demikian dulu saya sampaikan, sekali lagi saya mohon maaf pada Bpk Ahmad Bahagia, kalau dalam tulisan ini saya berbicara bukan pada tempatnya, dan semoga Pak Ahmad Bahagia selalu dalam keadaan sehat selamanya..amin

Wasalamualaikum wr,wb

ahmad bahagia -

unread,
Aug 14, 2014, 3:27:28 AM8/14/14
to hall...@googlegroups.com
Waalaikumsalam Wr.Wb.Pak Hery Yusmal dan Pak Wimpie

Terimakasih Pak Hery, Pak Wimpie atas responnya perihal tulisan tentang autobiografi pribadi saya dan memang itulah kenyataannya Pak dan sebagai hamba Allah memang seharusnya kita jangan pernah putus asa dari Rahmat Allah dan Insya Allah sepanjang kita mau berusaha dan berikhtiar dengan sungguh sungguh dan penuh harap dari Allah SWT Allah akan mendengar permintaan kita karena Allah berfirman Mintalah kepadaKu pasti akan kuberikan dan cepat atau lambat setiap permintaan hambaNya pasti akan diresponse oleh Allah.
Dan apa yang Pak Hery Yusmal sampaikan adalah benar bahwa Allah tidak akan menyia2kan hambaNya yang memohon kepadaNya.

Begitu juga dengan petuah Pak Wimpie maupun senior saya sebelumnya bahwa dengan mengikuti apa yang disampaikan Insya Allah telah membawa keberhasilan bagi saya pribadi, walaupun keberhasilan tersebut bukan berbentuk materi yang berkecukupan tetapi Alhamdulillah membawa ketenangan dalam hidup.

Sekali lagi terimakasih Pak Hery, Pak Wimpie atas tanggapannya mudah-mudahan kita diberikan kesehatan dan kemudahan kemudahan oleh Allah SWT dan harapan saya semoga karier Pak Herry Yusmal diperusahaan tempat berkarier saat ini akan lebih meningkat lagi dan akan lebih sukses.

Salam kami sekeluarga buat Pak Hery dan Ibu Cici di Jakarta begitu juga dengan Pak Wimpie yang katanya setelah lebaran akan berkunjung ke Cilegon untuk menikmati Sego Bebek atau soup ikan Taktakan khas Banten.

Wassalam Ahmad Bahagia

Raf Raflis

unread,
Aug 14, 2014, 3:33:45 AM8/14/14
to hall...@googlegroups.com
Selama di PIM yang sering saya dengar PGPL=Power Governor Pneumatic Line, yaitu governor yang di Compressor Ammonia dan Urea, tidak pernah dengar PGPS, mungkin karena dipabrik bising susah dengar issue

ahmad bahagia -

unread,
Aug 14, 2014, 3:53:40 AM8/14/14
to hall...@googlegroups.com
Waalaikumsalam Wr.Wb.saudaraku Raflis,

Terimakasih atas tanggapannya dan apa yang terjadi pada diri saya pribadi bukan hanya saya saja yang melaksanakannya tetapi masih banyak teman-teman kita yang lain yang lebih sukses kalau kita bandingkan diri kita dengan teman-teman lainnya mantan PIM maka saya pribadi sangat berbangga sekali melihat Pak Raflis sukses diluar apalagi Pak Cipto jangan ditanya keberhasilan beliau saat ini (punya perusahaan sendiri, punya sekolah dan lain-lain), begitu juga dengan Pak Iskandar MT yang sekarang menjadi salah satu Direktur diperusahaan Construction Management Consultan, Pak Iqbal Bustamam yang bolak balik Jakarta, German, Belanda, Pak Osmar Gumanti yang kini juga menangani Proyek besar, Pak Budi Mijil dan Pak Ruslan Abdul Gani yang yang berkarier di Luar Negeri, Pak Djatmiko yang terus menangani proyek, Pak Benny Hermawan yang telah merekrut mantan PIM bersama beliau (Pak Dibio, Pak Gede Suparta, Pak Sumarsono, Pak T.Asrul Amni) dan kalau kita tulis dalam milis PIM ini sungguh sangat banyak, tetapi tidak semua mantan PIM berkarya di perusahaan lain, ada yang berkecimpung dalam usaha busines seperti Pak Adang Koswara dll, ada yang berkecimpung dalam membina rohani agar menjadi muslim yang lebih baik seperti Pak Hasanuddin Toyib.

Begitu juga dengan Pak Wimpie beliau tidak melanjutkan karier beliau untuk bekerja kembali, tetapi beralih kepada urusan saham suatu pekerjaan yang memerlukan ketelitian dan intelektual yang tinggi yang harus bisa mengetahui dan menguasai pangsa pasar didalam electronic business terms dan untuk bidang ini setahu saya hanya Pak Wimpie yang menguasainya.

Saya pribadi sangat yakin dan bahkan sangat haqqul yakin Pak Raflis sebagaimana yang Bapak sampaikan bahwa mantan PIM tidak hanya bisa berkarya di PIM tetapi diluar PIM juga mampu dan okey, namun semuanya tetap terpulang kepada pribadi masing-masing apakah akan melanjutkan atau tidak karena banyak diantara mantan PIM yang tidak berkarya lagi diluar karena putra ataupun putrinya banyak yang sudah berhasil seperti Pak Muslim Atin putrinya telah menjadi Dokter dan saat ini bertugas di DKI dan banyak sekali mantan PIM yang putra putrinya sukses dalam pendidikan dan berprestasi diluar sehinga dapat mendukung kelanjutan hidup orang tuanya. Amin Ya Robbil Alamin.

Salam kami sekleluarga buat Pak Raflis sekeluarga

sucipt...@gmail.com

unread,
Aug 14, 2014, 4:16:31 AM8/14/14
to Hallo PIM

Dear pak AB dan pak Raflis,

Saya jadi inget bahwa pak Raflis ini pernah datang kekantor saya waktu di GE dan beliau yg setting Governor Test Bench kami. Maka tak heran begitu ada singkatan PGPS terus pak Raflis ingat PGPL.

Kalau saya ingat ceramah dari khotib waktu shplat Jum'at, disinggung soal orang sukses dan orang cerdas.

Orang cerdas adalah orang yg diotaktany itu selalu ingat akan kematian. Segala tindakan dan perilaku sbg implementasi dari perencanaan maupun pelaksanaan , didasarkan atas ingatan dia akan kematianya yg akan datang. Barangkali ini yg dimaksudkan pak AB dengan istilah PULANG KAMPUNG.

Kemudian orang sukses adalah orang banyak tabunganya. Tabungan ini adalah bekal dia diakherat nanti, yaitu amal sholeh. Orang kaya bisa saja banyak tabunganya asala hartanya bersih, dan disucikan dg zakat, shodaqoh, dan mendirikan sekolah untuk anak-anak belajar menuntut ilmu derdasarkan ajaran Islam. Pendek kata, orang sukses adalah orang yg banyak : 1.Ilmu manfaat, 2. Anak-anak Sholeh. 3. Amal Jari'ah.

Mudah2an dg uraian diatas kita bisa menilai difinisi tetang orang cerdas dan orang sukses, dimana selama itu banyak difinisi-defini lainya.

Salam kompak.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: ahmad bahagia - <abaha...@gmail.com>
Date: Thu, 14 Aug 2014 14:53:39 +0700

Sjamsul Rizal

unread,
Aug 14, 2014, 5:11:47 AM8/14/14
to hall...@googlegroups.com
Dear pak Wimpie,
Kalau ingat waktu itu, saya sungguh merasa bahagia karena saya masuk PIM dengan ijazah SMA. Saya ingin sekali kuliah sejak tamat SMA tahun 1974. Tahun 1981 saya pernah ikut kuliah terbuka "International Correspondence School (ICS)" di Glasgow, tapi tidak selesai karena kerja sebagai pengawas dan terlalu sering pindah alamat.

Memang benar pak, yang menjadi mentor saya adalah pak Bambang Sedewo. Malah beliau mendukung juga secara finansial. Allah SWT merestui rencana saya melalui dukungan beliau dan teman-teman di PIM serta keluarga.

Demikian pak Wimpie, semoga ilmu yang kita perloleh dapat dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Salam, srz.


2014-08-14 13:49 GMT+07:00 Wimpie <wim...@centrin.net.id>:



--
srz.-

Sjamsul Rizal

unread,
Aug 14, 2014, 6:05:18 AM8/14/14
to hall...@googlegroups.com

Dear pak Wimpie,
Ternyata ramai juga yang membantu saya. Salah satu dari teman-teman yang saya maksudkan adalah pak Aziz Pazsa yang buat surat usulan ke dirut.

Salam, srz.

...

Raf Raflis

unread,
Aug 14, 2014, 7:08:11 AM8/14/14
to hall...@googlegroups.com
Yth Pak Cipto,
Pada waktu saya ditugaskan PIM ke PT Gent dulu tempat Pak Cipto berkarya, saya sudah berpikir, kalau bisa saya mendalami satu bidang kerja saja, menjadi seorang specialist. namun wamtu itu Bapak mau mengajak saya, tapi saya belum siap, sampai saya pulang ke Lsw, dan  tiga tahun sesudah itu baru saya mengambil sikap, dengan  dukungan keluarga, saya hijrah ke mbali ke jakarta, 
Tapi apa yang saya dapat dari segi materi mungkin jauh kalau dibandingkan dengan keberhasilan kawan yang lain, tapi dari sisi amal hanya Allah yang tahu,
Dengan bidang kerja yang saya hadapi sekarang ini, dimana saya dulu banyak belajar dengan Alm Bpk Joko Wartono dari Instrument Pupuk Kujang, tapi sekarang saya sudah mentraining orang Pupuk Kujang selama empat kali untuk mendalami pekerjaan yang saya hadapi (Orang Kujang bilang, kader Pak Joko ada di PIM, maka nya orang Kujang harus training ke Kader nya Pak Joko artinya ilmu dari Kujang dikembalika ke Kujang)
Yang pernah  juga saya training Pertamina RU1 sampe RU5 dan termasuk juga PT Badak, Bontang, dan ada lagi perusahaan perkapalan/marine lainnya....baik secara resmi atau kalau diskusi Throble shooting dilokasi
Maka nya sesuai dengan Pak Cipto sampaikan dari sisi Ilmu dan pengalaman banyak juga yang sudah diperolehi, namun untuk amal pulang kampung itu, disamping berbagi ilmu pada orang yang membutuhkannya dan saya juga berusaha menjalani Ibadah yang bisa saya lakukan
Ini sebagian kecil yang bisa saya sampaikan, kalau ada kesempatan dilain waktu saya akan menyampaikan pengalaman sewaktu di Pusri , di PIM dan di Tempat sekarang

Salam dan semoga Pak Cipto sehat dan sukses selalu amin..

Raf Raflis

unread,
Aug 14, 2014, 7:40:16 AM8/14/14
to hall...@googlegroups.com
Pak Ahm Bahagia

Saya mengucapkan terima kasih, apa yang Bapak sampaikan, adapun Sukses yang didapat oleh kita semuanya itu sifat nya relatif, sesuai dengan bidang nya kita masing-masing, dan yang terpenting dengan  kondisi badan sehat dan bisa berkarya dan beramal terus menerus, maka ini adalah orang yang paling  sukses dalam menjalani kehidupannya

Salam saya se kelg untuk Pak Ahm Bahagia bserta kelg 

eddy.y...@gmail.com

unread,
Aug 14, 2014, 5:54:47 PM8/14/14
to hall...@googlegroups.com
Pak AB, Raflis,Szl,

Salut deh kepada teman2 Pak Samsulrizal, Pak AB , Pak Raflis, semoga sehat2 selalu dan tetap berkarya... Ada lagi lho mantan PIM lulusan UNIMA lsw sampai sekarang yang berhasil dan ilmunya masih di manfaatkan antara lain Pak Djainuddin Ammonia , Pak Sudigdo , Pak Anzir Simabur , Alhamdulillah sampai sekarang masih berkiprah di project2 besar..
Salam kekeluargaan,.., sampai jumpa lg di HBH di bandung.
EYS.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: ahmad bahagia - <abaha...@gmail.com>
Date: Thu, 14 Aug 2014 14:53:39 +0700

Wimpie

unread,
Aug 14, 2014, 8:11:46 PM8/14/14
to hall...@googlegroups.com

Dear Bang Sjamsul,

Saya hanya melihat kerlipan cahaya waktu itu. Setelah itu pak Dewo yang mengasah sehingga kerlipan itu menjadi sinar yang terang. Pak Dewo memang punya talenta itu. Saya percaya tentu banyak pihak juga yang membantu BS sewaktu kuliah dulu, termasuk Pak Aziz Pasza seperti yang disampaikan. Sama seperti pak Dewo, saya juga telah mengenal pak Aziz sejak awal keberadaan kami di PIM. Sudah berbakat jadi pemimpin sejak awal, ketika menjadi kepala suku rombongan traninees PIM. Beliau orang baik dan tulus.

Keprihatinan saya tadi karena teringat ‘curhat’ BS dulu sewaktu masih kuliah. Syukurlah kalau kemudian bisa diatasi dengan baik. Oh ya, sejak BS kembali ke Aceh kita tidak pernah bertemu lagi. Kegiatan apa yang dilakukan sekarang? Masih aktifkah atau sudah santai menikmati tabungan? (LOL). Atau malah sedang rajin mengumpulkan tabungan akhirat seperti yang Pak Ahmad Bahagia sarankan? Salam.

Wimpie

unread,
Aug 14, 2014, 9:22:03 PM8/14/14
to hall...@googlegroups.com

Dear Uda Raflis & All,

Berbahagialah karena bisa menjadi spesialis/profesional. Tak banyak orang yang berkesmpatan melakukannya. Kita bisa menekuni pekerjaan yang benar-benar diminati dan menjadi ahli. Mengikuti rekam jejak uda Raflis, saya yakin bapak sudah menjadi spesialis/profesional sekarang. Kekayaan bukan segala-galanya, terutama karena imbalan menjadi spesialis adalah kepuasan terhadap apa yang kita kerjakan.

Ketika kita bekerja di perusahaan sebesar PIM, kalangan spesialis memang kurang mendapat perhatian. Jika Anda seorang welder (tukang las), spesialis, maka jejang karir menjadi terbatas, begitu pula imbal hasilnya. Sewaktu masih di PIM dulu beberapa kali diupayakan agar profesi spesialis bisa memperoleh penghargaan yang sesuai, tapi selalu tak sesuai harapan. Entah sekarang. Mungkin pak Bobby bisa bercerita, apakah welder kita masih orang-orang yang sama dengan dulu? Apakah sudah ada perbaikan jenjang karir/penghasilan setelah sepanjang hidup menekuni pekerjaan yang sama?  

Saya sendiri dididik untuk profesi spesialis. Tadinya saya merasa sudah dijalur yang benar ketika ditempatkan dibagian perbengkelan pada awal operasi pabrik PIM1. Jabatan saya sebagai Kasi Bengkel Mesin, setahun kemudian Kabag Perbengkelan. Saya menikmati pekerjaan tersebut dan merasa tertantang karena membangun (setup) sesuatu yang baru di bidang yang memang saya pahami. 5 tahun kemudian semua itu buyar ketika atasan saya Kadep Pemeliharaan (Pak Otang) mutasi ke anak perusahaan dan saya (bersama pak Susanto Tirto) ikut di mutasikan bersama beliau. Jujur saja saya kurang berkenan waktu itu karena berbagai alasan. Keberatan saya didengar oleh pak Dirprod (Pak M. Djaenuddin) dan saya kemudian di pindah lagi jadi staf beliau. Pertama kali saya berkantor di barak (eks konstruksi) bersama staf-sataf direksi yang lain.

Sejak itu saya tercerabut dari karir spesialis, masuk kedunia kaum generalis. Tapi tak seluruhnya berjalan buruk. Kita manusia diberi kemampuan untuk beradaptasi yang sudah terasah sejak zaman purba agar bisa bertahan (survival). Ternyata kehidupan berwarna-warni bukannya tak menyenangkan sama sekali. Tergantung kita juga akhirnya. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

From: hall...@googlegroups.com [mailto:hall...@googlegroups.com] On Behalf Of Raf Raflis
Sent: Thursday, August 14, 2014 6:08 PM
To: hall...@googlegroups.com
Subject: Re: [HalloPIM] Re: Perjuangan membangun PIM-1.

 

Yth Pak Cipto,

Wimpie

unread,
Aug 14, 2014, 9:31:41 PM8/14/14
to hall...@googlegroups.com

Dear Pak Eddy & All,

Salut pada pak Eddy Yatiman juga tentu saja, karena bapak adalah bagian dari mereka. Saya punya ungkapan untuk teman-teman itu:  Mereka bukan tipikal individu yang terlena dengan zona nyaman. Mereka tipe penjelajah, pemberani yang selalu “memelihara” kegelisahan. Salam.

 

"I never thought of losing. But now that it's happened, the only thing is to do it right." ― Muhammad Ali

 

Raf Raflis

unread,
Aug 14, 2014, 9:34:36 PM8/14/14
to hall...@googlegroups.com
Dear Pak Eddy Yatiman

Saat kesempatan masih ada waktu untuk berkarya, tidak ada salah nya dimanfaatkan dalam menjalani kehidupan ini
Salam saya dan kelg untuk Pak Eddy serta keluarga di Bandung,...sampai ketemu di acara HBH Bandung..

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages